Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Adab dan Humaniora
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)
Oleh:
AMANAH (1111022000055)
JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Judul: Kebijakan Jepang Terhadap Pendidikan Kaum Muslimin Di Indonesia (1942-1945)
Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan mengenai apa saja kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum Muslimin di Indonesia (1942-1945). Dan bagaimana kondisi pendidikan kaum muslimin pada masa penjajahan Jepang. Karena pada masa, itu Jepang sangat mengawasi pendidikan kaum muslimin.
Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode yang biasa digunakan dalam penelitian sejarah pada umumnya, yaitu; heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penulis melakukan pengumpulan data melalui metode kepustakaan. Selain itu, untuk menguatkan analisa dalam skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan sosial dan politik.
Dalam penelitian ini penulis menemukan fakta-fakta terkait kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum muslimin di Indonesia (1942-1945) diantaranya; pertama pelatihan alim ulama/guru untuk mendidik dan mempropagandakan kaum muslimin, dan kedua pendidikan santri baik formal (pendidikan di sekolah) maupun non formal (pendidikan militer dan pelatihan), yang diadakan untuk membantu Jepang dalam perang dunia II.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
telah memberikan petunjuk dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang selalu
bersyukur. Shalawat beriring salam selalu terlimpah curahkan kepada baginda
alam yakni Nabi besar kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para
pengikutnya hingga akhir zaman. Syukur Alhamdulillah dengan do’a dan usaha
akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik, walaupun tentunya
banyak hambatan dan rintangan yang senantiasa silih berganti.
Penulis menyadari skripsi yang berjudul “Kebijakan Jepang Terhadap
Pendidikan Kaum Muslimin di Indonesia (1942-1945)”, ini tidak akan
terselesaikan tanpa bantuan dari semua pihak, baik dukungan moril maupun
materil. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Prof. Dr. Sukron Kamil, MA, selaku Dekan Fakultas Adab dan
Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. H. Nurhasan, MA, selaku Ketua Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Solikhatus Sa’diyah, M.Pd, selaku sekeretaris Jurusan Sejarah dan
Kebudayaan Islam yang dengan sabar memberikan pelayanan terkait
administrasi yang penulis butuhkan.
5. Dr. Parlindungan Siregar, M. Ag, selaku dosen pembimbing skripsi, yang
6. Dr. H. Abd. Wahid Hasyim, M.Ag, selaku Dosen Penasehat Akademik
yang telah memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis selama
perkuliahan.
7. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA, selaku dosen penguji I, terima kasih
atas masukan dan arahannya.
8. Imas Emalia, M. Hum, selaku dosen penguji II terima kasih telah
memberikan arahan dan masukannya kepada penulis hingga penulis
mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.
9. Bapak dan Ibu Dosen, yang telah memberikan ilmu pengetahuannya
kepada penulis selama perkuliahan.
10.Karyawan/Karyawati Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas
Adab dan Humaniora yang telah memberikan pelayanan dan menyediakan
fasilitas dalam penulisan skrispi ini.
11.Orang tua tercinta, ayahanda Alm. Dasean dan ibunda Rusmiyati yang
tiada hentinya memberikan do’a, nasehat, dan kasih sayangnya. Penulis
mengucapkan terimakasih yang tulus. Semoga Allah selalu memberikan
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin.
12.Kakak tercinta Suhardi, Anita, Sum Maryanah dan adik tersayang Nur
Atini, yang selalu memberikan do’a dan dukungan kepada penulis agar
terus melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Serta kepada
keluarga dari Kakak Ipar Lukman dan Dadang Mutohar, terima kasih atas
dukungan kepada penulis untuk tetap melanjutkan ke bangku perkuliahan
hingga sampai ke Almamater tercinta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
14.Kepada Orang Tua Asuh Ibu Lusi Indriani, Ibu Hj. Nurhayati, Ibu Hj.
Murtiningsih, Ibu Hj. Siti beserta Keluarga yang telah memberikan
bantuan materi maupun ilmu serta motivasi kepada penulis.
15.Kepada Aa Nandang, yang selalu menemani, membantu dan memberikan
semangat serta dukungan kepada penulis. Terimakasih juga kepada
Sahabat-sahabatku Adelia Permata Sari, dan Khairunnisa yang selalu
memberikan semangat dan dukungan kepada penulis.
16.Sahabat-sahabat SKI seperjuangan angkatan 2011 terima kasih atas
kerjasamanya selama perkuliahan. Semoga kita dipertemukan dalam
keadaan sukses.
17.Dirga Fawakih, Yanti Susilawati, Silpia Ulhaq, Masitah, dan Siti
Rahmawati penulis hanturkan terima kasih yang mendalam telah menjadi
sahabat yang selalu menemani serta menghibur saat penulis mulai merasa
jenuh, dan tak henti-hentinya memberikan semangat dan motivasi baik
dalam pencarian sumber maupun dalam penulisan skripsi.
18.Sahabat-Sahabat BLU UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2011
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca demi lebih baiknya skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Jakarta, 26 Agustus 2015
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Batasan dan Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Manfaat Penelitian ... 9
F. Tinjauan Pustaka ... 9
G. Teori dan Konsep ... 12
H. Metode Penelitian ... 13
I. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG A. Kedatangan Jepang ke Indonesia ... 16
B. Kebijakan-kebijakan Pemerintah Jepang ... 22
BAB III KEBIJAKAN JEPANG TERHADAP PENDIDIKAN KAUM MUSLIMIN A. Pelatihan-Pelatihan Ulama dan Guru ... 38
B. Pendidikan Formal Kaum Santri ... 50
A. Respon Masyarakat Muslim Indonesia Terhadap Kebijakan Jepang ... 68
B. Kemajuan terhadap Pendidikan Muslim di Indonesia ... 72
C. Kemunduran terhadap Pendidikan Muslim di Indonesia ... 74
D. Terbentuknya Organisasi Militer ... 76
BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan ... 82
B. Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 84
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu pondasi berbagai sistem yang berlaku di
Indonesia untuk membangun negara dan meningkatan kesejahteraan rakyat pada
umumnya. Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan di Indonesia diawasi secara
ketat oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenakan Belanda tahu bahwa melalui
pendidikan gerakan-gerakan perlawanan terhadap keberadaan Belanda di
Indonesia dapat muncul dan menyulitkan Belanda. Terutama pada pendidikan
Islam di Indonesia, karena umat Islam sangat membenci orang Barat termasuk
Belanda. Belanda menerapkan sistem barat1 pada pendidikan di Indonesia untuk menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan mereka dengan upah
yang murah. Begitu pula pada masa penjajahan Jepang, melalui beberapa
kebijakan, salah satunya melalui pendidikan, Jepang berusaha mengambil hati
masyarakat muslim di Indonesia, agar mau membantu Jepang. Akan tetapi
berbeda dengan Belanda yang membuat sekolah berdasarkan kelas sosial2 Jepang malah menghapuskan sistem tersebut dan menggantikannya dengan sistem yang
baru yaitu sistem integrasi pendidikan.
Keberadaan Jepang ke Indonesia dimulai pada tahun 1938 saat terjadi
perang Pasifik. Jerman, Itali, dan Jepang3 berhadapan dengan sekutu yang terdiri
1
Harry J. Benda, Bulan Sabit Dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang (trjmh), (Jakarta: Pt. Dunia Pustaka Jaya, 1980), h. 59.
2
Sistem pendidikan ini mengakibatkan semakin melebarnya jurang pemisah antara yang memerintah dengan yang diperintah. Ibid, h. 61.
3
dari Inggris, Perancis, Rusia, dan Amerika.4 Pada tanggal 7 Desember 1941, Jepang menyerang Pearl Harbour (pangkalan militer Amerika) di Hawaii. Dengan
serangan ini, perang Pasifik pun meletus. Dalam waktu kurang dari 5 bulan sejak
Pearl Harbour jatuh, Jepang menguasai hampir seluruh Asia Tenggara, kecuali
Thailand. Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi wilayah jajahan
Jepang.
Jepang telah mengincar Indonesia karena kaya akan sumber daya alamnya
yang sangat dibutuhkan oleh Jepang. Sebelum perang beberapa misi diplomatik
dan dagang Jepang telah beberapa kali berusaha membujuk pemerintah kolonial
Belanda untuk mengizinkan mereka mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.
