• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN BERBAS. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN BERBAS. pdf"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN BERBASIS

KARAKTER PADA MATA PELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

DI SMA NEGERI 1 MANADO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam

Oleh:

ABDUL MUDTHALIB DAUD NIM. 11.2.3.015

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

MANADO

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa maju pendidikan yang

telah dicapai. Dapat terlihat bahwa pendidikan memberikan kontribusi yang besar

bagi bangsa terkait dengan perannya sebagai wahana membentuk karakter bangsa.

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 1

disebutkan pengertian pendidikan yaitu:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1

Manusia membutuhkan pendidikan untuk kehidupannya, karena dengan

adanya pendidikan manusia dapat mengembangakan potensi diri dan

mengembangkan kepribadian melalui proses pembelajaran sehinggah dapat

dikenal dan diakuai oleh masyarakat. Inti dari kegiatan pendidikan adalah

interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan

pendidikan. Interaksi ini dapat dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun

masyarakat. Perbedaan yang mendasar antara ketiga model interaksi pendidikan

tersebut terletak pada adanya rancangan atau kurikulum formal dan tertulis yang

akan disampaikan pada peserta didik.

1Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

(3)

Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi

tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana

pendidikan, memberikan podoman dan pegangan tentang jenis lingkup, dan urutan

isi, serta proses pendidikan.2 Dengan demikian, kurikulum memiliki kedudukan

yang penting baik dalam pendidikan formal maupun non formal karena

memberikan arahan terjadi proses pendidikan.

Kurikulum sebagai rancangan segala kegiatan yang mendukung

tercapainya tujuan pendidikan tetap memiliki peran yang penting, setidaknya

dalam mewarnai kepribadian seseorang. Begitu pula dengan pendidikan adalah

salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu bangsa bisa dilihat melalui

sejauh mana komitmen masyarakat dalam suatu bangsa menjalankan pendidikan

nasional. Pendidikan Nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan

sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua

warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga

mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah.

Kurikulum 2013 sendiri merupakan sebuah kurikulum yang

mengutamakan pada pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, dimana

peserta didik dituntut untuk paham atas materi yang diajarkan oleh pendidik, aktif

dalam proses berdikusi dan presentasi serta memiliki sopan santun dan sikap

disiplin yang tinggi.

Sampai saat ini Indonesia masih dihadapkan dengan sejumlah

permasalahan, khususnya permasalahan yang berkaitan dengan moral. Sehingga

2Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek (Bandung:

(4)

sering mendengar dan melihat dari pemberitaan baik media elekronik televisi dan

radio ataupun internet dan surat kabar, dimana terdapat kejadian yang semestinya

akan mengusik para pendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme disemua

lapisan jabatan, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, sampai pada perkelahian

antar pelajar.

Generasi muda sekarang ini, ada indikasi kuat mengenai hilangnya

nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa Indonesia, seperti kejujuran, kesantunan,

dan kebersamaan cukup menjadikan keprihatinan bersama. Harus ada usaha untuk

menjadikan nilai-nilai itu kembali menjadi karakter yang membanggakan di

hadapan bangsa lain.3 Seperti sabda Nabi Muhammad saw yang berbunyi.

كل ام ْ ع ي ث َدح

Dan hadis dari Malik, sesungguhnya ia menyampaikan bahwa sesungguhnya rasulullah saw. bersabda aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.4

Salah satu upaya kearah itu adalah memperbaiki sistem pendidikan yang

harus menitikberatkan pada pendidikan karakter. Pendidikan yang membangun

nilai-nilai moral atau karakter dikalangan peserta didik harus selalu mendapatkan

perhatian yang lebih baik.

3Ja’far Amir,

Tuntunan Akhlak (Yogyakarta: Kota Kembang, 1973),h.6.

4Yahya bin Yahya bin Katsir Al Laitsy Al Andalusy, Al Muwatta, (Cet; I, Bairud : Dairul

(5)

Dan tentu juga ada deretan panjang persoalan pendidikan lainya dari

bangsa ini yang belum mencapai tujuan Pendidikan Nasional, menurut

Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.5

Dalam undang-undang tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan

mendorong terwujudnya generasi penerus bangsa yang memiliki karakter yang

religius, berakhlak mulia, cakap, mandiri, dan demokratis. Seiring dengan

keadaan yang ada, lembaga pendidikan sebagai lembaga akademik dengan tugas

utamanya menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan ilmu,pengetahuan,

teknologi, dan seni. Dimana dalam hal ini tujuan penyelenggaraan pendidikan,

sejatinya tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga membentuk

kepribadian, kemandirian, keterampilan sosial, dan karakter.

Oleh sebab itu, berbagai program dirancang dan diimplementasikan untuk

mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, terutama dalam rangka pembinaan

karakter. Secara akademis, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan

nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, atau

pendidikan akhlak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik

untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik , dan

mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

(6)

Karena itu, “muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi

moral reasoning, moral feeling, and moral behavior”.

Secara praktis, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman

nilai-nilai kebaikan kepada siswa di lingkungan sekolah dengan meliputi komponen

pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan

nilai-nilai tersebut, baik dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (YME),

sesama manusia, lingkungan, maupun nusa dan bangsa.6 Hal ini sejalan dengan

hadis Rasulullah saw.7

ْ لس ْي ا ْ ع رْ ع ْب دَ حم ْ ع ، دْي س ْب يْحي ا ث ، لبْ ح ْب د ْحا ا ث َدح

لاق رْي ر با ع ،

:

مَلس ْيلع ه َلص ه لْ سر لاق

ا ْيا ي مْؤ ْلا ل ْكا

اًقلخ م ْحأاً

Artinya :

Berbicara kepada kami Ahmad bin Hambal berbicara Yahya bin Sa’id, dari

Muhammad bin Umar, dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (budi pekerti) diantara mereka.

Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang dilakukan secara sistematis

dalam membimbing anak yang beragama Islam, sehingga ajaran benar-benar

diketahui, dimiliki, dan diamalkan oleh peserta didik baik tercermin dalam sikap,

tingkah laku maupun cara berfikirnya. Melalui pendidikan Islam terjadilah proses

pengembangan aspek kepribadian anak, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan

aspek psikomotorik. Sehingga ajaran Islam diharapkan akan menjadi bagian

6Ja’far Amir, op.cit., h.7.

