BAB IV. SUDUT PANDANG PASIEN DAN KELUARGA
4.4. Pendapat Keluarga tentang pengobatan
Keluarga ibu Sulasmi yang sering menjaga beliau adalah anaknya, Sundari dan juga suaminya yaitu Suharjo. Mereka berdua bersama-sama merawat ibu Sulasmi, pada saat siang anaknya yang menjaga dan pada saat malam hari, suaminya lah yang menjaga dan memberikan minum saat malam hari ibu Sulasmi haus. Mereka berjaga bergantian dan selalu memperhatikan keadaan ibu Sulasmi. Suami ibu Sulasmi terlihat sangat sabar dan juga berharap tinggi bahwa istrinya akan sembuh setelah mengikuti pengobatan di rumah sakit.
”sedih liat istri sakit, kerjaan dikampung jadi nganggur gadak ngerjain, uang pun gadak juga. Jadi mudah-mudahan ibu sembuh biar bisa ke ladang lagi. Karna gak mungkin bapak di ladang ibu di rumah sakit sama si adek di medan,,”
“Makin kurus ibu, dibotak lagi. Kemarin jalan-jalan pagi ke luar dikira laki-laki ibu karna gadak rambutnya, tapi berdoa aja lah gak papa dibotak yang penting sembuh,,”
Suaminya sangat berharap agar istrinya sembuh dan dapat kembali ke kampung agar aktivitas yang sempat tertunda dapat dilanjutkan, dan suaminya mengatakan pada peneliti bahwa istrinya tidak boleh kerja berat saat sudah sembuh nanti.
Sundari, anak dari ibu Sulasmi yang bisa peneliti wawancarai dikarenakan anak-anaknya yang lain sedang bekerja di luar kota dan anak yang paling kecil sedang bekerja siang hari dan harus kuliah pada malam hari sehingga ia bisa
menjemput ibunya setelah pulang kuliah. Sundari lah yang bertanggung jawab pada ibunya dalam mendengar keluh kesah dari ibunya. Sundari sangat berharap ibunya sembuh, tetapi melihat semangat dari ibu Sulasmi loyo, Sundari juga tidak berharap banyak apabila ibunya memang tidak sembuh. Karena Sundari membaca banyak artikel bahwa umur dari seorang yang telah terkena kanker serviks hanya 5 tahun dan pengobatan yang dilakukan adalah memperpanjang agar 5 tahun itu dapat dilewati. Jadi, Sundari terlihat sangat memahami ibunya dan juga penyakit yang dialami oleh ibunya.
b. Keluarga ibu Junariah
Peri adalah anak tertua di keluarga yang belum mendapat pekerjaan dan aktivitas yang selalu dilakukannya adalah main warnet (warung internet) dan pulang ke rumah ketika waktu makan.Tetapi saat ibunya sakit, dia harus menjaga ibunya dan mengurus segala administrasi di rumah sakit, bahkan tidak pernah ada niat di dalam pikirannya untuk bermain internet ketika menjaga ibunya.
“mamak itu gapernah sakit, jadi kalo uda tetiba sakit sampe rumah sakit itupun mesti operasi katanya, adooh gatau lah ka, poningan kepala kekgini, bapak mesti kerja kan, adek adek pun masih sekolah, ya orang itu betiga lah di rumah. Akupun karna pengangguran ajanya makanya bisa jaga mamak,,aku sedih kali kalo liat mamak sakit parah gitu, tengoklah samping mamak itu, kekmana dia mau sembuh sampingnya pun uda kekgitu nafasnya satu-satu lagi,,jujur aja ya ka, kita kan mau sembuh kalo samping kita pun yang semangat semangat tapi ini rumah sakit umum samua ada disini. Aku ngga tau mau bawa mamak berobat kemana lagi ka kalo gak rumah sakit, ya mamak pun mau mau ajanya kan, biar gak repot pikirnya. Aku mana mana ngerti ka dibilang dokter ini aku ia ia aja cuman tamat sma nya ka, ngga pande kekgitu, bolosnya waktu sekolah,,tambah peri dengan ketawa kecil.
Rumah sakit adalah wadah untuk orang yang sakit dengan segala penyakit, peri merasa ibunya yang masih sakit stadium IIB digabung dengan orang yang sudah sakit stadium tinggi membuat kepercayaan diri dari ibunya menjadi berkurang. Pengobatan rumah sakit adalah jalan terakhir bagi keluarga ibu Junariah karena yang selalu mencari pengobatan adalah ibu Junariah sendiri karena suaminya yang sibuk bekerja dan anak-anaknya yang masih kecil tidak mengerti akan penyakit ibunya. Anak yang pertama sibuk dengan dunianya sendiri main internet di luar rumah yang membuat ibunya sendiri di rumah dan tidak mementingkan kesehatannya sendiri. Sedangkan anak-anaknya yang masih kecil tidak mengerti apa itu kanker dan bagaimana penyembuhannya. Anak kedua ibu Junariah yang bernama Syahfan adalah kelas tiga SMP dan kebetulah setelah melakukan penelitian beberapa kali, peneliti sempat bertemu dan melakukan wawancara.Syahfan yang dipanggil Akbar di rumah anak yang sesuai dengan usianya dimana sangat aktif dan emosi yang tidak stabil.
