2.2 Penelitian YangRelevan
2.2.3 Penelitian TentangPendidikanSeks
Dewi, Desy Mustika. 2015. Meningkatkan Pengetahuan Pendidikan Seks Melalui Layanan Informasi Pada Siswa Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sumurrejo Kota Semarang Tahun Ajaran 2015/2016.Skripsi.Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan.
Universitas Negeri Semarang.
Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada fenomena yang terjadi di MIN Sumurrejo Kota Semarang bahwa terdapat siswa yang memiliki pengetahuan pendidikan seks yang cenderung rendah. Fenomena yang terjadi seperti terdapat kasus penyimpangan perilaku siswa yaitu siswa diketahui dapat mengakses internet yaitu mengakses situs porno, dan rata-rata pengetahuan siswa tentang organ reproduksi, fungsi dan cara pemeliharaan, serta menghadapi masa pubertas rendah. Melalui layanan informasi diharapkan pengetahuan pendidikan seks yang dimiliki siswa dapat meningkat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengubah tingkat pengetahuan penddikan seks siswa melalui layanan informasi.Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrument tes pengetahuan sebanyak 45 item.Instrument tersebut telah diujicobakan untuk digunakan dalam penelitian.Metode analisis data menggunakan deskriptif presentase dan uji wilcoxon.Hasil penelitian yang diperoleh, tingkat pengetahuan siswa sebelum mendapatkan layanan informasi tergolong dalam kategori rendah dengan persentase 39%.Setelah mendapatkan layanan informasi menggunakan media visual meningkat menjadi 75% dalam kategori tinggi.Dengan demikian mengalami peningkatan sebesar 36%.
Dari perhitungan uji wilcoxon diperoleh Z= -4,202b dengan p value (Asymp. Sig. 2-tailed) sebesar ,000 dimana kurang dari batas kritis penelitian 0,05 sehingga keputusan hipotesis adalah menerima Ha atau yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara kelompok pretestdan
posttest. Dengan kata lain bahwa terjadi perubahan tingkat pengetahuan pendidikan seks siswa setelah diberikan layanan informasi.
Berdasarkan ketiga penelitian yang telah diuraikan, maka peneliti membuat bagan seperti berikut:
Tabel 2.1 Literature Map dan penelitian yang relevan
Bagan di atas menunjukkan bahwa telah terdapat penelitian mengenai buku cerita anak.Berdasarkan penelitian diatas belum terdapat penelitian yang membahas buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas, maka dari itu peneliti membuat buku cerita anak berbasis pendidikan seks khususnya untuk anak SD kelas atas.
Penelitian III
Pengembangan Media Buku Cerita Bergambar Untuk Peningkatan Hasil Belajar Pada Pembelajaran IPS Siswa Kelas IV
Penelitian I Susilowati
Pengembangan buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas
Peningkatan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Cerita Bergambar Pada Anak Didik Kelompok B TK Bhayangkari 68 Mondokan
Perlunya buku cerita anak sebagi sarana yang menarik perhatian siswa untuk membangun kreatifitas anak usia dini
2.3 KerangkaBerfikir
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada siswa kelas V SD N VI Baturetno mendapatkan hasil kurangnya pemahaman yang dimiliki oleh siswa kelas atas mengenai cara menjaga tubuh dan cata berpakaian yang baik dan benar. Berawal dari kurangnya pengertian siswa khususnya siswa kelas atas yang mengerti tentang cara menjaga tubuh, peneliti terdorong untuk membuat sebuah buku cerita anak yang bertemakan dasar menjaga tubuh dan cara berpakaian yang baik dan benar. Buku cerita anak yang dibuat oleh peneliti berisikan tentang kegitan merawat tubuh ketika sedang mandi, kemudian menceritakan tentang bagaimana cara merapikan pakaian seragam sekolah dengan baik dan benar, serta bagaimana cara berpakaian yang baik dan benar agar terhindar dari tindakan pelecehan sesksual..Buku cerita anak yang dibuat oleh peneliti juga dilengkapi dengan warna, gambar yang menarik, selain itu kata-kata yang digunakan oleh peneliti juga termasuk dalam kata-kata sederhana yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan hakekat buku cerita anak yang ditujukan untuk anak-anak (Hardjana,2006:2), hal ini bertujuan agar siswa lebih tertarik dalam mempelajari buku cerita anak ini karena dengan gambar yang menarik siswa kelas atas lebih tertarik untuk membaca dan mempelajari isi dari bukutersebut.
