• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD)

2.3.2 Pendekatan Interlaminar

Pendekatan transforaminal terkadang susah untuk level L5-S1 karena kendala anatomi seperti tingginya krista iliaka dan herniasi diskus yang migrasi dimana lintasan tidak sepanjang garis herniasi. Dalam kasus seperti itu, pendekatan antarlaminar dapat bermanfaat. Jendela interlaminar pada L5-S1 merupakan yang terbesar (31 mm) dan sedikit overhang lamina atas memungkinkan pendekatan interlaminar mungkin pada herniasi tingkat L5-S1. Dua jenis herniasi diskus aksila atau bahu harus ditentukan pada gambaran sebelum operasi (Choi et al, 2013).

Indikasi dari pendekatan Interlaminar meliputi:

1. Seluruh herniasi atau kista pada sendi zygoapophyseal

2. Seluruh stenosis kanal spinal lateral yang tidak memenuhi kriteria untuk pendekatan transforaminal

3. Stenosis kanal spinal sentral (Ruetten, Komp, Hahn, 2012) Prosedur operasi:

- Lokasi herniasi diskus ditentukan pada gambaran titik masuk jarum yang harus dihitung dari gambar. Titik masuk harus mengacu pada garis pedikular medial pada AP dan garis spino-laminar pada tampilan lateral dengan arah jarum menuju endplate superior vertebra S1 (Gambar 2.14). Untuk jarum herniasi bahu diarahkan pada aspek superomedial pedikel dan herniasi aksila, jarum harus diarahkan ke lamina bawah (titik tengah pedikel dan prosesus spinosus).

- Setelah jarum mencapai persimpangan spinolaminar, saluran jarum dilebarkan dengan serangkaian dilator dan endoskop dimasukkan. Struktur pertama yang ditemukan adalah ligamentum flavum yang bila dibelah, akan memperlihatkan

lemak epidural. Koagulasi radiofrekuensi bipolar digunakan untuk menghilangkan lemak tersebut dan struktur selanjutnya yang terlihat adalah jaringan saraf. Kanula digunakan untuk melindungi serabut S1 dan herniasi diidentifikasi dengan forcep.

Selanjutnya dilakukan konfirmasi gerakan bebas dari akar saraf.

(Ruan et al, 2016).

Komplikasi:

- Komplikasi langsung: 1) cedera struktur saraf dan vaskuler, 2) perforasi peritoneal sac dan isi abdomen, 3) hilangnya fragmen, 4) eksplorasi level yang salah atau sisi yang salah, dan 5) kerusakan instrumen

- Komplikasi awal: 1) hematoma pada psoas, 2) pembentukan hematoma paska operasi, 3) pembentukan kista cairan serebrospinal, dan 4) infeksi

- Komplikasi lanjut: 1) herniasi diskus yang rekuren, dan 2) instabilitas (Choi et al, 2013).

Gambar 2.6 Pendekatan Interlaminar pada kanal spinal (Ruetten, Komp, Hahn, 2012)

Gambar 2.7 Gambaran Intraoperatif setelah dilakukan dekompresi ligamentum Flavum(Ruetten, Komp, Hahn, 2012)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian tipe deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.

Subjek penelitian adalah subjek dengan kasus HNP. Data penelitian berupa data sekunder yang diambil dari rekam medis pasien.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Royal Prima, Provinsi Sumatera Utara.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada bulan Juni 2019 – September 2020.

3.3 Penentuan Sumber Data 3.3.1 Populasi target

Populasi target pada penelitian ini adalah semua pasien HNP di Medan.

3.3.2 Populasi terjangkau

Populasi terjangkau adalah semua pasien HNP yang dilakukan Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan Medan

3.3.3 Sampel penelitian

Sampel penelitian adalah semua populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang diambil secara total sampling.

3.3.4 Kriteria inklusi

Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Pasien yang telah didiagnosis HNP.

b. Pasien yang telah mendapatkan terapi PELD.

