• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Pendidikan

1. Pengertian Pendidikan

Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan educare

yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti meperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006:19).

38

Di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Suwarno, 2006:21-22).

Esensi pendidikan menurut Phoenix adalah proses menghadirkan situasi dan kondisi yang memungkinkan sebanyak mungkin subjek didik memperluas dan memperdalam makna esensial untuk mencapai kehidupan yang manusiawai (Thoha, 2010:1).

Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi kemanusiaan. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia (Tirtarahardja, 2008:1).

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan tuntutan bagi pertumbuhan anak-anak. Artinya, pendidikan menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak, agar mereka sebagai manusia sekaligus sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Suwarno, 2006:21).

Pendidikan mengandung pembinaan kepribadian, pengembangan kemampuan, atau potensi yang perlu dikembangkan, peningkatan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu, serta tujuan ke arah mana

39

peserta didik dapat mengaktualisasikan dirinya seoptimal mungkin (Suwarno, 2006:22).

Pendidikan yang benar menggunakan pengalaman-pengalaman untuk membuat seseorang berkembang dengan melalui bimbingan dan pengenalan gagasan-gagasan baru (Anggawidjaja, 2010:101).

Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan (Purwanto, 2000:11).

Pendidik harus dilakukan oleh orang dewasa karena pendidik akan membawa anak-anak kepada kedewasaannya. Tidak mungkin pendidik membawa anak-anak kepada kedewasaannya jika pendidik sendiri tidak dewasa (Purwanto, 2000:13).

Dari beberapa pendapat di atas mengenai makna tentang pendidikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan oleh orang dewasa (pendidik) untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak (peserta didik) melalui proses pembelajaran dan bimbingan, sehingga anak dapat mengembangkan kemampuannya, meningkatkan pengetahuan dari yang tidak tahu menjadi tahu,dan anak dapat menuju pada kedewasaan.

2. Komponen Pendidikan

Komponen pendidikan menentukan berhasil tidaknya dari proses pendidikan. Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik yaitu:

40 a. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh kegiatan pendidikan (Suwarno,2006: 33). Menurut Bloom, tujuan pendidikan dibedakan menjadi tiga, yaitu cognitive domain, affective domain, dan psychomotor domain.

1) Cognitive Domain

Meliputi kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat tercapai setelah dilakukannya proses belajar mengajar. Kemampuan tersebut meliputi pengetahuan, pengertian, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Untuk mencapai semuanya harus sudah memiliki kemampuan sebelumnya. 2) Affective Domain

Berupa kemampuan untuk menerima, menjawab, menilai, membentuk, dan mengarakterisasi.

3) Psychomotor Domain

Terdiri dari kemampuan persepsi, kesiapan dan respons terpimpin (Suwarno, 2006:35-36).

b. Peserta Didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yng tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Karena, peserta didik adalah subjek atau pribadi yang ingin diakui keberadaannya

41

dan ingin mengembangkan diri secara terus menerus guna memecahkan masalah dalam hidupnya (Tirtarahardja, 2008:52).

Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik yaitu bahwa peserta didik memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, mengalami perkembangan, membutuhkan bimbingan dan perlakuan manusiawi, serta memiliki kemampuan untuk mandiri.

c. Pendidik

Pendidik adalah orang yang dengan sengaja memengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pendidik adalah orang yang lebih dewasa yang membawa peserta didik ke arah kedewasaan (Tirtarahardja, 2008:54).

Pendidik juga merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungaan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Maka dari itu, yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, dan masyarakat.

d. Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja membuat kondisi-kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi juga mewujudkan diri sebagai perbuatan atau situasi yang

42

membantu tujuan pencapaian tujuan pendidikan. Alat pendidikan dikategorikan dalam beberapa kategori yaitu alat pendidikan positif dan negatif, alat pendidikan preventif dan korektif, serta alat pendidikan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

1) Alat Pendidikan Positif dan Negatif

Alat pendidikan positif dimaksudkan sebagai alat yang ditujukan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik. Misalnya, pujian agar anak mengulang pekerjaan yang menurut ukuran adalah baik. Sedangkan alat pendidikan negatif dimaksudkan agar anak tidak mengerjakan sesuatu yang buruk. Misalnya, larangan atau hukuman agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menurut ukuran norma adalah buruk.

2) Alat Pendidikan Preventif dan Korektif

Alat pendidikan preventif merupakan alat untuk mencegah anak mengerjakan sesuatu yang tidak baik. Misalnya peringatan atau larangan. Sedangkan alat pendidikan korektif adalah alat untuk memperbaiki kesalahan atau kekeliruan yang telah dilakukan peserta didik. Misalnya hukuman.

