• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETA STRATEGI DJPU TAHUN 2009

Untuk menghindari terjadinya crowding out effect di pasar keuangan domestik,

F. Pending Matters

Disamping sasaran strategis yang tersebut di atas, terdapat beberapa kegiatan yang terkait dengan sasaran tersebut yang hingga akhir tahun 2009 belum sepenuhnya dapat terselesaikan (pending matters) yaitu:

1. Penyusunan Undang-undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri

Sampai dengan akhir tahun 2009, rencana pengajuan dan pembahasan RUU Pinjaman dan Hibah Luar Negeri kepada DPR tidak terlaksana berdasarkan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2005-2009. Selama proses pembahasan tahun 2009, Tim Kerja telah melakukan beberapa perubahan ketentuan/pasal dalam Naskah Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Pembahasan dan perubahan pada RUU tersebut salah satunya adalah perubahan ruang lingkup (skema) dan judul RUU yang semula RUU Pinjaman dan Hibah Luar Negeri menjadi RUU Pinjaman Luar Negeri Pemerintah (PLNP). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa hibah luar negeri cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Mengingat RUU PLNP tidak masuk dalam Prolegnas 2010-2015, maka proses RUU PLNP selanjutnya akan diproses dengan mengikuti ketentuan pada Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2005 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Rancangan Pemerintah dan Rancangan Peraturan Presiden. Persetujuan dan pengesahan RUU PLNP ditargetkan dapat diselesaikan pada tahun 2011.

2. Penyusunan Peraturan Pelaksanaan bagi Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Pinjaman Dalam Negeri

Peraturan perundang-undangan di bidang pinjaman dalam negeri telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan dan Penerusan Pinjaman Dalam Negeri oleh Pemerintah. Dengan ditetapkannya PP tersebut, maka telah tersedia landasan hukum dalam rangka pengadaan pinjaman dalam negeri oleh pemerintah. Namun untuk pengadaan pinjaman dalam negeri masih diperlukan tigaperaturan pelaksanaan, yaitu:

a. Rancangan Peraturan Pelaksanaan tentang Tata Cara Penarikan Pinjaman Dalam Negeri, sedang disusun oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan;

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 90 b. Rancangan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Seleksi Penyedia Pinjaman Dalam Negeri telah disusun oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang dan sedang dalam tahap finalisasi di Sekretariat Jenderal.

c. Rancangan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tatacara Penerusan Pinjaman Dalam Negeri kepada BUMN, BUMD dan Pemerintah Daerah, akan disusun oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang.

3. Pengembangan Instrumen Pembiayaan Syariah

Dengan adanya pengembangan instrumen baru yang berupa Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk, telah diterbitkan 4 jenis instrumen SBSN dengan menggunakan 2 jenis akad yaitu:

a. SBSN seri IFR dengan akad Ijarah sale and lease back b. SBSN seri SR dengan akad Ijarah sale and lease back c. SBSN seri SRI dengan akad Ijarah sale and lease back d. SBSN seri SDHI dengan akad Ijarah Al khadamat

Sedangkan SBSN untuk pembiayaan proyek (project financing) dengan akad

istishna’ atau musyarakah sampai dengan saat ini masih dalam proses finalisasi

desain instrumen, penerbitan fatwa MUI serta penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pembiayaan Proyek/Kegiatan APBN Melalui Penerbitan SBSN.

4. Penggunaan Instrumen Derivatif dalam Pengelolaan Utang

Dalam mengelola utang Pemerintah, diperlukan upaya untuk mengurangi biaya yang cenderung meningkat dan memitigasi risiko yang cukup tinggi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah adalah melakukan penerapan lindung nilai (hedging) dalam rangka meningkatkan kepastian besarnya pembayaran kewajiban utang dan mewujudkan struktur portofolio utang yang optimal. Dalam perspektif pengelolaan risiko secara luas, penerapan hedging dapat dilakukan melalui natural

hedging dan melalui pemanfaatan instrumen derivatif yang tersedia di pasar keuangan.

