BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
2) Penelusuran Informasi
Dalam memenuhi kebutuhan informasi, seseorang akan berusaha ke sumber-sumber informasi yang tersedia. Informasi yang amat beragam mengharuskan seseorang mengharuskan tiap individu untuk dapat memilih sumber informasi yang tepat agar dapat memenuhi kebutuhan informasinya. Lalu bagaimana para informan dapat memilih sumber yang tepat untuk memenuhi kebutuhan informasinya?
Seperti yang di ungkapkan oleh Ahmun, Anhas, Anper, Maul, dan Sorbi bahwa sumber informasi yang paling sering digunakan ialah dengan internet. Menurut pendapat Anper sumber informasi dengan menggunakan internet lebih mudah serta fleksibel. Hampir semua informasi yang dibutuhkan, selalu mencarinya lewat internet.
“..wah kalo soal akses informasi jangan ditanya ya kita sama-sama tau kalo sekarang ini lebih banyak orang menggunakan akses informasi melalui internet. Dengan kemampuannya yang fleksibel mempermudah bagi siapa saja dalam menelur informasi secara cepat, tepat, dan hemat waktu...” (Anper)
“..saya mengandalkan tiga media utama sebagai sumber informasi diantaranya internet, televisi, serta radio saya jarang membaca surat kabar (koran) dikarenakan era teknologi yang berkembang pesat ini menjadikan kita lebih mudah mengakses informasi berita terkini melalui internet tanpa harus berlangganan koran..” (Ahmun)
“...internet untuk mencari informasi dan perkembangan terkini, apalagi fitur yang disediakan pada gadget handphone genggam, untuk mengakses bursa efek tiap detiknya ada digenggam tangan kita..” (Anhas)
Dalam melakukan penulusuran mereka biasanya menggunakan search engine sebagai alat bantu. Sorbi mengaku terkadang menggunakan pencarian khusus atau yang disebut Advance search dalam melakukan penulusuran pada saat sulit mencari informasi yang ia butuhkan. Selain melalui media internet ia juga mengaku bahwa sumber
informasi yang dibutuhkannya adalah buku, televisi, dan koran. Hal seperti yang dilakukan oleh banyak orang yang menggunakan sumber informasi bersifat pengetahuan umum. Begitu pula dengan kelima informan lainnya kurang lebih sama.
“...kalo saya gak nemu informasi yang saya cari pada google itu mungkin karena saya salah memasukan kata kunci atau pencarian yang saya lakukan tidak melalui pencarian khusus atau yang biasa disebut advance search itu yaa...” (Sorbi)
Untuk mencari informasi di internet, kita membutuhkan alat bantu agar dapat melakukan penelusuran. Biasanya alat bantu yang digunakan adalah search engine (mesin pencari). Dari semua informan mengungkapkan bahwa mereka lebih sering menggunakan dua search engine yaitu google dan Yahoo.
“Untuk pencarian yang sederhana hanya dengan menggunakan search engine biasanya langsung ketemu. google atau yahoo sih seringnya ya...” (Maul)
“...saya sering berjam-jam kalo udah didepan internet, saya lebih sering menggunakan google sebagai search engine. Kalo untuk penyampaian materi perkuliahan didalam kelas saya sering juga mengakses gambar-gambar...” (Anper)
“...ketika saya mencari informasi melalui google atau yahoo begitu banyak hasil yang ditemukan saya akan beralih menggunakan pencarian khusus...” (Ahmun)
Mereka menggunakan alat bantu tersebut karena memang sudah terkenal dan sudah terbiasa. Seseorang dapat dikatakan melek informasi bila dapat menggunakan alat bantu pencarian dengan pertimbangan atas pemahaman dan pengetahuan mereka mengenai search engine tersebut.
Menurut ALA, pengetahuan mengenai search engine atau sistem temu kembali akan sangat membantu dalam menyusun strategi penulusuran atau pencarian efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan setiap sistem database memiliki keunikan tersendiri.
