VIII Pertumbuhan
6 Pendapatan/Bulan
6.1. Analisis Lingkungan Internal Perusahaan
6.1.5. Penelitian dan Pengembangan
mudah dalam menanganinya dan lebih transparan sehingga dapat meminimalisasi adanya kecurangan yang dapat menyebabkan kerugian.
Dalam pengamatan dan wawancara dengan pihak manajemen Restoran Pondok Sekararum, penulis dapat mengamati perkembangan dari restoran berdasarkan pencatatan penjualan bulanan yang menunjukkan adanya peningkatan. Menurut wawancara dengan manajemen restoran, uang hasil peningkatan dari keuntungan perusahaan akan disimpan sebagai dana pengembangan yang bertujuan untuk selalu mengembangkan perusahaan.
6.1.5. Penelitian dan Pengembangan
Walaupun belum adanya bagian khusus untuk penelitian dan pengembangan, Restoran Pondok Sekararum telah sedikit mengamati perilaku konsumen yang sedikit berkunjung terutama pada hari Selasa. Hal inilah yang menjadi alasan untuk menjadikan hari selasa sebagai hari libur perusahaan. Adanya penelitian skripsi yang dilakukan mahasiswa mengenai perilaku konsumen dan pengembangan usaha diharapkan dapat membantu perusahaan untuk selalu berkembang dan berinovasi dalam menghadapi industri restoran yang semakin bersaing.
Adapula beberapa pengembangan yang dilakukan oleh pemilik adalah dengan membuat satu pondok baru diatas kolam ikan yang dapat diisi oleh 25 orang konsumen. Selain itu pihak manajemen Restoran Pondok Sekararum membuat menu paket sebagai upaya inovasi terhadap produk sehingga konsumen dapat lebih memiliki berbagai pilihan produk. Upaya pengembangan lainnya adalah dengan membeli sebuah komputer dan sebuah printer receipt sebagai sarana pengaturan keuangan. Pengembangan sistem akuntansi perusahaan dari hanya menggunakan sistem manual berubah menjadi komputerisasi. Hal ini membuat laporan keuangan menjadi lebih teratur dan transparan. Selain itu, didukung pula oleh adanya dana alokasi yang digunakan sebagai sarana pengembangan perusahaan, membuat upaya pengembangan perusahaan menjadi lebih mudah untuk dilakukan.
68 6.1.6. Identifikasi Faktor Kekuatan dan Kelemahan Perusahaan
Tabel 12. Faktor-Faktor Lingkungan Internal
Kekuatan Kelemahan
jaringan pemilik restoran yang luas Kurangnya kegiatan promosi Adanya hubungan yang baik antara pengelola
usaha dengan karyawan
Lokasi usaha yang kurang strategis
Restoran adalah pionir makanan khas Jawa Timur dengan bumbu dan cita rasa asli
Lahan parkir yang sempit
Memiliki modal yang kuat dan milik pribadi Kurangnya variasi dalam menu Melayani fasilitas pesan antar Kurangnya fasilitas toilet Menggunakan bahan baku sayuran yang
69 6.2. Analisis Lingkungan Eksternal Perusahaan
Analisis Lingkungan eksternal menekankan pada mengenali dan mengevaluasi kecenderungan dan peristiwa yang berada di luar kendali perusahaan. Tujuan dari analisis lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat yang dapat dimanfaatkan perusahaan dan ancaman yang dapat dihindari. Faktor-faktor lingkungan eksternal dapat dibagi menjadi lima kategori besar, yaitu (1) Faktor ekonomi, (2) Faktor sosial, budaya, demografi, dan lingkungan, (3) Faktor politik, pemerintah, dan hukum, (4) Faktor teknologi, dan (5) Lingkungan Industri.
