BAB IV. SUDUT PANDANG PASIEN DAN KELUARGA
4.2. Pendapat Pasien tentang pengobatan
Pengobatan tradisional yang diikuti tidak berhasil menurut Sundari, yang membuat ibunya semakin kurus tiap harinya. Sehingga memutuskan untuk
mencoba pengobatan di rumah sakit yaitu bermula di RS Tebing dan dirujuk ke RSUP H. Adam Malik. Setelah berada di rumah sakit, beliau belum mendapat pemeriksaan karena harus mengisi data dan juga menyelesaikan masalah pembayaran yang akan dilakukan selama pengobatan. Ibu Sulasmi adalah pasien yang menggunakan kartu BPJS sehingga semua biaya pengobatan di rumah sakit adalah gratis. Tetapi anaknya harus memastikan ke kantor BPJS yang ada di rumah sakit sehingga rumah sakit memberikan gratis pengobatan untuk ibunya. Banyak berkas yang harus diselesaikan oleh Sundari agar ibunya diperiksa dan dirawat di rumah sakit. setelah satu jam mengurus semua administrasi, ibu Sulasmi mendapat ruangan di Ruang Rindu B no II2 dan belum mendapat perawatan atau pemeriksaan. Besoknya ibu Sulasmi mendapat pemeriksaan dari dokter dan meminta perawat untuk memberikan infus.
“ibu diopname dulu ya,isi tenaga dulu untuk tindakan selanjutnya, kita gambar dulu penyakitnya baru kita obati,, “kata ibu sulasmi saat menceritakan hasil pemeriksaan dari dokter”,,dokternya cerita sama sri aja semuanya,,tanya aja sama srik dek..lanjutnya,,”
Ibu Sulasmi sudah terkena kanker serviks stadium IIB dan kemungkinan akan cepat berkembang apabila tidak ditangani. Dan setelah scanning untuk penyakit, tindakan yang akan dilakukan adalah operasi pengangkatan kanker karena ditakutkan akan menyebar ke seluruh sel-sel lainnya. Dan ibu Sulasmi juga harus menjalankan kemoterapi selama 23 kali dan harus mendapat sumbangan darah saat melakukan operasi, karena kemungkinan akan kehilangan banyak darah saat terjadi operasi. Dan setelah satu bulan berada di rumah sakit, ibu Sulasmi akan melaksanakan operasi pengangkatan serviks dan harus melaksanakan puasa.
Tindakan yang dilakukan rumah sakit terhadap serviks ibu Sulasmi adalah tindakan yang benar pada saat ini karena ketakutan jika tidak segera melaksanakan operasi, sel kanker akan berkembang dengan cepat.
Kemoterapi adalah adalah pengobatan yang akan dilakukan oleh ibu Sulasmi setelah operasi untuk mematikan sel-sel kanker yang akan tumbuh pasca operasi. Tetapi setelah satu bulan dirawat di rumah sakit dan akhirnya dioperasi, ibu Sulasmi mengalami berat badan yang sangat drastis. Dan ibu Sulasmi harus mengikuti kemoterapi secara rutin dan jangan sampai melewatkannya. Ibu Sulasmi hanya mengikuti apapun demi kesembuhan penyakitnya, dan mengikuti apapun perkataan dokter dan juga anaknya, Sundari. Saat melaksanakan kemoterapi, ibu Sulasmi sangat drop dan kehilangan berat badan dan juga nafsu makan. Efek dari kemoterapi adalah mual dan muntah karena masuknya cairan kimia yang akan mematikan sel kanker yang masih tersisa dan akan tumbuh di tubuhnya yang menggunakan obat keras (beracun/kimia) untuk merusak atau membunuh sel-sel yang tumbuh dengan cepat. Kemoterapi digunakan untuk mengobati kanker. Dan karena mengalami kemoterapi yang sudah berlangsung 5 kali, ibu Sulasmi mengalami gugur rambut dan memutuskan untuk membotak rambutnya karena rambutnya ysang sudah menipis. Kemoterapi akan dilakukan sampai 23 kali dan setelah menyelesaikannya, ibu Sulasmi bisa pulang dan kembali ke rumah tetapi harus rajin check-up ke rumah sakit dan bila perlu mengikuti rawat jalan dengan rajin. Buah yang selalu disuruh dokter untuk dikonsumsi adalah buat Bit yang mana dapat mengobati kanker dan dicampur
dengan terong belanda. Makanan yang terdapat pengawet ada baiknya dihindari sampai keadaan pulih.
