DAFTAR GAMBAR
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian menurut rancangan tersebut di atas adalah kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif (Patton, 1980; McCracken, 1988; Shaffir and Stebbins, 1991; Bernard, 1994; Kvale, 1996).Sasaran dari pendekatan kuantitatif adalah gejala sedangkan sasaran dari pendekatan kualitatif adalah prinsip-prinsip umum dari perwujudan gejala-gejala (Rudito dan Famiola, 2008).
2.3.1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survai, dengan tujuan untuk memahami masalah sosial melalui penjaringan pendapat dan aspirasi masyarakat atau entitas penduduk, melalui pendekatan sampel populasi. Pengambilan contoh populasi (sampling) yang heterogen menjadi bagian-bagian yang relatif homogen (homogenous subsets) atau disebut juga strata, dilakukan untuk dapat menjaring seluruh lapisan dalam masyarakat, baik secara acak dilakukan pada setiap strata tersebut (Cochran, 1984; Walsh, 1990).
Pendekatan kuantitatif dalam metode penelitian pertama kali dikembangkan oleh Descartes dengan istilah pendekatan deduktif. Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan oleh Comte pada tahun 1896 yang kemudian dikenal dengan pendekatan positivisme. Pendekatan kuantitatif bermula dari studi tentang ilmu-ilmu alam (natural science) yang mengharuskan semua kajian
penelitian diukur dengan angka-angka kuantitatif secara ontologis dan diletakkan pada tatanan realisme (Basrowi dan Sukidin, 2002). Sparringa (2000) menyatakan bahwa semangat utama positivisme adalah memetakan pola-pola dan kecenderungan umum tentang bagaimana struktur sosial yang ada menghasilkan disposisi dan perilaku individu yang berbeda. Produk akhir dari upaya intelektual tersebut adalah ditemukannya dalil-dalil umum sebagai upaya geberalisasi atas fakta-fakta empirik dari berbagai pengamatan yang terukur (Basrowi dan Sukidin, 2002).
Analisis statistik merupakan salah satu alat yang digunakan dalam penelitian kuantitatif. Salah satu faktor terpenting dalam analisis statistik adalah pemilihan metode statistik yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Analisis statistika hanya suatu alat saja, diharapkan dapat mengungkapkan kebenaran dari serangkaian data, tetapi pemahaman, pengalaman, intuisi dan penalaran tetap menjadi kekuatan peneliti (Greenfield, 2002).
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja di Kecamatan Kampung Laut. Kemudian pada masing-masing desa dilakukan pemilihan sampel secara stratified random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara proporsional berdasarkan strata yang ditentukan, yaitu kelompok pemanfaat sumberdaya pada lokasi penelitian.
2.3.2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif dilakukan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai aspek kultural masyarakat yang tidak dapat dijaring melalui pendekatan kuantitatif, sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang aspek-aspek sosial budaya secara lebih positivistik, terukur dan kuantitatif. Pada pendekatan kualitatif, digunakan pendekatan teori kritis (Denzin and Lincoln, 2008) untuk mencapai suatu proses interaksi yang mampu membuka selubung kepentingan masing-masing partisipan secara lebih jujur dalam suatu seri dialog kritis.
Secara kritis dapat digunakan pendekatan studi etnografi (Creswell, 1998). Dengan pendekatan tersebut akan diketahui kondisi riil suatu komunitas, baik sosial, maupun kultural. Etnografi tersebut semata-mata berciri deskriptif kualitatif, tanpa interpretasi-interpretasi kultural dan analisis budaya peneliti. Dengan kata lain, etnografi sekedar memberikan potret dari suatu komunitas
kecil yang dikaji, dengan menelaah dimensi-dimensi kultural masyarakat secara rinci, untuk mendukung kajian dalam penelitian kuantitatif (Faisal, 2004; Basrowi dan Sukidin, 2002). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang berguna melihat secara detil dan mendalam bagaimana proses suatu dampak muncul dari perubahan sosial yang terjadi akibat perubahan ekologis.
Penelitian juga dikombinasikan dengan rancangan penelitian studi kasus. Menurut Yin (2002) studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak nampak dengan tegas; dan dimana berbagai sumber dapat dimanfaatkan.
Strategi penelitian studi kasus diterapkan pada suatu komunitas, karena sesuai dengan keterwakilannya dengan karakteristik permasalahan dan tujuan penelitian. Pemilihan strategi penelitian studi kasus didasarkan pada: 1) kesesuaian dengan pertanyaan penelitian yang bersifat eksploratif, 2) peluang peneliti sangat kecil untuk mengontrol peristiwa/gejala sosial yang hendak diteliti, dan 3) pumpunan penelitian adalah peristiwa/gejala sosial kontemporer (masa kini) dalam kehidupan nyata (Yin, 1996 dalam Sitorus, 1998).
Pumpunan penelitian kualitatif adalah aspek subjektif perilaku manusia, dimana subjektif berarti melihat dari sudut pandang subjek penelitian sebagai subjek penelitian, sehingga hubungan antara peneliti dan subjek penelitian dirumuskan sebagai hubungan inter-subjektivitas. Secara logis, dapat dikemukakan bahwa jika ingin melihat gejala sosial secara kritis, maka terlebih dahulu harus dipahami masyarakat dimana gejala sosial tersebut terjadi. Untuk memahami sifat kritis dan tujuan emansipasi, maka sudut pandang yang dibawakan tidak cukup sudut pandang peneliti saja, karena akan memunculkan kemungkinan bias/rancu. Oleh karena itu dibutuhkan intersubjektivitas antara peneliti dengan subjek penelitian, sehingga peneliti benar-benar memahami secara benar masyarakat yang diteliti sekaligus memahami gejala sosial timbul. Teknik triangulasi berupa pengamatan, wawancara mendalam dan kajian data sekunder diperlukan untuk menangkap realitas sosial secara lebih valid.
Dalam penelitian ini data-data induk yang ingin dikumpulkan merupakan informasi yang memiliki sifat realitas historis karena tentu saja keseluruhan terbentuk melalui perjalanan sejarah yang tidak terlepas dari perkembangan masyarakat. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan menelusuri secara prosesual fakta-fakta antar waktu yang menggambarkan perubahan-perubahan
masyarakat. Khusus untuk memahami tindakan agresif masyarakat maka perlu mempelajari konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat pendatang dan masyarakat lokal.
Data kualitatif dianalisis dengan 3 (tiga) jalan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Miles and Huberman, 1992). Reduksi data berupa proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabtrakkan dan transformasi data kasar yang muncul secara tertulis di lapangan. Penyajian dimaksudkan adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sedangkan penarikan kesimpulan dalam hal ini mencakup juga verifikasi atas kesimpulan itu.