• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN KOMPONEN PHT PADA TANAMAN KAKAO

Dalam dokumen laporan Pengelolaan Hama dan Penyakit Ta (Halaman 103-133)

PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT TERPADU

PENERAPAN KOMPONEN PHT PADA TANAMAN KAKAO

Oleh: Kiki Seftyanis NIM A1D015024

Rombongan 4

PJ Asisten : Nung Siti Mukharomah

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara pembudidaya tanaman kakao paling luas di dunia dan termasuk Negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory- Coast dan Ghana, yang nilai produksinya mencapai 1.315.800 ton/thn. Kurun waktu 5 tahun terakhir, perkembangan luas areal perkebunan kakao meningkat secara pesat dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 8%/thn dan saat ini mencapai 1.462.000 ha. Hampir 90% dari luasan tersebut merupakan perkebunan rakyat. Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan devisa Indonesia (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009).

Komoditas kakao menempati peringkat ketiga ekspor sektor perkebunan dalam menyumbang devisa negara, setelah komoditas CPO dan karet. Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2010 Indonesia menjadi produsen kakao terbesar ke-2 di dunia dengan produksi 844.630 ton, dibawah negara Pantai Gading dengan produksi 1,38 juta ton. Volume ekspor kakao Indonesia tahun 2009 sebesar 535.240 ton dengan nilai Rp. 1.413.535.000 dan volume impor sebesar 46.356 ton senilai 119,32 ribu US$ (Muis dan Basri, 2008).

Volume dan nilai ekspor kakao Indonesia pada periode 1999-2009 meningkat pesat masing-masing dengan laju 12% dan 10,84% per tahun. Hasil penelitian juga mendukung bahwa industri kakao patut dikembangkan sebagai

salah satu andalan karena mempunyai koefisien keterkaitan ke depan dan ke belakang yang lebih besar dari satu, efek penggandaan, dan lapangan kerja yang relative besar, serta efek distribusionalnya cukup baik (tersebar)Sejalan dengan peran penting tersebut, peluang pasar kakao Indonesia masih cukup terbuka. Potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka dan sangat menjanjikan. Kendala utama pada budidaya tanaman kakao adalah serangan jasad pengganggu tanaman. Agen utama penyebab kehilangan hasil pada tanaman kakao di Indonesa adalah Penggerek Buah Kakao (PBK, Conopomorpha cramerella). Kehilangan hasil akibat serangan PBK dapat mencapai 82,2. Penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Phythopthora palmivora juga dapat menurunkan produksi sebesar 52,99 % (Wahyudi et al., 2008).

Penerapan PHPT pada tanaman kakao memungkinkan petani memilih strategi pengelolaan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Penggunaan sistem pengelolaan terpadu mengurangi tingkat serangan hama dan penyakit pada tanaman kakao, mengurangi penggunaan bahan kimia yang tidak perlu, menyediakan alternatif pengelolaan hama dan penyakit dan memperbaiki hasil serta kualitas kakao, oleh karena itu dapat meningkatkan pendapatan petani. Hal ini yang menyebabkan dilakukannya praktikum penerapan. Strategi pengendalian jasad pengganggu tanaman dilakukan dengan memadukan berbagai komponen pengendalian dalam sistem pengendalian hama terpadu (PHT, integrated pest management). Komponen yang terkait dengan sistem PHT tersebut adalah bahan tanam tahan PBK, agen biologi, dan managemen lingkungan. Pemaduan ketiga

komponen tersebut didasarkan atas pertimbangan ekologis, ekonomis, dan sosiologis. Oleh sebab itu perakitan teknologi pengendalian hama PBK pun diarahkan sesuai konsep PHT tersebut. Hal ini yang salah satunya mendasari dilakukannya praktikum penerapan komponen PHT pada tanaman kakao.

B. Tujuan

Praktikum penerapan komponen PHT pada tanaman kakao bertujuan untuk: 1. Mengetahui jenis hama dan penyakit pada tanaman kakao.

2. Menerapkan beberapa komponen PHT pada tanaman kakao.

3. Mengetahui keuntungan penerapan masing-masing komponen PHT pada tanaman kakao.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang terus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Upaya pengembangan tanaman kakao disamping masih diarahkan pada peningkatan populasi (luas lahan) juga telah banyak diarahkan pada peningkatan jumlah produksi dan mutu hasil. Adapun aspek yang paling diperhatikan dalam usaha peningkatan jumlah produksi dan mutu hasil adalah penggunaan jenis-jenis kakao unggul dalam pembudidayaan tanaman kakao. Saat ini terdapat sejumlah jenis kakao unggul yang sering digunakan dalam budidaya kakao, antara lain jenis (klon) Sulawesi 1 dan Sulawesi 2 (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009).