Namun permintaan mereka ditolak. Kini keikutsertaan Belanda dalam Perang
Pasifik memberikan kesempatan emas bagi Jepang untuk menguasai Kepulauan
Nusantara.5
Jepang menyerang Indonesia pada tanggal 10 Januari 1942 dan
mengarahkan serangan awalnya ke berbagai daerah pertambangan minyak di
Tarakan dan Balikpapan di Kalimantan serta Palembang di Sumatra. Pada akhir
Februari 1942, armada Laut Jepang berhasil melumpuhkan armada gabungan
Sekutu dalam pertempuran di laut Jawa. Hal tersebut dilakukan Jepang agar lebih
ketujuh dunia. Negara yang miskin lahan pertanian ini menyokongnya dengan aneka ragam industry ,efisiensi dan teknologi Skill, Jepang melesat jauh dengan peradaban yang mengagumkan. Tercatat sebagai nomor satu dalam industri dan usaha perikanan laut, Jepang adalah penangkap ikan terbanyak dengan 15% tangkapan dunia. Tidak terbilang betapa luasnya kemajuan yang telah dicapai setelah Perang Dunia II dan pemboman Hirosima dan Nagasaki, Jepang dapat bangkit sebagai negara yang berkemampuan teknologi yang dikenal di seluruh dunia. Atlas Global Indonesia-Dunia:34 Provinsi Di Indonesia Dilengkapi Provinsi Kalimntan Utara untuk SD, SMP, SMA,& UMUM, (Surabaya: PT. Mitra Agung), h. 99.
4
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2012), h. 34.
5
mudah dalam menguasai Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1942 Indonesiapun
jatuh ketangan Jepang.6
Guna mendukung kepentingan perangnya, pemerintah Jepang di Indonesia
di masa pendudukannya berkeinginan untuk memanfaatkan sumber daya yang
dimiliki Indonesia, baik sumber daya ekonomi, sumber daya manusia maupun
sumber daya lainnya.7 Jepang memahami Indonesia dengan mayoritas umat Islam. Jepang jelas menyadari pentingnya Islam sebagai suatu unsur kekuasaan di desa
Indonesia.8 Karena Jepang menganggap Islam sebagai sebuah idiologi yang bertentangan dengan kebudayaan barat, yaitu dengan perang suci melawan
Kristen.9 Oleh karena itu, Jepang berusaha untuk memanfaatkan umat Islam dalam melawan sekutu.
Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Belanda, pemerintah militer Jepang
menunjukkan sikap yang bersahabat terhadap alim ulama dan berusaha
menggalang kerja sama dengan mereka.10 Jepang berharap guru-guru agama dapat membantu Jepang dalam memobilisasi masyarakat Indonesia melalui pendidikan.
Karena guru merupakan inti dari suksesnya suatu pendidikan, maka gurulah yang
harus dididik terlebih dahulu. Oleh karena itu Jepang pun mengadakan kursus
baik kursus untuk alim ulama maupun guru-guru. Kursus-kursus tersebut mulai
dilakukan pada bulan Juni 1942 di Jakarta, yang diikuti oleh 122 orang guru dari
berbagai daerah di Jawa dan Madura. Kursus ini dilakukan untuk
mengindoktrinasi para guru dengan semangat Jepang dan tujuan Perang Pasifik
6
Oktorino, Konflik Bersejarah, h. X. 7
A.B Lapian (penyunting), Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang Mengalami, (Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 1988) h. 85.
8
Benda, Bulan Sabit Dan Matahari Terbit, h. 139. 9
Aiko Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945,
(Depok: Komunitas Bambu, 2015) h. 304. 10
serta Hakko Iciu (delapan Benang dibawah satu atap) yang intinya adalah pembentukan lingkungan yang meliputi bagian besar dunia dibawah dominasi
Jepang.11
Jepang menyadari pentingnya pendidikan, karena melalui pendidikan
mentalitas dan cara berfikir masyarakat Indonesia dapat diubah dari mentalitas
Eropa kepada alam pikiran Jepang. Melalui pendidikan, tercipta kader-kader
khusus para pemuda sebagaimana yang diharapkan Jepang.12
Oleh karena itu Jepang membuat Shumubu yang merupakan kantor urusan Agama, yang salah satu tugasnya yaitu mengawasi pendidikan masyarakat
Indonesia, melakukan kursus-kursus atau pelatihan ulama, dan lain-lain. Pihak
Jepang membentuk Bagian Pengajaran dan Agama di bawah pimpinan Kolonel
Horie, ia meminta agar umat Islam tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang
bersifat politik.13 Oleh karena itu kegiatan umat Islam hanya sebatas masalah agama, sosial, dan pendidikan.
Pendidikan sekolah, terutama sekolah dasar, merupakan salah satu aspek
yang banyak dimanfaatkan oleh pemerintah militer Jepang sebagai sarana untuk
mengindoktrinisasi massa. Ketika pendudukan dimulai, sebagian besar sekolah
yang ada ditutup, dan baru pada akhir april 1942 diputuskan untuk membuka
kembali sekolah dasar pribumi dengan kurikulum baru.14 Tidak hanya berlangsung pembukaan kembali bekas-bekas sekolah-sekolah pemerintahan
Belanda, sekolah-sekolah swasta pun diizinkan dibuka kembali, misalkan sekolah
11
Imran, Amrin, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945, dalam Taufik Abdullah dan A.B. Lapian (ad), Indonesia Dalam Arus Sejarah: Perang Dan Revolusi Jilid 6, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012. h. 75.
12
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI :Zaman Jepang dan Republik Indonsia (1942-1998) edisi pemutakhiran, (Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2011) h. 95.
13
Ibid, h. 38. 14
Agama Islam, sekolah Taman Siswa, dan sekolah Muhammadiyah.15 Sekolah-sekolah Islam dan taman siswa diberikan kemudahan oleh pemerintah Jepang
sedangkan sekolah-sekolah swasta Kristen mendapatkan kesulitan memperoleh
izin dari pemerintah Jepang.16 Meskipun sekolah-sekolah Islam diberikan kebebasan (tidak begitu dibatasi), namun harus memasukkan bahasa Jepang,
olahraga, kerja bakti dalam kurikulumnya.17
Golongan pemuda sangat mendapat perhatian dari pemerintah Jepang.
Perhatian Jepang dicurahkan kepada kaum muda ini karena mereka pada
umumnya memiliki sifat yang giat, penuh semangat, dan biasanya masih diliputi
idealisme. Mereka dianggap belum sempat dipengaruhi alam pikiran Barat. Oleh
karena memiliki sifat-sifat yang demikian, segala propaganda dari pihak Jepang
diduga akan mudah ditanamkan kepada mereka. Salah satu yang dipakai untuk
mempengaruhi kaum muda ialah sarana pendidikan, baik pendidikan umum
maupun pendidikan khusus seperti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh
Jepang.18
Jepang mengubah sistem pendidikan yang berdasarkan kelas sosial buatan
Belanda dengan sistem integrasi pendidikan buatan Jepang.19 Pada zaman Belanda hanya anak-anak pejabat desa dan keluarga kaya yang mampu bersekolah, tetapi
pada zaman Jepang, setiap orang bisa bersekolah karena tidak dipungut biaya.20 Dalam pengajaran di sekolah-sekolah dilarang menggunakan bahasa Belanda
maupun bahasa Inggris, dan Jepang pun berusaha mempromosikan bahasa
15
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia h. 95. 16
Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa, h. 402. 17
A.B. Lapian, (penyunting), Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang Yang Mengalami, h. 92.
18
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 42-43. 19
Oktorino, Konflik Bersejarah, h. X. 20
Jepang21 dan budaya Jepang melalui pendidikan. Sistem pendidikan yang diterapkan Jepang tidak terlepas dari maksud dan tujuan pendidikan untuk
kepentingan militernya. Jepang mengawasi kurikulum sekolah secara ketat demi
menegakkan perjuangannya. Peraturan sekolah pada masa pemerintahan Jepang
sangat keras.22 Karena menggunakan sistem militer pada kegiatan-kegiatan di sekolah.
Jepang memperkenalkan kebijakan pendidikan yang demokratis, egaliter
(sederajat), dan adil. Kebijakan Belanda yang diskriminatif dalam bidang
pendidikan telah diubah oleh Jepang. Undang-undang yang membatasi
gerak-gerik para guru agama dan da’i Islam dihapuskan oleh Jepang, sehingga para guru
dan da’i dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh leluasa.23
Jepang
menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan
menggantikan bahasa Belanda. Tetapi para tokoh Islam tidak begitu saja
menerima kebijakan-kebijakan yang dibuat Jepang, mereka mempunyai senjata
moral, dan dengan itu, para tokoh Islam bisa mengemukakan prasyarat kerjasama
dengan Jepang, asalkan agama Islam tidak diganggu.24
Meski demikian, keadaan tersebut hanya sebuah taktik belaka untuk
mendapatkan hati rakyat Indonesia. Jepang mulai menunjukkan sifat penjajahnya
dan fasisnya kepada bangsa Indonesia, saat kekalahan yang terus-menerus dalam
peperangan dengan Tentara Sekutu. Jepang melakukan hal tersebut karena Jepang
amat membutuhkan dukungan sumber daya manusia dan logistik untuk keperluan
21
Oktorino, Konflik Bersejarah, h. X. 22
Ahmad Yusuf, Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002 buku 1, (Pekanbaru: Badan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau, 2004) h. 63.
23
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Kencana Prenadamedia Group, 2014) h. 305.
