SISTEM PROTOBAHASA KABOLA, HAMAP, DAN KLON DI PULAU ALOR
7.2 Rekonstruksi Fonologi Protobahasa Kabola-Hamap (PKbHp)
7.2.1 Penemuan dan Pembuktian Protofonem PKbHp
7.2.1.3 Penemuan dan Pembuktian Protofonem Konsonan PKbHp
Penemuan dan pembuktian protofonem konsonan PKbHp: *b, *p, *m, *n, *l, *g, *k, *h, dan *t dapat dipaparkan sebagai berikut.
1) PKbHp *b (b- -b- -b) ˃ KB,Hp b Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos *bel /bel/ /bel/ ‟anjing‟
*boi /boi/ /boi/ ‟babi
*bok /bok/ /bok/ ‟badan‟
*buh /buh/ /buh/ ‟belukar‟
*buser /buser/ /buser/ ‟berbicara‟
*bat /bat/ /bat/ ‟jagung‟ *bolaŋ /bolaŋ/ /bolaŋ/ ‟bersih‟
*beh /beh/ /beh/ ‟pukul‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /b/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, letup, bilabial, dan bersuara pada posisi awal kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *b. Fonem KbHp * b
tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */b/ # -
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*babail /babail/ /babail/ ‟belalang‟
*gibir /gibir/ /gibir/ ‟demam‟
*kebakmi /kebakmi/ /kebakmi/ ‟di sebelah‟
*gotabak /gotabak/ /gotabak/ ‟gertak‟
*foi baŋ /foi baŋ/ /foi baŋ/ ‟rumah batu‟
*tei baŋ /tei baŋ/ /tei baŋ/ ‟rumah kayu‟
*ala buliŋ /ala buliŋ/ /ala buliŋ/ ‟tangkai padi‟ *tabak /tabak/ /tabak/ ’tembakau’
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /b/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, letup, bilabial, dan bersuara pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *b. Fonem KbHp* b tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */b/- # -
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos
*uwereb /uwereb/ /uwereb/ ‟dengar‟
*lub /lub/ /lub/ ‟domba‟ *kib /kib/ /kib/ ‟kambing‟ *endob /endob/ /endob/ ‟ membenarkan‟ *boŋheb /boŋheb/ /boŋheb/ ‟muda‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /b/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, letup, bilabial, dan bersuara pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *b. Fonem KbHp * b tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu, dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */b/- #
2) PKbHp *p (p- -p- -p) ˃ Kb,Hp p Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos *pituŋ /pituŋ/ /pituŋ/ ‟bambu‟ *pahine /pahine/ /pahine/ ’bisu’
*pail /pail/ /pail/ ‟ikan pari‟ *pol ai /pol ai/ /pol ai/ ’palu‟ *po’ /po’/ /po’/ ‟payudara‟
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /p/ sebagai bunyi
distingtif yang bercirikan konsonan letup, bilabial, dan tidak bersuara pada posisi awal kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *p. Fonem KbHp * p tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu, dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */p/ #-
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*gopot /gopot/ /gopot/ ‟paha‟ *sapad /sapad/ /sapad/ ‟parang‟ *tupiŋ /tupiŋ/ /tupiŋ/ ‟pinjam‟
*tapaŋ /tapaŋ/ /tapaŋ/ ’tumbuk’ *tapoŋ fa /tapoŋ fa/ /tapoŋ fa/ ‟wajah‟
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /p/ sebagai bunyi distingtif
yang bercirikan konsonan letup, bilabial, dan tidak bersuara pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *p. Fonem KbHp * p tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */p/ -#-
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos *lap /lap/ /lap/ ‟mencari‟
*mahip /mahip/ /mahip/ ‟sepat (rasa)‟ *ap /ap/ /ap/ ’kapas’
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /p/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan letup, bilabial, dan tidak bersuara pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *p. Fonem KbHp *p tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */p/- #
3) PKbHp *m (m- -m- -m) ˃ Kb,Hp m Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos
*minumi /minumi/ /minumi/ ‟bilamana‟ *mali muin /mali muin/ /mali muin/ ‟berperang‟
*mol ul /mol ul/ /mol ul/ ‟dalam (sungai)‟
*masaŋ /masaŋ/ /masaŋ/ ‟menembak‟ *midial /midial/ /midial/ ‟gerhana matahari‟ *midioŋ /midioŋ/ /midioŋ/ ‟hari ini‟
*mukun /mukun/ /mukun/ ‟gemuk‟ *mud /mud/ /mud/ ‟jeruk‟ *ma /ma/ /ma/ ‟kucing‟ *mogoi /mogoi/ /mogoi/ ‟mangga‟ */mar/ /mar/ /mar/ ‟marah‟
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /m/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan nasal, bilabial, dan bersuara pada posisi awal kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *m. Fonem KbHp *m tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */m/ #-
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*taumuŋ /taumuŋ/ /taumuŋ/ ‟berkumpul‟ *tamaebi /tamaebi/ /tamaebi/ ‟berlemak‟
*hamoaŋ /hamoaŋ/ /hamoaŋ/ ‟cepat‟
*nemaŋ fah /nemaŋ fah/ /nemaŋ fah/ ‟kulit kerang‟ *gominok /gominok/ /gominok/ ‟setia‟
*kumuk /kumuk/ /kumuk/ ’bodoh’
*namalak /namalak/ /namalak/ ‟burung merpati‟ *gumuni /gumuni/ /gumuni/ ‟ciuman‟
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /m/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan nasal, bilabial, dan bersuara pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *m. Fonem KbHp *m tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa
