• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.

41

PAI yang hakikatnya merupakan sebuah proses, dalam perkembangannya juga dimaksudkan sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Berbicara tentang PAI dapat dimaknai dalam dua pengertian: pertama sebagai sebuah proses penanaman ajaran Islam, kedua sebagai bahan kajian yang menjadi materi proses itu sendiri.42

Pendidikan Agama Islam sering diartikan denagn pendidikan yang berdasarkan ajaran islam. Dalam pengertian lain bahwa Pendidikan Agama Islam adalah proses mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, dan tegap jasmaninya, sempurna dan bahagia, sempurna budi pekertinya akhlaknya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya, baik dengan lisan dan tulisan.43

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah swt, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan mahluk lain serta lingkungannya.44 Adapun ruang

lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok, yaitu:

42Depatermen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah Umum

(Jakarta: Direktora Jendral Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum,2004),h.2.

43

Heri Gunawan, op. cit., h.201.

44Ramayulis, Metode Pendidikan Agama Islam (Cet.V; Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h

a. Al-Qur’an dan Hadis

Yang paling prinsip dan mutlak tentang pengertian Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an itu wahyu atau firman Allah swt untuk menjadi petunjuk dan pedoman bagi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Dan bukanlah Al-Qur’an itu kitab karangan Muhammad atau ciptaannya, atau pikiran- pikiran serta pendapat Muhammad, yang sering diistilahkan dengan Muhammadisme.45

Maka para ulama berusaha betul untuk memberikan pengertian Al- Qur’an dengan cara dan menurut mereka sejelas dan seterang mungkin, sehingga tidak terjadi kesalahan mengenai pengertiannya, sebab Al-Qur’an adalah benar-benar dari Allah swt, dan bukan buatan manusia ataupun malaikat. Selanjutnya, perlu diketahui bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw yang terbesar ternyata tidak ada seorang manusia pun yang mampu membuat atau menulis yang semisal Al-Qur’an tersebut.

Uraian atau penjelasan tentang Hadis baik dilihat dari arti segi bahasa maupun arti istilah adalah sebagai berikut: menurut bahasa, Hadis mempunyai tiga arti. Pertama, Hadis berarti al-jadid yaitu sesuatu yang baru. Kedua, Hadis berarti

al-qarib yaitu sesuatu yang dekat atau belum lama terjadi. Ketiga, Hadis berarti

al-khabar yaitu suatu berita. Kemudian menurut istilah, pengertian Hadis oleh

45Chabib Thoha, Metodologi Pengajaran Agama (Cet.II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar

para ahli muhaddisin adalah perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan serta hal ihwal nabi Muhammad saw.46

Yang dimaksud dengan ihwal disini, ialah segala pemberitaan mengenai Nabi Muhammad saw yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, serta kebiasaan-kebiasaannya. Jadi, pemberitaan yang dimaksud adalah mengetengahkan sesuatu mengenai Nabi Muhammad saw yang disampaikan oleh sumber informasi dari selain Nabi baik dari sahabat maupun tabiin.

b. Aqidah

Secara bahasa (etimologi) kata Aqoid adalah jamak dari Aqidah yang berarti kepercayaan, maksudnya adalah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang Islam, artinya mereka menetapkan atas kebenarannya seperti disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.47

Aqidah islamiyah selalu berkaitan dengan iman, seperti: iman kepada Allah swt, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir. Untuk itu Allah swt memerintahkan semua umat manusia agar menggunakan akal pikirannya dengan sebaik-baiknya dan memperhatikan serta merenungkan segala ciptaan-Nya.

c. Syari’ah

Syari’ah adalah segala aturan yang ditetapkan Allah swt untuk kepentingan hamba-Nya, yang disampaikan oleh para Nabi dan oleh Nabi Muhammad saw, baik berkenaan dengan perbuatan lahir manusia yang disebut

46Ibid., h.60-61. 47Ibid., h.88.

amaliyah praktis dan kemudian disusun menjadi ilmu fiqih, maupun yang berkenaan dengan persoalan aqidah yang disebut i’tiqadiyah dan asliyah yang disusun menjadi ilmu kalam, atau yang berkenaan dengan aturan tingkah laku manusia yang disusun menjadi ilmu akhlak dan adab.

Syariat sebagai suatu ketetapan hukum yang ditetapkan Allah swt dengan disertai dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karenanya sumber

hukum syari’ah itu dalil-dalilnya ada yang bersifat qat-i (jelas dan tegas), dan ada juga yang bersifat danni (kurang tegas dan kurang jelas), maka ruang lingkup

pembehasan syari’ah secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1) Hukum-hukum yang telah ditetapkan langsung oleh Al-Qur’an dan Hadis secara jelas. Porsi ini lebih sedikit, tetapi urgensinya sangat besar dan merupakan dasar yang kokoh untuk bangunan syari’ah seluruhnya.

