• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

VA NBNVA NVA

5.1.6. Pendefinisian Waste

Pendefinisian waste dilakukan untuk mengidentifikasi kegiatan atau proses yang termasuk dalam kategori waste. Pendefinisian waste ini dilakukan melalui pengamatan langsung serta diskusi dengan supervisor produksi, bagian PPIC, EHS, quality assurance, dan engineering.

a. Environmental, Health, and Safety (EHS)

EHS merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena kelalaian dalam memerhatikan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip EHS di perusahaan.

Pada proses produksi, terdapat beberapa jenis pemborosan yang termasuk dalam kategori EHS, diantaranya adalah penggunaan alat pelindung diri atau APD yang tidak konsisten, pengawasan yang kurang terhadap penggunaan APD, dan pekerja yang merokok saat bekerja.

Berbagai kelalaian diatas mempunyai potensi yang besar dalam menimbulkan kecelakaan kerja. Jika terjadi kecelakaan kerja, maka akan berdampak pada penurunan efisiensi dalam kegiatan produksi, sehingga berdampak juga pada lead time produksi. Kelalaian-kelalaian ini dapat diklasifikasikan berdasarkan dampak yang ditimbulkannya. Terdapat dua jenis kelalaian, yaitu ringan dan berat. Pembagian kelalaian berdasarkan klasifikasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.22.

Tabel 5.22. Jenis Kelalaian EHS Jenis

Kelalaian Definisi Kelalaian Dampak

Ringan

Kelalaian yang berdampak pada individu.

Penggunaan APD tidak konsisten.

Berpotensi besar terjadi kecelakaan terhadap individu yang tidak menggunakan APD.

Berat Kelalaian yang berdampak pada semua pekerja. 1. Pengawasan kurang terhadap penggunaan APD.

2. Pekerja merokok saat bekerja.

1. Pekerja tidak disiplin terhadap penggunaan APD.

2. Mengganggu konsentrasi kerja, berpotensi menimbulkan kebakaran jika rokok masih menyala saat dibuang.

Sumber: Data Primer

b. Defects

Defects merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena kecacatan atau kegagalan produk (barang dan atau jasa). Sumber produk cacat pada proses produksi kertas dapat berasal dari dua kategori, yaitu direct production defect dan indirect production defect.

Direct production defect merupakan kecacatan yang ditemui pada stasiun pemeriksaan kualitas visual dan pemeriksaan kualitas oleh bagian quality

assurance, dimana produk sedang dalam proses pemberian logo. Sedangkan,

indirect production defect ditemui pada stasiun ream cutter dan bobbin slitter. Pada bulan Januari, terdapat produk defect tambahan dikarenakan adanya produk return dari pelanggan sejumlah 1,53 ton.

Adanya defect tentu berpengaruh terhadap lead time produksi kertas. Hal ini tergolong dalam waste karena menyebabkan rework untuk mengganti produk cacat tersebut. Produk yang cacat tidak langsung dibuang karena dapat diproduksi ulang dengan dibuat menjadi bubur kembali.

c. Overproduction

Overproduction merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena

produksi berlebih dari kuantitas yang dipesan oleh pelanggan. Jenis produksi pada PT. XYZ adalah make to order, yaitu produksi dilakukan berdasarkan order dari pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan tidak menyediakan persediaan produk jadi dalam jumlah yang besar.

Produk yang diproduksi sebagai persediaan juga selalu lebih sedikit jumlahnya daripada jumlah peramalan produksi yang dibuat. Supervisor produksi menyatakan bahwa seringkali permintaan melebihi kemampuan produksi, sehingga setiap persediaan yang dibuat selalu habis terjual. Hal ini dikarenakan perusahaan hanya memiliki satu paper machine, sehingga kapasitas produksi juga tidak besar. Oleh karena itu, waste jenis overproduction tidak terdapat pada proses produksi kertas, sehingga waste ini tidak diperhitungkan.

d. Waiting

Waiting merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena menunggu. Waste jenis waiting yang terdapat pada proses produksi kertas adalah pekerja yang menganggur dikarenakan faktor tertentu, seperti scheduled delay dan unscheduled delay. Scheduled delay merupakan jadwal penggantian part mesin dan perawatan atau service mesin yang direncanakan oleh bagian engineering dan produksi untuk setiap stasiun. Pada saat dilakukannya scheduled delay, mesin harus dimatikan sehingga proses produksi terhenti untuk sementara waktu. Secara tidak langsung, para pekerja juga tidak beroperasi karena proses produksi tidak berjalan.