7Al Imam Hafidz Abi Daud Suleman bin Al Asy-asy Al Sajastany, Sunan Abu Daud, Jus

(7)

integral dari pribadi anak yang bersangkutan. Dalam arti segala aktifitas anak

akan mencerminkan sikap islamiyah.

Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut mulai

dirintis melalui pendidikan karakter. Upaya yang bisa dilakukan untuk pembinaan

karakter peserta didik di sekolah di antaranya adalah dengan memaksimalkan

fungsi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah, sehingga dapat

dijadikan basis untuk pembinaan karakter peserta didik tersebut. Pendidik mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam bersama-sama para pendidik yang lain dapat

merancang berbagai aktivitas sehari-hari bagi peserta didik di sekolah yang

diwarnai nilai-nilai ajaran beragama. Diharapkan peserta didik terbiasa untuk

melakukan aktivitas-aktivitas positif yang pada akhirnya dapat membentuk

karakternya.

Atas dasar tujuan pendidikan nasional maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang pendidikan berbasis karakter melalui proses belajar

mengajar di SMA Negeri 1 Manado adalah salah satu sekolah yang sudah

menerpakan kurikulum 2013 khususnya pada mata pelajaran pendidikan agama

islam, dan dari kurikulum 2013 ini yang di implementasikan dalam kegiatan

pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler mendapatkan hasil yang baik dalam

pembentukan karakter peserta didik namun tetap memiliki hambatan-hambatan

dalam implementasi tersebut.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, mendorong penulis untuk

mengajukan skripsi dengan judul “Implementasi Kurikulum Pendidikan Berbasis

(8)

B. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka penelitian akan

mengacu pada rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi kurikulum pendidikan berbasis karakter pada

mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Manado?

2. Apa Kesulitan/hambatan dalam Implementasi kurikulum pendidikan

berbasis karakter pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Manado?

3. Bagaimana solusi dalam implementasi kurikulum pendidikan berbasis

karakter pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Manado?

Agar permasalahan yang dikaji dapat terarah untuk menghindari

penyimpangan dari masalah yang diteliti, maka perlu adanya pembatasan masalah.

Mengingat keterbatasan kemampuan penulis, masalah dititik beratkan pada

implementasi kurikulum pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran

pendidikan agama islam di SMA N 1 Manado khusunya siswa kelas X.

C. Pengertian Judul

Untuk menghindari kesalapahaman dalam penafsiran judul yang dimaksud

dalam Skripsi ini, maka terlebih dahulu akan diberikan beberapa batasan

pengertian atau kata kunci secara operasional, sebagai berikut:

1. Implementasi adalah suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau

(9)

baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan

sikap.8

2. Kurikulum dalam bahasa arab, sering disebut dengan istilah al-manhaj,

berarti jalan yang terang yang dilalui manusia dalam bidang

kehidupannya”. Pengertian kurikulum jika dikaitkan dengan pendidikan

berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik dengan peserta didik untuk

mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai.9

3. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan

adalah “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok

orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

latihan, proses, perbuatan, cara mendidik.”10

Kedewasaan yang dimaksud

adalah harus dapat menentukan diri sendiri dan bertanggung jawab

sendiri.11

4. Pendidikan karakter menurut Lickona yang dikutip dalam buku Heri

Gunawan adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang

melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan

nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab,

menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Karakter erat

8Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2007),h.211.

9Heri Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi (Bandung:

Alfabeta,2012),h.105.

10Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.II; Jakarta:

Balai Pustaka,2002),h.263.

11Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosda

(10)

kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah

laku.12

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dipahami bahwa maksud judul

skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi kurikulum

pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran pendidikan agama islam dengan

lokasi penelitian di SMA Negeri 1 Manado.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui implementasi kurikulum pendidikan berbasis karakter

pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Manado.

b. Untuk mengetahui kesulitan/hambatan dalam pelaksanaan kurikulum

pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

di SMA Negeri 1 Manado.

c. Untuk mengetahui solusi dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan

berbasis karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA

Negeri 1 Manado.

2. Kegunaan Penelitian

a. Kegunaan secara teoritis

Pada tataran teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan

manfaat-manfaat sebagai berikut:

12

(11)

1) Memperluas pengetahuan dan wawasan tentang implementasi dalam

kurikulum pendidikan berbasis karakter, baik dalam pelaksanaan,

keunggulan, dan problem-problem pelaksanaannya.

2) Mampu memberikan informasi yang berkaitang dengan upaya-upaya

yakni faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi

kurikulum pendidikan berbasis karakter terlebih khusus bagi pendidik

dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam.

b. Aspek Praktis

Pada tataran praktis penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat yang

besar bagi:

1) Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dan

pembenahan sehingga terciptannya suasana baru yang lebih kondusif.

2) Pendidik bidang studi Pendidikan Agama Islam, yakni mengetahui

usaha-usaha dalam implementasi kurikulum pendidikan berbasis

karakter.

3) IAIN Manado, sebagai bahan kajian keilmuan dan pengembangan

kajian khususnya bidang kebijakan pendidikan.

4) Penulis dan pembaca, dapat mengetahui implementasi kurikulum

pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama

(12)

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Kurikulum 2013

1. Pengertian Kurikulum 2013

Ditinjau dari asal kata, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang

mulanya digunakan dalam bidang olah raga, yaitu kata curere, yang berarti jarak

tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh

mulai dari start sampai ke finish. Atas dasar tersebut pengertian kurikulum

diterapkan dalam bidang pendidikan.13

Dalam bahasa Arab, kurikulum disebut dengan istilah al-manhaj, berarti

jalan yang terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidupannya.14 Maka dari

pengertian tersebut, kurikulum jika dikaitkan dengan pendidikan yaitu jalan terang

yang dilalui oleh pendidik dengan peserta didik untuk mengembangkan

pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai.15

Pengertian kurikulum tertuang dalam pasal 1 ayat 19 Undang-undang

Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah “Seperangkat rencana dan

peraturan mengenai tujuan isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan

sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

13Subandija, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum ( Cet.II; Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada,1996),h.1.

14Heri Gunawan, Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung:

Alfabeta,2012),h.1.

