KEHIDUPAN SUKU ANAK DALAM DI LOKASI TRANS SOSIAL 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
B. Kendala Pendidikan Bagi Keluarga SAD
4.1.5.2 Sarana Ibadah
Sarana ibadah yang terdapat di daerah Trans Sosial berupa Masjid dan Gereja Pentakosta. Suku Anak Dalam yang mengikuti Trans Sosial sebagian kecil masih mempertahankan kepercayaan mereka dan masih menyembah Dewa – dewa mereka dan masih melakukan upacara – upacara untuk menyembah dewa – dewa tersebut. Namun, ada sebagian dari Suku Anak Dalam yang sudah menganut agama Islam dan Kristen. Salah satu contoh adalah keluarga besar dari Temenggung Tarib sudah memeluk agama Islam. Menurut Temenggung Tarib mengapa memeluk agama islam karena:
“...saya masuk agama Islam karno menantu saya orang melayu. Agamanyo islam. Syarat dio mau nikah dengan anak saya harus masuk islam, jadi keluarga besar Temenggung Tarib memeluk agamo islam..” 13
13.Wawancara dengan Temenggung Tarib, 60 Tahun. Wawancara dilakukan pada bulan Agustus
Hampir semua Suku Anak Dalam yang memeluk agama Islam menikah dengan Masyarakat Terang. Suku Anak Dalam yang memeluk agama Islam belajar megaji dan rajin shalat di mushola yang terdapat di sekitar Lokasi Trans Sosial. Suku Anak Dalam tersebut sangat aktif dalam urusan agama seperti ketika ada pengajian Suku Anak Dalam akan hadir, bukan hanya itu disaat hari raya Idul Fitri Suku Anak Dalam juga ikut merayakan dan shalat Idul Fitri di masjid.
Suku Anak Dalam yang memeluk agama Kristen tepatnya Protestan ada beberapa keluarga. Suku Anak Dalam memeluk agama Kristen karena ada beberpa pemuka agama Kristen tepatnya pemuka agama dari Gereja Betel Indonesia dan Gereja Pantekosta yang datang ke daerah Trans Sosial yang memperkenalkan agama Kristen kepada Suku Anak Dalam. Beberapa dari Suku Anak Dalam tertarik akan memeluk agama Kristen Protestan dan mulai belajar agama dari pemuka agama tersebut. Suku Anak Dalam yang memeluk agama Kristen Protestan Gereja Pentakosta beribadah di gereja Pentakosta Bukit Suban. Sedangkan Suku Anak Dalam yang memeluk agama Kristen Protestan Betel beribadah di Gereja Betel Bukit Suban. Namun, belum banyaknya Suku Anak Dalam memeluk agama yang di sahkan oleh negara. Membuat mereka masih menjalankan ritual – ritual mistis, untuk memanggil dewa maupun untuk melakukan sembahyang atau ritual adat. Suku Anak Dalam lainnya memiliki kepercayaan bahwa Agama di luar Islam adalah Agama Kristen Rimba.
Kristen Rimba tersebut tidak seperti Kristen pada umumnya. Kristen Rimba tidak seperti Kristen yang beribadah di gereja dan melakukan kebaktian, namun
Kristen Rimba tersebut masih menyembah dewa- dewa dan leluhur Suku Anak Dalam serta masih memepercayai adanya arwah nenek moyang yang melindungi mereka. Sebutan Kristen Rimba tersebut hanya untuk membedakan ajaran agama Suku Anak Dalam dengan agama Masyarakat Terang lainnya. Karena Masyarakat Terang kebanyakan menganut agama Islam, dan hanya sedikit sekali yang menganut agama Kristen. Hal itu lah yang membuat Suku Anak Dalam berpikir bahwa agama minoritas itu adalah agama Kristen, sehingga mereka menyebut agama mereka juga Kristen. Untuk membedakan Kristen Suku Anak Dalam dengan masyarakat terang Suku Anak Dalam menembahkan Rimba untuk mempertegas keadaan mereka yang dahulunya berasal dari rimba. Seperti data yang di temukan oleh peneliti di bawah ini jumlah Suku Anak Dalam yang menganut agama.
