Tatkala menghadapi konflik, pendekatan dimulai melalui penilaian terhadap diri sendiri, analisis isu-isu seputar konflik, meninjau kembali dan menyesuaikan dengan hasil eksplorasi yang dicapai, mengatur dan merencanakan pertemuan di antara individu (para pihak) yang terlibat konflik, mengamati sudut pandang dari semua individu yang terlibat konflik, mengembangkan dan menguraikan solusi hingga memutuskan solusi, mengambil tindakan, dan merencanakan tahap pelaksanaannya.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengatasi konflik antara lain ialah menciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif yang mampu mencegah konflik yang dapat berkembang ke arah destruktif. Selain itu tetapkan aturan baku yang menyangkut individu dalam organisasi atau perusahaan. Pada konteks organisasi atau perusahaan, atasan punya peran penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul ke permukaan. Ciptakan juga iklim dan suasana kerja harmonis, termasuk membentuk tim kerja yang solid, karena seluruh pihak hendaknya sadar bahwa seluruh unit kerja merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung dan tidaklah perlu ada yang merasa paling hebat.
Berikut ini ialah beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penanganan dan penyelesaian konflik.
1. Pendekatan KAPOW (Knowledge, Authority, Power, Other, dan Winning)
a. Knowledge (Pengetahuan)
1) Sejauh mana Anda mengetahui isu pihak lain?
2) Sejauh mana pihak lain mengetahui isu Anda?
3) Sejauh mana Anda mengetahui masalahnya?
b. Authority (Wewenang)
1) Apakah Anda punya wewenang mengambil keputusan?
2) Apakah pihak lain punya wewenang untuk mengambil keputusan?
c. Power (Kekuatan)
1) Sejauh mana Anda dapat memberi pengaruh terhadap situasi?
2) Seberapa besar kekuatan yang dimiliki pihak lain atas diri Anda?
d. Other (Relasi)
1) Seberapa pentingnya relasi bagi Anda?
2) Seberapa tinggi pentingnya relasi bagi pihak lain?
e. Winning (Kemenangan)
1) Seberapa pentingnya unsur kemenangan?
2) Apakah Anda harus menang?
3) Apakah pihak lain harus menang?
4) Apakah kompromi dapat diterima?
5) Apakah kekalahan dapat diterima?
2. Pendekatan ACES (Asses, Clarify, Evaluated, Solve) a. Asses the Situation (Mengenali Situasi)
b. Clarify the Issues (Memperjelas Permasalahan)
c. Evaluate Alternative Approaches (Menilai Ragam Pendekatan Alternatif)
d. Solve the Problem (Mengurai Permasalahan)
KESIMPULAN
Dalam menyelesaikan konflik, gaya (style) yang akan digunakan oleh seseorang (atau organisasi) akan sangat dipengaruhi oleh persepsi, kepribadian (personality), motivasi, kemampuan (kelompok acuan) yang dianut seseorang atau organisasi.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengatasi konflik antara lain adalah menciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif yang mampu mencegah konflik yang dapat berkembang ke arah destruktif. Selain itu tetapkan aturan baku yang menyangkut individu dalam organisasi atau perusahaan. Pada konteks organisasi atau perusahaan, atasan punya peran penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul ke permukaan.
Sementara itu, gaya penyelesaian konflik pada tingkatan individu, kelompok atau organisasi, antara lain adalah rujuk, persuasi, tawar-menawar, pemecahan secara penuh (komprehensif), penarikan diri, pemaksaan dan penekanan, intervensi atau adanya campur tangan pihak ketiga.
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
BAGIAN II
DINAMIKA KELOMPOK
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Pengertian dinamika kelompok dapat diartikan melalui asal katanya, yaitu dinamika dan kelompok, yang akan dijelaskan berikut ini.
Pengertian Dinamika
Kata dinamika mengandung arti tenaga, kekuatan, selalu bergerak, berkembang serta dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok. Situasi ini terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok (group spirit) akan terus-menerus ada dalam kelompok. Karena itu, kelompok tersebut disebut bersifat dinamis. Artinya, setiap saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah.