15Heri Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi (Bandung:

(13)

pembelajaran tertentu”.16 Pendapat Rusly Ahmad, kurikulum adalah

seperangkat pengalaman yang mempunyai arti dan terarah, untuk mencapai tujuan

tertentu dibawah pengawasan sekolah.17 Kurikulum merupakan pedoman dasar

dalam proses belajar dan mengajar didunia pendidikan.18

Senada dengan pendapat ahli di atas, “Kurikulum dianggap identik dengan

coure of study (rencana pelajaran) yang terdiri dari segala kegiatan dan

pengalaman belajar yang direncanakan dan diorganisir sekolah dalam rangka

mencapai tujuan yang diterapakan”.19 Kurikulum mempunyai makna yang cukup

luas, mencangkup semua pengalaman yang dilakukan peserta didik, dirancang,

diarahkan, diberikan bimbingan, dan dipertanggungjawabkan oleh pihak sekolah.

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang

kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan

dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas).

Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan

berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama,

sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap

memasuki pendidikan dasar.

16

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2013),h.4.

17Rusly Ahmad, Perencanaan dan desain kurikulum dalam pendidikan Jasmani (Jakarta

: Dekdipbud, 1989),h.6.

18Idi Abdullah, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik (Yogyakarta: AR-ruzz,

2007),h.1.

19Departemen Agama RI. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada SD

(14)

Dapat dikatakan bahwa kurikulum bukan sekedar mata pelajaran tetapi

semua pengalaman yang dilakukan dan digunakan sebagai landasan atau pijakan

dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan

pendidikan yang diinginkan. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan

kurikulum yang dinamis, flesibel dan sesuai dengan perkembangan zaman dan

tuntunan kebutuhan masyarakat.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru yang mulai diterapkan

pada tahun ajaran 2013 sampai sekarang. Kurikulum ini adalah pengembangan

dari kurikulum yang telah ada sebelumnya, baik dalam kurikulum Berbasis

Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 maupun Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan pada tahun 2006. Hanya saja yang menjadi titik tekan pada

Kurikulum 2013 adalah adanya peningkatan soft skills dan hard skills yang

meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kemudian,

kedudukan kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah

menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Selain itu, pembelajaran

lebih bersifat tematik integratif dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian

dapat dipahami bahwa kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang

dikembangkan untuk meningkatkan dan menyimbangkan kemampuan soft skills

dan hard skills yang berupa sikap, ketrampilan dan pengetahuan.20

Sehingga dalam konteks ini, kurikulum 2013 lebih menanamkan

nilai-nilai yang tercermin pada sikap dan keterampilan yang diperoleh peserta didik

20 M Fadillah, Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/Mi, SMP/MTs, &

(15)

melalui pengetahuan dibangku sekolah. Dengan kata lain, antara soft skills dan

hard skills dapat tertanam secara seimbang, berdampingan, dan mampu

diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kurikulum 2013,

harapanya peserta didik dapat memiliki kompetensi sikap, kepribadian, dan

pengetahuan yang meningkat dan berkembang sesuai dengan jenjang pendidikan

yang ditempuhnya sehingga akan berpengaruh pada kesuksesan dalam kehidupan

selanjutnya.

2. Tujuan dan Fungsi Kurikulum 2013

Mengenai tujuan dan fungsi kurikulum 2013 secara spesifik mengacu pada

pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa fungsi kurikulum ialah

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sementara tujuannya, yaitu

untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman

dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta

bertanggung jawab.21

Mengenai tujuan kurikulum 2013, secara khusus dapat diuraikan sebagi

berikut :22

21

Undang-undang Sisdiknas Nmor 20 tahun 2003, op. cit., h.5.

22

(16)

1. Meningkatkan mutu pendidikan dengan menyimbangkan soft skills dan

hard skills dengan melalui kemampuan sikap, keterampilan, dan

pengetahuan dalam rangka menghadapi tantangan global yang terus

berkembang.

2. Membentuk dan meningkatkan sumber daya manusia yang produktif,

kreatif, dan inovatif sebagai modal pembangunan bangsa dan Negara.

3. Meringankan pendidik dalam menyampaikan meteri dan menyiapkan

administrasi mengajar, sebab pemerintah telah menyiapkan semua

komponen kurikulum beserta buku teks yang digunakan dalam proses

pembelajaran.

4. Meningkatkan peran pemerintah pusat dan daerah serta warga

masyarakat serta seimbang dalam menentukan dan mengendalikan

kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan.

5. Meningkatkan persaingan yang sehat antara satuan pendidikan yang

akan dicapai. Sebab sekolah diberikan keleluasaan untuk

mengembangkan kurikulum 2013 sesuai dengan kondisi satuan

pendidikan, kebutuhan peserta didik dan potensi daerah.

Tujuan-tujuan tersebut merupakan analisis yang didasarkan pada

pengembangan kurikulum 2013 yang disosialisasikan oleh Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan melihat beberapa tujuan kurikulum 2013

diatas dapat dipahami bahwa secara umum tujuan tersebut hampir sama dengan

tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Hanya saja pada kurikulum 2013

(17)

meningkatkan hard skills dan soft skills peserta didik secara seimbang dan

berkelanjutan.23

Sehingga dapat dipahami bahwa tujuan dari kurikulum 2013 ialah

membentuk peserta didik baik dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam

membentuk sumber daya manusia yang kreatif, produktif dan inovatif, sehingga

tercapainya fungsi kurikulum yaitu mengembangkan kemampuan yang ada dalam

diri peserta didik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam membentuk

watak yang bermartabat dalam mencerdakan kehidupan bangsa.

Konsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori

kurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum,

kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem dan sebagai bidang studi.

Konsep pertama, kurikulum sebagai substansi, suatu kurikulum dipandang

orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau

sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat

menunjuk pada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar,

kegiatan belajar mengajar, jadwal dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat

digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara

penyusun kurikulum dan pemegang kebijakan pendidikan dengan masyarakat.

Suatu kurikulum juga dapat mencangkup lingkup tertentu, suatu sekolah,

kabupaten, propinsi ataupun seluruh Negara.

Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu sistem yaitu sistem

kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem

(18)

pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup

struktur personalia dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun suatu kurikulum,

melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari suatu sistem

kurikulum adalah tersusunya suatu kurikulum dan fungsi dari sistem kurikulum

adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis.

Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi

kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan

dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan

ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang

kurikulum mempelajaari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi

kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan

hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.24

3. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013

Prinsip-prinsip yang dijadikan pedoman dalam pengembangan Kurikulum

2013 ini sama seperti prinsip penyusunan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan.

