1.1 Latar Belakang Masalah
Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pada saat itulah Bangsa Indonesia mulai melakukan pembangunan pada berbagai aspek dan bidang. Hingga saat ini proses pembangunan masih terus berlanjut di hampir seluruh provinsi dan kabupaten. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan di segala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Sejak diberlakukanya Undang-Undang Otonomi Daerah yang tercantum dalam UU No 32 tahun 2004, pemerintahan Indonesia menganut sistem desentralisasi dimana setiap daerah yang ada di Indonesia diberikan hak otonomi oleh pemerintah pusat untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri, memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri serta mengelola seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk memajukan daerah dan mensejahterakan masyarakatnya. Setiap pemerintahan di suatu daerah memiliki unsur pelaksana pemerintahan daerah yang dibagi menjadi beberapa bidang atau sering disebut dengan dinas.
Pembangunan pada bidang ekonomi merupakan salah satu bidang yang sedang gencar dikembangkan di berbagai daerah. Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan
bagi penduduk suatu negara (Bannock :2004 dalam www.wikipedia.com di akses pada 5 Juli 2014). Pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat suatu daerah. Oleh karena itu, masyarakat merupakan komponen utama dalam pembangunan. Komponen selanjutnya adalah sumber daya alam, bagaimana caranya sumber daya alam suatu daerah dapat bermanfaat semaksimal mungkin dalam proses mensejahterakan masyarakatnya. Begitu pula dengan pembangunan yang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah Kota Cilegon, dalam bidang ekonomi khususnya.
Cilegon adalah sebuah kota di Provinsi Banten, Indonesia. Cilegon dulunya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Serang, kemudian diangkat statusnya menjadi Kota Administratif (KOTIF), dan sejak 21 April 1999 melalui UU No 15/1999 tentang pembentukan Kotamadya Depok dan Kotamadya Cilegon, ditetapkan sebagai kotamadya. Cilegon dikenal sebagai kota industri dan menjadi pusat industri di kawasan Banten bagian barat. Posisi kota Cilegon sangat strategis, dilintasi jalan negara lintas Jakarta-Merak, dilalui jalur kereta api Jakarta-Merak, selain itu terdapat pelabuhan di Kecamatan Pulomerak yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Kota Cilegon dikenal sebagai kota industri yang memiliki sebutan lain yaitu Kota Baja mengingat kota ini merupakan penghasil baja terbesar di Asia Tenggara karena sekitar 6 juta ton baja dihasilkan tiap tahunnya di Kawasan Industri Krakatau Steel (KS), Cilegon. Selain itu, di Cilegon terdapat 127 industri yang terdiri dari 84 perusahaan
Penanaman Modal Asing (PMA) dan 43 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) (http://www.cilegon.go.id diakses pada 5 Juli 2014 )
Kota Cilegon sebagai daerah tujuan investasi memiliki daya tarik bagi investor dalam dan luar negeri, hal ini dapat dilihat dari tingginya minat investor yang menanamkan modalnya di kota Cilegon yang berasal dari Amerika, Perancis, Jepang, Australia, Jerman, Inggris, Argentina, Austria dan Korea. Dalam jangka panjang, arah kebijakan yang telah dirumuskan Pemerintah Kota Cilegon adalah mewujudkan Kota Cilegon sebagai kota industri dan jasa terdepan di pulau Jawa. Visi tersebut lebih didasari pada berbagai potensi daerah dan kondisi geografisnya.
