BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pendidikan, Pelatihan dan inovasi
Salah satu cara dalam meningkatkan kinerja aparatur sebagai upaya dalam mengembangkan sumber daya manusia ialah melalui Pendidikan dan Pelatihan atau dikenal sebagai Diklat. Siagian (1995) menyatakan “pentingnya pendidikan dan pelatihan sebagai salah satu investasi dalam bidang sumber daya manusia (Human Investment) yang harus dilaksanakan oleh setiap organisasi, apabila organisasi yang bersangkutan ingin bukan saja meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerjanya, akan tetapi dalam rangka mempercepat pemantapan perwujudan perilaku organisasi yang diinginkan” (dalam Rusmulyani, 2015:25)
Handoko (2001:103) menyebutkan bahwa ada dua tujuan utama program latihan dan pengembangan pegawai. Pertama, latihan dan pengembangan dilakukan untuk menutup “gap” antara kecakapan atau kemampuan pegawai dengan permintaan jabatan. Kedua, program- program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja pegawai dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan. Sekali lagi, meskipun usaha-usaha ini memakan waktu dan mahal, tetapi akan mengurangi perputaran tenaga kerja (turn- over) dan membuat karyawan menjadi lebih produktif. Lebih lanjut, latihan dan pengembangan membantu mereka dalam menghindarkan diri dari “keusangan (obsolescence)” dan melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik.
Selanjutnya terdapat dua macam evaluasi yang dikenal secara luas yaitu formative evaluation merupakan metode yang menilai keberhasilan program saat dalam proses dan summative evaluation yaitu metode yang menilai keberhasilan program pada akhir proses, jadi berfokus pada dampak atau pasca pelatihan. Menurut evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick tersebut, pada evaluasi tahap 1 dan 2 akan menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggara pelatihan (formative), sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 menghasilkan
informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi (summative) yang merupakan kondisi pasca pelatihan (Sopacua dan Budijanto, 2007:371).
Studi empiris terhadap pelaksanaan hasil Kajian Sustanibilitas Inovasi Alumni Diklat Kepemimpinan Tingkat III dan IV yang telah dilaksanakan oleh PKP2A II LAN tahun 2016 bahwa T ingkat sustanibilitas proyek perubahan (inovasi) alumni Diklat Kepemimpinan Tingkat IV dan III pada umumnya hanya mencapai tingkatan pertama yaitu keberlanjutan proyek perubahan (inovasi) hanya pada tingkat capaian jangka pendek atau berhenti pada saat alumni menjadi peserta Diklat. Adapun faktor yang mempengaruhinya adalah kualitas dari proyek perubahan, keberadaan milestone capaian jangka menengah dan panjang pada proposal rancangan proyek perubahan (inovasi) peserta Diklat 2 kepemimpinan Tingkat IV dan III, dukungan pimpinan (mentor), mutasi alumni, dan keberlanjutan tim efektif.
Adapun evaluasi yang telah dilakukan oleh Bandiklatda Prov. Kalsel tahun 2016 terhadap Diklat Kepemimpinan T ingkat IV menyatakan bahwa faktor utama pendukung proyek perubahan adalah dukungan mentor dalam bentuk dukungan atasan/ mentor berdasarkan pendapat responden melalui Komitmen memberikan dukungan, bimbingan, arahan, masukan, pengawasan, penyediaan anggaran, membuat kebijakan, Menyiapkan SDM / Tim Teknis dan Tim pokja, Tim IT, Menyiapkan Sarana prasarana, atribut dan fasilitas, Koordinasi pihak lain /SK / instruksi kerjasama. Kendala utama proyek perubahan tidak berjalan sesuai milestone jangka menengah dan panjang adalah kurangnya dukungan dana dan sumber daya lain. pihak mana yang paling merasakan manfaat dari proyek Perubahan adalah organisasi secara umum. Dampak Diklat terhadap Peningkatan Kinerja dilihat melalui perilaku kerja yang lebih baik
Inovasi menurut Makmur dan Rohana Tahier (2015 : 9) didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan atau pemikiran manusia untuk menemukan sesuatu yang baru berkaitan dengan input, proses dan output , serta dapat memberikan manfaat pada manusia. Inovasi secara singkat didefenisikan oleh Fontana (2011, dalam PKP2AIII LAN, 2015 :19) sebagai keberhasilan ekonomi berkat adanya pengenalan cara baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam
mentransformasi input menjadi output (teknologi) yang menghasilkan perubahan besar atau drastis dalam perbandingan antara nilai guna yang dipersepsikan oleh konsumen atas manfaat suatu produk (barang/ jasa) dan harga yang ditetapkan oleh produsen.
