BAB V ANALISA HASIL DAN PENGUJIAN
5.2.1 Penentuan parameter yang menjadi penelitian
Penentuan paramater yang akan dijadikan obyek penelitian didasarkan pada kuantitas terbanyak selama tahun 2013. Dari Kurva 4.4 terlihat bahwa order Permenkes 416 merupakan parameter order terbesar selama tahun 2013 yaitu sebesar 1399 order dari total order 8394 order selama tahun 2013, atau sebesar 16,7%.
5.2.2 Implementasi Metode FMEA
Proses improve dilakukan dengan menggunakan metoda FMEA (Tabel 4.21). dan jika dibuat grafik antara nilai RPN dan parameter seperti berikut:
Gambar 5.2 Kurva faktor penyebab dengan nilai RPN
Terlihat bahwa ada 5 faktor terbesar yang akan difollow up, yaitu sebagai berikut:
Tabel 5.3 Faktor penyebab kegagalan dengan nilai RPN tertinggi
Sedangkan tindakan perbaikan yang akan dilakukan adalah sesuai dengan tabel berikut:
Tabel 5.4 Tabel saran tindakan perbaikan
5.2.3 Implementasi peningkatan nilai Six Sigma
Setelah dilakukan implementasi perbaikan, berikut adalah perhitungan nilai sigma untuk 4 bulan (Tabel 4.39) dari nilai sigma sebelum perbaikan adalah 2,9. Jika dirata-ratakan untuk 4 bulan tersebut diatas adalah 3,5 dimana ada peningkatan nilai 0,6 atau 20,1%.
No Penyebab Kegagalan RPN
1 Ruangan analisa kurang nyaman 600
2 Kekurangan peralatan (gelas ukur, nesler, pipet) 500
3 Beban kerja analis yang belum merata 360
4 Belum memiliki standar CRM (Certified Reference
Material) dengan fungsi trueness 280
5 Pemakaian air suling yang tidak memenuhi standar daya
hantar listrik (< 2 mikro mhos) 270
No Penyebab Kegagalan RPN Saran Tindakan perbaikan RPN
perbaikan 1 Ruangan analisa kurang nyaman 600 Redesign ruangan analisa dengan mengacu
ke Permen LH No 06/2009 240
2 Kekurangan peralatan (gelas ukur, nesler, pipet) 500 Penambahan peralatan yang diperlukan 100
3 Beban kerja analis yang belum merata 360 Pembagian kerja analis berdasarkan beban
kerja dan kapasitas 180
4 Belum memiliki standar CRM (Certified Reference
Material) dengan fungsi trueness 280 Pengadaan Standar CRM dengan fungsi
trueness 140
5 Pemakaian air suling yang tidak memenuhi standar daya hantar listrik (< 2 mikro mhos) 270
Terapkan sistem kualitas pengecekan untuk kedatangan air suling sesuai dengan standar ( <2 mikro mhos)
30
Tabel 5.5 Perhitungan nilai sigma implementasi per bulan
5.2.4 Sistem Peningkatan Kinerja Laboratorium
Saran tindakan dari hasil pemetaan FMEA telah diimplementasikan kecuali untuk redesign ruang analisa belum bisa dilakukan dikarenakan akan ada perluasan gedung PT Unilab Perdana. Untuk itu perluasan gedung, khususnya desain ruang analisa akan mengacu ke Permen LH No 06/2009 Lampiran I tentang Persyaratan Tambahan Laboratoium Lingkungan (Lampiran D).
Untuk nilai RPN setelah dilakukan tindakan perbaikan Lihat Tabel 4.36
Untuk menjaga kontinuitas perbaikan tetap berjalan, maka akan dijalankan sistem dan kontrol untuk masing-masing perbaikan sebagai berikut:
1. Penambahan peralatan yang diperlukan
Untuk menjaga sistem tetap berjalan maka disiapkan sistem dan kontrol sebagai berikut:
a. Setiap analis diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan kelayakan dari peralatan yang digunakan.
b. Setiap analis diwajibkan untuk melaporkan setiap terjadi kerusakan pada peralatan pendukung.
c. Setiap analis diwajibkan untuk selalu meminta penggantian peralatan yang rusak.
d. Inventarisasi peralatan dilakukan tiap bulan.
