• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENELITIAN LANJUTAN Karakteristik Responden Intervens

Jenis Kelamin

Total responden intervensi adalah 27 orang. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan persentase 66,7%. Jumlah responden dengan jenis kelamin laki-laki adalah sebesar 33,3%.

Tabel 21 Sebaran responden intervensi berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin n %

Laki-laki 9 33,3

Perempuan 18 66,7

Total 27 100

Umur

Sebesar 55,6% responden tergolong ke dalam kategori dewasa (19-49 tahun). Responden yang termasuk ke dalam kategori setengah tua (50-64 tahun)

dan usia lanjut (>65 tahun) masing-masing sebesar 33,3% dan 11,1%. Berdasarkan independent sample t-test, tidak terdapat perbedaan signifikan antara umur responden kontrol dan responden intervensi (p>0,05).

Tabel 22 Sebaran responden intervensi berdasarkan umur

Kelompok umur n %

Usia Dewasa (19-49 tahun) 15 55,6

Usia Setengah tua (50-64 tahun) 9 33,3

Usia Lanjut (>65 tahun) 3 11,1

Total 27 100

Status Gizi

Berdasarkan kategori malnutrisi, lebih dari setengah responden mengalami malnutrisi berat dengan persentase 59,3%. Responden yang tergolong malnutrisi sedang sebesar 40,7%. Hal tersebut berkebalikan dengan keadaan gizi pada responden pendahuluan yang lebih dari setengah responden mengalami malnutrisi sedang.

Tabel 23 Sebaran responden intervensi berdasarkan kategori malnutrisi

Kategori Malnutrisi n %

Sedang 11 40,7

Berat 16 59,3

Total 27 100

Jenis Penyakit

Jenis penyakit responden akan menentukan diet yang diberikan. Jenis penyakit digolongkan menjadi 7 kelompok. Sebesar 25,9% responden menderita gangguan pencernaan dan sebesar 22,2% responden menderita penyakit kanker dan kelainan darah.

Tabel 24 Sebaran responden intervensi berdasarkan jenis penyakit

Jenis Penyakit n %

Gangguan pencernaan 7 25,9

Kanker & Kelainan Darah 6 22,2

Ginjal 5 18,5

Gangguan pernapasan 3 11,1

Jantung & Hipertensi 3 11,1

Hati 2 7,4

Diabetes Melitus 1 3,7

40

Responden lain menderita penyakit ginjal, gangguan pernapasan, jantung dan hipertensi, hati, serta diabetes melitus. Jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh responden pada penelitian pendahuluan adalah kanker dan kelainan darah, sedangkan pada responden intervensi adalah gangguan pencernaan.

Kelas Perawatan

Sebagian besar responden berasal dari kelas 3 dengan persentase 81,5%. Responden pada penelitian pendahuluan juga memiliki sebaran terbanyak pada kelas 3.

Tabel 25 Sebaran responden intervensi berdasarkan kelas perawatan

Kelas Perawatan n %

1 3 11,1

2 2 7,4

3 22 81,5

Total 27 100

Kebutuhan Energi Responden Intervensi Kebutuhan Energi Total

Rata-rata kebutuhan energi responden adalah 1515 kkal/hari. Kebutuhan energi tertinggi sebesar 1953 kkal/hari dan terendah sebesar 1100 kkal/hari. Rata-rata kebutuhan total pada responden kontrol adalah 1618,1 kkal/hari. Berdasarkan hasil independent sample t-test, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kebutuhan kelompok kontrol dengan kelompok intervensi (p>0,05).

Tabel 26 Kebutuhan energi responden intervensi

Kebutuhan Energi Total (kkal/hari)

Rata-rata 1515

Tertinggi 1953

Terendah 1176

Kebutuhan Energi Basal

Rata-rata kebutuhan basal responden intervensi sebesar 1141 kkal/hari. Nilai kebutuhan basal tertinggi sebesar 1585 kkal/hari, dan nilai terendah sebesar 836,5 kkal/hari. Sementara responden kontrol memiliki rata-rata kebutuhan basal sebesar 1139 kkal/hari. Berdasarkan hasil independent sample t-test, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kebutuhan energi basal kelompok kontrol dengan kelompok intervensi (p>0,05).