b. Junariah
Sakit kanker serviks yang diderita oleh ibu Junariah adalah stadium IIB dan menurut dokter sel-sel kanker akan menyebar dan memakan sel lainnya yang ada di dalam tubuh. Ketika mengalami sakit pinggul dan keram perut, ibu Junariah hanya berkusuk dan tidak berpikir bahwa beliau akan terkena kanker serviks. Tetapi dikarenakan beliau sudah mengalami keputihan hampir satu tahun dan belum pernah diperiksakan ke dokter, menyebabkan vagina dari ibu Junariah luka karena jamur yang tumbuh dan menggerogoti vaginanya sampai ke liang senggama. Dan tidak beberapa lama kesakitan semakin menjadi di daerah V yang membuat ibu Junariah khawatir dan memaksakan untuk pergi ke dokter kandungan. Dan dokter kandungan yang ditemuinya di langkat memberikan obat yang sangat mahal tetapi keputihan semakin bertambah dan bergumpal bewarna hampir kecoklatan.
Rumah sakit merupakan wadah dimana setiap penyakit berkumpul di tempat ini. Setelah gagal mencoba pengobatan dokter kandungan, beliau mencoba ke rumah sakit dan setelah di rumah sakit yang ada di binjai tetapi mereka tidak memiliki uang yang cukup jika tidak menggunakan kartu BPJS. Dengan penuh keyakinan beliau memutuskan untuk ke rumah sakit H. Adam Malik yang merupakan tempat rujukan nomor satu rumah sakit di Medan. Setelah sampai di
rumah sakit ibu Junariah dibantu oleh anaknya yang pertama dan memapah di ruang tunggu.
“sampe di rumah sakit ya digendong sama si peri karena ibu kan goyang goyang jalam karna jauh dari langkat ke adam malik. Yah pas di ruang tunggu yang ngurus semua si peri, suami yang jagain tas dan semua barang-barang.
c. Asmah Hayati
Pengobatan kanker serviks yang tersedia di rumah sakit ketika ibu Asmahdirawat di rumah sakit umum Kisaran adalah hanya obat rutin pengurang rasa sakit dan infus.Dua minggu ibu Asmah harus dirawat di rumah sakit umum Kisaran tanpa kejelasan tindakan yang dilakukan untuk mengobati kanker serviks yang dideritanya.Dan karena suami beliau selalu menanyakan kepada perawat dan dokter bagaimana tindakan untuk istrinya, dokter menjawab bahwasanya ibu Asmah harus di infus sehingga kondisi fisik beliau stabil dan dapat melakukan pengobatan lainnya. Tetapi dikarenakan tidak ada perubahan pada ibu Asmah, dokter menyarankan untuk merujuk beliau ke rumah sakit umum pusat Adam Malik di Medan, dengan alas an medis bahwasanya peralatan yang ada di rumah sakit Kisaran tidak mendukung untuk pengobatan dan peralatan yang dibutuhkan hanya tersedia di Rumah sakit Medan. Setelah dua minggu mendapat perawatan di rumah sakit umum kisaran, ibu Asmah memutuskan untuk mencoba pengobatan di Medan.Pada tanggal 30 April Ibu Asmah sampai di rumah sakit umum pusat Adam Malik dan memulai pendaftaran untuk rawat inap. Yang menjadi kesedihan bagi keluarga ibu Asmah bahwasanya mereka harus menunggu dua jam untuk mendapat ruangan dikarenakan banyaknya pasien di rumah sakit tersebut. Dan ibu
Asmah harus menahan kesakitan pada perut bagian bawahnya karena belum mendapatkan perawatan.
