• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peneangearan Modal (Capital Budeetine)

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 43-49)

2. PERTIMBANGAN BIAYA

2.1. Peneangearan Modal (Capital Budeetine)

Sebelum proyek mulai untuk dilaksanakan diperiukan penganggaran modal untuk membiayai pelaksanaan proyek tersebut. Penganggaran modal ( capital budgeting ) menurut J. Fred Weston dan Eugene F. Brigham adalah keseluruhan proses analisis proyek- proyek yang pengembaliannya diharapkan akan berlanjut lebih dari satu tahun dan m enentukan proyek mana yang akan dim asukkan dalam an ggaran m odal.

(Brigham,1991:318), sehingga dapat dikatakan bahwa penganggaran modal meliputi keseluruhan proses perencanaaan pengeluaran uang pada proyek tersebut, dimana hasil pengem baliannya diharapkan terjad i dalam w aktu lebih dari satu tahun.

(Copeland,1991;141)

2.1.1. Pentingnya Penganggaran ModaL

Penganggaran modal sangatlah penting bagi kelanggengan dalam pelaksanaan proyek. Karena penganggaran modal adalah faktor yang sangat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan pada manajemen keuangan proyek. Semua bagian dari proyek yaitu pelaksanaan struktur, pemasaran dan lain-lain, juga sangat terpengaruh oleh keputusan penganggaran modal.(Brigham,1991;318)

2.1.2. M enghimpun Dana (Raising Funds)

Menghimpun dana ( raising fund ) merupakan aspek yang tak kalah pentingnya

dalam penganggaran modal . Untuk pembangunan sebuah proyek maka perusahaan membutuhkan penganggaran m odal, untuk mencukupi dana yang akan dipakai maka perusahaan perlu menghimpun dana terlebih dahulu sehingga keperluan dananya sudah pasti tersedia. Hal tersebut untuk mengurangi kemungkinan keterlambatan / kemacetan proyek karena kekurahgan dana. Penghimpunan dana tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara antara lain ;

1. Dana sudah dimiliki oleh pemilik , dan penggunaannya dapat dilakukan sewaktu - waktu.

2. Dana dihimpun dari penjualan produk perusahaan misalnya ; satuan apartemen dan pusat perbelanjaan.

3. Dana dihimpun dari kredit perbankan, dan kredit tersebut dapat dicairkan sewaktu - waktu.

4. Dana dihimpun melalui pasar m odal, yaitu dengan menjual saham ke pasar m odal, dana tersebut didapat setelah mendapatkan hasil dari penjualan saham tersebut.

5. Dana dihimpun dari penjualan aset perusahaan misalnya ; tanah dsb.

6. Sumber pembiayaan proyek diperoleh dari patungan dengan perusahaan lain 7. Sumber pembiayaan proyek diperoleh dari modal asing.

2.1.3. Timing.

Aspek “ timing"' sangat diperhatikan dalam menghimpun dana pada penganggaran modal. Pada awal dekade 90-an , mencari dana pada pasar modal merupakan sebuah altematif yang menarik untuk menghimpun dana . Banyak perusahaan berskala besar yang menggunakan kesempatan ini untuk meraih dana masyarakat melalui penjualan

saham .

2.1.4. Dampak Penganggaran Modal.

Kegagalan meramalkan secara tepat akan berakibat kelebihan atau kekurangan

dana investasi dalam pembangunan proyek. Ramalan kebutuhan modal yang tidak sesuai akan menimbulkan konsekuensi yang serius pada perusahaan.

Investasi yang terlalu berlebihan dalam pem bangunan proyek ini akan menyebabkan biaya besar yang sebenamya tidak perlu . Bila investasi tersebut kurang dari semestinya maka akan timbul dua permasalahan yaitu ;

Pertama, proyek tersebut akan mengalami beberapa penghematan dana dalam pelaksanaannya sehingga mempunyai dam pak; Proyek mempunyai kualitas yang kurang ( misalnya: kehalusan pengeijaannya, keindahan fmishing-nyz.

tidak cukup modem / mewah ) sehingga kurang dapat bersaing secara kompetitif terhadap para pesaingnya . Sehingga tidak dapat memenlihi apa yang diharapkan oleh konsumen maka proyek tersebut akan kehilangan pangsa pasamya (market share-nya).

Kedua , kemungkinan yang paling buruk adalah teijadi kemacetan proyek karena kekurangan d a n a .

2.2. Aliran Dana (Cash Flow)

Untuk membiayai proyek, sehingga pelaksanaannya lancar maka terdapat aliran dana yang masuk maupun keluar dari proyek tersebut, keberadaan aliran dana ini selalu ada dalam pelaksanaan sebuah proyek. Menurut J. Fred Weston dan Eugene F. Birgham : Aliran dana / arus kas adalah kas bersih aktual yang “ keluar-masuk “ dari dan ke dalam perusahaan. (Brigham, 1994; 46)

2.2.1. Komponen Aliran Dana.

Bila sebuah proyek merupakan ekspansi dari perusahaan induk maka untuk menglundari kesalahan dalam menaksir aliran dana proyek pada proyek tersebut digunakan cara termudah, yaitu kita perlakukan proyek tersebut sebagai suatu proyek yang terpisah

aliran dananya dari kegiatan pemsahaan yang telah ada (Husnan, 1993:165). Dengan demikian, kita tidak perlu menghadapi kemungkinan teijadinya “overlapping" antara aliran dana proyek dengan aliran dana kegiatan pemsahaan lainnya.

