BAB III KEBIJAKAN JEPANG TERHADAP PENDIDIKAN KAUM
B. Pendidikan Formal Kaum Santri
Kebijakan merupakan bukti kemenangan bagi kaum muslimin, karena pada zaman Belanda suara dan usulan mereka tidak didengar, dan saat Jepang datang suara-suara dan usulan mereka mulai diperhatikan.
“.... Doeloe, pendidikan Islam, teristimewa dikampoeng2 tak lain jang diadjarkan oleh para goeroe2 agama itoe, melainkan pendidikan jang hanja mengenai kepentingan diri sendiri2 sadja , karena mereka goeroe2 itoe tidak diberikan idzin oleh pemerintah oentoek mengadjarkan ilmu agama jang lebih loeas lagi atau ilmoe masyarakat dalam lingkoengan oemat Islam. Sebabnja terdjadi jang demikian, ialah sebeloemnja para goroe itoe diberikan idzin oentoek mengajar, terlebih dahoeloe mereka haroes diperiksa oleh kantoer oeroesan Agama Islam dibawah pimpinan seorang
30
Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa, h. 259 31Ibid.
Belanda jang tidak beragama Islam, mendjadi peladjaran2 jang diberikan idzin oentoek diadjarkan kepada moerid2 si goeroe tadi, ialah peladjaran jang soedah dibatasi oleh kantor terseboet sehingga peladjaran jang diberikan kepada moerid2nja itoe sangat sempit sekali...”32
Pendidikan agama Islam pada zaman Belanda hanya ada dikampung-kampung dipinggiran kota. Namun saat pemerintahan Jepang, pelajaran agama Islam tidak hanya disekolah-sekolah Islam tetapi juga disekolah-sekolah umum. Dan pendidikan yang disampaikan para ulama tidak hanya sebatas hubungan hambanya dengan Allah, tetapi juga ilmu dalam bermasyarakat.
Pihak Jepang menyusun berbagai program, antara lain melakukan kunjungan-kunjungan ke masjid-masjid dan pesantren-pesantren di Jawa setelah ditutup beberapa bulan akibat situasi perang.33 Selama pendudukan Jepang, sekolah-sekolah agama menerima bantuan-bantuan materi dan keuangan yang lebih banyak dari pada pemerintahan Belanda.34 Sekolah-sekolah Islam dan taman siswa diberikan kemudahan oleh pemerintah Jepang sedangkan sekolah-sekolah swasta Kristen mendapatkan kesulitan memperoleh izin dari pemerintah Jepang.35
Kebijakan yang dijalankan Jepang di bidang pendidikan didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu; Pertama, menata kembali pendidikan berdasarkan keseragamana dan persamaan untuk semua kelompok etnis dan kelas sosial.
Kedua, Menghapus secara sistematik pengaruh Belanda dari sekolah-sekolah dan menjadikan unsur Indonesia sebagai landasan utama. Ketiga, menjadikan semua
32“Islam Dizaman Belanda Oleh; A. Salam Yahja”, Soeara Madjelis Islam A’lla Indonesia, 14 Sja’ban 1364 (15 Agoestoes 2603). h. 10
33
Amrin, Dibawah Pendudukan Jepang 1942-1945, h. 68. 34
Benda, Bulan Sabit Dan Matahari Terbit. h. 161
35
lembaga pendidikan sebagai alat untuk memasukkan doktrin “Kemakmuran Asia Timur Raya” di bawah pimpinan Jepang.36
Jepang menyadari pentingnya pendidikan. Melalui pendidikan mentalitas dan cara berfikir masyarakat Indonesia dapat diubah dari mentalitas Eropa kepada alam pikiran Jepang. Melalui pendidikan, terciptalah kader-kader khusus para pemuda sebagaimana yang diharapkan Jepang,37 yaitu pemuda-pemuda yang dapat membantu Jepang dalam perang Pasifik.
Umat Islam memiliki keinginan agar sekolah-sekolah umum diberikan pelajaran agama Islam, karena pada masa penjajahan Belanda, hal tersebut tidak diperbolehkan, sehingga umat Islam yang merupakan mayoritas dari penduduk Indonesia tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah umum. Namun sejak pemerintahan Jepang hal tersebut tidak terjadi lagi karena disekolah-sekolah umum diberikan pelajaran agama Islam. Pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka agama diberikan kebebasan untuk mengajarkan agana Islam kepada rakyat. Dalam rapat panitia di Serang, Banten, diperoleh hasil bahwa di semua sekolah rakyat dalam Banten Shuu diperbolehkan untuk mengadakan pelajaran agama Islam dan memperbolehkan pengajaran agama Islam diluar jam pelajaran sekolah.