Padahal untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, dengan cepat dan tepat kita harus dapat mengetahui lebih banyak tentang internet. Karena selain search engine google masih banyak search engine lain (ask, altavista, dogpile, dll) yang dapat dijadikan alat bantu. Ataupun saat kita ingin memanfaatkan jurnal ilmiah kita dapat memanfaatkan database e-journal. Hal ini pun diakui oleh beberapa informan dalam melakukan penelusuran di internet mereka masih kalah dengan mahasiswa-mahasiwa mereka sendiri.
Selain internet, diharapkan dosen sebagai bagian dari komunitas kampus dapat memanfaatkan sumber-sumber lain. Perpustakaan merupakan salah satu sarana sumber yang dapat digunakan dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Dalam hal ini beberapa dosen sudah memanfaatkan perpustakaan dengan baik, seperti yang diungkapkan oleh Maul dan Anhas. Mereka mengungkapkan bahwa selain internet ia memanfaatkan media perpustakaan untuk mencari informasi. Walau internet masih menjadi andalan utamanya dalam mengakses informasi namun menelusur informasi melalui perpustakaan juga tak kalah signifikan ungkapnya. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan Maul dan Anhas terhadap perpustakaan tidak ditinggalkan begitu saja seiring
tumbuh pesatnya kemajuan teknologi yang memudahkan siapa saja dalam mengakses informasi.
“Perpustakaan dan internet menjadi andalan utama saya dalam mengakses informasi yang saya butuhkan walau sekarang-sekarang ini lebih sering menggunakann internet, perpustakaan juga gak terlalu ketinggalan jaman kok...” (Maul)
“...perpustakaan lumayan sering saya gunakan fasilitasnya, saya nulis buku, saya ikutin perkembangan buku...” (Anhas)
Lain halnya dengan Ahmun dan Anper, mereka mengaku malas serta jarang untuk memanfaatkan perpustakaan. Anggapan mereka bahwa internet merupakan sarana yang paling memudahkan kebutuhan informasinya.
“...jujur kalo saya jarang sekali ke perpustakaan karena saya tidak betah duduk berjam-jam untuk mengumpulkan informasi diluar dari meja kerja saya...” (Ahmun)
“Perpustakaan online.. makanya sebenarnya saya jarang banget ke perpustakaan.. tiap waktu saya ke perpustakaan paling ngadem baca majalah sambil nunggu jadwal makan siang atau mengisi perkuliahan didalam kelas. Itu pun saya lakukan kalau memang sedang lagi bebas waktu.. Habis kalo buku saya lebih suka beli sih, kalo pinjam-pinjam suka repot pada saat mengembalikannya, yang kelupaanlah, yang ketinggalan pada sudah ingat-lah.. jadi enakan beli sekaligus nambah- nambahin koleksi buku dirumah...” (Anper)
Selain itu alasan yang diungkapkan oleh Anper adalah kurang praktisnya melakukan peminjaman buku diperpustakaan dikarenakan sudah terbiasa dengan hal yang serba instan disajikan oleh internet. Proses peminjaman dan pengembalian buku ia anggap agak merepotkan serta menyita waktu. Hal ini ia ungkapkan dengan lebih sering menggunakan fasilitas perpustakaan online. Hal ini telah mengubah
paradigma terhadap perpustakaan dan dibutuhkan satu pemahaman serta pengetahuan apa itu perpustakaan. Bilamana dari dosennya sudah tidak ada kesan yang baik terhadap perpustakaan bagaimana mereka dapat memberi sumber rujukan yang tepat kepada mahasiswanya. Selain itu, hal ini juga menghambat adanya kerja sama antara pustakawan dan dosen dalam menciptakan suatu komunitas universitas yang melek informasi.
Sorbi, Anhas dan Maul yang tergolong lebih literate karena menggunakan perpustakaan dan internet menjadi sumber informasi dalam memenuhi kebutuhannya terhadap informasi. Mereka menyesuaikan dengan konteks informasi yang akan dicari.
