• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dibatasi dalam upaya pengendalian pencemaran limbah cair industri karet remah (crumb rubber) yang merupakan salah satu industri yang cukup besar di Kota

Jambi dan yang paling banyak mengkonsumsi air Sungai Batanghari untuk aktivitas

produksinya serta letaknya yang berada di sepanjang Sungai Batanghari. Di samping

itu dalam pembuangan limbah cairnya, industri karet remah (crumb rubber) selama ini

masih belum memenuhi baku mutu yang ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ekosistem Perairan

Perairan sungai adalah suatu perairan yang didalamnya dicirikan dengan adanya aliran air yang cukup kuat sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir (perairan lotik) (Goldman dan Horne, 1983). Dalam perairan ini yang memegang peranan penting dan menjadi ciri khasnya adalah aliran air yang menuju satu jurusan dan penambahan air baru dari suatu jurusan yang lebih tinggi tempatnya. Kecepatan arus merupakan faktor yang sangat penting dan mempengaruhi kehidupan organisme yang ada serta daya pulih diri (self purification) dari sungai tersebut (Koessoebiono, 1979).

Menurut Mason (1981), berdasarkan kecepatan arusnya, sungai dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Berarus sangat cepat (> 100 cm/detik) 2. Berarus cepat (50 – 100 cm/detik) 3. Berarus sedang (25 – 50 cm/detik) 4. Berarus lambat (10 – 25 cm/detik) 5. Berarus sangat lambat (< 10 cm/detik)

Klasifikasi sungai yang lebih mengarah pada masalah lingkungan menurut Suwigyo (1993) adalah klasifikasi yang didasarkan pada topografi dan aktivitas usaha yang ada di daerah aliran sungainya. Dengan topografi diartikan adanya perbedaan elevasi (dataran tinggi dan dataran rendah), sedangkan dengan aktivitas usaha diartikan adanya kegiatan perhutanan, perkebunan, pertanian, pemukiman, perindustrian, dan sebagainya. Dengan penggabungan pengertian kedua faktor lingkungan tersebut, maka klasifikasi sungai sebagai daerah hulu dan hilir sungai akan terpadukan dengan kualitas air perairannya sesuai dengan beban masukkannya. Sungai bagian hulu adalah bagian sungai yang terletak di dataran tinggi dan merupakan daerah terjadinya erosi. Sedangkan sungai bagian hilir adalah bagian sungai yang terletak di dataran rendah dan merupakan daerah terjadinya pengendapan. Daerah yang terletak diantara bagian hulu dan hilir sungai disebut sebagai bagian tengah

sungai, karena tidak ada batas yang jelas antara kedua bagian tersebut. Sehubungan dengan sifat perairan sungai yang merupakan sistem terbuka, maka peristiwa lingkungan di sekitarnya akan mempengaruhi keadaan perairannya.

2.2. Pencemaran

Pencemaran atau polusi terjadi bila dalam lingkungan hidup manusia (baik fisik, biologis maupun sosial) terdapat suatu bahan pencemar (polutan), yang ditimbulkan oleh proses aktivitas manusia yang berakibat merugikan terhadap kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung (Sutrisno et al. 1991). Sedangkan menurut Saeni (1989), pencemaran adalah peristiwa adanya penambahan bermacam-macam bahan sebagai hasil dari aktivitas manusia ke dalam kingkungan yang biasanya dapat memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap lingkungannya.

Pencemaran juga terjadi apabila ada gangguan terhadap daur suatu zat, yaitu laju produksi suatu zat melebihi laju penggunaan zat, sehingga terjadi pembuangan (Soemarwoto, 1992). Odum (1971) mendefinisikan pencemaran apabila terjadi perubahan fisik, kimia dan biologi yang tidak dikehendaki terhadap air, tanah dan udara. Dengan demikian apabila dilihat dari media yang dicemari, maka pencemaran dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu: pencemaran air, tanah dan udara (Darmono, 2001; Kristanto, 2004).