Untuk menghasilkan pelayanan yang berkualitas, pemerintah harus mampu melihat kekuatan serta kelemahan yang dimilikinya agar dapat melakukan perubahan di berbagai sektor baik yang terkait langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan. Inovasi dibutuhkan dalam rangka memperbaiki bahkan meningkatkan kualitas, efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pelayanan publik, karena melalui inovasi dapat diciptakan sistem, metode, serta teknologi yang dapat menurunkan biaya, mempersingkat waktu layanan, memangkas birokrasi, dan yang terpenting memberikan kepercayaan bagi masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Dari hasil studi literatur dan riset empiris tentang manajemen inovasi di dunia dan hasil studi tentang manajemen inovasi di Asia, ditemukan bahwa cara-cara menata kelola inovasi mengikuti prinsip- prinsip yang berlaku umum di dunia. Ada delapan prinsip manajemen inovasi yang dijelaskan oleh Fontana (2011: 124-136), yaitu:
1. Tidak ada inovasi tanpa kepemimpinan.
Inovasi yang berhasil membutuhkan visi yang jelas yang didefenisikan oleh kepemimpinan dalam organisasi dan oleh penciptaan lingkungan yang memungkinkan visi tersebut disebarkan, dibagikan dan dimiliki oleh semua orang dalam organisasi dan semua kolaborator organisasi.
2. Inovasi membutuhkan manajemen risiko yang terkalkulasi. Tantangan inovasi yang kedua adalah mengetahui bagaimana mengelola risiko. Semua inovasi pasti mengandung risiko. Perusahaan perlu mengembangkan sistem untuk mengatasi risiko. Termasuk disini adalah memastikan bahwa para karyawan kunci dalam organisasi bertingkah laku sebagai inovator dan pengusaha, dan mereka dapat menularkan semangat yang sama kepada rekan kerja dan kolaborator organisasi lainnya yang ada di dalam dan di luar perusahaan.
3. Inovasi dipicu oleh kreatifitas.
memiliki kreatifitas dan adalah tugas organisasi untuk menciptakan lingkungan kondusif bagi tumbuh dan munculnya kreatifitas. Banyak cara dan alat disarankan atau dikembangkan oleh pihak yang kompeten untuk mencapai kreativitas dalam organisasi dan menghilangkan penghambat-penghambatnya.
4. Inovasi membutuhkan integrasi organisasi.
Untuk melaksanakan inovasi dengan berhasil, seluruh organisasi harus memiliki inovasi, jiwa dan spirit inovasi mendarah-daging dalam tubuh organisasi. Inovasi tidak dapat didelegasikan hanya ke fungsi-fungsi tertentu. T im manajemen puncak dan tim operasional dalam organisasi harus bergerak bersama sejak tahap awal proses inovasi hingga tahap akhir proses inovasi, dalam suatu rantai nilai inovasi.
5. Keberhasilan dalam inovasi membutuhkan keunggulan dalam manajemen proyek.
Tantangan berikutnya dalam inovasi adalah implementasi. Keunggulan dalam manajemen proyek berkaitan dengan sisi implementasi inovasi.
