• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.4.1 Penelitian mengenai Tekstil

Maryadi (2007) menganalisis pertumbuhan investasi sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terhadap perekonomian Indonesia dengan menggunakan analisis Input-Output. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan industri yang penting dalam mendorong sektor hulunya, hal tersebut dapat dilihat dari nilai keterkaitan ke depan dan nilai kepekaan penyebarannya yang lebih dari satu. Disamping itu juga industri TPT tersebut mampu mendorong sektor-sektor lainnya dari penyediaan output, pendapatan dan tenaga kerja yang dilihat dari efek multiplier dan analisis investasi khususnya bagi industri TPT itu sendiri.

Firdaus (2007) menganalisis daya saing dan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia di pasar Amerika Serikat khususnya untuk komoditi tekstil pakaian jadi, kain dan benang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan penawaran ekspor Indonesia yang dicerminkan oleh kekuatan daya saing dari TPT Indonesia masih dibawah kekuatan daya saing TPT Cina. Dari hasil analisis Constant Market Share, terlihat bahwa efek daya saing pakaian jadi, kain lembaran dan benang Indonesia lebih rendah dari efek daya saing pakaian. Daya saing secara komparatif untuk komoditi pakaian jadi Indonesia lebih baik dibanding komoditi pakaian jadi Cina, hal ini disebabkan ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Namun, untuk komoditi lain dan benang Cina lebih memiliki keunggulan komparatif. Dalam jangka panjang, penurunan ekspor pakaian jadi Indonesia ke

Amerika Serikat disebabkan oleh peningkatan harga domestik dan nilai tukar, sedangkan peningkatan ekspor pakaian jadi disebabkan oleh peningkatan harga ekspor dan pemberlakuan kebijakan penghapusan kuota. Perkembangan ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat dalam jangka panjang tidak dipengaruhi oleh tingkat produksinya. Dalam jangka panjang, penurunan ekspor kain dan benang disebabkan oleh peningkatan produksi dan nilai tukar rupiah. Peningkatan ekspornya disebabkan oleh peningkatan harga ekspor, harga domestik dan pemberlakuan kebijakan penghapusan kuota.

Mulyani (2007) juga menganalisis dampak restrukturisasi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) terhadap kinerja perekonomian Jawa Barat dengan menggunakan analisis Input-Output. Hasil analisis menunjukkan industri TPT merupakan sektor yang mempunyai koefisien penyebaran paling tinggi dimana sektor industri TPT memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya atau meningkatkan output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input sektor industri TPT. Sektor industri TPT memiliki nilai kepekaan penyebaran kurang dari satu yang dapat diartikan bahwa industri TPT kurang mampu dalam mendorong produksi sektor hilirnya yang menggunakan input dari sektor industri TPT. Sektor industri TPT dikatakan kurang mampu mendorong pertumbuhan sektor hilirnya karena produk dari sektor TPT cenderung dikonsumsi langsung oleh rumah tangga. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa industri TPT merupakan industri yang mampu meningkatkan pertumbuhan, hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien penyebaran sektor hulunya, selain itu industri TPT merupakan industri padat karya dimana

memiliki nilai multiplier tenaga kerja yang besar sehingga lebih mampu mempengaruhi peningkatan penyerapan tenaga kerja.

2.4.2 Penelitian mengenai Perdagangan Intra ASEAN

Napitupulu (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi aliran perdagangan beras Intra ASEAN. Hasil yang diperoleh dari usaha pengumpulan informasi secara deskriptif bahwa beras menjadi bahan pangan utama disetiap negara ASEAN dan pemerinntah setempat merumuskan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk mencapai kondis ketahanan pangan. Swasembada beras dicapai Indonesia pada tahun 1984, Vietnam pada tahun 1987, Filipina pada tahun 1978, dan Kamboja pada tahun 1995. Thailand, Indonesia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina memiliki produksi beras yang lebih besar daripada konsumsi domestiknya. Sedangkan Brunei Darussalam dan Malasyia mengalami defisit. Dari hasil chow test, analisis gravity model menggunakan metode fixed effect dengan estimasi GLS. R2 yang diperoleh 49,57 persen. Faktor yang berpengaruh nyata pada taraf 5 persen yaitu GDP negara asal impor, populasi negara tujuan impor, konsumsi beras negara asal impor, konsumsi beras negara tujuan impor dan nilai tukar terhadap USD negara tujuan impor.