Kabola-Hamap. Hal itu, dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */m/ -#-
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos
*ara sam /ara sam/ /ara sam/ ‟membawa serta‟ *ahof sam /ahof sam/ /ahof sam/ ‟menyuruh (pergi)‟ *lal sam /lal sam/ /lal sam/ ‟pergi (ke luar)‟
*wom /wom/ /wom/ ’adat’
*lam /lam/ /lam/ ‟pergi‟
*doro’om /doro’om/ /doro’om/ ‟kerongkongan‟
*daom /daom/ /daom/ ‟kemenakan(laki-laki)‟ Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /m/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan nasal, bilabial, dan bersuara pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *m. Fonem KbHp *m tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu, dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */m/ -#
4) PKbHp *n (n- -n- -n) ˃ Kb,Hp n Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos
*nobo /nobo/ /nobo/ ‟badan‟ *nasam /nasam/ /nasam/ ‟berangkat‟ *naolbo /naolbo/ /naolbo/ ‟besi‟ *nifesel /nifesel/ /nifesel/ ‟bibi‟ *nome /nome/ /nome/ ‟dandang‟
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /n/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan nasal, apikodental, dan bersuara pada posisi awal kata
dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *n. Fonem KbHp *n tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu, dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */n/ #-
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos *sanele /sanele/ /sanele/ ‟dataran‟
*binaŋ to /binaŋ to/ /binaŋ to/ ‟binatang‟ *ta unuŋ /ta unuŋ/ /ta unuŋ/ ‟berkumpul‟
Data di atas memperlihatkan, bahwa fonem konsonan /n/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan nasal, apikodental, dan bersuara pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *n. Fonem KbHp * n tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu, dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */n/ -#-
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos *no’panen /no’panen/ /no’panen/ ‟kebakaran‟
*men /men/ /men/ ‟lalang (rumput)‟
*ai afain /ai afain/ /ai afain/ ‟melahirkan‟
*arahain /arahain/ /arahain/ ’memaki’ *hiu taoin /hiu taoin/ /hiu taoin/ ‟potong ayam‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /n/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan nasal, apikodental, dan bersuara pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *n. Fonem KbHp *n
tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */n/ -#.
5) PKbHp *l (l- -l- -l) ˃ Kb,Hp l Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos
*lafuruŋ /lafuruŋ/ /lafuruŋ/ ‟dukun‟ *lote /lote/ /lote/ ‟laki-laki‟ *leki /leki/ /leki/ ‟kerang‟
*laataŋ /laataŋ/ /laataŋ/ ‟keranjang‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /l/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan sampingan, bersuara, dan apikodental pada posisi awal kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *l. Fonem KbHp * l tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */l/ #-.
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*pelaŋ ei /pelaŋ ei/ /pelaŋ ei/ ‟kapal dagang‟
*ulfaŋ /ulfaŋ/ /ulfaŋ/ ‟kemarin‟ *lafat /lafat/ /lafat/ ‟kegadisan‟ *malihiŋ /malihiŋ/ /malihiŋ/ ‟lapar‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /l/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan sampingan, bersuara, dan apikodental pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *l. Fonem KbHp * l
tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */l/ -#-.
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos *ul /ul/ /ul/ ‟bulan‟
*pail /pail/ /pail/ ‟ikan pari‟
*afail /afail/ /afail/ ‟kayu api‟ *fadol /fadol/ /fadol/ ‟kelambu‟
*dul /dul/ /dul/ ‟lagu‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /l/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan sampingan, bersuara, dan apikodental pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *l. Fonem KbHp * l tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */l/ -#.
6) PKbHp *g (g- -g- -g) ˃ Kb,Hp g Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos
*gohbi /gohbi/ /gohbi/ ‟buruk‟ *gominok /gominok/ /gominok/ ‟setia‟
*noi gel /noi gel/ /noi gel/ ‟musim hujan‟ *gariaŋ /gariaŋ/ /gariaŋ/ ‟asuh‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /g/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, bersuara, dan dorsovelar pada posisi awal kata
dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *g. Fonem KbHp *g tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */g/ #-.
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*agol /agol/ /agol/ ‟keladi‟ *pigahain /pigahain/ /pigahain/ ‟berunding‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /g/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, bersuara, dan dorsovelar pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *g. Fonem KbHp *g tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */g/ -#-.
