1.1 Latar Belakang Masalah
Semakin berkembangnya dunia usaha di Indonesia mengakibatkan perusahaan-perusahaan besar membutuhkan sumber pendanaan dari luar. Salah satu sumber tersebut adalah penerbitan saham kepada masyarakat luas, yang disebut dengan go public. Perusahaan go public wajib menerbitkan laporan keuangan pada setiap akhir periode akuntansi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pihak luar perusahaan, khususnya investor dan calon investor. Informasi keuangan yang nantinya akan dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) merupakan tujuan utama dari perusahaan go public dalam halnya pelaporan keuangan (financial reporting).
Menurut Standar Akuntansi Keuangan No. 38 hal. 1.7 Tahun 2007 “manfaat suatu laporan keuangan akan berkurang jika laporan tersebut tidak tersedia tepat pada waktunya”. Oleh sebab itu nilai dari ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan faktor penting bagi kemanfaatan laporan keuangan tersebut, karena jika terjadi penundaan dapat menyebabkan manfaat informasi menjadi kurang relevan bagi pengguna informasi keuangan terutama investor dalam membuat keputusan investasi. Semakin cepat informasi laporan keuangan dipublikasikan ke publik, informasi tersebut semakin bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Sebaliknya jika terdapat penundaan yang tidak semestinya, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan nilai (relevansi) dalam hal pengambilan suatu keputusan. Suatu ketertundaan pelaporan keuangan
secara tidak langsung diartikan oleh investor sebagai sinyal buruk bagi perusahaan. Investor akan menganggap keterlambatan pelaporan keuangan merupakan pertanda buruk bagi kesehatan perusahaan sehingga akan berdampak negatif juga terhadap reaksi pasar. Reaksi pasar yang negatif dapat dicegah dengan menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit yang relevan dan tepat waktu. Laporan keuangan yang telah diaudit dapat meningkatkan kepercayaan pihak pengguna laporan keuangan atas laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan.
Menurut Boynton dkk (2003:63) “standar pekerjaan lapangan memuat pernyataan bahwa audit harus dilaksanakan dengan perencanaan dan supervisi yang memadai agar suatu audit dapat dikatakan efektif dan efisien”. Hal ini yang kadang menyebabkan lamanya suatu proses pengauditan dilakukan, sehingga publikasi laporan keuangan yang diharapkan secepat mungkin menjadi terlambat. Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan oleh auditor, kondisi ini sering disebut sebagai Audit Delay. “Audit delay merupakan lamanya / rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit” (Kartika, 2011:155).
Di Indonesia sejak 31 Juli 2006, BAPEPAM-LK semakin memperketat peraturan dengan dikeluarkannya surat keputusan ketua BAPEPAM-LK, Nomor: Kep-06/BL/2006 yang menyatakan bahwa laporan keuangan disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat lazim harus disampaikan kepada BAPEPAM
paling lambat dalam waktu 90 hari atau akhir bulan ketiga setelah tahun buku berakhir.
Pengkajian tentang rentang waktu dan keterlambatan penerbitan laporan keuangan yang telah diaudit menjadi fenomena yang cukup menarik untuk diteliti. Pada 2010 tercatat ada sebanyak 68 emiten terlambat menyerahkan laporan keuangan 2009. Sementara pada 2011 tercatat 62 emiten terlambat menyerahkan laporan keuangan 2010, sedangkan pada 2012 tercatat 54 emiten terlambat menyerahkan laporan keuangan tahunan buku tahun 2011. Dan pada 2013, terdapat 52 emiten hingga 1 April 2013 belum menyampaikan laporan keuangan auditan yang berakhir 31 Desember 2012.
Menurut Rochimawati (2008:3), “Ukuran perusahaan adalah suatu ukuran perusahaan yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan. Ukuran perusahaan ditandai dengan beberapa ukuran antara lain total penjualan, total asset, log size, jumlah pegawai, nilai pasar perusahaan, dan nilai buku perusahaan”. Perusahaan yang memiliki ukuran relatif lebih besar, biasanya memiliki audit delay yang lebih singkat, karena perusahaan ini dimonitor oleh investor, pengawas modal, dan pemerintah sehingga memaksa perusahaan untuk lebih cepat menyampaikan laporan keuangannya.
Menurut Walsh (2004:34), “Laporan laba-rugi adalah penghubung atau jembatan antara neraca pembukaan dan penutupan dalam suatu periode akuntansi. Laporan ini berfungsi untuk mengidentifikasi total pendapatan yang diperoleh dan total biaya yang terjadi selama periode tersebut”. Perusahaan yang melaporkan laba tinggi akan berharap laporan keuangan auditan bisa diselesaikan secepatnya,
sehingga good news tersebut segera dapat disampaikan kepada para investor dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.
