KAJIAN PUSTAKA
2.2 Penelitian yang Relevan
Cahaya dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu cahaya tampak dan cahaya tidak tampak. Cahaya tampak adalah cahaya yang dapat ditangkap oleh mata. Cahaya tidak tampak adalah cahaya yang tidak dapat ditangkap oleh mata, misalnya sinar x, sinar ultraviolet, sinar gama, dan sinar infra merah.
Cahaya memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat cahaya banyak manfaatnya bagi kehidupan. Sifat-sifat cahaya yaitu: cahaya merambat lurus, cahaya dapat menembus benda bening, cahaya dapat dipantulkan, dan cahaya dapat dibiaskan bila melalui dua medium yang berbeda (Syuri dan Nurhasanah 2006:167).
Berdasarkan uraian materi sifat-sifat cahaya tersebut, dapat disimpulkan bahwa materi sifat-sifat cahaya penting untuk disampaikan karena materi tersebut berlangsung di kehidupan sehari-hari. Pembelajaran menggunakan metode eksperimen akan mempermudah siswa dalam memahami materi sifat-sifat cahaya. Siswa akan menjadi lebih paham karena dapat membuktikan secara nyata peristiwa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
2.2 Penelitian yang Relevan
Peneliti menemukan beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengenai metode pembelajaran eksperimen. Berikut ini merupakan beberapa penelitian tentang metode eksperimen.
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Meilinda (2012) yang berjudul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Penerapan Metode Eksperimen pada Pembelajaran IPA di Kelas V SD Negeri 02 Bermain Ilir”. Penelitian dilaksanakan dengan metode PTK menggunakan empat tahap kegiatan, yaitu
merencanakan, melakukan tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menerapkan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dari pra siklus dengan nilai rata-rata 5,4 meningkat 6,5 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 7,1 pada siklus ke II.
Kedua, penelitian dilakukan oleh Lestari (2013) yang berjudul “Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPA Kelas V pada Materi Sifat-sifat Cahaya”. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklusnya terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Melalui metode eksperimen ini hasil belaajr siswa menunjukkan adanya peningkatan, yaitu pada siklus I nilai rata-rata siswa adalah 68,00 dan presentase KKM 54,28%. Sedangkan nilai rata-rata siklus II adalah 78,57 dan 80% untuk pencapaian KKM-nya. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Pangestika (2012) yang berjudul “Keefektifan Metode Eksperimen dalam Pembelajaran Daur Air di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 1 Sumbang Banyumas”. Berdasarkan uji hipotesis menggunakan uji T tipe Independent Samples Test, hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran Daur Air melalui metode eksperimen dibandingkan metode ceramah. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran Daur Air melalui metode eksperimen lebih baik dibandingkan metode ceramah. Ada perbedaan aktivitas
29 peserta didik dalam pembelajaran Daur Air melalui metode eksperimen dibandingkan metode ceramah. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Daur Air melalui metode eksperimen lebih baik dibandingkan metode ceramah.
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Juminarti, Rustiyarso, dan Rosnita (t.t) yang berjudul “Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dalam Pembelajaran IPA Kelas IV”. Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dalam Pembelajaran IPA Kelas IV bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas fisik, mental, dan emosional dalam pembelajaran IPA dengan metode eksperimen pada siswa kelas IV SDN 07 Tanak Kecamatan Kembayan Kabupaten Sanggau. Metode yang digunakan dalam penelitian metode deskriptif. Bentuk penelitian deskriftif yang digunakan adalah penelitian survey. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Dari hasil pengamatan pra tindakan siswa yang terlibat aktif rata-rata baru mencapai 44,9% dan meningkat menjadi 78 % pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA kelas IV SDN 07 Tanak.
Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati, Triyono, dan Suryanto (t.t) yang berjudul “Penerapan Metode Eksperimen dengan Media Realia dalam Peningkatan Pembelajaran IPA Bagi Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Tiap siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan langkah-langkah pembelajaran
metode eksperimen dengan media realia dapat meningkatkan pembelajaran belajar IPA bagi siswa kelas IV. Pada proses pembelajaran siklus I, persentase siswa mencapai 61,11%, pada siklus II 73,46%, dan pada siklus III meningkat menjadi 83,33%. Pada pra tindakan persentase ketuntasan siswa masih 0%, setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I persentase ketuntasan siswa menjadi 47,73%, pada siklus II meningkat menjadi 73,46% dan siklus III meningkat menjadi 83,33%.
Keenam, penelitian yang dilakukan oleh Yulianingsih, Zainudin, dan Sukmawati (2012) yang berjudul “Penerapan Metode Eksperimen dalam Pembelajaran IPA terhadap Hasil Belajar Kelas IV SDN 15 Segedong”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan metode eksperimen di kelas IV SDN 15 Segedong. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kolaboratif. Teknik yang digunakan yaitu observasi langsung dan pengukuran dengan alat pengumpul data berupa lembar observasi guru dan lembar soal. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada siklus I skor kemampuan guru merencanakan pembelajaran sebesar 13,5 (rata-rata 2,7) dan pada siklus II sebesar 17,0 (rata-rata 3,4). Ada peningkatan sebesar 3,5. Skor kemampuan guru melaksanakan pembelajaran sebesar 10,21 pada siklus I dan 14,21 pada siklus II, ada peningkatan 4,0. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 59,09 dan 81,82 pada siklus II, ada peningkatan sebesar 22,73.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang sudah dilakukan, terbukti bahwa metode eksperimen mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Selain
31 meningkatkan juga membuktikan bahwa hasil belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran eksperimen lebih baik daripada hasil belajar siswa yang menerapkan metode pembelajaran ceramah. Hal inilah yang menjadi acuan peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui keefektifan metode eksperimen terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN 1 Prigi Kabupaten Banjarnegara.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Pangestika, Meilinda, dan Lestari yaitu sama-sama menggunakan metode pembelajaran eksperimen yang diterapkan pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh Pangestika merupakan penelitian eksperimen, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Meilinda dan Lestari yang merupakan penelitian tindakan kelas. Selain itu, penelitian ini juga memiliki persamaan dalam materi pembelajarannya dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari yaitu materi sifat-sifat cahaya.
Tiga penelitian lain, yaitu penelitian Juminarti, Rustiyarso, dan Rosnita, penelitian Rahmawati, Triyono, dan Suryanto, serta penelitian Yulianingsih, Zainudin, dan Sukmawati juga memiliki persamaan dan perbedaan. Ketiga penelitian tersebut merupakan penelitian tindakan kelas, berbeda dengan penelitian ini yang merupakan penelitian eksperimen. Kemudian, tiga penelitian di atas juga mengambil sampel di kelas IV sekolah dasar, berbeda dengan penelitian ini yaitu kelas V sekolah dasar. Selain sampel dan jenis penelitian, penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Juminarti, Rustiyarso, dan Rosnita juga memiliki perbedaan pada variabel penelitian. Variabel dalam
penelitian Juminarti, Rustiyarso, dan Rosnita yaitu aktivitas belajar, sedangkan dalam penelitian ini hanya hasil belajar, sama dengan dua penelitian lain.