24
perangnya.25 Kebijakan terhadap pendidikan muslim di Indonesia yang dibuat Jepang semata-mata hanya untuk kepentingan Jepang saja, yaitu untuk
memobilisasi umat Islam terutama yang ada di desa-desa untuk membantu Jepang
mencapai cita-citanya memenangkan perang dunia II. Kebijakan tersebut bukan
untuk membantu Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
B.Identifikasi Masalah
Sejak Awal kedatangan Jepang ke Indonesia, Jepang memang sudah
menaruh perhatian yang besar terhadap kaum muslimin di Indonesia. Ketika
Belanda menjajah Indonesia, kaum musliminlah yang sangat menentang kebijakan
yang dibuat Belanda, karena Belanda berusaha untuk menghilangkan pengaruh
Islam di Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, setelah
Jepang berhasil merebut Indonesia dari Belanda, Jepang berusaha agar dapat
bekerja sama dengan kaum muslimin, agar dapat memenangkan perang Pasifik.
Yaitu dengan cara membuat kebijakan baru mengenai pendidikan. Terdapat
beberapa permasalahan yang penulis berhasil identifikasi dan berpotensi untuk
dijadikan kajian terkait kondisi kaum muslimin Indonesia di bawah penjajahan
Jepang, yaitu,
1. Jepang memiliki kebijakan khusus terhadap pendidikan kaum muslimin di
Indonesia.
2. Jepang menerapkan kebijakan politik terhadap organisasi Islam, yakni,
dengan didirikannya Masyumi sebagai sebuah organisasi fusi dari
beberapa ormas Islam lainnya.
25
C.Batasan dan Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang berhasil penulis identifikasi, akhirnya penulis
membatasi permasalahan dalam skripsi ini pada permasalahan seputar kebijakan
Jepang terhadap pendidikan kaum muslimin di Indonesia (1942-1945), di mana
kaum muslimin di jadikan objek dalam pembuatan kebijakan. Penulis juga akan
menelusuri lebih jauh mengenai dampak dari kebijakan yang dibuat Jepang. Batas
tahun yang digunakan ialah tahun 1942-1945. Dan batasan wilayah yang penulis
gunakan yakni Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan pemaparan
permasalahan tersebut, maka rumusan pertanyaan dalam penelitian ini di
antaranya:
1. Bagaimana keadaan Indonesia pada masa penjajahan Jepang?
2. Bagaimana kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum muslim di
Indonesia?
3. Bagaimana dampak kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum muslimin di Indonesia?
D.Tujuan Penelitian
1. Mengetahui keadaan Indonesia pada masa penjajahan Jepang
2. Mengetahui kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum muslimin di
Indonesia
3. Mengetahui dampak kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum
E.Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran mengenai keadaan Indonesia pada masa
penjajahan Jepang, kebijakan Jepang terhadap pendidikan muslim di
Indonesia, dampak dari kebijakan tersebut dan respon masyarakat muslim
Indonesia terhadap kebijakan yang dibuat oleh Jepang.
2. Menambah pengetahuan tentang kebijakan Jepang terhadap pendidikan
muslim di Indonesia oleh mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
F. Tinjauan Pustaka
Penulis mencari sumber yang berkaitan dengan kebijakan Jepang terhadap
pendidikan muslim di Indonesia. Buku-buku tentang masa penjajahan Jepang
memang sudah cukup banyak, namun sepengetahuan penulis belum banyak yang
membahas mengenai kebijakan Jepang terhadap Muslim di Indonesia terutama
kebijakan dalam pendidikan. Dalam skripsi-skripsi yang telah ada, baik di
Perpustakaan Adab maupun Perpustakaan Utama, penulis belum menemukan
satupun judul yang membahas mengenai kebijakan Jepang terhadap pendidikan
kaum muslimin di Indonesia, walaupun ada skripsi mengenai penjajahan Jepang
di beberapa daerah di Indonesia yang tercantum dalam katalog perpustakaan
Utama UIN, tetapi dalam bentuk bukunya tidak ada atau belum penulis temukan
Banyak karya ilmiah yang sudah ditulis terkait dengan Jepang di Indonesia,
antara lain;
Skripsi tentang “Kebijakan Jepang Dalam Bidang Pendidikan Terhadap Orang Indonesia Tahun 1930—1945”26, yang ditulis oleh Dimas Suryo Subidyo, tetapi skripsi ini berbeda dengan penulis “Kebijakan Jepang Terhadap Pendidikan
Kaum Muslimin Di Indonesia (1942-1945)” dari judul maupun dari isi skripsi tersebut sangat berbeda, dalam skripsi tersebut lebih menekankan kepada
kebijakan Jepang bagi warga Indonesia yang belajar di Jepang, sedangkan penulis
lebih menekankan kepada kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum muslimin
di Indonesia pada masa penjajahan Jepang.
Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang.27 Buku ini membahas tentang Sejarah politik Islam Indonesia, terutama masa pendudukan Jepang. Dalam buku ini menjelaskan bahwa apapun politik
terhadap Islam yang dilancarkan oleh kekuasaan non-Islam, hasilnya akan
berbeda dari apa yang ingin dikejar kekuasaan tersebut. Seperti Jepang yang ingin
memanfaatkan umat Islam di Indonesia dalam memenangkan Perang Dunia II,
tetapi pada gilirannya Jepanglah yang dimanfaatkan oleh politisi Islam untuk
mencapai tujuan yang sangat berbeda dengan tujuan Jepang.
Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945.28 Buku ini menelusuri perubahan-perubahan sosial ekonomi serta dampak psikologis yang
terjadi dalam masyarakat di wilayah pedesaan Jawa selama masa pendudukan
26
Dimas Suryo Sudibyo, “Kebijakan Jepang dalam Bidang Pendidikan Terhadap Orang Indonesia Tahun 1930-1945”, (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, 2009).
27
Harry J Benda. Bulan Sabit Dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang (trjmh), (Jakarta: Pt. Dunia Pustaka Jaya, 1980)
28
Aiko Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945,
Jepang. Buku ini membahas tentang kebijakan-kebijakan Jepang terhadap
masyarakat pribumi yang bertujuan untuk memperoleh sumber daya ekonomi dan
manusia guna mendukung operasi militer militer Jepang. Oleh karena itu, Jepang
bekerja sama dengan seluruh rakyat Indonesia, dengan cara membuat berbagai
program untuk menarik dukungan rakyat, sekaligus membentuk pemikiran dan
tingkah laku mereka. Semua kebiajakan Jepang itu merupakan strategi politik
Jepang untuk menghasilkan nilai budaya dan kepercayaan yang baru. Namun,
mengakibatkan masyarakat mengalami keguncangan yang tidak pernah dialami
sebelumnya.
Sejarah Peradaban Islam Indonesia.29 Buku ini memang tidak secara khusus membahas mengenai Kebijakan Jepang Terhadap Pendidikan Muslim di
Indonesia, tetapi hanya memberikan informasi mengenai keadaan rakyat
Indonesia terutama muslim Indonesia pada masa penjajahan Jepang,
pemberontakan-pemberontakan rakyat Indonesia dalam melawan Jepang, dan
dampak positif dari penjajahan Jepang bagi orang-orang muslim Indonesia.
Indonesia Dalam Arus Sejarah: Perang Dan Revolusi Jilid 6.30 Dalam buku ini dijelaskan tentang Indonesia di bawah pendudukan Jepang yang terdapat pada
bab II yang terbagi dalam 7 pembahasan. Pembahasan pertama yaitu terbentuknya
rezim militer Jepang, pembahasan kedua tentang mobilisasi politik, pembahasan
ketiga tentang ekonomi perang, pembahasan keempat tentang program militer
jepang, pembahasan kelima tentang politik Islam Jepang, pembahasan yang
keenam tentang pengendalian politik dan budaya, dan yang ketujuh membahas
29
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2012).
30
tentang gerakan bawah tanah sebuah istilah yang lazim digunakan untuk mereka
yang tidak bersedia bekerja sama dengan rezim berkuasa dan sebaliknya
menyusun perlawanan dengan jalan sembunyi-sembunyi. Tokoh gerakan bawah
tanah yaitu, Tan Malaka, dan Amir Sjarifuddin. Dan Dalam Bab III juga
membahas tentang penjajahan Jepang, menjelang kemerdekaan Indonesia.
Sejarah Nasional Indonesia VI :Zaman Jepang dan Republik Indonsia (1942-1998).31 Dalam buku ini dijelaskan tentang Pendududkan Jepang di Indonesia pada bab I zaman Jepang yang terbagi kedalam 8 pembahasan, pertama
mengenai susunan dan perkembangan pemerintahan pendudukan Jepang, kedua
mengenai pergerakan Indonesia dan Jepang, ketiga mengenai mobilisasi rakyat,
keempat mengenai ekonomi perang yang diterapkan Jepang di Indonesia, kelima
mengenai pendidikan, komunikasi Sosial dan Budaya di Indonesia, keenam
mengenai perlawanan rakyat terhadap Jepang, ketujuh mengenai janji mengenai status Indonesia di kemudian hari, dan yang terakhir mengenai situasi Indonesia
menjelang kemerdekaan.