3.3.5 Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah pasien pernah mendapatkan terapi pembedahan sebelumnya selain PELD.

3.4 Variabel Penelitian

3.4.1 Identifikasi Variabel Variabel yang diamati:

3.4.2 Definisi operasional variabel

1. Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah suatu keadaan patologis dimana terjadi protrusi dari nucleus polposus ke dalam lumen kanalis vertebralis. Hal ini diketahui melalui anamnesis, pemeriksan fisik, pemeriksaan penunjang yang didapat dari pemeriksaan terhadap subyek dan/atau rekam medis subyek.

2. Usia adalah usia yang dihitung dari tanggal lahir yang tertera di Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau rekam medis.

3. Jenis Kelamin adalah jenis kelamin yang tertera Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau rekam medis.

4. Length of stay adalah lamanya pasien di rawat inap setelah dilakukan tindakan PELD yang dibuktikan dari catatan pada rekam medis sampai pasien pulang dengan menggunakan satuan hari.

5. Jumlah perdarahan adalah banyaknya darah yang keluar selama durante operasi PELD dalam satuan ml yang dibuktikan melalui catatan rekam medis.

6. Durasi operasi adalah lamanya pasien menjalani operasi PELD dalam satuan jam yang dibuktikan dari catatan rekam medis.

7. PELD adalah teknik minimal invasif yang menggunakan pendekatan endoskopi untuk menghilangkan herniasi diskus lumbal dimana memiliki dua pendekatan yang paling sering yaitu transforaminal dan interlaminar.

8. Tipe HNP adalah kondisi nucleus polposus sebelum Tindakan PELD yang didapatkan dari pencitraan MRI 9. Level HNP adalah tingkat nucleus polposus yang mengalami

herniasi yang didapatkan dari pencitraan MRI 3.5 Bahan dan Alat Penelitian

3.5.1 Bahan Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu yang diambil dari rekam medis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan, serta laporan hasil PELD.

3.5.2 Alat Penelitian

1. Lembar pengumpulan data 2. Ballpoint

3.6 Prosedur Penelitian 3.6.1 Persiapan

Sebelum penelitian ini dijalankan terlebih dahulu usulan penelitian dikirim ke komisi etik penelitian FK USU Medan untuk mendapatkan keterangan kelayakan etik, kemudian dimintakan ijin untuk mulai melaksanakan penelitian.

3.6.2 Alur penelitian

Setelah mendapat persetujuan komisi etik penelitian, dilakukan pengambilan sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan total

sampling yang berasal dari data sekunder yaitu rekam medis. Subyek penelitian adalah subyek dengan kasus HNP. Sampel adalah subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Gambar 3.1 Alur Penelitian

3.7 Protokol Penelitian 3.7.1 Tahap Persiapan

a) Memohon ijin kepada pihak yang berwenang pada RSU Royal Prima untuk melakukan penelitian (pengambilan sampel) di wilayah kerja Rumah Sakit.

b) Menyiapkan peralatan untuk mengambil data dari rekam medis.

3.7.2 Tahap Pelaksanaan

a) Jenis data yang dikumpulkan berupa data sekunder dengan cara mencari rekam medis pasien HNP yang telah dilakukan tindakan PELD.

b) Setelah rekam medis didapatkan, ditentukan apakah telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

Kriteria Eksklusi Pasien HNP dengan PELD

Populasi target Kriteria Inklusi

Analisis Data Total sampling

Pencatatan data: Demografis, Length of stay, Jumlah Perdarahan, Durasi Operasi, tipe HNP, level HNP

Populasi terjangkau

c) Data rekam medis yang terpilih kemudian digunakan sebagai sampel penelitian.

d) Data yang diambil meliputi data demografi pasien, length of stay, jumlah perdarahan, durasi operasi, tipe HNP, level HNP.

