• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTUAN KADAR PATI METODE LUFF SCHOORL A. Tujuan

Kadar laktosa pada susu =

D.  Mempersiapkan contoh

1. PENENTUAN KADAR PATI METODE LUFF SCHOORL A. Tujuan

Untuk menentukan kadar pati dalam bahan pangan B. Prinsip

Hidrolisis pati dengan asam sehingga diperoleh gula reduksi yang dapat ditetapkan dengan metode Luff Schrool sepert pada penetapan karbihidrat, hasilnya dikalikan dengan faktor konversi sebesar 0,9.

C. Dasar Teori

Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud  bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka  panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang  berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN ANALIS KESEHATAN

SURABAYA

JL. KARANG MENJANGAN NO. 18 A SURABAYA TELP. 031.5020718. FAX. 031.5055023

Website : www.poltekkesdepkes-sby.ac.id Email :

admin@poltekkesdepkes-sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi.

Kadar pati dari suatu bahan pangan dapat diketahui dengan menggunakan metode Luff Schoorl. Prinsip dari penetapan kadar pati dengan metode Luff Schoorl adalah gula pereduksi (glukosa dan matosa) dapat mereduksi Cu2+  menjadi Cu+. Kemudian sisa Cu2+  yang tidak tereduksi dititer secara iodometrik . Jumlah Cu2+  asli ditentukan dalam suatu percobaan  blanko dan dari penetapannya dapat ditentukan jumlah gula dalam suatu bahan pangan yang dianalisis . Oleh karena itu, dilakukan analisis kadar pati untuk mengetahui kadar pati dari suatu bahan pangan. Metode Luff Schoorl menggunakan reagen alkalin yang mengandung tembaga sitrat (ion Cu2+) . Setelah memanaskan reagen ini dengan larutan yang mengandung gula pereduksi lalu kalium iodida (KI) dan asam (asam sulfat) ditambahkan setelah didinginkan, iodin dibebaskan dari reaksi redoks . Iodin yang dibebaskan sepadan dengan tembaga non-pereduksi (Cu2+), yaitu : 1 mol I2  dari 1 mol Cu2+. Iodin yang dibebaskan (berwarna coklat-hitam) kemudian dititrasi (menjadi tidak berwarna) dengan agen pereduksi yaitu natrium tiosulfat.Reagen Luff Schoorl memiliki sedikit alkali daripada larutan Fehling . Akibatnya, Luff Schoorl merupakan agen oksidasi yang lebih lemah dan memerlukan  pemanasan sampel yang lebih lama daripada teknik Lane dan Eynon (Nielsen 1998).Proses

ometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam,  penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan

membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan banyaknya oksidator (Winarno 1997).

D. Alat  Neraca Analitik Erlenmeyer Labu Iod 250 mL Beaker glass Pendingin tegak Labu ukur 500 mL Corong Kertas saring

Pipet volum 10 mL dan 25 mL Heater

Gelas ukur Buret Pipet tetes

E. Bahan

Sampel : Pati gembili REAGENSIA :  NaOH 30% Larutan KI 30% Larutan H2SO44N Larutan Na2S2O3.5H2O 0,1 N Indikator amilum 1%

Larutan Luff Schoorl Aquadest

Kalium iodat 0,1 N

F. Prosedur praktikum

a. Stadarisasi natrium thiosulfat 0,1 N dengan kalium iodat 0,1 N

1. Pipet10,0 mL larutan standar kalium iodat 0,1 N masukkan dalam labu iod 250mL 2. Tambahkan 10 mL KI 10% dan asam sulfat 2N 10 mL

3. Tutup, diamkan ditempat gelap beberapa saat. Lalu titrasi dengan natrium thiosulfat 4. Ketika warna menjadi kunging muda tambahkan indikator amilum 1%

5. Titrasi kembali hingga warna biru tepat hilang

 b. Penetapan kadar

1. Timbang 2-5 gram sampel yang telah dihaluskan ke dalam labu iod, tambahkan 50 ml aquadest biarkan selama 1 jam dengan sesekali di gojog. Suspensi disaring dengan kertas saring, dan dicuci dengan air hingga volume filtrat 250 ml. Filtrate ini mengandung karbohidrat yang terlarut dan dibuang.