43

3) Alat Pendidikan yang Menyenangkan dan Tidak Menyenangkan

Alat pendidikan yang menyenangkan merupakan aat yang digunakan agar peserta didik menjadi senang. Misalnya dengan hadiah atau ganjaran. Sedangkan alat pendidikan yang tidak menyenangkan dimaksudkan sebagai alat yang dapat membuat peserta didik merasa tidak senang. Misalnya dengan hukuman atau celaan.

e. Lingkungan Pendidikan

Lingkungan pendidikan adalah lingkungan yang melingkupi terjadinya proses pendidikan. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

1) Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama, karena keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak. Untuk mengoptimalkan kemampuan dan kepribadian anak, orang tua harus menumbuhkan suasana edukatif di lingkungan keluarganya sedini mungkin. Suasana edukatif yang dimaksud adalah orang tua yang mampu menciptakan pola hidup dan tata pergaulan dalam keluarga dengan baik.

44

Lingkungan sekolah merupakan lingkungan pendidikan ke dua bagi anak setelah lingkungan keluarga. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang secara resmi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara sistematis, berencana, sengaja dan terarah, yang dilakukan oleh pendidik yang profesional dan diikuti oleh peserta didik pada setiap jenjang tertentu.

Sekolah melakukan pembinaan pendidikan kepada peserta didik yang didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh keluarga dan masyarakat. Kondisi tersebut muncul karena keluarag dan masyarakat memiliki keterbatasan dalam melaksanakan pendidikan. Padahal, tanggung jawab pendidikan anak seutuhnya menjadi tanggung jawab orang tua. Sekolah hanya meneruskan dan mengembangkan pendidikan yang telah diperoleh di lungkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan informal yang telah dikenal anak sebelumnya (Suwarno, 2006:42).

3) Lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seuruh anggotanya, tetapi tidak sistematis. Masyarakat menerima semua anggota

45

yang beragam untuk diarahkan menjadi anggota yang sejalan dengan tujuan masyarakat itu sendiri.

3. Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Pendidikan Anak

Tanggung jawab berasal dari akar kata response. Seseorang yang bertanggung jawab adalah seseorang yang dapat dimintai tanggung jawab, yang dapat dipercaya, dan melakukan apa yang diharapkan (Illahi, 2013:167).

Orang tua harus menyadari tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak. Tanggung jawab yang harus dilakukan orang tua antara lain memelihara dan membesarkannya, melindungi dan menjamin kesehatannya, mendidik dengan berbagai ilmu serta membahagiakan kehidupan anaknya.

Dalam tanggung jawab mendidik, orang tua memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan anak. Orang tua perlu membekali anaknya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan anaknya kelak, sehingga pada masa dewasanya mampu mandiri dan bermanfaat bagi kehidupan sosial, bangsa dan agamanya (Suwarno, 2006:40-41).

Dalam teori Lev Vygotsky, dia meyakini bahwa pengetahuan, pemikiran dan proses seperti ingatan pada anak, semuanya bergantung pada interaksi sosial dengan orang tua yang berpengetahuan. Apa pun yang dipelajari anak, yang pertama adalah pengalaman dalam interaksi sosial dengan orang tua, guru dan teman sebayanya. Interaksi

46

sosial yang paling berpengaruh besar adalah interaksi sosial dengan orang tua (Fajar, 2011:86).

Menurut Freud, orang tua adalah pembimbing dan pendukung yang berwenang untuk menuju kedewasaan anak (Fajar, 2011:93).

Orang tua adalah guru utama bagi anak. Karena memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan apa yang dianggap penting dan anak tidak mengetahuinya. Dengan mengenal anak dengan baik dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak, orang tua akan menjalankan perannya dengan baik sebagai guru utama (Anggawidjaja, 2010:103).

Pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada rasa kasih sayang terhadap anak-anak. Orang tua adalah pendidik sejati, pendidik karena kodratnya. Oleh karena itu kasih sayang orang tua terhadap anak-anak hendaklah kasih sayang yang sejati pula. Yang berarti pendidik atau orang tua mengutamakan kepentingan dan kebutuhan anak-anak, dengan mengesampingkan keinginan dan kesenangangan sendiri (Purwanto, 2000:80).

Pendidikan merupakan target yang paling utama agar anak berkembang menjadi lebih baik. Hal tersebut bertujuan agar pendidik mampu memahami kewajiban-kewajiban yang harus diberikan kepada anaknya, sehingga tidak ada lagi pendidik yang melalaikan dan tidak memberikan hak pada anaknya (Ulwan, 2009:124).