Peningkatan investasi Kota Cilegon sebagaimana disebutkan oleh Badan Perizinan Terpadu Nasional Penanaman Modal (BPTNPM) pada tahun 2011 PMA (Penanaman Modal Asing) di Cilegon mencapai 40 proyek dengan nilai 1.17 milyar US$, 2012 sebanyak 56 proyek dengan nilai 1.58 milyar US$, 2013 85 proyek dengan nilai 2.07 milyar US$. Pada tahun 2014 triwulan pertama, Kota Cilegon menduduki peringkat 2 dengan 30 proyek dengan nilai 1.6 triliun
Meningkatnya investasi di Kota Cilegon, pada kenyataannya tidak diikuti oleh pengurangan jumlah angka kemiskinan dan pengangguran di Cilegon. Seperti yang diberitakan di www.kabar-banten.com, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi isu strategis dan permasalahan utama yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Kota Cilegon. Seperti yang tercatat dalam website resmi Badan Statistik Sosial (BPS) Provinsi Banten dan tercantum dalam tabel 1.1 di bawah ini
Tabel 1.1
Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten
Kabupaten/Kota Persentasi Penduduk Miskin
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Pandeglang 15,64 12,55 12,01 11,4 9,80 9,24 10,25 Lebak 14,43 12,05 10,63 10,38 9,20 8,62 9,50 Tangerang 7,18 7,41 6,55 7,18 6,42 5,71 5,78 Serang 9,47 6,48 5,80 6,34 5,63 5,28 5,02 Kota Tangerang 4,92 6,83 6,42 6,88 6,14 5,55 5,26 Kota Serang - - 6,19 7,03 6,25 5,69 5,59 Kota Cilegon 4,71 3,95 4,14 4,46 3,98 3,81 3,99 Kota Tangerang Selatan - - - 1,67 1,50 1,33 1,75 Banten 9,07 8,15 8,15 7,46 6,26 5,71 5,89 Sumber : www.banten.bps.go.id (diakses pada 25 Februari 2015)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa angka kemiskinan di Kota Cilegon, tidak mengalami penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun bahkan setelah program Pro Rakyat yang salah satunya berfokus pada pengentasan kemiskinan dan pengangguran telah berjalan hampir lima tahun. Angka kemiskinan justru terlihat berkurang pada tahun 2007-2008 sebelum program Pro Rakyat, Satu Kecamatan Satu Milyar dilaksanakan. Hal ini menarik peneliti untuk meneliti lebih lanjut tentang program Pro Rakyat dan berfokus pada Program Satu Kecamatan Satu Milyar di Kecamatan Jombang Kota Cilegon.
Sebagaimana visi Kota Cilegon yaitu masyarakat Cilegon sejahtera melalui daya dukung industri, perdagangan dan jasa, Peraturan Walikota Cilegon Nomor 16 Tahun 2011 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kota Cilegon, Keputusan Walikota Cilegon Nomor 060.05/Kep.408-Org/2011 tentang Penerapan Status
Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah pada Unit Pelaksana Teknis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kota Cilegon, Perjanjian antara Pemerintah Kota Cilegon dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Nomor 500/84-Huk/2011 dan 19/C/DU-KS/Kontr/2011 tentang Pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. serta tercantum dalam kerangka otonomi daerah bahwa penyelenggaraan pembangunan daerah termasuk pemberdayaan usaha mikro dan kecil (UMKK) sebagian besar menjadi tanggung jawab daerah. Selain itu, dalam Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SKPD) kota Cilegon tahun 2011 – 2015 salah satu isu utamanya adalah pengembangan dan menjamin keberlanjutan UMK. Usaha mempercepat pemberantasan kemiskinan dan pengangguran telah menajadi komitmen Pemerintah Kota Cilegon melalui program pro rakyat. (Buku Panduan Program Satu Kecamatan Satu Milyar)
Program Pro Rakyat yang digulirkan oleh Pemerintah Kota Cilegon merupakan program yang berpihak pada rakyat dan langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat, terutama masyarakat miskin atau disebut Rumah Tangga Sasaran (RTS). Progam Pro Rakyat dilaksanakan sebagai bagian dari salah satu upaya penguatan dalam sektor ekonomi. Program ini terdiri dari empat fase yang salah satu di antaranya adalah program One District One Billion Toward Enterpreneurship (Satu Kecamatan Satu Milyar Untuk Mendukung Wirausaha). Merupakan program berupa bantuan pinjaman dana kepada masyarakat Kota Cilegon, yang target sasaran utamanya yaitu masyarakat RTS, yang ingin menjadi wirausahawan. Pemerintah Kota Cilegon bermaksud memandirikan
masyarakatnya dengan jalan pemberian bantuan yang memancing masyarakat menjadi masyarakat yang produktif. Program Satu Kecamatan Satu Milyar adalah dana bergulir yang ditujukan kepada calon wirausaha baru, serta pelaku usaha ekonomi mikro dan kecil yang tengah meretas jalan untuk membuka usaha, mereka yang ingin mengembangkan ekonomi keluarga, dan juga mereka yang ingin mengembangkan kapasitas usahanya serta penguatan koperasi.
