• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Good Corporate Governance dalam Islam di BMT

BAB IV ANALISIS DATA

A. Penerapan Good Corporate Governance dalam Islam di BMT

2. Bagaimana implikasi dari penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada permasalahan yang dirumuskan diatas, maka ada beberapa tujuan yang hendak di capai dalam penelitian ini, yaitu:

1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan Good Corporate Governance dalam Islam di BMT Tumang.

2. Untuk mengetahui bagaimana implikasi dari penerapan Good Corporate Governance dalam Islam di BMT Tumang.

D. Manfaat Penelitian

Dalam memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh, maka diharapkan akan memperoleh manfaat, sebagai berikut:

4

1. Bagi pihak IAIN Salatiga

a. Menjadi tambahan referensi bacaan untuk mahasiswa setelah penulis melakukan penelitiam dan pengamatan.

b. Menciptakan hubungan baik antara lembaga pendidikan dengan lembaga keuangan.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literature penelitian tentang penerapan Good Corporate Governancedi BMT.

2. Bagi LKS Proposal

a. Sebagai persiapan untuk menghadapi persaingan yang semakin sengit dan ketat.

b. Untuk menjaga citra baik sebuah LKS

c. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada BMT sebagai bahan pertimbangan dalampenerapan Good Corporate Governance.

3. Bagi Penulis

a. Sebagai alat ukur agar dapat mengetahui sejauh mana ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan dan mempraktikkan teori-teori dari mata kuliah yang pernah diberikan.

b. Menambah pengalaman dan pengetahuan secara langsung di lapangan. c. Menambah dan memperluaswawasan terutama yang berkaitan dengan

4. Bagi Peneliti Lain

Menjadi bahan pembanding dalam memperoleh informasi ketika melakukan penelitian ditempat yang berbeda, sehingga saling dapat bertukar pikiran satu sama lain.

E. Metode penelitian

Dalam penulisan proposal ini peneliti mengggunakan beberapa metode penelitian agar memperoleh data-data yang akurat antara lain:

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, jenis penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan memahami realita sosial (Supardi, 2005:115).

Peneliti dalam hal ini mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para informan dan diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan infoman.

2. Subyek dan Obyek penelitian

Yang dijadikan subyek dalam penelitian ini adalah individu yang dimintai informasi oleh penulis untuk mendapatkan data yang dibutuhkan mengenai masalah yang diteliti. Subyek penelitian ini adalah karyawan di BMT Tumang.

Obyek penelitian ini adalah yang menjadi titik perhatian dari penelitian. Jadi yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang.

6

3. Teknik analisis data

a. Data primer yaitu jenis data utama yang digunakan penulis untuk mencapai tujuan penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan data primer adalah dokumen yang berkaitan dengan penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang.

b. Data sekunder yaitu data pendukung yang menguatkan data primer. Yang termasuk dalam data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari observasi, dokumentasi dan literature-literature atau bacaan yang relevan (Supardi, 2015:118).

4. Metode pengumpulan data

Dengan tujuan untuk mengetahui penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang, dalam proses pengumpulan datanya merasa perlu merangkul semua pihak yang berkaitan dengan obyek penelitian ini. Oleh karena itu, metode pengumpulan data yang penulis terapkan antara lain:

a. Metode Wawancara

Menurut Supardi (2005:121), wawancara adalah tanya jawab atau pertemuan dengan seseorang untuk suatu pembicaraan. Metode wawancara dalam konteks ini berarti proses memperoleh suatu fakta atau data dengan melakukan komunikasi langsung (tanya jawab secara lisan) dengan responden penelitian baik secara temu wicara atau menggunakan teknologi komunikasi (jarak jauh).

Adapun teknik pengumpulan data dengan metode wawancara, yaitu dengan cara mengadakan wawancara (interview) kepada pihak-pihak yang berhubungan (responden) seperti direktur atau kepala cabang dan karyawan di BMT Tumang.

b. Metode Observasi

Metode pengumpulan data dengan observasi artinya mengumpulkan data atau menjaring data dengan melakukan pengamatan terhadap subyek dan atau obyek penelitian secara seksama (cermat dan teliti) dan sistematis (Supardi, 2015:136).

Observasi yang dilakukan oleh penulis adalah dengan mengamati secara langung penerapan Good Corporate Governancedi BMT Tumang.

c. Metode dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan obyek penelitian, baik mengenai profil, macam-macam produk, mekanisme dan lain sebagainya.