Aliran dana yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian .(Husnan, 1993; 165)

1. Aliran dana permulaan ( initial cash flow ).

adalah pengeluaran-pengeluaran untuk investasi pada awal periode untuk biaya - biaya pendahuluan dan sebelum operasi ( misalnya : pembelian lahan ). Untuk proyek-proyek besar, initial cash flow tidak hanya teijadi pada awal periode, tetapi dapat teijadi beberapa kali ( misahya : untuk perluasan proyek).

2. Aliran dana Operasional ( Operasional cash flow ).

adalah aliran dana yang timbul selama operasi proyek. Aliran dana masuk dan keluar tersebut yangdigunakan untuk pengoperasian proyek. Padapenulisan skripsi ini, oleh penulis banyakdigunakan operational cash flow untuk pembahasan studi kasusnya.

3. Aliran dana terminal ( terminal cash flow ) .

adalah aliran dana yang di peroleh pada waktu proyek tersebut berakhir. Terminal cash flow umumnya terdiri dari cash flow nilai sisa (residu) investasi dan pengembalian modal keija.

2.2.2. Macam AHran Dana.

Aliran dana untuk pelaksanaan proyek bila dipandang dari kacamata pemilik akan terdapat dua macam yaitu aliran penerimaan dan aliran pengeluaran.

a. Aliran penerimaan dana.

Aliran penerimaan dana pada sebuah proyek bersumber dari dana yang telah dihimpun, a.i. dari :

1. Penjualan saham

2. Hasil penjualan strata title apartemen . 3. lain-lain.

b. Aliran pengeluaran dana.

Aliran pengeluaran dana pada proyek strata title apartemen dapat dibedakan menjadi dua kemungkinan yaitu :

> Proyek dikerjakan sendiri oleh pemilik (melalui kontraktor selaku perusahaan afiliasi). Aliran pengeluaran dana dilakukan tiap minggu (mencakup pengeluaran dana untuk u p ah , material d ll). Bila proyek dikeijakan sendiri maka biaya penalti tidak dikenakan bila proyek mengalami keterlambatan penjadwalan.

> Proyek dikeijakan oleh kontraktor dari pihak lain . Aliran pengeluaran dana dilakukan tiap termyn pembayaran . Bila proyek dikeijakan oleh pihak lain maka biaya penalti dikenakan 1 permil dari harga kontrak jika proyek mengalami keterlambatan penjadwalan.

Sistem pembayaran termyn diambil sesuai dengan yang tercantum pada KEPPRES 14A/

18/29, sebagai berikut

Tabel 3 - Pembayaran Dengan Sistim Termyn Yang Tercantum Dalam KEPPRES 14A/18/29

Prestasi Kemajuan Tahap Pembayaran/

Sumber: Dikutip dari Manajemen Proyek Kojistruksi

,

Panins Nugraha, Ishak Natan, R. Sutjipto, (Vol. 2 ; Surabaya: Kartika Yiidha, 1985) , hal. 108.

2.2.3. Kurva - S Pada Aliran Dana.

Aliran dana dapat diwujudkan dalam grafik, sebagai sumbu horisontalnya adalah skala waktu sedangkan sumbu vertikalnya adalah skala biaya (rupiah). Bentuk kurva tersebut seperti huruf S , karena pada umumnya proyek mulai dengan lambat (artinya jumlah aktivitasnya masih sedikit) , kemudian makin cepat , dan pada akhir proyek melambat lagi (jumlah aktivitasnya meqadi sedikit lagi), kalau digambar secara kumulatif maka jadilah huruf S tersebut , sehingga kurva tersebut dinamakan kurva - S.

(Nugraha, 1985; 104)

Pada penulisan skripsi in i, terdapat dua kemungkinan yaitu ; a. Kurva - S aliran dana bila proyek dikeijakan sendiri

Gambar 2 - Kurva - S Aliran Dana Bila Proyek Dikeijakan oleh Pemilik Melalui Perusahaan Kontraktor Afiliasinya.^

Suntber : Diadaptasi dan Manajemen Proyek Konstruksi, Paulus Nugraha , Ishak Natan, K Sutjipto, ( Vol. 2 ; Surabaya : Kartika Yudha, 1985) , hal. 104.

b. Kurva - S aliran dana bila proyek dikeijakan oleh kontraktor pihak lain.

Gambar 3 - Kurva - S aliran dana bila proyek dikeijakan oleh owner melalui perusahaan kontraktor pihak lain.

Sumber : Diadaptasi dari Manajemen Proyek Konstruksi, Paulus Nugraha , Ishak Natan, R. Sutjipto, (Vol. 2 ; Surabaya: Kartika Yudha, 1985) , hal 104.

Pada gambar 2 dan gambar 3 dapat dilihat bahwa perbedaan kedua kurva - S terdapat pada kurva aliran dana pengeluarannya. Pada gambar 2 dapat dilihat kurva - S aliran pengeluarannya mulus ( smooth ) karena dana dikeluarkan setiap minggu untuk pembiayaan proyek bila proyek dikeijakan sendiri, sedangkan pada gambar 3 dapat dilihat kurva - S aliran pengeluarannya berbentuk anak tangga sesuai dengan aliran dana yang dikeluarkan setiap termyn pembayaran bila proyek dikeijakan oleh pihak kontraktor lain .

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 43-49)

Dokumen terkait