KEHIDUPAN SUKU ANAK DALAM DI LOKASI TRANS SOSIAL 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
B. Penjualan Lahan Sawit Dan Karet
4.1.5 Sarana dan Prasarana
4.1.5.1 Pendidikan SAD yang Mengikuti Program Trans Sosial
Salah satu indikator inti untuk mendapatkan gambaran tentang kualitas sumber daya manusia adalah dengan melihat komposisi penduduk yang menamatkan pendidikan tertinggi. Karena kualitas sumber daya manusia yang tinggi hanya bisa didapatkan apabila manusia tersebut memiliki jenjang pendidikan yang tinggi pula. Kehidupan Suku Anak Dalam dalam bidang pendidikan sangat berbeda dengan masyarakat umum lainnya. Pada umumnya, mereka tidak mencapai tingkat pendidikan tinggi. Sebagian dari anak – anak Suku Anak Dalam (SAD) ada yang mengikuti pendidikan formal di sekolah, terutamanya adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan tingkat SD (Sekolah Dasar). Namun demikian yang mengikuti pendidikan ditingkat PAUD dan SD di lokasi Trans sosial ini hanya terbatas kepada beberapa keluarga saja, selebihnya tidak bersekolah.
A. Sarana Pendidikan
Di Lokasi Trans Sosial tidak disediakan sekolah bagi anak – anak Suku Anak Dalam secara khusus. Namun, di Kabupaten Merangin yang merupakan sebagian daerah yang didiami SAD terdapat sarana pendidikan seperti TK (Taman Kanak – kanak), SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkatan Pertama). Sekolah – sekolah tersebut terletak di sekitar lokasi Trans Sosial dan bukan di pusat lokasi Trans Sosial. Sarana pendidikan yang telah tersedia di Kabupaten Merangin membuat Suku Anak Dalam mudah untuk mendapatkan pendidikan seperti yang diinginkan mereka. Para guru telah siap
dibekali untuk menerima anak – anak Suku Anak Dalam dan dengan sabar mendidik anak – anak Suku Anak Dalam yang ingin bersekolah. Namun, kendala yang didapatkan oleh para guru bukan saja karena anak – anak Suku Anak Dalam jarang datang ke sekolah, tetapi para guru juga harus bersabar membujuk anak – anak Suku Anak Dalam agar mau datang hadir ke sekolah. Karena, para guru selain merasa sebagai tugas dan tanggung jawab mereka tetapi, yang paling penting para guru melihat bahwa anak – anak SAD belum mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar di sekolah.
Sarana pendidikan merupakan sarana pokok yang harus diperhatikan oleh setiap masyarakat untuk meningkatkan sumber daya manusia yang handal. Di sekitar daerah Trans Sosial hanya ada beberapa sekolah saja, sekolah – sekolah yang berada dekat dengan Lokasi Trans Sosial seperti yang dikatakan oleh masyarakat yang tinggal disekitar lokasi Trans Sosial.
Tabel 3 Jumlah Sekolah Di Lokasi Trans Sosial
Kabupaten Jenis Sekolah Yang Mendidik Anak SAD
SD SMP SLTA
Merangin 2 0 1
Sarolangun 1 1 0
Tebo 1 1 0
Batang Hari 0 1 0
Sumber : Data Provinsi Jambi
“…Di daerah Trans Sosial sudah terdapat PAUD, TK, SD dan SMP. Rata – rata Suku Anak Dalam megenyam pendidikan sampai tingkat SMP. Suku Anak Dalam yang berhasil tamat dari SD disekitar 4
(Empat) Kabupaten yang berdekatan dengan Bukit Dua Belas ada sekitar 400anak..” 8
Sekolah – sekolah yang ada di sekitar Empat Kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo dan Kabupaten Batanghari dengan jumlah anak didik yang berasal dari Suku Bangsa SAD yang bersekolah di Empat Kabupaten adalah sebagai berikut :
Tabel 4 Jumlah Murid Berdasarkan Tingkat Pendidikan SAD di Sekitar Bukit Suban
No Tingkat pendidikan Jumlah Anak Persentase (%)
1 PAUD 20 16
2 TK 30 24
3 SD 45 36
4 SMP 30 24
Total 125 100
Sumber Data Penelitian Di Kantor Kelurahan Bukit Suban Tahun 2011
Dari data di atas Suku, Anak Dalam yang mengikutkan anak mereka ke pendidikan tingkat PAUD adalah 20 orang dengan persentase 16 Persen, Sedangkan yang mengikuti pendidikan di tingkat TK berjumlah 30 orang atau 24 persen. Suku Anak Dalam yang melanjutkan ke tingkat SD berjumlah 45 orang atau 36 Persen. Tingkat pendidikan Suku Anak Dalam yang paling tinggi adalah tingkat SMP yaitu berjumlah 30 orang atau 24 Persen,
Anak – anak Suku Anak Dalam yang berkeinginan untuk bersekolah berusaha, untuk dapat diterima oleh teman – temannya di sekolah. Upaya yang dilakukan oleh anak – anak tersebut adalah bangun lebih awal untuk membersihkan diri seperti mandi, sikat gigi, merapikan seragam yang akan dipakai ke sekolah.