Pemerintah Kota Cilegon menargetkan setiap tahun lahir 100 wirausahawan baru di setiap kecamatan. Program Satu Kecamatan Satu Miliar ini merupakan program kerja sama antara Pemerintah Kota Cilegon dengan PT Krakatau Steel, yang diluncurkan pada pertengahan Juni 2011 dan efektif dilaksanakan Juli 2011.
Pemerintah Kota Cilegon mengalokasikan dana sebesar 9 miliar Rupiah yang bersumber dari APBD Kota Cilegon 5 miliar Rupiah dan PT Krakatau Steel sebesar 4 miliar rupiah. Masing-masing dari 8 kecamatan dialokasikan sebesar 1 miliar Rupiah dan sisanya digunakan untuk biaya operasional.
Program Satu Kecamatan Satu Milyar bertujuan untuk: meningkatkan pendapatan masyarakat miskin (RTS), meningkatkan minat masyarakat untuk berusaha, mewujudkan UMK dan koperasi yang tangguh, meningkatkan kepedulian perusahaan (BUMN/S) termasuk perbankan dalam pemanfaatan dana CSR yang terintegrasi dengan program pemerintah Kota Cilegon (Petunjuk teknis pemberdaya ekonomi masyarakat berbasis kecamatan hal. 3).
Secara operasional program ini dikelola oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Pangan (BPMKP) Kota Cilegon, dan selanjutnya
badan ini membentuk Unit Pelaksana Teknik Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (UPT PEM) di tiap-tiap kecamatan. UPT PEM di tiap kecamatan ini diberikan wewenang untuk melaksanakan proses rekruitasi calon mitra binaan hingga pendampingan/monitoring.
UPT Kecamatan Jombang mendapat kewenangan untuk menangani program satu kecamatan satu miliar di Kecamatan Jombang, mulai dari proses rekruitmen sampai tahap pendampingan. Jenis pinjaman yang diberikan antara lain adalah pinjaman untuk perintisan usaha yang ditujukan terutama untuk RTS (Rumah Tangga Sasaran), pinjaman untuk penguatan usaha yang ditujukan untuk UMK dan non RTS termasuk koperasi, serta pinjaman untuk pengembangan usaha yang ditujukan untuk UMK dan koperasi (buku panduan program satu kecamatan satu milyar)
Tahap pemberian pinjaman berdasarkan buku petunjuk teknis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasi Kecamatan, yaitu :
Gambar 1.1
Alur Pengajuan pinjaman
Sumber : buku panduan program Satu kecamatan satu milyar (2011) Rekruitasi Seleksi Analisa Pinjaman Pemutusan Kelayakan Pinjaman Survai Usaha Pendampingan & Monitoring Pembekalan & Pencairan Pinjaman
Rekruitasi adalah tahapan dimana calon mitra binaan mengajukan permohonan pinjaman pada pihak UPT PEM dengan menyerahkan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu keluarga (KK), foto peminjam beserta ahli warisnya, dan proposal pengajuan pinjaman yang berisi tentang keterangan jelas usahanya. Selanjutnya tahapan seleksi adalah tahapan dimana pihak UPT PEM kecamatan melakukan audit terhadap proposal yang masuk. Selanjutnya pihak UPT PEM melakukan survey mengenai kebenaran dan kelayakan usaha calon mitra binaan yang lolos proses auditing. Survey dilakukan oleh satu orang perwakilan UPT PEM Kecamatan dan satu orang pendamping dari masing-masing Kelurahan.