“... Demikianlah dengan berangsoer-angsoer penghormatan dan ataoe penghargaan Pemerintah Dai Nippon kepada Islam semakin bertambah njata; bahkan diberikan keloeasan bagi pemimpin-pemimpin dan pemoeka Islam kepada rakjat. Setingkat lagi lebih njata penghormatan pemerintah sekarang kepada Agama Islam, jakni kita dapati dari peristiwa jang baoroe-baroe ini berlangsoeng dalam rapat Panitia Masjoemi di Serang, Banten Shuu. Kebetoelan sekali dalam roeangan lain ada dimoeat toelisan maoepoen koetipan dan komentar tentang pelajaran agama di sekolah Rakyat oleh saoedara Asa Bafagih; dalam rapat terseboet Naiseibuchoo menerangkan bahwa Banten Shuu adalah soeatu daerah jang mempoenyai
36
Amrin, Dibawah Pendudukan Jepang 1942-1945. h. 74. 37
pendoedoek Oemat Islam dan banjak Kiai dan Oelamanja. Mengingat kedoedoekan jang amat penting itoe, maka moelai tahoen pengajaran ini semoea sekolah Rakyat dalam Banten Shuu diadakan peladjaran Agama Islam. tambahan lagi terdapat poela perintah dari Banten Shuu-ehookan jang berboenji, atas perintah Banten Suuchookan pada semoea sekolah rakyat di Banten Shuu moelai tahunjaran 2605-1606 diadakan peladjaran Agama Islam diloar djam pengadjaran jang telah ditentoekan”.38
Pendidikan sekolah, terutama sekolah dasar, merupakan salah satu aspek yang banyak dimanfaatkan oleh pemerintah Jepang sebagai sarana untuk mengdoktrinasi massa. Ketika pendudukan dimulai sebagian besar sekolah yang ada ditutup. Sekolah swasta selain dari pada Syutoo Kokumin Gakkoo (Sekolah Pertama) Kokumin Gakkoo (sekolah rakyat) atau Tyuutoo Zitugyoo Gakkooo
(sekolah perusahaan menengah) tidak boleh didirikan kecuali telah mendapatkan izin dan memenuhi syarat-syarat yang berlaku seperti yang telah ditetapkan Jepang dalam Osamu Seirei No. 22 pada tanggal 1 Juli 1943;
“...Barang siapa hendak mendapatkan izin oentoek mendirikan sekolah partikoelir haroes menjapaikan soerat permohonan jang berisi hal-hal terseoboet dibawah ini, beserta dengan gambaran-gambaran oekoeran pekarangan sekolah, gedoeng sekolah dan djika ada roemah pemondokan, roemah pemondokannja itoe kepada pedjabatan jang bersangkoetan oentoek disahkan; 1. Toejoeanja, 2. Namanja (haroes dipakai perkataan “partikoelir”, 3. Tempat kedoedoekan, 5. Tanggal mendirikan sekolah, 6. Pengoesaha dan pengoeroes sekolah, 6. Kepala sekolah atau wakilnja dan goroe-goroe sekolah, 7. Djoemlah moerid jang dapat diterima, 8. Peratoeran sekolah, 9. Biaja sekolah dan tjara menyjelenggarakan sekolah
Dalam peratoeran sekolah haroes ditetapkan hal-hal jang dibawah ini: 1. Lamanya peladjaran sekolah, tahoen pengadjarana, banyaknya kelas, pembagian tempoh tahoen-pengadjarana hari dan moesim liboeran, 2. Tjara pengatoeran peladdjaran dan bagian pembagian waktoe pengadjaran, 3. Oedjian, 4. Penerimaan moerid oentoek tahoen pengajaran baroe dan berhentinja moerid dari sekolah, 5. Oeang sekolah dan oeang masoek sekolah, 6. Pedjian dan hoekoeman, 7. Pemondokan, 8. Pekerjaan goroe.”39
38“Sekolah dan Agama Islam oleh Drs. Moh. Hatta”, Soeara Muslimin Indonesia, (30 Moeharram 1364/15 Djanoeari 2605, No. 2 Th. 3). h. 7.
