PENDEKATAN KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KANTOR SEWA DAN MALL ELEKTRONIK
4.2 PENDEKATAN KONSEP PERANCANGAN .1 PENDEKATAN PERUANGAN
4.2.3 PENDEKATAN TAPAK - Analisis Tapak/ Site
Sesuai dengan fungsi dan aktifitasnya, kantor sewa dan mall elektronik merupakan wadah kegiatan perkantoran dan perbelanjaan. Terdapat beberapa dasar pertimbangan penentuan site atau tapak dari lokasi site terpilih :
Luas tanah mencukupi dan tersedia dalam artian tidak ditempati bangunan permanen
Site atau tapak mudah dicapai oleh segala jenis kendaraan atau pejalan kaki
Sesuai ketentuan peraturan daerah dan rencana induk pemerintah
Berlokasi pada lingkungan yang mendukung
Tersedia sarana kota seperti jaringan listrik, jaringan air bersih, jaringan telekomunikasi dan drainase kota
87 Berikut adalah alternative site yang berada di daerah Genteng
Gambar 19 : Alternatif site di daerah Genteng Kali
Alternatif 1 = daerah Jl. Embong Malang Alternatif 2 = daerah Siola
Alternatif 3 = daerah Blauran
No Kriteria Pemilihan Bobot
Alternatif
1 2 3
1 Fasilitas lingkungan tapak dapat
saling mendukung 20 3 60 3 60 3 60
2 Merupakan daerah bisnis 15 3 45 3 45 2 30
3 Didukung transpotasi umum yang memadahi
15 3 45 3 45 3 45
4 Tersedia jaringan utilitas kota 15 3 45 3 45 3 45
3
1 2
88 5 Dampak positif bagi lingkungan
sekitar
10 3 30 3 30 3 30
6 Tingkat harga tanah sesuai kondisi tapak
10 2 20 3 30 2 20
Tabel 41 : Analisis ke 3 tapak di daerah Genteng Kali berdasarkan RT RW Surabaya 2005
Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut maka dipilih daerah Genteng, Siola sebagai area/ site dari kantor sewa dan mall elektronik di Surabaya ini
Gambar 20 : Kondisi site terpilih
89 Kondisi eksiting tapak meliputi keadaan tapak saat ini dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Adapun kondisi tapak atau site antara lain :
o Lokasi di jalan Tunjungan o Batas- batas tapak :
Utara : Jl. Praban
Selatan : Jl. Tanjung anom
Timur : Jl. Tunjungan
Barat : Jl. Lingkungan (gang) o Luas tapak 9760 m2 / 0.97 ha
o GSB yang ada di tapak :
Timur : minimal 3 m dari pinggir jalan
Utara : minimal 3 m dari pinggir jalan
Selatan : minimal 2 m dari pinggir jalan
Barat : minimal 1 m dari pinggir jalan o Topografi tapak relatif datar
o Koofisien dasar bangunan (Building Code = 50 %) o Koefisien lantai bangunan (FAR = 1350%)
o Jumlah lantai yang diperbolehkan dibangun maksimum27 lantai
o Bangunan yang ada sekarang adalah bekas bangunan pasar swalayan di mana dalam pembebasan tidak mngalami kesulitan
o Adapun kondisi lingkungan yang ada di sekitar tapak :
Adanya bangunan pertokoan, pusat perbelanjaan dan bank yang letaknya berdekatan dengan site, secara keseluruhan akan turut menunjang secara timbal balik pada kegiatan perkantoran dan bisnis yang direncanakan
90 transpotasi dan daerah sekitarnya menjadi panas terutama pada saat siang hari
Tapak terletak pada jalan yang dilalui oleh transpotasi umum sehingga dapat menunjang aksesbilitas tapak
91
Gambar 22 : View dari perempatan Tunjungan
92
Gambar 24 : Sketsa potongan A-A’ pada site terhadap lingkungan
Gambar 25 : Sketsa potongan B-B’ pada site terhadap lingkungan
- Analisis Klimatologis
Kondisi klimatologis yang berpengaruh pada site yaitu arah edar matahari dan hembusan angin.
Arah edar matahari menyebabkan bangunan pada lingkungan sekitarnya akan menghasilkan pembayangan pada site.
Orientasi bangunan pada daerah tropis sebaiknya utara selatan
Angin yang berasal dari jalan Tunjungan membawa banyak polusi karena pada jalan ini sangat padat lalu lintasnya. Sehingga perlu pemberian vegetasi.
Angin dari arah barat akan terhalang oleh bangunan di sekitarnya
93 - Analisis Pencapaian
Pencapaian adalah salah satu hal terpenting dalam mendesain dan merencanakan sebuah bangunan. Hal ini disebabkan karena pencapaian adalah titik poin mudah dijangka atau tidaknya sebuah bangunan. Berikut beberapa alternatif pencapaian ME dan SE yang bisa diterapkan di bangunan kantor sewa dan mall elektronik ini.
ME pada Jl. Praban SE pada Jl. Tunjungan
(+) Merupakan jalan satu arah sehingga memudahkan untuk akses menuju ke dalam site
Merupakan jalan yang menuju ke arah jalan protokol, sehingga mudah untuk diakses.