G.Teori dan Konsep
Dalam penulisan skripsi ini, saya menggunakan dan mengambil konsep dari
Buku Hary J. Benda yang berjudul Bulan Sabit Dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang 32, tentang politik terhadap Islam bahwa apapun politik terhadap Islam yang akan dilancarkan oleh kekuasaan
non-Islam, hasilnya senantiasa berbeda dari apa yang ingin dikejar kekuasaan
31
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI :Zaman Jepang dan Republik Indonesia (1942-1998) edisi pemutakhiran, (Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2011).
32
tersebut.33 Sama seperti penjajahan Jepang, Jepang berusaha membuat kebijakan-kebijakn baru yang tujuannya untuk memanfaatkan rakyat Indonesia agar mau
membantu Jepang dalam perang dunia melalui pendidikan, namun malah
sebaliknya, kebijakan yang dibuat Jepang tersebut dimanfaatkan oleh kaum
muslimin untuk mempersiapkan diri, merebut kemerdekaan Indonesia dari
Jepang.
H.Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif analisis yang
dalam hal ini penulis ingin mendiskripsikan atau menjelaskan tentang kebijakan
Jepang terhadap pendidikan kaum muslim di Indonesia. Dalam hal ini metode
yang biasa digunakan dalam penelitian sejarah pada umumnya yaitu, heuristik
atau pengumpulan data, kritik sumber baik intern maupun ektern, interprestasi
atau penafsiran, dan tahap terakhir adalah historiografi atau penulisan sejarah.34 Pada tahap heuristik atau pengumpulan sumber-sumber (data-data), di mana
sumber-sumber mengenai kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum muslimin
di Indonesia, penulis temukan di Perpustakaan Fakultas Adab, Perpustakaan
Utama, Perpustakaan Nasional, Perpustakaan UI, Arsip Nasional Republik
Indonesia, dan di toko-toko buku. Penulis juga menggunakan sumber sezaman
berupa majalah dan surat kabar yang diterbitkan pada tahun 1942-1945, seperti;
Soeara Muslimin Indonesia, Soeara Madjelis Islam A’lla Indonesia, Djawa Baroe, Pandji Poestaka, Kan Po (Berita Pemerintah) dan surat kabar Asia Raya.
33
Harry J Benda. Bulan Sabit Dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang (trjmh), (Jakarta: Pt. Dunia Pustaka Jaya, 1980). h. 10
34
Sedangkan untuk sumber sekunder, penulis mendapatkan sumber-sumber tertulis
berupa buku, artikel dan lain-lain.
Tahap berikutnya adalah kritik sumber atau verifikasi, agar diperoleh data
yang absah, setelah melalui fase kritik, di mana penulis sudah menemukan
korelasi dan pemahaman yang baru mengenai tema yang akan dibahas. Setelah itu
penulis melakukan interpretasi, di mana penulis melakukan penafsiran terhadap
sumber-sumber yang telah diseleksi untuk kemudian dilakukan tahap selanjutnya
yaitu historiografi. Penulis menguraikan fakta-fakta yang sudah didapat ke dalam
penulisan sejarah, dan kemudian menarik kesimpulan yang merupakan jawaban
dari permasalahan pokok yang menjadi kajian utama dalam penelitian ini.
I. Sistematika Penulisan
Bab I menjelaskan tentang pendahuluan yang di dalamnya berisi tentang
latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, teori dan konsep, tujuan
penulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan, dan sistematika penulisan
Bab II menjelaskan tentang gambaran Indonesia pada masa penjajahan
Jepang meliputi; kedatangan Jepang ke Indonesia, dan kebijakan-kebijakan
pemerintah Jepang
Bab III menjelaskan tentang kebijakan Jepang terhadap pendidikan kaum
muslimin di Indonesia meliputi; pelatihan-pelatihan ulama dan guru, pendidikan
formal kaum santri ,dan pelatihan-pelatihan kaum santri
Bab IV menjelaskan dampak kebijakan pendidikan terhadap kaum muslimin
kemajuan terhadap pendidikan muslim di Indonesia, kemunduran terhadap
pendidikan muslim di Indonesia, dan terbentuknya organisasi militer
A.Kedatangan Jepang ke Indonesia
Pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Belanda di Indonesia, Belanda
semakin ketat mengawasi kegiatan radikalisme, dan Belandapun berhasil
menahan kegiatan politik kaum nasionalis. Akhirnya kaum nasionalisme tersebut
tidak lagi mengarahkan dukungan massa secara terbuka, tetapi sebagian di
antaranya menyalurkan kegiatan politik mereka melalui dunia pendidikan atau
bergerak di bidang sosial-budaya.1 Hal tersebut dilakukan agar mereka tetap dapat menanamkan jiwa nasionalisme terhadap rakyat Indonesia, agar mau berjuang dan
menuntut hak-hak mereka yang telah hilang selama penjajahan, terutama hak
untuk merdeka.
Saat negeri Belanda telah diduduki oleh Jerman pada bulan September
1939, pemerintah Belanda berusaha menutupi berita tersebut di Hindia Belanda.
Dalam suasana yang terjepit semacam itu, Pemerintah Belanda berusaha untuk
bekerja sama dengan rakyat Indonesia. Penguasa kolonial mulai sedikit
mengurangi sikap keras mereka terhadap kaum pergerakan dan mengambil jalan
kompromi. Kesediaan untuk menerima sikap bekerjasama dengan kaum
pergerakan yang moderat telah memungkinkan diizinkannya kembali partai-partai
politik. Kerajaan Belanda sejak diduduki Jerman terpaksa menjalankan
pemerintahan dalam pengasingan.2 Walaupun di kalangan orang-orang Belanda
1
Mukhlis Paeni dan Mestika Zed, Perang Pasifik dan Jatuhnya Rezim Kolonial Belanda,
dalam Taufik Abdullah dan A.B. Lapian (ad), Indonesia Dalam Arus Sejarah: Perang Dan Revolusi Jilid 6, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012. h. 5.
2
terdapat juga kelompok yang bersimpati terhadap pergerakan nasional Indonesia,
tetapi sikap pemerintah Hindia Belanda sampai saat-saat terakhir menjelang
keruntuhannya tetap tidak berubah,3tetap acuh dan tidak menghiraukan tuntutan-tuntutan dari rakyat Indonesia.
Selain menghadapi tuntutan-tuntutan dari rakyat Indonesia untuk melakukan
perubahan ketatanegaraan sesuai dengan keinginannya rakyat Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda juga menghadapi masalah pelik mengenai hubungan
dagang Hindia Belanda dengan Jepang. Organisasi bisnis Jepang di Asia
Tenggara, terutama di Hindia Belanda, sudah berlangsung sebelum perang Perang
Dunia II, terutama sejak dibukanya konsultan Jepang di Batavia sejak 1909. Pada
1940, konsultan Jepang di Batavia mengajukan tuntutan agar Hindia Belanda
bersedia memperbesar kuota ekspor minyak buminya. Tuntutan ini tidak mungkin
dipenuhi oleh pemerintah Hindia Belanda. Salah satu alasan resmi penolakan itu
ialah karena neraca nilai impor Jepang tidak seimbang dengan nilai ekspor Jepang
ke Indonesia. Penguasa di Batavia hanya menyanggupi dalam jumlah yang sangat
jauh dibawah kuota yang diminta Jepang. Selain itu Jepang juga menuntut ekspor
bahan-bahan lain, seperti karet, timah putih biji besi dan biji mangan dengan
jumlah yang juga cukup banyak. Sudah pasti permintaan ini ditolak oleh
pemerintah Belanda.
Pada bulan Januari 1941, Jepang mencoba kembali mengirim delegasi di
bawah pimpinan Yoshizawa Kenkichi. Kali ini Jepang menuntut konsesi ladang
minyak seluas 1,7 juta hektar. Pemerintah Belanda akhirnya hanya bersedia
memberi 0,3 hektar juta sebagai langkah awal. Selain itu Jepang juga menuntut
3
agar orang Jepang diizinkan memasuki Indonesia sabagai dokter, pedagang
perantara, atau profesi lainnya. Namun perundingan tersebut mengalami jalan
buntu. Dan akhirnya pada 27 Juni 1941 delegasi Jepang kembali kenegerinya.
Yoshizawa tidak menerima pernyataan Belanda bahwa Hindia Belanda
sewaktu-waktu dapat membatasi kuota ekspor.
Sementara itu, pada 27 Juli 1941 Amerika Serikat memutuskan hubungan
ekonomi dengan Jepang setelah sebelumnya membatasi ekspor minyaknya.