2.3. Pencemaran Air

2.3.1. Definisi Pencemaran Air

Air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui, tetapi air akan dapat dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia. Air banyak digunakan oleh manusia untuk tujuan yang bermacam-macam sehingga dengan mudah dapat tercemar. Menurut tujuan penggunaannya, kriterianya berbeda-beda. Air yang sangat kotor utnuk diminum mungkin cukup bersih untuk mencuci, untuk pembangkit tenaga listrik, untuk pendingin mesin dan

sebagainya. Air yang terlalu kotor untuk berenang ternyata cukup baik untuk bersampan maupun memancing ikan dan sebagainya. Pencemaran air dapat merupakan masalah regional maupun lingkungan global, dan sangat berhubungan dengan pencemaran udara serta penggunaan lahan tanah atau daratan. Pada saat udara yang tercemar jatuh ke bumi bersama air hujan, maka air tersebut sudah tercemar (Darmono, 2001).

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001, pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya (Anonimous, 2001). Berdasarkan pengertian ini, masalah pencemaran air terkait dengan tiga hal penting, yaitu: (1) unsur yang masuk atau dimasukkan ke dalam air, (2) kualitas dan penurunan kualitas air, serta (3) peruntukkan air.

Sedangkan menurut Kristanto (2004), pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Harsanto (1995), mengatakan bahwa air dikatakan tercemar jika mengalami hal-hal berikut :

a. Air mengandung zat, energi dan atau komonen lain yang dapat merubah

fungsi air sesuai peruntukkannya, atau disebut parameter pencemaran.

b. Kandungan parameter pencemaran di dalam air telah melampaui batas

toleransi tertentu atau disebut baku mutu hingga menimbulkan gangguan terhadap pemanfaatannya. Dengan kata lain air tidak sesuai dengan peruntukkannya.

2.3.2. Pencemaran Air Sungai

Hampir setiap hari sungai di seluruh dunia menerima sejumlah besar aliran sediment baik secara alamiah, buangan industri, buangan limbah rumah tangga, aliran air permukaan, daerah urban dan pertanian. Terkadang sebuah sungai mengalami pencemaran yang berat sehingga air mengandung bahan pencemar yang sangat besar (Darmono, 2001; Mahida, 1986). Perairan sungai

apabila menerima bahan-bahan asing dari luar dapat menyebabkan berubahnya kualitas air, sehingga hidrobiota yang hidup didalamnya mengalami gangguan, maka sungai tersebut dikatakan tercemar.

Tiga penyebab utama tercemarnya suatu badan air (Environmental Agency, 1962), yaitu:

a. Peningkatan konsumsi atau penggunaan air sehubungan dengan

peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat, dengan konsekuensi meningkatnya air limbah yang mengandung berbagai senyawa atau materi tertentu.

b. Terjadinya pemusatan penduduk dan industri diikuti dengan peningkatan

buangan yang tertampung di perairan sehingga daya pemulihan diri perairan itu terlampaui. Akibatnya perairan menjadi tercemar dengan tingkat yang semakin berat.

c. Kurangnya atau rendahnya investasi sosial ekonomi budaya untuk

memperbaiki lingkungan, seperti investasi untuk system sanitasi dan perlakuan lainnya.

Pada sungai yang besar dengan arus air yang deras, sejumlah kecil bahan pencemar akan mengalami pengenceran sehingga tingkat pencemaran menjadi sangat rendah. Hal tersebut menyebabkan konsumsi oksigen terlarut yang diperlukan oleh kehidupan air dan biodegradasi akan cepat diperbarui. Tetapi, proses pengenceran, degradasi dan nondegradasi pada arus sungai yang lambat tidak dapat menghilangkan polusi limbah oleh proses penjernihan alamiah. Hal ini juga mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut. Proses biodegradari tidak efektif untuk mengurangi degradasi polutan atau nonbiodegradasi polutan dari beberapa bahan kimia (DDT, PCB, beberapa bahan isotop radioaktif, dan komponen merkuri), akibatnya kandungan bahan polutan menjadi berlipat ganda dalam jaringan biologi (magnifikasi biologi) jika bahan tersebut memasuki rantai makan (Darmono, 2001).

Menurut Manan (1997), masalah kualitas air sungai terutama disebabkan oleh kandungan sedimen dalam air sungai akibat terjadinya erosi pada bagian DAS, terutama dibagian hulu. Di Indonesia banyak sungai yang telah mencapai taraf pencemaran yang merugikan, khususnya sungai-sungai

yang alirannya melalui daerah perkotaan (daerah padat penduduk) dan wilayah perindustrian (Saeni, 1989). Penurunan kualitas air terutama disebabkan oleh limbah domestik, limbah industri, kegiatan pertambangan dan limbah pertanian.

