Kadar laktosa pada susu =
D. Mempersiapkan contoh
4. UJI FENOL ASAM SULFAT
a. Ke dalam residu tambahkan 3 tetes reagen fenol asam sulfat b. Panaskan dalam penangas air selama 10 menit
c. Larutkan dalam air panas
d. Tambahkan NaOH 2 N sampai suasana basa. Jika terbentuk warna magenta/ungu kemerahan maka sampel positif sakarin.
g. Hasil praktikum
NO. NAMA PROSEDUR UJI HASIL
1. SNI 01-2893-1992 Larutan berwarna hijau, dan tidak terjadi warna hijau fluoresen. Menunjukkan hasil negative (-).
2. UJI FeCl3 Terdapat endapan hitam, dan larutan berwarna kuning. Menunjukkan hasil
negative (-) karena tidak menunjukkan adanya perubahan
warna menjadi warna ungu. 3. UJI BROM THYMOL BLUE Larutan berubah warna dari putih
bening menjadi biru. Menunjukkan hasil positive (+)
4. UJI FENOL ASAM SULFAT Terdapat endapan putih. Menunjukkan hasil negative (-)
h. Pembahasan
Pada uji pemanis buatan pada bahan tambahan makanan, masing msing proses uji telah memperoleh hasil. Berikut ini penjelasannya :
HASIL ANALISA PEMANIS SAKARIN
Hasil (-) negatif sakarin, karena dari hasil analisa sampel tidak menunjukkan warna hijau flouresense yang terbentu warna hijau soft.
HASIL ANALISA UJI FeCl3
Hasil (-) negatif karena sampel ungu tidak terjadi perubahan warna menjadi ungu, tetapi kunig keruh.
HASIL ANALISA BTB (BROM THYMOL BLUE)
Hasil (+) positif karena sampel terbentuk perubahan warna biru lautan. HASIL ANALISA UJI FENOL - ASAM SULFAT
Hasil (-) negatif karena pada sampel tidak terjadi perubahan warna magenta atau ungu kemerahan.
Dari data diatas, hanya uji BTB ( Brom Thymol Blue) saja yang mendapati hasil positif (+) sakarin. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa, untuk uji pemanis zat makanan sebaiknya kita tidak menggunakan 1 jenis paramater saja, karena belum tentu satu parameter jenis uji hasilnya sama dengan jenis uji yang lain. Melalui praktikum ini, pengujian dilakukan dengan berbagai jenis parameter sehinga hanya didapati satu macam uji saja yang hasilnya sesuai
dengan etiket kemasan yaitu positif sakarin. i. Kesimpulan
Hasil praktikum analisis bahan tambahan makanan, penentuan sakarin diperoleh : Analisa sakarin = (-) negative
Uji FeCl3= (-) negative Uji BTB = (+) positif
Uji Fenol – Asam Sulfat = (-) negative
B. Analisis Pemanis Buatan Siklamat pada Sampel Sirup Freiss a. Tujuan
Untuk mengetahui adanya pemanis siklamat dalam bahan pangan.
b. Prinsip
Sampel disaring berulang kali kemudian ditambahkan berbagai pereaksi dan dipanaskan hingga terbentuk endapan putih hasil reaksi BaCl2 dan Na2SO4, menandakan sampel positif mengandung siklamat.
Siklamat adalah salah satu jenis pemanis buatan yang umum dipakai sebagai pengganti gula. Penggunaannya tidak boleh melebihi batas, untuk siklamat berkisar antara 500 mg – 3 g/kg bahan pangan. Industri makanan dan minuman memanfaatkan zat-zat ini untuk menekan ongkos produksi. Sebab, rasa manis yang dihasilkannya bisa mencapai 30 – 300 kali gula biasa. Sebenarnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menentukan batas Acceptable Daily Intake (ADI), yaitu jumlah yang boleh dikonsumsi sepanjang hidup. Dr Nurhasan dari tim riset LKJ menemukan, berdasarkan data BPOM, pada November-Desember 2002, penggunaan siklamat sudah mencapai 240 % ADI, sedangkan sakarin 12,2 % ADI. Hal ini jelas menunjukkan tren penggunaan telah over dosis. Persoalan ini sangat mungkin terjadi karena pengguna dan konsumen jarang mengetahui batas aman mengkonsumsi pemanis buatan itu.
d. Alat 1. Erlenmeyer 2. Hotplate 3. Maat pipet 4. Gelas ukur 5. Pipet tetes 6. Kertas saring e. Bahan
Sampel: Sirup Freiss rasa Jeruk REAGENSIA :
1. BaCl 10% 2. NaNO2 10% 3. HCl 10%
f. Prosedur Praktikum
1. Sampel ditimbang sejumlah 100 mL di erlenmeyer. 2. Menambahkan aquades hingga tanda.
3. Menyaring larutan dengan kertas Whatman No. 1 yang berukuran 15 cm x 15 cm, kemudian ditambahkan 10 mL larutan HCl 10%.