Pemutusan hubungan ekonomi itu dilakukan sebagai reaksi Amerika Serikat
terhadap pendudukan Jepang atas Indocina. Tindakan Amerika Serikat itu diikuti
oleh Inggris dan kemudian oleh Hindia Belanda. Hubungan Internasional yang
memburuk yang menimpa Jepang, terutama dengan saingannya di Timur ini,
merupakan penyebab Jepang melakukan manuver politik4 eskpansionis ke selatan saat meletusnya Perang Pasifik pada awal Desember 1941. Kelompok bisnis yang
terkait dengan semangat Nashinron berperan besar dalam membantu invansi Jepang di Hindia Belanda.5
Sebelum masuk ke Indonesia, propaganda Jepang telah digiatkan keseluruh
pelosok bahwa Jepang sebagai penyelamat Asia dari penjajahan asing, Jepang
akan datang mengusir Belanda dan membela kepentingan rakyat Indonesia.6 Untuk mewujudkan impiannya menyatukan Asia Timur di bawah kekuasaanya,
Jepang terlebih dahulu harus menghancurkan kekuatan armada Amerika di Pasifik
yang berpangkalan di Pearl Harbour, Hawaii, sebelum menyerang Hindia
Belanda. Oleh karena itu untuk menghancurkan Armada Amerika, disusun
4
Gerakan yang cepat dalam bidang politik. www.kamusbesar.com (akses: Rabu, 12 Agustus 2015)
5
Paeni dan Zed, Perang Pasifik dan Jatuhnya Rezim Kolonial Belanda, h. 13. 6
rencana serangan rahasia oleh Isoroku Yamamoto pada bulan September 1941. Pada bulan berikutnya, tanggal 26 November 1941, Armada Laksamana Noichi Nagumo yang diangkat sebagai panglima perang bergerak dari pulau Kuril.
Pada tanggal 2 Desember 1941, ketika masih dalam pelayaran, laksamana
Nagumo menerima telegram sandi dari Yamamoto agar ia melaksanakan
serangan. Hari H ditetapkan tanggal 7 Desember 1941.7 Serangan udara Jepang dilancarkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama dimulai pukul 07.30 pagi.
Sebanyak 183 pesawat pembom diterbangkan dari kapal induk.Sasarannya adalah
kapal-kapal perang Amerika yang berlabuh disekitar Pulau Ford. Satu jam
kemudian Jepang melancarkan serangan gelombang kedua dengan 170 pesawat
pembom dan penempur. Selain melakukan pengeboman pesawat pesawat tersebut
juga melakukan Straffing dari udara. Kapal-kapal perang dan pesawat-pesawat terbang Amerika Serikat kembali menjadi sasaran disamping instalasi-instalasi
militer lainnya, seperti gudang pembekalan dan bahan bakar. Serangan Jepang
terhadap Pearl Harbour berakhir kira-kira pukul 10.00 pagi. Dalam waktu dua
setengah jam, Jepang telah menimbulkan kerugian yang cukup besar pada pihak
Amerika Serikat.8
Serangan Jepang tersebut membuat presiden Amerika marah, dan pada sore
harinya presiden Roosevelt menandangani pernyataan perang terhadap Jepang.9 Dengan pengumuman itu pemerintah Hindia Belanda telah menyatakan perang
terhadap Jepang. Dengan pernyataan perang terhadap Jepang, baik yang
dinyatakan oleh pemerintah Hindia Belanda maupun kerajaan Belanda, secara
7
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI :Zaman Jepang dan Republik Indonsia (1942-1998) edisi pemutakhiran, (Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2011) h. 1.
8
Paeni dan Zed, Perang Pasifik dan Jatuhnya Rezim Kolonial Belanda, h. 13-14. 9
resmi Indonesia sudah diseret ke dalam perang, walaupun tanpa pernyataan itu
Indonesia juga tidak akan luput dari serbuan Jepang.
Invasi Jepang ke Indonesia diawali dengan serangan udara. sesudah itu
diikuti oleh pendaratan pasukan. Kekuatan udara Jepang lebih hebat dibandingkan
dengan kekuatan udara Hindia Belanda. Serangan pertama dilancarkan dari Davao
pada 10 Januari 1942,10 sehari setelah Jepang menyatakan perang terhadap Belanda. Sasarannya adalah Tarakan untuk menguasai instalasi minyak kota itu.
Dalam melancarkan serangan ini, Jepang berusaha untuk tidak menjatuhkan bom
di instalasi tersebut. Karena instalasi minyak tersebut sangat berguna bagi Jepang.
Selain melakukan serangan terhadap Tarakan, Jepang juga menyerang Manado.
Dan pada tanggal 11 Januari 1942 pasukan Jepang melakukan pendaratan11di Indonesia.
Setelah Jepang berhasil menguasai Indonesia dengan serangan-serangan
udaranya, pada tanggal 7 Maret 1942 pada petang harinya pasukan-pasukan
Belanda di sekitar Bandung meminta penyerahan lokal. Kolonel Shoji
menyampaikan usul penyerahan lokal dari pihak Belanda ini kepada Jenderal
Imamura, tetapi tuntutan Imamura adalah penyerahan total semua pasukan sekutu
ke Jawa. Jika pihak Belanda tidak mengindahkan ultimatum Jepang itu, kota
Bandung akan dibom dari udara. Jenderal Imamura pun mengajukan tuntutan
lainnya, yakni gubernur Jenderal Belanda harus turut dalam perundingan di
Kalijati yang diadakan selambat-lambatnya pada hari berikutnya. Akhirnya pihak
Belanda memenuhi tuntutan Jepang. Dalam perundingan Kalijati , yang dimulai
10
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI,h. 3. 11
pukul 17.00 tanggal 8 Maret 1942.12 Berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia ditandai dengan ditanda tanganinya kapitulasi Kalijati oleh Ter Poorten yang menyatakan bahwa Belanda menyerah tanpa syarat.
Orang Indonesia umumnya menyambut kedatangan Jepang dengan perasaan
gembira, karena Jepang dianggap sebagai pembebas mereka dari penjajahan
Belanda. Serdadu-serdadu Jepang itu menimbulkan rasa kagum penduduk ketika
mereka memasuki kota-kota tanpa mendapat perlawanan dari Belanda.
Mobil-mobil truk perang diiringi pasukan Jepang berkendara sepeda. Bendera Merah
Putih dikibarkan, adakalanya berdampingan dengan “Bendera Hinoo Maru” di
berbagai tempat. Kata “Banzai” terucap berulang-ulang dan keras dari mulut mulut penduduk yang terbius yang berarti “selamat datang”.
Serdadu Jepang mendapat sambutan meriah dari rakyat Indonesia,
orang-orang Belanda yang muncul di jalan-jalan mendapat hadiah berupa ejekan dan
caci maki. Faktor utama yang menimbulkan simpatik rakyat terhadap Jepang tentu
saja kebencian mereka terhadap Belanda, baik akibat penderitaan yang langsung
mereka rasakan maupun akibat perasaan kebangsaan.
Penduduk Jawa meyakini kebenaran dari Ramalan Joyo Boyo yang berisi
bahwa suatu ketika Jawa akan diperintah oleh orang-orang berkulit kuning.
Namun pemerintahan mereka tidak lama, dan mereka akan kembali kenegara
asalnya. Dan Jawa akan diperintah oleh bangsa sendiri. Dalam pandangan rakyat,
orang berkulit kuning tidak lain adalah Jepang.13 Banyak penduduk Jawa yang senang dengan kedatangan Jepang di Indonesia, karena mereka yakin setelah
kedatangan Jepang, Indonesia akan segera merdeka.
12
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 9. 13
B.Kebijakan-kebijakan Pemerintah Jepang
Untuk melancarkan aksinya dalam memperoleh cita-citanya yaitu
memenangkan Perang pasifik, Jepang membuat berbagai macam kebijakan, yaitu:
1. Bekerjasama dengan Bangsa Indonesia
Untuk dapat bekerja sama dengan rakyat Indonesia, maka terlebih dahulu
Jepang berusaha untuk dapat bekerja sama dengan toko-tokoh terkemuka di
Indonesia. Tokoh-tokoh nasionalisme Indonesia seperti Ir. Soekarno dan Drs.
Muhammad hatta bersedia melakukan kerja sama dengan pihak pemerintah
Jepang, padahal sebelumnya pada masa pemerintah Hindia Belanda mereka
bersikap nonkooperatif.14 Berbeda dengan keadaan pada zaman Hindia Belanda dimana pemerintah kolonial menekan kaum nasionalis Indonesia, pada masa
pemerintahan Jepang kaum nasionalis diajak bekerja sama oleh penguasa.15 Selain melakukan kerja sama dengan kaum nasionalis, Jepang juga melakukan kerja
sama dengan tokoh-toko muslim. Tokoh-tokoh muslim memperoleh perhatian
khusus dari pemerintah Jepang. Golongan ini memperoleh banyak kelonggaran
dibandingkan dengan nasionalis sekuler.16 Karena ingin menggalang semua kekuatan besar anti-Belanda ke pihaknya, maka Jepang lebih mementingkan
kepentingan golongan Islam dari pada memenuhi keinginan para elit nasionalis.17 Jika Jepang berhasil bekerja sama dengan tokoh-tokoh muslim maka secara
otomatis rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam juga akan membantu
Jepang.
