3.1 Pendekatan – Pendekatan Bahasa
3.1.2 Pendekatan Fungsional
Sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan fungsional bahasa, pasangan kalimat klasik berikut merupakan contoh klasik yang berupaya diungkap oleh tata bahasa Transformasional, dimana tata bahasa Struktural tidak mampu menjelaskannya.
- John is eager to please.
- John is easy to please.
Kedua kalimat ini memiliki formulasi atau pola yang sama. Menurut tata bahasa transformasional kedua kalimat ini memiliki struktur lahir yang sama, namun berbeda dalam struktur batinnya karena secara semantik makna yang dibawa berbeda. Di sinilah Transformational Grammar kemudian memperkenalkan konsep struktur batin dan struktur lahir. Menurut Bolkestein et.al (1981: 1-2) pasangan kalimat tersebut menghasilkan parafrasa sebagai berikut:
a. *Pleasing John is eager. b. *It is eager to please John. a. Pleasing John is easy.
b. It is easy to please John.
Pasangan parafrasa yang pertama, menurut tata bahasa transformasional, harus mengalami aturan-aturan transformasional untuk menghasilkan struktur dalamnya. Jika tidak, maka parafrasa itu tidak akan memiliki makna sama sekali, yang sangat berbeda dengan pasangan lainnya. Contoh ini merupakan salah satu kasus yang menjadi pertimbangan mengapa pemikir bahasa lainnya meyakini bahwa pendekatan fungsional dibutuhkan. Fakta ini menjadi salah satu bukti bahwa dibutuhkan sebuah pandangan baru dalam bahasa untuk dapat mendeskripsikan dan menjelaskan tata bahasa secara lebih baik. Dalam hal ini, tata bahasa fungsional menjadi alternatif solusi yang ditawarkan.
Seperti telah disebut sebelumnya bahwa salah seorang pelopor pendekatan linguistik fungsional yang sangat terkenal adalah Simon C. Dik. Dik menantang teori bahasa yang diusulkan oleh Chomsky karena ia menganggap teori itu memerlakukan bahasa sebagai sesuatu yang tidak memiliki fungsi namun hanya merupakan aturan- aturan belaka. Seperti terlihat dalam tabel 3.1 di atas, pandangan fungsional seakan memberikan arti lebih luas kepada bahasa karena perannya yang sangat besar dalam interaksi sosial manusia. Salah satu yang menunjukkan hal tersebut adalah pernyataan bahwa pendekatan fungsional memiliki kecukupan deskripsi yang sangat tinggi.
Dalam usulannya, Dik menyebutkan tiga standar yang dipertimbangkan dalam pendekatan ini, yaitu:
1) Kecukupan Pragmatik, yakni tata bahasa pendekatan fungsional dapat menjelaskan komponen-komponen ungkapan linguistik bersesuaian dengan konteks tempat komponen-komponen itu digunakan. Hal ini berarti tata bahasa fungsional mampu memberikan gambaran yang jelas dan bisa menjembatani satu fakta dengan fakta yang berkenaan dengan ungkapan yang dihasilkan.
2) Kecukupan Psikologis. Apa yang dinyatakan dalam teori bahasa harus relevan dengan mekanisme-mekanisme psikologis yang terlibat dalam pemrosesan bahasa alamiah.
3) Kecukupan Tipologi. Kecukupan ini merujuk pada kemampuan teori bahasa untuk menghasilkan tata bahasa bagi bahasa-bahasa yang secara tipologis berbeda, dan sekaligus dapat menjelaskan persamaan dan perbedaan bahasa-bahasa itu. Dengan demikian, teori bahasa itu harus diformulasikan sedemikian rupa menurut aturan- aturan dan prinsip-prinsip yang dapat berlaku bagi berbagai bahasa.