Pengobatan yang harus diterima oleh ibu Asmah adalah tambahan cairan infus dan juga obat.Dan dikarenakan ketidaksanggupan beliau untuk berjalan ke kamar mandi, maka beliau menggunakan kateter11 sehingga tidak harus ke kamar mandi untuk buang air kecil.Awalnya beliau merasa malu dan risih ketika harus buang air kecil di tempat tidur dan dikarenakan semua anggota keluarga yang melihatnya harus buang kecil di tempat tidur. Dan kateter hanya bertahan sampai seminggu karena ibu Asmah merasa tidak nyaman karena harus buang air kecil di tempat tidur, jadi beliau meminta untuk menggunakan pampers saja.
”kalo pake kateter itu, saya jadi jarang buang air kecil, mungkin jadi malu-malu juga karena kadang dokternya nanyain, uda buang air kecil atau belum”.
Suatu keanehan bagi ibu Asmah ketika dokter menanyakan hal-hal yangsepele, yang membuat pasien menjadi merasa tidak nyaman.Dan kadang dokter membuat lelucon dari penyakit yang diderita oleh ibu Asmah. Contoh:
“nanti kalo ibu sembuh, bapak jangan ngajak ibu berhubungan dulu ya, ditahan dulu.
Menurut dari ibu Asmah, menyampaikan hal tersebut di depan semua pasien dan juga keluarganya adalah memalukan, karena mengatakan hal seperti itu ada baiknya saat ruangan sepi atau saat pemeriksaan.
11
Kateter adalah pipa memasukkan atau mengeluarkan cairan.
Setelah beberapa minggu di rumah sakit, pengobatan yang akan dilakukan terhadap ibu Asmah adalah operasi pengangkatan sel kanker yang ada pada leher rahim.Dan kemungkinan operasi berhasil dilaksanakan, tetapi bukan menyembuhkan ibu Asmah tetapi menjaga kanker serviks tidak menyebar secara cepat dan menyeluh ke dalam tubuh beliau.Ibu Asmah rela mengikuti pilihan operasi dimana kesuksesan hanya untuk memperpanjang hidupnya bukan untuk menyembuhkannya, tetapi ibu Asmah berharap bahwa pilihan itu akan berhasil.
Saat di rumah sakit sesama pasien terkadang saling bercerita mengenai pengobatan yang mereka lakukan selama di rumah sakit.Salah satu pasien yang ada di ruangan itu adalah seorang ibu yang sedang sakit tumor rahim dan sudah melakukan operasi pengangkatan rahim.Dan pada saat ini menerima perawatan kemoterapi, dan bercerita kepada ibu Asmah supaya mengikuti operasi dan mengikuti kemoterapi sehingga ibu Asmah dapat melakukan rawat jalan dan kembali ke rumah.
Ibu Asmah akan melaksanakan operasi pada bulan juli, dikarenakan kondisi ibu Asmah sangat lemah dan belum dapat mengikuti operasi pengangkatan kanker. Karena kanker sudah menyebar ke bagian paru-paru sehingga beliau harus menggunakan oksigen tabung supaya dapat bernafas dengan baik karena beliau mengeluh sesak nafas. Dan tindakan yang diberikan dokter adalah menggunakan tabung oksigen sehingga operasi ibu Asmah harus menunggu bulan tujuh sampai kondisi membaik.
Kanker serviks yang dialami oleh ibu Asmah sudah stadium II B, dan sekarang ibu tersebut menjalani terapi lanjut selama 2 (dua) minggu di RSUP Adam Malik. Menurut beliau bahwa penyakitnya semakin parah saat berada di rumah sakit tetapi setidaknya ada pengobatan yang didapatkan ketika sedang kumat. Dikarenakan saat sedang kumat, maka ners atau perawat akan memberikan pertolongan dan memberikan suntikan agar sakit perut yang dirasakan berkurang. Selama di rumah sakit perut ibu tersebut semakin kecil dan berat badan semakin kurus dikarenakan nafsu makan juga berkurang.