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Bab 4
Memahami Dinamika Kelompok
Pengertian Kelompok
Kelompok adalah kumpulan orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi secara intensif dan memiliki tujuan bersama. Kelompok juga dapat dimaknai sebagai beberapa orang yang bergaul satu sama lain. Kurt Lewin menyatakan bahwa substansi kelompok ‘is not the similarity or dissimilarity of its members but their interdependence’. Smith mengemukakan bahwa kelompok adalah sebuah unit yang di dalamnya terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan dasar kesatuan persepsi. Interaksi antaranggota kelompok bisa menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok:
1. Mengerti akan tujuan yang dibebankan dalam kelompok tersebut.
2. Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya.
3. Adanya saling menghargai pendapat anggota lain.
4. Adanya saling terbuka, toleransi, dan kejujuran di antara anggota kelompok.
Dalam Behavior in Organizations (1977), kelompok disebutkan mempunyai karakteristik sebagaimana berikut ini (Reitz, 1977).
1. Terdiri dari dua orang atau lebih.
2. Berinteraksi satu sama lain.
3. Saling membagi beberapa tujuan yang sama.
4. Melihat dirinya sebagai suatu kelompok.
Kesimpulan berbagai pendapat ahli tentang pengertian kelompok ialah kelompok tidak terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Pengertian Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok merupakan kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang berlangsung dalam suatu situasi yang dialami bersama. Dinamika kelompok juga didefinisikan sebagai satu konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan mampu menyesuaikan diri dengan
keadaan yang selalu berubah-ubah. Dinamika kelompok mempunyai beberapa tujuan berikut.
1. Membangkitkan kepekaan diri anggota kelompok terhadap ang-gota kelompok yang lain sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai.
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
2. Menimbulkan solidaritas anggota sehingga saling menghormati dan juga saling menghargai pendapat orang lain.
3. Menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok.
4. Menimbulkan adanya itikad yang baik di antara sesama anggota kelompok.
Proses dinamika kelompok dimulai dari individu sebagai pribadi yang selanjutnya masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda, tidak mengenal antarindividu dalam kelompok.
Mereka membeku layaknya es. Individu bersangkutan akan berusaha mengenal individu lain. Es yang membeku lama-lama mencair; proses ini disebut sebagai ice breaking. Setelah saling mengenal dimulailah diskusi kelompok, yang terkadang bisa sampai memanas; proses ini disebut storming, yang menciptakan perubahan pada sikap dan perilaku individu. Pada tahap ini, individu mengalami proses forming atau pembentukan kepribadian. Sementara itu, dalam tiap kelompok harus ada ada “aturan main” yang disepakati bersama; proses ini disebut norming. Berdasarkan aturan inilah individu dan kelompok melakukan berbagai kegiatan, dan prosesnya bisa disebut performing.
Proses dinamika kelompok tersebut bisa dilihat jelas pada gambar berikut ini.
Alasan Pentingnya Dinamika Kelompok
1. Individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat.
2. Individu tidaklah dapat bekerja sendiri dalam rangka memenuhi kehidupannya.
3. Dalam masyarakat yang besar, perlu adanya pembagian kerja agar pekerjaan bisa terlaksana dengan baik.
4. Masyarakat yang demokratis dapat berjalan baik jika lembaga sosial dapat bekerja dengan efektif.
KESIMPULAN
Dinamika kelompok merupakan kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang berlangsung dalam suatu keadaan yang dialami bersama-sama. Proses ini dimulai dari individu sebagai pribadi, selanjutnya masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda atau tidak mengenal satu sama lain (ice breaking), dan dilanjutkan ke tahap storming, forming, norming, dan diakhiri dengan performing.
Dinamika kelompok menjadi sangat penting, karena Individu tidak mungkin hidup sendiri dalam masyarakat, tak dapat bekerja sendiri memenuhi kehidupannya, membutuhkan pembagian kerja agar pekerjaan bisa terlaksana dengan baik, dan agar lembaga sosial dapat berjalan dengan baik dalam menunjang kehidupan yang demokratis.