Kakao merupakan satu-satunya dari 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae, yang diusahakan secara komersial. Menurut Basri (2004) sistematika tanaman ini sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta Anak divisi : Angioospermae Kelas : Dicotyledoneae Anak kelas : Dialypetalae Bangsa : Malvales

Suku : Sterculiaceae Marga : Theobroma

Beberapa sifat (penciri) dari buah dan biji digunakan dasar klasifikasi dalam sistem taksonomi. Berdasarkan bentuk buahnya, kakao dapat dikelompokkan ke dalam empat populasi. Kakao lindak (bulk) yang telah tersebar luas di daerah tropika adalah anggota sub jenis sphaerocarpum. Bentuk bijinya lonjong, pipih dan keping bijinya berwarna ungu gelap. Mutunya beragam tetapi lebih rendah daripada sub jenis cacao. Permukaan kulit buahnya relatif halus karena alur- alurnya dangkal. Kulit buah tipis tetapi keras (liat) (Winarsih dan Prawoto, 1995).

Menurut Fitriana et al., (2012), kakao dibagi tiga kelompok besar, yaitu criollo, forastero, dan trinitario; sebagian sifat criollo telah disebutkan di atas. Sifat lainnya adalah pertumbuhannya kurang kuat, daya hasil lebih rendah daripada forastero, relatif gampang terserang hama dan penyakit permukaan kulit buah criollo kasar, berbenjolbenjol dan alur-alurnya jelas. Kulit ini tebal tetapi lunak sehingga mudah dipecah. Kadar lemak biji lebih rendah daripada forastero tetapi ukuran bijinya besar, bulat, dan memberikan citarasa khas yang baik. Dalam tata niaga kakao criollo termasuk kelompok kakao mulia (fine flavoured), sementara itu kakao forastero termasuk kelompok kakao lindak (bulk), kelompok kakao trinitario merupakan hibrida criollo dengan farastero. Sifat morfologi dan fisiologinya sangat beragam demikian juga daya dan mutu hasilnya. Dalam tata niaga, kelompok trinitario dapat masuk ke dalam kakao mulia dan lindak, tergantung pada mutu bijinya (Karmawati et al., 2010).

Puji (2005) mengatakan, bahwa sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan tanaman. Lingkungan alami tanaman kakao adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan, suhu udara dan sinar matahari

menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan. Begitu pula dengan faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus dan kemampuan akar menyerap hara. Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao ditanam pada daerah-daerah yang berada pada 10o LU-10o LS. Namun demikian, penyebaran kakao umumnya berada di antara 7o LU-18o LS. Hal ini erat kaitannya dengan distribusi curah hujan dan jumlah penyinaran matahari sepanjang tahun. Kakao juga masih toleran pada daerah 20o LU-20o LS. Sehingga Indonesia yang berada pada 5o LU-10o LS masih sesuai untuk pertanaman kakao. Ketinggian tempat di Indonesia yang ideal untuk penanaman kakao adalah < 800 m dari permukaan laut.

Hama PBK (Conopomorpha cramerella) merupakan hama utama kakao yang menyebabkan kerugian mencapai miliaran rupiah. Daerah sebarannya melanda hampir semua propinsi penghasil kakao di Indonesia. Stadium yang menimbulkan kerusakan adalah stadium larva yang menyerang buah kakao mulai berukuran 3 cm sampai menjelang masak. Ulat merusak dengan cara menggerek buah, makan kulit buah, daging buah dan membuat saluran ke biji, sehingga biji saling melekat, berwarna kehitaman, sulit dipisahkan dan berukuran lebih kecil (Vander vossen, 1997).

PBK adalah ngengat kecil. Kenampakan PBK adalah sebagai larva (seperti cacing) dalam fase muda dan sebagai ngengat pada fase dewasa. Panjang ngengat sekitar 1 cm. Serangan penggerek buah kakao dapat dikenali dari pemasakan buah yang tidak sempurna dan dari lubang kecil pada kulit buah yang dibuat serangga

untuk masuk dan keluar. Larva penggerek buah kakao akan terlihat jika buah dibuka. Biji sering dijumpai menggumpal menjadi satu (Puslitkoka, 2008).

