BAB II QASHASH AL-QUR’ÂN
C. Beberapa Konsep Semiotika
1. Teori Semiotik Saussure
Teori semiotik Saussure sebetulnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum sehingga istiah-istilah yang digunakan banyak meminjam istilah dan model linguistik. Hal tersebut bukan hanya disebabkan oleh seorang Saussure yang mengilhami aliran ini, melainkan juga pada waktu mereka mengembangkan teori semiotik, linguistik struktural telah bekembang pesat. Bahasa sebagai sebuah sistem tanda,menurut Saussure memiliki unsur yang tidak terpisahkan yaitusignifier dansignified,signifiant dansignifie, atau penanda dan petanda. Wujud signifiant (penanda) dapat berupa bunyi-bunyi ujaran atau huruf-huruf tulisan sedangkan signifie (petanda) adalah unsur konseptual, gagasan, ide, atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut.20
Misalnya kata ‘buku’ yang jika dituliskan akan terdiri dari rangkaian huruf (lambang fonem). Kata buku dalam bayangan atau gagasan pendengar atau pembacanya menunjuk pada benda tertentu yang ada secara nyata. Tulisan b-u- k-u disebut sebagai penanda sedangkan buku (yang ada secara nyata) disebut sebagai petanda. Dalam teori Saussure dikemukakan bahwa meskipun keduanya (antara b-u-k-u dengan buku) dapat disebut sebagai dwitunggal, akan tetapi
20 M.H. Abrams,A Glossary of Literary Terms, New York: Holt Rinehart and Winston, 1981,
hubungan antara penanda dengan petanda tersebut bersifat arbitrer, atau tergantung kepada pemakai bahasa tersebut.21
Kenyataan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem, mengandung arti bahwa bahasa memiliki beberapa unsur yang saling berkaitan secara teratur sehingga bahasa dapat digunakan sebagai sarana komunikasi. Hal tersebut melandasi adanya teori linguistik modern (baca: strukturalisme) yang selanjutnya teori ini dijadikan landasan dalam kajian sastra. Dalam studi linguistik dikenal adanya tataran fonetik, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Dalam kajian sastra juga dikenal aspek sintaksis, semantik, dan pragmatik atau ada pula yang menyebutnya sebagai aspek stilistika, komposisi, dan tematik. Oleh karena itu penerapan teori semiotik dalam karya sastra dapat dimulai dengan menggunakan tataran-tataran sebagaimana terdapat dalam kajian linguistik.
Bahasa sebagai aspek material dalam sebuah karya sastra telah memiliki konsep makna yang bergantung pada kesepakatan masyarakat pemakainya. Hal ini menyebabkan unsur bahasa tidak bersifat netral sepenuhnya meskipun tidak menutup kemungkinan makna tersebut dikreasikan juga oleh masyarakat pemakainya. Di sisi lain, sastra mempunyai konsepsi yang sedikit berbeda dengan bahasa. Dalam menuturkan sesuatu, sastra tidak langsung mengacu pada suatu makna tertentu sebagaimana dalam tataran linguistik. Namun, sastra lebih menunjuk kepada sistem makna pada tingkat kedua. Misalnya, dalam sastra digunakan lambang-lambang atau perbandingan-perbandingan, personifikasi atau metafora. Sehingga sebuah signifiant tidak hanya mengacu pada satu signifie
melainkan juga mengacu pada signifie-signifie lain dengan kata lain, sebuah signifie menghasilkansignifiebaru yang mewakili sesuatu yang lain.
21 Dikatakan arbitrer karena hubungan antara wujud formal bahasa dengan konsep atau sesuatu
yang menjadi acuannya bersifat “semaunya” atau berdasarkan kesepakatan sosial masyarakat pemakai bahasa tersebut. Antara keduanya tidak bersifat identik. Suatu masyarakat mungkin menggunakan kata lain untuk menunjuk pada acuan yang sama yaitu buku.
