KEHIDUPAN SUKU ANAK DALAM DI LOKASI TRANS SOSIAL 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
B. SAD Yang Memilih Menggunakan Pengobatan Tradisional
Pengobatan Tradisional oleh sebagian Suku Anak Dalam menjadi kebutuhan yang tidak dapat terlepas dari kehidupan mereka, dimana sebagian dari mereka sejak dahulu mempercayai bahwa hanya pengobatan Tradisional yang diajarkan leluhur kepada mereka yang dapat menyembuhkan segala penyakit yang mereka derita. Sehingga apabila ada keluarga yang sakit, Suku Anak Dalam akan meramu obat-obatan untuk dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Berikut adalah kutipan wawancara dari salah satu Suku Anak Dalam yang tidak memeriksakan anaknya di Puskesmas dan lebih memilih menggunakan Pengobatan Tradisional:
“… Tidak pernah saya membawa anak saya ke Puskesmas, kalau ada yang sakit saya obatin sendiri saja di rumah, suami saya yang cari bahan-bahannya dari hutan dan beberapa hari kemudian anak saya sudah sembuh kembali..” 18
Dari pemaparan hasil kutipan wawancara bahwa Suku Anak Dalam yang
18.Wawancara dengan Ibu Renggani, 38 tahun .Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012, di
menderita sakit sangat jarang berobat ke Puskesmas. Mereka lebih cenderung mengobati penyakit mereka dengan ritual – ritual mistis adat mereka. Dengan mengharapkan bantuan dari leluhur mereka agar segala penyakit mereka di sembuhkan. Bukan hanya dengan ritual – ritual adat saja, namun Suku Anak Dalam memiliki ramuan obat–obat tradisional yang mereka buat dari tumbuh–tumbuhan obat di hutan, madu dan ramuan–ramuan hutan lainya. Obat ataupun ramuan tradisional itu dapat menyembuhkan segala penyakit yang di derita Suku Anak Dalam.
Khasiat dari ramuan obat – obatan Suku Anak Dalam tersebut pernah di uji di Istana Kepresidenan dengan di ikuti oleh semua Suku Terasing yang ada di Indonesia. Dengan hasil yang membuat Provinsi Jambi bangga, karena ramuan obat – obatan yang di buat oleh Temenggung Tarib memenangkan perlombaan tingkat indonesia itu. Berikut adalah kutipan wawancara dari salah seorang Suku Anak Dalam yang anggota keluarganya mengidap penyakit parah dan dapat disembuhkan dengan menggunakan ramuan yang diracik oleh mereka sendiri:
“…Ibu saya sempat sakit parah (Malaria) sudah sekarat kemaren itu, nggak ada kami bawa ke Puskesmas, sering-sering kami kasih obat yang kami buat sendiri, sekarang udah baik laginya dia nggak sakit-sakit lagi sudah sembuh, sudah bisa kerja dia (ibunya).. ” 19
Dari hasil kutipan wawancara di atas terlihat bahwa Suku Anak Dalam lebih mempercayai khasiat dari ramuan obat yang mereka buat sendiri daripada harus berobat ke Puskesmas yang ada di sekitar daerah Trans Sosial. Suku Anak Dalam
19.Wawancara dengan Argan, 18 Tahun.Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012, di Lokasi
mampu meracik ramuan yang dapat menyembuhkan penyakit yang parah sekalipun, tetapi Suku Anak Dalam sangat tertutup apabila ditanyai mengenai bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan dalam meracik ramuan obat tersebut. Berikut ini kutipan wawancara kepada salah seorang Suku Anak Dalam yang bertele-tele dalam menjelaskan bahan - bahan apa saja yang di perlukan untuk meramu obat yang selalu diberikan kepada keluarganya yang sedang sakit:
“… Hmmm.. Ada banyak tumbuhan yang saya pakai dalam meramu obat ini, nggak tau saya nama tanamannya apa-apa saja, kalau jumpa di hutan saya ambil saja terus saya bawa pulang dibuat jadi obat untuk di minum atau ada yang di oleskan juga untuk penyakit kulit.. ” 20
Seperti itu lah penjelasan yang diberikan oleh Suku Anak Dalam apabila ada orang yang menanyakan mengenai bahan-bahan yang dijadikan ramuan obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit baik itu penyakit dalam ataupun penyakit luar, bahkan ada juga yang membuat ramuan yang dapat merugikan buat orang lain, contohnya seperti untuk memikat orang lain demi mendapatkan cintanya dan untuk dijadikan pasangan hidupnya sehingga Suku Anak Dalam menggunakan cara apapun agar mendapatkan pujaan hatinya atau bahasa lainnya mengguna-gunai orang yang ingin mereka jadikan pasangan. Berikut ini kutipan wawancara dengan salah seorang Suku Anak Dalam yang tidak ingin diketahui namanya:
“… Saya pernah membuat ramuan untuk menarik hati orang lain, tapi ramuan itu bukan untuk saya, ada yang datang ke rumah saya dan minta tolong dibuatkan ramuan yang bias memikat hati orang lain dengan mudah, yah saya buatkan saja lagi pula dia masih ada
20.Wawancara dengan Bapak Perjuangan, 49 Tahun .Wawancara dilakukan pada bulan Agustus
hubungan saudara dengan saya..” 21
Suku Anak Dalam tidak hanya menggunakan kemampuan yang dimiliki dalam meramu obat saja, dan menggunakannya untuk kegiatan yang bernilai positif saja, tetapi mereka juga menggunakan kemampuan yang mereka miliki untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi sama sekali, tetapi mereka tidak bias dilarang karena menurut mereka kegiatan itu dinilai wajar-wajar saja untuk dilakukan.
Ramuan obat – obatan Suku Anak Dalam mendapatkan pengakuan tingkat nasional. Khasiat ramuan obat – obatan yang di buat oleh Temenggung Tarib memiliki khasiat yang sangat mujarab. Dengan menggunakan bahan – bahan ramuan dari hutan dan dengan di ikuti oleh ritual adat Tumenggung Tarib menghasilkan ramuan yang memenangkan perlombaan yaitu mendapatkan Kalpataru dari Presiden SBY. Berikut adalah kutipan wawancara peneliti dengan Temenggung Tarib:
“… Saya memenangkan penghargaan Kalpataru dari Bapak Presiden, saya diundang ke Istana Negara semua itu karena obat-obatan yang saya buat mewakili Suku Anak Dalam yang dinilai sangat baik diantara suku-suku terasing di Indonesia salah satunya adalah suku Dayak dari Kalimantan... ” 22
Karena obat-obatan yang dihasilkan oleh Temenggung Tarib dinilai sangat baik dengan khasiat yang begitu baik pula sehingga pengobatan dari berbagai Suku-Suku Terasing dari seluruh Indonesia dapat dimenangkan oleh Suku-Suku Terasing dari
21.Wawancara dengan Edi, 28 Tahun, Laki -laki .Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012,
di Lokasi Trans Sosial.
22.Wawancara dengan Temenggung Tarib, 60 Tahun. Wawancara dilakukan pada bulan Agustus
wilayah Jambi yaitu Suku Anak Dalam yang diwakili oleh bapak Temenggung Tarib. Prestasi ini sangat membuat bangga Masyarakat Jambi khususnya bagi Suku Anak Dalam itu sendiri, dan keturunan Suku Anak Dalam selanjutnya wajib melestarikan budaya meramu obat-obatan ini secara turun temurun agar tidak hilang ditengah kemajuan jaman.
4.1.5.4 Sarana Transportasi dan Isi Rumah SAD Yang Bermukim Di Lokasi Trans Sosial