BAB 3 ETIKA PROFESI DAN KODE ETIK
3.1 Pengertian Etika Profesi
Beberapa individu di kehidupan penjuru dunia, tidak bisa lepas dari yang namanya profesi yang dijalani.
Adapun contoh kelompok profesional adalah ikatan dokter gigi, ikatan wartawan, ikatan psikolog, ikatan dokter, ikatan pengacara hingga kelompok lain yang terorganisasi. Menurut Agoes (2006), istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian. Tentunya di dalam menjalankan profesinya, mereka dituntut untuk bekerja secara profesional. Menurut Kalbers dan Fogart dalam Faisal et al., (2012), bahwa Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak.
Setiap orang di tuntut untuk dapat menjadi profesionalisme di dalam menjalani suatu profesi.
Menurut Machfoed dalam Wijonarko (2019), bahwa Profesionalisme harus memenuhi syarat utama, yaitu berkeahlian (skill), berpengetahuan (knowledge), dan berkarakter (character). Tentunya sebagai anggota profesi, sikap profesionalisme harus ditunjukkan dalam perilaku kesehariannya, terutama di dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Sehingga wajib bagi setiap orang yang menjalankan suatu profesi tertentu untuk terus
meningkatkan keahlian dan pengetahuan sesuai dengan perkembangan jaman..
Agar mampu bekerja secara profesional, para kelompok profesi ini tentu memiliki etika di dalam menjalankan profesinya. Etika profesi menurut Keiser dalam Suhrawari Lubis, (1994) adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat. sedangkan Etika profesi merupakan karakteristik suatu profesi yang membedakan suatu profesi dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengatur tingkah laku para anggotanya (Murtanto dan Marini dalam Desiana 2012). Wahyono (2006) menjelaskan tentang pengertian Etika Profesi khususnya di bidang Information Technology ( IT) adalah Suatu sikap etis didalam penggunaan tekologi modern, dalam rangka menunjang pekerjaan dengan profesi tertentu dengan prinsip dasar tanggung jawab moral dari masing-masing pelakunya.
3.2 Pengertian Kode Etik
Para kelompok profesi ini dituntut menaati aturan yang terkait dengan profesi yang dijalani, atau lebih dikenal dengan nama kode etik. Setiap profesi memiliki kode etik, dimana inti dari kode etik di profesi mana pun adalah untuk tidak menyalahgunakan profesinya. Sutisna (1986) mendefinisikan kode etik adalah suatu pedoman
yang memaksa perilaku etis dari anggota profesi.
Sedangkan menurut Silitong (2017) Kode etik merupakan semua hal yang baik untuk dilakukan dan hal yang baik untuk tidak dilakukan. Inti kode etik profesi adalah untuk tidak menyalahgunakan profesinya. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.
Sikap profesionalitas dari setiap individu/ anggota profesi dapat tercermin melalui sikap dan tindakan etis, dalam hal ini apakah mereka memegang kode etik profesi atau tidak. Mengingat sebagai seorang profesional juga terdapat suatupersaingan tajam untuk menentukan keberadaan dalam peta persaingan diantara rekan seprofesinya baik dalam satu perusahaan, maupun dengan perusahaan lain.
Kode etik wajib dimiliki individu yang menjalankan suatu profesi, setiap individu yang bekerja harus memiliki etika agar dapat bekerja dan menjalankan tugas dengan baik. Selain bagi individu, kode etik juga perku diterapkan di setiap perusahaan dengan tujuan agar dapat menjadi standar dan pedoman bagi semua pihak di dalam perusahaan serta pihak luar yang terkait dengan usaha perusahaan dalam melaksanakan tugas dan pengambilan keputusan dan juga perusahaan akan mendapatkan reputasi yang baik, perlindungan atas tuntutan hukum yang mungkin terjadi dan pada akhirnya terwujud kemakmuran dan keberhasilan usaha yang berkelanjutan.
Bagi seorang profesional, selain memiliki keahlian dan pendidikantertentu, wajib memiliki nilai-nilai etika dan moral untuk menjamin keprofesionalannya melalui kode etik profesi. Saat ini sering terjadi pelanggaran dan kejahatan profesi yang membawa para profesional ke dalam masalah hukum.sehingga pemahaman kode etik dari setiap profesional sangat mutlak, karena kode etik profesional dapat membantu profesional untuk melanggar hukum seeta “mencederai” profesi yang digeluti.