2. Residu dipindahkan secara kuantitatif dari kertas saring ke dalam erlenmeyer, lalu dicuci dengan menambahkan 200 ml aquadest dan 20 ml HCl 25% lalu dipanaskan 2,5 jam dengan pendingin tegak.

3. Setelah dingin, saring ke dalam labu ukur 500 ml, lalu netralkan dengan NaOH setelah itu encerkan sampai tanda lalu kocok.

4. Pipet 5 ml larutan dari labu ukur 500 ml kedalam labu od, tambahkan 25 ml  pereaksi Luffschoorl kemudian panaskan dengan pendingin hingga terbentuk endapan

merah Cu2O

5. Setelah dingin tmbahakan KI 30% 15 ml lalu panaskan dengan hati-hati tambahakan 25 ml asam sulfat 4 N. Titrasi dengan natrium thiosulfat 0,1 N hingga warna kuning muda lalu tambahkan indikator amilum, titrasi kembali hingga warna  biru tepat hilang.

c.Blanko

Pipet 25 ml larutan Luffschoorl masukkan dalam erlenmeyer lalu tambahkan 15 ml KI 30% dan 25 ml asam sulfat 4 N. Titrasi dengan natrium thiosulfat sampai wana kuning muda. Hentikan titrasi lalu tambahkan indikator amilum dan titrasi kembali hingga warna biru tepat hilang.

G. Hasil praktikum a. LSP KIO3 0,1 N 100 mL G = N x V x BE = 0,1 N x 0,1 L x 35,67 = 0,356 g Penimbangan : Wadah = 25,5435 g Zat = 0,356 g w+z = 25,89954 g hasil penimbangan = 25,90560 g  berat zat = 0,35662 g b. Normalitas KIO3

Hasil titrasi

Volume standarisasi 1 = 10,40 mL Volume standarisasi 2 = 10,55 mL Δ volume standarisasi1 & 2 = 10,475 mL Standarisasi Na2S2O3

V1 x N1 = V2 x N2

10 ml . 0,0999 N = 10,475 mL . N2

 N2 =

 N2 = 0,0953 N

Volume titrasi blanko = 25,5 mL Volume titrasi sampel 1 = 16,5 mL Volume titrasi sampel 2 = 18 mL Δvolume titrasi sampel 1&2 = 17,25 mL

H. Pembahasan

Pati merupakan polisakarida hasil sintesis dari tanaman hijau melalui proses fotosintesis. Pati memiliki bentuk kristal bergranula yang tidak larut dalam air pada temperatur ruangan yang memiliki ukuran dan bentuk tergantung pada jenis tanamannya. Pati digunakan sebagai  pengental dan penstabil dalam makanan. Pati alami (native) menyebabkan beberapa  permasalahan yang berhubungan dengan retrogradasi, kestabil an rendah, dan ketahanan pasta

yang rendah. Hal tersebut menjadi alasan dilakukan modifikasi pati (Fortuna at al l 2001). Berdasarkan reaksi warnanya dengan iodium, pati juga dapat dibedakan dengan amilosa dan amilopektin. Pati bila berikatan dengan iodium akan menghasilkan warna biru karena struktur molekul pati yang berbentuk spiral, sehingga akan mengikat molekul yodium dan membentuk warna biru. Berdasarkan penelitian diperoleh bahwa pati akan merefleksikan warna biru bila polimer glukosanya lebih besar dari 20 (seperti amilosa). Bila polimer glukosanya kurang dari 20, seperti amilopektin, akan dihasilkan warna merah atau ungu-coklat. Sedangkan polimer yang lebih kecil dari lima, tidak memberi warna dengan iodium (Koswara 2009).