Unscheduled delay merupakan kejadian yang tidak terduga saat proses produksi berjalan dan menyebabkan gangguan terhadap proses produksi tersebut. Kejadian yang termasuk dalam unscheduled delay adalah pemadaman listrik secara tiba-tiba dan gangguan mesin secara tiba-tiba pada setiap stasiun. Scheduled delay dan unscheduled delay tidak hanya menyebabkan pekerja yang menganggur, akan tetapi kegiatan produksi juga terhenti sementara, sehingga memperpanjang lead time produksi. Oleh karena itu, hal ini termasuk salah satu waste yang berpengaruh terhadap lead time produksi.

e. Not Utilizing Employees Knowledge, Skill, and Abilities (NUEKSA)

Merupakan jenis pemborosan sumber daya manusia (SDM) yang terjadi karena tidak menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dari karyawan secara optimal. Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan yang dilakukan secara berulang, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama

dalam prosesnya. Misalnya, pada tahap inspeksi visual. Pemeriksaan terhadap kualitas produk secara visual dilakukan berulang, pertama pada stasiun pemeriksaan visual, dan kedua pada stasiun pemeriksaan sampel oleh bagian quality assurance. Proses yang berulang ini membutuhkan waktu tambahan untuk melakukannya, sehingga pasti mempengaruhi lead time produksi. Oleh karena itu, hal ini termasuk salah satu waste yang berpengaruh terhadap lead time produksi.

f. Transportation

Merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena transportasi yang berlebihan sepanjang proses value stream. Kegiatan yang termasuk dalam waste ini adalah pemindahan bahan, material, dan berjalan. Kegiatan transportasi mungkin tidak dapat dihilangkan tetapi dapat diminimisasi melalui perencanaan lokasi dan tata letak fasilitas (facility layout) yang baik (Sukaria, 2009).

Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa perpindahan bahan dan kegiatan berjalan memang diperlukan dalam proses produksi dikarenakan tata letak fasilitas di pabrik tersusun dalam jarak yang tidak dekat. Hal ini dapat diatasi dengan dilakukan perbaikan layout. Akan tetapi, kapasitas pabrik yang terbatas, ukuran mesin yang besar dan berat menyebabkan hal ini sulit untuk dilakukan. Selain itu, supervisor produksi menyatakan bahwa perusahaan belum memiliki rencana untuk memperbaiki layout pabrik.

Oleh karena itu, waste yang tergolong dalam jenis ini adalah sisa pemotongan kertas pada stasiun roll slitter, ream cutter, dan bobbin slitter. Sisa pemotongan kertas ini menyebabkan transportasi atau perpindahan yang

berlebihan pada operator karena harus mengumpulkan dan memindahkan sisa pemotongan kertas tersebut ke tempat penyimpanan broke. Perpindahan tidak akan terjadi jika tidak terdapat sisa pemotongan kertas. Maka, hal ini termasuk salah satu waste yang berpengaruh terhadap lead time produksi.

g. Inventories

Inventories merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena inventory yang berlebihan. Inventory yang dimiliki oleh perusahaan adalah bahan baku dan bahan penolong. Berdasarkan data yang diperoleh, pada bulan Januari sampai Juni 2013 selalu terdapat inventory bahan yang berlebih pada setiap akhir bulan, namun dalam jumlah yang sedikit. Inventory yang berlebih ini kemudian akan digunakan untuk produksi pada bulan selanjutnya. Kelebihan inventory mengakibatkan lead time produksi bertambah panjang karena dibutuhkan waktu tambahan untuk mengolah inventory tersebut hingga tidak tersisa lagi. Oleh karena itu, hal ini termasuk salah satu waste yang berpengaruh terhadap lead time produksi.

h. Motion

Motion merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena pergerakan yang banyak dari yang seharusnya sepanjang proses value stream. Konsep yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi pemborosan dalam gerakan ialah nilai kerja (work content) yang didefinisikan sebagai berikut (Nicholas, J. 1998):

Nilai Kerja =

Berdasarkan konsep diatas, maka perhitungan waste jenis ini didasarkan pada waktu operasi mesin dan waktu operator untuk memasukkan bahan.

i. Excess Processing

Excess processing merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena langkah-langkah proses yang panjang dari yang seharusnya sepanjang proses value stream. Jenis pemborosan ini terjadi saat dilakukannya rework, dimana harus dilakukan proses produksi tambahan untuk memproses ulang produk yang mengalami defect, produk return dari pelanggan, dan sisa pemotongan kertas. Proses produksi tambahan ini tidak seharusnya dilakukan jika tidak terdapat masalah-masalah tersebut. Proses produksi tambahan tersebut menyebabkan lead time produksi menjadi lebih panjang dari yang seharusnya.

5.2. Measure

Measure merupakan tahap pengukuran untuk mengetahui pencapaian

kinerja perusahaan saat ini berdasarkan waste yang terdapat pada proses produksi kertas. Pada tahap ini juga akan diketahui waste yang paling berpengaruh terhadap kinerja proses produksi dan dijadikan prioritas yang akan dieliminasi pada tahap selanjutnya. Pengeliminasian waste akan mengurangi lead time produksi, sehingga kinerja rantai pasokan dapat meningkat.

Dokumen terkait