3.3 Kode Etik di Beberapa Profesi
3.3.1 Kode Etik Jurnalistik untuk Wartawan Indonesia
Adapun kode etik jurnalistik ditetapkan Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik bagi profesi wartawan Indonesia, antara lain : 1. Wartawan Indonesia bersikap independen,
menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
2. Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
3. Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
4. Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
5. Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
6. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
7. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.
8. Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
9. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
10. Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
11. Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
3.3.2 Kode Etik Profesi Kedokteran Indonesia
Adapun Kode Etik Kedokteran Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia, antara lain : 1. Setiap dokter wajib menjunjung tinggi,
menghayati dan mengamalkan sumpah dan atau janji dokter.
2. Seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan keputusan profesional secara independen, dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran yang tertinggi.
3. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
4. Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
5. Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/keluarganya dan hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien tersebut.
6. Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan atau menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang
belum diuji kebenarannya dan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
7. Seorang dokter waajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.
8. Seorang dokter wajib, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan secara kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
9. Seorang dokter wajib bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya pada saat menangani pasien dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan.
10. Seorang dokter wajib menghormati hak-hak- pasien, teman sejawatnya, dan tenaga kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien.
11. Setiap dokter wajib senantiasa mengingat kewajiban dirinya melindungi hidup makhluk insani.
12. Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter wajib memperhatikan keseluruhan aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif ), baik fisik maupun
psiko-sosial-kultural pasiennya serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat.
13. Setiap dokter dalam bekerjasama dengan para pejabat lintas sektoral di bidang kesehatan, bidang lainnya dan masyarakat, wajib saling menghormati.
14. Seorang dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan seluruh keilmuan dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien, yang ketika ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, atas persetujuan pasien/ keluarganya, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian untuk itu.
15. Setiap dokter wajib memberikan kesempatan pasiennya agar senantiasa dapat berinteraksi dengan keluarga dan penasihatnya, termasuk dalam beribadat dan atau penyelesaian masalah pribadi lainnya.
16. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
17. Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu wujud tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
18. Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
19. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.
20. Setiap dokter wajib selalu memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
21. Setiap dokter wajib senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/ kesehatan.
3.3.3 Kode Etik Praktisi Public Relations
Berikut ini Kode etik IPRA (International Public Relations Association) yang disahkan pada tahun 2011, merupakan penegasan etika profesional dari anggota the International Public Relations Association dan direkomendasikan kepada praktisi public relations di seluruh dunia. Dalam tindakannya, praktisi public relations harus:
1. Ketaatan
Mentaati prinsip prinsip dalam Piagam PBB dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia;
2. Integritas
Bertindak secara jujur dengan penuh integritas setiap saat untuk menyakinkan dan mempertahankan kepercayaan mereka dengan siapa saja praktisi berhubungan;
3. Dialogue
Berusaha membentuk moral, kultural dan intelektual untuk melakukan dialog, dan mengakui hak semua pihak yang terlibat untuk mengemukakan pendapatnya;
4. Keterbukaan
Berlaku Jujur dan terbuka dalam mengungkapkan nama, organisasi dan kepentingan yang diwakili;
5.Konflik
Menghindari konflik kepentingan dan mengungkapkan konflik tersebut kepada pihak pihak yang terkait jika diperlukan;
6. Kerahasiaan
Menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan kepada mereka;
7. Ketepatan
Melakukan langkah langkah yang wajar untuk meyakinkan kebenaran dan ketepatan dari semua informasi yang diberikan;
8. Kebohongan
Mengupayakan dengan segala cara untuk tidak menyampaikan berita yang salah atau menyesatkan, melakukan secara hati-hati untuk menghindari hal tersebut dan memperbaiki secepatnya jika ternyata terdapat kesalahan;
9. Penipuan
Dilarang mendapatkan informasi dengan cara menipu atau tidak jujur;
10. Pengungkapan
Dilarang membentuk atau menggunakan organisasi apapun sebagai suatu wahana terbuka yang sebenarnya mengandung kepentingan tersembunyi;
11. Keuntungan
Dilarang menjual dokumen kepada pihak ketiga salinan dokumen yang diperoleh dari pejabat publik;
12. Remunerasi
Dalam memberikan jasa professional, dilarang menerima imbalan dalam bentuk apapun yang berkaitan dengan jasa dari seseorang selain dari pihak yang terkait;
13. Pembujukan
Dilarang baik secara langsung atau tidak langsung menawarkan atau memberikan imbalan dalam bentuk uang atau yang lain kepada pejabat pemerintah atau media, atau pihak lain yang berkepentingan;
14. Pengaruh
Dilarang menawarkan atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum untuk hal yang dapat mempengaruhi pejabat publik, media dan pihak lain yang berkepentingan;
15. Persaingan
Dilarang melakukan hal hal yang secara sengaja untuk merusak reputasi praktisi yang lain;
16. Pemburuan
Dilarang mengambil klien dari praktisi lain dengan cara cara yang tidak jujur;
17. Pekerjaan
Ketika mempekerjakan seseorang dari pejabat publik atau pesaing perlu memperhatikan aturan dan kerahasiaan yang disyaratkan oleh organisasi tersebut;
18. Rekan sejawat
Mengamati Kode etik ini dengan sikap hormat terhadap anggota IPRA dan praktisi public relations di seluruh dunia.
