1) Permainan Tradisional Gobak Sodor
3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian campuran (Mixed Methods) yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Sugiyono (2016: 297) menerangkan bahwa metode penelitian kombinasi adalah metode yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif yang digunakan secara bersama-sama dalam sebuah penelitian untuk memperoleh data yang lebih komprehensif, valid reliabel, dan objektif.
3.2.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Participatory Action Research (PAR). B (2003) mengungkapkan bahwa PAR merupakan suatu penelitian yang melibatkan beberapa orang dalam penelitian yang mempunyai tujuan untuk mengubah dan memperbaiki. Affandi (2013) menjelaskan bahwa Participatory Action Research (PAR) adalah istilah yang memuat seperangkat asumsi yang mendasari suatu paradigma baru tentang ilmu pengetahuan dan bertentangan dengan pengetahuan tradisional.
Penelitian ini akan melibatkan beberapa anak dilingkungan masyarakat yang sesuai dengan kata PAR yang selalu berhubungan yaitu partisipasi, riset, dan aksi.
23
Ketiga kata itu selalu berkaitan satu sama lain. Artinya suatu hasil penelitian yang telah dilakukan secara partisipasif kemudian diimplementasikan ke dalam aksi. Aksi partisipasif yang benar akan menjadi tepat sasaran, begitupun sebaliknya. Aksi yang didasarkan pada riset aksi yang tidak memiliki dasar permasalahan dan kondisi subyek penelitian yang sebenarnya akan menjadi kontraproduktif. Setelah kegiatan aksi, maka akan dilanjutkan dengan evaluasi dan refleksi. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan sikap kerjasama anak usia 10 tahun melalui implementasi permainan tradisional gobak sodor. Perbaikan tersebut dilakukan secara bertahap dan terus menerus selama penelitian dilakukan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Model Kemmis dan Mc Taggart dalam Arikunto (2010: 17). Model Kemmis dan Mc Taggart dapat dilihat pada gambar 3.1.
Gambar 3.1 Siklus PAR Model Kemmis dan Mc Taggart
Berdasarkan gambar 3.1 terlihat bahwa siklus PAR model Kemmis dan Mc Taggart dimulai dari perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observing), refleksi (reflecting) yang terus berulang pada siklus berikutnya. Adapun proses penelitian PAR (Paarticipatory Action Research) secara rinci diuraikan sebagai berikut:
3.2.2.1 Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan tindakan, peneliti melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui adanya permasalahan yang terjadi. Kemudian mengidentifikasi masalah serta analisis social penyebab terjadinya permasalahan kurangnya sikap kerjasama serta
Perencanaan Tindakan
Pelaksanaan Tindakan
Observasi
SIKLUS 1
Observasi Refleksi
Refleksi Pelaksanaan
Tindakan Perencanaan
Tindakan
SIKLUS
2
24
rendahnya minat terhadap permainan tradisional. Solusi adanya permasalahan tersebut yaitu implementasi permainan gobak sodor untuk mengembangkan sikap kerjasama anak usia 10 tahun. Kemudian peneliti menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan, dan menyiapkan lembar observasi, lembar angket, dan lembar wawancara.
3.2.2.2 Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan merupakan bentuk implementasi solusi dari tahap perencanaan tindakan yaitu implementasi permainan gobak sodor untuk meningkatkan sikap kerjasama anak usia 10 tahun di era 4.0. penelitian dilakukan di Desa Tenggeles Rt 3 Rw 2 Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Dalam tahap pelaksanaan tindakan, peneliti tidak membatasi siklus yang dilakukan tetapi peneliti melakukan penelitian 1 siklus terdiri dari 3 pertemuan. Penelitian berhenti jika hasil dari siklus yang dilakukan sudah mencapai batas keberhasilan yang telah ditentukan.
Penelitian ini berpedoman pada peningkatan sikap kerjasama anak usia 10 tahun di era 4.0. Di bawah ini merupakan langkah penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut:
2. Siklus 1
1) Perencanaan
a. Menyiapkan bahan dan alat untuk permainan gobak sodor.
b. Pencarian data anak usia 10 tahun di Desa Tenggeles Rt 3 Rw 2 sebagai bentuk dokumentasi.
c. Membuat lembar observasi, lembar kuesioner, serta lembar wawancara untuk mengobservasi aktivitas anak selama permainan gobak sodor berlangsung.
d. Membuat lembar wawancara untuk orang tua yang digunakan untuk mengobservasi orang tua yang ada di Desa Tenggeles tentang sikap kerjasama anak usia 10 tahun di Desa Tenggeles Rt 3 Rw 2.