Selanjutnya, Anisa (2004) juga menganalisis mengenai faktor yang mempengaruhi perdagangan bilateral intra ASEAN dengan menggunakan gravity model khususnya pada enam negara anggota ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malasyia, Singapura, Filipina dan Thailand. Hasil yang diperoleh dari analisis bersama seluruh anggota adalah variabel GDP, populasi, dan jarak mempengaruhi perdagangan bilateral negara-negara anggota ASEAN. Hasil uji

Chow test memberikan hasil bahwa pada periode sebelum dan sesudah krisis pengaruh faktor-faktor tersebut pada perdagangan bilateral intra-ASEAN berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Meskipun faktor-faktor yang mempengaruhi masing-masing negara berbeda, secara simultan seluruh faktor- faktor tersebut berpengaruh pada perdagangan bilaterla intra-ASEAN masing- masing negara.

2.4.3. Penelitian mengenai Gravity Model

Analisis aliran perdagangan komoditas karet alam Indonesia dan faktor- faktor yang mempengaruhinya di negara tujuan (kasus lima negara tujuan ekspor utama) diteliti oleh Sinaga (2007) dengan menggunakan Gravity model sebagai model kuantitatif. Dalam penelitian tersebut, disusun enam variabel penduga yaitu GDP negara tujuan, populasi negara tujuan, jarak dengan negara tujuan, nilai tukar USD terhadap mata uang negara tujuan, konsumsi karet sintesis negara tujuan, dan nilai ekspor produk ban negara tujuan. Hasil yang diperoleh dari negara tujuan utama adalah sektor industri negara tujuan berperan besar dalam pembentukan GDP negara tersebut. Hal ini terlihat dari pemasukan sektor industri negara tujuan terhadap GDP yaitu: Amerika Serikat sebesar 20,4 persen, Jepang sebesar 25,8 persen, Cina sebesar 47,8 persen, Singapura sebesar 33,9 persen dan Jerman sebesar 29,6 persen. Nilai R2 yang menunjukkan goodness of fit dari gravity model yang dibentuk adalah sebesar 66,8 persen yang berarti faktor terbesar yang mempengaruhi ekspor karet alam Indonesia ke negara tujuan adalah variabel GDP negara tujuan dan nilai ekspor produk ban negara tujuan.

Yunita (2006) selanjutnya meneliti analisis faktor-faktor yang mempengaruhi aliran perdagangan biji kakao Indonesia dengan menggunakan gravity model dengan persamaan tunggal. Variabel dependen yang digunakan adalah volume ekspor biji kakao Indonesia menurut negara tujuan, sedangkan variabel independen meliputi GDP per kapita negara tujuan, populasi negara tujuan, jarak antara negara Indonesia dengan negara tujuan, harga biji kakao Indonesia di negara tujuan, nilai tukar mata uang negara tujuan terhadap Dollar Amerika dan kualitas biji kakao Indonesia. Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh R-Sq (adj) sebesar 69,1 persen, yang berarti bahwa 69,1 persen perubahan volume ekspor biji kakao Indonesia dapat diterangkan oleh variasi peubah-peubah bebas dalam model, sedangkan sisanya diterangkan oleh faktor- faktor lain yang tidak terdapat dalam model. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel-variabel bebas dalam model berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Dengan kata lain, semua variabel bebas dapat menjelaskan variasi perubahan volume ekspor biji kakao Indonesia ke negara- negara tujuan.

Pulungan (2006) meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi aliran perdagangan arang tempurung kelapa Indonesia. Analisis ini menggunakan metode kuantitatif denga menggunakan gravity model dengan persamaan tunggal. Berdasarkan hasil regresi terhadap gravity model yang disusun diperoleh koefisien determinasi R2 sebesar 72,8 persen yang berarti 72,8 persen perubahan volume ekspor arang tempurung kelapa Indonesia dapat diterangkan oleh variasi peubah- peubah bebas dalam model, sedangkan sisanya diterangkan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat dalam model. Dari hasil uji statistik diperoleh bahwa hanya

ada tiga variabel yang berpengaruh nyata pada taraf 5 persen atau signifikan pada tingkat kepercayaan 95 persen terhadap volume ekspor arang tempurung kelapa Indonesia.