2) Hukum yang ditetapkan melalui ijtihad oleh para ulama dengan merujuk pada ketentuan Al-Qur’an dan Hadis, atau merujuk pada sumber hukum lainnya seperti ijma’ dan qiyas. Bagian kedua ini yang paling banyak pembahasan hukum islamnya dan merupakan kawasan kajian ilmu fiqih. Melalui dua jalur besar ini, kemudian secara rinci para ulama membagi kedalam beberapa cabang pembahasan sesuai dengan obyeknya, yaitu: hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya seperti: salat, puasa, haji, hukum-hukum yang mengatur kerumah- tanggaan seperti: perkawinan, talaq, rujuk, nafkah, nasab dan waris, hukum-hukum yang bertalian dengan hubungan antar manusia satu dengan lainnya baik yang menyangkut harta kekayaan maupun hak-hak, hukum-

hukun yang mengatur politik kenegaraan maupun peradilan dan rakyatnya secara timbal balik, hukum-hukum yang mengatur pidana terhadap penjahat, maupun mengatur ketertiban dan ketentraman umum, hukum- hukum yang mengatur hubungan negara dengan negara lain dan hukum- hukum yang mengatur norma-norma.48

d. Akhlak

Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan akhlak menurut istilah adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Selanjutnya perbuatan manusia yang dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya jika perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga menjadi kebiasaan dan perbuatan-perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi jiwanya (bukan karena ada tekanan dari luar).

Sesuai dengan ajaran agama tentang adanya perbedaan manusia dalam segala seginya, maka menurut Moh Ibnu Qoyyim, ada dua jenis akhlak manusia, yaitu:

1) Akhlak dlarury, yaitu akhlak yang asli atau otomatis yang merupakan pemberian Allah swt secara langsung, tanpa memerlukan latihan, kebiasaan dan pendidikan. Akhlak ini hanya dimiliki manusia-manusia pilihan Allah swt, keadaannya terpelihara dari perbuatan-perbuatan

maksiat dan selalu terjaga dari larangan Allah swt, yaitu para Nabi dan Rasul-Nya.

2) Akhlak Mukhtasabah, yaitu akhlak atau budi pekerti yang harus dicari dengan jalan melatih, mendidik dan membiasakan kebiasaan yang baik serta cara berpikir yang tepat. Tanpa dididik dan dibiasakan akhlak ini tidak akan terwujud. Akhlak ini yang dimiliki oleh sebagian besar manusia. Usaha mendidik dan membiasakan kebajikan sangat dianjurkan, bahkan diperintahkan dalam agama, walaupun tadinya kurang adanya rasa tertarik, tetapi apabila terus menerus dibiasakan, maka kebiasaan ini akan mempengaruhi sikap batinnya.

e. Tarikh

Tarikh atau sejarah dianggap salah satu bidang studi pendidikan agama. Yang dimaksud dengan sejarah adalah studi tentang riwayat hidup Rasulullah saw, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada murid-murid sebagai contoh teladan yang utama dari tingkah laku manusia yang ideal, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.

Sejarah Nabi saw, merupakan riwayat yang terpenting, karena beliau adalah terjemahan dari ajaran Islam dan merupakan contoh yang tetap hidup bagi orang Islam disetiap tempat dan masa. Sejarah beliau dimulai dari masa kelahiran sampai dengan masa kenabian, walaupun disajikan secara ringkas ini merupakan pelengkap dari sejarah beliau sejak dilahirkan sampai beliau menjupai ajalnya. Dengan demikian maka pengetahuan tentang riwayat hidup beliau menjadi sempurna.

Penyajian seperti inilah yang telah ditempuh ahli-ahli sejarah, cara ini mempunyai arti tersendiri lebih-lebih apabila dlihat bahwa sebagian peristiwa yang terjadi pada diri Nabi dan kegiatan-kegiatan yang beliau lakukan pada masa sebelum kenabian, mempunyai kaitan dengan ajaran Islam. Disamping hal-hal tersebut merupakan alasan yang kuat untuk menolak tuduhan-tuduhan palsu yang dilontarkan kepada beliau dari orang-orang yang tidak menyukai dan mempercayai kenabiannya.