2.4. Indikator Pencemaran Air

Sungai dinyatakan tercemar apabila sifat fisik, kimia dan biologinya mengalami perubahan. Menurut Wardhana (2001), indikator atau tanda bahwa air telah tercemar adalah: (1) perubahan suhu air; (2) perubahan pH atau konsentrasi ion hydrogen, (3) perubahan warna, bau dan rasa air; (4) timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut; (5) adanya mikroorganisme; (6) meningkatnya radioktivitas air.

2.4.1. Perubahan Suhu Air

Kegiatan industri adalah proses disertai dengan timbulnya panas reaksi atau panas dari suatu gerakan mesin. Agar proses industri dan mesin-mesin yang menunjang kegiatan tersebut dapat berjalan baik maka panas yang terjadi harus dihilangkan dengan proses pendinginan air. Apabila air yang panas hasil proses pendinginan dibuang ke sungai maka air sungai akan menjadi panas. Hal ini akan mengganggu kehidupan hewan air dan organisme air lainnya, karena kadar oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Kenaikan suhu air menyebabkan menurunnya oksigen terlarut dalam air.

2.4.2. Perubahan pH atau Konsentrasi Ion Hidrogen

Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH kisaran antara 6,5 – 7,5. Air dapat bersifat asam atau basa, tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion hidrogen di dalam air. Air limbah dan bahan buangan kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH air yang akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air.

2.4.3. Perubahan Warna, Bau dan Rasa Air

Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri mengandung bahan organik dan anorganik yang dapat larut dalam air, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan warna pada air.

Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah dari kegiatan industri, atau dapat pula berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup di dalam air. Bahan buangan industri yang bersifat organik dan air limbah dari kegiatan industri pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung. Mikroba di dalam air akan mengubah bahan buangan organik terutama gugus protein, secara degradasi menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau. Timbulnya bau akibat proses penguraian bahan organik yang dilakukan oleh mikroba. Bau pada air dapat dipakai sebagai salah satu indikator terjadinya tingkat pencemaran air yang cukup tinggi.

Apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut) maka hal itu berarti telah terjadi pelarutan sejenis garam-garaman. Air yang mempunyai rasa biasanya berasal dari garam-garam yang terlarut. Bila hal ini terjadi maka berarti juga telah ada pelarutan ion-ion logam yang dapat mengubah konsentrasi ion hidrogen dalam air.

2.4.4. Timbulnya Endapan, Koloid dan Bahan Terlarut.

Endapan dan koloid serta bahan terlarut berasal dari adanya bahan buangan industri yang berbentuk padat. Bahan buangan industri yang berbentuk padat kalau tidak dapat larut sempurna akan mengendap di dasar sungai dan yang dapat larut sebagian akan menjadi koloid. Endapan sebelum sampai ke dasar sungai akan melayang di dalam air bersama-sama dengan koloid. Endapan dan koloid yang melayang di dalam air akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan proses fotosintesis, akibatnya kehidupan mikroorganisme jadi terganggu.

2.4.5. Mikroorganisme

Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan yang berasal dari kegiatan industri yang dibuang ke perairan, baik sungai, danau maupun laut. Bila bahan-bahan pencemar berada dalam jumlah yang banyak berarti mikroorganisme akan ikut berkembang biak. Pada perkembangbiakan mikroorganisme tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembang pula. Pada umumnya industri pengolahan bahan makanan berpotensi untuk menyebabkan berkembangbiaknya mikroorganisme, termasuk mikroba patogen.

