• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Semiotika dalam Karya Sastra

BAB II QASHASH AL-QUR’ÂN

D. Pendekatan Semiotika dalam Karya Sastra

Pada awalnya, sastra dikenal melalui penuturan dari mulut ke mulut. Sastra pada tahap ini sering disebut sebagai sastra lisan. Namun kini jika kita berbicara mengenai sastra maka identik dengan teks. Maka kajian terhadap sastra tidak dapat dipisahkan dari kajian teks. Meskipun demikian antara teks sastra dan teks pada umumnya tetap memiliki perbedaan. Perbedaan antara teks secara umum dengan teks sastra memang tidak dapat dirumuskan secara jelas karena keduanya sama- sama memiliki unsur kata, kalimat, dan makna.

Tentang definisi sastra, para ahli banyak mengemukakan dengan bahasa yang berbeda. Namun, jika ditelaah lebih lanjut memiliki satu pemahaman yang tidak jauh berbeda. Dalam bahasa Indonesia kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta. Akar kata sastra adalah sas yang berarti mengarahkan atau mengajar, memberi petunjuk, akhiran tra berarti alat atau sarana. Maka sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku intruksi. Kata susastra baru muncul

kemudian dalam khazanah Melayu yang diartikan sebagai karya yang indah (mengandung nilai estetis).

Dalam bahasa Arab, istilah sastra disepadankan dengan kataadab. Kata adab dalam arti sempit berarti susastra, dalam makna yang lebih luas adab dapat diartikan sebagai budaya. Selain kata adab, ada beberapa kata yang menunjuk pada sastra tertentu misalnya kataqasidahdansyi’r.32

Sebuah karya sastra, dibangun oleh susunan kata atau bahasa yang sarat oleh simbol atau tanda. Pemilihan kata (diksi) menyimpan makna konotatif yang memungkinkan diinterpretasikan berdasarkan tanda-tanda yang ada di dalamnya. Tanda bahasa dalam karya sastra sangat banyak. Simbol dapat dianalisis melalui suku kata, kata, kalimat, alinea, bab, dan seterusnya, bahkan dapat juga dianalisis melalui tanda baca dan huruf.

Dalam kaitannya dengan strukturalisme, karya sastra dinyatakan sebagai sebuah konstruksi dari unsur tanda-tanda. Makna yang tepat muncul dari keterkaitan antar struktur dalam karya sastra tersebut dan aspek struktur inilah yang menjadi ojek kajian dalam strukturalisme semiotik.33

Dapat pula dikutip sini pendapat Komarudin Hidayat yang menyatakan bahwa bidang kajian semiotik atau semiologi34 adalah mempelajari fungsi tanda dalam teks, yaitu bagaimana sebuah tanda yang terdapat dalam teks akan membimbing pembacanya agar dapat menangkap pesan yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain seorang pembaca dapat memasuki bilik-bilik makna yang tersimpan dalam teks melalui interogasi (penelaahan) terhadap kode-kode atau tanda-tanda yang dipasang oleh pengarang atau penulis.35

32 A. Teeuw,Sastera dan Ilmu Sastera, Jakarta: Pustaka Jaya, 2003, h. 21

33 Alex Sobur,Analisis Teks Media, h. 105

34 Tidak ada pembedaan atas istilah semiotik dan semiologi, yang membedakannya hanyalah

penggunaan terminologi tersebut. Semiotik digunakan pada tradisi Amerika yang bermula pada Charles Sanderss Peirce sedangkan semiologi digunakan pada tradisi Eropa yang bermula pada Ferdinand de Saussure

35 Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta:

Pendekatan semiotik dalam karya sastra berawal dari asumsi bahwa karya sastra memiliki sistem tersendiri dan dunia tersendiri yang sengaja dihadirkan oleh pengarang di hadapan pembaca. Di dalam karya sastra tersebut terkandung potensi komunikatif yang ditandai dengan adanya lambang-lambang kebahasaan yang khas yang mengandung nilai-nilai keindahan. Pendekatan semiotik secara lebih rinci digambarkan konsep dan kriterianya sebagai berikut:

1. Karya sastra menurut pandangan semiotik memiliki sistem sendiri yang berupa sistem tanda. Tanda dalam karya sastra memiliki potensi besar menimbulkan banyak interpretasi. Teks sastra bersifat otonom yang tidak terikat acuan atau fakta apapun di luar teks.

2. Pendekatan semiotik mempunyai pertalian dengan pendekatan struktur dan pendekatan stilistika. Dengan pendekatan struktural, pendekatan semiotik merupakan lanjutan atau pengembangan pendekatan struktural yang menekankan analisis unsur formal yang membangun karya sastra. Pendekatan stilistika lebih menekankan kepada masalah kebahasaan sedangkan pendekatan semiotik lebih luas karena menyangkut semua sistem tanda yang terkait dengan sistem sastra.