8.Wawancara dengan Bapak R. Sinaga, 52 Tahun. Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012,
Bukan hanya itu saja, anak – anak Suku Anak Dalam juga merapikan diri dengan memotong rambut mereka serta berusaha wangi agar teman – teman mereka di sekolah tidak mencium bau yang tidak sedap dari pakaian mereka. Sehingga anak – anak Suku Anak Dalam dapat bergaul dan diterima oleh teman – teman mereka. Bukan hanya anak – anak Suku Anak Dalam saja yang berusaha agar mereka diterima di lingkungan sekolah. Pihak orang tua mereka juga membantu upaya dari anak – anak tersebut agar mereka dapat diterima di dalam pergaulan dengan teman – teman dari luar suku mereka. Seperti memberikan uang saku kepada anak – anak mereka dengan tujuan agar anak mereka dapat bergaul dengan teman – temannya di sekolah. Selain itu juga, para orang tua memberikan perlengkapan sekolah kepada anak mereka agar tidak tertinggal dengan anak – anak Masyarakat Terang, agar anak – anak mereka dapat sejajar dan sama dengan anak – anak Masyarakat Terang dan tidak ada lagi yang dapat menjadi bahan ejekan dari teman – teman mereka. Namun demikian, tidak semua orang tua yang berkeinginan agar anak mereka sekolah. Ada sebagian orang tua yang tidak menganggap penting pendidikan, seperti data yang ada di bawah ini.
Tabel 5 Pandangan Orang Tua SAD Yang Telah Bermukim Di Lokasi Trans Sosial Tentang Pendidikan Anak – anak Mereka
No Jawaban Jumlah (F) Persentase (%)
1 Sangat Penting 15 42,86
2 Netral 4 11,43
3 Tidak Penting 16 45,71
Total 35 100
Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas responden menjawab bahwa pendidikan tidak penting dengan jumlah 16 orang atau 45,71 Persen. Berikut adalah hasil kutipan wawancara peneliti dengan informan yang dapat menjelaskan mengapa Suku Anak Dalam tidak menganggap pendidikan itu penting. Seperti yang diungkapkan informan di bawah ini:
“…Kami tinggal di daerah Trans Sosial ini berharap akan mendapatkan teman selain dari suku kami. Namun, kami mendapatkan penolakan. Seperti yang dirasakan oleh putri saya ketika menuntut ilmu di Sekolah Dasar, namun harus mengalami dilema untuk kembali ke sekolah. Karena di olok – olok oleh teman – temannya di sekolah. Yahh.. banyak juga hinaan yang masyarakat terang lakukan, namun dilakukan secara halus. Misalnya ketika kami lewat atau berada di pasar dan berpapasan, masyarakat Terang langsung menjauhi kami seolah – olah kami memiliki penyakit yang menular. kami sudah mencoba untuk mendekatkan diri kepada masyarakat terang, namun selalu di perlakukan seperti manusia yang menjijikan. Karena itu kami sekeluarga menarik diri dari pergaulan. Bukan karena kami tidak menyukai masyarakat Terang. Namun, kami hanya menjauhkan diri dari mereka agar kami tidak di hina dan merasakan olokan mereka..” 9
Jawaban yang diberikan oleh informan mempertegas bahwa Suku Anak Dalam tidak menganggap pendidikan itu penting dikarenakan adanya penolakan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar mereka. Olokan dan hinaan yang dirasakan oleh anggota suku anak dalam membuat mereka tidak ingin memasukkan anak – anak mereka ke sekolah.