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos
*utaŋ tofag /utaŋ tofag/ /utaŋ tofag/ ‟kacang-kacangan‟
*tumo mulog /tumo mulog/ /tumo mulog/ ‟mertua‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /g/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, bersuara, dan dorsovelar pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *g. Fonem KbHp *g tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa
Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */g/ -#.
7) PKbHp *k (k- -k- -k) ˃ Kb,Hp k Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos
*kod lote /kod lote/ /kod lote/ ‟baju laki-laki‟ *kod ob /kod ob/ /kod ob/ ‟baju perempuan‟ *kadefaŋ /kadefaŋ/ /kadefaŋ/ ‟kantong/saku‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /k/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, tidak bersuara, dan dorsovelar pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *k. Fonem KbHp *k tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */k/ #-.
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*kumuke /kumuke/ /kumuke/ ‟bodoh‟ *deko /deko/ /deko/ ‟celana‟ *duke /duke/ /duke/ ’cungkil’ *parekaŋ /parekaŋ/ /parekaŋ/ ’giat‟
*biŋku /biŋku/ /biŋku/ ‟pacul‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /k/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, tidak bersuara, dan dorsovelar pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *k. Fonem KbHp *k tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa
Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */k/-#-.
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos
*apik /apik/ /apik/ ‟cubit‟ *salak /salak/ /salak/ ‟gelang‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /k/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, tidak bersuara, dan dorsovelar pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *k. Fonem KbHp *k tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */k/-#.
8) PKbHp *h (h- -h- -h) ˃ Kb,Hp h Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos
*hamoaŋ /hamoaŋ/ /hamoaŋ/ ‟cepat‟
*hele omi /hele omi/ /hele omi/ ‟dari bawah‟
*haomi /haomi/ /haomi/ ‟di sini‟
*hob /hob/ /hob/ ‟gubuk‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /h/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan geseran, tidak bersuara, dan faringal pada posisi awal kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *h. Fonem KbHp *h tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa
Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */h/#-.
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos
*gohbi /gohbi/ /gohbi/ ‟buruk‟
*se mahain /se mahain/ /se mahain/ ‟mata air *ahol /ahol/ /ahol/ ‟menerima‟
*sahoir /sahoir/ /sahoir/ ‟mengeluh‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /h/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan geseran, tidak bersuara, dan faringal pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *h. Fonem KbHp *h tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */h/-#-.
Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos
*toh /toh/ /toh/ ‟bangun‟
*tuku mih /tuku mih/ /tuku mih/ ‟berjumpa dengan‟ *soseh /soseh/ /soseh/ ‟jangan‟
*arabah /arabah/ /arabah/ ‟kesedihan‟
*bah /bah/ /bah/ ‟luka‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /h/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan geseran, tidak bersuara, dan faringal pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *h. Fonem KbHp *h tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa
Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */h/-#.
9) PKbHp *t (t- -t- -t) ˃ Kb,Hp t Posisi awal kata
PKbHp Kb Hp Glos *taŋ /taŋ/ /taŋ/ ‟laut‟
*tan yah /tan yah/ /tan yah/ ‟badai‟ *tikor /tikor/ /tikor/ ‘barat‟
*taka /taka/ /taka/ ‟curi‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /t/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, apikoalveolar, dan tidak bersuara pada posisi awal kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *t. Fonem KbHp * t tetap bertahan pada awal kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */t/ # -
Posisi tengah kata
PKbHp Kb Hp Glos *watas /watas/ /watas/ batas‟ *tatarlam /tatarlam/ /tatarlam/ „bercerai‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /t/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, apioalveolar, dan tidak bersuara pada posisi tengah kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *t. Fonem KbHp *t tetap bertahan pada tengah kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas.
Fonem-fonem tersebut direkonstruksi sebagai KbHp */t/ -#-. Posisi akhir kata
PKbHp Kb Hp Glos *dat /dat/ /dat/ ‟cucu‟
*awit /awit/ /awit/ ‟hamil‟ *tut /tut/ /tut/ ‟hangat‟
*pet /pet/ /pet/ „jambu‟
*gemen takat /gemen takat/ /gemen takat/ ‟haus‟
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem konsonan /t/ sebagai bunyi distingtif yang bercirikan konsonan hambat, apikodental, dan tidak bersuara pada posisi akhir kata dalam bahasa Kabola dan bahasa Hamap berasal dari KbHp *t. Fonem KbHp *t tetap bertahan pada akhir kata dan mengalami retensi bersama pada bahasa Kabola-Hamap. Hal itu dapat dijelaskan secara sistematis seperti pembuktian di atas. Fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksikan sebagai KbHp*/t/ - #
Dengan demikian penemuan dan pembuktian protofonem konsonan PKbHp adalah protofonem: *b, *p, *m, *n, *l, *g, *k, *h, dan *t.