Menurut Iskandar dan Trisnawati (2010:181), “Opini audit adalah pendapat yang diberikan auditor atas kewajaran laporan keuangan suatu perusahaan”. Perusahaan yang tidak menerima opini audit standar unqualified opinion diperkirakan mengalami audit delay yang lebih panjang alasannya perusahaan yang menerima opini tersebut memandang sebagai bad news dan akan memperlambat proses audit.
Menurut Asnawi dan Wijaya (210:35), “Rasio solvabilitas disebut juga dengan rasio pengungkit (leverage ratio), yaitu rasio untuk mengukur sejauh mana sebuah perusahaan didanai oleh utang”. Rasio solvabilitas yang tinggi mengindikasikan perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan merupakan berita buruk (bad news) yang akan mempengaruhi kondisi perusahaan di mata publik. Pihak manajemen cenderung menunda penyampaian laporan keuangan yang berisi berita buruk sehingga audit delay akan semakin panjang.
Menurut Rachmawati (2008:3), “Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah suatu bentuk organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang berusaha di bidang pemberian jasa profesional dalam praktek akuntan publik”. KAP yang berafiliasi dengan KAP internasional big four dianggap dapat melaksanakan auditnya secara efisien dan memiliki jadwal waktu yang lebih tinggi untuk menyelesaikan audit tepat pada waktunya.
Dari hal-hal yang telah dijelaskan tersebut dia atas, penelitian ini bermaksud mengkaji lebih jauh mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay. Penelitian berikut merupakan kelanjutan penelitian-penelitian terdahulu, seperti menurut Indriyani dan Supriyati (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Report Lag Perusahaan Manufaktur di Indonesia dan Malaysia. Populasi penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Malaysia pada periode 2009-2010. Variabel independen penelitian yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, laba/rugi perusahaan, dan debt to equity ratio. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hanya variabel ukuran perusahaan dan debt to equity ratio yang mempengaruhi audit report lag. Dalam penelitian ini, variabel ukuran perusahaan diukur berdasarkan log total aktiva.
Iskandar dan Trisnawati (2010) melakukan penelitian yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Report Lag Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Obyek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2003-2009 dengan jumlah sampel adalah sebanyak 128 perusahaan untuk masing-masing periode. Variabel independennya yaitu total asset, klasifikasi industri, laba rugi, opini audit, besarnya KAP, dan debt proportion. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berpengaruh terhadap audit report lag adalah besarnya KAP, laba rugi tahun berjalan, dan klasifikasi industri. Dalam penelitian ini, variabel laba / rugi operasi diukur dengan dummy yaitu untuk perusahaan yang mengalami laba diberi kode dummy 1 dan yang mengalami rugi diberi kode dummy 0.
Penelitian Ahmad dan Kamarudin (2003) pada perusahaan Kuala Lumpur Stock Exchange selama periode 1996-2000 sebanyak 100 sampel perusahaan dengan judul Audit Delay and The Timeliness Of Corporate Reporting : Malaysian Evidence. Penelitian ini menemukan adanya pengaruh opini audit terhadap Audit Delay. Perusahaan yang diberikan opini atau pendapat unqualified opinion oleh auditor cenderung ingin mengungkapkan laporan keuangannya dengan cepat kepada publik. Sebaliknya perusahaan yang diberikan qualified opinion cenderung memiliki audit delay yang lebih panjang, hal ini dikarenakan auditor membutuhkan waktu dan usaha untuk mencari prosedur audit ketika mengkonfirmasi kualifikasi audit. Dalam penelitian ini opini audit diukur dengan dummy yaitu untuk opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) diberi kode dummy 1 dan untuk opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion) diberi kode dummy 0.
Rachmawati (2008) melakukan penelitian berjudul Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness. Sampel penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2003-2005. Variabel independennya yaitu profitabilitas, solvabilitas, internal auditor, size perusahaan, dan ukuran Kantor Akuntan Publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ukuran Kantor Akuntan Publik yang berpengaruh terhadap audit delay. Sedangkan variabel yang berpengaruh terhadap Timeliness hanya solvabilitas dan size perusahaan. Debt to total equity diukur dengan membandingkan total hutang terhadap total ekuitas.
Penelitian Prayogi (2012) berjudul Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Audit Delay. Variabel independen perusahaan yakni ukuran perusahaan, opini audit, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran kantor akuntan publik. Hasil penelitian menunjukkan hanya variabel opini audit yang memilik pengaruh terhadap audit delay. Reputasi KAP dalam hal ini diukur dengan dummy yaitu perusahaan yang menggunakan jasa KAP the big four diberi kode 1 dan perusahaan yang tidak menggunakan jasa KAP non the big four diberi kode 0.