39“Osamu Seirei No. 22 Tentang Sekolah Partikoelir” Kan Po (Berita Pemerintah) No. 22 (Tahun II Bulan 7, 2603).
Banyak sekolah Islam yang diizinkan untuk dibuka kembali. Namun harus menerima silabus yang telah disatukan sejak sejak pertengahan tahun1942. Secara keseluruhan sekolah-sekolah Islam Indonesia berjalan lebih baik dari pada sekolah-sekolah Taman Siswa. Guru-guru Islam diorganisisr didalam suatu badan pusat, Penggaboengan Goroe Islam Indonesia, dan semakin banyak sekolah-sekolah Islam.40 Tetapi sekolah-sekolah tersebut dibuka setelah memenuhi pesyaratan-pesyaratan yang diberikan oleh Jepang.
Bekas pendidikan Barat seperti Europeese Lagere School (ELS, sekolah dasar Eropa) Hollandse Inlandse School (HIS, sekolah Pribumi Belanda) dan Schakel Shool (Sekolah Penghulu) tidak diizinkan dibuka selama pendudukan Jepang. Dengan demikian Jepang menghapuskan dualisme pendidikan sekolah Barat dan Pribumi. Sekolah dasar pribumi juga terorganisasikan di bawah sistem baru dan dibagi menjadi dua tipe. Pertama disebut sekolah pertama atau shoto kokumin gakko selama tiga tahun dan setara dengan volks school pada zaman Balanda. Kedua disebut sekolah rakyat atau kokumin gakko yang juga merupakan pendidikan lanjutan selama tiga tahun (kelas 4 sampai 6).41
Apabila dibandingkan dengan sekolah zaman kolonial Belanda, jumlah seluruh sekolah dasar meningkat 14% sementara jumlah murid meningkat 78%. Hal yang paling mengejutkan ialah meningkatnya jumlah “sekolah rakyat”. Pada zaman Belanda hanya anak-anak pejabat desa dan keluarga kaya yang mampu bersekolah, tetapi pada zaman Jepang setiap orang bisa bersekolah karena tidak dipungut biaya. Tidak selamanya sekolah-sekolah gratis atau cuma-cuma, tetapi
40
Benda, Bulan Sabit Dan Matahari Terbit. h. 165-164 41
tergantung pada sekolahnya. Namun dalam hal ini, biayanya lebih murah dibandingkan dengan zaman Belanda.42
Pelajaran yang diajarkan disekolah dasar ditetapkan oleh pemerintah militer sebagai berikut; latihan kemiliteran (kyoren), Pelajaran moral (shushin), Pekerjaan praktis (sagyo), Bahasa Jepang, Bahasa Daerah (Jawa, Sunda, atau Madura), Sejarah, Geografi, Matematika, Ilmu alam, Olahraga, Musik, Seni menulis (shuji), Kerajinan Tangan, Melukis, Perawatan Rumah, dan Bahasa Indonesia.43 Untuk olah raga, anak-anak di Jawa dilatih untuk menggerakkan badan melalui permainan seperti Sumo.
“semendjak semasa ketjilnja kanak-kanan di Nippon telah dibiasakan melatih dan mengoeatkan badanja dengan melakoekan berbagai gerak badan lebih-lebih permainan Soemo, oleh karena itoe melakoekan olah raga itoe berarti memelihara tenaga. Tidak mengherankan, djika atjap kali diadakan pertandingan Soemo serta djoega dilakoekan Soemo Taisho....”44
Jepang ikut campur dalam bidang pendidikan agama, karena Jepang menyadari pendidikan bukan saja menjadi kunci menuju Japanisasi yang berhasil, akan tetapi pendidikan Islam juga memerlukan suatu perhatian khusus di mata orang Jepang. Masalah kontrol dan pengawasan terhadap pendidikan Islam mempunyai dua aspek, yang satu bersifat administratif yang lainnya bersifat pendidikan.
Sejalan dengan pendidikan umum, ada berbagai sekolah kejuruan yang dibuka kembali setelah 1943, untuk menampung lulusan sekolah dasar.45 Dibuka Sekolah Pertanian menengah dan Sekolah Teknik menengah di Indramayu dan Cirebon. Di sekolah tersebut selain diajarkan tentang pertanian dan teknik, juga
42
Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa. h. 405.