Tabel 27 Kebutuhan energi basal responden intervensi

Kebutuhan Energi Basal (kkal/hari)

Rata-rata 1141,0

Tertinggi 1585,0

Terendah 836,5

Ketersediaan Energi Responden Intervensi

Pilihan porsi energi yang diberikan adalah 750 kkal, 1000 kkal, dan 1300 kkal. Penentuan pemilihan porsi energi dilakukan oleh ahli gizi berdasarkan ketentuan pemberian makan pasien malnutrisi, yaitu sebesar 50% kebutuhan total (NHS 2011). Rata-rata ketersediaan energi makanan rumah sakit sebesar 891,8 kkal/hari. Ketersediaan energi tertinggi sebesar 1301,9 kkal dan ketersediaan terendah adalah 766,5 kkal. Pilihan ukuran porsi energi yang akan diberikan, ditentukan oleh ahli gizi berdasarkan kebutuhan energi serta kemampuan makan responden. Responden pada penelitian lanjutan berjumlah 27 responden. Sebanyak 20 responden mendapatkan makanan dengan porsi energi 750 kkal, dan 7 responden mendapatkan makanan dengan porsi energi 1000 kkal.

Tabel 28 Rata-rata ketersediaan energi menu porsi kecil

Ketersediaan Energi (kkal/hari)

Rata-rata 891,8

Tertinggi 1301,9

Terendah 766,5

Konsumsi Energi Responden Intervensi

Konsumsi energi yang dihitung adalah konsumsi energi secara oral yaitu konsumsi makanan rumah sakit dan makanan dari luar rumah sakit. Rata-rata konsumsi energi responden adalah 753,4 kkal/hari. Konsumsi energi tertinggi sebesar 1251,9 kkal/hari dan terendah sebesar 229,9 kkal/hari. Responden dengan nilai konsumsi rendah (<500 kkal) akan dimonitor serta ditentukan diet selanjutnya, yaitu akan diberikan makanan cair atau tetap diberikan makanan porsi kecil.

Tabel 29 Konsumsi energi total responden intervensi

Konsumsi Energi Total (kkal)

Rata-rata 753,4

Tertinggi 1251,9

42

Berdasarkan independent sample t-test, tidak terdapat perbedaan jumlah konsumsi energi yang signifikan antara kelompok responden laki-laki dan perempuan (p>0,05). Uji ini juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan jumlah konsumsi energi antara kelompok responden malnutrisi sedang dengan kelompok responden malnutrisi berat (p>0,05).

Berdasarkan uji one way ANOVA, tidak terdapat perbedaan signifikan jumlah konsumsi energi pada setiap kelompok umur (p>0,05). Uji ini juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata pada konsumsi energi responden yang dikelompokan berdasarkan jenis penyakit dan order diet, sedangkan pada kelompok kelas perawatan terdapat perbedaan jumlah konsumsi (p<0,05). Berdasarkan uji Post Hoc kelompok yang memiliki perbedaan jumlah konsumsi adalah kelompok kelas 2 dan kelas 3. Perbedaan tersebut dikarenakan jumlah pasien dari kelas 2 hanya 2 orang dan mengalami penurunan nafsu makan, sedangkan pasien dari kelas 3 berjumlah 22 orang dengan konsumsi yang bervariasi dan cenderung lebih tinggi daripada konsumsi responden kelas 2. Konsumsi Makanan Rumah Sakit

Rata-rata konsumsi makanan rumah sakit responden adalah 713,1 kkal/hari. Konsumsi energi tertinggi sebesar 1251,9 kkal/hari dan terendah sebesar 229,9 kkal/hari.