4. Menambahkan 10 mL larutan BaCl2 10%, dibiarkan 30 menit kemudian disaring menggunakan kertas Whatman No. 1 yang berukuran 15 cm x 15 cm.
5. Menambahkan NaNO2 10% 10 mL, kemudian dipanaskan di atas hotplate atau penangas air pada suhu ± 125°C - 130°C.
6. Hasil dapat diamati setelah 20 – 30 menit setelah dipanaskan dengan mengamati adanya endapan putih.
g. Hasil Praktikum
Pada praktikum analisis pemanis buatan siklamat dengan sampel yang digunakan adalah sirup Freiss diperoleh hasil (-) negative, ditandai dengan tidak adanya endapan berwarna putih setelah proses pemanasan
h. Pembahasan
Pada analisis sirup freiss yang diduga mengandung bahan tambahan pangan berupa siklamat menunjukkan hasil analisis yang negatif. Hal tersebut dapat diartikan dalam sampel sirup freiss tidak mengandung bahan tambahan pangan berupa pemanis siklamat. Namun pada kemasan tertera bahwa sampel mengandung siklamat sedangkan hasil praktikum menyatakan negative karena tidak adanya endapan putih setelah sampel direaksikan dengan pereaksi dan dipanaskan. Kemungkinan sampel sebenarnya mengandung pemanis siklamat namun dalam jumlah yang sangat sedikit, kemungkinan juga karena metode analisis yang digunakan tidak cocok dengan kandungan sampel tersebut.
i. Kesimpulan
Hasil analisis kandungan pemanis siklamat dalam sampel sirup Freiss adalah negative, ditandai dengan tidak adanya endapan berwarna putih
(persiapan sampel) (hasil uji sakarin negatif/tidak ada endapan putih )
C. Analisis Pengawet Benzoat pada Sampel Sirup Freiss a. Tujuan
Untuk mengetahui adanya pengawet benzoat dalam bahan pangan.
b. Prinsip
Sampel dibuat alkali dengan penambahan NaOH 10% kemudian ditambahi eter dan diekstraksi . Kemudian residu sampel dicuci dan dipanaskan . Ketika ditetesi
FeCl3 netral 0,5% terbentuk endapan merah bata, maka sampel positif mengandung benzoat.
c. Dasar Teori
Asam benzoat termasuk salah satu jenis zat pengawet organik. Zat pengawet organik lebih banyak dipakai daripada yang organik karena bahan ini lebih mudah dibuat dan dipakai dalam bentuk asam maupun garamnya seperti asam sorbat, asam propionat, asam benzoat dan asam asetat. Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, asam benzoat juga berperan sebagai antioksidan karena pada umumnya antioksidan mengandung struktur inti yang sama, yaitu mengandung cincin benzen tidak jenuh disertai dengan gugus hidroksil atau gugus amina. Antioksidan dapat menghambat setiap tahap proses oksidasi, dengan penambahan antioksidan maka energi persenyawaan aktif ditampung oleh antioksidan sehingga reaksi oksidasi
berhenti
Batas atas benzoat yang diijinkan dalam makanan 0,1% di Amerika Serikat, sedangkan untuk negara-negara lain berkisar antara 0,15-0,25%. Untuk negara-negara Eropa batas benzoat berkisar antara 0,015-0,5%. Sedang di Indonesia, berdasarkan Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dan No. 1168/ Menkes/Per/X/1999 batas maksimal penggunaan asam benzoat dan natrium benzoat adalah 0,1% atau 1 gram asam benzoat setiap 1 kg bahan
makanan. d. Alat 1. Pipet maat 2. Pipet tetes 3. Heater 4. Corong pemisah 5. Cawan porselin 6. Beaker glass 7. Statif 8. Batang pengaduk 9. Gelas ukur e. Bahan
REAGENSIA : 1. HCl encer 2. NaOH 10% 3. Eter 4. NH3 5. FeCl3 netral 0,5% f. Prosedur Praktikum 1. Persiapan sampel :
A. Padatan atau semi padatan
1. Sampel sebanyak 50-100 g ditambah dengan 300-400 mL air. 2. Kemudian dihancurkan menggunakan blender
3. Selanjutnya campuran ditambah dengan NaOh 10% hingga alkalis dan dibiarkan selama kurang lebih 2 jam, setelah itu disaring.
B. Cairan
1. Sampel sebanyak 50-100 mL dibuat menjadi alkalis dengan penambahan NaOH 10%.
2. Kemudian disaring dengan kapas. Jika sampel berkadar gula tunggi, maka harus diencerkan sampai total padatan 10-15%
2. Langkah kerja :
1. Sebanyak 100 ml atau lebih filtrat dari persiapan sampel dimasukkan ke dalam labu pemisah.
2. Kemudian ditambahkan HCL sampai asam dan ditambahkan lagi 5-10 ml HCL 3. Setelah itu, larutan tadi diekstrak dengan 75-100 ml eter. Jika perlu lapisan air
diekstrak kembali dengan eter. Ekstrak ester di cuci sebanyak 3 kali, masing-masing dengan 5 ml air. Ekstrak eter yang telah di cuci dimasukkan ke dalam pinggan porselin dan diuapkanke dalam penagngas air.