Pengobatan kanker serviks dapat dilihat dari jenis klasifikasi kanker tersebut, baik dilihat dari stadium daripada kanker tersebut ataupun bagaimana sel kanker telah menyebar dalam tubuh si pasien. Dari sudut medis mengharuskan untuk penderita kanker serviks untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ketika sampai di rumah sakit umum pusat Adam Malik, ibu Asmah belum mendapatkan ruangan. Tetapi setelah menunggu hampir dua jam, ibu Asmah mendapat ruangan dan perawatan dari perawat. Setelah berada di rumah sakit, ibu Asmah belum mendapat pemeriksaan dari dokter yang akan mengatasi penyakit ibu tersebut di rumah sakit. Setelah tiga hari ibu Asmah mendapat infus tanpa pemeriksaan dari dokter spesialis Sp.OG. Keluarga tetap sabar menunggu bagaimana tindakan yang akan didapat oleh ibu Asmah tersebut. setelah empat hari, dokter yang bertugas untuk menangani pasien datang dan memperkenalkan diri bahwa beliau yang akan memeriksa keadaan ibu Asmah dan melihat bagaimana perkembangan dari kesehatan ibu tersebut.
Dokter yang menangani ibu Asmah adalah Dr. Citra AA, Sp.OG. Yang mana seorang dokter yang wanita yang masih muda berusia 32 tahun dan cantik, dokter tersebut spesialis kandungan yang akan menangani pasien dari ibu Asmah tersebut. Ruangan ibu Asmah yaitu ruangan Instalasi Rindu B lantai 1 dimana pada lantai tersebut adalah penyakit khusus untuk wanita, tetapi penyakit dalam terutama penyakit kelamin, rahim, ginjal dan bagian dalam lainnya.
Setiap pengobatan dari penyakit kronis memiliki resiko masing-masing. Sama dengannya pengobatan yang dilakukan oleh ibu Asmah adalah pengobatan medis dimana ibu Asmah akan melaksanakan operasi untuk pengangkatan kanker serviks tersebut. Kanker serviks sudah stadium II B dimana tindakan yang masih dilanjutkan adalah terapi lanjut yaitu dengan obat pengurang rasa sakit dan juga cairan infus yang menambah energi. Dikarenakan ibu Asmah dalam kondisi yang lemah dan berat badan yang menurun drastis, maka ibu Asmah harus menjaga kestabilan dari fisik agar dapat melaksanakan operasi. Dikarenakan kanker serviks sudah menyebar ke leher rahim bagian luar, maka kemungkinan sel kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jadi selain daripada operasi, ibu Asmah harus mengikuti kemoterapi setelah selesai pelaksanaan operasi. Dikarenakan sel kanker akan mengenai anggota sel baru yang akan tumbuh, maka ada baiknya dilakukan kemoterapi untuk memperlambat menyebarnya pertumbuhan kanker.
d. Jamilah
Pengobatan yang diterima oleh ibu Jamilah selama di rumah sakit adalah perawatan yang sama dengan kanker serviks lainnya, yaitu pemberian infus dan
setelah cukup energi akan dioperasi dan melaksanakan operasi. Tetapi pengobatan yang dilakukan oleh ibu Jamilah tidak teratur dan tidak berjalan dengan jadwal rumah sakit karena ibu Jamilah tidak betah di rumah sakit dan selalu menekan anaknya dan menuntut pulang.Sewaktu tiga tahun setelah suaminya meninggal ibu Jamilah sudah mengalami sakit kanker serviks dan sempat mendapat perawatan di rumah sakit Columbia Asia tetapi karena ketidaksabaran dari ibu Jamilah, pengobatan diberhentikan. Ibu Jamilah hanya mengkonsumsi obat yang diberikan dokter dan membeli obat yang sama di apotik tanpa resep dokter.