14
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 27. 15
Ibid, h. 29. 16
Ibid, hal, 37 17
Dalam rangka memberikan kelonggaran kepada golongan Islam pulau Jawa,
pemerintah militer Jepang masih mengizinkan tetap berdirinya organisasi Islam
dari zaman Hindia Belanda yaitu Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang
didirikan di Surabaya pada tahun 1937 oleh K.H. Mas Mansur dan kawan-kawan.
Jepang memilih MIAI sebagai wadah golongan Islam yang merupakan
satu-satunya organisasi gabungan, yang dimiliki umat Islam, tetapi MIAI baru diakui
oleh Pemerintah Militer Jepang sesudah mengubah anggaran dasar (asas dan
tujuannya). Pada asas dan tujuan MIAI ditambahkan “turut bekerja dengan sekuat
tenaga dalam pekerjaan membangunkan masyarakat baru, untuk mencapai
kemakmuran bersama di lingkungan Asia raya di bawah pimpinan Dai Nippon”.18 Setelah merubah asas dan tujuannya, maka MIAI baru diakui oleh Jepang dan
dapat melakukan kegiatannya seperti biasa, tetapi masih dalam pengawasan
Jepang.
Walaupun kaum muslimin berbeda keyakinan dengan Jepang, tokoh-tokoh
muslim tetap mau bekerja sama dengan Jepang karena tujuan Jepang sama dengan
tujuan rakyat Indonesia yaitu membela tanah Air dan menjaganya agar tidak
direbut lagi oleh pihak sekutu, oleh karena itu, tokoh-tokoh muslim berusaha
untuk mengajak rakyat Indonesia untuk membantu Jepang seperti yang
disampaikan K. H. M. Mansoer dalam surat kabar Soeara Muslimin Indonesia
yaitu:
“Kita Ma’loem Soedah bahwa peperangan sekarang ini sedang memuncak peristiwa ini menghendaki poesat perhatian serta pembelaan jang koeat-tegak; karena mengenai djoega Tanah Air kita Indonesia jang termasuk dalam lingkungan Asia Timoer Raya. Mungkin benar bahwa didjita-djita oleh Seokoetoe hendak mereboet kembali tanah djadjahannja, tanah tempat mereka mentjari oentoeng, menumpang hidup di tanah jang elok permai,
18
yaitu tanah kita Indonesia oemoemnya. Mereka beroesaha sekoeat-koeatnya kembali kemari dengan maksoed mendjadjah lagi, sedang kita haroes soedah siap sedia bersama Dai Nippon menantang maksoed itoe oentoek meloempoehkan kekoeasaan mereka. Dan lagi mereka telah beberapa kali mengintai poelau Djawa. Mereka hendak mendarat menjerboe. Maka oleh karena itoe, seloeroeh pendoedoek Djawa seharoesjalah bersatoe-padoe hati dan bekerdja bersama-sama mempertahankan serangan dan serboean itoe karena kita semata-mata membela hak Tanah Air kita. Demikianlah oentoek kemakmoeran bersama dan keselamatan bersama dalam menghindarkan bala bencana itoe, haroeslah lebih-lebih dipererat tali persatoean segenap tenaga dan pendoedoekan Djawa seloeroehnja. Pada waktoe peperangan jang hebat-dasyat ini, memang boekan mandjadi soal tentang faham keyakinan dalam agama. Melainkan pertahanan negeri itoelah jang menjadi pangkalnya. Allah Soebhanahoe wa Ta’ala telah memperingatkan kita seperti jang tersoeboet dalam kitab Soetji Al-Qoer’an, Soerat Al-Baqarah, ayat 145 jang artinja “meskipoen engkau Moehammad soenggoeh akan memberikan dengan segenap boekti kepada mereka itoe tentoe mereka itoe tidak akan mengikoeti kiblat mereka itoe; dan setengah golongan poen tidak akan mengikoetikiblat golongan lain”. Djadi njatalah, bahwa manoesia kalaoe soedah mempunyai kejakinan, maka ia kokoh dan koeat poela menepati kejakinan masing-masing. Maka tepatlah bahwa pada saat ini, dasar kejakianan tidak perloe didalam-dalam atau diperselisihkan. Akan tetapi djoeroesan kebaktian dalam satoe toejoean itoelah oetamanya dipersoenggoeh memboelatkannjaoentoek pembelaan Tanah Air dan keselamatan Bangsa karena kita bertahan air satoe dan berbangsa satoe poela. Kemoedian dari pada itoe Toehan berfirman selanjoetnya djoega dalam soerat Al-Baqarah ayat 148jang artinja “Bagi masing-masing mereka itoe soedah mempoenyai hadapan sendiri-sendiri, maka karena itoe soepaya keyakinan hendaknya serentak berlomba-lomba akan
mengerdjakan kebaikan”. Demikianlah, mengerjakan kebaikan baik digaris
depan atau digaris belakang peperangan , haroeslah mendjadi dasar kita teristimewa dalam masa jang amat genting seperti sekarang ini. Kerdja bersama-sama dengan seboelat hati serta seia sekata insya Allah akan meoedjoedkan hasil jang manfa’at.”19
Selain disampaikan pidato oleh K. H. M. Mansoer untuk mengajak kaum
muslimin untuk membantu Jepang, dijelaskan pula mengenai dasar perjuangan
kaum muslimin oleh Ahmad Yusuf, bahwa perjuangan yang didasarkan atas dasar
keyakinan tak akan sia-sia, dengan cara menguatkan batin dengan pendidikan
agama dan menebalkan keyakinan dengan iman dan tauhid;
19“Tjara Kerdja Bersama
“... Kalimat : La ilaha illallah Moehammadoer Rasoeloellah yang berarti Tidak ada Toehan selain Allah, Moehammad itoe OetoesanNja. Inilah dasar Islam itoe agamanja, dengan bersoempah dihadapan Allah, manoesia dan dirinja sendiri.... djentera zaman berpoetar, seloeroeh doenia oemoemnja, diIndonesia khususnja, dasar hidoep kaum muslimin hantjoer dibawa masa. Namoen begitoe dasar itoe mesti tetap tegoeh didjiwa tiap-tiap Moeslim, selama Qoer’am masih dibatja, selagi matahari masih terbit di Timoer, dasar itoe pada soeatoe masa akan memberi tjorak dan bentoek pada tiap-tiap moeslim....kita kembali kesedjarah perdjoeangan pahlawan-pahlawan dan pradjoerid-pradjoerid dari zaman Rasulullah, sahabat-sahabat dan pahlawan-pahlawan sesoedahnja. Itoelah perdjoeangan jang bersendikan Taoehid dan kejakinan, bersemboyan dari Allah, karena Allah dan oentoek Allah: memandang ringan kepada mati kalaoe mereka madjoe ke medan perdjoeangan bagaikan air bah jang tertahan-tahan , terbelintang poetoes, terbeloedjoer patah. Dengan semangat inilah Islam dapat menjerboe ke Eropa, Afrika hingga ke India. Sebagaimana bangsa Nippon meyakinkan berkoempoelnja roeh-roeh soetji pahlawan-pahlawan tanah asir di Jasoe-koeni Djindja, adalah kaoem moeslimin jang berjoeang kepada djalan Allah, akan kembali kepadanja dengan kesoetjian, karena Allahlah kembali segala sesoeatoe. Kejakinan inilah jang mendjelmakan sedjarah jang bilang-gemilang dalam perjoeangan kaum Moeslimin: sebagaimana gilang-gemilangnja perjoeangan Dai Nippon sekarang ini. Tjita-tjita Hakko Itjioe jang akan diciptakan oleh Dai Nippn itoe, bagi kaoem moeslimin ta’ragoe lagi, jang mereka mempoenjai tjita-tjita seperti itoe poela, selama darah Islam mengalir di toeboehnja. Persemaian boeah dan kesan dasar hidoep, keyakinan dan perdjoangan bangsa Nippon dan kaoem Moeslim inilah jang haroes diselidiki oleh tiap-tipa moeslim dan pemimpin Indonesia jang ikoet dan sedang mmbentoek dasar pembangoenan Indonesia dalam lingkoengan Asia Raja sekarang ini. Dalam gelanggang perjoengan jang menentoekan nasib Indonesia sekarang, dan masa jang akan datang, kaoem Moeslimin di Indonesia soedah mempoenjai pendirian jang tentoe, keyakinan jang tegoeh dan dasar perjoeangan yang soedah tetap, hingga dalam perjoeangan di moeka sekalipoen. Karena mereka yakin, bangoen dan roeboehnja Indonesia, lenjap atau teroelangnja pendjadjahan kembali, menetoekan nasib agama, bangsa dan tanah airnja. Maka oentoek mengobar-ngobarkan semangat perjoeangan poetera Indonesia sekarang ini, siapkanlah batin dengan didikan agama, perkoeatlah dasar jang tegoeh dan tentoe, tebalkanlah kejakinan dengan iman dan tauhid baik pemimpin ataoe jang dipimpin nistjaja ta’ akan sia-sia perjoeangan jang dihadapi dan koerban jang diberikan. Karena gerakan jang berdiri diatas dasar jang tegoehlah jang menimboelkan perjoeangan jang dahsjat dan ta’ tertahan-tahan....”20
20“Dasar Perdjoeangan Moeslimin Oleh; Ahmad Joesoef”,
Selain tetap memperbolehkan berdirinya MIAI, pemerintah Jepang juga
mendirikan Kantor Urusan Agama yang pada zaman Belanda disebut kantor Voor
Islamistische Saken yang dipimpin oleh orientalis Belanda diubah menjadi
Sumubu yang dipimpin oleh ulama Islam sendiri, yaitu K.H. Hasyim Asyari dari Jombang, dan di daerah-daerah disebut Sumuka.21
Secara umum pemerintahan Jepang menaruh perhatian cukup besar atas
Islam di Indonesia. Oleh karena itu ketika Jepang menduduki Indonesia pada
tahun 1942, Jepang berharap dapat bekerja sama dengan kaum muslimin di
Indonesia, dengan cara memberikan peran sosial dan politik yang penting kepada
para pemimpin Islam. Mereka memandang agama sebagai sebuah alat yang
penting untuk memanipulasi pikiran rakyat, dan mereka menaruh perhatian
khusus terhadap peran para pemimpin Islam atau alim ulama.22 Karena melalui para pemimpin Islam, Jepang berharap rakyat Indonesia mau bekerja sama dengan
Jepang.