4. Residu yang diperoleh dilarutkan dalam air. Jika perlu dipanaskan sampai 80-85 C selama 10 menit
5. Larutkan tersebut ditambahkan beberapa tetes NH3 sampai larutan menjadi basa. Kemudian larutan diuapkan untuk menghilangkan keleihan NH3 Residu yang tersisa dilarutkan kembali dengan air panas ( residu A ). Setelah itu larutan disaring jika perlu
3. Uji Ferri Klorida
1. Ke dalam larutan ditambahkan beberapa tetes Fecl3 netral 0,5%
2. Terbentuknya endapan feeribenzoat yang bewarna salmon (merah bata) mengandung adanya asam benzoat.
g. Hasil Praktikum
Pada penentuan hasil analisis benzoat pada BTM dilakukan secara kualitatif. Analisis kualitatif dengan uji FeCl3 menunjukkan sampel yang dianalisis mengandung benzoate, ditandai dengan adanya endapan berwarna merah bata setelah penambahan pereaksi FeCl3.
h. Pembahasan
Uji Kualitatif dilakukan untuk mengetahui ada tidanknya asam benzoat pada sampel sirup Freiss rasa jeruk tersebut. Uji Kualitatif dilakukan dengan dua cara yaitu uji FeCl3. Hasil Analisa Kualitatif Pengawet Benzoat pada sirup Freiss adalah (+) positif karena terbentuk perubahan warna sampel menjadi salmon atau merah bata serta terdapat endapan merah bata. Tetapi dalam komposisi kemasan sampel terdapat pengawet benzoate namun tidak tertera berapa kadarnya.
i. Kesimpulan
Hasil Analisa Kualitatif Pengawet Benzoat pada sirup Freiss adalah (+) positif karena terbentuk perubahan warna sampel menjadi salmon atau merah bata serta terdapat endapan merah bata.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesi]. 1985. Peratutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Tentang Zat Pewarna Tertentu Yang Dinyatakan Berbahaya. Jakarta
Ika Kurniawati Y. 2009. Mengenal Zat Adiktif Makanan. Jakarta : Sinar Cemerlang Retno Lestari A. 2012. Bahan Kimia Berbahaya Pada Makanan (Tartazine).
http://retno-ani-lestari.blogspot.com. Diakses 15 Juni 2017, Pkl.20:30 WIB.
Apriyantono, A., Fardiaz D., Puspitasari N. L., Sedarnawati, dan Budiyanto S., 1989, Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB, Bogor
Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 Permenkes RI No. 1168/ Menkes/Per/X/1999
Poedjiadi, 1994, Dasar-dasar Biokimia, Universitas Indonesia, Jakarta Winarno.F.G, 1982, Analisa Bahan Pangan, UI Press, Jakarta
Bazhar, Yashid.(2016). Laporan Hasil Praktikum Kadar Vitamin C pada Buah. [Online]. Tersedia: http://www.atlm.web.id/2016/11/laporan-praktikum-analisa-kadar-vitamin.html. Diakses pada 21 April 2017
Wulaniriky. (2011). Penetapan Kadar Air (Metode Oven Pengering .[Online]. Tersedia: https://wulaniriky.wordpress.com/2011/01/19/penetapan-kadar-air-metode-oven-pengering-aa/.
Diakses pada 21 April 2017
Prestianti, Ika.(2015). Laporan Destilasi. [Online]. Tersedia :
http://ikkaqyutz.blogspot.co.id/2015/06/laporan-destilasi.html.Diakses pada 22 April 2017 Sudarmanto, Fadel Muhammad. (2014 ). Laporan Lengkap Bilangan Asam dan Bilangan Penyabunan. [Online]. Tersedia:
http://smakmakassarfadelmuhammad3a.blogspot.co.id/2014/09/laporan-lengkap-bilangan-asam-dan_3.html.Diakses pada 22 April 2017
Deviana, Wahyu Sisilia. (2015). Penetapan Lemak dengan metode Ekstraksi Soxhlet. [Online]. Tersedia:
http://wahyusisilia.blogspot.co.id/2015/10/laporan-penetapan-lemak-dengan-metode.html.Diakses pada 23 April 2017
Jayana, Rmmona.dkk. (2011). Pentapan Kadar Pati dengan Metode Luff Schoorl. [Online]. Tersedia: http://akuuhmona.blogspot.co.id/2011/05/penetapan-kadar-pati.html.Diakses pada 23 April 2017