Tabel 6 Agama yang Dianut Oleh SAD
No Agama Jumlah Persentase (%)
1 Islam 12 34,29
2 Kristen Protestan 6 17,14
3 Kristen Rimba 8 22,86
4 Agama SAD 9 25,71
Total 35 100
Sumber : Data Penelitian Lapangan (kuesioner) Agustus 2012
Suku Anak Dalam yang menganut Agama Islam berjumlah 12 orang dengan persentase 34,29%, Namun dari data yang ditemukan kebanyakan yang memeluk agama Islam adalah keluarga besar Temenggung Tarib. Suku Anak Dalam yang menganut Agama Kristen Protestan berjumlah 6 orang dengan persentase 17,14%, Suku Anak Dalam yang menganut agama Protestan ini dibagi menjadi dua yaitu Suku
Anak Dalam yang memeluk agama Kristen Protestan Betel dan Suku Anak Dalam yang mnenganut agama Kristen Protestan Pentakosta. Berikut hasil wawancara dengan salah satu Suku Anak Dalam yang menganut agama Kristen Protestan.
“… Waktu pertama kali kami mengikuti kebaktian di Pentakosta kami bingung, karna kami melihat semua orang bernyayi, melompat dan menangis sambil berdoa. Namun setelah diterangkan oleh pak Pendeta kami mengerti. Itu rupanya tata cara beribadah orang Pentakosta untuk menyembah Tuhan. Dan kami juga memutuskan untuk memeluk agama tersebut karena tertarik dengan cara beribadah Pentakosta..” 14
Suku Anak Dalam kebanyakan tertarik dengan cara beribadah agama Kristen Protestan tepatnya yang beraliran Kharismatik seperti Betel dan Pentakosta. Di sekitar Lokasi Trans Sosial juga terdapat Gereja – Gereja lainnya seperti HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) dan Gereja Khatolik, namun tidak ada Suku Anak Dalam yang menjadi Jemaat dari salah satu Gereja tersebut. Berikut hasil wawancara dengan Suku Anak Dalam.
“… Memeang banyak gereja – geraja lainnya yang terdapat di sekitar tempat tinggal kami, namun jarak untuk bisa sampai ke gereja tersebut membutuhkan waktu yang lama karena jarak yang ditempuh sangat jauh. Pendeta gereja – gereja tersebut juga tidak ada yang pernah datang ke Lokasi Trans Sosial untuk mengajak kami unutk datang ke gereja mereka..” 15
Suku Anak Dalam yang menganut agama Kristen Rimba berjumlah 8 orang dengan persentase 22,86%, Suku Anak Dalam yang memeluk agama Kristen Rimba
14.Wawancara dengan Ibu Maria, 50 Tahun. Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012, di
Lokasi Trans Sosial.
15. Wawancara dengan Ibu , 50 Tahun. Wawancara dilakukan pada bulan Agustus 2012, di Lokasi
tersebut tidak memiliki tempat ibadah. Mereka juga tidak melakukan kebaktian yang semestinya dilakukan oleh Orang Kristiani setiap hari mingggu di gereja. Kebanyakan dari Suku Anak Dalam yang menganut agama Kristen Rimba masih mempercayai dan meyakini arwah nenek moyang mereka serta masih menyembah dewa – dewa. Sedangkan Suku Anak Dalam yang menganut Agama SAD atau agama nenek moyang mereka berjumlah 9 orang dengan persentase 25,71%. Suku Anak Dalam yang masih menyembah Dewa ini melakukan sembahyang tidak seperti di dalam hutan, mereka cukup sembahyang dengan meletakkan sesajen di pohon – pohon yang besar.