43Ibid.
h. 408.
44“Kanak-Kanak di Djawa” Djawa Baroe No. Istimewa (1/3/2603).
45
diajarkan tentang kesadaran berbangsa dan bernegara. Jepang berusaha agar pemuda Indonesia bersemangat dalam berperang melawan Belanda karena Belanda sejak dulu tidak ada keinginan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, berbeda dengan Jepang.46 Pada tahun 1944 dibuka Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada tanggal 8 Juli 2605.
Badan penyelenggara Sekolah Tinggi Islam mengoemoemkan; Sekolah Tinggia Islam akan diboeka sejara resmi pada hari Mi’radj Nabi Moehammad SAW jang akan datang, jaitu tanggal 8 Djoeli 2605. Jang akan diterima mendjadi peladjar, ialah: a. Moerid2 tammat Sekolah Menengah Tinggi (SMT), atau jang sekolahnja sederadjat dengan SMT moerid itu haroes tahoe bahasa Arab sekedarnja. b. moerid2 tammat Madrasah Islam menengah djika pengetahuannja dianggap sama dengan moerid2 STM. Oentoek moerid-moerid jang tidak memenoehi sjarat-sjarat sub a dan sub b diadakan pendidikan pendaholoean selama satoe tahoen 47
Pembukaan sekolah di hadiri oleh Gunseikan dan dihadiri oleh pembesar-pembesar Jepang dan Indonesia. yang dimulai pada pukul 10.00. Setelah dilaksanakan upacara penghormatan dan pembacaan Al-Qur’an, pemimpin
Gunseikan memberikan amanat sebagai berikut:
“Saya merasa amat gembira sekali pada hari Mi’raj jang dibesarkan oleh Oemat Islam ini, dapat menghadirioepadjara pemboekaan SEKOLAH TINGGI ISLAM jang menjadi idaman-idaman Oemat Islam. sekolah Tinggi Islam ini tentoe akan mengadjarkan ilmoe-ilmoe Agama jang tertinggi di Indonesia. oleh sebab itoe adalah kewadjibanja mendidik orang-orang jang tjakap benar oentoek memenoehi panggilan djaman. Dan bekerdja teroes-meneroes goena mendidik pemimpin oemat Islam soepaja bersatoe-padoe sebagai rakjatdalam negara merdeka jang akan datang. Dan beroesaha oentoek menjelenggarakan pendidikan sesoeai negara merdeka dihadapan mata moesoeh. Peladjaran-peladjaran semoea jang telah diizinkan oentoek mendjadi mahasiswa djanganlah hanja mendjadi ilmoe jang dalam sadja, tetapi hendaknja melatih rohani dan djasmani dengan soenggoeh-soenggoeh
46“Sekolah Pertanian menengah dan Sekolah Teknik menengah” Asia Raya, Senin Legi, (23 Djoeli 2605/14 Roewah 1364).
47“Sekolah Tinggi Islam Djakarta (Djakarta Kaikyoo Daigaku)”, Asia Raya, Rebo Legi, (13 Djoeni 2665/3 Redjab 1361).
soepaja mendjadi tjontoh teladan bagi seloeroeh rakjat Indonesia. Sekian amanat saja”48
Untuk sementara Sekolah Tinggi Islam diadakan di Kantor Pusat Masyumi di Jakarta. Sekolah Tinggi Islam dikepalai oleh Abd. Kahar Muzakkir, sedangkan guru-gurunya terdiri atas orang-orang yang terkemuka dari kalangan Islam.
“....Boeat sementara sekolah terseboet, ditempatkan pada Kantor Poesat Masjumi Taisyo Doori I, Djakarta Tokubetu Si, sedangkan peratoeran-peratoeran oentoek mendjadi peladjar, soedah poela dioemoemkan. Menoeroet rentjana toean Abd. Kahar Moezakir Syuumubu-zit oo akan diangkat sebagai Goeroe Kepala, sedangkan para goeroe lainja terdiri dari orang-orang jang terkemoeka dalam kalangan Islam”49
Sedangakn nama-nama guru dan pelajaran-pelajaran yang disampaikan adalah sebagai berikut:
“Bagian Yoka:
Goeroe-goero:
H. Abd. Kahar Moezakkir, Bahasa Arab dan hoerof Arab. Moehammad Rasjidi, Pengetahuan Filsafat.
K.H. Iljas, Al-Qur’an.