2. Mobilisasi Rakyat Indonesia
Jepang memanfaatkan tokoh-tokoh terkemuka Indonesia untuk
memobilisasi rakyat Indonesia baik dari kalangan nasionalis sekuler maupun alim
ulama, dengan cara memanfaakan sentimen politik anti Barat. Jepang juga
mendirikan berbagai organisasi propaganda, dengan berbagai nama dan slogan.
Mula-mula diperkenalkan “Gerakan Tiga A”23 yang didirikan pada awal
21
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2012) h. 124.
22
Aiko Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945,
(Depok: Komunitas Bambu, 2015) H. 303-304. 23
pendudukan sekitar april 1942. “Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia,
Nippon Cahaya Asia”.24 Para pemimpin Gerakan Tiga A adalah seorang ahli propaganda Jepang yaitu Shimizu Hitoshi dan Ichiki Tatsuo. Shimizu dan
Samsuddin merupakan pemimpin muda Parindo, mereka mempergunakan gerakan
tersebut untuk mengorganisir kaum intelektual kelompok-kelompok agama, Islam
dan Kristen, pejabat-pejabat pemerintahan dan priyayi di beberapa pertemuan.
Sedangkan melalui siaran-siaran radio dan surat kabar Jepang menyerukan
dukungan rakyat.25 Salah satu subseksi dari gerakan propaganda Jepang (Gerakan Tiga A) yaitu Shumubu (Kantor Urusan Agama).26
Jepang berusaha agar dapat memobilisasi rakyat Indonesia untuk membantu
Jepang dalam memenangkan perang dunia ke-II. Kaum pemuda mendapat
perhatian kusus dari pemerintah Jepang karena kaum pemuda mudah untuk
dipengaruhi. Salah satu sarana yang dipakai untuk mempengaruhi kaum pemuda
ialah sarana pendidikan, baik pendidikan umum (pendidikan disekolah) maupun
pendidikan khusus (pelatihan-pelatihan yang diadakan Jepang). Pelatihan yang
diadakan Jepang bertujuan untuk menanamkan semangat pro Jepang di kalangan
kaum pemuda seperti Barisan Pemuda Asia Raya (BPAR). Yang diresmikan pada
tanggal 11 Juni 1942 dengan dipimpin oleh Dr. Slamet Sudibyo dan S.A. Saleh.27
umumnya adalah Mr. R. Samsoedin. Organisasi ini terkenal dengan slogan Cahaya Asia Nippon, Pelindung Asia Nippon, pemimpin Asia Nippon. Namun usianya singkat karena tidak didukung oleh para tokoh nasionalis Indonesia maupun pemerintah militer Jepang sendiri. Akhirnya organisasi ini dibubarkan pada bulan September 1942. Nino Oktorino, Konflik Bersejarah: Ensiklopedi Pendudukan Jepang Di Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 2013) h. 33.
24
Imran, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945, h. 51. 25
Benda. Bulan Sabit Dan Matahari Terbit, h. 143. 26
Imran, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945. h. 66. 27
Selain BPRA, Jepang juga membuat organisasi semi militer yang terdiri dari
Seinendan dan Keibodan, yang dipimpin oleh Gunseikan.28 Pemuda-pemuda Indonesia yang ikut menjadi nggota Seinendan diberikan pelatihan-pelatihan militer baik untuk mempertahankan diri maupun untuk menyerang. Mereka adalah
pemuda-pemuda yang berusia sekitar 15-25 tahun.29 Sedangkan Keibodan adalah pembantu polisi dengan tugas-tugas kepolisisan seperti penjaga lalu lintas dan
pengaman desa. Keibodan terdiri dari pemuda-pemuda yang berusia berkisar
20-35 tahun. Jepang berusaha agar badan ini tidak dipengaruhi oleh kaum
nasionalis.30 Selain Keibodan dan Senendan, untuk mengerahkan tenaga kaum perempuan dibentuklah Fujinkai (Himpunan Perempuan) yang dibentuk pada bulan Agustus 1943. Kemudian pada tanggal 15 Desember 1944 diresmikan
pembentukan badan resmi semi militer lainnya, yakni Hizbulloh (tentara Alloh)
yang berada di bawah naungan Masyumi, yang didirikan pada tanggal 8
Desember 1944.31 Dalam bulan April 1943 dikeluarkan pengumunan yang isinya memberi kesempatan kepada Pemuda Indonesia untuk menjadi pembantu Prajurit
Jepang (Heiho), yang terhimpun dalam Peta (Pembela Tanah Air).32
Selain memobilisasi masyarakat Indonesia dalam bidang militer, Jepang
juga mengerahkan rakyat Indonesia untuk menjadi buruh sukarela (Romusa).
Pengerahan romusa merupakan eksploitasi pekerja kasar, terutama pemuda. Hal ini dilakukan Jepang untuk menunjang perangnya melawan sekutu.33 Jepang menyebut mereka prajurit pekerja. Pengerahan Romusa dimaksud untuk
28
Gunseikan merupakan kepala pemerintahan militer di bawah Seiko Sukikan, Panglima Tentara. Dipimpin oleh kepala staf dari satuan darat yang bersangkutan. Oktorino, Konflik Bersejarah, h. 35.
29
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 45. 30
Ibid, h. 46. 31
Amrin, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945 h. 54 32
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 50. 33
membangun prasarana perang (kubu-kubu pertahanan, jalan raya dan lapangan
udara) maupun untuk pekerjaan di pabrik dan pelabuhan.34
Selain mengerahkan laki-laki yang potensial yang berusia antara 16 sampai
40 tahun sebagai pekerja paksa (romusa), pemerintah pendudukan Jepang mengerahkan pula tenaga perempuan tidak saja untuk kepentingan formal seperti
Fujinkai, tetapi juga untuk kepentingan pemuas nafsu. Mereka itu disebut perempuan penghibur atau Jugun Ianfu.35 Mereka adalah wanita desa yang masih lugu, tidak berpendidikan dan berasal dari keluarga yang secara ekonomi sangat
kurang. Namun, ada pula yang berasal dari keluarga terhormat yang terbujuk
untuk disekolahkan atau dipekerjakan diluar Indonesia.36 Tetapi pada kenyataannya mereka hanya dijadikan sebagai wanita penghibur. Ini dilakukan
Jepang agar tentara Jepang bersemangat dalam bekerja meskipun jauh dari
negaranya, dan mencegah terjadinya pemerkosaan oleh tentara Jepang terhadap
masyarakat lokal, sehingga nama baik pemerintahan Jepang tetap terjaga.
Pengerahan perempuan kebangsaan Indonesia maupun Belanda yang dipaksa
menjadi Jugun Ianfu telah mengalami penderitaan lahir batin. Hal ini merupakan
salah satu bukti kekejaman Jepang yang memaksa kaum perempuan memenuhi
kepentingannya yaitu kepentingan nafsu seksnya.