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Pada bab ini akan dijelaskan teori-teori yang melandasi penelitian ini dalam sub bab kerangka pemikiran teoritis dan alur pemikiran penulis mengenai topik penelitian ini dalam sub bab kerangka pemikiran operasional. Pada bab ini juga akan diulas mengenai hipotesis-hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini, dimana hipotesis tersebut menjadi jawaban sementara dari permasalahan yang kebenarannya akan diuji secara empiris.

3.1Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Perdagangan Internasional

Perdagangan merupakan suatu proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak yang melakukan pertukaran. Kesediaan kedua belah pihak untuk bertransaksi akan menimbulkan keinginan masing-masing pihak semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya agar dapat bersaing di pasar global. Selain itu, perdagangan internasional juga dapat digunakan untuk membantu dalam menjelaskan arah serta komposisi perdagangan antar dua atau lebih negara serta bagaimana dampaknya terhadap perekonomian negara tersebut.

Perdagangan internasional juga merupakan kegiatan memperdagangkan output barang-barang dan jasa, yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk dari negara lain (Deliarnov, 1995). Perdagangan internasional juga dapat diartikan sebagai pertukaran barang dan jasa yang terjadi melampaui batas-batas negara. Perdagangan internasional sangat diperlukan untuk

mendapatkan manfaat yang dimungkinkan oleh spesialisasi. Masing-masing negara akan memproduksi barang dan jasa yang dapat dilakukan secara efisien, sementara negara tersebut akan berdagang dengan negara lain untuk memperoleh barang dan jasa yang diproduksinya (Lipsey, 1997). Adam smith dalam Hady (2004) menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional (gain from trade) karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak serta mengimpor barang yang tidak ada keunggulan mutlak di negara tersebut.

Gonarsyah dalam Sinaga (2007) mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan internasional yaitu:

1. Adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara.

2. Tidak semua negara menghasilkan komoditi yang diperdagangkan. 3. Adanya perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditi tertentu.

Selanjutnya Salvatore (1997) mengemukakan bahwa pada dasarnya model perdagangan internasional harus berlandaskan empat hubungan utama sebagai berikut:

1. Hubungan antara batas-batas kemungkinan produksi dengan kurva penawaran relatif.

2. Hubungan antara harga-harga relatif.

3. Penentuan keseimbangan dunia dengan penawaran relatif dunia dan permintaan relatif dunia.

4. Dampak-dampak atau pengaruh nilai tukar perdagangan (terms of trade) yakni harga ekspor dari suatu negara dibagi dengan harga impornya terhadap kesejahteraan suatu negara.

Menurut Deliarnov (1995), keuntungan yang dapat diperoleh dari aktivitas perdagangan internasional yaitu pertama, apa saja yang tidak bisa dihasilkan dalam negeri, sekarang bisa dinikmati dengan jalan mengimpornya dari negara lain. Kedua, perdagangan luar negeri memungkinkan dilakukannya spesialisasi sehingga barang-barang bisa dihasilkan secara lebih murah karena lebih cocok dengan kondisi negara tersebut, baik dari segi bahan mentah maupun cara berproduksi. Ketiga, negara yang melakukan perdagangan luar negeri dapat memproduksi lebih besar daripada yang dibutuhkan pasar dalam negeri.

A Dx E B Sx Ekspor D P1 P3 P2 B* A* Impor E’ B’ Px/Py Px/Py Panel B Hubungan Perdagangan Internasional dalam Komoditi X Panel C Pasar di Negara 2 untuk komoditi X A” Sx A’ P3 S E* Panel A Pasar di Negara 1 untuk komoditi X Px/Py Dx

Gambar 1. Analisis Keseimbangan Parsial Aliran Perdagangan

X 0 X 0 X

Gambar 1 memperlihatkan proses terciptanya harga komoditi relatif ekuilibrium dengan adanya perdagangan, ditinjau dari analisis keseimbangan parsial. Kurva Dx dan kurva Sx dalam panel A dan C pada Gambar 1, masing- masing melambangkan kurva permintaan dan kurva penawaran untuk komoditi X di Negara 1, dan Negara 2. Sumbu vertikal pada ketiga panel tersebut mengukur harga-harga relatif untuk komoditi X (Px/Py, atau jumlah komoditi Y yang harus dikorbankan oleh suatu negara dalam rangka memproduksi satu unit tambahan komoditi X). Sedangkan sumbu horizontalnya mengukur kuantitas komoditi X.

