IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN BERBASIS
KARAKTER PADA MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
DI SMA NEGERI 1 MANADO
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam
Oleh:
ABDUL MUDTHALIB DAUD NIM. 11.2.3.015
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MANADO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa maju pendidikan yang
telah dicapai. Dapat terlihat bahwa pendidikan memberikan kontribusi yang besar
bagi bangsa terkait dengan perannya sebagai wahana membentuk karakter bangsa.
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 1
disebutkan pengertian pendidikan yaitu:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1
Manusia membutuhkan pendidikan untuk kehidupannya, karena dengan
adanya pendidikan manusia dapat mengembangakan potensi diri dan
mengembangkan kepribadian melalui proses pembelajaran sehinggah dapat
dikenal dan diakuai oleh masyarakat. Inti dari kegiatan pendidikan adalah
interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan. Interaksi ini dapat dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun
masyarakat. Perbedaan yang mendasar antara ketiga model interaksi pendidikan
tersebut terletak pada adanya rancangan atau kurikulum formal dan tertulis yang
akan disampaikan pada peserta didik.
1Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi
tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana
pendidikan, memberikan podoman dan pegangan tentang jenis lingkup, dan urutan
isi, serta proses pendidikan.2 Dengan demikian, kurikulum memiliki kedudukan
yang penting baik dalam pendidikan formal maupun non formal karena
memberikan arahan terjadi proses pendidikan.
Kurikulum sebagai rancangan segala kegiatan yang mendukung
tercapainya tujuan pendidikan tetap memiliki peran yang penting, setidaknya
dalam mewarnai kepribadian seseorang. Begitu pula dengan pendidikan adalah
salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu bangsa bisa dilihat melalui
sejauh mana komitmen masyarakat dalam suatu bangsa menjalankan pendidikan
nasional. Pendidikan Nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan
sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua
warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga
mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah.
Kurikulum 2013 sendiri merupakan sebuah kurikulum yang
mengutamakan pada pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, dimana
peserta didik dituntut untuk paham atas materi yang diajarkan oleh pendidik, aktif
dalam proses berdikusi dan presentasi serta memiliki sopan santun dan sikap
disiplin yang tinggi.
Sampai saat ini Indonesia masih dihadapkan dengan sejumlah
permasalahan, khususnya permasalahan yang berkaitan dengan moral. Sehingga
2Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek (Bandung:
sering mendengar dan melihat dari pemberitaan baik media elekronik televisi dan
radio ataupun internet dan surat kabar, dimana terdapat kejadian yang semestinya
akan mengusik para pendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme disemua
lapisan jabatan, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, sampai pada perkelahian
antar pelajar.
Generasi muda sekarang ini, ada indikasi kuat mengenai hilangnya
nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa Indonesia, seperti kejujuran, kesantunan,
dan kebersamaan cukup menjadikan keprihatinan bersama. Harus ada usaha untuk
menjadikan nilai-nilai itu kembali menjadi karakter yang membanggakan di
hadapan bangsa lain.3 Seperti sabda Nabi Muhammad saw yang berbunyi.
كل ام ْ ع ي ث َدح
Dan hadis dari Malik, sesungguhnya ia menyampaikan bahwa sesungguhnya rasulullah saw. bersabda aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.4
Salah satu upaya kearah itu adalah memperbaiki sistem pendidikan yang
harus menitikberatkan pada pendidikan karakter. Pendidikan yang membangun
nilai-nilai moral atau karakter dikalangan peserta didik harus selalu mendapatkan
perhatian yang lebih baik.
3Ja’far Amir,
Tuntunan Akhlak (Yogyakarta: Kota Kembang, 1973),h.6.
4Yahya bin Yahya bin Katsir Al Laitsy Al Andalusy, Al Muwatta, (Cet; I, Bairud : Dairul
Dan tentu juga ada deretan panjang persoalan pendidikan lainya dari
bangsa ini yang belum mencapai tujuan Pendidikan Nasional, menurut
Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.5
Dalam undang-undang tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan
mendorong terwujudnya generasi penerus bangsa yang memiliki karakter yang
religius, berakhlak mulia, cakap, mandiri, dan demokratis. Seiring dengan
keadaan yang ada, lembaga pendidikan sebagai lembaga akademik dengan tugas
utamanya menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan ilmu,pengetahuan,
teknologi, dan seni. Dimana dalam hal ini tujuan penyelenggaraan pendidikan,
sejatinya tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga membentuk
kepribadian, kemandirian, keterampilan sosial, dan karakter.
Oleh sebab itu, berbagai program dirancang dan diimplementasikan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, terutama dalam rangka pembinaan
karakter. Secara akademis, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan
nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, atau
pendidikan akhlak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik
untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik , dan
mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Karena itu, “muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi
moral reasoning, moral feeling, and moral behavior”.
Secara praktis, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai-nilai kebaikan kepada siswa di lingkungan sekolah dengan meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (YME),
sesama manusia, lingkungan, maupun nusa dan bangsa.6 Hal ini sejalan dengan
hadis Rasulullah saw.7
ْ لس ْي ا ْ ع رْ ع ْب دَ حم ْ ع ، دْي س ْب يْحي ا ث ، لبْ ح ْب د ْحا ا ث َدح
لاق رْي ر با ع ،
:
مَلس ْيلع ه َلص ه لْ سر لاق
ا ْيا ي مْؤ ْلا ل ْكا
اًقلخ م ْحأاً
Artinya :
Berbicara kepada kami Ahmad bin Hambal berbicara Yahya bin Sa’id, dari
Muhammad bin Umar, dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (budi pekerti) diantara mereka.
Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang dilakukan secara sistematis
dalam membimbing anak yang beragama Islam, sehingga ajaran benar-benar
diketahui, dimiliki, dan diamalkan oleh peserta didik baik tercermin dalam sikap,
tingkah laku maupun cara berfikirnya. Melalui pendidikan Islam terjadilah proses
pengembangan aspek kepribadian anak, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan
aspek psikomotorik. Sehingga ajaran Islam diharapkan akan menjadi bagian
6Ja’far Amir, op.cit., h.7.