2) Pelaksanaan dan Pengamatan
Pada tahap pelaksanaan dan pengamatan terbagi menjadi 3 bagian sebagai berikut:
a. Pendahuluan
Dalam pendahuluan peneliti memberi salam dan mengkondisikan anak agar tidak berbicara sendiri. Kemudian, anak diberikan kuesioner sebagai pretest sebelum bermain gobak sodor. Setelah anak mengerjakan kuesioner, peneliti menjelaskan pengertian gobak
25
sodor dan memberikan contoh secara langsung serta memberikan informasi cara bermain dan aturan dalam permainan gobak sodor.
b. Inti
Dalam kegiatan inti, anak dibagi menjadi 2 tim secara heterogen.
Satu tim terdiri dari 4 orang. 2 tim tersebut terdiri dari tim jaga dan tim lawan. Setelah itu, beberapa anak membuat garis lapangan gobak sodor. Tim jaga bertujuan untuk menjaga tim lawan agar tidak bisa melewati garis lapangan, sedangkan tim lawan mempunyai tujuan agar bisa melewati tim jaga tanpa tersentuh dari depan hingga kembali lagi ke depan. Peneliti melakukan pengamatan terhadap anak-anak yang sedang melakukan permainan gobak sodor. Jika salah satu pemain tim lawan tersentuh oleh tim jaga, maka pertandingan selesai dan tim lawan bergantian menjadi tim jaga dan tim jaga menjadi tim lawan sampai ada yang menjadi pemenangnya diantara salah satu tim.
c. Penutup
Peneliti melakukan pengumuman siapa diantara 2 tim tersebut yang memenangkan pertandingan. Setelah itu penyampaian waktu bermain lagi, serta salam penutup.
3) Refleksi
a. Menganalisis dan membuat daftar permasalahan yang mengganggu pada siklus I.
b. Menganalisis faktor yang mempengaruh sikap kerjasama selama permainan gobak sodor berlangsung.
c. Merencanakan perencanaan tindak lanjut (perbaikan) pada siklus II.
3. Siklus II
1) Perencanaan
a. Menelaah hasil refleksi siklus I dan memperbaikinya.
b. Membuat lembar observasi serta pedoman dokumentasi yang digunakan untuk mengamati aktivitas anak selama bermain gobak sodor.
c. Membuat kusioner post test yang diberikan kepada anak setelah selesai bermain gobak sodor.
26 2) Pelaksanaan dan Pengamatan
a. Pendahuluan
Dalam pendahuluan peneliti memberi salam dan mengkondisikan anak agar tidak berbicara sendiri. Kemudian, anak diberikan kuesioner sebagai pretest sebelum bermain gobak sodor. Setelah anak mengerjakan kuesioner, peneliti menjelaskan pengertian gobak sodor dan memberikan contoh secara langsung serta memberikan informasi cara bermain dan aturan dalam permainan gobak sodor.
b. Inti
Dalam kegiatan inti, anak dibagi menjadi 2 tim secara heterogen.
Satu tim terdiri dari 4 orang. 2 tim tersebut terdiri dari tim jaga dan tim lawan. Setelah itu, beberapa anak membuat garis lapangan gobak sodor. Tim jaga bertujuan untuk menjaga tim lawan agar tidak bisa melewati garis lapangan, sedangkan tim lawan mempunyai tujuan agar bisa melewati tim jaga tanpa tersentuh dari depan hingga kembali lagi ke depan. Peneliti melakukan pengamatan terhadap anak-anak yang sedang melakukan permainan gobak sodor. Jika salah satu pemain tim lawan tersentuh oleh tim jaga, maka pertandingan selesai dan tim lawan bergantian menjadi tim jaga dan tim jaga menjadi tim lawan sampai ada yang menjadi pemenangnya diantara salah satu tim.
c. Penutup
Peneliti melakukan pengumuman siapa diantara 2 tim tersebut yang memenangkan pertandingan. Setelah itu penyampaian waktu bermain lagi, serta salam penutup.
3) Refleksi
Peneliti melakukan refleksi terhadap siklus II serta menganalisis dan membuat kesimpulan atas implementasi permainan gobak sodor untuk meningkatkan sikap kerjasama di era 4.0. Apabila hasil sikap kerjasama anak belum ada peningkatan, maka akan dilanjutkan ke siklus berikutnya.
27 3.2.2.3 Refleksi
Refleksi merupakan suatu kegiatan untuk mengevalusai serta melihat rencana dari awal hingga akhir, kendala, dan hal-hal yang perlu adanya perubahan rencana atau tidak. Refleksi mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah tindakan yang telah dilakukan menunjukkan keberhasilan atau tidak. Pada tahap refleksi, peneliti memulai dengan menentukan apakah tindakan yang dilakukan untuk pemecahan suatu masalah sudah mencapai tujuan atau belum. Dalam tahap ini, peneliti mengambil keputusan untuk melakukan siklus lanjutan atau berhenti karena permasalahan telah terpecahkan sekaligus mencari tahu sejauh mana tindakan yang dilakukan mampu memperbaiki dan meningkatkan permasalahan yang diteliti.