(-) Kepadatan jalan yang terjadi di jalan Tunjungan dan Praban akan sedikit menyulitkan kendaraan untuk keluar masuk
ME pada Jl. Praban SE pada Jl. Tanjung Anom
(+) Akses dari Jl Tunjungan dan Jl Praban merupakan pintu masuk dan keluar sirkulasi utama karena mudah terlihat
SE yang direncanakan di Jl Tanjung Anom memiliki tingkat kepadatan lalu lintas yang tidak padat.
(-) Akses untuk servis tidak sama dengan akses dari sirkulasi bangunan. Sehingga perlu jalur khusus
Dari analisis pencapaian di atas maka dipilih opsi 2 sebagai pencapaian ME dan SE pada bangunan kantor sewa dan mall elektronik ini.
94 - Analisis Kebisingan Pada Tapak/ Site
Sebelah utara memiliki kepadatan dan keramaian lalu lintas yang cukup ramai dan polusi yang ditimbulkan cukup tinggi baik polusi udara maupun suara.
Sebelah Timur memiliki tingkat kebisingan yang tinggi karena merupakan jalan yang banyak dilalui oleh pengguna jalan untuk menuju pusat kota
Pada bagian selatan memiliki kebisingan yang rendah
Pada bagian barat juga memiliki tingkat kebisingan yang cukup rendah
Gambar 26 : Analisis kebisingan pada tapak
- Analisis Orientasi Bangunan
Orientasi bangunan berfungsi sebagai ekspos utama bangunan pada arah bebas. Berikut beberapa analisis penentuan orientasi bangunan :
95
Utara dan Timur merupakan area dengan view bebas dimana orang dapat melihat bangunan dengan leluasa. Sehingga ekspos bangunan akan ditempatkan di arah ini.
Barat dan Selatan memiliki arah pandang yang terbatas. Sehingga pada arah ini tidak dilakukan ekspos berlebih pada bangunan.
Gambar 27 : Analisis orientasi bangunan pada tapak
- Analisis Zoning Vertikal
Analisis zoning secara vertikal ini berfungsi untuk penentuan ruang serta penataan ruangan di dalam bangunan secara vertikal. Berikut adalah beberapa analisisnya :
Kondisi lingkungan site cukup ramai, lalu lintas padat dan kadar polusi tinggi, oleh karena itu lantai dasar dan 1 digunakan sebagai mall elektronik.
Untuk kegiatan perkantoran diletakkan di atas mall elektronik tersebut.
96 Analisa zoning horisontal adalah rangkuman dari beberapa analisis site sebelumnya. Analisis ini berfungsi sebagai penentuan peletakkan ruang yang ada di dalam bangunan secara horisontal. Berikut adalah analisisnya :
Arah Utara dan timur membutuhkan vegetasi sebagai barrier terhadap polusi udara dan suara
ME di jalan Tunjungan dan SE di Jl Praban
Zone Publik berada di Jl Tunjungan dan Jl Praban
Zone semi publik berada setelah zone publik dan berbatasan dengan zone privat
Orientasi utama di arah utara dan selatan
97 4.2.4 PENDEKATAN BENTUK RUANG & BANGUNAN
- Bentuk Bangunan
Bentuk dasar bangunan yang dipilih berdasarkan aspek tiga dimensinya sehingga tidak hanya berhenti pada bentuk 2 dimensi. Bentuk dasar tersebut antara lain :
Bentuk Bundar
Suatu sosok terpusat kea rah dalam, dan melindungi. Bangunan bundar melingkar tidak memiliki sisi gelap dan memungkinkan penetrasi sinar matahari yang tinggi dan memiliki segi aerodinamis yang baik dalam melewatkan angin pada posisi lengkungnya.
Bentuk Segitiga
Bersifat aktif, tajam dan mengaraj. Di satu sisi arah angin dapat diantisipasi dengan baik yaitu pada sisi tajamnya. Namun tidak bagi sisi yang lain. Kerugian yang paling menonjol yaitu peruangan interior tidak efisien.
98 - Bentuk Empat Persegi Panjang/ Kubus & Balok
Bentuk murni, stabil, dan massif. Bentuk persegi tidak memiliki arah yang menonjol dan berkesan monoton, Sedangkan keuntungannya adalah efisien ruang yang tinggi, kemudahan perancangan struktur dan utilitas.
- Bentuk Ruang/ Layout Ruang
Besar dan susunan organisasi menentukan layout perabot pada ruang serta menentukan layout ruang. Secara umum ada tiga layout yang dapat dijadikan standar dalam penyusunan ruang. Ketiga macam layour ruang tersebut adalah :
Cellular System
Pada umumnya bentuk bangunan memanjang dengan koridor memanjang sejajar dengan bentuk bangunan. Konfigurasi ini memungkinkan rancangan ruang-ruang privasi tinggi.
99
Group Space System
Sistem ini memiliki ruang-ruang dengan dimensi yang mampu menampung 5-15 karyawan. Pembagian ini umumnya diterapkan pada bangunan yang mempunyai kedalaman 15-20 m dari koridor ke dinding terluar bangunan. Konfigurasi ini cocok dengan arakter semiformal.
Landscape/ Open Play System
Sistem ini mempunyai susunan ruang yang fleksibel menurut kebutuhan pemakai dengan menggunakan sekat yang dapat terbuat dari partisi, furniture, maupun vegetasi sebagai penanda alur gerak sirkulasi dan lalu lintas kelompok atau unit kerja.