Dari banyaknya penelitian yang telah dikaji terdapat beberapa fenomena seperti hasil penelitian Ahmad dan Abidin (2008), Rachmawati (2008), Indriyani dan Supriyati (2012), dan Kartika (2011) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit delay. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ahmad dan Kamarudin (2003), Rochimawati (2008), Prayogi (2012), dan Iskandar dan Trisnawati (2010) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap audit report lag atau audit delay. Dari hasil penelitian Iskandar dan Trisnawati (2010), serta Ahmad dan Kamarudin (2003), menyatakan bahwa laba/rugi perusahaan berpengaruh positif terhadap audit delay. Berbeda dengan penelitian Kartika (2011) dan Iskandar dan Trisnawati (2010) yang menyatakan bahwa laba rugi operasi mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay. Dari hasil penelitian Ahmad dan Kamarudin (2003) dan Prayogi (2012), menyatakan bahwa opini auditor berpengaruh positif dan signikan terhadap audit delay, sementara menurut hasil Ahmad dan Abidin (2008), Rochimawati (2008), Iskandar dan Trisnawati (2010), Kartika (2011) menyatakan bahwa opini audit tidak memiliki pengaruh terhadap audit delay.
Begitu juga dengan variabel solvabilitas yang diukur berdasarkan nilai debt to equity ratio, dimana dari hasil penelitian Ahmad dan Kamarudin (2003), Rachmawati (2008), Kartika (2011), dan Indriyani dan Supriyati (2012) menyatakan bahwa debt to equity ratio berpengaruh terhadap audit delay. Berbeda dengan hasil penelitian Ahmad dan Abidin (2008) dan Prayogi (2012) yang menyatakan bahwa variabel solvabilitas (debt to equity ratio) tidak memiliki pengaruh terhadap audit delay. Sama halnya dengan variabel independen Reputasi Kantor Akuntan Publik dimana dari hasil penelitian Iskandar dan Trisnawati (2010) reputasi Kantor Akuntan Publik berpengaruh signifikan terhadap variabel audit delay. Hasil penelitian tersebut berbeda dengan hasil penelitian Ahmad dan Abidin (2008), Prayogi (2012), dan Kartika (2011) yang menyatakan bahwa ukuran Kantor Akuntan Publik tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap audit delay.
Berdasarkan uraian sebelumnya, terdapat research gap dari penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan keanekaragaman hasil penelitian-penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay. Adanya keanekaragaman tersebut mungkin dikarenakan adanya perbedaan penilaian pada variabel independen yang digunakan pada penelitian. Penelitian penulis merupakan replikasi dari penelitian terdahulu yaitu penelitian Indriyani dan Supriyati (2012). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penambahan faktor yang diuji yaitu reputasi Kantor Akuntan Publik, menggunakan tahun penelitian yaitu pada tahun 2010-2013 sehingga perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI sudah semakin banyak, dan juga meneliti dengan periode yang terbaru
dibandingkan dengan penelitian sebelumnya agar lebih akurat. Penelitian ini juga menggunakan sampel yang berbeda yaitu perusahaan perbankan yang berada di Bursa Efek Indonesia sedangkan penelitian sebelumnya lebih banyak mengemukakan penelitian pada perusahaan manufaktur, dan pembahasan audit delay menarik dibahas karena pada era modern saat ini dengan umumnya penggunaan teknologi dalam pelaksanaan audit apakah masih terdapat delay dalam audit serta peran dari perusahaan keuangan yang memiliki peranan penting bagi seluruh aspek yang berkepentingan.
Berdasarkan uraian dari latar belakang dan fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk memilih judul penelitian “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Laba Rugi Perusahaan, Opini Auditor, Tingkat Solvabilitas, dan Reputasi Kantor Akuntan Publik Terhadap Audit Delay Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2013.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini auditor, tingkat solvabilitas, dan reputasi kantor akuntan publik berpengaruh secara parsial terhadap audit delay?
2. Apakah ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini auditor, tingkat solvabilitas, dan reputasi kantor akuntan publik berpengaruh secara simultan terhadap audit delay?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan,
opini auditor, tingkat solvabilitas, dan reputasi kantor akuntan publik berpengaruh secara parsial terhadap audit delay.
2. Untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini auditor, tingkat solvabilitas, dan reputasi kantor akuntan publik berpengaruh secara simultan terhadap audit delay.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi praktisi dan akademis, yaitu:
1. Bagi Akademisi
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay pada Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
2. Bagi Auditor
Dapat membantu auditor dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay, sehingga dapat mengoptimalkan kinerja dalam pelaporan keuangan yang telah ditentukan Bapepam-LK dengan tepat waktu.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini sebagai sumber referensi dan informasi untuk memungkinkan penelitian selanjutnya tentang pembahasan audit delay.
ABSTRAK
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LABA RUGI PERUSAHAAN,