3.8 Analisis Data

Analisis dilakukan menggunakan program SPSS versi 25.0. Analisis data yang telah diperoleh dilakukan secara deskriptif dengan cara untuk seluruh data yang diperoleh dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan tabel dan narasi.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Studi ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan. Penelitian dilakukan terhadap 7 pasien. Subjek penelitian terdiri dari 1 laki-laki (14.3%) dan 6 perempuan (85.7%). Rata-rata usia pasien adalah 47.86 tahun dengan range 20-68 tahun dan median usia adalah 55 tahun. Pasien kemudian dilakukan tindakan PELD (Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy) pada Januari 2019 sampai dengan September 2020. Karakteristik demografi pada penelitian ini disajikan pada Tabel berikut.

4.1. Karakteristik Jenis Kelamin

Tabel 1. Karakterisktik Jenis kelamin pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

4.2. Karakteristik Umur

Umur

Mean 47.86

Std. Deviation 17.325

Tabel 2. Karakterisktik umur pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

laki-laki 14%

Perempuan 86%

4.3. Karakteristik Berat Badan

Berat Badan

Mean 61.43

Std. Deviation 3.952

Tabel 3. Berat badan pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

4.4. Durasi Operasi

Durasi Operasi

Mean 2.29

Std. Deviation 1.254

Tabel 4. Durasi operasi pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

4.5. Length of Stay

Length of Stay

Mean 3.00

Std. Deviation .816

Tabel 5. Length of Stay pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

4.6. Tipe HNP

Tabel 6. Tipe HNP pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

4.7.Level HNP

Tabel 7. Level HNP pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

Bulging 72%

Prolapse 14%

Extruded 14%

Sequestred 0%

L3-L4 17%

L4-L5 33%

L5-S1 50%

4.8.Jumlah Pendarahan

Pendarahan

Mean 328.57

Std. Deviation 111.270

Tabel 8. Jumlah Pendarahan pasien yang menjalani operasi PELD di Medan

BAB V PEMBAHASAN

Hampir 80% dari populasi mengalami serangan nyeri punggung bawah sekali seumur hidupnya. (Anderson, G.B., 1999). Dalam diagnosis banding yang luas dari nyeri punggung bawah, penyebab paling umum adalah degenerasi intervertebral yang menyebabkan herniasi nucleus polposus (Martin, Deyo, Mirza, 2008).

Perkembangan dari pemahaman tentang etiologi molekuler dari herniasi nukelus polposus menunjang untuk perkembangan modalitas terapi baru dan peran dari penatalaksanaan endoskopik untuk berkembang. (Amin, Andrade, Neuman, 2017). Penelitian tahun 2011 di RS Hasan Sadikin Bandung ditemukan insidensi HNP tertinggi pada kelompok usia 51-60 tahun (31.6%), diikuti kelompok usia 41-50 tahun (21.5%) dan 31-40 tahun (19%). Pada penelitian tersebut dijumpai pasien yang menjalani Tindakan operasi sebanyak 41.8%. (Ikhsanawati, 2015)

Pada penelitian di Korea yang melibatkan 39.673 pria 19 tahun menunjukkan prevalensi HNP sejumlah 0.6% dan 0.28% dengan HNP serius yang memerlukan penanganan lebih lanjut. (Kim et al, 2011). Pada penelitian ini didapatkan Rata-rata usia pasien adalah 47.86 tahun dengan range 20-68 tahun dan median usia adalah 55 tahun.

Percutaneous Endoscopic Discectomy merupakan metode pembedahan yang minimal invasive dan efektif untuk penanganan HNP, menyebabkan komplikasi yang minimal (pengangkatan diskus inadekuat 1.4%, rekurensi HNP 2.8%, cedera nerve root 1.2%, robekan dural 0.9%, nyeri 2.3%) karena trauma pembedahan yang minimal untuk kompleks otot-ligamen dan stabilitas tulang belakang. (Zhou et al, 2018)

Dengan angka kesuksesan terapi 98.1 berdasarkan kriteria per endoskopik, PELD dapat dipertimbangkan alternative untuk penanganan dari herniasi diskus dengan tambahan keuntungan dari pembedahan minimal invasive untuk kasus-kasus sulit herniasi diskus. (Kim et al, 2018)