Sebagaimana telah disebutkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi

Kurikulum 2013, berikut.

1. Peningkatan Iman, Takwa dan Akhlak Mulia

24Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek (Bandung:

(19)

Iman, takwa dan akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian

peserta didik secara utuh.

2. Kebutuhan Kompetensi Masa Depan

Kemampuan peserta didik diperlukan, yaitu antara lain kemampuan

berkomunikasi, berfikir kritis, dan kreatif dengan mempertimbangkan

nilai dan moral pancasila agar menjadi warga Negara yang demokratis

dan bertanggung jawab, toleran dalam keberagaman, mampu hidup

dengan masyarakat yang global, memiliki minat luas dalam kehidupan

dan kesiapan untuk bekerja, kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya,

dan peduli terhadap lingkungan. Kurikulum harus mampu menjawab

tantangan ini sehingga perlu mengembangkan kemampuan-kemampuan

ini dalam proses pembelajaran.

3. Peningkatan Potensi, Kecerdasan, dan Minat Sesuai Dengan Tingkat

Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik.

Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat

manusia secara holistik yang memungkinkan diri dari (efektif, kognitif,

psikomotorik) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum

disusun dengan memrhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat,

kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan kinestik peserta

didik.

4. Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkungan

Derah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan

(20)

yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup

sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat keragaman tersebut untuk

menghasilkan lulusan yang relevan dengan dengan kebutuhan

pengembangan daerah.

5. Tuntunan Pengembangan Daerah dan Nasional

Dalam daerah otonomi dan disentralisasi, kurikulum adalah suatu media

pengikat dan pengembang keutuhan bangsa yang dapat mendorong

partisipasi masyarakatdengan tetap mengedepankan wawasan nasional.

Untuk itu, kurikulum perlu memperhatikan keseimbangan antara

kepentingan daerah dan nasional.

6. Tuntunan Dunia Kerja

Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya

peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan

hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk

membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting

terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak

melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

7. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni

Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa

masyarakat berbasis pengetahuan di mana Ilmu Pengetahuan, Teknologi

dan Seni (IPTEKS) sangat perperan sebagai penggerak utama perubahan.

Pendidikan harus terus-menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian

(21)

sehingga setiap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena

itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan

berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,

teknologi dan seni.

8. Agama

Kurikulum dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman, takwa

serta akhlak mulia dan tetap memelihara dan kerukunan antar umat

beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata pelajaran ikut

mendukung peningkatan, iman, takwa dan akhlak mulia.

9. Persatuan Nasional dan Nilai Kebangsaan

Kurikulum diarahkan untuk mengembangkan karakter dan wawasan

kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting upaya

memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, kurikulum harus

menumbuhkembangkan wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan

nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI.25

Para pengembang kurikulum hendaknya memperhatikan beberapa prinsip

utama dalam pengembangan kurikulum pada satuan pendidikan. Menurut

Hamalik26 paling tidak terdapat delapan prinsip sebagai berikut :

25M Fadillah, op. cit., h.26-28.

(22)

a. Prinsip Berorientasi pada Tujuan

Pengembangan kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan

tertentu yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum

merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan jenjang

pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum mengandung aspek-aspek pengetahuan

(knowledge), keterampilan (skill), sikap, dan nilai, yang selanjutnya

menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup tiga aspek

tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan

pendidikan Nasional.27

b. Prinsip Relevansi (kesesuaian)

Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan ke

luar dan relevan ke dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi ke luar maksudnya

tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan

dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum

menyiapkan pesrta didik untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat.

Kurikulum juga harus memilki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau

konsistensi antara komponen-komponen kurikulum yaitu antara tujuan, isi, proses

penyampaian,dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukan suatu keterpaduan

kurikulum.

Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan sistem

penyampaiannya harus relevan (sesuai) dengan kebutuhan dan keadaan

masyarakat, kebutuhan satuan pendidikan, tingkat perkembangan dan kebutuhan

(23)

peserta didik, perkembangan intelektualnya, kebutuhan jasmani dan rohani, serta

serasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

c. Prinsip Efisiensi dan Efektivitas

Perkembangan kurikulum harus pertimbangkan efesiensi dalam

pendayagunaan dana, waktu, tenaga dan sumber-sumber yang tersedia pada satuan

pendidikan agar mencapai hasil yang optimal. Dana yang terbatas harus

digunakan sedemikian rupa dalam rangka mendukung pelaksanan pembelajaran.

Waktu yang tersedia untuk peserta didik juga terbatas sehingga harus

dimanfaatkan secara efektif sesuai dengan mata pelajaran dan bahan pelajaran

yang diperlukan.

Selain itu, tenaga kependidikan sangat terbatas baik dalam jumlah maupun

mutunya, hendaknya digunakan secara efisien untuk mendukung dan

melaksanakan proses pembelajaran, keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan dan

sumber bacaan sehingga harus digunakan secara tepat guna oleh peserta didik

dalam rangka pembelajaran demi meningkatkan efektifitas dan efisiensi peserta

didik dalam belajar.

d. Prinsip Fleksibilitas

Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel, kurikulum

mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan akan datang, di sini dan

tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang

berbeda. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid,

(24)

berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang

anak.28

Pengembangan kurikulum yang fleksibel akan memberikan kemudahan

dalam menggunakan, diubah, dilengkapi, atau dikurangi berdasarkan tuntutan

keadaan dan kemampuan satuan pendidikan. Kurikulum hendaknya menjaga

fleksibilitas dalam pelaksanaannya, sehingga tidak menyebabkan kekakuan yang

pada akhirnya tidak memiliki makna apa-apa, karena kurikulum demikian tidak

bersifat operasional.

e. Prinsip Kontinuitas atau Berkesinambungan

Perkembangan kurikulum hendaknya disusun secara berkesinambungan.