Pihak UPT PEM mewajibkan calon peminjam memberikan jaminan sebagai tanggung jawab peminjam terhadap kewajiban yang harus diselesaikan sesuai perjanjian. Pemberian jaminan ini ditujukan bagi calon peminjam yang sedang menguatkan dan mengembangkan usahanya. Jaminan tersebut dapat berupa Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), sertifikat tanah atau surat-surat berharga lainnya. Bunga pinjaman diberikan berbeda bagi mitra binaan yang berasal dari kalangan RTS dan baru akan memulai usaha dengan mitra binaan yang berasal dari non RTS yan akan mengembangkan kapasitas usahanya. Bagi RTS bunga yang dibebankan yaitu sebesar 0-3% sedangkan bagi non RTS sebesar 6%.
Selanjutnya pihak UPT PEM melakukan analisa apakah dana yang diminta sesuai dengan jenis usaha yang tertera pada proposal untuk selanjutnya dilakukan pemutusan kelayakan pinjaman. Pihak UPT PEM melakukan pembekalan
sebelum pencairan dana, pembekalan dilakukan oleh bagian manajemen konseling. Setelah dana cair UPT PEM melakukan pendampingan dan monitoring, memastikan apakah dana digunakan sebagaimana mestinya.
Namun, sebagaimana sebuah kebijakan pemerintah pada umunya, berdasarkan observasi dan wawancara awal peneliti dengan pihak UPT PEM dan beberapa RTS serta masyarakat (wawancara dilaksanakan dilaksanakan bertahap mulai tanggal 4 sampai 27 Februari 2014), peneliti menemukan beberapa masalah teknis dalam pelaksanaan program Satu Kecamatan Satu Milyar selain belum tercapainya tujuan program walaupun telah berjalan selama 4 tahun.
Pertama, jumlah mitra binaan di Kecamatan Jombang meningkat sebanyak 404 orang dari launching pada Juli 2011 menjadi 705 mitra binaan pada Juli 2014. Dana yang telah bergulir yaitu sebesar Rp 1.465.200.000 (laporan sub unit UPT PEM Kecamatan Jombang Juli 2014). Peningkatan jumlah mitra binaan tersebut disebabkan oleh rendahnya biaya administrasi atau bunga yang diberikan dan proses serta syarat peminjaman yang tidak berbelit. Peningkatan jumlah mitra binaan tidak disertai dengan penambahan jumlah anggota UPT PEM yang hanya memiliki 10 anggota yang terdiri dari kepala sub unit, palaksana pembukuan merangkap kasir, pelaksana konsultasi dan manajemen, pelaksana seleksi dan analisis pendamping dari masing-masing kelurahan di Kecamatan Jombang yang berjumlah 5 orang, dan seorang tenaga bantuan operasional. Sedikitnya anggota UPT PEM di Kecamatan Jombang tidak sebanding dengan banyaknya proposal yang masuk, menyebabkan banyaknya proposal yang menumpuk sehingga proses penyeleksian memakan waktu yang lama.
Kedua, Selain jumlah pegawai yang terlalu sedikit, UPT PEM Kecamatan Jombang juga tidak memiliki fasilitas yang memadai. Hanya ada satu komputer dalam satu gedung, bahkan kasir yang bertugas mencacat ketika ada mitra binaan mencicil, dilakukan secara manual, hanya menggunakan pulpen dan buku. Kemudian, gedung UPT PEM yang berpindah-pindah juga menyulitkan mitra binaan yang akan membayar cicilan atau calon mitra binaan yang akan mengajukan proposal karna gedung baru berada di tempat yang kurang strategis. Selain itu, berpindahnya gedung menyebabkan beberapa arsip dan dokumen hilang. Diperburuk dengan adanya kebijakan rolling atau perputaran petugas UPT PEM di tiap-tiap kecamatan mengakibatkan petugas tidak’ bisa terfokus pada satu tempat.
