• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Perubahan Kerjasama Ekonomi ASEAN

ASEAN (Association of Southeast Asia Nations) yang berdiri sejak tanggal 8 Agustus 1967, awalnya memiliki jumlah perdagangan yang sangat kecil. Negara-negara yang bergabung dalam kerjasama regional ini, akhirnya menyadari bahwa peningkatan perdagangan harus dimulai terlebih dahulu dari wilayah mereka sendiri. Pada tahun 1977, negara-negara anggota ASEAN menyepakati kerjasama ekonomi Preferential Trade Arrangement (PTA) yang memberikan preferensial tarif bagi ekonomi ASEAN.

PTA merupakan pengaturan perdagangan yang dibentuk oleh negara- negara yang sepakat dalam menurunkan hambatan-hambatan perdagangan yang berlangsung di antara negara-negara anggota ASEAN dan membedakannya dengan yang diberlakukan terhadap negara-negara lain yang bukan anggota. Pengaturan ini merupakan kerjasama ekonomi yang cukup longgar dalam rangka peningkatan volume perdagangan di ASEAN.

Pengaturan perdagangan tersebut ternyata kurang berhasil dalam meningkatkan volume perdagangan di negara-negara ASEAN. Akhirnya pada tahun 1992, masing-masing negara anggota menyepakati pembentukan AFTA (Asean Free Trade Area) yaitu kawasan perdagangan bebas. Tujuan dari kerjasama ini adalah dalam rangka meningkatkan daya saing dan volume perdagangan di pasar dunia. AFTA merupakan bentuk integrasi ekonomi dimana

semua hambatan perdagangan tarif maupun non tarif di antara negara-negara anggota telah dihilangkan sepenuhnya. Pada tahun awal, pelaksanaan kerjasama AFTA tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. AFTA memberikan manfaat yang besar dalam perdagangan negara-negara ASEAN secara penuh. ASEAN mampu menurunkan hampir semua tarif di antara negara- negara anggotanya melalui kesepakatan CEPT-AFTA (Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ).

Keberhasilan dalam pelaksanaan AFTA dirasakan tidaklah cukup dalam meningkatkan integrasi ekonomi bagi negara-negara ASEAN. Pada tahun 2003, diadakan sidang ASEAN kesembilan di Bali dalam rangka memperluas kesepakatan kerjasama ekonomi ASEAN untuk membentuk Komuniti Ekonomi ASEAN (AEC) yang pelaksanaannya akan dilakukan pada tahun 2020.

2.3 Gravity Model

Model gravitasi adalah salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk mengestimasi berapa besarnya nilai barang yang keluar dan masuk di suatu wilayah. Gravity model pertama kali dikembangkan oleh Tinberger (1962) dan Poyhonen (1963) untuk menjelaskan perdagangan bilateral oleh mitra dagang pada GNP dan jarak geografi antar negara (Jayangsari, 2006). Secara fisik, gravity model didasarkan pada peramalan potensi perdagangan melalui variabel jarak, GDP, dan populasi dari negara tersebut.

Penelitian oleh Helliwell dalam Napitupulu (2007) menyatakan bahwa gravity model juga dapat digunakan untuk menyelidiki apakah perbatasan memiliki efek untuk menghalangi perdagangan. Penelitian tersebut juga

menemukan bahwa aliran perdagangan antar provinsi di Kanada jauh lebih besar daripada aliran perdagangan antar provinsi tersebut dengan Amerika Serikat, dimana jarak dan masa ekonomi menjadi bahan pertimbangan.

Pemikiran mendasar yang menjadi argumen yang melatarbelakangi pemakaian gravity model adalah bahwa negara yang lebih besar dan kaya akan lebih banyak melakukan perdagangan luar negeri bila dibandingkan dengan negara yang kecil dan miskin (Sinaga, 2007). Dengan adanya pengaruh dari jarak, namun bukan sebagai hambatan. Sesuai dengan perumusan Newton terhadap model gravitasi fisika yaitu “interaksi antara dua objek adalah sebanding dengan massanya dan berbanding terbalik dengan jarak masing-masing”.