“mamak sakit uda lama kekny kak cuman gak dikastau atau kekmanalah sampek kekgini, aku sekolah kak ini aku mau UN pu makanya ke rumah sakit mintak doa sama mamak biar lulus nanti, kalo ujian uda siap aku disini juga nanti jaga mamak kak, ngeri juga aku liat mamak gini kak sakit pake infuse infuse belum lagi infuse darah ngeri lah kak,, kurus kali mamak sekarang, kalo dicakapin pun kadang emosi emosi kak, karna dari rumah sakit juganya kakak makanya dicakapin kurasa kak, maunya sembuh lah mamak kak, aku pun ngga tau kekmana kalo mamak sakit, akulah yang jaga adek. Bapak kerjanya, kami bedualah di rumah kak. Pokoknya kalo kata kawan aku di sekolah kalo kanker sembuhnya itu di adam malik keluarga orang itu pun sembuh katanya kalo di adam malik. Doakan aja lah kak,tutupnya”
Keluarga dari ibu Junariah sangat pasrah terhadap pengobatan yang sedang dijalani oleh ibunya. Ibu Junariah belum mendapatkan operasi karena beliau masih kekurangan darah karena ditakutkan dokter beliau akan kekurangan banyak darah saat terjadi operasi. Ibu Junariah harus mendapatkan tambahan darah sebanyak empat kantong, dan pada saat ini darah yang sudah masuk masih dua kantung dan selebihnya masih dalam proses karena tangan dari ibu Junariah bengkak dan penambahan darah ditunda. Berat badan ibu Junariah turun drastis dan wawancara yang peneliti lakukan harus berulang-ulang dan secara perlahan karena keadaan dari ibu Junariah yang sangat lemah.Keluarga dari ibu Junariah tidak memiliki ide untuk mencari pengobatan di luar rumah sakit, karena mereka tidak memiliki kenalan atau pengalaman dengan sakit seperti yang dialami ibunya.Karna ketika ibu Junariah mencari pengobatan anak-anaknya tidak pernah ikut dan bahkan suaminya karna harus bekerja.
c. Keluarga ibu Asmah
Tepat pada tanggal 28 april 2016, ibu Asmah masuk ke rumah sakit dengan ruangan III 5, dan setelah satu minggu pindah ruangan ke II 1dikarenakan ruangan yang dingin karena tepat di bawah AC (air conditioner). Dua minggu ibu Asmah sudah mendapat pengobatan tetapi badan semakin kurus terutama bagian payudara bahkan terlihat rata, tetapi perut bagian bawah tengah tampak menonjol. Dan yang menjadi kebingungan bagi keluarga ibu Asmah yaitu kaki ibu tersebut bengkak tetapi tidak ada rasa sakit yang dirasakan saat kakinya tersebut ditekan.
Keluarga dari ibu Asmah mencoba untuk menanyakan kepada dokter mengenai keadaan dari penderita kanker serviks tersebut tetapi dokter memeriksa dan mengatakan bahwasanya itu dikarenakan pencernaan yang tidak lancar dan cairan yang menumpuk karena banyak sel yang sudah tidak berfungsi lagi. Ibu Asmah sudah menggunakan oksigen sebagai alat bantu pernafasan karena cairan juga sudah mencapai paru-paru sehingga membuat ibu Asmah sesak dan tidak dapat bernafas dengan baik.
Adik daripada ibu Asmah mengatakan kepada peneliti sepertinya operasi tidak akan pernah terjadi pada kakaknya, karena melihat kondisi pada saat ini sudah sangat lemah. Dan belum lagi bahwa nafsu makan tidaklah ada dikarenakan sesak dan juga banyaknya cairan air garam yang sudah masuk ke dalam tubuh pasien tersebut.
Keluarga yang menjaga ibu Asmah hanya dua orang yaitu suami dan adiknya, anak dari pasien tidak dapat datang dikarenakan sibuk bekerja di luar kota sehingga meminta bantuan kepada ibu (adik dari mama) untuk menjaga mama mereka. Sedangkan anak yang paling kecil selalu menghubungi bagaimana keadaan ibunya di rumah sakit dikarenakan ia tidak dapat melihat kondisi ibunya karena harus bersekolah, dan abangnya yang tepat diatasnya harus mengurus ladang dan juga menjaga adiknya yang paling kecil. Suami dari ibu Asmah sangat tampak sangat sedih melihat istrinya terbaring sakit tetapi beliau selalu bercerita hal yang lucu sehingga membuat istrinya tersenyum.
“saya nyesal juga, dia uda bilang sakit perut tapi saya biarin gitu aja, inilah engga tau lagi gimana, Gusti Allah ajalah, berdoa aja.”