Jadi penulis melakukan pengumpulan data mengenai hal-hal tersebut melalui arsip-arsip, catatan-catatan dan berbagai dokumen lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

8

F. Sistematika Penulisan

Dalam penelitian ini dibagi dalam lima bagian yaitu: BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang uraian latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, telaah pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Berisi tentangpengertian Good Corporate Governance, prinsip-prinsip Good Corporate Governance, tujuan dan manfaat Good Corporate Governance, unsur-unsur Good Corporate Governance, pilar pendukung Good Corporate Governance, Good Corporate Governance dalam perspektif Islam.

BAB III GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

Berisi tentang Profil KSPPS BMT Tumang, visi dan misi BMT Tumang, keunggulan BMT Tumang, struktur organisasi BMT Tumang, tugas dan wewenang dalam struktur organisasi, cara kerja dan wilayah kerja BMT Tumang Cabang Ampel, produk-produk di BMT Tumang Cabang Ampel. BAB IV ANALISISDATA

Berisi tentang penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang, implikasi dari penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang, penerapan Good Corporate Governance dalam perspektif ajaran Islam di BMT Tumang.

BAB V PENUTUP

Berisi tentang kesimpulan dari penelitian, dan saran yang diharapkan berguna bagi IAIN Salatiga, peneliti dan penelitian selanjutnya.

61 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

Secara umum telaah pustaka bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan wawasan yang menyeluruh tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan untuk mengetahui berapa banyak orang lain yang sudah membahas permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis telah menelaah beberapa buku, jurnal, skripsi, dan lain-lain yang sejenis dan mendukung penelitian ini. Beberapa buku yang penulis temukan diantaranya adalah:

Tabel 2.1 Kajian Pustaka

No Judul Jurnal Penulis (Tahun) Hasil 1 mplementasi Good Corporate Governance di Indonesia Wibowo (2010)

Menyimpulkan bahwa Penerapan tata kelola perusahaan kian menjadi faktor penentu yang strategis bagi perusahaan agar

dapat senantiasa

meningkatkan nilai serta memelihara proses

pertumbuhan yang

berkelanjutan. Oleh karenanya, setiap perusahaan perlu terus meningkatkan kerja kerasnya agar dapat mengambil manfaat dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

2. mplementasi Syariah Governance Janusi (201 2)

Menyimpulkan bahwa reputasi memegang peran yang penting dalam menjalin

serta Implikasinya Terhadap Reputasi dan Kepercayaan Bank Syariah

hubungan kerjasama antar bank syariah dengan nasabah.Dalam jangka panjang, reputasi berdampak pada kepercayaan nasabah pada bank syariah. Peningkatan reputasi dan kepercayaan pada bank syariah merupakan salah satu indikator kinerja bank syariah dalam meningkatkan market sharenya, sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi shariah governance akan berpengaruh terhadap reputasi dan kepercayaan nasabah. Meningkatnya reputasi dan kepercayaan dalam jangka panjang akan meningkatkan loyalitas nasabah yang pada akhirnya akan meningkatkan market share bank syariah 3. Analisis Penerapan Good Governance Business Syariah dan Pencapaian Maqashid Syariah Bank Syariah di Indonesia Jumansy ah (201 3)

Menyimpulkan bahwa dalam mengukur pencapaian maqashid syariah, terdapat tiga dimensi yaitu pendidikan, keadilan dan kepentingan publik. Pencapaian atas dimensi pendidikan diukur berdasarkan jumlah alokasi sumber daya yang disediakan oleh Bank. Dalam hal pencapaian dimensi keadilan, diukur seluruh pendapatan yang diterimanya sebagai laba bersih. Adapun pencapaian dimensi kepentingan publik, dapat dilihat melalui pencapaian indikator profitabilitas, distribusi harta dan invetasi sektor riel.

12 4. Analisis Pengungkapan Sharia Compliance dalam Pelaksanaan Good Corporate Governance Bank Syariah di Indonesia Sarama wati dan Lubi s (201 4) Menyimpulkan bahwa menyimpulkan bahwa 6 (enam) dari 10 (sepuluh) BUS di Indonesia telah mengungkapkan sharia

compliance dalam

pelaksanaan Good Corporate Governance dengan prosentase lebih dari 50%. Rata-rata pengungkapan sharia compliance dalam kategori Dewan Pengawas Syariah yang dilakukan oleh 10 (sepuluh) BUS di Indonesia telah memiliki indeks pengungkapan sharia compliance sebesar 56% 5 Karakteristik Good Corporate Governance pada Bank Syariah dan Bank Konvensional Maradita (201 4)

Menyimpulkan bahwa konsep Good Corporate Governance antara bank konvensional dengan bank syariah pada dasarnya adalah sama, namun yang menjadi pembeda diantara keduanya ialah adanya syariah compliance yaitu kepatuhan pada syariah, kemudian adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas meneliti dan membuat rekomendasi produk baru dari bank yang diawasinya serta melakukan pengawasan terhadap bank syariah bahwa kegiatan usaha yang dilakukannya mematuhi prinsip syariah sebagaimana telah ditentukan oleh fatwa dan syariah Islam.