Saussure menjelaskan bahwa terdapat enam prinsip dasar dalam semiotika . 1. Prinsip struktural. Tanda dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material dan konseptual. Yang menjadi fokus penelitian adalah relasi antara unsur-unsur tersebut, karena dari relasi tersebut akan menghasilkan makna.
2. Prinsip kesatuan. Sebuah tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yang bersifat konkrit atau material dengan bidang petanda.
3. Prinsip konvensional. Realsi antara penanda dan petanda sangat tergantung pada apa yang disebut konvensi, yaitu kesepakatan sosial tentang bahasa (tanda dan makna) di antara komunitas bahasa .
4. Prinsip sinkronik. Tanda dipandang sebagai sebuah sistem yang tetap di dalam konteks waktu yang dianggap konstan, stabil dan tidak berubah.
5. Prinsip representasi. Tanda merepresentasikan suatu realitas yang menjadi rujukan atau referensinya .
6. Prinsip kontinuitas. Relasi antara sistem tanda dan penggunanya secara sosial dipandang sebagai sebuah kontinuitas, mengacu pada struktur yang tidak pernah berubah.
Menurut Saussure tanda memiliki tiga wajah yaitu tanda itu sendiri (sign), aspek material (suara, huruf, bentuk, gambar, gerak) dari tanda yang berfungsi menandakan atau yang dihasilkan oleh aspek material (signifier), dan aspek mental atau konseptual yang dibentuk oleh aspek materil (signified). Hal terpenting yang dilakukan dalam melakukan analisis tentang tanda adalah mengetahui mana aspek material dan aspek mental dari sebuah tanda; karena tanda itu sendiri merupakan kesatuan antara signifier dan signified. Hubungan antara signifier dan signified disebut sebagai signification. Dalam analisis semiotika yang dicari adalah berbagai hubungan yang menyatukan antara beberapa signified dan beberapa signifier dari berbagai unsur obyek tersebut. Hubungan antara beberapa signified dan signifier kemudian akan menghasilkan
makna. Dalam sistem tanda, Saussure menjelaskan bahwa suatu tanda akan dapat menghasilkan makna karena adanya prinsip perbedaan atau sistem hubungan antar tanda.
Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa terdapat tiga macam hubungan tanda yaitu:
- Hubungan simbolik. Hubungan simbolik adalah hubungan tanda dengan dirinya sendiri (internal).
- Hubungan paradigmatik. Hubungan paradigmatik adalah adalah hubungan tanda dengan tanda lain dari satu sistem atau kelas
- Hubungan sintagmatik. Hubungan sintagmatik adalah hubungan tanda dengan tanda lain dari satu struktur.
Kedua jenis hubungan -paradigmatik dan sintagmatik- kemudian disebut sebagai hubungan eksternal. Ketiga jenis hubungan tanda ini kemudian dijelaskan oleh Roland Barthes22 melalui gagasannya tentang dua tatanan pertandaan.
Tataran pertandaan pertama digambarkan dalam relasi di dalam tanda; antara signifier dan signified, atau yang Saussure sebut sebagai hubungan simbolik, dan antara tanda dengan referennya dalam realitas eksternal; Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Pada tataran pertandaan yang kedua, tanda kemudian berinteraksi dengan perasaan atau emosi penggunanya serta nilai-nilai kultural dimana tanda dan penggunanya berada. Barthes menyebutnya sebagai konotasi. Karena dipengaruhi oleh nilai kultural maka konotasi sebuah tanda akan berbeda dalam berbagai masyarakat. Hal ini membuat tanda bersifat arbiter dan spesifik pada kultur tertentu. Konotasi bekerja dalam level subyektif dan oleh sebab itu seringkali nilai konotatif dibaca sebagai fakta denotatif. Tujuan analisis semiotika adalah memberi metode analisis dan kerangka pikir untuk
22 Roland Barthes (1915-1980) adalah seorang penganut Saussure. Barthes merupakan pelopor
aliran semiotik konotasi. Dalam menelaah sistem tanda, aliran ini tidak berpegang pada makna primer
tetapi berusaha mendapatkan makna melalui makna konotasi. (Alex Sobur,Analisis Teks Media, h.
menjaga kita dari kesalahan membaca seperti itu. Cara kedua bekerjanya tanda dalam tatanan pertandaan kedua adalah melalui mitos.
