BAB II LANDASAN TEORI
B. Pendidikan Multikultural
Menurut Banks (dalam YPSIM, 2012), pendidikan multikultural adalah sebuah ide, gerakan pembaharuan pendidikan, dan proses pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengubah struktur lembaga pendidikan supaya siswa baik pria maupun wanita, siswa berkebutuhan khusus, dan siswa yang merupakan anggota kelompok ras, etnis, dan kultur yang bermacam-macam itu akan memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi di sekolah.
Sedangkan menurut Gollnick & Chinn (2013), pendidikan multikultural merupakan suatu konsep yang mengakui pentingya perbedaan di dalam kehidupan peserta didik serta mendorong kesetaraan dan keadilan dalam pendidikan. Disadari bahwa, budaya dari setiap individu mempengaruhi keseluruhan hidup individu tersebut. Budaya mendefenisikan siapa manusia. Budaya mempengaruhi bagaimana individu makan, berpakaian, berbicara, berpikir, dan lain sebagainya. Di dalam konteks pendidikan, siswa berasal dari budaya yang berbeda-beda. Tidak semua siswa dapat diajari dengan cara yang sama. Guru perlu menyadari bahwa budaya dari setiap siswa akan mempengaruhi bagaimana mereka belajar, dan setiap siswa memiliki perbedaan kebutuhan, kemampuan dan pengalaman.
Gollnick & Chinn (2013) menyatakan beberapa dasar-dasar dari pendidikan multikultural ini adalah:
a. mengakui bahwa setiap budaya memiliki kekuatan dan nilai
b. sekolah haruslah menjadi model dari ekspresi hak-hak manusia serta dalam menghargai perbedaan antar budaya dan kelompok.
c. kesetaraan dan keadilan menjadi yang terpenting di dalam kurikulum d. sikap dan nilai yang diperlukan dalam berpartisipasi di masyarakat harus
dipromosikan di sekolah.
e. guru adalah kunci untuk pembelajaran siswa (pengetahuan, watak, skill) untuk menjadi masyarakat produktif.
f. menciptakan lingkungan yang multtikultur oleh guru, keluarga, dan komunitas.
2. Sejarah Pendidikan Multikultural
Gollnick & Chinn (2013), di dalam bukunya yang berjudul Multicultural
Education in a Pluralistic Society memaparkan sejarah dari pendidikan
multikultural. Pada awalnya, pendidikan multikultural bertujuan untuk menghargai para imigran yang ada di Eropa dan Amerika, dengan tujuan kesatuan nasional dan sebagai kontrol sosial. Pada tahun 60an, anak-anak dari keluarga miskin dan berkulit gelap kerap dicela dan tidak mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan. Hal ini akhirnya melahirkan Head Start, yaitu program pendidikan bagi mereka yang dianggap sebagai culturally deficit atau tidak memiliki budaya. Namun pada tahun 70an, mulailah mereka dianggap sebagai
culturally different atau memiliki budaya yang berbeda dari budaya dominan.
Mulai diajarkan, agar kaum mayoritas dapat bergabung dengan kaum minoritas. Namun, saat itu, kaum disable masih tetap dibedakan.
Kemudian lahirlah ethnic studies dan multiethnic studies, dan mulai diperbaiki text book, dengan menunjukkan kelompok minoritas dan peran kelompok mereka. Siswa ditunjukkan perspektif lain dalam hal musik, literatur, sejarah dari budaya dominan dan minoritas. Konsep yang lebih luas ini fokus pada kelompok yang lebih luas dimana individu berada, dengan penekanan pada interaksi antar ras,, etnis, kelas, dan gender. Tahun 90an, pendidikan multikultural sering dikritik terlalu menekankan perbedaan bukan persamaan. Hingga saat ini, rasisme masih tetap ada di Amerika, dan hak-hak mereka masih belum sepenuhnya dapat mereka raih.
3. Pembelajaran Bermuatan Multikultural
Gollnick & Chinn (2013) menyatakan bahwa, di dalam pendidikan multikultural, guru harus memperhatikan bahwa setiap siswa belajar dengan memperhatikan perbedaan yang ada pada siswa. Guru harus mengenali beberapa siswa yang tidak mau belajar, menarik diri, dan menerapkan berbagai strategi yang tepat bagi setiap siswa. Guru harus mencoba berbagai cara untuk menolong siswa untuk belajar dan menghargai pembelajaran.
