KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
D. Pendekatan Kompetensi Berkomunikasi Antar- Antar-budaya
Menurut David Krech, ada empat macam pendekatan teoretis terhadap kemampuan berkomunikasi antarbudaya, yaitu sebagai berikut.25
1. Pendekatan Perangai
Ketika berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan lain harus menampilkan perangai (trait) tertentu. Perangai tidak hanya dibentuk oleh faktor internal individu, tetapi juga pengaruh faktor-faktor sosial. Itulah yang disebut Internal Response Trait (IRT). Internal
Response Trait adalah derajat (tinggi atau rendah) kestabilan disposisi
dan konsistensi disposisi individu untuk merespons karakteristik orang lain. Dasar utama dari asumsi IRT adalah perilaku sosial dari individu untuk merespons suatu objek, yaitu orang dari kebudayaan lain yang disalurkan melalui perangai respons antarpribadi.
2. Pendekatan Perseptual
Jenis-jenis persepsi, seperti kognisi, pandangan, dan pema-haman berkaitan dengan kemampuan ber komunikasi antarbudaya yang memperhitungkan tekanan psikologi, berkomunikasi secara efektif, dan membangun relasi antarpribadi.
a. Model Shannon dan Weaver
Shannon dan Weaver memperkenalkan sebuah model komunikasi yang dianggap sebagai model tertua komunikasi yang bersifat satu arah. Model yang diperkenalkan oleh Shannon dan Weaver mengandung beberapa unsur berikut:26
1) ‘sumber ‘ (menampilkan gagasan atau pendapat yang selalu disebut pesan);
2) encode (proses untuk mengalihkan kode-kode informasi ke dalam tanda [signal] yang berbentuk fi sik, seperti listrik, cahaya, dan gelombang suara);
3) pengalihan itu melalui ‘saluran‘;
4) dalam pengalihan itu selalu ada gangguan atau inter-ferensi;
5) sinyal kemudian di-decode oleh ‘penerima‘; 6) sasaran atau ‘penerima‘ dapat memahami pesan.
Kata-kata kunci Shannon dan Weaver, yaitu:
1) model ini berbentuk linier karena proses komunikasi dipandang sebagai transaksi pengirim dan penerima mengetahui pesan yang dikirim, tidak ada mekanisme umpan balik. Contoh, komunikasi yang memiliki kemung-kinan umpan balik paling kecil adalah media massa;
2) model ini menggambarkan teknik pengalihan aspek komunikasi;
3) model ini menjadikan konteks dan isi komunikasi tidak relevan.
Gangguan Shannon dan Weaver merupakan salah satu konsep penting dalam model Shanon dan Weaver. Gangguan adalah bentuk hambatan fi sik yang dialami oleh sinyal (staff s, cuaca, cahaya silau, atau saluran yang kelebihan muatan
191
190
26) Claude E. Shannon and Warren Weaver, The Mathematical Theory of Communication, University of Illinois Press, 1967, hlm. 331.
25) David Krech et.al., Individual in Society: A Textbook of SocialPsychology, McGraw-Hill, Kogakusha, Ltd., 1981, hlm. 577.
Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya
[overload]). Gangguan itu digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan segala sesuatu yang mungkin akan meng-hambat dan menginterupsi komunikasi, misalnya:
1) hambatan mental, mengakibatkan perhatian tidak terarah (melihat dan mendengar sesuatu tanpa perhatian yang terarah, melihat dan mendengar kemana-mana);
2) hubungan antara komunikator dengan komunikan;
3) hambatan bahasa, misalnya perbedaan bahasa, dialek, dan konotasi;
4) reaksi emosional, misalnya sedang gundah dan sedih; 5) perbedaan interpretasi, misalnya karena pengetahuan.27
b. Model Gerbner
Gerbner menambahkan bahwa ada unsur kontekstual yang menentukan persepsi, yaitu budaya, medium, dan kekuatan saluran. Akhirnya, Gerbner menarik kesimpulan sebagai berikut.28
1) Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi mempunyai persepsi dan penyaring. Baik persepsi maupun penyaring merupakan struktur yang menentukan cara seseorang mengirim atau menerima sebuah pesan.
2) Pesan adalah sebuah ‘isi‘ dan ‘bentuk tambahan‘ yang menghasilkan makna tertentu. Model yang diajukan Gerbner memperhitungkan juga perbedaan kekuatan saluran (variasi penggunaan media) yang memperbesar akses pengiriman dan penerimaan atau mengubah nilai rasa penerima.
c. Model Singer
Ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain, tampak bahwa persepsi seseorang tentang realitas menjadi kurang penting. Banyak orang mungkin sependapat bahwa persepsi bukan menunjukkan realitas, hanya karena variasi dari persepsi seseorang. Hal ini karena persepsi dipengaruhi oleh:29
1) faktor fisik (informasi yang dilihat dengan mata atau yang didengar dengan telinga dapat aktual bergantung pada cara otak Anda memprosesnya);
2) faktor lingkungan (apakah ada informasi lain di luar informasi yang Anda terima? Misalnya, dalam konteks apa?);
3) faktor kemampuan untuk mempelajari kebudayaan, kepribadian, kebiasaan, dan saringan yang digunakan untuk menyeleksi apa yang kita terima, dan bagaimana kita bereaksi atas informasi itu.