Artinya bagian-bagian, aspek-aspek, materi atau bahan kajian disusun secara

berurutan, tidak terlepas-lepas, satu sama lain saling keterkaitan memiliki

hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur

dan satuan pendidikan.

f. Prinsip Keseimbangan

Pengembangan kurikulum juga selain memperhatikan kesinambungan juga

memperhatikan keseimbangan (balance) secara proporsional dan fungsional

antara bagian program, sub program, antara semua mata pelajaran, dan antara

aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu

diadakan teori dan praktik, antara unsur-unsur keilmuan sains, humaniora, sosial

dan keilmuan perilaku. Dengan adanya kesinambungan tersebut pada gilirannya

(25)

diharapkan terjadi perpaduan yang lengkap dan menyeluruh, satu sama lain saling

memberikan sumbangannya terhadap perkembangan pribadi peserta didik.

g. Prinsip Keterpaduan

Pengembangan kurikulum juga harus disusun dan dirancang serta

dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan. Perencanaan terpadu bertitik tolak

dari masalah atau topik konsistensi antara unsur-unsurnya. Pelaksanaan terpadu

dengan melibatkan semua pihak, baik kalangan praktisi maupun akademis, sampai

pada tingkat intersektoral. Dengan adanya keterpaduan ini diharapkan akan

terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh. Disamping itu pula dilaksanakan

keterpaduan dalam proses pembelajarannya, baik dalam interaksi antar peserta

didik dan pendidik maupun antar teori dan praktik.

h. Prinsip Mengedepankan Mutu.

Pengembangan kurikulum juga harus berorientasi pada pendidikan mutu

dan mutu pendidikan. Pendidikan mutu berarti pelaksanaan pembelajaran yang

bermutu. Sedangkan mutu pendidikan berorientasi pada hasil pendidikan yang

berkualitas. 29 Pendidikan yang bermutu sangat ditentukan oleh derajat mutu guru

(tenaga pendidik), dalam proses pembelajaran, peralatan atau media yang lengkap

dan memadai untuk proses pembelajaran sehingga hasil pendidikan yang bermutu

diukur berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diharapkan.

(26)

B. Pendidikan Berbasis Karakter

1. Pengertian Pendidikan Berbasis Karakter

Pendidikan adalah suatu proses terus menerus yang mengantarkan manusia

muda kearah kedewasaan, yaitu dalam arti kemampuan untuk memperoleh

pengetahuan (knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/keterampilan

(skills developments), mengubah sikap serta kemampuan mengarahkan diri

sendiri, baik di bidang pengetahuan, keterampilan serta dalam memaknai proses

pendewasaan itu sendiri dan kemampuan menilai.30

Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan “Sifat-sifat

kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain,

dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik yang baik dalam diri dan

dalam perilaku”. 31

Karakter seseorang tidak dapat diubah atau dihilangkan. Tetapi jika

melihat bahwa karakter bisa dibangun atau dibentuk, maka jelas karakter bisa

diubah.32 Dalam kamus Poerwadarminta yang dikutip dalam buku Abdul Majid,

karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi

pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, nama dari jumlah seluruh

ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan,

30Agus Hermino, Manajemen Kurikulum Berbasis Karakter Konsep,Pendekatan, dan

Aplikasi (Bandung : Alfabeta,2014),h.4.

31 Kementrian Pendidikan Nasional, Desain Induk Pendidikan Karakter (Jakarta: Badan

Peneliti dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan,2010),h.7.

32 Abdullah Munir, Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah

(27)

ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola

pemikiran.33

Pendidikan karakter bukanlah hal yang baru bagi dunia pendidikan. Secara

historis pendidikan karakter telah dikenal sejak 1988 yaitu dengan istilah budi

pekerti. Pendidikan karakter menurut Lickona yang dikutip dalam buku Heri

Gunawan adalah “Pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui

pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang,

yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang

lain, kerja keras dan sebagainya”. Karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang

kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku.34

Pendidikan karakter dimaknai dengan suatu sistem penanaman nilai-nilai

karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran,

atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap

Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan

sehingga menjadi manusia insan kamil.35 Sementara itu pendidikan karakter

merupakan penciptaan lingkungan sekolah yang membantu peserta didik dalam

perkembangan etika, tanggung jawab melalui model dan pengajaran karakter yang

baik melalui nilai-nilai universal.

33 Abdul Majid, Pendidikan Karakter Persfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Offest,2011),h.11.

34

Heri Gunawan, op. cit., h.23.

35Samani, Muchlas dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung :

(28)

Sedangkan Wibowo mendefinisikan pendidikan karakter dengan

pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur

kepada anak didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan

mempraktikkan dalam kehidupannya baik keluarga, masyarakat, dan negara.36

Berdasarkan pengertian diatas, pendidikan karakter adalah memberikan

pemahaman nilai karakter kepada peserta didik sehingga mereka dapat

menerapkan dalam kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara sehingga

dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Kemendiknas yang dikutip dalam buku Heri Gunawan bahwa berdasarkan

kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik,

dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang telah

dikelompokkan menjadi lima yaitu:

a. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang

Maha Esa,

b. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan diri sendiri,

c. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama

manusia, dan

d. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan,

serta

e. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan kebangsaan.37

36

Agus Wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012),h.36.

(29)

Tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan pendidikan terletak dalam

nilai-nilai karakter. Dan pembentukan nilai-nilai terdapat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.1

Nilai-nilai Karakter yang Dikembangkan di Sekolah

No Nilai Karakter yang

Berkaitan dengan nilaiini, pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya

2 Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri yang meliputi;

Jujur Merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya

menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. Bertanggung jawab Merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk

melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, tarhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan tuhan YME

Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan

Disiplin Merupakan suatu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

Kerja keras Merupakan suatu yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas

(belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya Percaya diri Merupakan sikap yakin akan kemampuan diri

sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya

(30)

mengatur pemodalan operasinya Berfikir logis, kritis,

kreatif dan inovatif

Berfikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki Mandiri Suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah

tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas

Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahuilebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar

Cinta ilmu Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan

Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta oaring lain

Patuh pada aturan-aturan sosial

Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat, dan mengakui dan kepentingan umum

Menghargai karya dan prestasi orang lain

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakuidan menghormati

keberhasilan orang lain

Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kesemua orang Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang

menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain

4 Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki keruskan alam yang sudah terjadi dan selu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan 5 Nilai kebangsaan Cara berfikir, bertindak dan wawasan yang

menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya Nasionalis Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang

menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,

(31)

Menghargai keberagaman

Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku dan agama

2. Tujuan pendidikan karakter

Pendidikan karakter mempunyai tujuan penanaman nilai dalam diri peserta

didik dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan

individu. Selain itu meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di

sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia

peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar

kompetensi lulusan.38 Tujuan yang paling mendasar dari Pendidikan adalah untuk

membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam, Rasulullah

Muhammad saw, sang nabi terakhir dalam ajaran islam juga menegaskan bahwa

misi umatnya dalam mendidik manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan

karakter yang baik.39

Adapun tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan mutu

proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan

akhlak peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar

kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter

peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan

pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan

38

Asmani, Muchlas dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya,2011),h.42-43.