Tabel 30 Rata-rata konsumsi makanan rumah sakit responden intervensi Konsumsi Energi (kkal/hari)

Rata-rata 713,1

Tertinggi 1251,5

Terendah 229,9

Konsumsi Makanan Luar Rumah Sakit

Sebagian besar responden (85,2%) tidak mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit. Responden yang mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit sebesar 14,8%. Makanan dari luar rumah sakit yang dikonsumsi umumnya adalah buah-buahan, seperti jeruk, pepaya, dan anggur. Terdapat responden yang mengonsumsi gorengan, susu, teh, dan biskuit. Alasan pasien mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit adalah masih merasa lapar. Rata- rata (n=4) konsumsi makanan dari luar rumah sakit adalah 206,3 kkal, konsumsi tertinggi sebesar 344,7 kkal dan terendah sebesar 124,9 kkal.

Tabel 31 Sebaran responden intervensi berdasarkan konsumsi makanan luar RS

Konsumsi Makanan Luar RS n %

Ya 4 14,8

Tidak 23 85,2

Total 27 100

Tabel 32 Rata-rata konsumsi makanan luar rumah sakit responden intervensi Konsumsi Energi (kkal/hari)

Rata-rata 206,3

Tertinggi 344,7

Terendah 124,9

Responden mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit dengan alasan porsi makanan yang diberikan rumah sakit kurang. Porsi menu yang diberikan pada awal perawatan adalah 750 kkal atau 1000 kkal. Ahli gizi kemudian memonitor dan mengevaluasi konsumsi energi sehari untuk merancang kembali diet yang akan diberikan selanjutnya. Evaluasi juga dilakukan dengan melihat tanda-tanda klinis pasien. Hasil evaluasi tersebut akan dijadikan dasar penentuan untuk meningkatkan atau tidak porsi energi yang akan diberikan, yaitu menjadi 1000 kkal, 1300 kkal atau makanan biasa dari rumah sakit (1800 – 2100 kkal). Ahli gizi juga memberikan pengarahan untuk mengurangi konsumsi makanan dari luar rumah sakit, serta memberikan penyuluhan tentang makanan yang sebaiknya dikonsumsi oleh pasien.

Terdapat responden yang menyatakan buah yang diberikan terlalu sedikit dan jarang, sehingga responden mengonsumsi buah-buahan dari luar rumah sakit. Buah pada menu porsi kecil, diberikan pada saat selingan dengan porsi energi 50 kkal atau sebesar satu satuan penukar. Jenis buah yang diberikan adalah melon, jeruk, semangka, dan pepaya.

Konsumsi Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi

Berdasarkan hasil independent sample t-test tidak terdapat perbedaan signifikan antara konsumsi energi kelompok kontrol dengan kelompok intervensi (p>0,05). Hal tersebut dapat menjelaskan bahwa tidak terdapat penurunan atau peningkatan yang nyata dari konsumsi energi responden setelah mengonsumsi menu porsi kecil, sehingga standar makanan yang telah disusun dapat memenuhi konsumsi pasien yang beresiko refeeding syndrome.

Hasil tersebut tidak sesuai dengan pernyataan pada studi yang dilakukan oleh Rolls et al. (2006) dalam Freedman dan Brochado (2010) yang menyatakan

44

pengurangan ukuran porsi dapat menurunkan asupan energi sebesar 10%. Ketidaksesuaian dengan literatur mungkin dikarenakan pada studi Rolls et al (2006), responden yang digunakan adalah responden dengan obesitas. Konsumsi energi yang dibandingkan adalah konsumsi responden obesitas tanpa adanya pembatasan makanan dengan konsumsi responden ketika ukuran porsi telah dikurangi. Konsumsi responden dengan obesitas umumnya lebih tinggi dari pada konsumsi orang normal. Oleh karena itu penurunan konsumsi energi dapat terlihat.

Menu porsi kecil pada penelitian ini dibuat dengan mengecilkan ukuran porsi dan ukuran energi. Pengurangan energi dilakukan untuk mencegah kasus refeeding syndrome pada pasien malnutrisi. Oleh karena itu ketika konsumsi responden yang mengonsumsi makanan porsi besar dibandingkan dengan yang mengonsumsi makanan dengan porsi kecil, tidak terlihat adanya perbedaan baik berupa peningkatan maupun penurunan pada konsumsi energi responden pada penelitian lanjutan. Kondisi tersebut juga mungkin dapat dikarenakan kemampuan makan pasien pada awal pemberian masih rendah.

Sisa Makanan Responden

Rata-rata sisa makanan responden adalah 178,7 kkal. Sisa makanan responden tertinggi adalah 595,5 kkal, dan sisa makanan terendah adalah 0,0 kkal. Persentase sisa makanan terhadap ketersediaan menu porsi kecil adalah 20,0%. Sisa makanan yang tersisa tepat dengan standar pelayanan minimum rumah sakit yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan (2008) yaitu kurang dari 20%. Sisa makanan pada penelitian pendahuluan sebesar 48,7%. Menu porsi kecil ini berhasil menurunkan sisa makanan rumah sakit sebesar 28%.

Tabel 33 Rata-rata sisa makanan responden intervensi Sisa makanan (kkal)

Rata-rata 178,7

Tertinggi 595,5

Terendah 0,0

Tanggapan Responden Intervensi terhadap Porsi Makanan

Total responden penelitian lanjutan adalah 27 orang. Sebesar 70,4% responden menyatakan menu porsi kecil yang disediakan telah sesuai dengan yang diharapkan. Dari 29,6% (n=4) responden yang menyatakan tidak sesuai dengan yang diharapkan, setengah responden (50%) menyatakan bahwa porsi makanan yang disediakan termasuk sedikit. Meskipun porsi yang diberikan lebih

kecil dari pada porsi biasa, namun terdapat 50% responden menyatakan porsi yang diberikan banyak.

Sebesar 66,7% responden menyatakan ukuran antara makanan pokok dan lauk yang disediakan cukup proporsional. Namun terdapat 33,3% yang menyatakan tidak proporsional. Beberapa menu yang disajikan merupakan menu yang menggabungkan makanan pokok dan makanan lauk, sehingga mungkin responden tidak dapat membedakan kesesuaian porsi makanan pokok dan lauk. Sebanyak 85,2% responden menyatakan tidak mengalami penurunan nafsu makan karena porsi menu yang disediakan. Responden menyatakan penurunan nafsu makan yang dialami dikarenakan rasa mual. Leidy et al (2010) menyebutkan bahwa makanan dalam jumlah besar yang disediakan untuk manula akan menurunkan nafsu makan, sedangkan pengurangan ukuran porsi akan berpotensi meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan peningkatan konsumsi makanan.

Gambaran Sisa Makanan Menu Porsi Kecil

Berdasarkan Donneley (2008), pengurangan ukuran porsi dan meningkatkan energi dan kaya zat gizi pada makanan lengkap dapat mendukung asupan oral pasien yang memiliki nafsu makan rendah. Hal tersebut dapat memastikan pasien tidak kewalahan dengan makanan lengkap porsi besar dan akan memakan yang disajikan, dan meningkatkan asupan energi dan zat gizi. Perlakuan tersebut juga dapat mengurangi sisa makanan, tetapi tidak tepat untuk semua kelompok pasien, respondennya pasien yang membutuhkan diet sehat dan seimbang.

Menu porsi kecil terdiri dari 15 menu makanan utama dan 3 menu makanan selingan. Menu makanan utama yang disajikan terdiri dari menu dengan konsistensi yang berbeda-beda, yaitu saring, lunak, dan biasa. Jenis makanan berupa bubur umumnya tidak dihabiskan oleh responden.

Berdasarkan penelitian Yuliana (1999), pasien yang diberikan makanan lunak berupa bubur sebanyak 300 g menyatakan tidak suka, terutama jika bubur diberikan pada pagi hari dengan alasan porsi bubur yang diberikan terlalu banyak. Yuliana (1999) juga menyatakan faktor yang diduga menyebabkan rendahnya persepsi responden terhadap porsi bubur pada menu pagi yaitu sebelum masuk rumah sakit, responden tidak terbiasa makan pagi dalam jumlah banyak.