The Center for Research on Education, Diversity, and Excellence
(CREDE) pada University of California, Berkeley, telah mengidentifikasi lima
standar penting untuk meningkatkan pembelajaran untuk siswa multikultur : a. Aktifitas Produktifitas Bersama (Joint Productivity Activity)
Guru dan siswa menghasilkan kerjasama yang memudahkan pembelajaran, khususnya ketika guru dan siswa berasal dari kelompok budaya berbeda. Untuk tujuan ini, guru dan siswa harus bekerjasama untuk sebuah proyek. Dalam sebuah proyek, guru membagi siswa ke dalam kelompok berdasarkan kriteria yang berbeda, seperti minat, ragam budaya, ragam kemampuan. Guru mengawasi dan mendorong interaksi diantara siswa serta dengan dirinya, selama bekerjasama untuk memecahkan masalah atau sebuah proyek.
b. Perkembangan Bahasa (Language Development)
Pengembangan bahasa dalam kurikulum bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menyampaikan pengajaran. Melek huruf adalah kemampuan paling mendasar bagi siswa dalam mengakses pendidikan, dimana semua guru harus menolong siswa untuk menjadi melek huruf. Guru harus
menghargai bahasa ibu dan dialek semua siswa dan mendorong mereka untuk tetap menggunakan bahasa ibu mereka dalam proses pembelajaran. Guru menolong siswa untuk menghubungkan bahasa ibu dengan pelajaran yang diajarkan melalui kegiatan berbicara, menulis, membaca, dan mendengar yang menolong siswa mengembangkan kemampuan literasi.
c. Kontekstualisasi (Contextualisation)
Dalam hal ini, guru menghubungkan pengajaran dan kurikulum dengan kehidupan siswa, sehingga setiap pengajaran itu memberikan makna bagi siswa. Guru perlu menghubungkan informasi yang baru dengan pengalaman siswa, bukan dengan pengalaman guru. Dengan terlibat dalam komunitas sekolah dan dengan orangtua siswa, guru dapat mengembangkan dasar pengetahuan mereka mengenai budaya dan pengalaman siswa mereka, yang mungkin sangat berbeda dari guru.
d. Percakapan Instruksional (Instructional Conversation)
Pengajaran melalui percakapan melibatkan siswa dalam dialog. Berbagi pengetahuan dan mengajukan pertanyaan mengenai ide-ide atau gagasan merupakan komponen penting dalam percakapan instruksional antara guru dan siswa. Jadi dalam metode ini, guru menggunakan dialog antara guru dan siswa dengan suatu tujuan akademis yang jelas untuk mengeksplorasi topik dan konsep tertentu dibanding hanya sekadar ceramah di depan siswa. Mereka membimbing siswa untuk berbicara, membangun siswa dari pengalaman dan pengetahuan mereka terdahulu untuk menolong mereka belajar.
e. Aktifitas Menantang (Challenging Activities)
Mengajarkan pemikiran kompleks menantang siswa untuk mengembangkan kompleksitas kognitif. Beberapa guru mungkin tidak memberikan kesempatan yang sama bagi siswa-siswa yang memiliki status sosial ekonomi rendah, disabilitas, karena anggapan mereka mungkin sudah memiliki berbagai tantangan di dalam pengalaman hidup mereka atau dianggap tidak dapat menghadapi tantangan yang sama dengan teman mereka yang lain. Seringkali, siswa-siswa tersebut justru diberikan tugas-tugas yang berulang, latihan yang tidak menarik dan membosankan. Guru harus memberikan standar yang menantang semua siswa, yang memicu siswa untuk semakin memahami suatu topik pembelajaran.
Kunci untuk menolong siswa belajar adalah dengan menghubungkan kurikulum dengan budaya dan pengalaman nyata siswa. Siswa harus dapat melihat diri mereka sendiri dalam kurikulum yang diajarkan untuk memberikan makna dari setiap hal yang diajarkan dalam kehidupan mereka. Sebaliknya, mungkin saja mereka bisa menolak pembelajaran yang ditawarkan karena dipandang sebagai budaya dominan yang kurang sesuai dengan budaya mereka. Peneliti di CREDE telah menggunakan dan menguji standar ini di berbagai sekolah dengan berbagai populasi.