Untuk hal itu, kita melihat bahwa:
1) semua orang memperoleh informasi dari lingkungan, tetapi apa yang dilihat itu selalu melalui sebuah media tertentu; 2) semua orang memperoleh informasi, tetapi membuat
inter-pretasi yang berbeda atas informasi itu.
3. Pendekatan Perilaku
Pendekatan terhadap kompetensi komunikasi antarbudaya dapat dilakukan melalui pendekatan perilaku, terutama perilaku sosial (perilaku individu dalam konteks sosial) karena individu berhubungan dengan seseorang dalam konteks budaya tertentu. a. Teori Stimulus-Respons
Kay Deaux dan Lawrence S. Wrigtsman menge mukakan beberapa contoh pendekatan perilaku antarpribadi, misalnya
193
192
29) Loc.cit., David Krech et al., 1981, Individual..., hlm. 603.
27) Gerbner, Media Effects: Advances in Theory and Research. Jennings Bryant & Dolf
Zillman-Editors, 2nd ed, London: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers, 2002, hlm. 177.
Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya
Reinforcement Theory dan Cognitive Theory. Dua pendekatan ini
mengemukakan bahwa perilaku sosial ditentukan oleh prinsip penguatan dan pembelajaran.30
Para ahli psikologi yang berpendapat demikian, antara lain John Watson, Clark Hull, Kenneth Spence, dan B.F. Skinner. Fokus reinforcement theory adalah analisis hubungan antara stimulus internal ataupun eksternal yang membangkitkan respons penerima (S -R). Hal ini berarti bahwa untuk mengubah respons seseorang terhadap stimulus (misalnya informasi) dari luar maka perlu meningkatkan derajat penguatan atau tekanan internal ataupun eksternal tertentu (S -R).
Adapun dalam cognitive theory dikatakan bahwa sebab-sebab perilaku manusia, baik catatan perilaku historis maupun perilaku terkini, ditentukan oleh memori dan struktur kognitif. Dengan demikian, setiap orang selalu bertindak berdasarkan struktur kognitif.
b. B. Skinner tentang Perilaku yang Dapat Diamati
Pendekatan perilaku yang diajukan oleh Skinner menekan-kan bahwa untuk memahami kepribadian seseorang tidak perlu memahami kognisi orang itu. Kognisi tidak penting dalam memahami kepribadian karena kepribadian merupakan perilaku yang dapat diamati, yang dapat dipengaruhi oleh ganjaran dan hukuman dari lingkungan.
Dengan demikian, kepribadian manusia berkaitan erat dengan situasi. Pandangan ini merupakan gagasan dasar dari sebagian besar teori social learning yang juga menekankan bahwa pengalaman individu dengan lingkungan membentuk sebuah kepribadian.
c. Albert Bandura tentang Social Learning
Teori social learning percaya bahwa lingkungan merupakan faktor penentu terpenting bagi pembentukan kepribadian. Bandura mengatakan bahwa setiap orang dapat mengontrol perilakunya sendiri melalui pikiran, kepercayaan, dan nilai. Albert Bandura mengatakan bahwa 'belajar sosial' merupakan hasil dari respons langsung, atau akibat dari frekuensi perilaku setelah seseorang mengamati orang lain. Perilaku orang lain dapat dijadikan sebagai model atau informasi yang kemudian akan ditiru.
d. George Homans tentang Social Exchange Theory
Social exchange theory (teori pertukaran sosial) mendasari
diri pada prinsip-prinsip ekonomi, bahwa interaksi antara manusia bergantung pada ganjaran dan biaya yang melibatkan mereka berdua atau yang mereka cari dalam relasi mereka itu.
Semakin besar keuntungan yang diperoleh, relasi akan semakin kuat, semakin kecil keuntungan yang diperoleh maka semakin renggang atau putuslah relasi itu.
4. Pendekatan Kebudayaan Khusus
Dalam berkomunikasi, seseorang harus memahami beberapa komponen kemampuan komunikasi antarbudaya, seperti konteks, ketepatan akan efektivitas, pengetahuan, motivasi, dan aksi, yang semuanya itu berbeda-beda berdasarkan kebudayaan.
Jika ingin meningkatkan komunikasi dengan orang dari kebudayaan lain, kita dapat mempelajari kebudayaan, belajar tentang nilai, norma, kepercayaan, bahasa (verbal dan nonverbal), struktur pengetahuan, sistem sosial dan budaya, sistem ekonomi, mata pencaharian, dan adat istiadat.
195
194
30) Kay Deaux dan Lawrence S. Wrigtsman, Social Psychology in the 80s, California: Cole Publishing Co., 1984, hlm. 15.
197
196
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain, baik dengan sesama, adat istiadat, norma, pengetahuan maupun budaya di sekitarnya. Akibat interaksi tersebut, manusia tidak dapat menerima atau merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan, seperti masalah perkembangan teknologi, kebiasaan yang berbeda, bahasa, tradisi, norma, dan sebagai nya. Hubungan interaksi sosial itu menimbulkan budaya baru yang berawal dari sebuah proses akulturasi budaya.