Kadar pati dapat menggunakan beberapa metode. Metode tersebut, antara lain metode Luff Schoorl dan metode polarimetri. Pada praktikum ini menggunakan metode Luff Schoorl untuk menganalisis kandungan pati dalam pati gembili. Metode ini menggunakan reagen Luff Schoorl yang mengandung tembaga sitrat (CuO) sebagai oksidator bagi gula pereduksi hasil hidrolisis pati dalam keadaan asam. Gula pereduksi mereduksi Cu2+ menjadi Cu+. Ion Cu  berasal dari reagen Luff Schoorl yang memiliki tembaga sitrat (CuO). Gula pereduksi yang

dipanaskan dengan KI dan H2SO4 akan membebaskan i odium. Suasana yang sedikit asam akan membuat zat oksidator tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan  banyaknya oksidator (Winarno 1997).

Proses penambahan HCl dan pemanasan bertujuan untuk menghidrolisis pati dalam sampel pati gembili tersebut dengan memecah ikatan glikosidik di dalamnya sehingga terbentuk molekul pati yang lebih pendek. Setelah dipanaskan, sampel dalam erlenmeyer dinetralkan dengan larutan NaOH 4 N. Pemilihan NaOH didasarkan pada penggunaan H2SO4 yang merupakan asam kuat pada tahapan sebelumnya. Maka dari itu, NaOH sebagai basa kuat dipilih sebagai penetral. Setelah larutan netral, ditambahkan CH3COOH yang memberikan suasana sedikit asam pada larutan sebagai syarat terjadinya reaksi selanjutnya. Setelah itu larutan dipindahkan dalam labu ukur 500 ml dan diencerkan dengan menambahkan aquades sampai tanda tera. Larutan tersebut disaring dan diambil filtratnya. Filtrat tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan larutan Luff Schrool dan aquades. Reaksi tersebut akan menghasilkan Cu2O melalui proses pemanasan yang ditandai  perubahan larutan menjadi biru kehijauan dengan sediit endapan merah. Perlakuan yang dilakukan di atas dilakukan agar gula-gula pereduksi dapat mereduksi tembaga (Cu2+) menjadi Cu+. Kemudian Cu2+  yang tidak tereduksi (sisa) dapat dititer secara Iodometri dengan menambah larutan KI 30% dan H2SO4  4N. Akhirnya larutan dititer dengan larutan  Na2S2O3 0,1N dan indikatornya digunakan larutan amilum 1%. Jumlah Cu2+ dapat ditentukan dari percobaan blanko dan perbedaannya, dapat ditentukan jumlah gula dalam larutan yang di analisis.

Setelah itu, larutan didinginkan dan ditambahakan KI serta H2SO4  sebagai senyawa yang akan membebaskan iodium dalam larutan. Kelebihan iodium pada larutan sedikit asam  perlu dititrasi dengan larutan tiosulfat (Na2S2O3) sehingga jumlah iodium yang terikat sama

dengan jumlah oksidatornya

Banyaknya larutan tiosulfat untuk menitrasi larutan sampel merupakan indikator yang sama dalam menentukan jumlah Cu2+  yang tersisa. Indikator amilum sendiri digunakan sebagai penanda apakah masih terjadi proses reduksi atau tidak. Prosedur di atas dilakukan  juga terhadap blanko yang sampelnya diganti dengan akuades. Selisih antara banyaknya larutan tiosulfat untuk menitrasi blanko dan sampel dikali dengan gram ekuivalen dari larutan tiosulfat dan dibagi molaritasnya sehingga diperoleh banyaknya larutan tio sulfat dalam mililiter. Jumlah tiosulfat tersebut dikonversi menjadi jumlah glukosa dalam satuan miligram

melalui tabel yang sudah tersedia. Hasil konversi dikali dengan faktor pengenceran dan konstanta 0,95 dibagi berat sampel untuk memeperoleh kadar pati sampel. Hasil praktikum ini dengan sampel pati gembili menunjukkan kadar patinya adalah 58%

I. Kesimpulan

Hasil praktikum ini dengan sampel pati gembili menunjukkan kadar patinya adalah 58% J. Dokumentasi hasil analisis kadar pati

2. ANALISIS KADAR LEMAK

Dokumen terkait