Agustus September Oktober November
1 Fisik Kertas: Sobekan tidak rata 2 2 2 3 2 Print out Format LHP meleset 2 2 2 3 3 Kesesuaian berita acara dengan surat
perintah kerja 3 3 3 6 4 Kesesuaian kesetimbangan
Anion-Kation 5 4 3 5 5 Kesesuaian hasil analisa dengan indikasi
pengamatan data lapangan 5 4 5 6
Tingkat sigma 3,4 3,6 3,6 3,4
No Jenis Kecacatan Bulan
e. Stok peralatan di gudang dengan mempertimbangkan jumlah dan nilai barang, sehingga jika terjadi kerusakan alat akan segera diambil penggantinya dari stok gudang.
f. Membuat instruksi kerja untuk kontrol stok peralatan gudang untuk disubmit ke dalam sistem manajemen laboratorium ISO 17025. Instruksi kerja tersebut akan berisi tentang minimal stok, laporan inventori peralatan tiap bulan dan personnil incharge nya (Lampiran 4)
2. Pengadaan Standar CRM dengan fungsi trueness.
Untuk menjaga sistem tetap berjalan maka disiapkan sistem dan kontrol sebagai berikut:
a. Memperbaharui standar tersebut secara berkala sesuai dengan masa berlakunya (Lampiran 7 dan 8).
b. Untuk memudahkan pengadaan standar CRM trueness maka dibuat daftar pengadaan CRM trueness setiap paramater uji.
c. Perbaikan instruksi kerja pengendalian dan jaminan mutu laboratorium.
3. Penerapan sistem kualitas pengecekan untuk kedatangan air suling sesuai dengan standar (< 2 mikro mhos). Untuk menjaga sistem tetap berjalan maka disiapkan sistem dan kontrol sebagai berikut:
a. Lakukan perawatan dan kontrol alat sesuai dengan petunjuk perawatan dan penggunaan alat Milli-Q Direct (Lampiran 5 dan 6).
b. Buatkan prosedur mutu untuk kontrol kualitas air yang dihasilkan, masukkan ke dalam sistem manajemen ISO 17025 (Lampiran 9)
c. Lakukan analisa hasil kualitas air secara berkala, dan lakukan pengolahan data hasil analisa untuk dikaji dan diambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.
4. Pembagian kerja analis
Pembagian kerja analis telah disimulasikan dengan berdasarkan beban kerja untuk tiap parameter sehingga dapat dilihat analis yang kurang atau berlebih beban kerjanya dan dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan. Adapun langkah-langkah penentuan beban kerja analis yang dapat dilakukan tiap bulan atau tiap 3 bulan. Berikut langkah-langkahnya:
1. Ambil data order perkiraan 1 bulan kedepan dengan jumlah parameter yang akan dianalisa.
2. Lakukan pembagian parameter untuk tiap analis.
3. Lakukan perhitungan beban kerja tiap analis sesuai dengan parameter yang telah dibagi.
4. Simulasikan beban kerja sehingga beban kerja analis merata.
Gambar 5.3 Flowchart tindakan perbaikan untuk pembagian beban kerja
5.3 Hubungan antara MOQS dan Six Sigma
Pengukuran MOQS dan Six Sigma adalah untuk melihat keterkaitan dari pengaruh makro ergonomi di suatu perusahaan dengan kinerja kualitas yang dicapai. Dari hasil pengukuran MOQS dan Six Sigma di PT. UP diharapkan akan adanya peningkatan kinerja sistem pengujian laboratorium.
Hasil pengukuran MOQS terhadap 14 orang analis yang telah diolah menggunakan metode MSI, korelasi parsial dan korelasi simultan menunjukkan variabel yang paling berpengaruh adalah variabel mas_kerja (X8) atau masalah pekerjaan, kemudian variabel kesempatan kerja (X2) dan masa depan (X7).
Berdasarkan hasil kuisoner MOQS terhadap kinerja sistem pengujian laboratorium maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akibat dari adanya variabel masalah pekerjaan di tempat kerja maka akan timbul dari pekerja untuk mencari pekerjaan di tempat yang lain (variabel kesempatan kerja) dan mempertanyakan apakah ada harapan jenjang karir di tempat pekerjaan sekarang (variabel masa depan).
Pada kuisoner MOQS dari NIOSH untuk masalah pekerjaan terdapat pertanyaan mengenai:
• Perencanaan untuk memecahkan masalah.
• Perasaan bertanggung jawab untuk masalah.
• Berharap bisa mengubah masalah.
• Diskusi dengan atasan atau rekan kerja tentang masalah.
Pada kuisoner MOQS dari NIOSH dari variabel kesempatan kerja terdapat pertanyaan mengenai:
• Kemudahan mencari pekerjaan yang cocok
• Kemudahan untuk mencari pekerjaan di tempat yang lain
• Kemungkinan pindah dari daerah tempat pekerjaan yang sekarang
Pada kuisoner MOQS dari NIOSH dari variabel masa depan terdapat pertanyaan mengenai:
• Kepastian tentang karir dan keterampilan di perusahaan
• Kepastian tentang tanggung jawab di perusahaan
• Kepastian tentang mencari pekerjaan di tempat yang lain.
