• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Terdahulu

Dalam dokumen ANALISIS PEMASARAN SALAK (Halaman 32-36)

II. KERANGKA PEMIKIRAN 6

2.2 Penelitian Terdahulu

dikurangi agar tidak menghambat produksi tanaman induk. Jumlah anakan yang ditolerir adalah 3-4 buah anakan pada satu rumpun.

Pasa satu area kebun salak diperlukan 4-10 persen pohon jantan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah penyerbukan. Proses penyerbukan itu sendiri dapat terjadi karena bantuan serangga (alami) atau dengan rekayasa bantuan manusia.

Pemupukan tanaman salak dapat dilakukan dengan aplikasi pupuk kandang/kompos maupun dengan pupuk buatan. Untuk aplikasi pukan/kompos diperlukan dosis 10-20 kg per lubang pemupukan. Lubang pemupukan tersebut digali diantara tanaman dalam satu larikan (dalam jarak 2 m), dan dapat diulang dalam jangka waktu dua tahun sekali.

Tanaman salak hasil cangkok, pada umur 2-3 tahun sudah bisa panen.

Sedangkan untuk tanaman hasil pembibitan secara generatif pada umur 4 tahun baru bisa panen. Tanaman salak yang dirawat dengan baik dapat memiliki tiga masa panen sebagai berikut: (1) Panen besar : November-Februari, (2) Panen sedang : Mei-Agustus, (3) Panen kecil : Maret-Oktober.

Peremajaan tanaman salak sedikit sangat berbeda dengan tanaman lain.

Pada tanaman salak yang diremajakan adalah akarnya bukan batangnya.

2.2. Penelitian Terdahulu

Agustin (1996) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Keragaan Pemasaran Jambu Mete. Studi kasus di Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta” dengan tujuan mempelajari sistem pemasaran jambu mete di Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, yang

meliputi perilaku pasar dan keragaan pasar beserta masalah-masalah yang terjadi, serta upaya untuk meningkatkan efisiensi pemasaran jambu mete dari tingkat petani produsen sampai ke tingkat konsumen pasar lokal. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa terdapat empat pola pemasaran jambu mete, yaitu (1) Petani ke Pedagang Pengumpul Desa (PPD) ke Pedagang Pengumpul Kecamatan (PPK) ke Pedagang Pengumpul Kabupaten (PPKab) ke Pengolah Besar. (2) Petani ke PPD ke PPKab ke Pengolah Besar. (3) Petani ke Pengolah Kecil. (4) Petani ke PPD ke PPK ke Pengolah Kecil. Dari keempat pola pemasaran tersebut, pola pemasaran satu mendominasi aliran produksi jambu mete gelondong untuk sampai ke pengolah, yakni digunakan oleh 48,52 persen populasi. Apabila dilihat struktur pasarnya, maka secara umum sistem pemasaran jambu mete tersebut masih dihadapkan pada struktur pasar oligopsoni, akibatnya dalam mekanisme penentuan harga, petani selalu berada pada posisi yang lemah atau dalam hal ini petani bertindak sebagai price taker. Jika dilihat dari total marjin pemasaran, pola pemasaran tiga mempunyai total marjin terendah (35,24 persen) dengan bagian harga yang diterima petani adalah yang terbesar (64,76 persen), sedangkan pola satu dan empat merupakan pola pemasaran dengan marjin terbesar (50,48 persen) dengan bagian harga yang diterima petani terkecil (49,52 persen). Jika dilihat dari keuntungan lembaga pemasaran dan petani yang terlibat dalam proses pemasaran, maka pola satu merupakan pola yang memberikan keuntungan terkecil pada semua lembaga pemasaran dan petani, sedangkan pola tiga merupakan pola pemasaran yang memberikan keuntungan terbesar bagi lembaga pemasaran dan petani. Sehingga jika dilihat dari total marjin, keuntungan lembaga pemasaran dan harga yang diterima petani jambu mete gelondong,

menunjukkan bahwa pola pemasaran satu merupakan pola pemasaran yang paling tidak efisien.