Nosi fungsional dalam pendekatan ini memiliki peran yang sangat penting dan mendasar terutama pada tiga tataran fungsi, yaitu:
1) Fungsi semantik misalnya, pelaku (Agent), sasaran (Goal) dan resipien
(Receipient). Fungsi ini menunjukkan peran partisipan sebagaimana ditentukan oleh predikasi;
2) Fungsi sintaksis misalnya, subjek, objek. Berfungsi untuk menyatakan bahwa peristiwa bahasa disajikan dalam ungkapan-ungkapan linguistik pada perspektif yang berbeda;.
3) Fungsi pragmatik misalnya, Tema dan Ekor, Topik, Fokus, yaitu status
informasi komponen-komponen ungkapan bahasa. Fungsi ini berhubungan dengan status informasi pragmatik yang dimiliki pembicara dan pendengar sebagaimana muncul dalam interaksi verbal.
Pendekatan fungsional kemudian terus berkembang hingga munculnya pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional seperti diusulkan oleh Halliday (1985). Ia menyebutkan bahwa bahasa merupakan sistem arti, sistem bentuk, dan ekspresi yang berfungsi untuk merealisasikan arti tersebut. Dengan demikian, yang menjadi fokus utama dalam pendekatan ini adalah dua komponen penting, yaitu arti dan ekspresi; yakni arti akan direalisasikan dalam bentuk ekspresi.
Dapat disimpulkan bahwa, melalui pendekatan fungsional bahasa tidak dapat terlepas dari nilai-nilai yang ada dalam diri manusia dan tempat di mana manusia itu berinteraksi. Sehingga, konteks situasi, konteks budaya, dan ideologi sangat berperanan yang sangat signifikan dalam penciptaan makna. Seluruh konteks inilah yang membentuk apa yang disebut dengan konteks sosial. Saragih (2003: 3) menyatakan bahwa salah satu sifat bahasa sebagai semiotik sosial adalah bahasa berfungsi di dalam konteks sosial atau bahasa fungsional di dalam konteks sosial.
Sebagai titik tolaknya, tata bahasa fungsional tersusun sedemikian rupa hingga dapat dipahami bagaimana sebuah ekspresi linguistik terbentuk atau
dihasilkan oleh seorang penutur. Tata bahasa ini bertumpu pada pertanyaan bagaimana ekspresi linguistik bahasa alami jenis apapun dapat dideskripsikan dan dijelaskan dengan memenuhi persyaratan kesesuaian tipologis, pragmatis dan psikologis.
Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana tata bahasa fungsional tersusun. (Dik: 1978; Bolkestein et.tal:1981):
pembentukan predikat pembentukan terma kerangka kerangka predikat predikat turunan dasar kerangka predikat inti
dasar turunan TERMA-TERMA Pengenalan satelit peluasan kerangka predikat Penyematan terma PREDIKASI penugasan fungsi semantik Penugasan fungsi pragmatik PREDIKASI yang telah lengkap ATURAN EKSPRESI: Bentuk EKSPRESI LINGUISTIK
Dari gambar tersebut dapat dipelajari bahwa predikasi berawal dari predikat yang terdapat di dalam leksikon sebuah bahasa. Sebelum muncul predikasi terdapat proses-proses yang harus dilalui seperti pemahaman lebih dahulu tentang predikat yang akan digunakan dan terma-terma apa saja yang dapat diaplikasikan pada predikat itu. Kemudian, satelit juga harus diperkenalkan dalam konteks kerangka predikat. Dengan dapat ditentukannya predikat dan terma maka kemudian predikasi dapat diperoleh. Pada tahap-tahap berikutnya, harus ada penugasan fungsi semantik untuk predikasi itu, lalu penugasan fungsi pragmatik predikasi itu menghasilkan predikasi yang benar-benar telah sesuai untuk digunakan di dalam konteks ujaran. Akhirnya, aturan-aturan ekspresi untuk predikasi ini pun diaplikasikan sehinga ekspresi linguistik atau ujaran dapat dihasilkan.