Tampak penyesalan didalam diri bapak Muklis karena selalu membiarkan istrinya sakit tanpa mencari pengobatan, bahkan ia membiarkan istrinya dikarenakan menurut bapak Muklis istrinya kuat dan menduga hanya sakit perut biasa saja. Dan karena persepsi bapak tersebut, ia sangat berusaha untuk mencari cara agar istrinya bisa selamat dari kanker serviks. Dengan cara dioperasi bapak Muklis percaya bahwa istrinya dapat diselamatkan dan setelah itu akan mendapatkan kemoterapi secara rajin.
Banyak hal-hal yang terjadi disaat ibu Asmah sakit, ketika beliau sehat banyak orang di kampung yang tidak kenal dekat, tetapi saat beliau sakit dan diharus dirawat di rumah sakit banyak orang di kampung yang menganjurkan diri untuk membantu mengerjakan ladang mereka.Dan selain itu juga mereka rajin menghubungi ibu Asmah menanyakan kondisi beliau, dan banyak juga yang menyarankan untuk tinggal di tempat keluarga mereka yang ada di Medan.Terkadang kerabat yang di kampung menghubungi untuk memberi informasi mengenai pengobatan- pengobatan di luar rumah sakit dan mereka menawarkan apakah mereka tertarik untuk mencobanya.Mertua dari ibu Asmah juga turut serta memberikan informasi pengobatan untuk beliau, dan menyarankan juga untuk pergi ke Perdagangan untuk mencoba pengobatan herbal untuk kanker serviks.
Keluarga dari ibu Jamilah berharap besar terhadap pengobatan modern yang dijalani oleh ibu Jamilah, tetapi pengobatan rumah sakit selalu ditolak oleh ibu Jamilah tanpa alasan yang jelas.Pengobatan yang seharusnya dijalani oleh ibu mereka dapat memperpanjang hidup dari ibunya, tetapi ibunya bersikeras tidak ingin mendapat pengobatan.
“kami anak-anaknya maunya panjang umur lah nak, walaupun kami udah kawin semua kami kan anaknya juga, sedih jugalah mama kita sakit yakan nak?
“nenek ini nak, kalo diminta berobat mana mau tapi kalo dibilang jalan-jalan semangat kali, tahun lalu aja kami ke bali semua senang kali nenek kek ngga sakit dia,,senang kali jalan-jalan nak, maunya nenek gitulah. Tapi di medan ampun ibu nak,bilang sakit lah,ibu pun pening,yang iyanya jalan-jalan ga sakit katanya,,,cerita ibu Aida.”
Ibu Aida mengatakan bahwa ibunya tidak terlihat sakit saat berjalan-jalan, bahkan nenek masih bercanda dengan cucu-cucunya.
“jujur nak, ibu uda pasrahnya kalo memang gak sembuh, nenek bandel kali karna kawannya yang sakit dulu itu jangan berobat jangan operasi jangan kemo, ya inilah nenek susah kali diaja berobat, uda stadium tiga nak, kan kalo uda stadium gitu jarang selamat,,bisiknya. Tapi namanya kita anak-anaknya usaha demi mamanya ya dibawa ke rumah sakit juga lah.
e. Keluarga ibu Sri
Suami dari ibu Sri mengikuti apapun pilihan pengobatan yang dipiih oleh istrinya, dan suaminya selalu menjaga istrinya karena hanya suaminya lah yang menjaga ibu Sri, tidak ada teman untuk berganti. Menurut suami ibu Sri, selama sakit bisa tidak merepotkan orang lain jangan merepotkan, cukuplah seorang istri dan seorang suami jika saat keadaan sakit. Tidak perlu ada orang tua atau saudara
yang lain menjaga di rumah sakit, karena keuarga yang lain cukup menjenguk saja dan memberikan saran untuk pengobatan kedepannya.
“istri sakit ya dibawa ke rumah sakit lah dek, buktinya dibawa ke rumah sakit langsung operasi kok, di kemo langsungnya ngga keputihanlagi ibunya. ikuti apa kata dokter, rawat inap ya rawat inap jangan berenti, itu (menunjuk ke pasien yang lain) ibu yang sana juga servik itu de,kamu Tanya aja nanti, uda stadium tiga dia tapi berenti berenti berobat, sempat katanya siap operasi dikemo tapi abis kemo ngga tahan lagi pulang karna muntah muntah, trus sakit masuk rumah sakit lagi langsung stadium tiga, kasian kek gitu kan, ngga kek ibu langsung ku beli itu obat nafsu makan mahal kali memang,,sampe tiga ratusan juga,,namanya kita mau total biar sembuh harus gitu ya de,,mahal yang penting sembuh, orang biaya rumah sakit dan operasi gratisnya dari bpjs, jadi kalo makanan atau vitamin kalo yg mahal ngga papa lah mahal de,,jawab suami ibu Sri dengan tegas”.
Semua dilakukan demi istri asalkan demi penyembuhan istrinya, karena dalam penyembuhan jangan separuh niat, karena penyakit akan tumbuh lagi jika pengobatan yang dilakukan tidak sampai tuntas dan bersih. Suami ibu Sri tidak masalah jika uang obat istrinya mahal dikarenakan biaya rumah sakit sudah gratis sehingga sangat memudahkan kita untuk mencari pengobatan lainnya.
4.5 Keluhan Keluarga terhadap pasien