47

Jika anak dibesarkan dan dididik oleh orang tua atau lingkungan keluarga yang mengetahui akan kehendaknya dan berdasarkan kasih sayang kepadanya, ia akan tumbuh menjadi anak yang tenang dan mudah menyesuaikan diri terhadap orang tua dan anggota-anggota keluarga lainnya, serta terhadap teman-temannya. Karakter pribadinya akan berkembang dengan tidak mengalami kesulitan-kesulitan yang besar (Purwanto, 2000:85).

Menjadi tanggung jawab yang diemban oleh orang tua bahwa tugas orang tua adalah sebagai pendidik bagi anaknya di dalam rumah. Tugas dan tanggung jawab tersebut meliputi membentuk pemikiran anak dengan sesuatu yang bermanfaat sehingga anak memiliki kedewasaan dan kematangan dalam pemikiran. Selain itu juga tanggung jawab berupa pendidikan baik berupa pendidikan moral maupun pendidikan fisik (Ulwan, 1996:54).

Dalam pandangan Islam orang tua memiliki tanggung jawab yang penting dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, Islam membebani orang tua sebagai pendidik dengan tanggung jawab yang besar dalam mengajar anak-anak, menumbuhkan sikap terlibat dalam mengembangkan kebudayaan dan ilmu serta memusatkan otak mereka untuk memahami konsep secara maksimal dan pengetahuan yang kritis. Sehingga potensi anak akan terbuka dan kecedasan anak akan tampak. Sebagaimana ayat yang pertama diturunkan kepada

48

Rasulullah adalah ayat Al-Quran Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:                          Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia

telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak

diketahuinya”

Pesan ayat tersebut tidak lain sebagai pengagungan hakikat baca tulis dan ilmu pengetahuan, pemikiran dan akal, serta membuka pintu kebudayaan dari berbagai segi (Ulwan, 1996:55). Sehingga pentingnya pendidikan untuk diajarkan bagi anak, karena hal tersebut sudah diperintahkan oleh Allah melalui firman-Nya. Dan dapat dijadikan sebagai dasar bagi orang tua untuk memberikan pendidikan bagi anak.

Mendidik dan membimbing anak merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim karena anak merupakan amanat yang harus dipertanggung jawabkan oleh orang tua (Muallifah, 2009:57).

49

Seperti yang telah diperjelas dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Sesungguhnya setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci),

orang tuanya lah yang akan menjadikan anak tersebut Yahudi,

Nasrani, ataupun Majusi.”

Hadis tersebut mengandung makna bahwa sesungguhnya kesuksesan atau bahkan masa depan anak adalah tergantung bagaimana orang tua mendidik dan membimbingnya. Hadis tersebut juga bermakna bhwa setiap anak yang lahir sesunguhnya sudah memiliki potensi, namun potensi itulah yang kemudian dapat menghasilkan sesuatu yang maksima, jika diasah oleh lingkungan (keluarga) dengan baik. Hal tersebut juga dipertegas lagi dalam firman Allah SWT:                       

Yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan

50

batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada

mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At

Tahriim/66 : 6)

Maksud dari ayat tersebut adalah perintah memelihara keluarga, termasuk anak, bagaimana orangtua dapat mengarahkan, mendidik, dan mengajarkan anak agar dapat terhindar dari siksa api neraka. Selain itu juga memberikan arahan bagaimana orang tua harus mampu menerapkan pendidikan yang dapat membuat anak mempunyai prinsip untuk menjalankan hidupnya dengan positif serta menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat (Muallifah, 2009:57-58).

Orang tua menginvestasikan waktu, emosi, energi, dan uang dalam membesarkan anak. Mereka ingin apa yang mereka lakukan akan bermanfaat bagi anak untuk tumbuh. Perilaku dan usaha orang tua adalah yang terpenting, meskipun bukan satu-satunya yang mempengaruhi perkembangan dan kompetensi anak (Fajar, 2011:32).

Tanggung jawab orang tua dalam pendidikan, orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani karena merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Sebagai model, orang tua seharusnya memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka. dalam

51

salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq Sa’id bin

Mansur, Rasulullah SAW bersabda:

ْمُه ْوُبِّدَأ َو َرْي َخْلا ُمُكْيِلْهَأ َو مُكَدَلا ْوَأ ا ْوُمِّلَع

Nabi shallallualaihiwasallam bersabda: “Ajarkanlah kebaikan kepada

kepada anak-anak kamu dan didiklah mereka dengan budi pekerti

yang baik.”

Mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua dalam keluarga. Sesibuk apa pun pekerjaan yang harus diselesaikan, meluangkan waktu demi pendidikan anak adalah lebih baik. Karena orang tua yang bijaksana adalah orang tua yang lebih mendahulukan pendidikan anak daripada mengurusi pekerjaan siang dan malam (Djamarah, 2004: 29-31).

52

Dokumen terkait