Berdasarkan pengukuran dan pengolahan data kuisoner MOQS dengan hasil pengukuran Six Sigma menggunakan FMEA variabel yang paling dominan adalah variabel masalah pekerjaan yang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor pekerjaan dan tempat kerja yaitu :
1. Pembagian beban kerja yang tidak merata, hal ini dapat terlihat saat melakukan analisis sampel mengenai cara-cara penghilangan gangguan dimana setiap sampel memiliki karakteristik yang berbeda, melakukan faktor pengenceran yang tepat sehingga tidak dilakukan secara berulang-ulang, teknik analisis setiap parameter yang berbeda (ada yang memerlukan waktu cepat ada juga yang lama).
2. Lingkungan kerja ruangan analisa yang kurang nyaman yaitu kurangnya ukuran ruang gerak analis untuk melakukan proses analisis.
3. Pemakaian air suling yang belum memenuhi standar kualitas Daya Hantar Listrik SNI 6989.78:2011.
4. Belum memiliki standar CRM (Certified Reference Material) dengan fungsi trueness.
5. Kekurangan peralatan alat gelas dengan belum dilakukan kontrol stock peralatan alat gelas (Lampiran 4).
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Pengukuran MOQS dan Six Sigma adalah untuk melihat keterkaitan dari pengaruh makro ergonomi di suatu perusahaan dengan kinerja kualitas yang dicapai, sehingga diharapkan adanya peningkatan kinerja sistem pengujian laboratorium dari hasil pengukuran MOQS dan Six Sigma di PT. UP.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap PT. UP untuk memperbaiki beberapa masalah yang timbul yaitu mengenai karakteristik mutu dan jumlah kecacatan yang telah dihasilkan, menentukan waktu standar dari proses pengujian dan mencegah resiko pekerjaan dari proses kerja dan lingkungan laboratorium. Berikut ini beberapa hasil penelitian terhadap peningkatan kinerja sistem pengujian laboratorium dengan integrasi metode Six Sigma dan MOQS di PT. UP, yaitu:
1. Karakteristik mutu untuk peningkatan kinerja sistem pengujian laboratorium terdiri dari : fisik kertas yaitu sobekan tidak merata, print out format LHP meleset, kesesuaian berita acara dengan surat perintah kerja, kesesuaian kesetimbangan anion dan kation, kesesuaian hasil analisa dengan indikasi pengamatan data lapangan.
2. Waktu aliran proses untuk pengujian Permenkes 416/1990 adalah 3998,48 menit atau 66,6 jam atau 2,78 hari (2 hari 18,6 jam).
3. Pencegahan terhadap resiko pekerjaan dari proses kerja dan lingkungan dapat diketahui dengan melakukan kuesioner MOQS terhadap pekerja yang langsung bekerja di laboratorium.
4. Hasil pengukuran kuesioner MOQS terdapat variabel yang dominan dimana variabel tersebut sangat berpengaruh terhadap beban kerja dan tanggung jawab yaitu variabel “masalah pekerjaan, kesempatan kerja dan masa depan”.
5. Hasil perhitungan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja sistem pengujian di laboratorium dihitung menggunakan metode FMEA didapatkan 5 faktor yang dominan, yaitu ruangan analisa kurang nyaman, kekurangan peralatan, beban kerja analis yang belum merata, belum memiliki standar CRM dengan fungsi trueness dan pemakaian air suling yang tidak memenuhi standar daya hantar listrik (< 2 mikro mhos).
6. Redesign ruangan analisa belum dapat dilakukan karena pihak manajemen perusahaan berkeinginan untuk memperluas area laboratorium dengan membuat tambahan gedung baru.
7. Peningkatan kinerja dalam sistem pengujian laboratorium dengan integrasi Six Sigma dan MOQS adalah redesign ruang analisa yang mengacu pada PERMENLH NO. 6 tahun 2009, penambahan peralatan alat gelas, pembagian kerja analis yang disesuaikan dengan beban kerja dan kapasitas, memperbaharui standar CRM trueness secara berkala sesuai dengan masa berlakunya, perbaikan instruksi kerja jaminan dan pengendalian mutu, terapkan sistem kualitas pengecekan terhadap kedatangan air suling sesuai dengan standar (<2 mikro mhos).
8. Setelah dilakukan perbaikan peningkatan kinerja dalam sistem pengujian di laboratorium selama 4 bulan (Agustus – Desember 2015) maka terjadi kenaikan nilai Sigma pada Order Permenkes 416/1990 dari 2,9 menjadi 3,5.