Ramakrishna (1999) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Sistem Pemasaran serta Pendapatan Usahatani Salak Bali dan Salak Gula Pasir dari daerah Sentra Produksi” dengan tujuan penelitian mempelajari saluran pemasaran buah Salak Bali dan Salak Gula Pasir dari daerah sentra produksinya, serta mempelajari fungsi dan efisiensi lembaga pemasaran yang terlibat di dalamnya, dan mempelajari dampak perbandingan musim panen Salak Bali dan Salak Gula Pasir terhadap buah-buahan lainnya. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa saluran pemasaran Salak Bali terbagi menjadi tiga, yaitu (1) Petani ke Konsumen. (2) Petani ke Tengkulak ke Pedagang Pengumpul ke Pedagang Penyalur Antar Kota ke Pedagang Pengecer ke Konsumen. (3) Petani ke Pedagang Pengumpul ke Pedagang Penyalur Antar Pulau ke Pedagang Grosir ke Pedagang Pengecer ke Konsumen. Sedangkan saluran pemasaran untuk Salak Gula Pasir yaitu (1) Petani ke konsumen (2) Petani ke Pedagang Pengumpul Desa ke Konsumen. Jika dilihat dari struktur pasarnya, struktur pasar Salak Bali di pasar-pasar lokal adalah pasar-pasar bersaing sempurna, dimana harga ditentukan oleh jumlah petani dan jumlah pembeli, disamping juga dipengaruhi oleh harga buah-buahan lain pada masing-masing musim panennya. Sedangkan harga Salak Gula Pasir cenderung konstan (tidak dipengaruhi oleh harga buah-buahan lainnya) baik saat panen raya atau pada bulan-bulan lainnya, karena produksi Salak Gula Pasir yang masih rendah.

Fitria (2004) dalam penelitiannya yang berjudul “Sistem Pemasaran Pisang. Kasus di Desa Mekargalih, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten

Cianjur, Propinsi Jawa Barat” dengan tujuan penelitian menganalisis sistem pemasaran pisang di daerah penelitian, lembaga pemasaran yang terlibat dan fungsi yang dilakukan masing-masing lembaga pemasaran, dan menganalisis tingkat efisiensi pemasaran melalui analisis struktur pasar berupa perilaku pasar, saluran pemasaran dan efisiensi pemasaran. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah: saluran pemasaran buah pisang terbagi menjadi empat. (1) Petani ke Sub Terminal Agribisnis (STA) ke Pedagang Grosir Luar Kota ke Pedagang Pengecer Luar Kota ke Konsumen. (2) Petani ke Pedagang Pengumpul Desa (PPD) ke Pedagang Bandar ke Pedagang Grosir Luar Kota ke Pedagang Pengecer Luar Kota ke Konsumen Luar Kota. (3) Petani ke PPD ke Pedagang Bandar ke Pedagang Pengecer Dalam Kota ke Konsumen Dalam Kota. (4) Petani ke Pedagang Pengecer Desa ke Konsumen. Struktur pasar yang terjadi pada petani, PPD dan pedagang pengecer adalah oligopsoni sempurna, sedangkan pada pedagang Bandar, STA dan pedagang grosir adalah oligopoli. Dalam penentuan harga antara petani dan pedagang berdasarkan tawar-menawar, namun petani tetap sebagai penerima harga. Sistem pembayaran yang terjadi adalah sistem pemabayaran tunai dan dihutang atau dibayar kemudian. Kerjasama antar lembaga pemasaran berdasarkan atas kepercayaan kedua belah pihak. Efisiensi pemasaran pisang pada penelitian tersebut dapat tercapai jika saluran pemasaran yang dipakai adalah saluran pemasaran empat karena memiliki marjin pemasaran yang terendah, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya tertinggi.

Kaban (2004) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Pemasaran Kentang (Solanum tuberosum). Studi Kasus di Desa Margamulya, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat” dengan tujuan

mengetahui saluran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur dan perilaku pasar kentang dari petani di Desa Margamulya sampai ke konsumen akhir, dan menganalisis efisiensi pemasaran yang terjadi pada rantai pemasaran kentang dari sentra produksi sampai pasar konsumsi. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa proses pemasaran kentang mulai dari petani hingga konsumen akhir melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu petani, pedagang pengumpul, bandar, bandar besar, pedagan grosir, pedagang semi grosir, swalayan dan supermarket, industri Indofood, dan pedagang pengecer. Jika dilihat dari karakteristik pelaku pasar, maka dapat disimpulkan bahwa pasar yang dihadapi cenderung mengarah pada pasar persaingan tidak sempurna. Sementara perilaku pasar dalam penentuan harga antara petani dengan pedagang berdasar tawar-menawar, namun petani tetap sebagai penerima harga, dengan sistem pembayaran yang terjadi adalah tunai dan tidak tunai.

Dalam dokumen ANALISIS PEMASARAN SALAK (Halaman 32-36)

Dokumen terkait