6. mplementasi Good

Siswanti (201

Menyimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara GCG

Corporate Governance Pada Kinerja Bank Syariah

6) terhadap kinerja bank syariah. Sebaliknya menunjukan bahwa penerapan Good Corporate Governance yang baik dapat meminimalkan kredit macet atau risiko pembiayaan pada bank. Meskipun demikian penerapan Good Corporate Governance suatu bank sudah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip ternyata belum dapat menjamin kinerja bank. 7. Sharia Compliance, Islamic Corporate Governance dan Fraud pada Bank Syariah Najib dan Rini (201 6)

menyimpulkan bahwa ICG atau tata kelola perusahaan secara Islam tidak berpengaruh terhadap kecurangan pada bank syariah. Berdasarkan teori yang ada penerapan tata kelola perusahaan menjadi hal yang sangat penting dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan serta dalam menciptakan bisnis yang efektif dan efisien. Akan tetapi dalam pelaksanaannya sangat sulit untuk menerapkan tata kelola perusahaan secara maksimal khususnya bagi bank syariah yang menggunakan syariah atau hukum-hukum Islam sebagai prinsipnya, yang mana bank syariah di Indonesia yang masih terbilang baru sehingga masih dalam tahap penyesuaian serta pengembangan sehingga belum bisa dikatakan telah menerapkan prinsip Islam sepenuhnya.

14

Dari pemaparan yang sudah ada diatas maka penelitian yang akan diajukan penulis berbeda dengan penelitian sebelumnya. Beberapa perbedaan penelitian itu antara lain objek penelitian yang akan dilakukan pada BMT, peneliti lebih fokus pada konsep Good Corporate Governance dalam perspektif ajaran Islam, penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang, implikasi dari penerapan Good Corporate Governance di BMT Tumang tersebut. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Dengan perbedaan-perbedan yang ada maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang implementasi good corporate governance di BMT Tumang pada lembaga keuangan mikro syariah khususnya BMT dengan mengambil judul “Implementasi Good Corporate Governancedi BMT Tumang" ini berbeda dan belum pernah ada yang melakukannya.

B. Kajian Teoritik

a. Pengertian Good Corporate Governance

Syakhroza (2005: 17) governance sebagai suatu sistem (yang terbuka/open system) terdiri atas struktur (governance structure), mekanisme (governance mechanism), dan prinsip-prinsip governance (governance principles). Ketiga perangkat tersebut harus diupayakan berjalan sebagai suatu kesatuan dalam bentuk governance system yang berinteraksi secara efektif dengan lingkungan internal dan eksternal dalam mencapai tujuan organisasi yang di terapkan. Efektivitas perangkat governance akan dinilai dari seberapa jauh sistem yang dibangun menghasilkan governance outcomes yang diharapkan.

Kay dalam Sutedi (2011: 2) mendefinisikan Good Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan guna menciptakan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan perusahaan dan masyarakat sekitar.

Effendi (2009: 2) mendefiniskan GCG sebagai seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi para pemangku kepentingan. Good Corporate Governance, yang selanjutnya disebut GCG, adalah suatu tata kelola Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), profesional (professional), dan kewajaran (fairness) (Peraturan Bank Indonesia No. 11/33/PBI/2009).

16

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2004) dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance Perbankan Indonesia, Good Corporate Governance adalah suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang bagi pemegang saham dengan tetap memperlihatkan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku.

Organization for Economic Corporation and Development (OECD) dalam mendefinisikan Good Corporate Governance sebagai suatu sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan perusahaan. Corporate Governance mengatur pembagian tugas hak dan kewajiban mereka yang berkepentingan terhadap kehidupan perusahaan termasuk para pemegang saham, dewan pengurus, para manajer, dan semua anggota stakeholder non pemegang saham.

Center for European Policy Study (CEPS) memformulasikan Good Corporate Governance sebagai seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses, dan pengendalian, baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan (Sutedi, 2011: 1).

b. Konsep Good Corporate Governance dalam Perspektif Ajaran Islam

Prinsip Good Corporate Governance dalam Islam juga sesuai dengan yang dirumuskan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG).Prinsip-prinsip yang dirumuskan oleh KNKG adalah

transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi dan keadilan.