Dari penelitian ini diperoleh data 6 perempuan dan 1 laki-laki dengan rata-rata usia 47.86 ± 17.325 tahun dan berat badan rata-rata-rata-rata 61.43 ± 3.952 kg. Durasi operasi rata-rata 2.29 ± 1.254 jam, length of stay 3 ± 0.816 hari, jumlah pendarahan rata-rata 328.57 ± 111.27 cc. Tipe HNP bulging (5 orang), prolapse (1 orang) dan extruded (1 orang). Level HNP terbanyak pada L5-S1 (3 orang), diikuti L4-L5 (2 orang) dan L3-L4 (2 orang).

Data penelitian yang melibatkan 34 pasien dengan HNP yang menjalani operasi PELD pada tahun 2009 di Jepang menunjukkan lama operasi rata-rata mencapai 62.4 menit, pendarahan yang tidak signifikan dan lama perawatan satu hingga dua hari untuk semua pasien. (Hirano et al, 2012).

Penelitian lain menunjukkan durasi operasi rata-rata 41.3-45.8 menit, pendarahan yang tidak signifikan dan lama rawatan 2.8-3 hari. Lama rawatan yang memanjang disebabkan oleh keadaan disestesia, difisit neurologis, nyeri kepala, mual dan jarak tempat tinggal dari rumah sakit. (Cao et al, 2019). Penelitian tahun 2018 di Nanjing, China yang melibatkan 77 pasien HNP dengan rata-rata usia 68.33 tahun yang menjalani operasi dengan metode PELD dengan durasi operasi 87.31 menit dan lama rawatan 3.79 hari menghasilkan luaran yang baik (76.1%), biasa (10%) dan buruk (6%) berdasarkan kriteria McNab. (Singh, Xin, Hirachan, et al, 2018)

Pada penelitian tahun 2018 di India yang melibatkan 614 pasien yang menjalani PELD ditemukan, rata-rata lama operasi 45 menit, jumlah pendarahan 65 ml dan lama rawatan 16.2 jam. (Dey & Nanda, 2019)

Pada penelitian meta analisis 7 karya ilmiah di Korea tahun 2018 yang membandingkan PELD dan Open Discectomy, menunjukkan durasi operasi 55.84 menit pada PELD dan 83.99 menit pada open discectomy. Sedangkan lama rawatan 2.29 hari pada PELD dan 7.47 pada open discectomy. (Kim et al, 2018)

Penelitian tahun 2020 di Beijing menemukan perbedaan yang signifikan antara durasi operasi, jumlah pendarahan dan lama rawatan pasien yang menjalani PELD dan open discectomy dimana rata-rata durasi operasi pasien PELD 94.5 menit dan 148 menit untuk pasien open discectomy. Jumlah pendarahan 18.1 ml

untuk pasien PELD dan 308.6 ml untuk pasien open discectomy. Lama rawatan 3.5 hari untuk pasien PELD dan 7.7 hari untuk pasien open discectomy. (Li et al, 2020) Pada meta analisis 9 karya ilmiah di China tahun 2018 menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara durasi operasi PELD dibandingkan Open Microdiscectomy tetapi menunjukkan hasil yang signifikan dalam hal lama rawatan dan waktu yang diperlukan untuk Kembali bekerja. (Qin et al, 2018)

Penelitian tahun 2018 dimana pasien dengan usia rata-rata 15.4 tahun menjalani PELD dengan durasi operasi rata-rata 80.9 menit dan lama rawatan 5.8 hari (Xu, Liu, Chen et al, 2018)

Pada Meta Analisis 7 penelitian di China tahun 2016 yang membandingkan PELD dengan Standard Discectomy, ditemukan durasi operasi rata-rata 42 menit untuk PELD dan 47.37 menit untuk Standard Discectomy, jumlah pendarahan 6.65 ml untuk PELD dan 72 ml untuk standard Discectomy, lama rawatan rata-rata 1.9 hari untuk PELD dan 5.6 hari untuk Standard Discectomy. Ketiganya memberikan hasil yang signifikan. (Li et al, 2016)