6. Informasi adalah sumber daya penting untuk efektivitas inovasi. Manajemen informasi dalam manajemen proyek ditekankan secara khusus, sebagai salah satu prinsip manajemen inovasi. Jika inovasi dilihat sebagai sebuah proses produksi maka informasi dan ide adalah bahan baku yang akan ditransformasi menjadi produk (barang dan/atau jasa) yang baik.
7. Hasil dari upaya kreatif perlu dilindungi.
Organisasikan cara anda memperoleh penghasilan, imbal jasa dan penghargaan atas hasil inovasi organisasi anda. Untuk itu anda perlu melakukan proteksi atas produk (barang dab/atau jasa) inovatif anda.
8. Inovasi yang berhasil berakar pada pemahaman yang baik tentang pasar.
Kemampuan tingkat tinggi dalam berkomunikasi dengan konsumen serta pelanggan potensial, serta pihak-pihak lain yang mempengaruhi keputusan membeli merupakan faktor fundamental keberhasilan dalam berinovasi.
Wigyantoro (dalam PKP2A III LAN, 2007 hal 35) menyatakan bahwa Inovasi berkaitan dengan knowledge yang dapat digunakan untuk menciptakan produk dan proses dan layanan baru guna meningkatkan competitive advantage dan memenuhi kebutuhan pelanggan yang selalu berubah. Menurut Winardi (2006 dalam PKP2A III LAN: 2007) Inovasi merupakan suatu proses dimana organisasi memanfaatkan keterampilan dan sumber sumber daya mereka untuk mengembangkan barang-barang dan jasa-jasa baru, atau untuk mengembangkan produk dan system-sistem pengoperasian baru sehingga mereka lebih baik dapat bereaksi terhadap kebutuhan pelanggannya. Fontana (2011: 19-20) juga memaparkan beberapa definisi-definisi Inovasi dari berbagai sumber , yang dijabarkan dalam tabel berikut:
Tabel 2.1
Sumber : Goswani dan Mathew (2005); PDMA (2008); De Meyer dan Garg (2005); Senge dkk. (2008) dalan Fontana 2011:19-20.
Secara lebih rinci kebutuhan akan inovasi dalam pelayanan publik disebabkan oleh beberapa hal berikut:1
1. Masyarakat Indonesia makin terdidik mengalami peningkatan pendidikan dari masyarakat pendapatan rendah ke pendapatan menengah, mengalami proses demokratisasi sehingga makin memahami hak-hak mereka. Implikasinya, masyarakat akan semakin demanding untuk mendapatkan pelayanan yang lebih berkualitas dari pemerintah;
2. Pemerintah diharapkan lebih akuntabel dalam menggunakan dana publik. T idak hanya berkaitan dengan pertanggungjawaban penggunaannya yang memenuhi kaidah administrasi keuangan, akan tetapi juga yang berkaitan dengan value for money;
3. Pemerintah dituntut untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat secara efektif dan efisien, sehingga secara terus menerus diharapkan mampu melakukan perubahan;
4. Pemerintah diharapkan mampu memecahkan persoalan-persoalan baru yang muncul sesuai dengan dinamika perkembangan kehidupan modern yang makin kompleks dimana masyarakat tidak lagi dapat bergantung pada mekanisme-mekanisme lama untuk menyelesaikan masalah mereka dengan makin terkikisnya keberadaan institusi tradisional;
5. Pemerintah dituntut memapu menciptakan pelayanan publik yang mampu mendorong competitivenes masyarakat dalam menghadapi tantangan global sehingga masyarakat mampu
1 Penerapaan Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, Pusat Kajian Manajemen
memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk menyelesaikan masalah mereka maupun meningkatkan kesejahteraan;
6. Pemerintah menghadapi tantangan makin terbatasnya anggaran, sementara kompleksitas dan tuntutan masyarakat terus berkembang sehingga dituntut untuk makin kreatif mencari sumber- sumber pendanaan dalam memberikan pelayanan publik.