6.2.1. Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu daerah atau negara dapat mempengaruhi iklim bisnis suatu perusahaan. Semakin buruk kondisi ekonomi, semakin buruk pula iklim berbisnis. Dalam perencanaan strategiknya, setiap perusahaan harus mempertimbangkan kecenderungan ekonomi di antara segmen-segmen yang mempengaruhi industri tersebut. Sebab faktor ekonomi dapat membantu atau menghambat upaya mencapai tujuan dan menyebabkan keberhasilan atau kegagalan suatu strategi. Faktor ekonomi yang mempengaruhi usaha Restoran Pondok Sekararum adalah sebagai berikut :
1. Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan indikator utama di dalam perekonomian untuk mengukur pertumbuhan tingkat ekonomi suatu negara. PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu. Perekonomian Indonesia berdasarkan ukuran PDB pada tahun 2009 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. PDB riil atas dasar harga konstan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 1,964,327.30 miliar, sedangkan pada tahun 2008
70 PDB Indonesia meningkat menjadi sebesar Rp 2,082,315.90 miliar, dan pada tahun 2009 PDB juga mengalami peningkatan mencapai sebesar Rp 2.176.975,50 miliar. Nilai PDB nominal atas dasar harga berlaku juga terus mengalami peningkatan dari tahun 2007 hingga tahun 2009. Pada tahun 2007 PDB nominal atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp 3.950.893,20 miliar kemudian menjadi Rp 4.951.356,70 pada tahun 2008 serta semakin meningkat mencapai Rp 5.613.441,70 pada tahun 20091. Salah satu indikator perkembangan ekonomi suatu daerah adalah laju pertumbuhan ekonomi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB Kabupaten Bogor atas dasar harga konstan mengalami peningkatan 5,02 persen dari Rp 10.518.939,33 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 11.047.320,64 juta pada tahun 2008. Industri restoran pada laju pertumbuhan PDRB kabupaten Bogor pada tahun 2007 menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu dari sebesar 12,05 persen menjadi 12,53 persen (BPS Kabupaten Bogor, 2008). Keadaan perekonomian Kabupaten dan Kota Bogor yang semakin membaik merupakan peluang bagi usaha Restoran Pondok Sekararum untuk mengembangkan usahanya.
2. Laju Inflasi
Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kestabilan inflasi inilah yang merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan sehingga pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang
1
71 dikonsumsi masyarakat. Perkembangan laju inflasi Indonesia pada Tahun 2004-2009 berdasarkan IHK dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini.
Tabel 13. Inflasi di Indonesia pada Tahun 2005-2009
Tahun Inflasi (%) Laju Pertumbuhan (%)
2005 17,11 -
2006 6,60 -61,43
2007 6,59 -0,15
2008 11,09 68,44
2009 2,78 -74,93
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Pada Tahun 2008, kondisi perekonomian memburuk dengan tingkat inflasi mencapai double digit inflation sebesar 68,44 persen pada Tahun 2008. Namun pada Tahun 2009, tingkat inflasi mengalami penurunan yang tajam mencapai 74,93 persen seperti yang dapat dilihat pada Tabel 11 masih terasa dampaknya hingga saat ini. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa pada Tahun 2009, inflasi mengalami penurunan menjadi 2,78 persen yang mengindikasikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia membaik dibandingkan pada Tahun 2008 yang mengalami tingkat inflasi sangat tinggi sebesar 11,09 persen. Dampak yang dirasakan dengan adanya penurunan inflasi tersebut adalah daya beli masyarakat yang meningkat akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang dimakanai jumlah barang dan jasa yang terserap dalam perekonomian lebih besar. Selain itu, penurunan tingkat inflasi berpengaruh terhadap suku bunga yang juga menurun. Tingkat suku bunga yang menurun merupakan peluang bagi perusahaan untuk mengajukan pinjaman pada bank.
Selain itu Dewan Gubernur Bank Indonesia meyakini bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 tekanan inflasi masih tetap rendah dan berkisar pada nilai di bawah lima persen. Tekanan inflasi yang diharapkan tetap stabil dan rendah berkisar dibawah lima persen sementara dapat dilihat dari Gambar 6, yaitu grafik time series yang bersumber dari Bank Indonesia seperti berikut.
72 Gambar 8. Tingkat Inflasi Indonesia Juni 2009 – Februari 2010
Sumber: Bank Indonesia, 2010
Tekanan inflasi pada tahun 2010 yang diharapkan stabil dan berkisar dibawah lima persen tersebut dapat membuat daya beli konsumen meningkat, sehingga menjadi peluang bagi Restoran Pondok Sekararum untuk dapat terus mengembangkan usahanya. Penurunan tingkat inflasi dan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Bogor yang meningkat menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia positif. Pertumbuhan ekonomi yang positif merupakan peluang bagi Restoran Pondok Sekararum. Meningkatnya daya beli masyarakat merupakan salah satu bukti membaiknya perekonomian Indonesia. Produk yang dihasilkan dapat diserap oleh konsumen karena daya beli masyarakat yang cenderung meningkat.