46

Berbeda dengan penelitian Yuliana (1999), jumlah bubur yang diberikan pada penelitian lanjutan adalah 200 g. Meskipun jumlah bubur yang disajikan lebih sedikit, responden masih menyisakan cukup banyak dari bubur. Alasan responden adalah bubur yang disajikan terlihat banyak, sehingga responden merasa malas dan kenyang.

Menu makanan dengan konsistensi lunak, selain bubur, cukup disukai oleh responden. Makanan lunak seperti pure kentang dan nasi tim yang disajikan sebagian besar dihabiskan oleh responden. Hidangan tersebut disajikan dalam satu piring ukuran sedang dan tidak terlihat penuh, sehingga responden cukup tertarik untuk memakan hidangan tersebut. Makanan dengan konsistensi nasi biasa sebagian besar dihabiskan oleh responden. Berikut penjelasan setiap menu berdasarkan penyajian dan makanan yang tersisa.

Bubur Ayam

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 18 kali penyajian kepada responden, sebesar 61,1% responden tidak menghabiskan bubur ayam dengan sisa banyak (>20%). Responden yang menghabiskan dan menyisakan bubur ayam dengan jumlah sedikit sebesar 38,9%. Responden menyatakan bubur yang disajikan terlihat sangat banyak sehingga timbul rasa tidak senang ketika melihat makanan. Beberapa responden menyatakan tidak ada nafsu makan ketika menu yang disajikan adalah bubur.

Bihun Goreng

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 21 kali penyajian kepada responden, sebesar 52,4% responden meninggalkan sisa sedikit dari bihun goreng. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 47,6%. Beberapa responden menyatakan bihun yang disediakan terlalu banyak dan membuat cepat kenyang. Responden juga menyatakan bihun goreng yang disediakan membuat cepat haus.

Nasi Tim Ayam

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 20 kali penyajian kepada responden, sebesar 65% responden menyisakan nasi tim ayam dengan sisa sedikit. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 35%. Sebagian besar responden menyukai nasi tim ayam yang disajikan. Responden menyatakan porsi yang disajikan sesuai dengan keinginan dan terlihat menarik.

Lontong Isi

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 16 kali penyajian kepada responden, sebesar 87,5% responden menghabiskan lontong isi. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 12,5%. Sebagian besar responden menyatakan porsi lontong terlalu kecil, sehingga responden tidak menganggap makanan ini sebagai makanan utama. Terdapat responden yang menyatakan tidak mendapatkan makan pagi dan hanya mendapatkan snack berupa lontong isi.

Kentang Tutup

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 13 kali penyajian kepada responden, sebesar 76,9% responden menghabiskan kentang tutup. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 23,1%. Responden menyatakan tidak terbiasa memakan kentang sebagai makanan utama. Namun, karena ukuran porsi yang kecil dan bentuk yang cukup menarik responden menghabiskan makanannya.

Nasi Bakmoy

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 16 kali penyajian kepada responden, sebesar 56,3% responden menghabiskan nasi bakmoy. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 43,8%. Responden menyatakan ukuran porsi nasi bakmoy telah sesuai dengan yang diharapkan.

Nasi Uduk

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 16 kali penyajian kepada responden, sebesar 56,3% responden menghabiskan nasi uduk. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 43,8%. Responden umumnya menyukai nasi uduk yang disajikan.

Lontong Kari

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 16 kali penyajian kepada responden, sebesar 68,8% responden meninggalkan sisa sedikit dari lontong kari. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 31,3%. Responden menyatakan porsi lontong kari telah sesuai, tetapi lontong yang disajikan agak keras.

Nasi Telur

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 16 kali penyajian kepada responden, sebesar 66,7% responden meninggalkan sisa sedikit dari nasi telur.