3.3.4 Kode Etik Konsultan Manajemen Internasional
Berikut ini dipaparkan kode etik dari Konsultan Manajemen Internasional dari The Institute of Management Consultants Ltd (IMC) :
1. Ini adalah tujuan setiap anggota , konsultan manajemen sebagai seorang profesional , untuk membantu klien nya untuk menambah nilai para klien perusahaan; Entah perusahaan terbentuk dari
bisnis, sebuah organisasi nirlaba pemerintah atau setiap elemen dari.
2. Anggota akan melayani klien mereka dengan integritas, kompetensi, objektivitas, serta bertindak sepatutnya kemerdekaan.
3. Anggota akan hanya menerima tugas yang peserta tersebut kompeten untuk melsayakan ; Dan , proyek pada klien , hanya akan menetapkan staf atau terlibat rekannya dengan pengetahuan dan keahlian yang bermanfaat relevan proyek klien .
4. Sebelum menerima setiap kerja sama anggota akan mengokohkan dengan klien harapan yang realistis dari tujuan , lingkup , manfaat diharapkan , struktur biaya rencana kerja dan dari penempatan .
5. Anggota akan setuju di depan dengan klien berdasarkan biaya dan pengeluaran.
6. Anggota akan menagih yang wajar sejumlah iuran yang; sepadan dengan jasa yang disediakan bagi, nilai diciptakan dan resiko atau tanggung jawab diterima.
7. Anggota mengsayai bahwa klien kota enterprise telah banyak pihak yang kepentingannya kadang kadang berbeda , dan mengincar untuk menyeimbangkan dan mendamaikan yang berbeda ini minat dalam petunjuk mereka kepada klien.
8. Sebuah saran kepada para anggota klien yang akan dikirim dengan kemandirian dan; keberanian; Selalu fokus pada jangka panjang kepentingan terbaik dari
enterprise secara keseluruhan , bahkan ketika petunjuk mungkin kemudian berubah menjadi tindakan seperti atau retrenchments restrukturisasi yang mungkin yang amat pedih dalam jangka pendek .
9. Anggota akan terus menerus memberikan kontribusi dalam aktivitas pengembangan profesi untuk membuat abreast dari pengetahuan yang pada profesi dan di bidang bantuan pengetahuan dan keterampilan teknis.
10. Anggota akan memperlsayakan semua informasi rahasia tepat klien ; Akan mengambil masuk akal langkah untuk mencegah akses ke informasi rahasia oleh unauthorised orang dan tidak akan mengambil keuntungan dari kepemilikan atau informasi rahasia , untuk digunakan oleh peserta atau orang lain , tanpa klien izin.
11. Anggota akan menghindari konflik kepentingan, atau penampilan seperti, akan memperlihatkan kepada klien dan segera keadaan apa pun atau kepentingan yang mereka percaya mungkin pengaruh mereka tetapkan itu atau objektivitas.
12. Anggota akan menawarkan untuk menarik diri dari konsultan tugas ketika mereka percaya mereka objektivitas atau integritas mungkin gangguan.
13. Anggota akan mewakili profesi dengan integritas serta bertindak sepatutnya dalam hubungan mereka dengan klien, rekan kerja dan masyarakat umum.
14. Anggota dapat lebih menghargai hak-hak konsultasi rekan kerja dan konsultasi perusahaan dan tidak akan menggunakan proprietary mereka informasi atau berbagai metodologi yang tanpa izin .
15. .Anggota akan melaporkan untuk yang tepat pihak berwenang dalam atau eksternal kepada klien organisasi setiap kejadian dari penyalahgunaan jabatan , perilsaya atau ilegal berbahaya kegiatan ditemukan selama jalannya sebuah penempatan . 16. Anggota tidak akan menerima komisi , remunerasi ,
atau keuntungan lainnya dari pihak ketiga sehubungan dengan setiap rekomendasi dengan klien tanpa itu klien sebelum pengetahuan dan persetujuan , akan memperlihatkan di muka dan kepentingan keuangan manapun di barang atau jasa yang membentuk bagian dari seperti rekomendasi.