Dari keprihatinan di atas maka peneliti akan mengembangkan penelitian yang berjudul
“Pengembangan buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk siswa kelas atas” agar dapat digunakan oleh peneliti untuk memberikan pengertian tentang merawat tubuh dan cara berpakaian yang baik dan benar. Dibuat dengan 19 lembar dengan tips cara merawat tubuh saat mandi dan tips cara berpakaian dengan baik dan benar diharapkan produk buku cerita anak tentang pendidikan seks ini dapat memberikan pemahaman bagi siswa.
2.4 Pertanyaanpeneltian
Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan pertanyaan sebagai berikut :
2.4.1 Bagaimanakah kualitas buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas?
2.4.2 Bagaimanakah pengembangan buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas?
2.4.3 Bagaimanakah tindak lanjut yang dilakukan dari validasi yang diperoleh dari pakar ahli dan guru untuk buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas?
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 JenisPeneltian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah meteode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa inggisnya Reaserch and Development (R&D).Metode penelitian ini digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. (Sugiyono, 2010 : 297).
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang dirancang dan dikembangkan merupakan ujung tombak dari suatu industri dalam menghasilkan produk- produk baru yang yang dibutuhkan oleh pasar. Dengan berdasarkan 10 langkah yang dilakukan sugiyono, Kesepuluh langkah tersebut yaitu ;
3.1.1 Potensi danmasalah
Penelitian ditulis berdasarkan potensi dan masalah.Potensi adalah segala sesuatu yang didayagunakan dan akan memiliki nilai tambah. Sedangkan Masalah adalah penyimpangan yang diharapkan dengan yang terjadi.Data tentang potensi dan masalah ini tidak harus dicari sendiri, namun dapat berdasarkan laporan penelitian orang lain, laporan kegiatan maupun dokumentasi sehingga data tetap up to date.
3.1.2 Pengumpulandata
Setelah potensi dan masalah sudah diketahui dengan pasti, maka peneliti perlu menggunakan suatu metode tertentu, tergantung dari masalah dan tujuan yang ingin dicapai.
3.1.3 DesainProduk
Desain produk adalah suatu langkah untuk merancang sebuah produk yang akan dihasilkan. Desain produk ini masih bersifat hipotesis karena belum melewati pengujian untuk melihat keefektifan dari produk ini, sehingga pengujian masih diperlukan pengujian untuk melihat kualitas produk tersebut.
3.1.4 ValidasiDesain
Validasi desain merupakan kegiatan untuk menilai rancangan suatu produk.Validasi desain masih dikatakan rasional karena masih berdasarkan pemikiran rasional dan belum sesuai dengan fakta di lapangan.Validasi desain ini dapat dilakukan dengan menghadirkan beberapa ahli atau pakar untuk menilai produk yang sedang dirancangtersebut.
3.1.5 Perbaikandesain
Setelah dilakukan validasi desain oleh beberapa ahli atau pakar maka diketahui kelemahan yang masih ada pada produk tersebut.Oleh karena itu, dilakukan perbaikan terhadap kelemahan pada produk yang sedang dibuattersebut.
3.1.6 Uji CobaProduk
Uji coba produk dilakukan setelah peneliti dapat menghasilkan suatu barang atau produk tertentu.Tahap ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas dan efesiensi produk yang telah dihasilkan.
3.1.7 RevisiProduk
Revisi produk dilakukan setelah dilakukan uji coba produk.Revisi produk dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan yang ada pada produk tersebut. Revisi akan terus dilakukan agar kelemahan yang ada pada produk tersebut hilang.
3.1.8 Uji CobaPemakaian
Setelah pengujian pada produk berhasil maka selanjutnya diterapkan untuk ruang lingkup nyata yang luas. Dalam operasi kerja produk tersebut tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang ditemui untuk memperbaiki produk tersebut lebih lanjut.
3.1.9 RevisiProduk
Revisi produk dilakukan apabila dalam kondisi nyata masih terdapat kekurangan pada produk.Diperlukan adanya evaluasi untuk mengetahui kelemahan yang ada, sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan pembuatan produk yang baru.
3.1.10 Pembuatan ProdukMasal
Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang dihasilkan dan telah diuji coba dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi secara masal.
Gambar 3.1 Langkah-langkah pengembangan menurut Sugiyono
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian pengembangan menurut Sugiyono
Berdasarkan langkah pengembangan Sugiyono penelitian berhenti sampai langkah yang ketujuh agar sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Alasan pertama yang melandasi penelitian hanya sampai langkah yang ketujuh karena pengembangan produk hanya dilakukan sampai uji terbatas yaitu untuk 10 siswa kelas atas.