Salah satu teori Saussure yang dipakai secara luas di bidang kajian sastra adalah hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Maksudnya adalah kata-kata yang menyusun sebuah wacana, saling berhubungan dan berkesinambungan sesuai dengan sifat linear dari bahasa yang tidak memungkinkan seseorang melafalkan dua unsur sekaligus. Di sisi lain, di luar wacana, kata-kata yang sama berasosiasi dalam ingatan dan menjadi bagian kekayaan dari tiap individu dalam bentuk langue. Hubungan yang bersifat linear tersebut dinamakan hubungan sintagmatik, sedangkan hubungan yang bersifat asosiatif disebut hubungan paradigmatik. Kedua model hubungan ini sering diterapkan dalam kajian fiksi ataupun puisi.
Hubungan sintagmatik lebih menunjukkan pada pengaluran yang relatif kronologis. Sistem alur semacam ini sering disebut dengan alur lurus yaitu alur yang bertumpu pada satu tokoh dan tidak ada intervensi dari alur lain. Pengaluran yang seperti ini tidak rumit dan merupakan salah satu dari ciri aliran realisme.
Sedangkan kalau dilihat dalam hubungan paradigmatik maka akan tampak kontras antara tokoh utama dengan tokoh-tokoh pelengkapnya. Hubungan antara tokoh utama dengan tokoh pelengkap lainnya menunjukkan kebiasaan, tata cara, adat, perilaku, ataupun nilai-nilai. Analisis hubungan paadigmatik ini menelaah unsur-unsur yang tidak hadir dalam teks yaitu hubungan antara nalar (gagasan) dengan simbol. Dasar dari analisis paradigmatik adalah makna konotasi karena unsur-unsur cerita adalah berupa tanda-tanda yang berasosiasi dengan pikiran pendengar atau pembaca. Tanda-tanda ini berupa nilai-nilai yang mempunyai sifat implisit sebagai pesan dari sebuah budaya masyarakat yang melatarbelakangi munculnya sebuah karya.23
Ketika mengkaji sebuah fiksi ataupun sebuah cerita, maka akan dapat ditemukan adanya hubungan antara penanda dengan petanda yang sangat banyak
jumlahnya. Yang pertama adalah aspek formal dari sebuah karya yang terdiri dari deretan atau hubungan kata, kalimat, paragraf atau alinea, dan seterusnya hingga membentuk sebuah teks yang utuh. Hubungan tersebut adalah hubungan yang antara penanda dengan petanda yang hadir secara terus menerus dalam kata, kalimat, ataupun alinea hingga akhir teks, maka hubungan yang seperti ini sering disebut dengan istilah hubungan in praesentia. Dalam teori linguistik Saussure, hubungan sintagmatik identik dengan hubungan in praesentia sedangkan hubungan paradigmatik identik dengan hubunganin absentia.
Setiap konsep bahasa atau aspek formal, kata dan kalimat, dapat dipastikan didahului dengan kehadiran konsep makna. Hubungan antara aspek formal dengan aspek makna ini merupakan hubungan yang asosiatif atau hubungan antara aspek yang hadir dengan aspek yang tidak hadir. Kata dan kalimat dapat dilihat kehadirannya dalam sebuah teks, akan tetapi makna tidak dapat dilihat dan hanya dapat diasosiasikan dalam gagasan pembaca atau pendengar. Hubungan seperti ini disebut dengan istilah hubunganin absentia.