17. Anggota akan menahan diri dari mengundang karyawan yang aktif atau tidak aktif klien untuk mempertimbangkan alternatif pekerjaan sebelumnya tanpa diskusi dengan klien .Anggota akan tidak mengiklankan mereka pelayanan di menipu cara dan menggambarkan denigrate atau individu konsultasi praktik , konsultasi perusahaan , atau konsultasi profesi
18. Anggota akan mendorong terjadinya misalnya pemberian layanan yang tunduk kepada kode etik oleh konsultan dari segala macam yang bekerja atas nama orang orang itu .
19. Klien, anggota dari publik atau anggota the institute dapat melaporkan setiap dirasakan melanggar kode etik untuk lembaga konsultan manajemen dari.Dalam hal komite disiplin pengaduan sebuah akan dilangsungkan untuk menyelidiki dan merekomendasikan sesuai tindakan, termasuk namun tidak terbatas pada: mediasi, arbitrase atau sanksi terhadap peserta yang bersangkutan.
3.3.5 Kode Etik di Lingkungan Pelindo III
Standar etika yang ditetapkan dalam Pedoman ini melandasi seluruh aktivitas Perusahaan di dalam menjalankan usaha operasional pelabuhan. Perusahaan mewajibkan seluruh Insan Pelindo III untuk mematuhi standar Pedoman Etika dan Perilaku yang diatur dalam Pedoman ini serta menunjukkan profesional dan integritas tinggi dalam menjalankan kegiatan di Perusahaan. Dalam praktiknya standar etika dan perilaku yang dituntut kepada seluruh Insan Pelindo III meliputi hal-hal berikut ini :
a. Insan Pelindo III senantiasa mematuhi hukum, peraturan dan undang-undang, baik yang berlaku pada wilayah operasionalnya termasuk peraturan internal Perusahaan.
b. Insan Pelindo III dilarang menerima manfaat materi atas kekuasaan, jabatan, fungsi dan tugas baik secara langsung ataupun tidak langsung atas janji, pembayaran, tawaran atau penerimaan suap.
c. Insan Pelindo III tidak mentolerir tindakan pencucian uang dan secara bersama-sama mencegah dan
memberantas tindak pidana pencucian uang yang dilakukan di lingkungan Perusahaan
d. Insan Pelindo III bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kepentingan pribadi diluar pekerjaan tidak mengganggu kewajibannya terhadap Perusahaan.
e. Insan Pelindo III harus memastikan bahwa kegiatan bisnis Perusahaan patuh pada undang-undang anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di Indonesia dan peraturan setempat dimana Perusahaan menjalankan kegiatan bisnis atau operasionalnya.
f. Insan Pelindo III mendukung persaingan usaha yang sehat dengan mengadakan proses pengadaan barang/jasa secara transparan dan memberikan kesempatan kepada penyedia barang/jasa yang berminat mengikuti proses pengadaan di Perusahaan sesuai dengan ketentuan pengadaaan barang dan jasa yang berlaku di Perusahaan.
g. Insan Pelindo III dilarang membocorkan data dan informasi, khususnya yang bersifat rahasia, apapun kepada pihak ketiga baik secara langsung dan tidak langsung berkenaan dengan transaksi bisnis atau informasi perusahaan lainnya.
h. Insan Pelindo III menjunjung tinggi kesetaraan dalam memperoleh kesempatan yang sama dalam segala jenis kegiatan guna mengembangkan kinerja masing-masing Insan Pelindo III.
i. Insan Pelindo III terbebas dari pengaruh dan penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan (Narkoba), minuman keras dan sejenisnya yang
dapat mempengaruhi kinerja Insan Pelindo III maupun merusak reputasi Perusahaan.
3.3.6 Etika Profesi dan Kode Etik Pilot (Pandu)
Dalam dunia maritim ada juga istilah Pandu. Ini bukan sekedar istilah, tapi nama dari sebuah jabatan.
Pandu disini, secara internasional disebut Pilot, yaitu orang yang bertugas untuk mengarahkan sebuah kapal saat memasuki atau keluar di suatu kawasan pelabuhan.