Sebagai suatu metode, dinamika kelompok menjadikan anggota-anggota kelompok semakin menyadari siapa dirinya dan siapa orang lain yang hadir bersamanya dalam kelompok dengan segala kelebihan serta kekurangan masing-masing. Sebagai suatu proses, dinamika kelompok hendak menciptakan situasi sedemikian rupa agar seluruh anggota kelompok merasa terlibat aktif dan merasakan setiap tahap perkembangan atau pertumbuhan kelompok.
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Manusia memiliki potensi yang bersifat subjektif dan objektif dalam dirinya. Dengan potensi subjektifnya, manusia mampu menjadi subjek yang mengatur dan sekaligus memengaruhi lingkungannya. Dengan potensi objektifnya, manusia bisa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Artinya, dalam proses pendidikan dan pelatihan, manusia perlu (ber-inisiatif untuk) mengembangkan potensi dirinya, sementara pada sisi lain juga perlu diberikan kesempatan guna mengembangkan potensi dirinya. Proses pengisian ini akan menjadi lebih mudah dalam situasi bebas (tidak ada tekanan).
Secara antropologis, manusia sebagai makhluk hidup (yang kreatif) selalu mengalami perubahan, pertumbuhan, perkembangan. Proses ini berjalan secara alamiah. Pelatihan hanyalah upaya percepatan dan
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Bab 5
Sejarah dan Kedudukan
Dinamika Kelompok
mempercepat terjadinya perubahan, pertumbuhan, dan perkem-bangan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Sebab itu, proses peningkatan kemampuan berkelompok akan selalu berjalan dinamis seiring dengan waktu dan berkembangnya pengalaman individu. Selain itu, manusia juga harus mampu memberi pengalaman belajar secara langsung, yang sekaligus bisa memengaruhi otak sebagai sumber intelegensia, sumber dari perasaan dan raga, dan sumber dari beragam keterampilan.
Penerapan dinamika kelompok selama ini sering dipakai sebagai
‘pengantar’ dalam program pelatihan. Fasilitator biasanya mengguna-kan prinsip atau permainan dinamika kelompok. Dinamika kelompok di sini tidaklah dianggap sekadar acara perkenalan dalam arti yang sempit, misalnya sekadar hura-hura atau membuang waktu, namun
digunakan untuk menunjang keberhasilan suatu pelatihan itu sendiri.
Pada praktiknya, ada beberapa fasilitator yang tidak memahami secara utuh mengenai dinamika kelompok baik itu sebagai sarana penunjang proses pembelajaran selama pelatihan berlangsung maupun dalam kaitannya dengan suatu upaya untuk mencapai tujuan pelatihan yang diharapkan.
Dinamika kelompok sebagai suatu metode dan proses merupakan suatu alat manajemen untuk menghasilkan kerjas ama kelompok yang optimal agar tata kelola organisasi mampu menjadi efektif, efisien, dan produktif. Sebagai metode, dinamika kelompok membuat setiap anggota kelompok semakin menyadari siapa dirinya dan siapa orang lain yang hadir bersamanya dalam kelompok dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kesadaran semacam ini perlu diciptakan karena kelompok atau organisasi menjadi efektif apabila mempunyai satu tujuan, satu cara tertentu untuk mencapai tujuan yang disepakati bersama dengan melibatkan semua individu anggota kelompok tersebut sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Sebagai proses, dinamika kelompok berupaya menciptakan situasi yang sedemikian rupa sehingga seluruh anggota kelompok merasa terlibat secara aktif dan merasakan setiap tahap perkembangan atau pertumbuhan kelompok. Akhirnya, setiap individu akan merasakan dirinya sebagai bagian kelompok. Cara seperti ini juga akan menjadikan individu merasa ikut bertanggung jawab penuh terhadap pencapaian tujuan utama organisasi.
Sebab itu, pemahaman mengenai dinamika kelompok-kelompok pesaing dalam dunia usaha (bisnis) sangat diperlukan agar individu
bisa membina kekuatan kolektif (collective power) dalam organisasi dengan cara-cara sehat. Sikapilah persaingan usaha dengan hati jernih dan gunakan akal sehat. Jadikanlah persaingan di antara kelompok usaha sebagai sarana menunjukkan ketangguhan.