3.2 Prosedur Pengembangan
Prosedur pengembangan meliputi langkah – langkah yang dilakukan, Prosedur pengembangan penelitian ini menghasilkan produk akhir buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk kelas atas.Langkah – langkah pengembangan produk ini menggunakan model penelitian sugiyono yang menggunakan 10 langkah, tetapi peneliti menggunakan sampai langkah yang ke tujuh agar sesuai dengan penelitian yang dilakukan.
Revisi Produk Produk Masal
Langkah-langkah penelitian pengembangan yang dilakukan oleh peneliti :
Gambar 3.2 prosedur pengembangan yang digunakan oleh peneliti
Langkah 1 Langkah 2
Potensi Masalah Pengumpulan Data
Langkah 4 Langkah 3
Validasi Desain Desain Produk
Validasi produk oleh pakar
Langkah 5 Langkah 6
Revisi Produk Uji Coba Lapangan
Analisis kebutuhan Wawancara
Hasil wawancara Studi Pustaka Pembuatan Kuisisioner
Desain Awal Rancangan isi alur cerita
Langkah 7 Revisi Produk Desain Produk Akhir
3.2.1 PotensiMasalah
Penelitian ini berawal dari adanya potensi dan masalah yang terjadi sehingga peneliti melakukan analisis kebutuhan berupa wawancara kepada guru kelas.
3.2.2 PengumpulanData
Hasil wawancara tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan produk yang berupa buku cerita anak berbasis pendidikan seks.Perencanaan untuk pembuatan buku cerita anak dilakukan dengan melakukan studi pustaka, mencari bahan melalui internet, dan mengumpulkan bahan dari berbagai sumber.Langkah selanjutnya adalah pengembangan instrumen assessment.Pengembangan instrumen assessment dilakukan dengan pembuatan kuesioner untuk validasi.Kuesioner ini digunakan untuk menilai buku cerita yang telah dibuat.
3.2.3 DesainProduk
Presentasi produk akan dimulai setelah menentukan desal awal sebuah produk yang akan di buat.desain awal yang dibuat adalah alur dan isi sebuah cerita. Pengembangan produk ini sebaiknya lebih baik dengan di cetak.Desain awal buku cerita ini menggunakan kertas ivory 260 untuk cover menggunakan 210 bagian isi. Buku ini berisi tentang pendidikan seks anak untuk anak Sekolah Dasar , selain berisi bacaan buku ini akan menaraik bagi siswa untuk membacanya.
3.2.4 ValidasiDesain
Produk yang dikembangkan akan divalidasi oleh pakar ahli dan guru kelas atas yaitu guru kelas V SD. Validator memvalidasi produk ini dengan sebuah instrumen yang telah disiapkan.
Validasi produk ini bertujuan untuk memperoleh kritik dan saran serta penilaian produk yang dikembangkan oleh peneliti. Kritik dan saran tersebut untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan produk yang dikembangkan sebagai perbaikan terhadap buku cerita anak. Uji coba awal ini merupakan evaluasi formatif.
3.2.5 RevisiProduk
Revisi produk dilakukan setelah mendapatkan kritik dan saran hasil validasi dari validator yaitu pakar dan guru kelas atas yaitu guru kelas V SD. Peneliti melakukan perbaikan terhadap produk yang dibuat berdasarkan hasil validasi pakar yang terdapat atau disampaikan dalam instrumen. Revisi ini dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari produk yang telah divalidasi olehpakar
3.2.6 Uji CobaLapangan
Setelah melakukan revisi produk tersebut sesuai dengan kritik dan saran dari validator , produk tersebut segera di ujicobakan. Uji coba lapangan dilakukan pada tanggal 27 september- 28 september 2017. Uji coba lapangan melibatkan siswa kelas atas yaitu kelas V SD N VI Baturetno.Subjek uji coba berjumlah 9 orang siswa dengan 3 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.Setelah para siswa membaca, kemudian siswa menilai produk dengan mengisi sebuah kuisioner untuk mengetahui produk tersebut sudah sesuai dan baik untuk siswa atau belum.
3.2.7 RevisiProduk
Revisi produk dilakukan setelah uji coba dilapangan. Produk yang sudah di uji cobakan kepada siswa akan mendapat masukan dari siswa melalui kuesioner. Hasil revisi dari produk ini akan menjadi desain produk akhir buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD.