Ketiga, Tidak adanya standar waktu dalam buku panduan pelaksana program satu kecamatan satu milyar menyebabkan tidak adanya kepastian waktu berapa lama mitra binaan harus menunggu. Berdasarkan wawancara awal peneliti dengan pihak UPT PEM dan beberapa mitra binaan, mulai dari masuknya proposal sampai dengan pencairan dana membutuhkan waktu antara 3 minggu hingga 1 tahun 3 bulan
Keempat, pola pikir masyarakat. Sulitnya mengubah pola pikir masyarakat yang menganggap dana dari pemerintah dalam program satu kecamatan satu miliar adalah hibah yang diberikan secara cuma-cuma. Sehingga masyarakat banyak yang berbongong-bondong datang ke kantor UPT PEM untuk memasukkan proposal yang tidak sesuai hanyak untuk mendapatkan uang gratis.
Kelima, kurangya pemahaman masyarakat didukung oleh kurangnya sosialisasi yang diberikan oleh pihak UPT PEM baik pusat maupun UPT PEM Kecamatan. Sosialisasi hanya dilakukan sekali ketika program satu kecamatan satu miliar di-launching pada juni 2011. Berdasarkan wawancara awal dengan beberapa pihak kelurahan UPT PEM mengandalkan masing-masing kelurahan untuk melakukan sosialisasi tapi tidak memberikan jadwal yang pasti kapan sosialisasi harus dilaksanakan dan kelurahan mengandalkan masing-masing ketua RW atau RT. Kurangnya sosialisasi menyebabkan penyebaran info tidak merata yang berakibat kurang fahamnya masyarakat akan program satu kecamatan satu miliar. Beberapa mitra binaan mengaku mengetahui program ini dari mulut ke mulut bukan melalui sosialisasi (sumber: wawancara dengan beberapa mitra binaan)
Keenam, tidak ditetapkannya sanksi yang jelas dalam buku panduan pelaksanaan program bagi mitra binaan yang telat membayar angsuran. Pihak UPT PEM Kota Cilegon (wawancara awal dengan Kepala UPT PEM) mengakui, masih kesulitan menetapkan sanksi bagi mitra binaan yang tidak membayar angsuran. Hal ini membuat pihak UPT PEM kurang mempercayai calon mitra binaan dari kalangan RTS dan merugikan RTS yang benar-benar ingin mencoba berwirusaha.
Ketujuh, tidak ada fasilitas bagi mitra binaan. Pemerintah Kota Cilegon tidak menyediakan sarana/tempat bagi mitra binaan mengembangkan usahanya., contohnya berupa pasar atau pertokoan yang dibuat khusus bagi para mitra binaan dengan sistem sewa murah untuk memasarkan produk para mitra binaan. Selama
program berjalan, Pemerintah hanya menyediakan sedikit tempat, di lantai dasar gedung pemerintahan Kota Cilegon (eks. Matahari lama) yang sebagian besar diisi dengan produk batik dari “Ratu Collection” milik keluarga Walikota.
Kedelapan, tidak ada konseling bagi RTS untuk meningkatkan minat berwirausaha dan konseling/pelatihan keterampilan dan kreatifitas bagi mitra binaan yang mampu membantu kemajuan usaha mereka. Koseling hanya diberikan sekali ketika proposal pengajuan dana mitra binaan disetujui oleh UPT PEM. Sehingga banyak usaha mitra binaan terutama yang berasal dari kalangan RTS berhenti ditengah jalan, kurangnya pengetahuan, kreatifitas dan keterampilan, media pemasaran menjadi penyebab utamanya.