Panel A pada Gambar 1 memperlihatkan bahwa dengan adanya perdagangan internasional, Negara 1 akan mengadakan produksi dan konsumsi di titik A berdasarkan harga relatif komoditi X sebesar P1, sedangkan Negara 2 akan berproduksi dan berkonsumsi dititik A’ berdasarkan harga relatif P3. Setelah hubungan perdagangan berlangsung di antara kedua negara tersebut, harga relatif komoditi X akan berkisar antara P1 dan P3 seandainya kedua negara tersebut cukup besar (kekuatan ekonominya). Apabila harga yang berlaku di atas P1, maka Negara 1 akan memasok atau memproduksi komoditi X lebih banyak daripada tingkat permintaan (konsumsi) domestik.

Kelebihan produksi itu selanjutnya akan diekspor (lihat panel A) ke Negara 2. Di lain pihak jika harga yang berlaku lebih kecil dari P3, maka Negara 2 akan mengalami peningkatan permintaan sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada produksi domestiknya. Hal ini akan mendorong Negara 2 untuk mengimpor kekurangan kebutuhannya atas komoditi X itu dari Negara 1 (lihat panel C).

Keseimbangan perdagangan internasional tersebut dipengaruhi oleh GDP, populasi, jarak dan nilai tukar. Perubahan variabel-variabel tersebut dapat menyebabkan pergeseran kurva penawaran dan kurva permintaan di setiap negara dan di dunia. Oleh karena itu akan dipaparkan perubahan yang akan terjadi akibat beberapa perubahan dari faktor diatas baik di negara pengekspor maupun di negara pengimpor.

GDP (Gross Domestik Product) merupakan total pendapatan nasional suatu negara. GDP suatu negara juga dapat diartikan sebagai ukuran kapasitas untuk memproduksi komoditi ekspor negara tersebut. Terjadinya perubahan

variabel GDP pada negara pengekspor dan negara pengimpor akan memberikan dampak yang berbeda pada keseimbangan. Dampak dari perubahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2, dimana pada negara asal impor atau negara pengekspor, GDP menggambarkan kapasitas ekonomi negara tersebut dalam memproduksi suatu komoditi. Apabila GDP negara pengekspor meningkat maka kapasitas produksinya juga akan meningkat yang mengakibatkan supply komoditi tersebut juga meningkat, dimana dalam hal ini komoditi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Peningkatan supply menggeser kurva penawaran negara pengekspor ke arah kanan (S → Sx’). Dengan bergesernya kurva supply tersebut, maka keseimbangan negara pengekspor terjadi pada titik A’. Excess supply meningkat dari B-E menjadi B-F. Dengan demikian, ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) negara pengekspor meningkat dan excess supply Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di pasar dunia juga meningkat sehingga terjadi pergeseran kurva excess supply dunia ke arah kanan dari kurva ES menjadi ES’. Dengan keseimbangan E* dan ED yang tetap, excess supply yang terjadi di pasar dunia bertambah. Hal ini mendorong keseimbangan turun dari E* menjadi E**, sehingga harga TPT pasar dunia turun menjadi B**. Penurunan harga TPT dunia ini mendorong negara importir untuk meningkatkan impor TPT-nya dari B’-E’ menjadi B”-E”.

0 0 A’ Dx P3 X ES Dx Pasar Dunia Sx Negara Pengimpor Komoditi TPT Px Px Negara Pengekspor Komoditi TPT B’ B’’ E’ E’’ Impor X X ED ES’ Ekspor S x’ Sx B* B** A* A A’ B E F E* E** A’’ P3 P2 P1 0

Gambar 2. Dampak Peningkatan GDP Negara Pengekspor terhadap Keseimbangan Perdagangan Internasional

Sumber : Salvatore dalam Napitupulu (2007)

Dampak perubahan GDP negara importir terhadap keseimbangan perdagangan internasional ditunjukkan pada Gambar 3. Pada negara importir, terjadinya peningkatan GDP menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan masyarakat di negara tersebut. Adanya peningkatan pendapatan tersebut akan meningkatkan permintaan terhadap suatu komoditi, yang dalam hal ini komoditi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Peningkatan tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran kurva demand negara pengimpor menjadi Dx’, sehingga keseimbangan berubah menjadi A’’. Pada titik A’’, jumlah excess demand bertambah dari B’-E’ menjadi B’-E’’. Peningkatan jumlah impor menyebabkan kurva excess demand TPT di pasar dunia juga bergeser ke kanan menjadi ED’. Excess demand TPT di pasar dunia semakin besar, sehingga mendorong harga untuk naik. Keseimbangan baru terjadi pada titik E** pada tingkat harga TPT di pasar dunia menjadi B**. Peningkatan harga dunia tersebut memberikan insentif bagi negara eksportir untuk meningkatkan ekspor TPT-nya. Peningkatan ekspor terjadi dari titik B-E menjadi