Penggerek Buah Kakao (PBK) adalah hama penting pada usaha pertanaman kakao yang sulit dideteksi dan sulit dikendalikan. Mengingat semakin luasnya penyebaran hama PBK dan besarnya kerugian yang ditimbulkan, maka perlu dicari metode penanggulangan hama PBK yang efektif dan efisien. Strategi pengendalian yang diterapkan di Indonesia berpedoman pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) (Beding et al., 2002). Oleh karena itu untuk menanggulangi PBK perlu dilakukan berbagai cara yang merupakan satu paket penanggulangan yang penentuannya didasarkan pada tingkat serangan dan keadaan tanaman kakao. Tindakan pengendalian terpadu PBK untuk daerah serangan yaitu pemangkasan bentuk, panen sering, sanitasi, penyemprotan insektisida, penyarungan buah dan pengendalian hayati (Sulistyowati 2008).

Karmawati (2010) menjelaskan, bahwa selain PBK, hama yang sering dijumpai pada pertanaman kakao adalah Helopeltis spp. (Famili Miridae: Ordo Hemiptera). Helopeltis spp. merupakan salah satu hama utama kakao yang banyak dijumpai hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Jenis Helopeltis yang menyerang tanaman kakao diketahui lebih dari satu spesies, yaitu H. antonii, H. theivora dan H. claviver (Karmawati et al., 2010). Stadium yang merusak dari hama ini adalah nimfa (serangga muda) dan imagonya. Nimfa dan imago menyerang buah muda dengan cara menusukkan alat mulutnya ke dalam jaringan, kemudian mengisap cairan di dalamnya. Sambil mengisap cairan, kepik tersebut juga mengeluarkan cairan yang bersifat racun yang dapat mematikan sel-sel

jaringan yang ada di sekitar tusukan. Selain buah, hama ini juga menyerang pucuk dan daun muda.

Penyakit busuk buah merupakan penyakit terpenting karena menyerang hampir di seluruh areal penanaman kakao dan kerugiannya dapat langsung dirasakan. Penyakit ini disebabkan oleh Phytopthora palmivora Bute, sejenis jamur yang dapat mempertahankan hidupnya dalam tanah bertahun-tahun. Pada musim kering spora hidup dalam tanah dalam bentuk siste yang mempunyai dinding tebal. Penyebaran jamur dari buah satu ke buah lain melalui berbagai cara yaitu percikan air hujan, persinggungan antara buah sakit dan buah sehat, melalui binatang penyebar seperti tikus, tupai atau bekicot. Kerugian yang disebabkan penyakit cukup besar persentase busuk buah di beberapa daerah mencapai 30-50% (Tumpal et al., 2006).

Berdasarkan UU nomor 12 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995, kegiatan penanganan OPT merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dengan menerapkan system Pengendalian Hama Terpadu (PHT). UU no. 12 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah no. 6 tahun 1995, menyatakan bahwa kegiatan penanganan OPT merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dengan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) (Menteri Pertanian, 2005). PHT atau yang dikenal dengan Integrated Pest Management (IPM), merupakan suatu konsep atau paradigma yang dinamis, tidak statis, yang selalu menyesuaikan dengan dinamika ekosistem pertanian dan sistem social ekonomi dan budaya masyarakat setempat. PHT mendorong kemandirian dan keberdayaan dalam pengambilan keputusan

daripada ketergantungan pada pihak-pihak lain (Untung, 2003). Berdasarkan hal tersebut maka petani yang langsung berhubungan dengan kegiatan pertanian tersebut diharapkan dapat berperan sebagai manager di kebunnya sendiri, yang mampu mengambil keputusan dan melakukan tindakan untuk mengatasi masalah OPT.

Menurut Wahyudi et al., (2002) mengatakan, bahwa pengelolaan hama dan penyakit terpadu (PHPT) dirancang untuk menyeimbangkan dan mengelola kegiatan yang ada hubungannya dengan daur pertanaman kakao. Meskipun bahan tanam baru merupakan komponen utama teknologi PHPT, teknologi ini sama efektifnya jika diterapkan pada tanaman kakao klonal atau hibrida yang telah ada. PHPT dirancang untuk memaksimumkan keuntungan petani dengan cara memperbaiki kesehatan tanaman kakao. Badan Litbang Pertanian (2007) menambahkan, bahwa tujuan PHPT adalah untuk:

1. Memperbaiki kesehatan tanaman.

2. Membentuk struktur pohon primer yang produktif. 3. Mengurangi serangan hama dan penyakit.

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat

Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum penerapan komponen PHT pada tanaman kakao yaitu tanaman kakao yang sedang berbuah muda, pupuk kandang, gula merah dan air. Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu kantong plastik bambu, gergaji, gunting pangkas, cangkul, karet gelang, ember, kamera, dan alat tulis.

B. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum penerapan komponen PHT pada tanaman kakao antara lain:

1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok besar (4 – 5 orang). 2. Bahan dan alat dipersiapkan.

3. Mahasiswa diajak pergi ke pertanaman kakao.

4. Hama dan penyakit yang ada pada pertanaman kakao diamati. 5. Komponen PHT diterapkan pada tanaman kakao yang ada.

6. Kebun dibersihkan dari seresah/sampah daun sebatas tajuk terluar.

7. Tunas muda atau tunas air dipangkas dengan menggunakan gunting pangkas atau gergaji.

8. Sarang buatan yang berisi seresah daun kering dan dicampurkan dengan gula merah pada kantong kresek dipasang pada tanaman kakao sebagai sarang dari predator semut hitam.

9. Tanaman kakao digemburkan dengan cangkul untuk kemudian dipupuk dengan pupuk kandang dan selanjutnya disiram dengan air.

10. Buah kakao yang masih muda diselubungi dengan kantung plastik untuk menghindari serangan hama PBK dan Helopeltis sp.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1.1 Penerapan komponen PHT pada tanaman kakao No

. Gambar Kegiatan Keterangan

1. Melakukan sanitasi pada sekitar tanaman kakao.

2. Pemangkasan tanaman kakao dengan memangkas ranting yang sudak tidak berproduktif.

3. Melakukan penyarungan (kondomisasi) pada buah kakao dengan menggunakan plastic yang di selipkan pada bamboo kemudian di ikat karet.

4. Melakukan pembuatan sarang untuk semut dengan daun yang di tambah gula merah, kemudian meletakkannya di ranting tanaman kakao.

5. Pembumbunan pada tanaman kakao dengan mencangkul tanah di sekitar kakao

6. Pemupukan tanaman kakao secara merata dengan pupuk kendang/kompos.

B. Pembahasan

Pemeliharaan kebun kakao merupakan kegiatan utama yang dilakukan agar memperoleh produksi biji kakao yang tinggi dan terus berkelanjutan. Perawatan bertujuan untuk memperbaiki kondisi vegetatif tanaman kakao, meningkatkan produktivitas dan kesinambungan produksi hingga umur ekonomisnya sekitar 28 tahun dan menjaga kelestarian tanah dan lingkungannya. Perawatan kebun kakao ini terbagi atas dua fase, yaitu perawatan dalam fase TBM dan TM (Supriadi, 2011). Pemeliharaan dalam fase TBM yaitu (Rubiyo, & Amaria, 2013):

1. Pembersihan gulma secara manual pada piringan tanaman. 2. Pemupukan.

3. Pemangkasan penaung tetap dan penaung sementara. 4. Pemangkasan bentuk tanaman kakao.

Hanada et al., (2009) mengatakan, bahwa upaya peningkatan roduksi dan roduktifitas mutu tanaman perkebunan khususnya tanaman kakao perawatan kebun kakao merupakan kegiatan yang harus dilakukan agar memperoleh produksi biji kakao yang tinggi dan terus berkelanjutan. Perawatan yang harus diprioritaskan, untuk tujuan seperti memperbaiki kondisi vegetatif tanaman kakao, meningkatkan produktivitas dan kesinambungan produksi hingga umur ekonomisnya sekitar 28 tahun dan menjaga kelestarian tanah dan lingkungannya, adalah pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Perawatan kebun kakao ini terbagi atas dua fase, yaitu perawatan dalam fase tanaman belum menghasilkan (TBM) dan fase tanaman menghasilkan (TM). Perawatan dalam fase TBM adalah pembersihan gulma secara manual pada piringan tanaman, pemupukan, pemangkasan penaung tetap dan penaung sementara, pemangkasan bentuk tanaman kakao, dan pengendaliah hama maupun penyakit.

Menurut Untung (2003) menjelaskan, bahwa pemangkasan bentuk dilakukan setelah tanaman membentuk jorket yang dimaksudkan untuk membentuk kerangka percabangan yang kuat dan seimbang, dari 4-5 cabang primer yang terbentuk dipilih 3 buah cabang primer yang masing-masing tersebar merata membentuk sudut 120 derajat, sedangkan cabang primer lainnya dipangkas. Cabang-cabang sekunder sampai dengan 60 cm dari pusat percabangan dipangkas.