Kesembilan, Program satu kecamatan satu miliar merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan di Kota Cilegon dan membentuk masyarakat yang mandiri dengan berwirausaha yang sasaran utamanya adalah Rumah Tangga Sasaran atau RTS, namun data di lapangan menunjukkan sebaliknya. Pihak UPT PEM Kecamatan Jombang hampir tidak pernah meloloskan proposal permohonan pinjaman calon mitra binaan yang berasal dari kalangan Rumah Tangga Sasaran yang belum mempunyai usaha atau baru akan memulai usahanya. (sumber: wawancara dengan pihak UPT PEM Kecamatan Jombang)
Salah satu kebijakan UPT PEM Kecamatan Jombang dalam meloloskan proposal calon mitra binaan adalah mitra binaan tersebut harus sudah dan sedang menjalankan sebuah usaha. Kebijakan tersebut dibuat karena dikhawatirkan jika calon mitra binaan belum memiliki usaha, dana yang didapat tidak digunakan
semestinya atau akan terjadi penunggakan dalam pembayaran cicilan karena tidak adanya pemasukan yang dapat menjamin kelancaran pembayaran cicilan.
Tabel 1.2 dibawah ini merupakan perbandingan jumlah keseluruhan mitra binaan dengan jumah mitra binaan yang berasal dari kalangan Rumah Tangga Sasaran (RTS) pada saat program diluncurkan periode Juli 2011-Februari 2012.
Tabel 1.2
Jumlah mitra binaan periode Juli 2011-Februari 2012 Kecamatan Jumlah mitra
binaan
Dana yang digulirkan
Mitra binaan yang berasal dari RTS
Grogol 104 orang 256,3 juta 46 orang
Cibeber 141 orang 363,6 juta 55 orang
Ciwandan 116 orang 345,9 juta 50 orang
Purwakarta 46 orang 105,1 juta 13 orang
Cilegon 93 orang 161,9 juta 35 orang
Jombang 221 orang 376,6 juta 106 orang
Citangkil 159 orang 497 juta 39 orang
Pulomerak 89 orang 193 juta 14 orang
Jumlah 969 orang 385 orang
Sumber http://setkab.go.id.
Dari tabel 1.2 di atas menunjukkan bahwa program satu kecamatan satu milyar sudah berjalan merata di seluruh kecamatan sekota Cilegon. Jumlah mitra binaan dan RTS terbanyak ada di Kecamatan Jombang dan Kecamatan Purwakarta menempati urutan akhir. Walaupun demikian dari total 969 orang mitra binaan, hanya 385 orang yang berasal dari kalangan target sasaran program yaitu RTS yang sebagian berasal dari Kecamatan Jombang. Padahal di Kecamatan Jombang saja berdasarkan sensus yang dilaksanakan oleh BPS Kota Cilegon pada tahun 2011 pada saat program diluncurkan, masyarakat miskinnya berjumlah 1684 sebagaimana tercantum dalam tabel 1.3 di bawah ini
Tabel 1.3
Perbandingan Jumlah Masyarakat Miskin di Kota Cilegon Tahun 2011 Dengan Mitra Binaan yang Berasal Dari RTS
Kecamatan Hampir miskin
Miskin Sangat miskin
Jumlah Mitra binaan dari RTS Ciwandan 695 932 1019 2464 50 Citangkil 307 799 924 2030 39 Pulomerak 395 755 715 1865 14 Purwakarta 209 567 471 1247 13 Grogol 202 550 537 1289 46 Cilegon 248 420 484 1152 35 Jombang 386 670 628 1684 106 Cibeber 456 814 726 1996 55 Jumlah 2898 5507 5504 13909 385
Sumber : Cilegon dalam angka (2012:13)
Dari tabel 1.3 dan keterangan di atas di atas dapat dilihat bahwa ketika program satu Kecamatan Satu Milyar diluncurkan, program belum berjalan sebagaimana mestinya. Target atau sasaran dibuatnya program, yaitu untuk masyarakat miskin tidak banyak tersentuh, karena sebagian besar penerima bantuan bukan berasal dari kalangan Rumah Tangga Sasaran (RTS). Hal itu dapat dilihat dari tidak sebandingnya jumlah mitra binaan yang berasal dari masyarakat miskin (RTS) dengan total keseluruhan jumlah mitra binaan.