Penelitian tahun 2016 di Korea menunjukkan penurunan yang signifikan dari durasi operasi, lama rawatan dan waktu untuk Kembali bekerja pada pasien kelompok PELD dibandingkan dengan open microdiscectomy dan penulis menyimpulkan PELD dapat menjadi sebuah terapi yang efektif untuk HNP. (Choi, Kim, Park, 2016)

Pada penelitian ini, dijumpai perbedaan temuan dengan literatur lain yang ditampilkan, karena PELD merupakan sebuah Teknik dengan learning curve yang dapat diterima dengan angka kegagalan dan komplikasi 7.8% dan 3.9% tanpa komplikasi mayor. (Lee, Lee, 2008) dan tingkat kemahiran ahli bedah dalam pembedahan minimal invasive merupakan factor penting dalam keberhasilan PELD. (Wang, Huang, Li et al, 2013).

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN 6.1.Simpulan

Karakteristik pasien yang menjalani PELD pada penelitian ini adalah 6 perempuan dan 1 laki-laki dengan rata-rata usia 47.86 ± 17.325 tahun dan berat badan rata-rata 61.43 ± 3.952 kg. Durasi operasi rata-rata 2.29 ± 1.254 jam, length of stay 3 ± 0.816 hari, jumlah pendarahan rata-rata 328.57 ± 111.27 cc. Tipe HNP bulging (5 orang), prolapse (1 orang) dan extruded (1 orang). Level HNP terbanyak pada L5-S1 (3 orang), diikuti L4-L5 (2 orang) dan L3-L4 (2 orang).

6.2. Saran

Penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang lebih besar, dengan durasi penelitian yang lebih panjang dan variable tambahan seperti luaran klinis pasien setelah menjalani prosedur PELD.

Daftar Pustaka

Amin, R.M., Andrade N.S., Neuman B.J. 2017. Lumbar Disc Herniation. Curr Rev Musculoskelet Med; 10: 507-516.

Andersson, G.B. 1999. Epidemiological Features of Chronic Low Back Pain.

Lancet; 354(9178):581-5

Anichini G., et al. 2015. Lumbar Endoscopic Microdiscectomy: Where Are We Now? An Updated Literature Review Focused on Clinical Outcome, Complications, and Rate of Recurrence. BioMed Research International.

Award, J., Moskovich, R. 2006. Lumbar Disc Herniation. Clinical Ortopedic and Related Research; 183-197.

Blom, A., Warwick, D., Whitehouse. M.R. 2018. Apley & Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma 10th ed. USA. CRC Press

Cao, J., Wu, T., Jia, J., Cheng, X. 2019. Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy for Lumbar Disc Herniation as Day Surgery – Short Term Clinical Result of 235 Consecutive Cases. Medicine 98: 49

Choi, G., Pophale, C.S., Patel, B., Uniyal, P. 2017. Endoscopic Spine Surgery.

J Korean Neurosurg Soc 60 (5): 485-497.

Choi K., Kim, J., Ryu, K., Kang, B.K., Ahn, Y., Lee, S. 2013. Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy for L5-S1 Disc Herniation:

Transforaminal versus Interlaminar Approach. Pain Physician. 16: 547-556.

Choi, K., Kim, J., Park, C., 2016. Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy as an Alternative to Open Lumbar Microdiscectomy for Large Lumbar Disc Herniation. Pain Physician; 19: E291-300

Dey, P.C., Nanda, S.N., 2019. Functional Outcome after Endoscopic Lumbar Discectomy by Destandau’s Technique: A Prospective Study of 614 Patients. Asian Spine J;13(S);786-792

Deyo, R.A., Mirza, S.K., 2016. Herniated Lumbar Intervertebral Disc. N Engl J Med

Dulebohn, S., Massa, R.N., Mesfin, F. Disc Herniation. 2019. Available From https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441822 [Accessed 24 Agustus 2019]

Frost, B., Camarero-Espinosa, S., Foster, E. 2019. Materials for the Spine:

Anatomy, Problems, and Solutions. Materials; 12: 253.