Dosen-dosen masih sedikit mengalami hambatan dalam melakukan akses informasi dengan media internet. Hambatan yang dirasakannya adalah kurangnya kecepatan akses internet yang telah disediakan. Mereka mengaku dengan adanya fasilitas dari kampus yang menyediakan internet disetiap kelas memudahkan mereka dalam mencari informasi, namun keterbatasan bandwith yang belum dapat mengakomodir akses internet dengan kecepatan tinggi menjadi hambatan utama. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ahmun dan Anper yang mengatakan bahwa akses internet yang disediakan masih lambat. Hal ini menghambat Ahmun dalam melakukan penelusuran informasi. Karena kebutuhan Ahmun lebih banyak menggunakan berbagai macam informasi yang berbentuk animasi. Karena Ahmun mengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi, ia lebih banyak menampilkan gambar-gambar serta video untuk mempresentasikan materi perkuliahan didalam kelasnya. Begitu juga dengan Anper yang lebih banyak membutuhkan animasi bergambar
dalam memberikan penjelasan kepada mahasiswa. Anper sebagai dosen mata kuliah Pengantar Bisnis mengakui membutuhkan banyak informasi bergambar agar memudahkan penyerapan informasi guna mengimplementasikan bahan ajar.
“...butuh bandwith yang besar dalam mengakses informasi.. kecepatan internet penting...” (Ahmun)
“...menggunakan media gambar bahkan video dalam meberikan informasi yang tepat sesuai dengan bahan ajar saya agar menarik perhatian...” (Anper)
Kemampuan dosen STIE Bina Bangsa dalam mengakses internet tergolong menguasai sekedar untuk mencari dan mengumpulkan informasi. Dosen-dosen pun lumayan maksimal dalam memanfaatkan internet sebagai media komunikasi seperti email contohnya. Misalnya dalam meminta rekan atau dosen dari kampus lain mengirimkan jurnal- jurnal yang tak dapat mereka akses di kampus mereka sendiri.
Hanya saja kemampuan menelusur informasi hendaknya harus ditunjang dengan keterampilan dasar tentang pemberdayaan perpustakaan. Hal ini dikarenakan selain harus dapat mengakses sumber- sumber elektronik, individu yang melek informasi harus juga dapat secara efektif mengakses sumber informasi yang tercetak. Sumber- sumber informasi yang tercetak misalnya buku, majalah, jurnal tercetak, dll. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu sarana kampus yang cukup banyak menyediakan informasi tersebut.
Dari jawaban yang diberikan oleh para informan, hampir semua memanfaatkan internet sebagai sarana informasi. Akan tetapi perlu diingat kembali sumber informasi yang dapat dieksplor bukan hanya internet. Seseorang yang melek informasi juga harus dapat memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu sarana yang dapat dijadikan sumber informasi untuk memenuhi berbagai kebutuhan informasi3. Tetapi disayangkan dari informan yang diwawancarai hanya beberapa saja yang menjadikan perpustakaan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan informasi.
b. Pemanfaatan Informasi
Selain informasi dapat dilihat sesuatu yang relevan terhadap pembelajaran dan suatu pencapaian dalam pendidikan dan kehidupan, pemanfaatan informasi dapat dilihat sebagai bagian dari pondasi untuk dapat belajar sepanjang hayat. Lalu bagaimana para dosen memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kompetensi mereka?
Dalam kaitannya dengan kompetensi profesionalisme dosen, pemanfaatan informasi dapat dilakukan dalam beberapa hal sesuai dengan kebutuhan. Dosen berperan sebagai perancang perkuliahan, pengelola perkuliahan, penilai hasil perkuliahan peserta didik, pengarah perkuliahan dan pembimbing peserta didik, dapat mengembangkan materi perkuliahan yang tempuh secara kreatif, dapat mengembangkan materi perkuliahan yang ditempuh sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, dapat mengolah materi perkuliahan yang ditempuh secara efektif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Seperti hal yang
3
Hanna Latuputty. Informatin Literacy in Indonesia : a challange to make a brighter future. Presentasi Seminar Ikatan Pustakawan ke 10 (2006)
dilakukan oleh Ahmun, Anper, Anhas, Sobri, dan Maul. Kemudian seorang dosen harus dapat mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus menerus, memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan, melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan, mengikuti perkembangan zaman dengan belajar dari pelbagai sumber. Seperti yang dilakukan oleh Anhas, ia melakukan tindakan reflektif dengan cara nyata yaitu membagikan angket.