48

Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 33,3%. Responden menyatakan ukuran porsi yang diberikan telah sesuai. Beberapa responden menyatakan tidak suka dengan campuran ikan teri dengan nasi. Terdapat responden yang menyatakan tidak mendapatkan makan siang, tetapi makanan selingan seperti risoles.

Bubur Cincang Sapi

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 20 kali penyajian kepada responden, sebesar 65% responden tidak menghabiskan bubur cincang sapi dengan sisa banyak (>25%). Responden yang meninggalkan sisa sedikit sebesar 35%. Responden menyatakan bubur yang disajikan terlihat banyak dan penuh. Responden juga menyatakan lauk yang diberikan tidak sesuai dengan jumlah bubur.

Baso Tahu Kuah

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 15 kali penyajian kepada responden, sebesar 60% responden meninggalkan sisa sedikit dari baso tahu kuah. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 40%. Beberapa responden menyatakan ukuran porsi baso tahu kuah terlalu sedikit dan tidak sesuai untuk orang sakit. Responden yang tidak menghabiskan makanan menyatakan baso tahu terlalu keras.

Nasi Campur

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 16 kali penyajian kepada responden, sebesar 56,3% responden meninggalkan sisa sedikit dari nasi campur. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 43,8%. Responden menyatakan porsi yang disediakan telah sesuai, namun daging yang disajikan keras.

Nasi Goreng Keju

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 11 kali penyajian kepada responden, sebesar 72,7% responden meninggalkan sisa sedikit dari nasi goreng keju. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 27,3%. Responden umumnya menyukai nasi goreng keju yang disajikan. Porsi nasi goreng keju dianggap terlalu sedikit. Responden menyatakan nasi goreng terlalu keras dan menyebabkan cepat haus.

Nasi Bali

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 12 kali penyajian kepada responden, sebesar 75% responden meninggalkan sisa sedikit dari nasi bali.

Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 25%. Ukuran porsi nasi bali sudah sesuai dan terlihat menarik.

Nasi Bakar

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 15 kali penyajian kepada responden, sebesar 66,7% responden meninggalkan sisa sedikit dari nasi bakar. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 33,3%.

Bubur Saring TD2

Berdasarkan hasil dari penelitian lanjutan, dari 37 kali penyajian kepada responden, sebesar 56,8% responden meninggalkan sisa sedikit dari bubur TD2. Responden yang tidak menghabiskan makanannya dengan sisa banyak sebesar 43,2%. Responden yang tidak menghabiskan bubur TD2 menyatakan kinca yang diberikan kurang dan merasa bosan mengonsumsi bubur TD2. Responden umumnya cepat merasa bosan karena bubur TD2 disajikan sehari tiga kali dan tidak ada alternatif hidangan lain untuk menggantikan bubur TD2.

Tabel 34 Sebaran sisa makanan responden intervensi

Nama Sisa Makanan

Makanan <= 20% >20% Total

n % n % n %

Bubur ayam 7 38,9 11 61,1 18 100,0

Bihun goreng 11 52,4 10 47,6 21 100,0

Nasi tim ayam 13 65,0 7 35,0 20 100,0

Lontong isi 14 87,5 2 12,5 16 100,0 Kentang tutup 10 76,9 3 23,1 13 100,0 Nasi Bakmoy 9 56,3 7 43,8 16 100,0 Nasi Uduk 9 56,3 7 43,8 16 100,0 Lontong kari 11 68,8 5 31,3 16 100,0 Nastel 12 66,7 6 33,3 18 100,0 bubur sapi 7 35,0 13 65,0 20 100,0

Baso tahu kuah 9 60,0 6 40,0 15 100,0

Nasi campur 9 56,3 7 43,8 16 100,0

Nasi goreng keju 8 72,7 3 27,3 11 100,0

Nasi Bali 9 75,0 3 25,0 12 100,0

Nasi Bakar 10 66,7 5 33,3 15 100,0

Dokumen terkait