Parameter mikrobiologi, seperti bakteri Eschericia coli (E.coli),

termasuk parameter baku mutu air. Keberadaan E.coli dalam perairan

menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran akibat tinja manusia. Sebagai salah satu species bakteri Eschericiae, E. coli tergolong enterobacteriaceae, berbentuk batang dengan diameter 0,5 μ dan panjang 1 – 3 μ, serta tumbuh optimal dalam suasana aerob dan anaerob pada suhu 37 oC atau 15 oC – 45 oC

dengan pH 7. Dalam saluran pencernaan, E. coli berkembang biak dan

mengalami proses alamiah seperti mutasi dari tidak patogen menjadi patogen

atau sebaliknya. Salah satu faktor virulensi penting E. coli, berupa

Enterotoxigenic E. coli (ETEC) adalah kemampuan merangsang sel-sel mukosa usus untuk mengekskresikan air dan garam-garam elektrolit secara berlebihan sehingga menyebabkan diare dan dehidrasi (Hasutji, 1995).

2.4.6. Meningkatnya Radioaktivitas Air

Aplikasi teknologi nuklir antara lain dapat dijumpai pada bidang kedokteran, farmasi, biologi, pertanian, hidrologi, pertambangan, industri dan lain-lain. Mengingat bahwa zat radiokatif dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik melalui efek langsung maupun efek tertunda, maka tidak dibenarkan dan sangat tidak etis bila ada yang membuang bahan sisa (limbah) radioaktif, diantaranya adalah Peraturan Pemerintah RI nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 416/Per/MENKES/IX/1990 tentang Pengawasan dan Persyaratan Kualitas Air Bersih.

2.5. Sumber dan Komposisi Air Limbah 2.5.1. Sumber Air Limbah

Pengertian air limbah (wastewater) menurut Salvato dalam Sugiarto

(1987) adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya. Air limbah berdasarkan sumbernya dapat berasal dari rumah tangga dan industri (Metcalf dan Eddy, 1979).

2.5.1.1. Air Limbah Rumah Tangga

Air limbah rumah tangga adalah air yang telah dipergunakan, berasal dari rumah tangga atau pemukiman termasuk didalamnya adalah yang berasal dari kamar mandi, tempat cuci, WC serta tempat memasak dan lain-lain, yang mungkin mengandung mikroorganisme pathogen dalam jumlah kecil serta dapat membahayakan kesehatan manusia (Kusnoputranto, 1997). Sedangkan menurut Sugiharto (1987) air limbah rumah tangga berasal dari perumahan, perdagangan, perkantoran, serta daerah fasilitas rekreasi.

Hasil penelitian Feachem (1981) dalam Kusnoputranto (1997), tentang kandungan bakteri menunjukkan bahwa air limbah rumah tangga terkontaminasi oleh tinja manusia. Disebutkan bahwa 38% dari streptococcus fecal yang diisolasi adalah enterococcus (Streptococcus faecalis, S.faecium

dan S.durans). Sebagian besar enterococcus pada air mandi adalah S. faecalis var liquifaciens. Streptococcus bovis merupakan hasil isolasi 22% dari seluruh streptococcus.

Komposisi air limbah rumah tangga yang berasal dari pemukiman terdiri dari tinja, air kemih, dan buangan air limbah lain seperti kamar mandi, dapur, cucian yang kurang lebih mengandung 99,9% air dan 0,1% zat padat.

2.5.1.2. Air Limbah Industri (Pabrik)

Limbah air bersumber dari industri (pabrik) yang biasanya banyak menggunakan air dalam proses produksinya. Di samping itu ada pula bahan baku yang mengandung air, sehingga dalam proses pengolahannya air tersebut harus dibuang. Air ikutan dalam proses pengolahan kemudian dibuang,

misalnya ketika digunakan untuk mencuci suatu bahan sebelum diproses lanjut, pada air tersebut ditambahkan bahan kimia tertentu, kemudian diproses dan setelah itu dibuang. Semua jenis perlakuan ini mengakibatkan adanya air buangan. Pada beberapa jenis industri tertentu, misalnya industri pengolahan kawat seng, besi-baja, sebagian besar air digunakan untuk pendinginan mesin ataupun dapur pengecoran. Air dipompa dari sumbernya, kemudian dilewatkan pada bagian-bagian yang membutuhkan pendinginan, untuk selanjutnya dibuang. Oleh karena itu pada saluran pembuangan pabrik tersebut terlihat air mengalir dalam volume yang cukup besar.