Pengertian Pandu (Pilot) berdasarkan Undang-Undang (UU) Pelayaran No. 17 Tahun 2008 (Bab I Pasal 1), Pandu adalah pelaut yang mempunyai keahlian di bidang nautika yang telah memenuhi persyaratan untuk melaksanakan pemanduan kapal.
Profesi Pandu (Pilot) merupakan garda terdepan dalam hal pelayanan kapal, dimana pada saat kapal masuk di perairan pelabuhan maka disitulah kapal akan disambut oleh petugas pandu (Pilot) yang siap memberikan pelayanan pemanduan maupun penundaan kapal yang akan sandar di dermaga. Peran Pandu (Pilot) di pelabuhan sangat penting dalam menunjang kelancaran arus transportasi logistik khususnya melalui matra laut. Menurut Wijonarko (2019),Pandu (Pilot) memegang kunci pelayanan kapal pada pelabuhan, karena Pandu (Pilot) mengemban tanggung jawab terhadap gerak dan keselamatan kapal dalam lingkungan pelabuhan.
Profesi Pandu (Pilot) memegang peranan penting dalam mencegah kasus kecelakaan seperti tabrakan
kapal di alur pelayaran. Pandu (Pilot) memiliki peran penting dalam pemberian bantuan, saran, dan informasi kepada nakhoda tentang keadaan perairan setempat, agar navigasi pelayaran dapat dilaksanakan dengan selamat, tertib, dan lancar sehingga keselamatan pelayaran dapat terwujud. Bisa atau tidaknya kapal sandar sangat bergantung kepada kecakapan Pandu (Pilot) dalam melaksanakan tugas pelayanan yang di dukung dengan sarana dan prasarana pemanduan (Wijonarko,2019)
Pandu (Pilot) mempunyai keanggotaan profesi di bawah naungan Asosiasi Pandu Maritim Indonesia atau Indonesian Maritime Pilots Association (INAMPA).
Keberadaan Inampa diakui secara internasional, dimana sejak April 2017, Inampa dijadikan anggota resmi oleh International Maritime Pilots Association (Impa).
Pemanduan kapal merupakan tugas dari seorang Pandu (Pilot) yang memiliki keahlian dalam bidang Nautika untuk memberikan informasi atau nasihat kepada Nakhoda di wilayah perairan wajib Pandu(Pilot), agar kapal dapat berlayar dengan selamat dan pelabuhan terlindungi dari kerusakan lingkungan. Dalam menjalankan tugasnya diatas kapal, para Pandu harus bertanggung jawab terhadap fungsinya sehingga informasi yang disampaikan kepada Nakhoda harus dapat dimengerti, dan dalam penyampaian informasi tersebut para pandu (Pilot) harus memperhatikan norma-norma yang wajar dan disertai dengan etika yang baik sehingga apabila ada kekurangan dalam teknis pelayanan tersebut maka akan mendapatkan sanksi dari Asosiasi.
Terkait dengan kode etik Pandu (Pilot), berdasarkan statuta Etika Profesi Pandu oleh Indonesian Maritime Pilots Association (INAMPA) adapun yang landasan hukum nya meliputi : 1) Undang-undang nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 48, 50 tentang Pemanduan dan Pandu, 2) Peraturan Pemerintah nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian pada Bab I Pasal Butir (21), (22), Bab IX Pasal 112 Butir (a), (b), dan 3) Peraturan Menteri Perhubungan nomor 57 Tahun 2015 Tentang Pemanduan dan Penundaan.
Berdasarkan statuta Etika Profesi Pandu oleh Indonesian Maritime Pilots Association (INAMPA), adapun tugas dan tanggung jawab profesi pandu (Pasal 1) antara lain :
1. Memberikan nasihat dan saran kepada Nakhoda kapal agar pelayanan Pemanduan dilaksanakansecara baik dan benar dengan memperhatikan faktor-faktor keselamatan kapal dan lingkungan.
2. Melaksanakan tugas dan fungsi kepemerintahan di bidang Keselamatan Pelayaran dengan penuh tanggung jawab.
3. Menegakkan kedisiplinan kerja, memberikan penjelasan dan informasi yang jelas dan tepat kepada Nakhoda.
4. Melaksanakan pekerjaan Pemanduan secara wajar dan tepat sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku.
5. Pandu di dalam menjalankan tugasnya di atas kapal harus menggunakan seragam dan pakaian kerja.
6. Pandu tidak diperkenankan naik atau turun dari kapal tanpa ijin dari Nakhoda sebelum kapal
6. Pandu tidak diperkenankan naik atau turun dari kapal tanpa ijin dari Nakhoda sebelum kapal