• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran strategis merekrut dan mengembangkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi, dengan indikator:

PETA STRATEGI DJPU TAHUN 2009

Untuk menghindari terjadinya crowding out effect di pasar keuangan domestik,

E. Pengukuran Sasaran

11. Sasaran strategis merekrut dan mengembangkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi, dengan indikator:

a. Persentase karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik

Indikator persentase karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik bertujuan untuk menyediakan pejabat yang mempunyai kompetensi sesuai jabatannya dalam rangka meningkatkan dan mengamankan keuangan dan kekayaan negara. Variabel kompetensi jabatan berdasarkan Standar Kompetensi Jabatan (SKJ/Standard kemampuan, keahlian, pengetahuan dan perilaku yang dibutuhkan oleh seorang pejabat untuk dapat melaksanakan tugas jabatannya dengan baik). Sedangkan variabel jabatan tematik adalah jabatan yang sangat berperan dalam pencapaian kinerja yang ditentukan oleh Unit Eselon I. Indikator ini hanya mengukur untuk pejabat eselon IV, mengingat pejabat eselon I, II, dan III diukur oleh Sekretariat Jenderal.

Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target (maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian yang diharapkan.

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 74 1) Pada tahun 2009 indikator % karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik ditargetkan sebesar 65% dengan realisasi sebesar 80%.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mendukung tercapainya indikator % karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik, adalah sebagai berikut:

a) pelaksanaan diklat kompetensi; b) pelaksanaan assesment center.

2) Perkembangan indikator % karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik dalam periode 2007-2008 adalah sebagai berikut:

Tahun 2008, data menggunakan hasil pengukuran tahun 2007, karena periode pelaksanaan assesment dilaksanakan pada tahun 2009, yaitu dua tahun sejak dilakukannya pengukuran di tahun 2007. Sedangkan di tahun 2007, berdasarkan pengukuran dengan SKJ pejabat eselon IV yang memenuhi standar kompetensi terdapat hasil pengukuran sebesar 92% dengan job person

match sebesar 70%.

3) Kendala yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator % karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik adalah pengelompokan jabatan tersebut ke dalam kriteria jabatan tematik. Sampai dengan berakhirnya tahun 2009, pengelompokan jabatan tersebut belum ada penetapannya di lingkungan DJPU, mengingat semua jabatan ternyata terkait dengan pencapaian keberhasilan Indikator Kinerja Utama. Kendala yang terjadi dalam proses penetapan jabatan tematik sudah disampaikan dalam rapat persiapan verifikasi Depkeu-One dengan Pushaka dan unit eselon I di lingkungan Departemen Keuangan pada awal Agustus 2009, dimana disepakati perlu mengkoordinasikan hal tersebut dengan Biro SDM Setjen Departemen Keuangan untuk melihat kembali definisi jabatan tematik. Dalam beberapa kegiatan pelaporan kepada pimpinan, jabatan tematik bagi DJPU diberlakukan untuk semua jabatan struktural.

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 75 Sehingga, pada tahun 2009 pengukuran indikator kinerja ini di DJPU diberlakukan terhadap semua jabatan Eselon IV.

4) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut untuk tahun 2010, sesuai kesepakatan seluruh pejabat pengelola IKU unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan, indikator ini diubah menjadi “persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya”, tidak dikaitkan lagi dengan jabatan tematik. Sehingga diharapkan, proses pengukurannya menjadi lebih sesuai kenyataan.

5) Pencapaian indikator kinerja % karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik, selama periode 2007-2009, dapat tercapai dengan baik, walaupun terdapat hambatan berupa permasalahan pengelompokan jabatan tematik yang belum disepakati oleh pengelola IKU di lingkungan Departemen Keuangan pada tahun tersebut.

b. Jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang

Indikator jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang bertujuan untuk menegakkan kepatuhan terhadap kode etik, menjaga integritas tinggi pegawai, dan peningkatan good governance. Kasus pelanggaran berat/penyalahgunaan wewenang adalah penyimpangan yang dilakukan pegawai berdasarkan Laporan Hasil Audit Inspektorat Jenderal dan Rekomendasi Majelis Kode Etik tiap-tiap unit eselon I.

Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang kurang dari target (minimize), dimana capaian yang makin rendah dari target adalah capaian yang diharapkan.

1) Pada tahun 2009 indikator jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang ditargetkan sebanyak 0 pegawai dengan realisasi sebanyak 1 pegawai terkait kasus pelanggaran terhadap PP Nomor 10 Tahun 1974.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencegah adanya pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang, adalah sebagai berikut:

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 76 a) Menyusun peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan Kode Etik di

Lingkungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang.

b) Melakukan sosialisasi peraturan tentang kode etik serta peraturan lainnya yang menyangkut disiplin pegawai.

2) Perkembangan indikator jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang dalam periode 2007-2008 adalah tidak terdapat pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang.

3) Kendala yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang adalah penyimpangan yang dilakukan pegawai yang mengakibatkan terjadinya kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang sangat sulit diprediksi, karena sangat tergantung kepada perilaku individu masing-masing pegawai.

4) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:

a) Menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor-01/PM.8/2007 tentang Kode Etik di Lingkungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor-02/PM.8/2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor-01/PM.8/2007. Peraturan tersebut dikemas dalam bentuk buku saku dan telah dibagikan kepada seluruh pegawai untuk dipedomani.

b) Melakukan sosialisasi peraturan tentang kode etik serta peraturan lainnya yang menyangkut disiplin pegawai.

c) Melakukan sosialisasi Instruksi Menteri Keuangan Nomor: 01/IMK.01/2009 tanggal 9 Januari 2009 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Penegakan Disiplin PNS di Lingkungan Departemen Keuangan kepada seluruh pegawai.

d) Melakukan monitoring pelaksanaan kode etik.

e) Melakukan pembinaan kepada pegawai terutama yang dilakukan oleh atasan langsung secara lebih intensif.

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2009

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Halaman 77 5) Pencapaian indikator kinerja jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang, selama periode 2007-2009, belum dapat tercapai dengan baik, karena masih terdapat 1 orang pegawai yang dijatuhi hukuman disiplin.

c. Pencapaian sasaran strategis merekrut dan mengembangkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi, dengan indikator % karyawan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kompetensi jabatan tematik dan jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang, selama periode 2007-2009, dapat tercapai dengan baik.

12. Sasaran strategis mengembangkan organisasi yang handal dan modern, dengan