Untuk melakukan penelitian atas konsep Good Corporate Governance dalam perspektif ajaran Islam, maka penulis mencari data tertulis dengan cara melakukan pengamatan sekilas, dari literature-literature yang ada dan wawancara dengan Direktur Operasional BMT Tumang yaitu Bapak Joko Sriyanto, Ketiga cara tersebut dianggap cukup praktis bagi penulis dalam melakukan penelitian. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis maka diperoleh informasi sebagai berikut:

1. Transparansi (transparency)

Di dalam akuntansi Islam transparasi juga disebut dengan misdaqiyah yang artinya secara umum adalah menyiapkan hitungan-hitungan akhir serta neraca-neraca keuangan (Syahadah, 2001:20).

Di dalam mengungkapkan keterangan-keterangan dan informasi-informasi yang ada harus benar dan sesuai dengan realita serta tidak ada kebohongan dan kecurangan, karena data-data tersebut merupakan kesaksian, Secara berkesinambungan melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat mengenai prinsip-prinsip, produk, jasa perbankan syariah, dan manfaat bagi pengguna jasa perbankan syariah

18

2. Akuntabilitas (accountability)

Dalam implikasi bisnis dan akuntansi adalah bahwa dalam individu yang terlibat harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait wujud dari pertanggungjawaban biasanya berbentuk laporan keuangan. Dalam hal accountability orang-orang Muslim mantap hatinya bahwa mereka akan diperhitungkan mengenai apa yang mereka perbuat di dunia pada Hari Akhir (kehidupan setelah mati). Dalam Islam, orang-orang Muslim harus mengikuti kehendak Allah SWT dengan mencari rida-Nya dalam seluruh kegiatannya (Bakar, 2007:744).

Dalam memandang penerapan corporate governance dari perspektif Islam, maka direktur perusahaan, manajemen juga auditorseharusnya menunjukkan tugas professional mereka dengan tujuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan shareholders dan Allah Swt.

Hal ini jelas bahwasannnya dalam praktek manajemen perusahan semua Job Discription dari masing-masing pengurus harus dapat dipertanggung jawabkan dan dapat diterima dengan baik.

3. Tanggung jawab (responsibility)

Wujud tanggung jawab dalam Islam adalah tanggung jawab kepada Allah SWT, tanggung jawab kepada pemilik modal dan tanggung jawab kepada diri sendiri.Nilai ini memastikan bahwa pengelolaan lembaga keuangan syariah dilakukan dengan moralitas yang menjunjung tinggi nilai kejujuran (Bakar, 2007:744).

Nilai ini menjaga dengan ketat prinsip kehati-hatian dan kejujuran dalam mengelola dana yang diperoleh dari pemilik dana (shahibul maal) sehingga timbul rasa saling percaya antara pihak pemilik dana dan pihak pengelola dana investasi (mundharib). Upaya tersebut dianggap sebagai suatu perbuatan yang baik dalam Islam, sehingga setiap individu dalam lembaga harus memiliki rasa pertanggungjawaban yang tinggi dalam pekerjaan mereka.

Dalam konteks ini lembaga BMT harus berhati-hati dalam menentukan sebuah kebijakan dan langkah dalam menjalankan sistem didalam kinerja sebuah lembaga, baik dari kepatuhan dalam perundang-undangan yang berlaku maupun aturan secara khusu’ yang diterapkan oleh kantor pusat, sehingga diharapkan tidak akan terjadi penyimpangan di dalam kinerja.

4. Independensi (independency)

Wujud Independensi dalam Islam adalah dalam mengambil keputusan harus objektif dan bebas dari segala tekanan dari pihak manapun. Dalam hal mengambil keputusan stakeholder harus memusyawarahkan dengan masing-masing stakeholder yang berkepentingan dalam perusahaan. Nilai ini memastikan bahwa pengelolaan BMT dilakukan secara professional dan kompetitif sehingga menghasilkan keuntungan maksimum dalam tingkat risiko yang ditetapkan oleh BMT. Termasuk di dalamnya adalah pelayanan

20

yang penuh dengan kecermatan dan kesantunan (ri’ayah) serta penuh rasa tanggung jawab (mas’uliyah).

Dalam membuat keputusan haruslah adil dan tidak terpengaruh oleh pihak manapun, penjelasan tersebut tercantum dalam ayat di atas bahwa seorang mukmin harus patuh terhadap seruan Tuhannya, maksudnya adalah pimpinan atau pengurus didalam BMT harus patuh terhadap peraturan dan undang-undang yang berlaku bahwa seorang pimpinan dalam memutuskan kebijakan harus independen yang artinya tidak ada pengaruh dari pihak manapun atau keputusan tersebut tidak dapat dipengaruhi oleh unsur apapun yang intinya tidak berpihak kepada yang berkepentingan.