Sampai dengan akhir tahun 2009, hedging yang telah dilakukan adalah natural

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 91 a. Menerbitkan surat berharga valuta asing atau melakukan pinjaman luar negeri tunai (pinjaman program) dalam mata uang yang sesuai dengan mata uang yang digunakan untuk membayar kewajiban;

b. Melakukan restrukturisasi pinjaman terutama dengan menyederhanakan nilai tukar referensi (untuk utang dalam currency SDR) agar risiko nilai tukar lebih mudah diperhitungkan;

c. Melakukan transaksi debt switch dan cash buyback untuk mengendalikan risiko

refinancing dengan mengurangi tekanan fiscal pada tahun-tahun tertentu.

Sedangkan penggunaan instrumen derivatif dalam rangka hedging belum dilaksanakan, terutama karena masih belum tersedianya peraturan perundang-undangan yang mendukung pelaksanaan transaksi instrumen derivatif. Namun demikian, sejak tahun 2004 hingga 2009, telah dilakukan beberapa kegiatan dalam rangka persiapan implementasi hedging dengan menggunakan instrumen derivatif yaitu:

a. Melakukan kajian terhadap aspek infrastruktur. Dari hasil kajian ini teridentifikasi beberapa kondisi yang perlu dipenuhi/ dipersiapkan sebelum Pemerintah mengimplementasikan transaksi tersebut, diantaranya adalah :

1). Landasan legal dari transaksi dalam rangka menjaga governance dari perspektif kebijakan. Sampai saat ini aturan perundangan yang secara ekplisit memberikan kewenangan pada Menteri Keuangan untuk melakukan pengelolaan utang adalah Pasal 7 ayat (2) huruf l Undang-undang Nomor 1 tahun 2004. Namun bagaimana operasional pengelolaan utang (termasuk pengelolaan portofolio dan risiko) dapat diselenggarakan, dan instrumen kebijakan apa yang dapat digunakan tidak secara eksplisit tersirat dalam perundangan tersebut;

2). Guidelines yang menjadi alat untuk menjaga governance dari perspektif operasional pelaksanaan pengelolaan lindung nilai melalui instrumen derivatif. Aspek governance diperlukan karena berdasarkan masukan dari pelaku pasar maupun perusahaan yang telah menggunakan instrumen derivatif dalam lindung nilai, transaksi hedging dapat dimanfaatkan untuk

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 92 berbagai tujuan/ motivasi yang bisa saling bertolak belakang (spekulasi vs. proteksi).

b. Melakukan penyusunan draft peraturan sebagai landasan hukum penggunaan instrumen derivatif;

c. Menyusun guidelines dan secara paralel mempersiapkan:

1). Formulasi tujuan dan rekomendasi terkait dengan instrumen kontrak yang dapat dilakukan (apakah swap, forward atau option) untuk tujuan yang telah ditentukan;

2). Bisnis proses yang dibutuhkan meliputi formulasi kebijakan, rekomendasi transaksi, approval transaksi, pricing metodologi, analisis pricing, eksekusi, dan monitoring transaksi serta setelmen transaksi termasuk didalamnya level

of authority;

3). Pemilihan dan penunjukkan counterparty hedging, termasuk memahami kapasitas dan posisi masing-masing pelaku;

4). Perlakuan akuntansi dan penganggaran, termasuk perlakuan belanja yang diperlukan dalam transaksi hedging seperti pembayaran premi pada transaksi

option dan mekanisme netting (cash inflow dan cash outflow) pada transaksi swap dan forward.

d. Memperdalam pemahaman mengenai dokumen kontrak baik ISDA maupun Long

Confirmation (dalam hal transaksi bilateral), pricing untuk transaksi dan lain-lain.

Hal ini dilakukan melalui review dokumen ISDA dalam kegiatan workshop dengan narasumber dari konsultan hukum lokal yang memahami dokumen ISDA dan memahami sistem hukum serta peraturan yang berlaku di Indonesia.

5. Penyediaan Gedung Kantor yang Dapat Menampung Seluruh Pegawai dalam Satu Lokasi

Penyediaan gedung kantor yang dapat menampung seluruh pegawai dalam satu lokasi belum dapat tersedia. Lokasi gedung kantor masih terpisah yaitu sebagian pegawai menempati Gedung A.A. Maramis II dan sebagian lagi menempati Gedung Prijadi Praptosuhardio II milik Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Rencana pengadaan gedung yang dapat menampung para pegawai DJPU dalam satu lokasi

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 93 akan segera diusulkan kepada Menteri Keuangan c.q. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan.