• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

Dalam dokumen INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN BUDAYA JEPANG (Halaman 119-122)

KESALAHAN PEMBENTUKAN KALIMAT PASIF BAHASA JEPANG

1. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

Penelitian mengenai pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua oleh peneliti bahasa mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa kedua oleh pembelajar. Ozeki (2010), menyebutkan terdapat dua jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar bahasa Jepang. Pertama, kesalahan inter-lingual (inter-lingual error), yaitu kesalahan yang disebabkan gangguan dari bahasa ibu dikarenakan perbedaan di antara kedua bsahasa. Kedua ialah kesalahan intra-lingual (intra-lingual error),

1

Penelitian ini didanai oleh dana Non PNBP USU Tahun Anggaran 2017 2Penulis 1

114

yaitu kesalahan yang terjadi tidak ada kaitannya dengan pengaruh bahasa ibu, tetapi kesalahan terjadi semata-mata disebabkan oleh proses pengembangan (developmental process)4.

Gangguan5bahasa ibu (cross linguistic influence), juga diketahui sebagai pemindahan bahasa (language transfer) (Odlin, 1989; Ozeki, 2005). Odlin (1989) menyebutkan bahwa pemindahan bahasa merupakan akibat daripada persamaan dan perbedaan di antara bahasa kedua dan bahasa asing lain yang telah dipelajari sebelumnya. Menurut Odlin, hal ini terjadi disebabkan oleh penilaian atas kesamaan di antara bahasa ibu dan bahasa kedua pelajar (Odlin, 1998, p. 27). Jika di antara bahasa ibu dan bahasa kedua mempunyai beberapa persamaan dalam perkataan maupun tatabahasanya, maka pemindahan positif cendrung untuk terjadi. Seperti halnya antara bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia yang memiliki persamaan pada banyak kosakata bahkan tatabahasanya. Hal ini memungkinkan pemindahan positif cendrung terjadi ketika menggunakan bahasa Indonesiakepada bahasa Malaysia ataupun sebaliknya.Tetapi, jika bahasa ibu pelajar berbeda dengan sistem bahasa kedua, hal ini memungkinkan terjadinya pemindahan negatif. Contohnya, adanya perubahan bentuk kata kerja berdasarkan pola kalimat dan keterangan waktunya di dalam tatabahasa bahasa Jepang telah membingungkan pelajar Indonesia hingga menghadapi kesulitan ketika mengaplikasikan dan menerjemahkan kalimat bahasa Indonesia ke dalam kalimat bahasa Jepang, yang mana perubahan bentuk kata kerja ini tdak ada ditemui di dalam tatabahasa bahasa Indonesia. Seperti terlihat pada contoh kalimat (1) berikut:

(1). Saya dibelikan ayah mainan.

Watashi - wa chichi – ni - omocha - o kawarasemashita. Saya-partikel ayah- partikel – mainan - partikel - ? <私は父におもちゃをかわらせました。(?)>

Penerjemahan kalimat bahasa Indonesia ke dalam kalimat bahasa Jepang pada contoh kalimat (1) di atas adalah kalimat yang dihasilkan oleh pelajar ketika diminta untuk menerjemahkan kalimat ‘saya dibelikan ayah mainan’.Penerjemahan kalimat bahasa Indonesia pada contoh (1) kepada bahasa Jepang mungkin dapat dipahami, tetapi, pelajar cendrung terpengaruh dengan partikel (di-) yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Walaupun kalimat bahasa Indonesia tersebut menunjukkan kalimat pasif, tetapi, bila ditelaah lebih lanjut, kalimat ‘saya dibelikan mainan oleh ayah’ menunjukkan bahwa subjek menerima sesuatu barang, yaitu mainan dari ayahnya dan ia merasa senang. Justru, bentuk kalimat yang mempunyai makna seperti ini, di dalam tatabahasa bahasa Jepang tidak menggunakan bentuk kalimat pasif melainkan bentuk yari-morai (memberi dan menerima).