Pemangkasan merupakan kegiatan membuang dan memotong cabang- cabang negatif, yaitu cabang mati, cabang kering, dan cabang sakit, serta membuang cabang yang tidak produktif. Pada dasarnya pemangkasan kakao

dimaksudkan untuk memperoleh nilai ILD optimal agar hasil bersih fotosintesis maksimal. Tanaman kakao bila tidak dipangkas tingginya dapat mencapai 10 m, sedangkan tinggi maksimal tanaman kakao sebagai tanaman budidaya adalah 3-4 m. Oleh karena itu,pemangkasan menjadi kegiatan pemeliharaan yang penting bagi pertanaman kakao (Wahyudi et al., 2002).

Pemangkasan pada tanaman kakao belum menghasilkan yang dilakukan saat praktikum menggunkan gunting dan gergaji dimana, dilakukan dengan cara memangkas cabang-cabang diluar 3 cabang utama, membuang ranting-rating yang kurang dari sama dengan 2 cm dengan jarak awal 20 cm dari jorgnette, jarak selanjunya dengan jarak 30 cm, dan membuang daun-daun sudah rusak dan yang berada diranting-ranting. Pemangkasan dimaksudkan untuk memperoleh bentuk kanopi yang baik dan meningkatkan penetrasi cahaya ke dalam kanopi. Kanopi yang ideal adalah apabila sebagian besar percabangan dapat menerima cahaya matahari (percabangan yang berorientasi vertikal). Kanopi yang ideal bertujuan untuk mendapatkan ILD (Indek Luas Daun) yang optimum bagi pertanaman. Peranan ILD ini sangat penting dalam menentukan kecepatan fotosintesis dan untuk taksasi produksi. Jumlah karbohidrat hasil fotosintesis kanopi kakao meningkat sesuai dengan meningkatnya nilai ILD, akan tetapi hanya sampai pada batas dimana peningkatan bahan kering tanaman berada pada titik optimal ILD. ILD yang optimal cenderung akan menghasilkan produksi yang maksimal (Tumpal et al., 2006).

Maulidiyah (2013) menjelaskan, bahwa pemangkasan kakao mempunyai tujuan: (1) memperoleh kerangka dasar percabangan tanaman kakao yang baik,

(2) mengatur penyebaran cabang dan daun-daun produktif di tajuk merata, (3) membuang bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, seperti tunas air serta cabang sakit, patah, menggantung, dan cabang terbalik, (4) memacu tanaman membentuk daun baru yang potensial untuk sumber asimilat, (5) menekan resiko terjadinya serangan hama dan penyakit, dan (6) meningkatkan tanaman menghasilkan buah. Selain pemangkasan terhadap tanaman kakao, pemangkasan terhadap pohon pelindung perlu dilakukan agar percabangan dan dedaunannya tumbuh tinggi dan baik. Pohon pelindung yang dibiarkan tanpa dipangkas akan membatasi pertumbuhan kakao, karena menghalangi sinar matahari serta menimbulkan persaingan dengan tanaman utama dalam mendapatkan air dan hara. Helopeltis spp. (Hemiptera: Miridae) merupakan salah satu hama pada tanaman kakao. Selain pada tanaman kakao, Helopeltis juga menyerang tanaman lainnya seperti teh, kina, kapok, kayu manis, dan jambu mete. Daerah sebaran serangga ini meliputi Afrika, Ceylon, Malaya, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Sabah, Papua Nugini, dan Filipina (Sulistyowati et al., 2014). Pada tanaman kakao, Helopeltis spp. menyerang bagian buah, pucuk, dan ranting muda, serangan dapat menurunkan produksi buah kakao 50%-60% (Siswanto, & Karmawati, 2012).