“Saya terkadang membagikan angket pada mahasiswa berisikan pertanyaan apa yang kamu butuhkan dari kedua orang tuamu, 3 hal yang dibutuhkan supaya memicu kualitas perkuliahan yang intensif serta prestasi, apa yang kamu butuh dari dosenmu, dan apa yang kamu butuh dari teman-temanmu.. pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan menggali keperibadian individu mereka..” (Anhas)
Namun berbeda dengan informan lain yang melakukan tindakan reflektif hanya secara informal. Ahmun, Anper, Sobri, dan Maul cenderung melakukan pemanfaatan informasi untuk peningkatan efektivitas pengajaran mereka dalam pengajaran.
“...bagaimana cara kita mencari informasi lalu mengolahnya dan menyampaikannya kepada orang lain kita sebarkan kepada mahasiswa yang lain agar mereka memperoleh informasi yang serupa dengan yang saya cari ataupun saya temukan...” (Ahmun)
“...dalam penyampaian yang saya berikan maka dari itu dalam mempresentasikan informasi tersebut tidak jarang saya menggunakan media gambar bahkan video dalam meberikan informasi yang tepat sesuai dengan bahan ajar saya agar menarik perhatian...” (Anper)
“Nah kalo untuk tugas mahasiswa saya tidak membatasi hanya penggunaan internet saja, namun jika mereka ingin mengutip dari dalam buku pun saya persilahkan bahkan lebih baik menurut saya.. apalagi untuk tugas kelompok untuk mereka presentasikan didalam kelas, saya lebih senang jika mereka mengutip dari buku ketimbang dari internet yang sumbernya kadang suka tidak jelas...”
(Sorbi))
Hal yang terpenting dari literasi informasi adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan informasi yang didapat sebaik mungkin. Informasi yang sudah didapatkan dapat kita olah dengan menggabungkan pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya. Ada berbagai cara untuk mengolah informasi menjadi suatu produk baru, misalnya dengan membuat karya atau tulisan lain. Hal ini sudah dilakukan oleh semua informan namun yang membedakan hanya kuantitas karya yang dihasilkan. Selain itu, informasi akan lebih berguna jika informasi dapat disebarluaskan kepada forum atau kelompok. Salah satu standar individu yang literate adalah individu yang dapat melakukan suatu diskusi dalam suatu kelompok, atau milis untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan subjek yang sedang dibahas. Dalam hal ini juga sudah mulai melakukan dengan sesama guru walaupun sifatnya informal. Seperti yang diungkapkan oleh Maul bahwa ia cenderung melakukan ceramah dalam menyampaikan materi lalu membentuk kelompok diskusi dalam penyampaian materi yang sedang di bahas.
“...Dari hal-hal tersebut inti dari perkuliahan saya lebih cenderung kepada ceramah untuk memperdalam materi yang saya sampaikan, lalu diskusi didalam kelas dapat berbentuk kelompok yang nantinya tiap kelompok dapat memberi penilaian terhadap kelompok yang lain...” (Maul)
Menurut standar ACRL (Academic College of Research Liberaries) seseorang yang melek informasi mengaplikasikan informasi yang lama dengan apa yang didapat untuk membuat suatu konsep baru atau mengembangkan dasar pengetahuan. Selain itu orang yang melek informasi dapat membandingkan dan
menyatukan pemahaman baru dengan pengetahuan lama untuk menemukan satu nilai tambah dalam suatu informasi, kontradiksi, atau keunikan lain dari suatu informasi. Selain itu dapat mengkomunikasikan pengetahuan baru dan pemahan baru secara efektif. Seseorang yang melek informasi dapat dapat menemukan apakah informasi itu memuaskan, ataukah ada informasi lain yang dibutuhkan dan apakah yang ada itu bertolak belakang dengan melakukan verifikasi informasi menggunakan sumber yang lain, menyadari hubungan dekat antar konsep dan dapat menggambarkan kesimpulan bedasarkan dengan informasi yang telah terkumpul.
c. Evaluasi Informasi 1) Evaluasi Perkuliahan
Dosen yang baik akan selalu melakukan evaluasi perkuliahan yang telah dilakukan secara berkala. Evaluasi yang dilakukan tidak harus selalu dari pihak kampus atau formalitas penilaian, namun evaluasi yang dimaksud adalah untuk dosen sendiri sebagai individu dalam menjalankan perannya sebagai dosen. Dengan perannya sebagai dosen apakah sudah menjalankan profesinya tersebut dengan baik. Lalu bagaimana para dosen dalam melakukan evaluasi pada perkuliahan mereka?