34
Imran, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945, h. 55. 35
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 68. 36
3. Kebijakan Ekonomi
Jepang berusaha untuk dapat menguasai Asia Tenggara yang disebut
Wilayah Selatan (yang terbagi menjadi 2 wilayah: wilayah A yang terdiri atas
Malaya, kalimantan Utara, Hindia Belanda dan Filipina dan wilayah B yang
terdiri atas Vietnam, Laos dan Kamboja). Tujuannya yaitu untuk memperoleh
sumber-sumber bahan mentah untuk industri perang Jepang, terutama minyak
bumi dan juga untuk memotong garis perbekalan musuhnya yang bersumber pada
wilayah tersebut. Rencana Jepang tersebut akan dilaksanakan dalam dua tahap.
Tahap pertama merupakan tahap pengusaan dan tahap kedua merupakan rencana
untuk jangka panjang, yaitu menyusun kembali struktur ekonomi wilayah tersebut
di dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan-bahan untuk perang.
Jepang ingin menguasai Indonesia terutama pulau Jawa karena Jepang
menganggap Indonesia mempunyai potensi ekonomi yang luar biasa. Hal ini
disebabkan karena Indonesia memiliki tanah yang subur dan penduduknya
banyak.37 Sebelum Jepang benar-benar menguasai Indonesia, Belanda menghancurkan objek-objek vital yang sebagian besar merupakan tempat
produksi dan prasarana ekonomi, ini dilakukan Belanda agar Jepang tidak dapat
memanfaatkannya. Akibatnya ialah, pada awal pendudukan Jepang hampir
seluruh kehidupan ekonomi di Indonesia lumpuh. Kehidupan ekonomi kemudian
sepenuhnya berubah dari keadaan normal menjadi ekonomi perang.38 Ekonomi perang merupakan penerapan berbagai pengaturan, pembatasan dan penguasaan
produksi dengan tujuan untuk memenangkan perang.39
37
Aiko Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa. h. 3 38
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 75-76. 39
Setelah berhasil menguasai Indonesia, pemerintah Jepang di Tokyo
membuat kebijakan ekonomi pada bulan November 1941 yang isinya;
“Apabila pengurusan bantuan vital bagi pertahanan nasional dan
swasembada militer dapat menimbulkan kerugian terhadap tingkat hidup
penduduk pribumi, hal itu harus diterima saja.”40
Setelah berhasil menguasai Indonesia, Jepang mengambil alih semua
kegiatan dan pengendalian ekonomi. Langkah pertama yang dilakukan Jepang
adalah rehabilitasi prasarana ekonomi seperti jembatan, alat-alat transportasi, dan
telekomunikasi yang bersifat fisik. Beberapa peraturan yang bersifat kontrol
terhadap kegiatan ekonomi dikeluarkan. Pengawasan terhadap barang-barang
yang disita dari musuh diperketat. Untuk mencegah meningkatnya harga barang
dan timbulnya berbagai manipulasi secara setempat, dikeluarkan peraturan
pengendalian harga dan hukuman yang berat bagi yang melanggar. Harta milik
musuh dan harta yang dibiayai dengan modal musuh disita dan menjadi hak milik
pemerintah Jepang.41
Di bidang moneter pemerintah Jepang berusaha sekeras-kerasnya untuk
mempertahankan nilai gulden atau rupiah Hindia Belanda. Tujuannya ialah agar
harga barang-barang dapat dipertahankan seperti sebelum perang dan untuk
mengawasi lalu lintas permodalan dan arus kredit. Di bidang perpajakan diadakan
pemungutan dari berbagai sumber, termasuk pajak pengahasilan.42 Hal ini dilakukan Jepang agar Jepang mudah untuk melakukan pengendalian ekonomi.
Ketika perang menginjak tingkat krisis pada tahun 1944 dimana Sekutu
sudah mendekati Jepang, tuntutan akan kebutuhan bahan baku semakin
40
Imran, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945, h. 47 41
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 76 42
meningkat. Rakyat dituntut untuk menyetor padi dan menaikkan produksi padi,
mereka juga dibebani pekerjaan tambahan yang bersifat wajib, seperti menanam
dan memelihara jarak (tumbuhan liar). Pekerjaan ini mengurangi waktu kerja
petani apalagi banyak di antara mereka dipaksa menjadi Romusa.43 Kebijakan ini mengakibatkan kesengsaraan yang berlipat ganda bagi rakyat Indonesia.
4. Pengendalian Pendidikan, Komunikasi Sosial, dan Budaya
Pada masa penjajahan Jepang jumlah sekolah dasar menurun dari 21.500
menjadi 13.500. jumlah sekolah dasar merosot 30 %, ini karena pada awal
pemerintahan Jepang banyak sekolah yang ditutup, dan dibuka lagi namun tidak
semuanya yang dibuka. Guru-guru sekolah dasar berkurang 35%, sedangkan
guru-guru menengah yang aktif kira-kira tinggal 5%. Karena sebagian guru-guru
ditarik untuk bekerja dikantor-kantor pemerintahan sebab Jepang kekurangan
tenaga untuk menjalankan administrasi pemerintahan.44
Pada masa pendudukan Jepang pendidikan sekolah dasar menjadi 6 tahun.
Jepang mengadakan penyeragaman untuk memudahkan pengawasan terhadap
sekolah-sekolah tersebut, baik dalam isi maupun penyelenggaraan. Sistem
pengajaran dan struktur kurikulum ditujukan kepada keperluan Perang Asia Timur
Raya. Jenis sekolah dikelompokkan menjadi dua bagian utama yaitu sekolah
umum dan sekolah guru.45 Sekolah guru dibuat untuk melatih guru-guru agar dapat mendidik siswanya sesuai dengan apa yang diharapkan Jepang.
Disiplin militer yang merupakan ciri pemerintahan militer Jepang,
diterapkan dalam bidang pendidikan. Seperti yang disampai dalam majalah soeara
43
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 83. 44
Imran, Di bawah Pendudukan Jepang 1942-1945, h. 74. 45
muslimin Indonesia yang mengomentari pidatonya Moh. Hatta tentang pendidikan
untuk rakyat Jelata yaitu:
“... Lihat sadja aliran jang ditempoeh oleh anak-anak kita disekolah-sekolah ataoe dalam doenia pemuda oemoemnja. Kita lihat boewahnya pendidikan mereka itoe jang sangat mengherankan. Peroebahan semangat anak-anak dan pemoeda-pemoeda kita selama tiga tahoen jang belakangan ini menendjoekan dengan tegas adanja kekoeatan jang loear-biasa dalam djiwanja bangsa kita. Djiwanj a bangsa Indonesia, jang selaloe dikira oleh pendjadjah Barat sebagai djiwa-boedak itoe, sebagai disoenglap beroebah menjadi djiwa perkasa djiwa jang tahoe bertjita-tjita loehoer, asal diberi kesempatan, asal diberi didikan jang sewadjarnya. Istimewa aliran
kemiliteranlah jang ditanamkan soenggoeh-soenggoeh dalam dadaja anak-anak dan pemoeda-pemoeda kita itoe....”46
Sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan menjadi tempat indoktrinasi
Jepang.47 Melalui pendidikan Jepang berusaha membentuk kader-kader untuk memelopori dan melaksanakan konsep “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”
dan hal itu akan tercapai apabila Jepang memenangkan perang dunia II.48
Meskipun Jepang memberikan kelonggaran terhadap Islam, tetapi Jepang
tetap mengawasi dan mengontrol pendidikan Islam rakyat pedesaan. Karena
Jepang takut akan bahaya yang ditimbulkan jika sewaktu-waktu terjadi
pemberontakan karena adanya unsur Arab dan Pan Islam, oleh karena itu Jepang
melarang penggunaaan bahasa Arab. Namun pada akhir tahun 1942, Jepang
menghapus larangan tersebut, karena Jepang menyadari bahwa tidak mungkin
melarang penggunaan bahasa Arab yang merupakan bahasa suci Al-Quran.
Jepang mengizinkan penggunaan bahasa Arab dalam pengajaran agama, apabila
kaum muslim mau menerima kurikulum standar di dalam mata pelajaran
non-agama dan mengajarkan bahasa Jepang disamping bahasa Arab, dengan demikian
46“
Pendidikan di Masa Perang oleh Drs. Moh. Hatta”, Soeara Muslimin Indonesia, (30
Moeharram 1364 /15 Djanoeari 2605, No. 2 Th. 3). 47
Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, h. 91-92. 48
Jepang tidak menghilangkan unsur Pan Islam dalam pendidikan Islam di
Indonesia.49
Jepang memanfaatkan jalur pendidikan untuk mengubah cara berfikir
masyarakat Indonesia dari mentalitas Eropa kepada alam pikir Jepang. Karena
Jepang berharap melalui pendidikan tercipta kader-kader yang dapat membantu
Jepang, khususnya para pemuda. Sesuai dengan undang-undang No.12 tertanggal
22 April 1942 sekolah yang semula dibekukan dibuka kembali secara
berangsur-angsur. Tidak hanya pembukaan sekolah-sekolah bekas Belanda, sekolah-sekolah
swasta pun diizinkan dibuka kembali misalnya sekolah agama Islam, sekolah
Taman Siswa, dan sekolah Muhammadiyah. Namun kebebasan untuk