Penelitian menggunakan tujuh langkah pengembangan tersebut karena pengembangan produk buku cerita ini merupakan pengembangan secara terbatas. Penelitian ini juga masih
memerlukan saran dari semua pihak sehingga buku cerita ini layak digunakan siswa. Dari ketujuh langkah tersebut akan membantu peneliti dalam menghasilkan buku cerita anak, sehingga dapat bermanfaat dan layak digunakan bagi siswa SD kelas atas yang akan menggunakan produktersebut.
3.3 SettingPenelitian
3.3.1 SubjekPeneltian
Subjek dalam penelitian pengembangan buku cerita anak ini adallah 9 siswa kelas V SD N VI Baturetno tahun ajaran 2017/2018.Kesembilan siswa kelas V tersebut diambil untuk mewakili siswa kelas atas dan rata-rata prestasi siswa dari mulai yang pintar, sedang dan kurang.Kesembilan siswa ini dipilih dengan bantuan wali kelas agar lebih mudah dalam pelaksanaan uji coba.
3.3.2 ObjekPenelitian
Obyek yang dituju adalah anak kelas atas, isi buku ceritanya tentang pendidikan anak sekolah dasar kelas Atas.
3.3.3 LokasiPenelitian
Penelitian pengembangan ini dilakukan di salah satu SD negeri di Wonogiri. Tepatnya adalah SD Negeri VI Baturetno, kecamatan baturetno ,kabupaten Wonogiri.
3.3.4 WaktuPenelitian
Penelitian yang dilakukan sejak wawancara sampai pada revisi dilakukan mulai September 2017 hingga November 2017.
3.4 Uji ValidasiProduk
3.4.1 Uji Validasi OlehPakar
Pakar yang memvalidasi produk berupa buku cerita ini adalah pakar ahli dan guru kelas atas yaitu guru kelas V SD. Uji validasi produk ini merupakan tindak lanjut dari desain buku cerita anak yang sudah dibuat oleh peneliti.Validasi oleh pakar berupa penilaian secara kuantitatif dan juga komentar. Hasil validasi produk oleh pakar nantinya akan dijadikan dasar untuk merevisi buku cerita anak agar lebih layak digunakan dalam uji coba terbatas.
3.4.2 Uji Validasi Produk melalui Uji CobaLapangan
Buku cerita yang telah divalidasi dan direvisi selanjutnya diuji validasi melalui uji coba lapangan.Uji coba lapangan merupakan hal penting untuk mengetahui kelayakan produk pengembangan.Uji coba terbatas ini dilakukan pada siswa kelas V sebagai subjek penelitian.Uji coba ini dilakukan oleh delapan siswa dengan melihat – lihat dan membaca buku cerita, serta memahami makna dari buku cerita.Di akhir uji coba, siswa diminta mengisi kuesioner berkaitan dengan produk buku tersebut. Hasil kuesioner ini yang akan digunakan peneliti untuk merevisi produk agar menghasilkan produk akhir yang layak digunakan.
3.5 Teknik PengumpulanData
Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk mendapatkan data, dengan teknik tertentu (Sugiyono, 2010: 308).Teknik pengumpulan data terdiri dari tes dan non tes.Penelitian pengembangan ini menggunakan teknik non tes.Jenis kuesioner dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup.Yaitu responden tinggal memilih jawaban – jawaban yang sudah disediakan oleh peneliti. Responden tidak boleh memberikan jawabanya secara bebas.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dam kuisioner.Wawancara dilakukan untuk mendapatkan survey kebutuhan.Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas IV dan V SD N IV Baturetno. Data kemudian dianalisis untuk mendapatkan informasi mengenai pemberian sebuah materi pendidikan seks kepada anak SD kelas atas serta kebutuhan buku bacaan pendidikan seks yang seperti apa yang cocok. Teknik pengumpulan data seperti kuisioner bertujuan untuk membantu peneliti dalam melakukan revisi atas buku pendidikan seks tersebut.Teknik non tes digunakan untuk melihat perkembangan pemahaman tentang pendidikan seks siswa.
3.5.1 Wawancara
Wawancara merupakan kegiatan untuk mendapatkan berbagai informasi melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada narasumber. Wawancara memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk memperoleh informasi berkaitan dengan situasi atau kondisi tertentu, melengkapi hasil dari penyelidikan ilmiah, dan memperoleh data untuk mempengaruhi situasi tertentu (Arifin, 2009: 158). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara langsung.Peneliti menggunakan wawancara langsung karena pada pelaksanaannya peneliti berhadapan langsung dengannarasumber.