(32)

nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku

sehari-hari.40

Pendidikan karakter dalam muatan pelajaran pendidikan agama sangat

diperlukan karena berperan penting dalam upaya menciptakan ilmuan-ilmuan

dimasa yang akan datang sehingga ilmu yang didapat dikembangkan dalam

kehidupan sosial melalui pembiasaan-pembiasaan.

3. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter di sekolah akan terlaksana dengan lancar, jika guru

dalam pelaksanaannya memperhatikan beberapa prinsip pendidikan karakter

kemendiknas memberikan rekomendasi 11 prinsip untuk mewujudkan pendidikan

karakter yang efektif sebagai berikut:

a. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter

b. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencangkup

pemikiran, perasaan dan perilaku

c. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk

membengun karakter

d. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian

e. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan

perilaku yang baik

(33)

f. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang

yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan

membantu mereka untuk sukses

g. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para perta didik

h. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi

tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang

sama

i. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan mendukung luas dalam

membangun inisiatif pendidikan karakter

j. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam

usaha membangun karakter

k. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagi guru-guru

karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.41

Berdasarkan prinsip-prinsip diatas pengembangan atau pembentukan

karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah untuk

menjadikan pijakan dalam penyenggaraan pendidikan karakter di sekolah.

C. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana

untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan

mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.

41

(34)

PAI yang hakikatnya merupakan sebuah proses, dalam perkembangannya juga

dimaksudkan sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Berbicara

tentang PAI dapat dimaknai dalam dua pengertian: pertama sebagai sebuah proses

penanaman ajaran Islam, kedua sebagai bahan kajian yang menjadi materi proses

itu sendiri.42

Pendidikan Agama Islam sering diartikan denagn pendidikan yang

berdasarkan ajaran islam. Dalam pengertian lain bahwa Pendidikan Agama Islam

adalah proses mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan

bahagia, mencintai tanah air, dan tegap jasmaninya, sempurna dan bahagia,

sempurna budi pekertinya akhlaknya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir

dalam pekerjaannya, manis tutur katanya, baik dengan lisan dan tulisan.43

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan

dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah swt, hubungan

manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan

hubungan manusia dengan mahluk lain serta lingkungannya.44 Adapun ruang

lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok,

yaitu:

42Depatermen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah Umum

(Jakarta: Direktora Jendral Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum,2004),h.2.

43

Heri Gunawan, op. cit., h.201.

44Ramayulis, Metode Pendidikan Agama Islam (Cet.V; Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h

(35)

a. Al-Qur’an dan Hadis

Yang paling prinsip dan mutlak tentang pengertian Al-Qur’an adalah

bahwa Al-Qur’an itu wahyu atau firman Allah swt untuk menjadi petunjuk dan

pedoman bagi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Dan

bukanlah Al-Qur’an itu kitab karangan Muhammad atau ciptaannya, atau

pikiran-pikiran serta pendapat Muhammad, yang sering diistilahkan dengan

Muhammadisme.45

Maka para ulama berusaha betul untuk memberikan pengertian Al- Qur’an

dengan cara dan menurut mereka sejelas dan seterang mungkin, sehingga tidak

terjadi kesalahan mengenai pengertiannya, sebab Al-Qur’an adalah benar-benar

dari Allah swt, dan bukan buatan manusia ataupun malaikat. Selanjutnya, perlu

diketahui bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sebagai mukjizat Nabi

Muhammad saw yang terbesar ternyata tidak ada seorang manusia pun yang

mampu membuat atau menulis yang semisal Al-Qur’an tersebut.

Uraian atau penjelasan tentang Hadis baik dilihat dari arti segi bahasa

maupun arti istilah adalah sebagai berikut: menurut bahasa, Hadis mempunyai tiga

arti. Pertama, Hadis berarti al-jadid yaitu sesuatu yang baru. Kedua, Hadis berarti

al-qarib yaitu sesuatu yang dekat atau belum lama terjadi. Ketiga, Hadis berarti

al-khabar yaitu suatu berita. Kemudian menurut istilah, pengertian Hadis oleh

45Chabib Thoha, Metodologi Pengajaran Agama (Cet.II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(36)

para ahli muhaddisin adalah perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan serta hal

ihwal nabi Muhammad saw.46

Yang dimaksud dengan ihwal disini, ialah segala pemberitaan mengenai

Nabi Muhammad saw yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah

kelahiran, serta kebiasaan-kebiasaannya. Jadi, pemberitaan yang dimaksud adalah

mengetengahkan sesuatu mengenai Nabi Muhammad saw yang disampaikan oleh

sumber informasi dari selain Nabi baik dari sahabat maupun tabiin.

b. Aqidah

Secara bahasa (etimologi) kata Aqoid adalah jamak dari Aqidah yang

berarti kepercayaan, maksudnya adalah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang

Islam, artinya mereka menetapkan atas kebenarannya seperti disebutkan dalam

Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.47

Aqidah islamiyah selalu berkaitan dengan iman, seperti: iman kepada

Allah swt, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir.

Untuk itu Allah swt memerintahkan semua umat manusia agar menggunakan akal

pikirannya dengan sebaik-baiknya dan memperhatikan serta merenungkan segala

ciptaan-Nya.

c. Syari’ah

Syari’ah adalah segala aturan yang ditetapkan Allah swt untuk

kepentingan hamba-Nya, yang disampaikan oleh para Nabi dan oleh Nabi

Muhammad saw, baik berkenaan dengan perbuatan lahir manusia yang disebut

(37)

amaliyah praktis dan kemudian disusun menjadi ilmu fiqih, maupun yang

berkenaan dengan persoalan aqidah yang disebut i’tiqadiyah dan asliyah yang

disusun menjadi ilmu kalam, atau yang berkenaan dengan aturan tingkah laku

manusia yang disusun menjadi ilmu akhlak dan adab.