7Al Imam Hafidz Abi Daud Suleman bin Al Asy-asy Al Sajastany, Sunan Abu Daud, Jus
integral dari pribadi anak yang bersangkutan. Dalam arti segala aktifitas anak
akan mencerminkan sikap islamiyah.
Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut mulai
dirintis melalui pendidikan karakter. Upaya yang bisa dilakukan untuk pembinaan
karakter peserta didik di sekolah di antaranya adalah dengan memaksimalkan
fungsi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah, sehingga dapat
dijadikan basis untuk pembinaan karakter peserta didik tersebut. Pendidik mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam bersama-sama para pendidik yang lain dapat
merancang berbagai aktivitas sehari-hari bagi peserta didik di sekolah yang
diwarnai nilai-nilai ajaran beragama. Diharapkan peserta didik terbiasa untuk
melakukan aktivitas-aktivitas positif yang pada akhirnya dapat membentuk
karakternya.
Atas dasar tujuan pendidikan nasional maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang pendidikan berbasis karakter melalui proses belajar
mengajar di SMA Negeri 1 Manado adalah salah satu sekolah yang sudah
menerpakan kurikulum 2013 khususnya pada mata pelajaran pendidikan agama
islam, dan dari kurikulum 2013 ini yang di implementasikan dalam kegiatan
pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler mendapatkan hasil yang baik dalam
pembentukan karakter peserta didik namun tetap memiliki hambatan-hambatan
dalam implementasi tersebut.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, mendorong penulis untuk
mengajukan skripsi dengan judul “Implementasi Kurikulum Pendidikan Berbasis
B. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka penelitian akan
mengacu pada rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana implementasi kurikulum pendidikan berbasis karakter pada
mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Manado?
2. Apa Kesulitan/hambatan dalam Implementasi kurikulum pendidikan
berbasis karakter pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Manado?
3. Bagaimana solusi dalam implementasi kurikulum pendidikan berbasis
karakter pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Manado?
Agar permasalahan yang dikaji dapat terarah untuk menghindari
penyimpangan dari masalah yang diteliti, maka perlu adanya pembatasan masalah.
Mengingat keterbatasan kemampuan penulis, masalah dititik beratkan pada
implementasi kurikulum pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran
pendidikan agama islam di SMA N 1 Manado khusunya siswa kelas X.
C. Pengertian Judul
Untuk menghindari kesalapahaman dalam penafsiran judul yang dimaksud
dalam Skripsi ini, maka terlebih dahulu akan diberikan beberapa batasan
pengertian atau kata kunci secara operasional, sebagai berikut:
1. Implementasi adalah suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau
baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan
sikap.8
2. Kurikulum dalam bahasa arab, sering disebut dengan istilah al-manhaj,
berarti jalan yang terang yang dilalui manusia dalam bidang
kehidupannya”. Pengertian kurikulum jika dikaitkan dengan pendidikan
berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik dengan peserta didik untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai.9
3. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan
adalah “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
latihan, proses, perbuatan, cara mendidik.”10
Kedewasaan yang dimaksud
adalah harus dapat menentukan diri sendiri dan bertanggung jawab
sendiri.11
4. Pendidikan karakter menurut Lickona yang dikutip dalam buku Heri
Gunawan adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang
melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan
nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab,
menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Karakter erat
8Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2007),h.211.
9Heri Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi (Bandung:
Alfabeta,2012),h.105.
10Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.II; Jakarta:
Balai Pustaka,2002),h.263.
11Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosda
kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah
laku.12
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dipahami bahwa maksud judul
skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi kurikulum
pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran pendidikan agama islam dengan
lokasi penelitian di SMA Negeri 1 Manado.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui implementasi kurikulum pendidikan berbasis karakter
pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Manado.
b. Untuk mengetahui kesulitan/hambatan dalam pelaksanaan kurikulum
pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
di SMA Negeri 1 Manado.
c. Untuk mengetahui solusi dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan
berbasis karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA
Negeri 1 Manado.
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan secara teoritis
Pada tataran teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat-manfaat sebagai berikut:
12
1) Memperluas pengetahuan dan wawasan tentang implementasi dalam
kurikulum pendidikan berbasis karakter, baik dalam pelaksanaan,
keunggulan, dan problem-problem pelaksanaannya.
2) Mampu memberikan informasi yang berkaitang dengan upaya-upaya
yakni faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi
kurikulum pendidikan berbasis karakter terlebih khusus bagi pendidik
dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam.
b. Aspek Praktis
Pada tataran praktis penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat yang
besar bagi:
1) Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dan
pembenahan sehingga terciptannya suasana baru yang lebih kondusif.
2) Pendidik bidang studi Pendidikan Agama Islam, yakni mengetahui
usaha-usaha dalam implementasi kurikulum pendidikan berbasis
karakter.
3) IAIN Manado, sebagai bahan kajian keilmuan dan pengembangan
kajian khususnya bidang kebijakan pendidikan.
4) Penulis dan pembaca, dapat mengetahui implementasi kurikulum
pendidikan berbasis karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Kurikulum 2013
1. Pengertian Kurikulum 2013
Ditinjau dari asal kata, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang
mulanya digunakan dalam bidang olah raga, yaitu kata curere, yang berarti jarak
tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh
mulai dari start sampai ke finish. Atas dasar tersebut pengertian kurikulum
diterapkan dalam bidang pendidikan.13
Dalam bahasa Arab, kurikulum disebut dengan istilah al-manhaj, berarti
jalan yang terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidupannya.14 Maka dari
pengertian tersebut, kurikulum jika dikaitkan dengan pendidikan yaitu jalan terang
yang dilalui oleh pendidik dengan peserta didik untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai.15
Pengertian kurikulum tertuang dalam pasal 1 ayat 19 Undang-undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah “Seperangkat rencana dan
peraturan mengenai tujuan isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
13Subandija, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum ( Cet.II; Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada,1996),h.1.
14Heri Gunawan, Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung:
Alfabeta,2012),h.1.