Satu tahun tidak mendapat perawatan khusus untuk kanker serviks, ibu Jamilah drop dan maengalami pendarahan yang cukup banyak sehingga ibu Jamilah dibawa ke rumah sakit Columbia Asia, dan mendapat infuse selama dua hari, ibu Jamilah mendapat pemeriksaan dari laboratorium yang mengatakan bahwa penyakit yang diderita oleh ibu Jamilah sudah menyebar ke sel lainnyadan harus segera melaksanakan operasi. Berhubung karena kurangnya peralatan, ibu Jamilah di transfer ke rumah sakit Adam Malik dan diharapkan untuk mendapat penanganan segera, tetapi sepulangnya dari Columbia Asia, ibu Jamilah tidak ingin pergi ke rumah sakit Adam Malik dikarenakan trauma suaminya yang meninggal di rumah sakit tersebut. Sehingga ibu Jamilah tidak mendapat pengobatan dan hanya mengkonsumsi obat dari rumah sakit yang sebelumnya.
Tahun 2016 penyakit ibu Jamilah semakin berbahaya bahkan sudah terkena stadium III, dan jika dilaksanakan operasi makan banyak organ-organ yang akan terkena imbas dari operasi yang dilaksanakan. Dikarenakan anak-anak
dari Ibu Jamilah tidak tahan terhadap keluhan ibunya tetapi tidak ingin mendapat pengobatan, mereka memaksa ibunya untuk dibawa ke rumah sakit Adam Malik dan ibu Aida bersikeras untuk membawa ibunya ke rumah sakit, dan ibu Jamilah hanya mengikuti saran dari anak-anaknya.Dan karena sudah stadium III, ibu Jamilah membutuhkan waktu yang cukup lama di rumah sakit.Seharusnya ibu Jamilah sudah mendapatkan operasi tetapi beliau menolak keras dan tidak ingin dioperasi.Pengobatan di rumah sakit terbilang gagal karena ketidakteraturan oleh ibu Jamilah.
“saya bingung nak, ibu ngga mau diobati tapi kalo di rumah banyak keluhannya, saya juga ngga tau gimana ngga mungkinlah mama kita sakit dibiarin aja gitu.,,padahal saya banyak pesanan baju mau dijait tapi gimana mana mungkin ditinggal,, bisik ibu Aida takut didengar oaleh ibunya.”
“dokter pun ketawa aja kalo uda ngomong sama nenek, karna kalo dokter uda datang pasti dikira suntik atau mau pasang infus jadi langsung takut duluan.”
Pengobatan yang dilakukan adalah sesuai persetujuan dari pasien dan juga keluarganya, operasi dan juga pengobatan lainnya tidak akan berjalan apabila tidak ada persetujuan. Karena ibu Jamilah tidak mau melakukan operasi, maka dokter menyarankan untuk kemoterapi guna mematikan sel kanker yang sudah manyebar dan bahkan mencegah sel kanker yang akan tumbuh. Tetapi ibu Jamilah menolak kemoterapi juga, dengan alasan bahwa rekan-rekannya dahulu pernah mengalami kanker payudara dan melakukan pengobatan dengan operasi dan juga kemoterapi, tetapi yang dialami oleh rekan ibu Jamilah adalah penurunan selera makan, mual muntah, dan mengalami rambut rontok. Rekan ibu Jamilah bercerita agar jangan pernah mengikuti operasi dan kemoterapi apabila terkena kanker
serviks.Dan sayangnya, bahwa rekan dari ibu Jamilah sudah meninggal dunia dan tidak selamat dari kanker payudara. Hal itu membuat ibu Jamilah menolak segala pengobatan karena beliau tidak ingin merasakan apa yang dirasakan oleh rekannya. Dan selama peneliti melaksanakan penelitian, pengobatan yang didapat oleh ibu Jamilah adalah obat pil karena beliau tidak bisa menerima infus karena tangannya bengkak.Beliau tertidur di ranjang karena pendarahan masih dialami oleh ibu Jamilah walaupun sudah dirawat di rumah sakit.Dokter juga tidak tau harus bagaimana, terkadang mereka memberikan suntikan antibiotik karena ibu Jamilah juga bisa menerima infus. Pengobatan apapun itu apabila si penderita tidak memiliki motivasi untuk sembuh sama saja hasilnya kosong.
e. Sri Syariana
Pengobatan di rumah sakit yang dilakukan oleh ibu Sri adalah keputusan yang tepat menurut keluarga ibu Sri karena hemat biaya karena ditanggung oleh BPJS.