B*-E*. Kondisi keseimbangan di atas terbentuk setelah terjadinya peningkatan GDP negara importir yaitu peningkatan aliran perdagangan TPT di pasar dunia.

0 Dx P3 X 0 X Impor A A’’ Dx’ Px Negara Pengimpor Komoditi TPT Sx Ekspor E* ES E** E’’ E’ B’ ED ED’ A* B** B* A E* E B* B Dx Sx Px Negara Pengekspor Komoditi TPT A’’ P3 Px Pasar Dunia P2 P1 X 0

Gambar 3. Dampak Peningkatan GDP Negara Pengimpor terhadap Keseimbangan Perdagangan Internasional

Sumber : Salvatore dalam Napitupulu (2007)

Untuk faktor populasi, peningkatan populasi di negara pengekspor akan meningkatkan ketersediaan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi. Semakin bertambahnya populasi, maka bertambah pula tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi TPT. Produksi TPT meningkat, cateris paribus, penawaran meningkat dan menggeser kurva supply negara pengekspor ke kanan menjadi Sx’ (Gambar 2). Peningkatan ini menyebabkan terjadinya peningkatan excess supply TPT dunia. Selanjutnya, proses yang sama berlangsung seperti yang terdapat pada uraian perubahan faktor GDP di atas. Peningkatan populasi di negara pengekspor akan meningkatkan jumlah ekspor TPT dunia dengan harga yang lebih rendah dari harga yang terbentuk sebelum terjadi perubahan GDP tersebut. Demikian halnya, dengan dampak yang diberikan apabila terjadi peningkatan populasi di negara pengimpor. Peningkatan populasi di negara pengimpor menjadi faktor yang berkaitan erat dengan permintaan, dimana hal ini

berarti akan terjadi peningkatan demand TPT negara pengimpor. Kurva excess demand TPT dunia akan bergeser ke kanan menjadi Dx’ (Gambar 3). Selanjutnya, proses yang sama terjadi seperti pada peningkatan GDP negara pengimpor, maka keseimbangan berada pada harga yang lebih tinggi dari harga keseimbangan sebelumnya dengan jumlah ekspor dan impor yang meningkat.

Faktor jarak, dimana jarak antara dua negara berimplikasi pada munculnya biaya transportasi atau biaya pengangkutan dari titik produksi ke titik konsumsi. Biaya ini memiliki pengaruh langsung yang sangat besar terhadap perubahan harga maupun jumlah komoditi yang diperdagangkan, baik bagi negara pengekspor maupun bagi negara pengimpor. Semakin jauh jarak antara dua negara, maka semakin besar biaya transportasi yang dibutuhkan untuk memperdagangkan suatu komoditi tersebut. Sebaliknya, semakin dekat jarak antar negara semakin kecil pula biaya transportasinya.

Gambar 4 menunjukkan bahwa ketika belum terjadi perdagangan internasional, Negara 1 sebagai negara asal komoditi X memiliki keseimbangan antara permintaan (sisi konsumsi) dan penawaran (sisi produksi) di titik A pada harga relatif sebesar P1. Negara 2 memproduksi dan mengkonsumsi komoditi X di titik A’ pada tingkat harga relatif sebesar P3 yang nilainya lebih besar dari harga relatif komoditi X di Negara 1 (P3 > P1). Adanya perbedaan harga inilah yang menjadi pendorong terjadinya perpindahan komoditi X dari Negara 1 ke Negara 2 (timbulnya perdagangan). Hubungan perdagangan antara Negara 1 dan 2 akan berdampak pada harga komoditi X yang akan berkisar antara P1 dan P3 (P1 < P < P3). Pada tingkat harga relatif di bawah P3 akan meningkatkan permintaan dalam negeri di Negara 2, dimana produksi dalam negeri di Negara 2 tidak akan mampu

memenuhi peningkatan permintaan tersebut. Peningkatan permintaan tersebut akan ditutupi dengan impor dari Negara 1. Sementara itu, pada tingkat harga relatif di atas P1 akan mendorong peningkatan produksi dalam negeri di Negara 2 yang mengakibatkan terjadinya kelebihan penawaran. Selanjutnya, kelebihan penawaran inilah yang diekspor ke Negara 2. Sehingga terjadi keseimbangan yang baru bagi kedua negara setelah perdagangan, yang diperlihatkan oleh perpotongan fungsi permintaan D dan fungsi penawaran S dititik E*.

