2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Penelitian Empirik Terdahulu
Kharisma (2006), meneliti tentang pengaruh anggaran pemerintah daerah dari sisi penerimaan dan pengeluaran terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di 26 provinsi di Indonesia. Dengan menggunakan estimasi model ekonometrik data panel, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan desentralisasi (1995-2000), peran anggaran pemerintah daerah dari sisi penerimaan dan pengeluaran terhadap pertumbuhan berpengaruh negatif, baik di tingkat nasional, di Jawa maupun luar Jawa. Peran pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lebih besar melalui dana perimbangan dibanding pendapatan asli daerah (PAD). Sesudah memasuki era desentralisasi (2001-2004), peran anggaran pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, baik melalui sisi penerimaan maupun pengeluaran mengalami peningkatan. Perannya jauh lebih besar melalui sisi pengeluaran dibandingkan sisi penerimaan, baik untuk tingkat nasional, di Jawa maupun luar Jawa. Di era desentralisasi peran PAD terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan, walaupun masih di bawah dana perimbangan. Selain itu selama era desentralisasi, peran anggaran pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengeluaran
pembangunan maupun pengeluaran rutin mengalami peningkatan dibandingkan era sebelumnya.
Ronauli (2006), meneliti tentang pengaruh dana perimbangan terhadap pertumbuhan ekonomi dan disparitas pendapatan daerah pasca penerapan desentralisasi fiskal di Indonesia. Penelitian menggunakan analisis data panel dengan model regresi fixed effect dan metode Generalized Least Square (GLS). Hasil penelitian menunjukkan kebijakan dana bagi hasil pajak maupun sumber daya alam secara rata-rata nasional tidak memberikan hasil yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, dan variabel Dana Alokasi Umum (DAU) tidak memberikan hasil positif meminimkan disparitas pendapatan daerah.
Waluyo (2007), meneliti tentang dampak desentralisasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan antardaerah di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan model ekonometrika persamaan simultan dengan menggunakan data panel antarpropinsi. Asumsi yang digunakan adalah tidak adanya keterkaitan antardaerah, tidak ada migrasi penduduk antardaerah, tidak ada pergerakan modal dan barang antardaerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal berdampak meningkatkan pertumbuhan ekonomi relatif lebih tinggi di daerah pusat bisnis dan daerah yang kaya sumber daya alam daripada daerah bukan pusat bisnis dan miskin sumber daya alam. Daerah-daerah yang miskin sumber daya alam dan bukan pusat bisnis dan industri akan mengandalkan penerimaan daerahnya dari DAU dan DAK. Desentralisasi fiskal akan berdampak mengurangi ketimpangan pendapatan antardaerah terutama antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), hal ini disebabkan oleh mekanisme equalizing transfer melalui dana perimbangan. Hal ini juga ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di KTI, sedangkan pulau Jawa dan Bali merupakan daerah yang paling rendah pertumbuhan ekonominya dengan adanya kebijakan desentralisasi fiskal. Secara umum kebijakan desentralisasi fiskal belum mampu mengurangi kesenjangan pendapatan antardaerah.
Brodjonegoro (2001) melakukan penelitian dengan menggunakan model makro ekonometrik simultan untuk melihat dampak desentralisasi fiskal terhadap perekonomian Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa dengan skema DAU,
DBHSDA, dan Dana Bagi Hasil Pajak Penghasilan (DBHPPh) disparitas ekonomi antardaerah akan semakin meningkat ditunjukkan oleh meningkatnya angka indeks Williamson. Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi daerah, dengan skema yang sama menghasilkan tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda antar daerah, daerah yang kaya SDA dan menerima DAU tinggi menunjukkan tingat petumbuhan yang tinggi, demikian pula sebaliknya.
Lutfi (2002), dalam penelitiannya tentang pemanfaatan kebijakan desentralisasi fiskal berdasarkan Undang-Undang Nomor 34/2000 oleh Pemda untuk menarik pajak daerah dan retribusi daerah. Implementasi Undang-Undang Nomor 34/2000 telah memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah. Hal ini ditunjukkan seluruh daerah di Indonesia berlomba-lomba untuk menerbitkan perda untuk menggali potensi pajak daerah dan retribusi daerah yang dimiliki daerahnya.
Landiyanto (2005), meneliti kinerja keuangan daerah kota Surabaya di era otonomi daerah. Dengan menggunakan metode eksploratif dan diperkuat dengan melihat tingkat kemandirian keuangan dan derajat desentralisasi, periode tahun 1998-2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Surabaya masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada pemerintah pusat, yang disebabkan belum optimalnya penerimaan dari pendapatan Asli daerah Kota Surabaya. Sehingga perlu di cari alternatif-alternatif untuk meningkatkan PAD.
Adi dan Wulan (2008), melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat adanya kecenderungan perilaku asimetris pemerintah daerah kota/kabupaten terhadap pemerintah pusat yang diwujudkan dalan APBD. Hasil penelitian menunjukkan transfer pemerintah pusat berpengaruh terhadap besarnya pengeluaran pemerintah daerah kabupaten atau kota. Terbukti adanya perilaku asimetris daerah dalam merespon transfer pemerintah pusat dengan cara memanipulasi pengeluaran pemerintah setinggi mungkin dengan tidak mengupayakan maksimasi pendapatan asli daerah (PAD) supaya dapat bantuan berupa transfer dari pemerintah pusat.
Idealnya pelaksanaan otonomi daerah harus mampu mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat, daerah menjadi lebih mandiri, yang salah satunya diindikasikan dengan meningkatnya kontribusi PAD dalam hal pembiayaan
belanja daerah (Adi 2007). PAD memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian daerah.
Adi dan Wulan (2008), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa transfer pemerintah pusat (DAU) justru memberikan pengaruh negatif pada tax effort daerah (pada taraf signifikansi 10%). Tax effort pemerintah kabupaten/kota justru semakin rendah. Hal ini menunjukan adanya ketergantungan yang tinggi terhadap transfer pemerintah pusat, daerah lebih mengandalkan penerimaan DAU yang bersifat hibah daripada mengoptimalkan penerimaan PAD.
Stine (1994) menemukan hal yang berbeda, penelitiannya di Pennsylvania menunjukkan ketika terjadi penurunan transfer menyebabkan turunnya dukungan pembiayaan kegiatan yang ditujukan untuk peningkatan pajak, yang kemudian diantisipasi daerah dengan melakukan peningkatan harga-harga layanan publik di tingkat lokal. Publik merespon negatif peningkatan harga-harga layanan publik tersebut, sehingga penerimaan daerah sendiri (own revenue) mengalami penurunan. Hal ini justru akan menjadi kontraproduktif, dikarenakan tidak menyebabkan terjadinya kenaikan pendapatan sendiri (PAD).