3. Dalam melihat karya sastra, semiotik tidak hanya terbatas pada sosok karya sastra itu saja tetapi juga menghubungkannya dengan sistem yang berada di luarnya. Sistem yang berada di luara karya sastra adalah semua anasir, data, fenomena yang mereaksi bagi kelahiran karya sastra tersebut.36

Beragam cara ditawarkan dalam menganalisis sastra secara semiotis. Cara yang paling umum adalah yang ditawarkan oleh Wellek dan Warren yaitu analisis melalui dua tahapan, intrinsik (mikrostruktur) dan ekstrinsik (makrostruktur).37 Cara yang lain adalah yang ditawarkan oleh Abrams yang memberikan sebuah kerangka (framework) dengan menggabungkan empat pendekatan kritis terhadap karya sastra yaitu:

36 M. Atar Semi,Metode Penelitian Sastra, Bandung: Angkasa, 1990, h. 87

1. Pendekatan objektif atau pendekatan yang menitikberatkan pada karya itu sendiri.

2. Pendekatan ekspresif yang menitikeratkan kepada pengarang.

3. Pendekatan mimetik yang menitikberatkan pada kesemestaan atau menghubungkan suatu karya sastra dengan fakta atau realitas yang membentukya.

4. Pendekatan pragmatik yang menitikberatkan pada pembaca. Sebuah karya sastra yang baik dapat memberikan efek atau pengaruh kepada pembacanya.38

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penelitian menggunakan pendekatan semiotik adalah sebagai berikut

1. Tidak membawa suatu sistem karya sastra yang lain sebagai bahan acuan atau ukuran. Sebagai langkah awal, objek kajian harus dibaca dan dipahami untuk menemukan sesuatu yang khas. Pengalaman yang telah tersimpan, sebaiknya tidak secara langsung digunakan sebagai tolak ukur. Dengan semiotik, yang akan dilihat adalah keunikan dan kekhasan dari karya tersebut.

2. Bila pemahaman terhadap teks yang dikaji telah menyeluruh maka selanjutnya diadakan analisis yang lebih terperinci menyangkut teknik, gaya, dan kekuatan-kekuatan atau keistimewaan-keistimewaan yang menjadikan objek kajian itu memiliki sistem sendiri.

3. Langkah berikutnya adalah mengaitkan hal-hal yang berada dalam tubuh karya sastra tersebut dengan sistem dan dibandingkan dengan sistem yang berada di luarnya.39

Teks sastra secara keseluruhan memiliki ciri-ciri indeksikal40 karena teks berhubungan dengan dunia yang disajikannya. Mengacu pada teori Peirce, sebuah teks paling tidak terdiri atas tiga sisi indeksikal yaitu pengarang sebagai ciri komunikasi, dunia nyata sebagai ciri nilai-nilai pengetahuan, dan pembacanya

38 A. Teeuw,Sastera dan Ilmu Sastera, hal. 43

39 M. Atar Semi,Metode Penelitian Sastra, h. 88 – 89.

40 Indeks dalam istilah linguistik berarti perbandingan antara unsur-unsur tertentu dalam bahasa

yang dapat dipakai untuk membandingkan dan mengklasifikan bahasa. Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Edisi III, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993, h. 81

dengan ciri nilai-nilai eksistensial. Ketiga sisi indeksikal tersebut sangat berkaitan satu dengan lainnya karena pengarang menyusun sebuah teks berdasarkan realita dan selanjutnya muncul interpretasi dari pembaca dalam menanggapi apa yang disajikan oleh pengarang.41

Jika dikaitkan dengan teks sebagai unsur karya sastra, sebagai indeksikal mikro maka dapat dibedakan dalam tiga macam yaitu: indeks dalam kaitannya dengan dunia luar teks, indeks dalam kaitannya dengan teks lain atau intertekstual, dan indeks dalam kaitannya dengan teks di dalam teks atau intratekstual.

Apabila dilihat dengan menggunakan konsepsi struktural, maka secara umum suatu karya sastra akan mengandung beberapa unsur, yaitu tema, tokoh, alur atau plot, dan setting atau latar. 42 Nurgiyantoro membagi unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra menjadi enam unsur yaitu: plot atau alur, tokoh, latar atausetting, sudut pandang, bahasa atau dialog, dan moral atau pesan.43

Analisis struktural dapat berupa kajian yang menyangkut relasi unsur-unsur dalam mikroteks, satu keseluruhan wacana, dan relasi intertekstual. Analisis unsur-unsur mikroteks tersebut misalnya adalah berupa analisis kata-kata dalam kalimat, atau kalimat-kalimat dalam alinea atau konteks wacana yang lebih besar. Namun, analisis struktural dapat juga berupa analisis fungsi dan hubungan antara unsur latar waktu, tempat, dan sosial budaya dalam analisis latar. Meskipun karya sastra bersifat otonom, akan tetapi sebuah karya sastra tidak mungkin dipisahkan dari latar belakang sosial budaya atau latar belakang kesejarahannya.44

Pengelompokan unsur-unsur karya sastra tersebut sejalan dengan unsur- unsur kisah seperti yang dikemukakan oleh Khalafullah. Namun, unsur setting

atau latar tempat dan waktu jarang sekali secara spesifik disebutkan dalam Alquran. Selain itu, yang membedakan antara unsur kisah pada karya sastra

41 Nyoman Kutha Ratna,Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra,h. 115

42 Zainuddin Fanani, Telaah Sastra, Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000, h. 83

43 Burhan Nurgiyantoro,Teori Pengkajian Fiksi,h. 37

umum dengan teks Alquran diantaranya adalah dalam kisah-kisah Alquran kita tidak akan dapat menemukan seluruh unsur kisah terkumpul dalam satu alur kisah yang berkelanjutan tetapi unsur-unsur tersebut tersebar dalam berbagai

surah. Rangkaian kisah terbagi dalam beberapa episode yang saling berhubungan membentuk satu tujuan kisah yang tunduk pada tujuan keagamaan.

Dokumen terkait