3.5.2 Kuisioner
Kuesioner atau angket adalah alat penilaian yang menyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis (Jihad, 2012:70). Kuesioner merupakan alat untuk mengumpulkan dan mencatat data atau informasi, pendapat, dan paham dalam hubungan kausal (Arifin, 2009:166).Peneliti menggunakan bentuk kuesioner yang berstruktur dengan bentuk jawaban tertutup tetapi menggunakan alternatif jawaban diberikan secara terbuka.Hal ini karena dalam kuesioner validator dapat memberikan komentar, tanggapan dan saran yang dapat digunakan oleh peneliti untuk merevisi produk yang divalidasi.
3.6 Intrumenpenelitian
Penelitian pengembangan menggunakan instrument penelitian berupa daftar pertanyaan, wawancara dan kuisioner. Daftar pertanyaan wawancara digunakan untuk memperoleh informasi untuk menganalisis kebutuhan terhadap buku cerita anak berbasis pendidikan seks
3.6.1 Intrumen PengumpulanData 3.6.1.1 PedomanWawancara
Pedoman wawancara digunakan oleh peneliti untuk memperoleh acuan dalam melakukan sebuah wawancara dengan guru kelas atas. Wawancara dilakukan bertujuan untuk mengetahui kesulitan dalam proses pemberian pendidikan untuk anak kelas atas. Peneliti melakukan wawancara guru kelas IV dan V untuk mengetahui situasi dan kondisi awal siswa yang berkaitan dengan pendidikan seks yang dibutuhkan oleh guru ketika akan memberikan pendidikan seks kepada anak kelas atas. Soal wawancara terdiri dari 6 pertanyaan ,peniliti juga mengumpulkan informasi mengena hasil wawancara untuk mengembangkan buku cerita anak berbasis pendidikan seks. Berikut ini adalah pedoman pertanyaan wawancara.
Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara
Apakah pendidikan seks perlu diberikan di SD?
3
Apakah ibu/bapak merasa kesulitan saat memberikan materi pendidikan seks di kelas?
4
Apakah anak-anak mendapat pendampingan pembelajaran seks di rumah?
5
Apakah Bapak/Ibu guru membutuhkan sebuah media untuk membantu siswa dala memberikan materi pendidikan seks?
6 Buku seperti apa yang dibutuhkan?
3.6.1.2 Kuesioner
Kuesioner digunakan peneliti sebagai acuan dalam merevisi produk menjadi lebih baik.
Peneliti menggunakan kuesioner dalam proses validasi baik oleh pakar, guru kelas atas yaitu kelas V SD, maupun siswa kelas atas yaitu kelas V SD sebagai subjek penelitian. Kuesioner ini berisi penilaian terhadap produk yang dibuat oleh peneliti.Dalam kuesioner terdapat pernyataan- pernyataan yang disesuaikan dengan spesifikasi produk yang dikembangkan serta kolom untuk mengisi komentar dan saran bagi peneliti.Pertanyaan pada kuesioner ini sesuai dengan kebutuhan peneliti dalam melakukanpenelitian.
Indikator untuk mengembangkan kuesioner telah dikonsultasikan dengan pakar ahli bahasa indonesia dan psikologi. Indikator yang terpenting adalah tentang bahasa yang sesuai
dengan anak SD kelas atas, gambar untuk anak SD kelas atas, konten pendidikan yang sesuai dengan anak SD kelas atas.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Pakar dan Guru
Indikator Deskriptor Nomor
Item
Desain dan pengorganisasian
1. Kelengkapan komponen dalam bukucerita. 1 2. Tampilan fisik dari uku ceritamenarik. 2
3. Kelengkapan bukucerita. 3
4. Keruntutan bukucerita. 4
5. Kemudahan untukdipahami. 5
Kebahasaan dan isi
6. Tampilan fisik huruf dan gambar buku ceritamenarik.
6
7. Penggunaan bahasa tulis yangbaik. 7
8. Memuat materi pendidikanseks. 8
9. Memuat 3 tahap belajar (konkret, semi konkret,abstrak).
9
10. Pemberian ilustrasi yang dapat membantu siswa dalam memahami materi.
10
Tujuan dan pendekatan
11. Buku cerita sesuai dengan kondisi lingkungan siswa.
11
Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Siswa
Indikator Deskriptor
Nomor Item
Bahasa tulis
1. Penggunaan bahasa yang mudahdipahami. 1 2. Kejelasan ukuran dan jenishuruf. 2
Desain dan pengorganisasian
3. Petunjuk buku cerita mudahdipahami. 3
4. Tampilan gambar/fotomenarik. 4
5. Mempermudah siswa dalam mempelajari pendidikanseks
5
Tujuan dan 6. Membuat siswa paham dengan pendidikanseks 6
pendekatan 7. Membuat siswa aktif dalammembaca 7 8. Membuat siswa termotivasi dalammembaca. 8 9. Membuat siswa senang dan berminat
dalammembaca.