5. Kesetaraan (fairness)

Dalam konteks akuntansi data adil sangat berkaitan dengan praktek moral yaitu kejujuran yang merupakan faktor dominan.Dapat dijelaskan dalam pengertian keadilan sesuai dengan terjemahan dari ayat di atas adalah BMT sebagai lembaga penerima dan penyalur dana umat harus adil dalam menyalurkan, baik dalam penentuan nisbah bagi hasil atau penyampaian kebijakan kepada stakeholders atau anggota, diharapkan dengan diwujudkannya keadilan ini akan tercipta budaya kinerja yang professional.

c. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance

Good corporate governance sebagaimana dimuat dalam Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia yang dikeluarkan oleh

Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance pada 17 Oktober 2004 adalah suatu tata kelola yang mengandung lima prinsip utama yaitu keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), tanggungjawab (responsibility), independensi (independency), dan kewajaran (fairness). Hal ini juga termaktub dalam Peraturan Bank Indonesia No.8/4/PBI/2006 dan PBI No. 11/33/PBI/2009.

Prinsip Good Corporate Governance sebagai lembaga intermediasi dan lembaga kepercayaan, dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut prinsip keterbukaan (transparency), memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values, sasaran usaha dan strategi bank sebagai pencerminan akuntabilitas bank (accountability), berpegang pada prudential banking practices dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung-jawab bank (responsibility), objektif dan bebas dari tekanan pihak manapun dalam pengambilan keputusan (independency), serta senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (fairness). Menurut Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (2004) dalam hubungan dengan prinsip tersebut bank perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

22

a. Keterbukaan (Transparency)

1) Bank harus mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya.

2) Informasi yang harus diungkapkan meliputi visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, cross shareholding, pejabat eksekutif, pengelolaan risiko (risk management), sistem pengawasan dan pengendalian intern, status kepatuhan, sistem dan pelaksanaan GCG serta kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi bank.

3) Prinsip keterbukaan yang dianut oleh bank tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan rahasia bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.

4) Kebijakan bank harus tertulis dan dikomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan (stakeholders) dan yang berhak memperoleh informasi tentang kebijakan tersebut.

b. Akuntabilitas (Accountability)

1) Bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing organ organisasi yang selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan.

2) Bank harus meyakini bahwa semuaorganisasi bank mempunyai kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya dan memahami perannya dalam pelaksanaan GCG.

3) Bank harus memastikan terdapatnya check and balance system dalam pengelolaan bank.

4) Bank harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang disepakati konsisten dengan nilai perusahaan (corporate values), sasaran usaha dan strategi bank serta memiliki rewards and punishment system.

c. Tanggung Jawab (Responsibility)

1) Untuk menjaga kelangsungan usahanya, bank harus berpegang pada prinsip kehati-hatian (prudential banking practices) dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku.

2) Bank harus bertindak sebagai good corporate citizen (perusahaan yang baik) termasuk peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan tanggung jawab sosial.

d. Independensi (Independency)

1) Bank harus menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholder manapun dan tidak terpengaruh oleh kepentingan sepihak serta bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest).

2) Bank dalam mengambil keputusan harus obyektif dan bebas dari segala tekanan dari pihak manapun.

24

e. Kewajaran (Fairness)

1) Bank harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (equaltreatment).

2) Bank harus memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan bank serta mempunyai akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan.

d. Tujuan Dan Manfaat Good Corporate Governance

Tujuan GCG adalah menciptakan sistem pengendalian dan keseimbangan (chekand balance) untuk mencegah penyalahgunaan dari sumber daya perusahaan dan tetap mendorong terjadinya pertumbuhan perusahaan.Corporate Governance yang efektif menciptakan sistem yang dapat menjaga keseimbangan dalam pengendalian perusahaan, sehingga dapat ditekan seminimal mungkin peluang-peluang terjadinya korupsi, penyalahgunaan wewenang masing-masing organ perusahaan, menciptakan insentif bagi manajemen untuk memaksimalkan produktivitas penggunaan aset dan sumber daya lainnya, sehingga dicapai hasil usaha yang maksimal (Sutedi, 2011: 125-126).

Adapun manfaat dalam pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) yang akan diperoleh adalah sebagai berikut:

1) Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi

operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.

2) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value.

3) Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

4) Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan

Dokumen terkait