Herkowitz, H.N., Garfin, S.R., Eismont, F.J., Bell, G.R., Balderston, R.A. 2011.

Rothman-Simeone The Spine 6th ed. USA: Elsevier

Hirano, Y., Mizuno, J., Takeda, M., Itoh, Y., Matsuoka, H., Watanabe, K. 2012.

Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy – Early Clinical Experience. Neurol Med Chir (Tokyo) 52; 625-630

Ikhsanawati, A., Tiksnadi,B., Soenggono, A., Hidajat, N.N., 2015. Herniated Nucleus Pulposus in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung Indonesia. Althea Medical Journal. 2015;2(2)

Jordan, J., Konstantinou, K., O’Dowd, J. 2009. Herniated Lumbar Disc. Clinical Evidence. 2009; 03:1118.

Kim, D.K., Oh, C.H., Lee, M.S., Yoon, S.H., Park, H., Park, C.O. 2011.

Prevalence of Lumbar Disc Herniation in Adolescent Males in Seoul, Korea. Korean J Spine; 8(4)

Kim, H.S., Paudel, B., Jang, J.S., Lee, K., Oh, S.H., Jang, I.T. 2018.

Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy for All Types of Lumbar Disc Herniation (LDH) Including Severely Difficult and Extremely Difficult LDH Cases. Pain Physician; 21: E401-E408

Kim, M., Lee, S., Kim, H., Park, S., Shim, S., Lim, D. 2018. A Comparison of Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy and Open Lumbar Microdiscectomy for Lumbar Disc Herniation in the Korean: A Meta-Analysis. BioMed Research International

Lee, D.Y., Lee, S., 2008. Learning Curve fot Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy. Neurol Med CHir (Tokyo); 48: 383-389

Leksana. 2013. Hernia Nukleus Pulposus Lumbal Ringan pada Janda lanjut usia yang tinggal dengan keponakan dengan usia yang sama. Medulla, II (2).

Li, X., Han, Y., Di, Z., Cui, J., Pan, J., Yang, M., et al. 2016. Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy for Lumbar Disc Herniation. J Clin Neurosci (2016)

Li, Z., Zhang, C., Chen, W., Li, S., Yu, B., Zhao, H., et al. 2020. Percutaneous Endoscopic Transforaminal Discectomy versus Conventional Open Lumbar Discectomy for Upper Lumbar Disc Herniation: A Comparative Cohort Study. BioMed Research International

Martin, B.I., Deyo, R.A., Mirza, S.K. 2008. Expenditures and Health Status among Adults with Back and Neck Problem. JAMA; 299(6):656 Moore, K.L., Daley A.F., Agur A.M.R., 2010. Clinically Oriented Anatomy 6

ed. USA: Lippincott Williams & Wilkins. Pg 731-733.

North American Spine Society. 2012Clinical Guidelines for Diagnosis and Treatment of Lumbar Disc Herniation with Radiculopathy.

Oksar, M. 2016. Sedation for Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy.

The Scientific World Journal. Nukleus Pulposus. SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta.

Qin, R., Liu, B., Hao, J., Zhou, P., Yao, Y., Zhang, F., Chen, X. 2018.

Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy versus Posterior Open Lumbar Discectomy for the Treatment of Symptomatic Lumbar Disc Herniation: A Systematic Review and Meta-Analysis. World Neurosurg; 120:352-362

Ramachandran, M., Basic Orthopaedic Science 2nd ed. 2017. USA: CRC Press Rihn A. J., Hilibrand, A.S., Radcliff, K., Kurd, M., Lurie, J., Blood, E., et al.

2011. Duration of Symptoms Resulting from Lumbar Disc Herniation:

Effect on Treatment Outcomes. J Bone Joint Surg Am; 93:1906-14.