Sedangkan Suku Anak Dalam yang menjawab sangat penting dengan jumlah 15 orang atau 42,86 Persen. Suku Anak Dalam yang menganggap Pendidikan itu sangat penting berusaha untuk menyekolahkan anak – anaknya sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka menyekolahkan anak – anak mereka dengan tujuan agar anak mereka tidak buta huruf dan dapat menulis serta mengetahui angka – angka untuk menambah dan membagi, sehingga tidak ditipu oleh orang. Karena kebanyakan dari Suku Anak Dalam yang buta huruf dan tidak bisa membaca, sering di tipu oleh masyarakat Terang. Dengan kondisi yang demikian, membuat para orang tua Suku Anak Dalam yang menganggap pendidikan penting berusaha untuk menyekolahkan anak – anak mereka.
Suku Anak Dalam yang tidak menjawab atau Netral berjumlah 4 orang atau 11,43 Persen. Suku Anak Dalam yang tidak menjawab berfikir bahwa sekolah atau tidak anak – anak mereka itu tidak ada dampak yang baik bagi mereka. Sehinga Suku Anak Dalam tersebut memberikan kebebasan kepada anaknya untuk memilih mau sekolah atau tidak.
WARSI (Warung Informasi) adalah suatu lembaga sosial masyarakat yang khusus menangani kehidupan Suku Anak Dalam yang terdapat di daerah Jambi. Dalam hal pendidikan, Lembaga WARSI berusaha untuk menyediakan buku – buku bacaan dan pelajaran untuk anak – anak Suku Anak Dalam. Mereka membuat perpustakaan kecil di pondok atau. Anak – anak yang ingin membaca dan meminjam buku diperbolehkan, bukan hanya sekedar membaca dan meminjam saja. Tetapi, WARSI juga memberikan les tambahan buat anak – anak Suku Anak Dalam tersebut.
Kehadiran WARSI di sarankan sangat membantu Anak – anak Suku Anak Dalam untuk belajar dan menambah motivasi anak – anak tersebut untuk tetap bersekolah. Anak – anak SAD yang bersekolah difasilitasi oleh orang tua mereka, dengan perlengkapan belajar sampai seragam dan atribut sekolah. Putus sekolahnya anak – anak Suku Anak Dalam tidak membuat para guru putus asa, dengan dibantu oleh WARSI para guru coba untuk mengajak anak – anak Suku Anak Dalam lagi untuk sekolah lagi. Anak – anak Suku Anak Dalam yang tidak mau untuk kembali lagi sekolah mendapatkan pendidikan di WARSI sedangkan untuk buku bacaan, dapat meminjam di perpustakaan WARSI. Sehingga sebetulnya tidak ditemukan masalah pendidikan dari sudut sarana pendidikan tetapi, lebih kepada halangan budaya.
Pihak WARSI akan mengajarkan anak – anak Suku Anak Dalam tersebut di basecamp mereka, atau pihak WARSI mendatangi rumah – rumah anak Suku Anak Dalam tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salah – satu informan berikut :
“…Kami tau kalau anak – anak Suku Anak Dalam ingin sekali melanjutkan sekolah mereka, tapi karena ejekan dan olokan dari teman – teman sekolahnya membuat mereka tidak mau untuk datang ke sekolah lagi, karena masalah yang demikian saya selaku guru dan teman – teman yang ada di WARSI bersama – sama mendatangi rumah anak – anak Suku Anak Dalam yang putus sekolah, mengajak anak – anak tersebut untuk datang ke Pondok WARSI dan di sanalah kami mengajar bagi anak – anak yang putus sekolah tersebut, sehingga anak – anak tersebut dapat menulis dan membaca..” 10
10.Wawancara dengan Bapak Heri, 30 Tahun. Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012, di