15Heri Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi (Bandung:
pembelajaran tertentu”.16 Pendapat Rusly Ahmad, kurikulum adalah
seperangkat pengalaman yang mempunyai arti dan terarah, untuk mencapai tujuan
tertentu dibawah pengawasan sekolah.17 Kurikulum merupakan pedoman dasar
dalam proses belajar dan mengajar didunia pendidikan.18
Senada dengan pendapat ahli di atas, “Kurikulum dianggap identik dengan
coure of study (rencana pelajaran) yang terdiri dari segala kegiatan dan
pengalaman belajar yang direncanakan dan diorganisir sekolah dalam rangka
mencapai tujuan yang diterapakan”.19 Kurikulum mempunyai makna yang cukup
luas, mencangkup semua pengalaman yang dilakukan peserta didik, dirancang,
diarahkan, diberikan bimbingan, dan dipertanggungjawabkan oleh pihak sekolah.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang
kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan
dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas).
Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan
berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama,
sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap
memasuki pendidikan dasar.
16
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2013),h.4.
17Rusly Ahmad, Perencanaan dan desain kurikulum dalam pendidikan Jasmani (Jakarta
: Dekdipbud, 1989),h.6.
18Idi Abdullah, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik (Yogyakarta: AR-ruzz,
2007),h.1.
19Departemen Agama RI. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada SD
Dapat dikatakan bahwa kurikulum bukan sekedar mata pelajaran tetapi
semua pengalaman yang dilakukan dan digunakan sebagai landasan atau pijakan
dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan yang diinginkan. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan
kurikulum yang dinamis, flesibel dan sesuai dengan perkembangan zaman dan
tuntunan kebutuhan masyarakat.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru yang mulai diterapkan
pada tahun ajaran 2013 sampai sekarang. Kurikulum ini adalah pengembangan
dari kurikulum yang telah ada sebelumnya, baik dalam kurikulum Berbasis
Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 maupun Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan pada tahun 2006. Hanya saja yang menjadi titik tekan pada
Kurikulum 2013 adalah adanya peningkatan soft skills dan hard skills yang
meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kemudian,
kedudukan kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah
menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Selain itu, pembelajaran
lebih bersifat tematik integratif dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian
dapat dipahami bahwa kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang
dikembangkan untuk meningkatkan dan menyimbangkan kemampuan soft skills
dan hard skills yang berupa sikap, ketrampilan dan pengetahuan.20
Sehingga dalam konteks ini, kurikulum 2013 lebih menanamkan
nilai-nilai yang tercermin pada sikap dan keterampilan yang diperoleh peserta didik
20 M Fadillah, Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/Mi, SMP/MTs, &
melalui pengetahuan dibangku sekolah. Dengan kata lain, antara soft skills dan
hard skills dapat tertanam secara seimbang, berdampingan, dan mampu
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kurikulum 2013,
harapanya peserta didik dapat memiliki kompetensi sikap, kepribadian, dan
pengetahuan yang meningkat dan berkembang sesuai dengan jenjang pendidikan
yang ditempuhnya sehingga akan berpengaruh pada kesuksesan dalam kehidupan
selanjutnya.
2. Tujuan dan Fungsi Kurikulum 2013
Mengenai tujuan dan fungsi kurikulum 2013 secara spesifik mengacu pada
pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa fungsi kurikulum ialah
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sementara tujuannya, yaitu
untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.21
Mengenai tujuan kurikulum 2013, secara khusus dapat diuraikan sebagi
berikut :22
21
Undang-undang Sisdiknas Nmor 20 tahun 2003, op. cit., h.5.
22
1. Meningkatkan mutu pendidikan dengan menyimbangkan soft skills dan
hard skills dengan melalui kemampuan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan dalam rangka menghadapi tantangan global yang terus
berkembang.
2. Membentuk dan meningkatkan sumber daya manusia yang produktif,
kreatif, dan inovatif sebagai modal pembangunan bangsa dan Negara.
3. Meringankan pendidik dalam menyampaikan meteri dan menyiapkan
administrasi mengajar, sebab pemerintah telah menyiapkan semua
komponen kurikulum beserta buku teks yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
4. Meningkatkan peran pemerintah pusat dan daerah serta warga
masyarakat serta seimbang dalam menentukan dan mengendalikan
kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan.
5. Meningkatkan persaingan yang sehat antara satuan pendidikan yang
akan dicapai. Sebab sekolah diberikan keleluasaan untuk
mengembangkan kurikulum 2013 sesuai dengan kondisi satuan
pendidikan, kebutuhan peserta didik dan potensi daerah.
Tujuan-tujuan tersebut merupakan analisis yang didasarkan pada
pengembangan kurikulum 2013 yang disosialisasikan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan melihat beberapa tujuan kurikulum 2013
diatas dapat dipahami bahwa secara umum tujuan tersebut hampir sama dengan
tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Hanya saja pada kurikulum 2013
meningkatkan hard skills dan soft skills peserta didik secara seimbang dan
berkelanjutan.23
Sehingga dapat dipahami bahwa tujuan dari kurikulum 2013 ialah
membentuk peserta didik baik dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam
membentuk sumber daya manusia yang kreatif, produktif dan inovatif, sehingga
tercapainya fungsi kurikulum yaitu mengembangkan kemampuan yang ada dalam
diri peserta didik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam membentuk
watak yang bermartabat dalam mencerdakan kehidupan bangsa.
Konsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori
kurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum,
kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem dan sebagai bidang studi.
Konsep pertama, kurikulum sebagai substansi, suatu kurikulum dipandang
orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau
sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat
menunjuk pada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar,
kegiatan belajar mengajar, jadwal dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat
digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara
penyusun kurikulum dan pemegang kebijakan pendidikan dengan masyarakat.
Suatu kurikulum juga dapat mencangkup lingkup tertentu, suatu sekolah,
kabupaten, propinsi ataupun seluruh Negara.
Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu sistem yaitu sistem
kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem
pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup
struktur personalia dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun suatu kurikulum,
melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari suatu sistem
kurikulum adalah tersusunya suatu kurikulum dan fungsi dari sistem kurikulum
adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis.
Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi
kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan
dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan
ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang
kurikulum mempelajaari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi
kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan
hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.24
3. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013
Prinsip-prinsip yang dijadikan pedoman dalam pengembangan Kurikulum
2013 ini sama seperti prinsip penyusunan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan.
Sebagaimana telah disebutkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi
Kurikulum 2013, berikut.
1. Peningkatan Iman, Takwa dan Akhlak Mulia
24Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek (Bandung:
Iman, takwa dan akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian
peserta didik secara utuh.
2. Kebutuhan Kompetensi Masa Depan
Kemampuan peserta didik diperlukan, yaitu antara lain kemampuan
berkomunikasi, berfikir kritis, dan kreatif dengan mempertimbangkan
nilai dan moral pancasila agar menjadi warga Negara yang demokratis
dan bertanggung jawab, toleran dalam keberagaman, mampu hidup
dengan masyarakat yang global, memiliki minat luas dalam kehidupan
dan kesiapan untuk bekerja, kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya,
dan peduli terhadap lingkungan. Kurikulum harus mampu menjawab
tantangan ini sehingga perlu mengembangkan kemampuan-kemampuan
ini dalam proses pembelajaran.
3. Peningkatan Potensi, Kecerdasan, dan Minat Sesuai Dengan Tingkat
Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik.
Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat
manusia secara holistik yang memungkinkan diri dari (efektif, kognitif,
psikomotorik) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum
disusun dengan memrhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat,
kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan kinestik peserta
didik.
4. Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkungan
Derah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan
yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup
sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat keragaman tersebut untuk
menghasilkan lulusan yang relevan dengan dengan kebutuhan
pengembangan daerah.
5. Tuntunan Pengembangan Daerah dan Nasional
Dalam daerah otonomi dan disentralisasi, kurikulum adalah suatu media
pengikat dan pengembang keutuhan bangsa yang dapat mendorong
partisipasi masyarakatdengan tetap mengedepankan wawasan nasional.
Untuk itu, kurikulum perlu memperhatikan keseimbangan antara
kepentingan daerah dan nasional.
6. Tuntunan Dunia Kerja
Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya
peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan
hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk
membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting
terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
7. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni
Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa
masyarakat berbasis pengetahuan di mana Ilmu Pengetahuan, Teknologi
dan Seni (IPTEKS) sangat perperan sebagai penggerak utama perubahan.
Pendidikan harus terus-menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian
sehingga setiap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena
itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan
berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.
8. Agama
Kurikulum dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman, takwa
serta akhlak mulia dan tetap memelihara dan kerukunan antar umat
beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata pelajaran ikut
mendukung peningkatan, iman, takwa dan akhlak mulia.
9. Persatuan Nasional dan Nilai Kebangsaan
Kurikulum diarahkan untuk mengembangkan karakter dan wawasan
kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting upaya
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, kurikulum harus
menumbuhkembangkan wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan
nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI.25
Para pengembang kurikulum hendaknya memperhatikan beberapa prinsip
utama dalam pengembangan kurikulum pada satuan pendidikan. Menurut
Hamalik26 paling tidak terdapat delapan prinsip sebagai berikut :
25M Fadillah, op. cit., h.26-28.
a. Prinsip Berorientasi pada Tujuan
Pengembangan kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan
tertentu yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum
merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan jenjang
pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum mengandung aspek-aspek pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skill), sikap, dan nilai, yang selanjutnya
menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup tiga aspek
tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan
pendidikan Nasional.27
b. Prinsip Relevansi (kesesuaian)
Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan ke
luar dan relevan ke dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi ke luar maksudnya
tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan
dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum
menyiapkan pesrta didik untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat.
Kurikulum juga harus memilki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau
konsistensi antara komponen-komponen kurikulum yaitu antara tujuan, isi, proses
penyampaian,dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukan suatu keterpaduan
kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan sistem
penyampaiannya harus relevan (sesuai) dengan kebutuhan dan keadaan
masyarakat, kebutuhan satuan pendidikan, tingkat perkembangan dan kebutuhan
peserta didik, perkembangan intelektualnya, kebutuhan jasmani dan rohani, serta
serasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Prinsip Efisiensi dan Efektivitas
Perkembangan kurikulum harus pertimbangkan efesiensi dalam
pendayagunaan dana, waktu, tenaga dan sumber-sumber yang tersedia pada satuan
pendidikan agar mencapai hasil yang optimal. Dana yang terbatas harus
digunakan sedemikian rupa dalam rangka mendukung pelaksanan pembelajaran.
Waktu yang tersedia untuk peserta didik juga terbatas sehingga harus
dimanfaatkan secara efektif sesuai dengan mata pelajaran dan bahan pelajaran
yang diperlukan.
Selain itu, tenaga kependidikan sangat terbatas baik dalam jumlah maupun
mutunya, hendaknya digunakan secara efisien untuk mendukung dan
melaksanakan proses pembelajaran, keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan dan
sumber bacaan sehingga harus digunakan secara tepat guna oleh peserta didik
dalam rangka pembelajaran demi meningkatkan efektifitas dan efisiensi peserta
didik dalam belajar.
d. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel, kurikulum
mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan akan datang, di sini dan
tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang
berbeda. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid,
berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang
anak.28
Pengembangan kurikulum yang fleksibel akan memberikan kemudahan
dalam menggunakan, diubah, dilengkapi, atau dikurangi berdasarkan tuntutan
keadaan dan kemampuan satuan pendidikan. Kurikulum hendaknya menjaga
fleksibilitas dalam pelaksanaannya, sehingga tidak menyebabkan kekakuan yang
pada akhirnya tidak memiliki makna apa-apa, karena kurikulum demikian tidak
bersifat operasional.
e. Prinsip Kontinuitas atau Berkesinambungan
Perkembangan kurikulum hendaknya disusun secara berkesinambungan.