Berdasarkan sensus yang dilakukan oleh BPS Kota Cilegon. Pada saat program Satu Kecamatan Satu Milyar diluncurkan, jumlah masyarakat miskin di Kecamatan Jombang sebanyak 1684 berdasarkan sensus yang dilakukan oleh BMKB, namun hanya sebanyak 106 orang yang menjadi mitra binaan program ini.
Kesepuluh, dampak nyata Program Satu Kecamatan Satu Milyar bagi penurunan jumlah angka kemiskinan juga tidak banyak. Data BPS menunjukkan
jumlah masyarakat miskin semakin meningkat dibandingkan dengan sebelum adanya program. Seperti yang digambarkan dalam tabel 1.4 di bawah ini
Tabel 1.4
Perbandingan jumlah masyarakat miskin di Kecamatan Jombang tahun 2009-2014 Kelurahan 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Jombang wetan 249 573 626 701 532 806 Masigit 187 388 439 491 401 565 Panggung rawi 82 193 225 258 189 297 Gedong dalem 94 155 195 224 359 258 Sukmajaya 116 283 357 399 325 459 Jumlah 728 1592 1842 2073 1797 2.385
Sumber: Kecamatan Jombang dalam angka (2010-2014)
Dari tabel 1.4 di atas dapat dilihat jumlah masyarakat miskin yang justru semakin meningkat dari tahun ke tahun, padahal program Satu Kecamatan Satu Milyar sudah berjalan hampir 5 tahun, bahkan meningkat jauh dibandingkan dengan tahun 2009 ketika program belum dilaksanan. Walaupun pada tahun 2013 angka kemiskinan pengalami penurunan, hal tersebut bukan pertanda bahwa program Satu Kecamatan Satu Milyar telah berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.
Berdasarkan masalah-masalah yang telah dijabarkan di atas, peneliti tertarik untuk memfokuskan dan meneliti lebih jauh mengenai :
“EVALUASI PROGRAM SATU KECAMATAN SATU MILIAR DI KECAMATAN JOMBANG KOTA CILEGON”
1.2 Identifikasi Masalah
1. Sumber Daya Manusia, Sarana dan Prasarana yang kurang mendukung keberhasilan pelaksanaan Program Satu Kecamatan Satu Milyar di Kecamatan Jombang Kota Cilegon.
2. Tidak adanya kepastian waktu dalam panduan pelaksanaan program yang mendukung program. berjalan tidak tepat waktu dan menyebabkan ketidakpastian berapa lama calon mitra binaan harus menunggu proposalnya disetujui.
3. Pola fikir masyarakat yang salah tentang program dan menganggap dana dari pemerintah adalah hibah.
4. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah pada masyarakat tentang program Satu Kecamatan Satu Milyar.
5. Tidak ditetapkannya sanksi yang pasti dalam buku panduan pelaksanaan program bagi mitra binaan yang bermasalah ditengah-tengah angsuran. 6. Tidak ada fasilitas pendukung usaha dari Pemerintah Kota Cilegon bagi
masyarakat yang telah menjadi mitra binaan. Baik itu berupa fasilitas fisik maupun pelatihan.
7. Program kurang tepat sasaran, sebagian besar mitra binaan bukan berasal dari kalangan Rumah Tangga Sasaran (RTS).
8. Tujuan utama program pengentasan kemiskinan dan peningkatan jumlah wirausahawan serta minat berwirausaha terutama dari kalangan RTS, tidak terealisasikan
1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah 1.3.1 Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, karena keterbatasan waktu dan sumber daya, peneliti membatasi penelitian hanya pada pelaksanaan program satu kecamatan satu miliar di Kecamatan Jombang Kota Cilegon sebagai Kecamatan yang memiliki mitra binaan terbanyak pada saat launching. Apakah implementasinya berhasil dan berdayaguna untuk masyarakat Kecamatan Jombang sesuai dengan pernyataan narasumber atau sebaliknya. 1.3.2 Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dijabarkan di atas Peneliti