II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Studi Terdahulu
2.4.1 Penelitian Mengenai CPO
Penelitian Mahisya (2004), menganalisa permintaan ekspor CPO Indonesia. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan Error Correction Model (ECM). Mahisya menyimpulkan bahwa perkembangan harga domestik memiliki pengaruh yang positif terhadap laju pertumbuhan ekspor. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan harga domestik suatu negara yang meningkat menandakan adanya defisit supply terhadap komoditi CPO, defisit ini terjadi pada pasar dunia yang juga memberikan imbas bagi pasar domestik suatu negara, karena adanya defisit suplai dari pasar dunia maka akan memicu harga CPO dunia meningkat dan berefek juga produsen CPO dalam negeri untuk melakukan ekspor untuk memenuhi kebutuhan CPO dunia. Sementara itu, deflasi nilai tukar rupiah berhubungan positif dengan volume permintaan ekspor, hal ini disebabkan karena deflasi nilai tukar rupiah yang semakin meningkat menyebabkan harga CPO Indonesia dipasar dunia akan dirasakan lebih murah oleh konsumen diluar negeri sehingga mereka meningkatkan permintaannya terhadap CPO Indonesia.
Penelitian tentang CPO juga dilakukan oleh Askadarimi (2007) mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan minyak sawit (CPO) Indonesia dengan menggunakan metode Two-Stage Least Squares (2SLS). Hasil penelitian Askadarimi menunjukkan bahwa produksi minyak sawit (CPO) Indonesia tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi luas areal kelapa
sawit dan produktivitas minyak sawit Indonesia. Persamaan luas areal kelapa sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil CPO domestik, harga riil karet domestik, dummy kebijakan perluasan areal kelapa sawit Indonesia dan luas areal kelapa sawit Indonesia tahun sebelumnya. Pada persamaan produktivitas kelapa sawit Indonesia menunjukkan bahwa harga riil ekspor CPO, dummy kebijakan perluasan areal kelapa sawit dan produktivitas CPO Indonesia tahun sebelumnya berpengaruh nyata, sedangkan harga riil CPO domestik dan harga riil pupuk domestik tidak berpengaruh secara nyata. Pengenaan pajak ekspor CPO untuk pengamanan pasokan domestik mestinya hanya menjadi kebijakan jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang kebijakan dari sisi produksi akan lebih efektif.
2.4.2 Penelitian Mengenai Minyak Goreng Sawit dan Minyak Goreng Kelapa Hasil kajian yang dilakukan oleh Suharyono (1996) mengkaji mengenai Analisis Dampak Kebijakan Ekonomi pada Komoditi Minyak Sawit dan Hasil Industri yang Menggunakan Bahan Baku Minyak Sawit di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian tersebut adalah data sekunder dalam time series periode 1969-1993. model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ekonometrika persamaan simultan yang diduga dengan metode pangkat dua terkecil tiga tahap atau Linear Three Stage Least Squares (LTSLS). Hasil estimasi menunjukkan bahwa luas areal produktif tidak responsif terhadap perubahan masing-masing peubah eksogen yang diperhitungkan dalam model, disamping itu
produktivitas minyak sawit domestik hanya responsif terhadap perubahan harga ekspor.
Produksi minyak sawit domestik responsif terhadap permintaan minyak sawit dunia, sedangkan produksi minyak goreng sawit domestik responsif terhadap teknologi dan permintaan minyak goreng sawit domestik. Disamping itu produksi margarine dan sabun baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang juga responsif terhadap permintaan sabun. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan permintaan minyak sawit minyak sawit oleh industri minyak goreng sawit akan besar pengruhnya bagi permintaan minyak sawit domestik secara keseluruhan. Permintaan minyak goreng sawit, margarine dan sabun baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang responsif terhadap perubahan pendapatan nasional. Khusus untuk permintaan minyak goreng sawit, dalam jangka panjang juga dipengaruhi oleh harga minyak goreng sawit dan harga minyak goreng kelapa. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang hubungan minyak goreng sawit dan minyak goreng kelapa dilihat dari sisi konsumen lebih cenderung bersifat substitusi.
Peubah trend teknologi ternyata mampu memberikan pengaruh yang besar pada perubahan penawaran minyak goreng sawit domestik, margarine dan sabun. Hal ini tidak terjadi pada penawaran minyak sawit domestik. Namun demikian harga minyak sawit domestik hanya memberikan dampak yang besar pada penawaran penawaran minyak sawit domestik. Perubahan harga minyak sawit dunia dalam jangka panjang akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan harga ekspor minyak sawit Indonesia. Sedangkan harga ekspor minyak
sawit Indonesia ke pasar Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) ternyata memberikan pengaruh yang besar pada perubahan volume ekspor komoditi itu ke pasar MEE.
Selama kurun waktu 1969-1993 ternyata tidak terjadi perkembangan teknologi yang cukup berarti. Hal ini terlihat dengan tidak responsifnya perubahan harga, baik minyak sawit, minyak goreng sawit, margarine maupun sabun terhadap perubahan teknologi.
Kebijakan ekonomi yang dinilai paling ideal, karena mampu meningkatkan total surplus produsen domestik, total surplus konsumen domestik dan total surplus devisa, baik dalam pasar terkendali maupun yang bebas adalah (1) kebijakan penurunan tingkat bunga sebesar tiga persen dari tingkat bunga tertinggi; (2) kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar lima puluh persen dari harga pupuk rata-rata dan; (3) kebijakan peningkatan pendapatan nasional.
Penelitian mengenai minyak goreng juga dilakukan oleh Ratri (2004) yang menganalisis permintaan dan dan penawaran minyak goreng kelapa di Indonesia dengan menggunakan metode persamaan simultan 2SLS. Hasil estimasi dari penelitian Ratri menunjukkan bahwa persamaan penawaran menunjukkan bahwa harga minyak goreng kelapa, harga minyak kelapa kasar dan stok tahun sebelumnya tidak berpengaruh nyata pada penawaran sedangkan upah dan trend berpengaruh nyata terhadap penawaran. Hasil estimasi persamaan permintaan menunjukkan bahwa harga minyak goreng kelapa, harga minyak goreng sawit, trend dan permintaan tahun sebelumnya berpengaruh nyata terhadap permintaan, sedangkan hasil estimasi persamaan ekspor menunjukkan bahwa harga ekspor, nilai tukar dan dummy kebijakan pembebasan ekspor berpengaruh nyata terhadap
ekspor. Semua variabel dalam persamaan penawaran, permintaan dan ekspor tidak responsif dalam jangka pendek.