Artinya bagian-bagian, aspek-aspek, materi atau bahan kajian disusun secara
berurutan, tidak terlepas-lepas, satu sama lain saling keterkaitan memiliki
hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur
dan satuan pendidikan.
f. Prinsip Keseimbangan
Pengembangan kurikulum juga selain memperhatikan kesinambungan juga
memperhatikan keseimbangan (balance) secara proporsional dan fungsional
antara bagian program, sub program, antara semua mata pelajaran, dan antara
aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu
diadakan teori dan praktik, antara unsur-unsur keilmuan sains, humaniora, sosial
dan keilmuan perilaku. Dengan adanya kesinambungan tersebut pada gilirannya
diharapkan terjadi perpaduan yang lengkap dan menyeluruh, satu sama lain saling
memberikan sumbangannya terhadap perkembangan pribadi peserta didik.
g. Prinsip Keterpaduan
Pengembangan kurikulum juga harus disusun dan dirancang serta
dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan. Perencanaan terpadu bertitik tolak
dari masalah atau topik konsistensi antara unsur-unsurnya. Pelaksanaan terpadu
dengan melibatkan semua pihak, baik kalangan praktisi maupun akademis, sampai
pada tingkat intersektoral. Dengan adanya keterpaduan ini diharapkan akan
terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh. Disamping itu pula dilaksanakan
keterpaduan dalam proses pembelajarannya, baik dalam interaksi antar peserta
didik dan pendidik maupun antar teori dan praktik.
h. Prinsip Mengedepankan Mutu.
Pengembangan kurikulum juga harus berorientasi pada pendidikan mutu
dan mutu pendidikan. Pendidikan mutu berarti pelaksanaan pembelajaran yang
bermutu. Sedangkan mutu pendidikan berorientasi pada hasil pendidikan yang
berkualitas. 29 Pendidikan yang bermutu sangat ditentukan oleh derajat mutu guru
(tenaga pendidik), dalam proses pembelajaran, peralatan atau media yang lengkap
dan memadai untuk proses pembelajaran sehingga hasil pendidikan yang bermutu
diukur berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diharapkan.
B. Pendidikan Berbasis Karakter
1. Pengertian Pendidikan Berbasis Karakter
Pendidikan adalah suatu proses terus menerus yang mengantarkan manusia
muda kearah kedewasaan, yaitu dalam arti kemampuan untuk memperoleh
pengetahuan (knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/keterampilan
(skills developments), mengubah sikap serta kemampuan mengarahkan diri
sendiri, baik di bidang pengetahuan, keterampilan serta dalam memaknai proses
pendewasaan itu sendiri dan kemampuan menilai.30
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan “Sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain,
dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik yang baik dalam diri dan
dalam perilaku”. 31
Karakter seseorang tidak dapat diubah atau dihilangkan. Tetapi jika
melihat bahwa karakter bisa dibangun atau dibentuk, maka jelas karakter bisa
diubah.32 Dalam kamus Poerwadarminta yang dikutip dalam buku Abdul Majid,
karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi
pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, nama dari jumlah seluruh
ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan,
30Agus Hermino, Manajemen Kurikulum Berbasis Karakter Konsep,Pendekatan, dan
Aplikasi (Bandung : Alfabeta,2014),h.4.
31 Kementrian Pendidikan Nasional, Desain Induk Pendidikan Karakter (Jakarta: Badan
Peneliti dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan,2010),h.7.
32 Abdullah Munir, Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah
ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola
pemikiran.33
Pendidikan karakter bukanlah hal yang baru bagi dunia pendidikan. Secara
historis pendidikan karakter telah dikenal sejak 1988 yaitu dengan istilah budi
pekerti. Pendidikan karakter menurut Lickona yang dikutip dalam buku Heri
Gunawan adalah “Pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui
pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang,
yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang
lain, kerja keras dan sebagainya”. Karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang
kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku.34
Pendidikan karakter dimaknai dengan suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran,
atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan
sehingga menjadi manusia insan kamil.35 Sementara itu pendidikan karakter
merupakan penciptaan lingkungan sekolah yang membantu peserta didik dalam
perkembangan etika, tanggung jawab melalui model dan pengajaran karakter yang
baik melalui nilai-nilai universal.
33 Abdul Majid, Pendidikan Karakter Persfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Offest,2011),h.11.
34
Heri Gunawan, op. cit., h.23.
35Samani, Muchlas dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung :
Sedangkan Wibowo mendefinisikan pendidikan karakter dengan
pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur
kepada anak didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan
mempraktikkan dalam kehidupannya baik keluarga, masyarakat, dan negara.36
Berdasarkan pengertian diatas, pendidikan karakter adalah memberikan
pemahaman nilai karakter kepada peserta didik sehingga mereka dapat
menerapkan dalam kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara sehingga
dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.
Kemendiknas yang dikutip dalam buku Heri Gunawan bahwa berdasarkan
kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik,
dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang telah
dikelompokkan menjadi lima yaitu:
a. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang
Maha Esa,
b. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan diri sendiri,
c. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama
manusia, dan
d. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan,
serta
e. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan kebangsaan.37
36
Agus Wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012),h.36.
Tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan pendidikan terletak dalam
nilai-nilai karakter. Dan pembentukan nilai-nilai terdapat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1
Nilai-nilai Karakter yang Dikembangkan di Sekolah
No Nilai Karakter yang
Berkaitan dengan nilaiini, pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya
2 Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri yang meliputi;
Jujur Merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. Bertanggung jawab Merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, tarhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan tuhan YME
Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan
Disiplin Merupakan suatu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan
Kerja keras Merupakan suatu yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas
(belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya Percaya diri Merupakan sikap yakin akan kemampuan diri
sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya
mengatur pemodalan operasinya Berfikir logis, kritis,
kreatif dan inovatif
Berfikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki Mandiri Suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah
tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas
Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahuilebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar
Cinta ilmu Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan
Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta oaring lain
Patuh pada aturan-aturan sosial
Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat, dan mengakui dan kepentingan umum
Menghargai karya dan prestasi orang lain
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakuidan menghormati
keberhasilan orang lain
Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kesemua orang Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang
menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain
4 Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki keruskan alam yang sudah terjadi dan selu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan 5 Nilai kebangsaan Cara berfikir, bertindak dan wawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya Nasionalis Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,
Menghargai keberagaman
Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku dan agama
2. Tujuan pendidikan karakter
Pendidikan karakter mempunyai tujuan penanaman nilai dalam diri peserta
didik dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan
individu. Selain itu meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di
sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia
peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar
kompetensi lulusan.38 Tujuan yang paling mendasar dari Pendidikan adalah untuk
membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam, Rasulullah
Muhammad saw, sang nabi terakhir dalam ajaran islam juga menegaskan bahwa
misi umatnya dalam mendidik manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan
karakter yang baik.39
Adapun tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan mutu
proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan
akhlak peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar
kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter
peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan
pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan
38
Asmani, Muchlas dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya,2011),h.42-43.
nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku
sehari-hari.40
Pendidikan karakter dalam muatan pelajaran pendidikan agama sangat
diperlukan karena berperan penting dalam upaya menciptakan ilmuan-ilmuan
dimasa yang akan datang sehingga ilmu yang didapat dikembangkan dalam
kehidupan sosial melalui pembiasaan-pembiasaan.
3. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter di sekolah akan terlaksana dengan lancar, jika guru
dalam pelaksanaannya memperhatikan beberapa prinsip pendidikan karakter
kemendiknas memberikan rekomendasi 11 prinsip untuk mewujudkan pendidikan
karakter yang efektif sebagai berikut:
a. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter
b. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencangkup
pemikiran, perasaan dan perilaku
c. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk
membengun karakter
d. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian
e. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan
perilaku yang baik
f. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang
yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan
membantu mereka untuk sukses
g. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para perta didik
h. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi
tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang
sama
i. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan mendukung luas dalam
membangun inisiatif pendidikan karakter
j. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam
usaha membangun karakter
k. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagi guru-guru
karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.41
Berdasarkan prinsip-prinsip diatas pengembangan atau pembentukan
karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah untuk
menjadikan pijakan dalam penyenggaraan pendidikan karakter di sekolah.
C. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana
untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan
mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.
41
PAI yang hakikatnya merupakan sebuah proses, dalam perkembangannya juga
dimaksudkan sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Berbicara
tentang PAI dapat dimaknai dalam dua pengertian: pertama sebagai sebuah proses
penanaman ajaran Islam, kedua sebagai bahan kajian yang menjadi materi proses
itu sendiri.42
Pendidikan Agama Islam sering diartikan denagn pendidikan yang
berdasarkan ajaran islam. Dalam pengertian lain bahwa Pendidikan Agama Islam
adalah proses mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan
bahagia, mencintai tanah air, dan tegap jasmaninya, sempurna dan bahagia,
sempurna budi pekertinya akhlaknya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir
dalam pekerjaannya, manis tutur katanya, baik dengan lisan dan tulisan.43
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan
dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah swt, hubungan
manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan
hubungan manusia dengan mahluk lain serta lingkungannya.44 Adapun ruang
lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok,
yaitu:
42Depatermen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah Umum
(Jakarta: Direktora Jendral Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum,2004),h.2.
43
Heri Gunawan, op. cit., h.201.
44Ramayulis, Metode Pendidikan Agama Islam (Cet.V; Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h
a. Al-Qur’an dan Hadis
Yang paling prinsip dan mutlak tentang pengertian Al-Qur’an adalah
bahwa Al-Qur’an itu wahyu atau firman Allah swt untuk menjadi petunjuk dan
pedoman bagi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Dan
bukanlah Al-Qur’an itu kitab karangan Muhammad atau ciptaannya, atau
pikiran-pikiran serta pendapat Muhammad, yang sering diistilahkan dengan
Muhammadisme.45
Maka para ulama berusaha betul untuk memberikan pengertian Al- Qur’an
dengan cara dan menurut mereka sejelas dan seterang mungkin, sehingga tidak
terjadi kesalahan mengenai pengertiannya, sebab Al-Qur’an adalah benar-benar
dari Allah swt, dan bukan buatan manusia ataupun malaikat. Selanjutnya, perlu
diketahui bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sebagai mukjizat Nabi
Muhammad saw yang terbesar ternyata tidak ada seorang manusia pun yang
mampu membuat atau menulis yang semisal Al-Qur’an tersebut.
Uraian atau penjelasan tentang Hadis baik dilihat dari arti segi bahasa
maupun arti istilah adalah sebagai berikut: menurut bahasa, Hadis mempunyai tiga
arti. Pertama, Hadis berarti al-jadid yaitu sesuatu yang baru. Kedua, Hadis berarti
al-qarib yaitu sesuatu yang dekat atau belum lama terjadi. Ketiga, Hadis berarti
al-khabar yaitu suatu berita. Kemudian menurut istilah, pengertian Hadis oleh
45Chabib Thoha, Metodologi Pengajaran Agama (Cet.II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar
para ahli muhaddisin adalah perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan serta hal
ihwal nabi Muhammad saw.46
Yang dimaksud dengan ihwal disini, ialah segala pemberitaan mengenai
Nabi Muhammad saw yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah
kelahiran, serta kebiasaan-kebiasaannya. Jadi, pemberitaan yang dimaksud adalah
mengetengahkan sesuatu mengenai Nabi Muhammad saw yang disampaikan oleh
sumber informasi dari selain Nabi baik dari sahabat maupun tabiin.
b. Aqidah
Secara bahasa (etimologi) kata Aqoid adalah jamak dari Aqidah yang
berarti kepercayaan, maksudnya adalah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang
Islam, artinya mereka menetapkan atas kebenarannya seperti disebutkan dalam
Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.47
Aqidah islamiyah selalu berkaitan dengan iman, seperti: iman kepada
Allah swt, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir.