Goeroe Istimewa:
Dr. Slamet Iman Santoso, Physiology. Drs. A. Rameli, Pengetahuan Kesehatan.
Rr. R.M. Priono, Sedjarah Keboedajaan dan bahasa Sanskerta.
Goeroe Bantoe:
Mr. Ali Boediardjo, Kesoesilaan. Mr. Abd. Karim, Ilmoe Masyarakat Mr. Soemanang, Ekonomi.
Drs. Bahtiar, Ilmoe Masjarakat.
Mr. St. Takdir Alisjahbana, Bahasa Indonesia. Bagian Honka dan Kenkyuka:
Goeroe Istimewa:
Mr. Dr. Soepomo, Hoekoem Adat
H. A. Salim, Sejarah Agama dan Agama Islam. Abd Hamid Hakim, Tauhid.
K.H.M. Mansoer, Al-Qur’an
Dr. R. Ng. Poerbotjaroko, Bahasa Djawa Koeno.
48“Oepatjara Pemboekaan: Sekolah Tinggi Islam; Pendidikan Tjalon Pemimpin
-Pemimpin Islam Indonesia”, Soeara Muslimin Indonesia, (19 Djoemadul Achir 1364/19 Djoeni 2605), No. 11 Th. 3.
49“Sekolah Tinggi Islam jang Pertama di Indonesia” Soeara Muslimin Indonesia, (19 Djoemadul Achir 1364/19 Djoeni 2605), No. 11 Th. 3. h. 13
Goeroe bantoe:
M. Zain Djambek, Oesoel.
Sadeli hasan, Bahasa Ibrani dan Soerjani.
Goeroe Bantoe Istiimewa:
H. Moesaddad, Ilmoe perbandingan perbedaan agama-agama. H. Faried Ma’roef, Tafsir....”50
Calon pelajar Sekolah Tinggi Islam yang telah lulus dalam ujian, untuk angkatan pertama, berjumlah 49 orang, 35 dari SMT dan 14 dari Madrasah.
“Tjalon-tjalon peladjar Sekolah Tinggi Islam jang telah diterima dengan resmi oentoek tingkatan pendahoeloean jang telah loeloes dalam oedjian berjoemlah 49 orang, 35 tjalon dari S.M.T, dan 14 orang dari Madrasah...”51
Banyak murid-murid SMT di Semarang yang ingin masuk ke Sekolah Tinggi Islam. Oleh karena itu, mereka meminta untuk diadakan kursus agar dapat masuk ke Sekolah Tinggi Islam. Dan akhirnya kursus tersebut diadakan dengan tenaga pengajar dari Muhammadiyah.
“Oentoek memahamkan dan mempertinggi Agama Islam dan lain-lain, pelajdjaran jang diberikan pada Sekolah Tinggi Islam, kini moerid-moerid Sekolah Menengah Tinggi Semarang menjampaikan permohonan dan keinginannja soepaja kelak bisa dengan setjara moedah masoek Sekolah Tinggi Islam, diadakan rentjana peladjaran choesces bagi mencentoet agama dan lain-lainnja. Oentoek itoe, kabarnja, oleh jang berwadjib lebih doeloe akan diadakan permoesyawaratan antara orang toea moerid, Badan Pengadjaran oentoek meroendingkan bagaimana baiknja tindakan itoe. Lebih landjoet dapat dikabarkan bahwa oentoek langsoengnja tindakan, Badan Pengadjaran oentoek meroendingkan bagaimana baiknja tindakan itoe. Lebih landjoet dapat dikabarkan bahwa oentoek langsoengnja tindakan2 tsb. Moehammadijah sanggoep menyediakan tenaga oentoek memberikan peladjaran-peladjaran jang dimaksoed oleh moerid-moerid Sekolah Tinggi itoe.52
Berbeda dengan Belanda Jepang berkeinginan untuk mengajarkan bahasa mereka kepada khalayak seluas mungkin. Selain itu di Jawa bahasa Jepang
50“Sekolah Tinggi Islam jang Pertama di Indonesia Keterangan jang Berwajib” Soeara Muslimin Indonesia, (19 Djoemadul Achir 1364/19 Djoeni 2605), No. 11 Th. 3. h. 14
51“Sekolah Tinggi Islam: Tjalon-tjalon jang Diterima Oentoek Tingkat Pendahuluan”,
Asia Raya (Selasa Pon, 14 Agoest 2665 (6 Ramadhon 1364). No.158
52“Moerid2 S.M.T Minta Masoek Sekolah Tinggi Islam”, Asia Raya (Selasa Pon, 14 Agoest 2665 (6 Ramadhon 1364). No. 195.