“ibu kan pake bpjs kelas satu de, jadi gratis, ruangannya pun bagus juga, lain loh de kelas satu sama kelas dua, tiga. Kalo orangtu mungkin jarang diperiksa dokter kalo ibu seringnya, trus ibu langsung dioperasi ari itu, padahal itu yang di depan ibu itu (menunjuk ke pasien yang di depannya) udah dua bulan ngga dioperasi, kasian kekgitu kan nak, uda sakit tapi nunggu nunggu lagi.”
Melakukan pengobatan di rumah sakit sangat bergengsi menurut ibu Sri, karena di rumah sakit biasanya bersih dan juga harus memiliki uang yang dapat ke rumah sakit. Dengan berobat di rumah sakit juga mengartikan bahwa kita peduli dengan kesehatan dan juga banyak tetangga yang akan empati untuk menjenguk kita ke rumah sakit. Ibu Sri sangat senang untuk bercerita tentang penyakit yang
dialaminya, dan beliau juga membandingkan dengan penderita tumor rahim yang sedang dirawat di samping ranjangnya bahwa penderita tumor rahim tersebut selalu mengeluh dan ribut di ruangan tersebut, sedangkan ibu Sri tidak pernah mengeluh pada suaminya dan tidak pernah merepotkan suaminya.
Pengobatan rumah sakit yang sedang dijalani oleh ibu Sri adalah kemoterapi yang ke 23 dan ia sudah tinggal di rumah sakit hampir 4 bulan dan sempat juga untuk rawat jalan selama dua minggu. Ibu Sri sudah menjalani operasi pengangkatan kanker dan rahimnya juga sudah diangkat menjaga agar sel kanker tidak tumbuh lagi. Ibu Sri sudah terlihat sangat sehat setelah menjalani kemoterapi 23 dan beliau sudah sangat banyak berbicara tentang semua pengalaman sakitnya di rumah sakit. Di saat menjalani kemoterapi yang sebelumnya ibu Sri sangat drop dan muntah bahkan selera makan pun tidak ada dikarenakan tubuh ibu menolak semua makanan yang dikonsumsinya. Tetapi ibu Sri mengkonsumsi sirup penafsu makan sehingga kemoterapi yang selanjutnya berjalan dengan lancar bahkan sekarang ibu Sri tidak pernah mengeuh tidak nafsu makan. Dan menurut ibu Sri dia memang membutuhkan istirahat karena hampir setiap hari dia harus berjualan tanpa istirahat, sehingga pada saat di rumah sakit ibu Sri semangat dalam menjalani pengobatan agar beliau dapat sembuh dan dapat kembali menjual baksonya.
Selama di rumah sakit, banyak tetangganya dan keluarganya yang menjenguknya dari binjai yang membuat ibu Sri mengetahui yang mana rekan-rekannya yang memang peduli dan dapat dianggap kerabat. Dan tetangganya lah
yang menjaga anak-anak dari ibu Sri karena anak-anak mereka tinggak bertiga di rumah dan mereka harus sekolah dan tetangganya lah yang menjaga mereka untuk mengingatkan mereka makan dan juga sekolah. Pada saat sakit ini ibu Sri mengetahui kerabat yang benar-benar peduli dengannya dan ibu Sri akan membalas semua orang telah menjenguknya dan memperdulikan keuarga ibu Sri.
Setelah kemoterapi yang ke 23, ibu Sri akan kembali pulang ke rumah dan berstirahat di rumah. Karena menurut dokter, ibu Sri telah menjalani operasi dan operasinya berjalan dengan lancar sehingga dapat mengikuti kemoterapi sampai dengan 23. Dan sesuai dengan pemeriksaan dokter ibu Sri dapat kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan untuk mengkonsumsi obat agar kemungkinan sel kanker tidak tumbuh lagi. Menurut dokter, sel kanker sudah diangkat dan sebagian sel lainnya sudah di kemoterapi sehingga kemungkinan sel kanker akan melambat untuk berkembang, tetapi ibu Sri harus memeriksakan keadaanya dan jangan berhenti untuk mengkonsumsi obat.