MODUL 1.2: SEKOLAH SEBAGAI SUATU SISTEM
C. PENDEKATAN SISTEM
Pendekatan sistem adalah salah satu cara penanganan masalah dari sekian banyak cara untuk menangani masalah atau mencapai seperangkat tujuan yang telah ditetapkan. Orang yang menggunakan pendekatan ini biasa disebut system analyst. Pendekatan sistem meyakini bahwa suatu masalah itu tidak eksklusif atau berdiri sendiri khususnya pada masalah-masalah sosial. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa masalah selalu berkaitan dengan komponen-komponen lain dalam sebuah sistem. Sebagai sistem analis atau orang yang menganalisa masalah dengan menggunakan sistem, akan selalu mengkaji setiap persoalan dari berbagai sisi yang mungkin terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Sehingga penanganan suatu masalah menurut pendekatan ini harus diselesaikan secara komprehensif, agar dapat secara tuntas diselesaikan. Dalam hal ini, suatu masalah tidak diselesaikan secara parsial, tetapi masalah harus diselesaikan secara tuntas dan menyeluruh. Misalnya, rendahnya motivasi guru dalam satu sekolah mungkin disebabkan oleh beberapa faktor misalnya karena gaya kepemimpinan kepala sekolah yang otoriter, mungkin juga karena kepuasan kerja yang rendah dan lain sebaginya atau mungkin gabungan dari berbagai unsur. Unsur-unsur tersebut mungkin internal atau eksternal sekolah. Sehingga siapapun yang ingin menanggulangi masalah perlu mengidentifikasi unsur-unsur yang terkait dengan permasalahan tersebut. Dalam pendekatan ini, sangat ditekankan agar setiap orang mengetahui perbedaan antara masalah dengan fenomena masalah. Fenomena masalah adalah apa saja yang muncul akibat adanya masalah sedangkan masalah itu sendiri adalah kesenjangan yang terdapat dalam sistem itu sendiri.
D. SEKOLAH SEBAGAI SUATU SISTEM
Sekolah sebagai suatu sistem mempunyai dua macam lingkungan yaitu, lingkungan khusus dan lingkungan umum.
1. Lingkungan Khusus
Seperti dipaparkan di atas, bahwa salah satu ciri sistem terbuka adalah adanya dan terjadinya interaksi sistem itu dengan lingkungan yang berada di sekitarnya. Dalam hal ini lingkungan dikenali baik sebagai sumber input yang memberikan masukan kepada sistem agar sistem itu bisa bekerja dalam melaksanakan suatu
proses transformasi, maupun lingkungan sebagai pengguna output dari suatu hasil proses transformasi. Berbicara mengenai lingkungan sekolah maka konotasi yang melekat adalah faktor-faktor eksternal di luar sistem. Misalnya orang tua siswa, Dinas pendidikan, Pemerintah Daerah dan lain sebagainya.
Lingkungan khusus adalah semua faktor di luar sekolah yang dapat berpengaruh langsung terhadap sekolah. Misalnya pemerintah, sebagai lingkungan khusus pemerintah telah memberikan dana BOS. Pemberian BOS ini akan dirasakan pengaruhnya secara langsung oleh sekolah. Lihat adanya 13 hal yang bisa digunakan dengan dana BOS di sekolah. Contoh lain adalah orangtua siswa. Jika orangtua siswa menuntut adanya sekolah gratis, maka dampaknya langsung dirasakan oleh sekolah. Misalnya sekolah tidak lagi diperkenankan melakukan pungutan dari orangtua siswa. Jadi lingkungan khusus sekolah akan berpengaruh langsung terhadap sekolah.
2. Lingkungan Umum
Selain unsur yang berpengaruh langsung terhadap sekolah, ada unsur-unsur lingkungan yang tidak berpengaruh langsung kepada sekolah. Misalnya kondisi ekonomi, kondisi ekonomi berpengaruh tidak langsung kepada sekolah. Kondisi ekonomi berpengaruh langsung kepada lingkungan khusus. Jadi kondisi ekonomi berpengaruh langsung terlebih dahulu kepada kemampuan finansial orangtua siswa, baru kemampuan finansial orangtua siswa berpengaruh kepada sekolah.
Sekolah sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa unsur, yang antara satu unsur dengan unsur lainnya saling berkaitan dan saling pengaruh mempengaruhi. Sebagai contoh, kepala sekolah adalah salah satu unsur sekolah. Kepala sekolah akan berhubungan secara timbal balik dengan unsur-unsur lain di sekolah itu. Kinerja sekolah akan dipengaruhi oleh kinerja para guru yang mengajar di sekolah itu. Demikian juga sebaliknya.
Sekolah sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa unsur sebagai berikut:
a. Peserta didik (anak didik, siswa);
b. Kepala sekolah;
c. Pendidik atau guru;
d. Staf tata usaha;
e. Kurikulum;
f. Fasilitas pendidikan lainnya.
Berdasarkan teori input-process-output, unsur-unsur sekolah sebagai suatu sistem tersebut dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Unsur masukan kasar (raw input) adalah peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran, dengan latar belakang sosial-ekonomis-budaya, dan kesiapan akademisnya.
b. Unsur masukan instrumental (instrumental input), meliputi:
1) kepala sekolah;
2) pendidik atau guru;
3) kurikulum, dan;
4) fasilitas pendidikan.
c. Unsur masukan lingkungan (environmental input), meliputi:
1) alam (geografis, demografis)
2) sosial, ekonomi, kebudayaan.
d. Proses pendidikan (process) merupakan interaksi edukatif, atau proses belajar mengajar, proses pembelajaran, menggunakan metode dan media pembelajaran atau alat peraga yang diperlukan.
e. Output atau keluaran, yaitu berapa siswa yang tamat dan atau lulus dari
sekolah tersebut.
f. Outcomes atau hasil, misalnya berapa siswa yang melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, berapa yang dapat memperoleh lapangan kerja, dsb..
Unsur-unsur sekolah sebagai suatu sistem dapat dijelaskan dalam bagan sebagai berikut:
Peserta
Didik
PROSES
OUTPUT OUTCOMESGURU, KURIKULUM, FASILITAS PENDIDIKAN
ALAM: Geografis
SOSEKBUD: Demografis
Dari bagan tersebut dapat dijelaskan bahwa proses pendidikan memang akan dipengaruhi oleh masukan, baik masukan kasar, masukan instrumental, maupun maupun masukan lingkungan (lingkungan umum dan khusus). Sementara proses pendidikan akan mempengaruhi keluaran (output) maupun hasil pendidikan
(outcomes) yang diharapkan.
Namun perlu dipahami bahwa hasil pembangunan pendidikan yang terlalu berorientasi kepada masukan (input) ternyata tidak sesuai dengan harapan. Banyak fasilitias pendidikan yang telah diadakan, telah banyak guru yang telah ditatar atau mengikuti pelatihan, banyak buku yang telah diterbitkan, dan kurikulum pun selalu disempurnakan. Namun apa hasilnya? Gedung sekolah masih banyak yang rusak, mutu pendidikan (secara rata-rata) masih rendah. Berdasarkan analisis tersebut, ada kemungkinan hal itu terjadi karena proses pendidikan, apa yang terjadi di dalam ruang kelas masih belum banyak memperoleh perhatian kita. Kini, proses pendidikan yang terjadi di ruang kelas itulah yang seyogyanya kini lebih memperoleh perhatian kita.