Ruan W., Feng, F., Liu, Z., Xie, J., Cai, L., Ping, A. 2016. Comparison of Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy versus Open Lumbar Microdiscectomy for Lumbar Disc Herniation: A Meta-Analysis.

International Journal of Surgery 31; 86-92.

Ruetten, S., Komp, M., Hahn, P. 2012. Endoscopic disc and Decompression Injury. Minimal Invasive Spine Surgery: Techniques, Evidence and Controversies. USA: Thieme

Singh, R., Xin, G.Z., Hirachan, M.P., Cheng, L.Y. 2018. Outcome of Percutaneous Transforaminal Endoscopic Lumbar Surgery in >60-Year-Old Patients with Low Back Pain. Asian Spine J;12(3);511-517

Thompson, J.C., 2010. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy 2nd ed. China:

Saunders Elsevier.

Wang, H., Huang, B., Li, C., Zhang, Z., Wang, J., et al. 2013. Learning Curve for Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy depending on the Surgeon Training Level of Minimally Invasive Spine Surgery. Clin Neurol Neurosurg; 115(10)

Xu, Z., Liu, Y., Chen, J., 2018. Percutaneous Endoscopic Interlaminar Discectomy for Adolescent Lumbar Disc Herniation. Turk Neurosurg;

28(6): 923-928

Zhou, C., Zhang, G., Panchal, R., Ren, X., Xiang, H., Xuexiao, M., et al. 2018.

Unique Complication of Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy and Percutaneous Endoscopic Interlaminar Discectomy. Pain Physician;

21; E105-E112

Lampiran 1

Susunan Peneliti Peneliti

Nama Lengkap : dr. Rudy Tanudin NIM Magister : 177041154 NIM Spesialis : 177117003

Jabatan Fungsional : PPDS Ilmu Orthopaedi Dan Traumatologi

Fakultas : Kedokteran

Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara

Pembimbing 1

Nama Lengkap : dr. Pranajaya Dharma Kadar, Sp.OT (K) Spine

Jabatan Fungsional : Staf Pengajar Sub Bagian Bedah Orthopaedi Dan Traumatologi

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Fakultas : Kedokteran

Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara Bidang Keahlian : Orthopaedi Dan Traumatologi

Pembimbing 2

Nama Lengkap : dr. Benny, M.Ked(Surg), Sp.OT

Jabatan Fungsional : Staf Pengajar Sub Bagian Bedah Orthopaedi Dan Traumatologi

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Fakultas : Kedokteran

Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara Bidang Keahlian : Orthopaedi Dan Traumatologi

Lampiran 2

RINCIAN DANA

I. ALAT-ALAT UNTUK PENELITIAN -

II. BIAYA LAIN-LAIN

1. Printer Rp 500.000,-

2. Biaya pembuatan laporan skripsi +fotokopi+ jilid Rp 500.000,- 3. Biaya study dan pengadaan literatur (penelitian) Rp 1.000.000,-

4. Transportasi Rp 500.000,-

IV. REKAPITULASI DANA

1. ALAT-ALAT UNTUK PENELITIAN Rp -

2. BIAYA LAIN-LAIN Rp 2.500.000,- Rp 2.500.000,- Terbilang : Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah.

Lampiran 3

Daftar Riwayat Hidup

Nama : dr. Rudy Tanudin

Nama Panggilan : Rudy

Tempat/Tanggal Lahir : Medan/ 14 Januari 1992

Pekerjaan : Dokter Umum

Agama : Kristen

Nama Orang Tua : Sri Mariany

Alamat : JL. Gedeh no 29 Medan

No. Telp : 08116099863

E-mail : [email protected]

Riwayat Pendidikan:

· 1995-1997 : TK Swasta Sutomo 1 Medan

· 1997-2003 : SD Swasta Sutomo 1 Medan

· 2003-2006 : SMP Swasta Sutomo 1 Medan

· 2006-2009 : SMA Swasta Sutomo 1 Medan

· 2009-2014 : S1 Ilmu Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Lampiran 4

Dokumen terkait