Anhas selalu mengevaluasi dirinya sebagai dosen. Hal yang dilakukannya untuk mengevaluasi adalah membagikan angket pada mahasiswanya. Angket-angket yang diberikan adalah utuk mengetahui sejauh mana mahasiswanya memahami materi yang disampaikannya serta kebutuhan apa yang diperlukan oleh mahasiswanya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Namun hal ini tidak selalu dilakukan oleh Anhas, ia
melakukan ini bilamana baru diawal perkuliahan bilamana antusias peserta didik terlihat menurun.
“dari jawaban yang mereka berikan malahan menambah referensi saya.. saya harus tau psikologi mahasiswa yang mengikuti kelas saya, paling tidak dari apa yang kamu butuhkan itu kalimat lain dari kendala apa yang kamu alami..” (Anhas)
Berbeda dengan Maul yang memiliki catatan khusus untuk para mahasiswanya yang memiliki problem dalam menghadapi pengajaran di kelasnya. Terutama dengan hal yang menyangkut pada penilaian afektif dan kognitif mereka di dalam kelas, dosen tersebut tidak menginginkan kesalahan dalam memberikan nilai yang sesuai dengan apa yang harusnya para mahasiswanya dapatkan sesuai dengan prestasi mereka.
“Jika saya kedapatan mahasiswa yang protes pada nilai mereka yang tidak lulus, saya memiliki catatan khusus guna mengingatkan kesalahan yang telah mereka lakukan dan akan menunjukan kepada mereka sebagai remind\er penyebab kesalahan mereka..” (Maul)
Sedangkan Sorbi, Ahmun lebih cenderung lebih sering mengevaluasi pada hal-hal yang berkaitan dengan materi perkuliahan sebagai bahan pengajarannya.
“untuk hal-hal yang berkaitan dengan evaluasi materi ajar yang saya berikan pada perkuliahan, saya lebih sering menggunakan e-book sebagai isi bahan ajar sebagai rujukan ataupun mengakses jurnal-jurnal online yang terdapat di internet...” (Sorbi)
“...berhubung media komputer yang lebih sering saya gunakan dalam penyampaian materi ajar perkuliahan terkadang memang perlu sedikit metode ceramah, tetapi untuk menggali pemahaman lebih cenderung melakukan praktek langsung..” (Ahmun)
2) Merencanakan Perkuliahan
Merencanakan perkuliahan di kelas merupakan salah satu usaha dari dosen agar kegiatan perkuliahan yang terjadi di kelas berlangsung efektif. Perencanaan perkuliahan yang dilakukan disesuaikan dengan materi yang akan dibahas.
Ahmun, Anper, dan Sorbi selalu mencari informasi yang berbentuk video, gambar, dan animasi agar dapat memberikan penjelasan yang logis dari suatu peristiwa atau fenomena. Beberapa informasi dengan bentuk animasi ia dapatkan dari internet dan dikumpulkan dalam satu bagian. Kemudian informasi mengenai gejala dan fenomena alam serta suatu peristiwa yang berkaitan dengan materinya ia kumpulkan dan disajikan di depan kelas melalui alat bantu proyektor. Menurut mereka hal ini memudahkan mereka mengimplementasikan materi yang disampaikan.