Air limbah dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel, baik yang larut maupun yang mengendap. Bahan ini ada yang kasar dan ada yang halus. Kerapkali air buangan pabrik berwarna keruh dan bersuhu tinggi. Air limbah yang telah tercemar mempunyai ciri yang dapat diidentifikasikan secara visual dari kekeruhan, warna, rasa, bau yang ditimbulkan dan indikasi lainnya. Sedangkan identifikasi secara laboratorium ditandai dengan perubahan sifat kimia air (Kristanto, 2004). Jenis industri yang menghasilkan limbah cair di antaranya adalah industri tapioka, pupl dan rayon, pengolahan crumb rubber, besi dan baja, kertas, minyak goreng, tekstil, elektroplating, plywood, monosodium diutamat dan lain-lain.

2.5.2. Komposisi Air Limbah

Menurut Kodrat (1982), bahan pencemar yang terkandung dalam air limbah sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis sumber penghasil limbah, yang dibedakan menjadi tiga yaitu sifat fisik, kimia dan biologi. Bahan pencemar yang terdapat dalam air limbah dapat berupa bahan terapung, padatan tersuspensi atau padatan terlarut. Selain itu air limbah juga dapat mengandung mikroorganisme seperti virus, bakteri, protozoa dan lain-lain. Komposisi air limbah sangat bervariasi tergantung pada tempat, sumber dan waktu, secara garis besar, zat-zat yang terdapat di dalam air limbah dapat dikelompokkan seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Komposisi Air Limbah (Tebbutt, 1977)

2.6. Limbah Organik

Beribu-ribu bahan organik, baik bahan alami maupun sintetis, masuk ke dalam badan air sebagai hasil dari aktivitas manusia. Penyusun utama bahan organik biasanya berupa polisakarida (karbohidrat), polipeptida (protein), lemak (fats), dan asam nukleat (nukleid acid) (Dugan, 1972 dalam Effendi, 2003). Setiap bahan organik memiliki karakteristik fisik, kimia, dan toksisitas yang berbeda. Namun, pemantauan setiap jenis bahan organik merupakan suatu hal yang sulit dilakukan. Salah satu contoh komposisi dan persentase komponen penyusun limbah bahan organik ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Limbah Organik

Jenis Bahan Organik Persentase (%)

1. Lemak

2. Protein

3. Abu

4. Asam Amino, kanji (starch) 5. Lignin 6. Selulosa 7. Hemiselulosa 8. Alkohol 30 25 21 8 6 4 3 3 Sumber : Higgins dan Burns, 1975 dalam Abel 1989.

Air Limbah Anorganik (30%) Organik (70%) Air (99,9%) Bahan Padatan (0,1%) Protein (65%) Karbohidrat (25%) Lemak (10%) Butiran Garam Metal

Secara normal bahan organik tersusun oleh unsur C, H, O, dan dalam beberapa hal mengandung N, S, P, dan Fe. Struktur dan sifat-sifat senyawa organik memiliki kisaran yang sangat luas. Masalah pencemaran bahan organik naik pesat sejak berkembangnya metode sintesis zat-zat organik dan dengan dipergunakannya berbagai zat organik untuk industri, obat-obatan, pertanian, makanan dan lain-lain (Saeni, 1989).

Senyawa-senyawa organik umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis atau kimia menjadi senyawa stabil, antara lain CO2, NO2, H2O. Untuk menyatakan kandungan zat-zat organik dilakukan dengan pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menstabilkan.

2.7. Kualitas Perairan

Kualitas perairan secara luas dapat diartikan sebagai faktor fisik, kimia dan biologi yang mempengaruhi kehidupan ikan dan organisme perairan baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk menjaga kualitas perairan perlu penetapan baku mutu pada perairan tersebut. Baku mutu air adalah keadaan ideal yang ingin dicapai atau keadaan maksimum yang boleh ditoleransi sesuai dengan peruntukkannya. Menurut Sugiharto (1995), parameter kimia baku mutu air dikategorikan dalam pengaruh senyawa kimia terlarut terhadap :

a. Sifat fisik air, seperti DHL (Daya Hantar Listrik), TSS (Total Suspended Solids), dan TDS (Total Dissolved Solids);

b. Karakter perairan, seperti pH, DO (Oxigen Demand), BOD (Biological

Oxigen Demand), dan COD (Chemical Oxigen Demand) c. Ion-ion logam, seperti Ba, Fe, Mn, Cu, Zn, Cr, Cd, dan Hg. d. Ion-ion bukan logam, seperti F-, S2-, SO42-, Cl-, NO3 dan N02.

e. Senyawa-senyawa organik, seperti fenol, minyak, karbon kloroform, PCB

(Polychlorinated Biphenyls), dan detergen.

f. Pestisida, DDT (Dichlorodiphenyltrichloroetane), Eldrin, Aldrin, Lindan, dan Heptaklor.

g. Parameter bakteriologi , seperti bakteri Eschericia coli atau E. coli, termasuk parameter baku mutu air.