Syariat sebagai suatu ketetapan hukum yang ditetapkan Allah swt dengan

disertai dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karenanya sumber

hukum syari’ah itu dalil-dalilnya ada yang bersifat qat-i (jelas dan tegas), dan ada

juga yang bersifat danni (kurang tegas dan kurang jelas), maka ruang lingkup

pembehasan syari’ah secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1) Hukum-hukum yang telah ditetapkan langsung oleh Al-Qur’an dan Hadis

secara jelas. Porsi ini lebih sedikit, tetapi urgensinya sangat besar dan

merupakan dasar yang kokoh untuk bangunan syari’ah seluruhnya.

2) Hukum yang ditetapkan melalui ijtihad oleh para ulama dengan merujuk

pada ketentuan Al-Qur’an dan Hadis, atau merujuk pada sumber hukum

lainnya seperti ijma’ dan qiyas. Bagian kedua ini yang paling banyak

pembahasan hukum islamnya dan merupakan kawasan kajian ilmu fiqih.

Melalui dua jalur besar ini, kemudian secara rinci para ulama membagi

kedalam beberapa cabang pembahasan sesuai dengan obyeknya, yaitu:

hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya

seperti: salat, puasa, haji, hukum-hukum yang mengatur

kerumah-tanggaan seperti: perkawinan, talaq, rujuk, nafkah, nasab dan waris,

hukum-hukum yang bertalian dengan hubungan antar manusia satu dengan

(38)

hukum-hukun yang mengatur politik kenegaraan maupun peradilan dan rakyatnya

secara timbal balik, hukum-hukum yang mengatur pidana terhadap

penjahat, maupun mengatur ketertiban dan ketentraman umum,

hukum yang mengatur hubungan negara dengan negara lain dan

hukum-hukum yang mengatur norma-norma.48

d. Akhlak

Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut

bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan akhlak

menurut istilah adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan

dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih

dahulu.

Selanjutnya perbuatan manusia yang dapat dianggap sebagai manifestasi

dari akhlaknya jika perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk

yang sama, sehingga menjadi kebiasaan dan perbuatan-perbuatan itu dilakukan

karena dorongan emosi jiwanya (bukan karena ada tekanan dari luar).

Sesuai dengan ajaran agama tentang adanya perbedaan manusia dalam

segala seginya, maka menurut Moh Ibnu Qoyyim, ada dua jenis akhlak manusia,

yaitu:

1) Akhlak dlarury, yaitu akhlak yang asli atau otomatis yang merupakan

pemberian Allah swt secara langsung, tanpa memerlukan latihan,

kebiasaan dan pendidikan. Akhlak ini hanya dimiliki manusia-manusia

pilihan Allah swt, keadaannya terpelihara dari perbuatan-perbuatan

(39)

maksiat dan selalu terjaga dari larangan Allah swt, yaitu para Nabi dan

Rasul-Nya.

2) Akhlak Mukhtasabah, yaitu akhlak atau budi pekerti yang harus dicari

dengan jalan melatih, mendidik dan membiasakan kebiasaan yang baik

serta cara berpikir yang tepat. Tanpa dididik dan dibiasakan akhlak ini

tidak akan terwujud. Akhlak ini yang dimiliki oleh sebagian besar

manusia. Usaha mendidik dan membiasakan kebajikan sangat dianjurkan,

bahkan diperintahkan dalam agama, walaupun tadinya kurang adanya rasa

tertarik, tetapi apabila terus menerus dibiasakan, maka kebiasaan ini akan

mempengaruhi sikap batinnya.

e. Tarikh

Tarikh atau sejarah dianggap salah satu bidang studi pendidikan agama.

Yang dimaksud dengan sejarah adalah studi tentang riwayat hidup Rasulullah

saw, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada

murid-murid sebagai contoh teladan yang utama dari tingkah laku manusia yang

ideal, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.

Sejarah Nabi saw, merupakan riwayat yang terpenting, karena beliau

adalah terjemahan dari ajaran Islam dan merupakan contoh yang tetap hidup bagi

orang Islam disetiap tempat dan masa. Sejarah beliau dimulai dari masa kelahiran

sampai dengan masa kenabian, walaupun disajikan secara ringkas ini merupakan

pelengkap dari sejarah beliau sejak dilahirkan sampai beliau menjupai ajalnya.

Dengan demikian maka pengetahuan tentang riwayat hidup beliau menjadi

(40)

Penyajian seperti inilah yang telah ditempuh ahli-ahli sejarah, cara ini

mempunyai arti tersendiri lebih-lebih apabila dlihat bahwa sebagian peristiwa

yang terjadi pada diri Nabi dan kegiatan-kegiatan yang beliau lakukan pada masa

sebelum kenabian, mempunyai kaitan dengan ajaran Islam. Disamping hal-hal

tersebut merupakan alasan yang kuat untuk menolak tuduhan-tuduhan palsu yang

dilontarkan kepada beliau dari orang-orang yang tidak menyukai dan

mempercayai kenabiannya.

Membaca sejarah hidup Nabi dengan khusu’ dan tunduk kepada Allah swt

dianggap ibadah, tetapi bukanlah membaca cerita pada peringatan hari-hari

maulid yang dilakukan orang-orang dewasa ini. Mencintai Nabi Muhammad saw,

bukanlah dengan menggubah syair-syair sanjungan kepada beliau terhadap

sifat-sifatnya yang luar biasa dibacakan pada waktu-waktu tertentu, ataupun

gubahan-gubahan syair-syair yang aneh, apakah pembaca merasa terharu atau tidak, tetapi

hubungan muslim dengan rasulnya yang mulia ini adalah lebih mendalam dan

lebih kokoh lagi daripada hubungan semua yang mendatangkan dampak negatif

terhadap agama.

Ungkapan-ungkapan yang menyatakan hubungan muslim dengan Nabi

mereka semacam ini, tidaklah mereka ucapkan kecuali pada hari mereka

melupakan isi ajaran Nabi. Mereka hanya menyamakan dengan kulit dan bentuk

lahirnya saja tanpa memperhatikan isinya. Oleh karena aspek kulit dan bentuk

lahir sangat terbatas dalam Islam, maka mereka telah terkecoh dalam menciptakan

bentuk-bentuk lain yang lebih mudah buat mereka. Sesungguhnya pekerjaan yang

(41)

Orang Islam yang tidak menghayati sunnah Rasulullah dalam hati sanubarinya,

tidak mau mengikuti jejak amal perbuatan dan pemikiran beliau tentu tidak akan

berfaedah baginya ucapan salawat beribu kali siang dan malam.