9
10. Buku cerita sesuai dengan kondisi lingkungan siswa
10
3.7 Teknik AnalisisData
Data penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif, dengan penjelasan sebagai berikut.
3.7.1 DataKualitatif
Data kualitatif ini diambil pada saat wawancara dan uji validasi.Data kualitatif ini berupa hasil wawancara, komentar, dan saran yang dikemukakan oleh pakar dan guru kelas V SD sebagai validator.Data dianalisis dan dibandingkan sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengetahui kelayakan produk yang dihasilkan.
3.7.2 DataKuantitatif
Data berupa skor dari penilaian oleh pakar dan guru kelas V SD, dan siswa kelas V SD.
Data yang dianalisis sebagai dasar dari hasil penilaian kuesioner diubah menjadi data interval.Skala penilaian terhadap buku Cerita yang dikembangkan yaitu sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2) dan sangat kurang baik (1). Skor yang sudah didapat kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima dengan acuan menurut Widoyoko (2009: 238) sebagai berikut:
Tabel 3.4 Konversi Data Kuantitatif Ke Data Kualitatif Skala Lima
Interval Skor Rerata Skor Kategori
X > Xi + 1,80 Sbi >4,2 Sangat baik
Rerataideal(Xi) : 1 (skor maksimal ideal+skor minimalideal)
2
Simpangan bakuideal(SBi) : 1 (skor maksimal ideal-skor minimalideal)
6
X : Skoraktual
Berdasarkan rumus konversi di atas perolehan data kualitatif dilakukan dengan menerapkan rumus konversi sebagai berikut:
Skor kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.
Jawaban :
Kategorisangatbaik = X >X i + 1,80SBi
= X > 3 + (1,80 . 0,67)
= X > 3 + (1,2)
= X > 4,2
Kategoribaik = X i + 0,60SBi < X ≤ X i +1,80SBi
= 3 + (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (1,80 . 0,67)
= 3 + (0,40) < X ≤ 3 + (1,2)
= 3,40< X ≤ 4,2
Kategoricukupbaik = X i - 0,60SBi < X≤ X i +0,60SBi
= 3 - (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (0,60 . 0,67)
= 3 – (0,40) < X≤ 3 + (0,40)
= 2,60< X≤ 3,40
Kategorikurangbaik = X i - 1,80SBi < X≤ X i -0,60SBi
= 3 - (1,80 . 0,67) < X ≤ 3 - (0,60 . 0,67)
= 3 - (1,2) < X ≤ 3 - (0,40)
= 1,8< X ≤ 2,60
Kategori sangatkurangbaik = 𝑋 ≤ X i –1,80SBi
= X ≤ 3 - (1,80 . 0,67)
= X ≤ 3 - (1,2)
= X ≤ 1,8
Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala lima. Hasil dari penghitungan skor masing-masing validasi yang dilakukan akan dicari rerata skor perolehannya, kemudian dikonversikan dari data kuantitatif ke data kualitatif dalam kategori tertentu seperti yang tertera pada tabel kriteria skor skala lima.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 AnalisiKebutuhan
Langkah pertama yang digunakan peneliti dalam melakukan pengembangan buku cerita anak ini adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan ini dilakukan berdasarkan apa yang sudah disususun dengan langkah-langkah yang ada di bab III. Peneliti melakukan analisis kebutuhan dengan cara melakukan sebuah wawancara. Wawancara tersebut dilakukan di SD Negeri VI Baturetno, Kec. Baturetno,Kab.Wonogiri. sebuah wawancara ini akan
Langkah pertama yang digunakan peneliti dalam melakukan pengembangan buku cerita anak ini adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan ini dilakukan berdasarkan apa yang sudah disususun dengan langkah-langkah yang ada di bab III. Peneliti melakukan analisis kebutuhan dengan cara melakukan sebuah wawancara. Wawancara tersebut dilakukan di SD Negeri VI Baturetno, Kec. Baturetno,Kab.Wonogiri. sebuah wawancara ini akan