Membaca sejarah hidup Nabi dengan khusu’ dan tunduk kepada Allah swt dianggap ibadah, tetapi bukanlah membaca cerita pada peringatan hari-hari maulid yang dilakukan orang-orang dewasa ini. Mencintai Nabi Muhammad saw, bukanlah dengan menggubah syair-syair sanjungan kepada beliau terhadap sifat- sifatnya yang luar biasa dibacakan pada waktu-waktu tertentu, ataupun gubahan- gubahan syair-syair yang aneh, apakah pembaca merasa terharu atau tidak, tetapi hubungan muslim dengan rasulnya yang mulia ini adalah lebih mendalam dan lebih kokoh lagi daripada hubungan semua yang mendatangkan dampak negatif terhadap agama.

Ungkapan-ungkapan yang menyatakan hubungan muslim dengan Nabi mereka semacam ini, tidaklah mereka ucapkan kecuali pada hari mereka melupakan isi ajaran Nabi. Mereka hanya menyamakan dengan kulit dan bentuk lahirnya saja tanpa memperhatikan isinya. Oleh karena aspek kulit dan bentuk lahir sangat terbatas dalam Islam, maka mereka telah terkecoh dalam menciptakan bentuk-bentuk lain yang lebih mudah buat mereka. Sesungguhnya pekerjaan yang membutuhkan tenaga adalah pekerjaan kepada isi yang telah mereka buang.

Orang Islam yang tidak menghayati sunnah Rasulullah dalam hati sanubarinya, tidak mau mengikuti jejak amal perbuatan dan pemikiran beliau tentu tidak akan berfaedah baginya ucapan salawat beribu kali siang dan malam.

Berdasarkan uraian tersebut, maka sejarah Nabi dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, riwayat hidup beliau sebelum Nubuwwah

yakni sejak beliau lahir sampai masa kenabiannya. Kedua, sejarah beliau sejak masa kenabian sampai beliau wafat.

Achmadi mengemukakan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan subjek didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran islam. Implikasi dari pengertian ini, pendidikan agama islam merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan islam. Dari batasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang peserta didik dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam.49

Pendidikan agama islam adalah suatu usaha sadar untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa memahami ajaran islam secara menyeluruh (kaffah). Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.50

49Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Aditya

Media,1992),h. 20.

50Zakiyah Daradjat, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental (Jakarta: Gunung

Dalam membina peserta didik maka pendidik mampu memberikan keteladan, Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Ahzab/33: 21

          …  Terjemahnya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik...51

Dalam ayat ini mengemukakan maksud keteladanan pada diri Rasulullah saw. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah keteladanan. kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani oleh setiap orang.52

Dalam proses perkembangan anak, terdapat suatu fase yang dikenal dengan fase imitasi. pada fase ini, seorang anak selalu meniru dan mencontoh orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tuanya atau gurunya. Metode Keteladanan ini sangat cocok diterapkan pada fase ini. Dalam pendidikan, orang tua dan guru tidak cukup hanya dengan memberi nasehat dalam arti menyeluruh, tetapi seharusnya memberikan keteladanan, misalnya menyuruh anak ke mesjid, sementara ia tidak pernah ke mesjid. tidak satunya kata dan perbuatan, menjadikan orang tua/guru tidak memiliki wibawaa sebagai pendidik, dan menjadikan anak bingung, karena apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang didengarnya.

51Depertemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemahannya (Jakarta : PT Surya Prisma

Sinergi,2012),h.421.

52

Mufdil Tuhri, Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang

berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat

23),http://mufdil.wordpress.com/2013/10/03/konsepsi-pendidikan-karakter-dalam-membentuk- insan-muslim-yang-berkualitas-tinjauan-surah-al-isra-ayat-23/, Diakses pada hari rabu, tanggal 24 september 2014, pukul 01:25

Menanamkan Sikap, Perilaku, dan Tutur Kata yang Mulia Kepada Anak, dalam hal ini terdapat pada Q.S Al Isra/17: 23-24

                                                 Terjemahnya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.53

Surat Al-Isra ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan karakter. Karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral, budipekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Kembali kepada pengertian dari Surah Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa yang pertama Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi- Nya.yang kedua, kita harus berbakti kepada orang tua. Lalu pada ayat 24 disebutkan bahwa anak hendaknya mendoakan kedua orang tuanya.

Dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa ketika kita menghargai dan menyayangi orang tua kita dengan baik maka akan menumbuhkan akhlak serta moral yang baik pula bagi anak sedangkan jikalau kita acuh maka akan timbuh

akhlak dan moral yang tidak baik. Dengan kata lain, hal ini sangat berpengaruh dalam pendidikan karakter. Antara orangtua sebagai pendidik dan anak. Segala sesuatu yang diajarkan dengan baik pada mulanya akan menanamkan karakter yang baik pula pada anak. Untuk itu berbakti kepada orang tua merupakan suatu cara yang harus dilakukan.