Untuk itu Allah swt memerintahkan semua umat manusia agar menggunakan akal
pikirannya dengan sebaik-baiknya dan memperhatikan serta merenungkan segala
ciptaan-Nya.
c. Syari’ah
Syari’ah adalah segala aturan yang ditetapkan Allah swt untuk
kepentingan hamba-Nya, yang disampaikan oleh para Nabi dan oleh Nabi
Muhammad saw, baik berkenaan dengan perbuatan lahir manusia yang disebut
amaliyah praktis dan kemudian disusun menjadi ilmu fiqih, maupun yang
berkenaan dengan persoalan aqidah yang disebut i’tiqadiyah dan asliyah yang
disusun menjadi ilmu kalam, atau yang berkenaan dengan aturan tingkah laku
manusia yang disusun menjadi ilmu akhlak dan adab.
Syariat sebagai suatu ketetapan hukum yang ditetapkan Allah swt dengan
disertai dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karenanya sumber
hukum syari’ah itu dalil-dalilnya ada yang bersifat qat-i (jelas dan tegas), dan ada
juga yang bersifat danni (kurang tegas dan kurang jelas), maka ruang lingkup
pembehasan syari’ah secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1) Hukum-hukum yang telah ditetapkan langsung oleh Al-Qur’an dan Hadis
secara jelas. Porsi ini lebih sedikit, tetapi urgensinya sangat besar dan
merupakan dasar yang kokoh untuk bangunan syari’ah seluruhnya.
2) Hukum yang ditetapkan melalui ijtihad oleh para ulama dengan merujuk
pada ketentuan Al-Qur’an dan Hadis, atau merujuk pada sumber hukum
lainnya seperti ijma’ dan qiyas. Bagian kedua ini yang paling banyak
pembahasan hukum islamnya dan merupakan kawasan kajian ilmu fiqih.
Melalui dua jalur besar ini, kemudian secara rinci para ulama membagi
kedalam beberapa cabang pembahasan sesuai dengan obyeknya, yaitu:
hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya
seperti: salat, puasa, haji, hukum-hukum yang mengatur
kerumah-tanggaan seperti: perkawinan, talaq, rujuk, nafkah, nasab dan waris,
hukum-hukum yang bertalian dengan hubungan antar manusia satu dengan
hukum-hukun yang mengatur politik kenegaraan maupun peradilan dan rakyatnya
secara timbal balik, hukum-hukum yang mengatur pidana terhadap
penjahat, maupun mengatur ketertiban dan ketentraman umum,
hukum yang mengatur hubungan negara dengan negara lain dan
hukum-hukum yang mengatur norma-norma.48
d. Akhlak
Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut
bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan akhlak
menurut istilah adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan
dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih
dahulu.
Selanjutnya perbuatan manusia yang dapat dianggap sebagai manifestasi
dari akhlaknya jika perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk
yang sama, sehingga menjadi kebiasaan dan perbuatan-perbuatan itu dilakukan
karena dorongan emosi jiwanya (bukan karena ada tekanan dari luar).
Sesuai dengan ajaran agama tentang adanya perbedaan manusia dalam
segala seginya, maka menurut Moh Ibnu Qoyyim, ada dua jenis akhlak manusia,
yaitu:
1) Akhlak dlarury, yaitu akhlak yang asli atau otomatis yang merupakan
pemberian Allah swt secara langsung, tanpa memerlukan latihan,
kebiasaan dan pendidikan. Akhlak ini hanya dimiliki manusia-manusia
pilihan Allah swt, keadaannya terpelihara dari perbuatan-perbuatan
maksiat dan selalu terjaga dari larangan Allah swt, yaitu para Nabi dan
Rasul-Nya.
2) Akhlak Mukhtasabah, yaitu akhlak atau budi pekerti yang harus dicari
dengan jalan melatih, mendidik dan membiasakan kebiasaan yang baik
serta cara berpikir yang tepat. Tanpa dididik dan dibiasakan akhlak ini
tidak akan terwujud. Akhlak ini yang dimiliki oleh sebagian besar
manusia. Usaha mendidik dan membiasakan kebajikan sangat dianjurkan,
bahkan diperintahkan dalam agama, walaupun tadinya kurang adanya rasa
tertarik, tetapi apabila terus menerus dibiasakan, maka kebiasaan ini akan
mempengaruhi sikap batinnya.
e. Tarikh
Tarikh atau sejarah dianggap salah satu bidang studi pendidikan agama.
Yang dimaksud dengan sejarah adalah studi tentang riwayat hidup Rasulullah
saw, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada
murid-murid sebagai contoh teladan yang utama dari tingkah laku manusia yang
ideal, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.
Sejarah Nabi saw, merupakan riwayat yang terpenting, karena beliau
adalah terjemahan dari ajaran Islam dan merupakan contoh yang tetap hidup bagi
orang Islam disetiap tempat dan masa. Sejarah beliau dimulai dari masa kelahiran
sampai dengan masa kenabian, walaupun disajikan secara ringkas ini merupakan
pelengkap dari sejarah beliau sejak dilahirkan sampai beliau menjupai ajalnya.
Dengan demikian maka pengetahuan tentang riwayat hidup beliau menjadi
Penyajian seperti inilah yang telah ditempuh ahli-ahli sejarah, cara ini
mempunyai arti tersendiri lebih-lebih apabila dlihat bahwa sebagian peristiwa
yang terjadi pada diri Nabi dan kegiatan-kegiatan yang beliau lakukan pada masa
sebelum kenabian, mempunyai kaitan dengan ajaran Islam. Disamping hal-hal
tersebut merupakan alasan yang kuat untuk menolak tuduhan-tuduhan palsu yang
dilontarkan kepada beliau dari orang-orang yang tidak menyukai dan
mempercayai kenabiannya.
Membaca sejarah hidup Nabi dengan khusu’ dan tunduk kepada Allah swt
dianggap ibadah, tetapi bukanlah membaca cerita pada peringatan hari-hari
maulid yang dilakukan orang-orang dewasa ini. Mencintai Nabi Muhammad saw,
bukanlah dengan menggubah syair-syair sanjungan kepada beliau terhadap
sifat-sifatnya yang luar biasa dibacakan pada waktu-waktu tertentu, ataupun
gubahan-gubahan syair-syair yang aneh, apakah pembaca merasa terharu atau tidak, tetapi
hubungan muslim dengan rasulnya yang mulia ini adalah lebih mendalam dan
lebih kokoh lagi daripada hubungan semua yang mendatangkan dampak negatif
terhadap agama.