Dengan demikian, harga P2 merupakan harga relatif keseimbangan untuk komoditi X setelah perdagangan internasional berlangsung. Akan tetapi, jarak yang memisahkan kedua negara mengindikasikan adanya biaya transportasi untuk membawa komoditi X dari Negara 1 ke Negara 2. Adanya biaya transportasi akan mempengaruhi penawaran ekspor dan secara langsung dinyatakan dalam fungsi penawaran yang bergeser ke kanan atas (dari S ke S’). Sehingga keseimbangan permintaan dan penawaran komoditi X pada perdagangan internasional dengan adanya biaya transportasi karena faktor jarak berada pada titik E’.

Gambar 4. Analisis Parsial atas Biaya Transportasi Sumber: Salvatore dalam Napitupulu (2007)

Px/Py

Px/Py Bagian 1 Px/Py Bagian 2 Bagian 3

SII P3 S’ SI S A’’ A’ E’ B P4 B1 B E P2 P1 DI A A* D E* B’ DII X X X X1 X2 Pasar di Negara 1 untuk Komoditi X

Hubungan Perdagangan Internasional komoditi X dengan adanya biaya transportasi

Pasar di Negara 2 untuk Komoditi X

Nilai tukar perdagangan dari suatu negara merupakan rasio harga komoditi ekspornya terhadap harga komoditi impornya. Apabila kondisi penawaran dan permintaan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, maka kurva keseimbangan parsial aliran perdagangan akan mengalami pergeseran. Pergeseran kurva keseimbangan parsial akan menyebabkan volume dan nilai tukar perdagangan dari negara yang bersangkutan juga mengalami perubahan.

Kondisi nilai tukar seperti terdepresiasinya mata uang suatu negara misalnya rupiah terhadap USD merupakan faktor yang dapat menyebabkan pergeseran kurva penawaran ke kanan. Terdepresiasinya rupiah terhadap USD membuat harga Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia relatif lebih murah sehingga mendorong terjadinya peningkatan jumlah penawaran ekspor. Mekanisme pengaruh perubahan nilai tukar terhadap ekspor dapat dilihat pada Gambar 5. Apabila di negara A terjadi depresiasi nilai tukar yang diperlihatkan dengan terjadinya penurunan nilei tukar e1 → e2. Penurunan nilai tukar yang terjadi menyebabkan terjadinya peningkatan output pada kurva IS. Peningkatan output ini terjadi disebabkan adanya peningkatan ekspor bersih seperti yang ditunjukkan pada gambar perpotongan keynesian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan nilai tukar (depresiasi) menyebabkan terjadinya peningkatan ekspor. Peningkatan ekspor yang terjadi tidak menyebabkan terjadinya penggeseran kurva supply negara pengekspor melainkan hanya menggeser dengan slope yang berbeda (SW1). Perpotongan SW1 dengan DW menghasilkan harga dunia yang lebih rendah. Turunnya harga dunia memberikan insentif negara importir untuk meningkatkan impornya seperti yang terlihat pada gambar impor meningkat dari m1m2 menjadi m3m4.

Kurs, e Kurs, e NX Y2 Y1 Pengeluaran aktual NX E Pengeluaran x4 x1 x2 x3 NX1 NX2 (Ekspor bersih) DA SA (Output) e1 e2 e1 e2 Y2 Y1 Pw DW SW SW1 DB SB m4 m1 m2 m3 Q Q1

Negara Pengekspor Perdagangan Internasional Negara Pengimpor Gambar 5. Dampak depresiasi Mata uang Negara Eksportir terhadap USD pada

Keseimbangan Perdagangan Internasional

Perdagangan bebas (free trade) dilakukan untuk memaksimalkan output dunia dan keuntungan bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Namun dalam

Dokumen terkait