Definisi pendidikan agama islam secara lebih rinci dan jelas, tertera dalam kurikulum pendidikan agama islam sebagai upaya sadar dan terencana dan menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalammengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hinggah terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

2. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu, fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu.54 Dasar pendidikan agama islam dapat ditinjau dari segi

yuridis/hukum dan dasar religius.

a. Dasar yuridis/hukum, yang tercakup dalam segi ini adalah:

1) Landasan Idiil pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya

kepada Tuhan Yang Maha Esa atau dengan kata lain harus beragama. Untuk mewujudkan manusia yang mampu mengamalkan ajaran agamanya sangat diperlukan pendidikan agama karena pendidikan agama mempunyai tujuan membentuk manusia bertaqwa kepada Allah swt.

2) Landasan Struktural/konstitusional yakni UUD 1945 dalam Bab XI Pasal 29 ayat 1 dan 2 berbunyi:

a) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

b) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.55

3) Landasan Operasional, yakni dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia, yakni Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pendidikan agama secara langsung dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar sampai Universitas-universitas negeri.

b. Dasar Religius

Dasar pendidikan Islam adalah segala ajarannya yang bersumber dari Al-

Qur’an, sunnah dan ijtihad (ra’yu). Dasar inilah yang membuat pendidikan Islam menjadi ada, tanpa dasar ini tidak akan ada pendidikan Islam.

55Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen (Cet.II; Jakarta: Sinar

1) Al-Qur’an

Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Didalamnya terkandung ajaran pokok sangat penting yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Sebagaimana Firman Allah swtdalam QS. At-Takwir/81: 19

     Terjemahnya:

Sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).56

Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut Aqidah, dan yang berhubungan dengan amal yang disebut dengan Syari’ah. Istilah-istilah yang sering biasa digunakan dalam membicarakan ilmu tentang Syari’ah adalah:

a) Ibadah untuk perbuatan yang langsung berhubungan dengan Allah swt b) Mu’amalah untuk perbuatan yang berhubungan selain dengan Allah swt c) Akhlak untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti dalam

pergaulan.

Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk

membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup mu’amalah. Pendidikan

sangat penting karena ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia baik pribadi maupun masyarakat.57

2) As-Sunnah

As-Sunnah ialah segala yang dinukilkan dari Nabi saw baik berupa perkataan, perbuatan ataupun pengakuan, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi saw menjadi Rasul maupun sesudahnya.58

Oleh karena itu sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim. Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya, mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk sunnah yang berkaitan dengan pendidikan.

3) Ijtihad

Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuwan syari’at Islam untuk menetapkan/menetukan sesuatu hukum syari’at Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-

Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-

Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal dari para ahli pendidikan Islam. Teori- teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran Islam dan

57

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Cet.V; Jakarta: Bumi Aksara, 2004),h.19-20.

58Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar ilmu Al-Qur’an dan Hadits (Cet.IV;

kebutuhan hidup.59 Itjihad memang sangat diperlukan, dalam artian dalam

mengembangkan teori-teori pendidikan islam itu sendiri harus memiliki dasar hukum agama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan Pendidikan Agama Islam, secara etimologi, tujuan adalah arah, maksud atau sasaran. Sedangkan secara terminologi, tujuan berarti sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai.60

Tujuan pendidikan agama islam yaitu peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana di maksud oleh Garis Besar Haluan Negara (GBHN), hanya dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif, yang pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara, yang sekaligus juga menjadi tujuan pengajaran agama, yaitu: membina manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama islam dengan baik dan sempurna, sehinggah tercermin pada sikap dan tindakan peda seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagianm dan kejayaan hidup di dunia dan akhirat.61

Dibawah ini disebutkan beberapa tujuan pendidikan Agama Islam dalam segala tingkat pengajaran umum adalah sebagai berikut:

a. Menanamkan perasaan cinta dan taat kepada Allah dalam hati anak-anak yaitu dengan mengingatkan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya.

59Zakiah Daradjat, op. cit., h.22.

60Poerwadarminta W. J. S., Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,

2006),h.1094.

61Zakiah Daradjat, dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Cet.I ; Jakarta: Bumi

b. Menanamkan i’tikad yang benar dan kepercayaan yang betul dalam dada anak-anak.

c. Mendidik anak-anak dari kecilnya, supaya melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya dengan mengisi hati mereka agar takut kepada Allah.

d. Mendidik anak-anak dengan membiasakan akhlak yang mulia dan kebiasaan yang baik.

e. Mengajarkan anak-anak agar mengetahui macam-macam ibadah yang wajib dikerjakan dan cara melakukannya, serta mengetahui hikmah-

Dokumen terkait