Menurut Sulistyowati (2008), serangan Helopeltis spp. dikelompokkan menjadi: (1) kategori ringan, bercak buah <25%; (2) kategori sedang, bercak buah 25-50%; dan (3) kategori berat, bercak buah >50%. Pengendalian secara biologi dilakukan dengan menggunakan musuh alami yang menyerang Helopeltis spp., seperti predator, parasitoid, dan patogen serangga (entomopathogen). Barthakur

(2011) melaporkan beberapa musuh alami golongan predator yang berperan sebagai pengendali Helopeltis spp. adalah Chrysoperla carnea (Neuroptera: Chrysopidae), Mallada sp. (Neuroptera: Chrysopidae), dan Oxyopes sp. (Arachnida: Oxyopidae). Berdasarkan hasil penelitian Karmawati et al., (1999), telah ditemukan beberapa jenis predator H antonii, yaitu Coccinella sp., semut hitam (Dolichoderus thoracicus) dan semut merah (Oecophylla smaragdina). Namun, populasi semut hitam dan semut rangrang lebih dominan. Keefektifan predator dalam mengendalikan H. antonii membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Semut hitam (Dolichoderus thoracicus) dan semut merah (Oecophylla smaragdina) mengganggu imago Helopeltis spp. Permukaan buah menyebabkan Helopeltis tidak bisa meletakkan telur atau mengisap buah karena diserang oleh semut tersebut.

Hasil penelitian Wiryadiputra (2007) menunjukkan pemapanan semut hitam dengan menggunakan sarang daun kelapa yang dikombinasikan dengan inokulasi kutu putih (Cataenococcus hispidus) menggunakan sayatan kulit buah kakao cukup berhasil dan dapat menekan serangan dan populasi Helopeltis secara efektif pada periode empat bulan setelah pemapanan, terutama pada tanaman kakao dengan penaung kelapa. Pengendalian secara hayati H. antonii pada tanaman kakao dengan menggunakan semut hitam cukup prospektif, terutama jenis D. thoracicus. Predator tersebut pernah diteliti pada tahun 1904 di perkebunan Silowuk Sawangan dan tahun 1938 di Kediri. Hasil penelitian menunjukkan tingkat serangan H. antonii pada buah kakao yang sering dikunjungi semut hitam lebih rendah dari pada yang tidak dikunjungi semut. Namun, jenis semut ini tidak

dapat bersaing dengan jenis lainnya pada habitat baru. Oleh karena itu, sebelum diintroduksikan, lokasi baru perlu dibebaskan dari jenis semut lain.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (2006) mengatakan, bahwa salah satu penyebab rendahnya produktivitas kakao di Indonesia adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Banyak jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakao. Hama utama tanaman kakao di Indonesia antara lain penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) dan kepik pengisap buah (Helopeltis spp.). Pengendalian hama tersebut, pada umumnya petani menggunakan insektisida kimiawi yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu upaya mengurangi dampak negatif dalam pengendalian hama tersebut yaitu dengan memanfaatkan pestisida nabati dan agens hayati seperti parasitoid, predator dan pathogen yang bersifat ramah terhadap lingkungan.

Cendawan entomopatogen juga sangat potensial mengendalikan serangga hama tanaman kakao seperti Helopeltis spp. dan PBK. Bioinsektisida cendawan entomopatogen memiliki kelebihan dalam keamanan penggunaannya. Cendawan ini memiliki spektrum inang dari yang sangat luas seperti Metharizium anisopliae sampai yang sangat sempit dan spesifik seperti Aschersonia spp., yang hanya menyerang lalat putih (Dwomoh et al., 2008). Beberapa kelebihan lain penggunaan produk bioinsektisida cendawan entomopatogen yaitu memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri sehingga petani pengguna tidak perlu membelinya secara berkala. Produk ini juga memiliki keunggulan dari segi kesehatan karena sifatnya yang spesifik pada serangga tertentu. Selain itu

cendawan entomopatogen aman terhadap tanaman pertanian dan manusia (Karmawati, 2010).

Menurut Purwantara et al., (2008) menyatakan, bahwa diantara agens hayati yang diketahui efektif terhadap PBK dan kepik pengisap buah kakao, cendawan entomopatogen B. bassiana adalah patogen yang paling efektif dan paling banyak digunakan. Terdapat kurang lebih 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur B. bassiana. Beberapa Keunggulan cendawan B. bassiana sebagai pestisida alami yaitu (Untung, 2003):

1. Selektif terhadap hama sasaran, sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk dan serangga berguna lebah madu.

2. Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.

3. Tidak menyebabkan fitotoksik (keracunan) pada tanaman. 4. Mudah diproduksi dengan teknik sederhana.

5. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang efektif, penyemprotan sebaiknya dilakukan sore hari (pukul 15.00 - 18.00) untuk mengurangi kerusakan oleh sinar matahari.

6. Formulasi B. bassiana sebaiknya disimpan di tempat sejuk untuk

Dalam dokumen laporan Pengelolaan Hama dan Penyakit Ta (Halaman 103-133)

Dokumen terkait