diajarkan untuk membuat murid memahami kehidupan, semangat dan kebudayaan Jepang. Beberapa jam perminggu disisihkan untuk pengajaran bahasa Jepang di seluruh jenjang sekolah. Untuk mengajarkan bahasa Jepang disekolah lanjutan, dikirim guru-guru dari Jepang. Di sekolah dasar tidak ada orang Jepang. Dan guru-guru di Indonesia terpaksa mengajarkan bahasa Jepang setelah menjalani kursus latihan intensif berjangka pendek. Di pihak lain hal yang lebih penting ialah pengajaran bahasa Indonesia. Di bawah kekuasaan Jepang, pelajaran bahasa Indonesia didorong dan bahasa Indonesia semakin sering digunakan di sekolah dibandingkan dengan bahasa daerah.53 Jepang membuat kebijakan tersebut agar Jepang dapat berkomunikasi dengan baik dengan rakyat Indonesia. Pelajaran disekolah yang diberikan oleh Jepang kepada anak-anak baik teori maupun praktek menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Pelajaran yang diperoleh pada zaman Jepang merupakan kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi tentara Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi.54
Pada masa pendudukan Jepang, usaha untuk menyunting buku-buku sudah dimulai sejak 1942, buku-buku pelajaran zaman Belanda seluruhnya dikaji ulang dan diperbaiki. Kemudian menjelang akhir tahun 1942 diterbitkan 57 jenis buku pelajaran baru berbahasa Indonesia. Selanjutnya, mulai tahun ajaran baru, April 1943, pemerintah berusaha menjalankan pendidikan baru dengan kurikulum dan buku pelajaran yang baru. Tetapi tidak berjalan dengan baik karena sekolah-sekolah kekurangan tenaga pengajar. Hal ini disebabkan karena adanya perluasan pendidikan sekolah serta meningkatnya permintaan akan tenaga guru dari
53
Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa. h. 411-412.
54
Harnoko Poliman, Darto, Perang Kemerdekaan Kebumen Tahun 1942-1950, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. h. 20
sektor kemasyarakatan lainnya. Di antaranya direkrut sebagai pangreh praja dan pengawas pemerintahan lainnya. Beberapa orang direkrut untuk bekerja di kantor propaganda karena sebagian besar guru diianggap cakap berpidato. Beberapa orang diangkat sebagai infrastruktur berbagai kusus latihan diluar pendidikan formal, dan lain-lain.55
Selain pendidikan formal untuk kaum santri juga diadakan pendidikan untuk kaum romusa karena sebagian besar para romusa buta huruf. Pemerintah Jepang telah menyediakan asrama untuk para romusa. Di asrama tersebut akan diadakan rumah sakit dan pengawasan kebersihan dan untuk urusan kesehatan para romusa. Dan untuk urusan pertanian setiap asramah akan disediakan tanah pertanian untuk para romusya agar dapat dikelola untuk mencukupi kebutuhan mereka. Dan untuk pendidikan para romusya, akan diberikan pelajaran agama oleh para kiai di sekitar asramah sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
“.... peladjaran Agama Islam telah moelai diadakan diashrama oleh para kiai dari tempat-tempat jang berkaitan dengan asramah, jaitoe pada waktoe-waktoe jang ditetapkan. Soal pendidikan agama ini, menoeroet keterangan Roomu-Syoorihan, akan diperbanjak..”.56
Selain pelajaran agama, setiap sore diadakan pelajaran membaca angka dan huruf untuk memberantas buta huruf, pelajaran ini diberikan oleh para sidooin dalam bahasa daerah untuk mempermudah para romusa dalam memahami pelajaran yang diajarkan.
55Ibid.
h. 414-416
56“Oesaha Pendidikan Dikalangan Para Roomusya”, Asia Raya, (Djoem’at Paing, 29 Djoeni 2665/19 Redjab 1364).