Berdasarkan uraian tersebut, maka sejarah Nabi dapat dikategorikan

menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, riwayat hidup beliau sebelum Nubuwwah

yakni sejak beliau lahir sampai masa kenabiannya. Kedua, sejarah beliau sejak

masa kenabian sampai beliau wafat.

Achmadi mengemukakan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha

yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan subjek

didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran

islam. Implikasi dari pengertian ini, pendidikan agama islam merupakan

komponen yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan islam. Dari batasan di

atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu sistem yang

memungkinkan seseorang peserta didik dapat mengarahkan kehidupannya sesuai

dengan ideologi Islam.49

Pendidikan agama islam adalah suatu usaha sadar untuk membina dan

mengasuh peserta didik agar senantiasa memahami ajaran islam secara

menyeluruh (kaffah). Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat

mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.50

49Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Aditya

Media,1992),h. 20.

50Zakiyah Daradjat, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental (Jakarta: Gunung

(42)

Dalam membina peserta didik maka pendidik mampu memberikan

keteladan, Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Ahzab/33: 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik...51

Dalam ayat ini mengemukakan maksud keteladanan pada diri Rasulullah

saw. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah keteladanan.

kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani

oleh setiap orang.52

Dalam proses perkembangan anak, terdapat suatu fase yang dikenal

dengan fase imitasi. pada fase ini, seorang anak selalu meniru dan mencontoh

orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tuanya atau gurunya. Metode

Keteladanan ini sangat cocok diterapkan pada fase ini. Dalam pendidikan, orang

tua dan guru tidak cukup hanya dengan memberi nasehat dalam arti menyeluruh,

tetapi seharusnya memberikan keteladanan, misalnya menyuruh anak ke mesjid,

sementara ia tidak pernah ke mesjid. tidak satunya kata dan perbuatan,

menjadikan orang tua/guru tidak memiliki wibawaa sebagai pendidik, dan

menjadikan anak bingung, karena apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa

Mufdil Tuhri, Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang

berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat

(43)

Menanamkan Sikap, Perilaku, dan Tutur Kata yang Mulia Kepada Anak,

dalam hal ini terdapat pada Q.S Al Isra/17: 23-24

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.53

Surat Al-Isra ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan

karakter. Karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral,

budipekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Kembali kepada pengertian dari

Surah Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa yang pertama Allah memerintahkan

kepada hamba-hambanya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu

bagi-Nya.yang kedua, kita harus berbakti kepada orang tua. Lalu pada ayat 24

disebutkan bahwa anak hendaknya mendoakan kedua orang tuanya.

Dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa ketika kita menghargai dan

menyayangi orang tua kita dengan baik maka akan menumbuhkan akhlak serta

moral yang baik pula bagi anak sedangkan jikalau kita acuh maka akan timbuh

(44)

akhlak dan moral yang tidak baik. Dengan kata lain, hal ini sangat berpengaruh

dalam pendidikan karakter. Antara orangtua sebagai pendidik dan anak. Segala

sesuatu yang diajarkan dengan baik pada mulanya akan menanamkan karakter

yang baik pula pada anak. Untuk itu berbakti kepada orang tua merupakan suatu

cara yang harus dilakukan.

Definisi pendidikan agama islam secara lebih rinci dan jelas, tertera dalam

kurikulum pendidikan agama islam sebagai upaya sadar dan terencana dan

menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga

mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalammengamalkan ajaran agama

islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadis, melalui kegiatan

bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan

untuk menghormati agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat

beragama dalam masyarakat hinggah terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

2. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu, fungsi dasar ialah

memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan

untuk berdirinya sesuatu.54 Dasar pendidikan agama islam dapat ditinjau dari segi

yuridis/hukum dan dasar religius.

a. Dasar yuridis/hukum, yang tercakup dalam segi ini adalah:

1) Landasan Idiil pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa

mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya

(45)

kepada Tuhan Yang Maha Esa atau dengan kata lain harus beragama.

Untuk mewujudkan manusia yang mampu mengamalkan ajaran

agamanya sangat diperlukan pendidikan agama karena pendidikan

agama mempunyai tujuan membentuk manusia bertaqwa kepada Allah

swt.

2) Landasan Struktural/konstitusional yakni UUD 1945 dalam Bab XI

Pasal 29 ayat 1 dan 2 berbunyi:

a) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

b) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk

agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya

dan kepercayaannya itu.55

3) Landasan Operasional, yakni dasar yang secara langsung mengatur

pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia, yakni

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sisdiknas, Pendidikan agama secara langsung dimasukkan ke dalam

kurikulum di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar sampai

Universitas-universitas negeri.

b. Dasar Religius

Dasar pendidikan Islam adalah segala ajarannya yang bersumber dari

Al-Qur’an, sunnah dan ijtihad (ra’yu). Dasar inilah yang membuat pendidikan Islam

menjadi ada, tanpa dasar ini tidak akan ada pendidikan Islam.

55Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen (Cet.II; Jakarta: Sinar

Gambar

Tabel 2.1

Referensi

Dokumen terkait

Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Indeks dan status berkelanjutan dianalisis berdasarkan kriteria berkelanjutan pada

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Masalah Masalah

Semakin tinggi risiko bisnis yang dipilihnya, semakin besar capital yang harus disediakan oleh banka. Semakin tinggi risiko bisnis yang dipilihnya, bank harus

a) Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. b) Keterangan

Jika batas atas dan bawah irisan berubah untuk sembarang irisan di D maka daerah D harus dibagi dua atau lebih... Luas D dihampiri oleh jumlah luas

Sipilis atau raja singa merupakan penyakit yang menular terutama ditularkan melalui kontak seksual tetapi ada juga penularan ibu ke anak dalam kandungan.Penularan sipilis juga

Catatan lapangan ( field note ) digunakan untuk memperoleh data tentang proses pengembangan media. Teknik ini dilakukan dengan cara mencatat keseluruhan proses yang

Rancang bangun Sistem Tangki Anaerobik Tertutup (Resirkulasi Gas)/