6.2 Saran
Peningkatan kinerja sistem pengujian laboratorium dengan integrasi metode Six Sigma dan MOQS di PT.UP sangat penting untuk dilakukan. Berikut ini beberapa saran agar kinerja sistem pengujian di laboratorium tetap terjaga dan dapat melakukan perbaikan terus-menerus (continous improvement) yaitu:
1. Merealisasikan perluasan gedung laboratorium dengan desain ruang analisa sesuai dengan standar peraturan yang berlaku.
2. Melakukan implementasi prosedur tentang kontrol inventori peralatan, jaminan dan pengendalian mutu.
3. Mengimplementasikan prosedur mutu dan instruksi kerja pengecekan air suling.
4. Menindaklanjuti perbaikan hasil perhitungan FMEA terhadap faktor-faktor lain yang berpengaruh.
5. Sistem peningkatan yang telah dilakukan dapat dikembangkan lebih lanjut berdasarkan kebutuhan yang ada di perusahaan sejenis.
DAFTAR PUSTAKA
AWWA. 2012. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater.
2012. Edisi ke-22. APHA
Barnes, Ralph M. 1980. Motion and Time Study: Design and Measurement of Work. Sevent Edition, John Wiley & Sons, Inc. Singapore.
Carayon dan Hoonakker. 2001. Macroergonomic Organizational Questionnaire Survey (MOQS), Center for Quality and Productivity Improvement, University of Madison-Winconsin.
Elfrida. 2009. Penilaian dan perbaikan sistem kerja dengan Macro Ergonomics Quesioner Survey. Skripsi tidak diterbitkan. Medan, Universitas Sumatera
Utara.
Gaspersz Vincent. 2003. Total Quality Management. PT Gramedia Pustaka Utama.
Gaspersz Vincent. 1997. Manajemen kualitas penerapan konsep-konsep kualitas dalam manajemen bisnis total. PT Gramedia Pustaka Utama.
Grahanintyas Dewinta, Wiggnjosoebroto, dkk. 2012. Analisa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam meningkatkan produktivitas kerja (Studi Kasus: Pabrik Teh Wonosari PTPN XII). Jurnal Teknik Pomits Fakultas Teknik Industri ITS, Vol.1, No. 1.
Go Lean Six Sigma. 2012. The Basics of Lean Six Sigma.
Go Lean Six Sigma. 2012. DMAIC : The 5 Phases of Lean Six Sigma.
Heizer jay, Render Barry. 2009. Manajemen Operasi. Buku 1 Edisi sembilan.
Salemba Empat.
Institute for Healthcare Improvement. 2004. Failure Modes and Effects Analysis (FMEA).
Lixia Chen & Bo Meng. Juni 2010. The Application of Value Stream Mapping Based Lean Production System. International Journal of Business and Management, Vol. 5, Np. 6.
Neville Stanton (et al.). 2005. Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods. CRC Press.
NIOSH Quesioner. NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. CDC workplace safety and health. Division of applied research and technology organizational Science and human factors Branch, cincinnati, OH 45226 Nurmianto. 2004 E. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi Kedua,
Guna Widya.
Permen LH 06/2009. Laboratorium Lingkungan Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Qun Zhang, dkk. February 2012. Lean Six Sigma: A Literature Review, International Journal of Conteporary research Business, Vol 3, No 10, Sadikin F.X. 2005. Tip dan Trik Meningkatkan Efisiensi, Produktivitas, dan Profitabilitas, Andi Yogyakarta.
Simanjuntak Adelia Risma, Rusdianto. 2012. Pengaruh sistem kerja terhadap stress kerja dengan penilaian MOQS. Jurnal Teknologi Technoscientia Jurusan Teknik Industri , Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta ISSN: 1979-8415 Vol. 5 No. 1
Sudjana. 2000. Statistika I dan II, Edisi ke-6, Bandung.
Sutalaksana I.Z, Anggawisata R, Tjakraatmadja J.H, Teknik Tata Cara Kerja, Departemen Teknik Industri ITB, Bandung, 2006.
The International Marine Contractors Association. April 2002. Guidance on Failure Modes & Effects Analyses. IMCA M 166.
Wahana Komputer. 2003. Pengolahan Data Statistik dengan SPSS 11.5, Salemba Infotek.
Wignjosoebroto S. 2003. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu, Guna Widya.
Wieke R.D,Nasir W.S, Ceria F.M.T. Implementasi Metode Lean Six Sigma sebagai Upaya Meminimasi Waste pada PT Prime Line International.
Program Studi Teknik Industri, Universitas Brawijaya