G x Mi x Mj Fij =

Dij

Dengan F adalah volume aliran perdagangan, M adalah ukuran ekonomi untuk kedua negara, D adalah jarak kedua negara dan G adalah konstanta. Menggunakan logaritma, persamaan di atas diubah kedalam bentuk linear untuk analisis ekonometrik menjadi :

Log (Aliran perdagangan bilateral) = α + β1 Log (GDP negara 1) + β2 Log (GDP negara 2) + β3 Log (Jarak) + ε

(dimana konstanta G menjadi bagian dari α)

Secara umum persamaan gravity model adalah sebagai berikut: Log Xij = b0 + b1 log Yj + b2 log Pj + b3 log Dij + eij

Dimana:

Xij = Volume Komoditas yang diperdagangkan dari negara i ke negara j Yj = GDP negara j

Pj = Jumlah populasi negara j

Dij = Economic Distance antar negara i dengan negara j

Pada penerapannya dalam perdagangan antar negara, bentuk model ini disusun oleh tiga jenis variabel utama, yang terdapat pada setiap gravity model untuk aliran perdagangan bilateral yaitu:

1. variabel-variabel yang memiliki total permintaan potensial negara pengimpor,

2. variabel-variabel indikator total penawaran potensial negara pengekspor. 3. variabel-variabel pendukung atau penghambat aliran perdagangan antar

negara pengekspor dan negara pengimpor (Sinaga, 2007).

2.3.1 GDP (Gross Domestic Product)

Gross Domestic Product(GDP) merupakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional pada output barang dan jasa. GDP mengukur nilai produk yang dihasilkan di suatu wilayah suatu negara, termasuk kegiatan orang atau perusahaan asing tetapi tidak termasuk kegiatan produksi di wilayah negara lain (Napitupulu, 2007). GDP sering dianggap sebagai cerminan kinerja ekonomi. GDP juga diartikan sebagai perekonomian total dari setiap orang di dalam perekonomian.

GDP sebagai salah satu variabel utama dalam analisis aliran perdagangan gravity model menunjukkan besarnya kemampuan perekonomian suatu negara, dimana semakin besar GDP yang dihasilkan suatu negara semakin besar pula kemampuan negara tersebut untuk melakukan perdagangan (Sinaga, 2007). Bagi negara eksportir, GDP semakin besar akan meningkatkan ekspor komoditi negara

tersebut, dan bagi negara importir, semakin besar GDP, juga akan meningkatkan impor komoditi negara tersebut sehingga besarnya GDP yang dimiliki negara eksportir maupun negara importir akan mempengaruhi besarnya volume perdagangan (Napitupulu, 2007).

2.3.2 Populasi

Populasi merupakan jumlah penduduk yang terdapat di suatu wilayah. Jumlah penduduk yang dimiliki oleh suatu negara mempengaruhi besarnya kebutuhan negara tersebut terhadap komoditas perdagangan yang ditunjukkan dengan meningkatnya tingkat permintaan suatu komoditi. Pertumbuhan penduduk di negara tujuan ekspor akan menyebabkan peningkatan kebutuhan yang ditunjukkan dalam peningkatan permintaan. Peningkatan permintaan tersebut terlihat dari pergeseran kurva permintaan negara tujuan ekspor sehingga terjadi excess demand di pasar internasional yang akan mendorong meningkatnya harga komoditi tersebut.

Pertumbuhan penduduk juga akan mengurangi jumlah ekspor karena sebahagian dari produksi telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik sehingga mengakibatkan terjadinya kekurangan supply di pasar internasional. Dampak yang ditimbulkan oleh pertumbuhan penduduk juga ditentukan oleh besarnya peningkatan produksi karena pertambahan sumberdaya tenaga kerja, karena penduduk merupakan tenaga kerja sebagai faktor produksi.

2.3.3 Jarak

Jarak merupakan faktor geografi yang menjadi variabel utama gravity model untuk aliran perdagangan. Jarak yang digunakan dalam penelitian ini adalah jarak ekonomi (Economic Distance), dimana jarak ekonomi ini dapat diartikan sebagai jarak geografis antar ibukota negara-negara ASEAN dikalikan dengan share GDP suatu negara (i) terhadap total GDP ASEAN. Penggunaan jarak ekonomi ini disebabkan bahwa jarak yang sama antar negara (contohnya antara negara C-D memiliki jarak yang sama dengan negara E-F) belum tentu memiliki aliran perdagangan yang sama. Selain itu, jarak geografis antara ibukota negara-negara ASEAN sepanjang tahun 2002-2006 tidak berubah atau konstan. Kondisi tersebut yang menyebabkan jarak geografis saja tidak dapat digunakan dalam melihat faktor jarak terhadap aliran perdagangan, akan tetapi dapat dilihat dari share GDP-nya yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Variabel jarak dapat berpengaruh positif dan dapat berpengaruh negatif artinya tidak selamanya jarak berpengaruh negatif terhadap aliran perdagangan yaitu semakin jauh jarak antara dua negara maka aliran perdagangan akan semakin kecil diantara negara tersebut. Apabila jarak berpengaruh positif maka faktor GDP menjadi faktor yang lebih dominan daripada jarak geografis dalam mempengaruhi perdagangan. Demikian sebaliknya, apabila jarak berpengaruh negatif maka jarak geografis lebih dominan dalam mempengaruhi aliran perdagangan.

Dokumen terkait