“...pada saat ini saya lebih seringnya sih menyampaikan materi menggunakan visual video ataupun animasi, kalo video yang bertepatan dengan materi saya sampaikan tidak ada di youtube saya akan buat animasi sendiri menggunakan powerpoint dengan gambar-gambar yang saya kumpulkan...” (Ahmun)
“untuk saya pribadi menarik perhatian audiens itu wajib hukumnya jika menyampaikan materi didalam kelas, karena jika sudah tidak diperhatikan berarti ada yang kurang menarik dalam penyampaian yang saya berikan maka dari itu dalam mempresentasikan informasi tersebut tidak jarang saya menggunakan media gambar bahkan video dalam meberikan informasi yang tepat sesuai dengan bahan ajar saya agar menarik perhatian...” (Anper)
“untungnya kalo sekarang udah pake infokus, jadinya saya bisa nyempilin gambar-gambar atau video deh supaya ada daya tarik tersendiri dalam penyampaian materi, yah paling engga pakai power point juga udah cukup ditambah sedikit animasi, daripada saya hanya menerangkan secara verbal kan jadul banget tuh jadinya” (Sorbi)
melakukan proses perkuliahan dengan mengikuti perkembangan informasi sesuai dengan matakuliah yang ditempuh. Mereka juga sering mengaitkan fenomena yang aktual dengan materi perkuliahan yang dibahas, bahkan menyiapkan metode observasi langsung pada objek yang berkaitan diluar kelas. Biasanya mereka membuat modul untuk persiapan mereka mengajar.
“...Dalam menyampaikan materi saya melakukan metode ceramah, tanya-jawab, serta kuis, dan presentasi kelompok dalam mengulas materi yang sedang dibahas. Namun saya kalo mengajar sering kali mengaitkan dengan dunia luar, misalnya keadaan buruh pabrik, pedagang dipasar, nah untuk memberikan keterangan yang cukup signifikan biasanya saya memberikan tugas untuk mereka meneliti keadaan objek suatu tempat yang berkaitan dengan materi perkuliahan yang sedang dibahas...” (Anhas)
. “...Dengan menyampaikan materi perkuliahan menggunakan power point yang ditembak oleh proyektor saya biarkan mereka membaca dulu materi yang saya sampaikan. Baru setelah itu jika ada yang tidak mereka pahami saya biarkan mereka bertanya lalu akan saya jelaskan sedetail mungkin, namun jika tidak ada yang bertanya saya anggap mereka semua paham...” (Maul)
2. Penerapan Literasi Informasi Pada Proses Pengajaran oleh Dosen STIE Bina Bangsa
a. Penerapan Literasi Informasi dalam Proses Perkuliahan
Dalam membangun mahasiswa agar menjadi pembelajar sepanjang hayat dan individu yang mandiri bukanlah hal yang mudah namun juga tidak terlalu sulit. Hal ini membutuhkan kemampuan dosen sebagai media yang menjembatani kegiatan perkuliahan di kelas. Untuk mengetahui bagaimana informan menerapkan literasi informasi yang dilakukan adalah bertanya mengenai metode perkuliahan di kelas dan kegiatan belajar mengajar. Untuk memperkuat jawaban informan, peneliti juga melakukan observasi. Lalu bagaimana penerapan literasi dalam proses perkuliahan?
pemahaman dengan materi yang disampaikan. Sebelum melakukan diskusi ia terlebih dahulu dengan memberikan materi yang diajarkan atau bahan yang akan dijadikan diskusi. Maul mengaku bahwa ia masih menerapkan metode ceramah kelas dalam memulai suatu materi ajar. Menurutnya hal ini perlu dilakukan agar mahasiswa mengetahui lebih banyak materi yang akan didiskusikan. Selain itu, Maul juga melakukan diskusi kelompok. Kemudian setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas setelah itu barulah dilakukan penilaian yang dilakukan oleh teman sebaya (peer asessment).
“...dalam hal ini matakuliah yang saya sampaikan adalah Ilmu Budaya & Sosial. Bagi saya selazimnya pelajar pasti mendapatkan materi seperti ini di sekolah mereka sebelumnya. Hal-hal yang berkaitan pada perkuliahan saya tak jauh beda dari pengalaman mereka sehari-hari yang mereka jalani pada kehidupan mereka bersosialisasi pada masyarakat luas. Dari hal-hal tersebut inti dari perkuliahan saya lebih cenderung kepada ceramah untuk memperdalam materi yang saya sampaikan..” (Maul)
Menurut Ahmun ia lebih banyak memberi stimulasi kepada mahasiswa mengenai peristiwa dan fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Ia lebih banyak memberi contoh-contoh dalam bentuk animasi, video, maupun film agar mahasiswa dapat memahami materinya dengan baik. Karena dengan adanya visualisasi dari sebuah peristiwa mahasiswa diharapkan dapat membayangkan bagaimana sebenarnya proses dari gejala suatu kejadian yang telah terjadi ataupun