Ungkapan-ungkapan yang menyatakan hubungan muslim dengan Nabi
mereka semacam ini, tidaklah mereka ucapkan kecuali pada hari mereka
melupakan isi ajaran Nabi. Mereka hanya menyamakan dengan kulit dan bentuk
lahirnya saja tanpa memperhatikan isinya. Oleh karena aspek kulit dan bentuk
lahir sangat terbatas dalam Islam, maka mereka telah terkecoh dalam menciptakan
bentuk-bentuk lain yang lebih mudah buat mereka. Sesungguhnya pekerjaan yang
Orang Islam yang tidak menghayati sunnah Rasulullah dalam hati sanubarinya,
tidak mau mengikuti jejak amal perbuatan dan pemikiran beliau tentu tidak akan
berfaedah baginya ucapan salawat beribu kali siang dan malam.
Berdasarkan uraian tersebut, maka sejarah Nabi dapat dikategorikan
menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, riwayat hidup beliau sebelum Nubuwwah
yakni sejak beliau lahir sampai masa kenabiannya. Kedua, sejarah beliau sejak
masa kenabian sampai beliau wafat.
Achmadi mengemukakan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha
yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan subjek
didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran
islam. Implikasi dari pengertian ini, pendidikan agama islam merupakan
komponen yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan islam. Dari batasan di
atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu sistem yang
memungkinkan seseorang peserta didik dapat mengarahkan kehidupannya sesuai
dengan ideologi Islam.49
Pendidikan agama islam adalah suatu usaha sadar untuk membina dan
mengasuh peserta didik agar senantiasa memahami ajaran islam secara
menyeluruh (kaffah). Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat
mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.50
49Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Aditya
Media,1992),h. 20.
50Zakiyah Daradjat, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental (Jakarta: Gunung
Dalam membina peserta didik maka pendidik mampu memberikan
keteladan, Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Ahzab/33: 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik...51
Dalam ayat ini mengemukakan maksud keteladanan pada diri Rasulullah
saw. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah keteladanan.
kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani
oleh setiap orang.52
Dalam proses perkembangan anak, terdapat suatu fase yang dikenal
dengan fase imitasi. pada fase ini, seorang anak selalu meniru dan mencontoh
orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tuanya atau gurunya. Metode
Keteladanan ini sangat cocok diterapkan pada fase ini. Dalam pendidikan, orang
tua dan guru tidak cukup hanya dengan memberi nasehat dalam arti menyeluruh,
tetapi seharusnya memberikan keteladanan, misalnya menyuruh anak ke mesjid,
sementara ia tidak pernah ke mesjid. tidak satunya kata dan perbuatan,
menjadikan orang tua/guru tidak memiliki wibawaa sebagai pendidik, dan
menjadikan anak bingung, karena apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa
Mufdil Tuhri, Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang
berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat
Menanamkan Sikap, Perilaku, dan Tutur Kata yang Mulia Kepada Anak,
dalam hal ini terdapat pada Q.S Al Isra/17: 23-24
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.53
Surat Al-Isra ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan
karakter. Karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral,
budipekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Kembali kepada pengertian dari
Surah Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa yang pertama Allah memerintahkan
kepada hamba-hambanya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya.yang kedua, kita harus berbakti kepada orang tua. Lalu pada ayat 24
disebutkan bahwa anak hendaknya mendoakan kedua orang tuanya.
Dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa ketika kita menghargai dan
menyayangi orang tua kita dengan baik maka akan menumbuhkan akhlak serta
moral yang baik pula bagi anak sedangkan jikalau kita acuh maka akan timbuh
akhlak dan moral yang tidak baik. Dengan kata lain, hal ini sangat berpengaruh
dalam pendidikan karakter. Antara orangtua sebagai pendidik dan anak. Segala
sesuatu yang diajarkan dengan baik pada mulanya akan menanamkan karakter
yang baik pula pada anak. Untuk itu berbakti kepada orang tua merupakan suatu
cara yang harus dilakukan.
Definisi pendidikan agama islam secara lebih rinci dan jelas, tertera dalam
kurikulum pendidikan agama islam sebagai upaya sadar dan terencana dan
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga
mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalammengamalkan ajaran agama
islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadis, melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan
untuk menghormati agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat
beragama dalam masyarakat hinggah terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
2. Dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu, fungsi dasar ialah
memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan
untuk berdirinya sesuatu.54 Dasar pendidikan agama islam dapat ditinjau dari segi
yuridis/hukum dan dasar religius.
a. Dasar yuridis/hukum, yang tercakup dalam segi ini adalah:
1) Landasan Idiil pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa
mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya
kepada Tuhan Yang Maha Esa atau dengan kata lain harus beragama.
Untuk mewujudkan manusia yang mampu mengamalkan ajaran
agamanya sangat diperlukan pendidikan agama karena pendidikan
agama mempunyai tujuan membentuk manusia bertaqwa kepada Allah
swt.
2) Landasan Struktural/konstitusional yakni UUD 1945 dalam Bab XI
Pasal 29 ayat 1 dan 2 berbunyi:
a) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
b) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya
dan kepercayaannya itu.55
3) Landasan Operasional, yakni dasar yang secara langsung mengatur
pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia, yakni
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas, Pendidikan agama secara langsung dimasukkan ke dalam
kurikulum di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar sampai
Universitas-universitas negeri.
b. Dasar Religius
Dasar pendidikan Islam adalah segala ajarannya yang bersumber dari
Al-Qur’an, sunnah dan ijtihad (ra’yu). Dasar inilah yang membuat pendidikan Islam
menjadi ada, tanpa dasar ini tidak akan ada pendidikan Islam.
55Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen (Cet.II; Jakarta: Sinar