Menurut Wardoyo (1991), perairan yang ideal adalah perairan yang memiliki keseimbangan fisik, kimia dan biologi yang diperlukan bagi kehidupan ikan dan organisme air lainnya dalam rangka menyelesaikan daur hidupnya.

2.7.1. Parameter Fisik – Kimia Perairan 2.7.1.1. Suhu Air

Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan yang vital yaitu proses metabolisme bagi organisme di perairan. Suhu air suatu perairan sungai berpengaruh terhadap kelarutan oksigen, komposisi substrat, luas permukaan perairan yang langsung mendapat sinar matahari, kekeruhan dan kecepatan reaksi kimia. Selain itu juga suhu air suatu perairan dipengaruhi oleh komposisi substrat, kekeruhan, suhu air tanah dan air hujan, pertukaran panas antara udara dan air permukaan serta suhu air limpahan (Perkins, 1974).

Suhu air di perairan yang mengalir lebih cepat berubah dibandingkan dengan suhu air pada air yang tergenang. Musim juga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya suhu perairan. Pada musim hujan, suhu di bagian hulu cukup dingin sedangkan suhu di bagian hilir agak hangat (Putri, 2001).

Naiknya suhu perairan sungai menurut Kristanto (2004) dapat menyebabkan :

a. Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air. b. Meningkatnya kecepatan reaksi kimia.

c. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya.

d. Kematian pada ikan dan hewan air dapat terjadi jika batas suhu yang mematikan terlampaui.

2.7.1.2. Kekeruhan

Menurut Sugiharto (1987) kekeruhan merupakan ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar pengukuran keadaan air sungai. Kekeruhan menunjukkan sifat optis air, yang mengakibatkan pembiasan cahaya ke dalam air, sehingga membatasi masuknya cahaya ke dalam air

(Kristanto, 2004), akibatnya akan dapat menurunkan aktivitas fotosintesis fitoplankton dan bentik (Putri, 2001). Penurunan fotosintesis fitoplankton dan bentik akan menyebabkan penurunan produktivitas perairan.

Kekeruhan ini terjadi karena adanya bahan yang terapung, dan terurainya zat tertentu, seperti bahan organik, jasad renik, lumpur tanah liat dan benda lain yang melayang atau terapung dan sangat halus sekali. Semakin keruh air, semakin tinggi daya hantar listriknya dan semakin banyak pula padatannya (Kristanto, 2004).

Pada waktu banjir, sejumlah besar tanah lapisan atas mengalir ke dalam sungai. Kebanyakan bahan ini berupa zat-zat organik dan anorganik. Pada daerah pemukiman, kekeruhan disebabkan pula oleh buangan penduduk dan industri, baik yang telah diolah maupun yang belum diolah (Sawyer, 1964). Kekeruhan meningkat sesuai dengan peningkatan aliran sungai yakni pada musim hujan, serta menurun ke arah dasar perairan.

2.7.1.3. Padatan Terlarut dan Padatan Tersuspensi

Menurut Kristanto (2004), padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap, terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen, misalnya tanah liat, bahan-bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme dan sebagainya. Sedangkan padatan terlarut adalah padatan- padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan padatan tersuspensi. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa organik dan anorganik yang larut dalam air, meneral dan garam-garamnya. Misalnya, air limbah pabrik gula biasanya mengandung berbagai jenis gula yang larut, sedangkan air limbah industri kimia sering mengandung mineral seperti Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Arsenik (As), Kadmium (Cd), Kromium (Cr), Nikel (Ni), serta garam Magnesium (Mg) dan Kalsium (Ca) yang mengandung kesadahan air. Selain itu, air limbah juga sering mengandung sabun, detergen yang larut