4

Sebagaimana pemerhatian daripada Odlin (1989), ramai pengkaji telah memperdebatkan, pada hakikatnya kesilapan yang disebabkan oleh proses perkembangan yang telah ditemui pada pemerolehan bahasa ibunda dan bahasa kedua adalah lebih daripada yang dijangkakan. Sebagai contoh, kesilapan kala yang dilakukan oleh pelajar Inggeris pada ayat: * I play a new game last nightatau *John book.

Berdasarkan kalimat bahasa Jepang yang dibuat oleh pelajar untuk menerjemahkan kalimat (1) dapat dilihat bahwa pelajar cendrung untuk menerjemahkan kata per kata di dalam kalimat bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jepang, tetapi, mengabaikan aturan penggunaan kata kerja pasif di dalam bahasa Jepang hingga menyebabkan timbulnya negatif transfer.

Bentuk aktifitas penerjemahan kata per kata dari bahasa Jepang ke dalam perkataan yang mempunyai arti yang sama/mirip ke dalam bahasa Indonesia seperti yang dilakukan oleh pelajar tersebut, telah disebutkan oleh Harmer (2001), di dalam bukunya, yaitu, aktifitas penerjemahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari di dalam pembelajaran bahasa asing. Menurut Moentaha (2006), teori terjemahan mempunyai hubungan langsung dengan linguistik perbandingan bahasa. Penelitian mengenai pengajaran bahasa asing dengan melibatkan teori terjemahan dapat mengatasi permasalahan interferensi/gangguan di dalam pembelajaran bahasa asing.

1.2 Rumusan Masalah

Penelitian ini membicarakan tentang kesulitan yang dihadapi serta kesalahan yang dilakukan oleh pelajar bahasa Jepang ketikamenerjemahkan kalimat pasif berbahasa Indonesia kepada kalimat pasif bahasa Jepang. Adanya perbedaan aturan tatabahasa di dalam bahasa Jepang dengan aturan tatabahasa pada bahasa Indonesia menyebabkan terjadinya pemindahan positif juga pemindahan negatif di dalam penerjemahan kalimat pasif bahasa Indonesia ke dalam kalimat pasif bahasa Jepang. Adanya perbedaan ketara mengenai kalimat pasif bahasa Jepangdengan kalimat pasif bahasa Indonesia menjadi penyebab timbulnya kesalahan dalam penggunaan dan pembentukan kalimat pasif bahasa Jepang. Di antara perbedaannya adalah kalimat pasif bahasa Jepang, kata kerja perlu dirubah ke dalam bentuk pasif ~rareru (di-), memerlukan partikel sebagai penanda subjek, dan objek yang dikenai perbuatan dimana hal ini tidak ada di dalam tatabahasa bahasa Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi hambatan bagi pelajar dalam menguasai bahasa Jepang yang tepat, sebagaimana disebutkan oleh Yoshikawa (1997). Untuk itu, yang menjadi pertanyaan pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah pelajar Indonesia mengaplikasikan kalimat pasif bahasa Jepang?

2. Apakah bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan oleh pelajar ketika mengaplikasikan kalimat pasif bahasa Jepang?

1.3 Objek Penelitian

Objektif penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan kesalahan dan menganalisis bentuk-bentuk kesalahan dalam membentuk kalimat pasif bahasa Jepang yang dilakukan oleh pembelajar bahasa Jepang Indonesia.

1.4Batasan Penelitian

Penelitian ini hanya menganalisis kesalahan dan bentuk-bentuk kesalahan yang mucul dalam aktifitas penerjemahan karangan berbahasa Indonesia dalam bentuk pasif ke dalam kalimat pasif bahasa Jepang yang dilakukan oleh pembelajar bahasa Jepang Indonesia.

Dalam dokumen INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN BUDAYA JEPANG (Halaman 119-122)