• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan Pengelolaan Hama dan Penyakit Ta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "laporan Pengelolaan Hama dan Penyakit Ta"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Kiki Seftyanis
  • Pengajar:
    • Nung Siti Mukharomah
  • Sekolah: Universitas Jenderal Soedirman
  • Mata Pelajaran: Pertanian
  • Topik: Laporan Praktikum Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu
  • Tipe: Laporan Praktikum
  • Kota: Purwokerto

I. Pendahuluan

Bagian pendahuluan laporan ini menjelaskan latar belakang pentingnya pengelolaan agroekosistem dalam konteks ketahanan pangan nasional. Dipaparkan dampak negatif penggunaan agrokimia yang berlebihan terhadap lingkungan dan kesehatan, serta ditekankan perlunya pendekatan terpadu dalam pengendalian hama dan penyakit. Tujuan praktikum dijelaskan secara rinci, meliputi pemahaman jenis dan fungsi agroekosistem, pengenalan komponen ekosistem pertanian, penentuan keputusan pengelolaan agroekosistem, dan peningkatan keahlian praktikan dalam pengelolaan lahan.

1.1 Latar Belakang

Laporan ini membahas pentingnya agroekosistem dalam ketahanan pangan. Praktik pertanian monokultur yang intensif, bergantung pada agrokimia, menimbulkan dampak negatif. Penelitian menunjukkan dampak lingkungan dan sosial yang merugikan dari penggunaan pestisida dan pupuk kimia (Gerald, 1998). Agroekosistem, sebagai ekosistem pertanian, rentan terhadap ketidakstabilan jika tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan yang baik menekan serangan hama dan penyakit tanpa merusak lingkungan. Praktikum ini bertujuan untuk memahami cara mencegah serangan hama dan penyakit serta meningkatkan produktivitas tanaman.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mencapai beberapa sasaran penting. Pertama, untuk memahami jenis dan fungsi agroekosistem. Kedua, mengenal komponen-komponen ekosistem pertanian, baik biotik maupun abiotik. Ketiga, mampu menentukan keputusan pengelolaan agroekosistem yang tepat. Terakhir, memberikan kesempatan praktik bagi mahasiswa untuk meningkatkan keahlian dalam pengelolaan lahan pertanian mereka sendiri, khususnya dalam pengendalian hama dan penyakit.

II. Tinjauan Pustaka

Bagian ini menyajikan tinjauan pustaka yang komprehensif tentang agroekosistem dan pengelolaan hama penyakit terpadu. Definisi dan komponen agroekosistem dijelaskan secara detail, termasuk komponen biotik (patogen, gulma, serangga, musuh alami) dan abiotik (suhu, kelembaban, air, sinar matahari, tanah). Diskusi juga mencakup pendekatan pragmatis dalam pengelolaan agroekosistem, prinsip keberlanjutan dan kesetaraan dalam pembangunan pertanian, serta karakteristik tanaman jati sebagai studi kasus.

2.1 Definisi dan Komponen Agroekosistem

Agroekosistem didefinisikan sebagai ekosistem pertanian yang dimodifikasi manusia (Mangan, 2002). Untung (1992) menjelaskan ekosistem sebagai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Agroekosistem terdiri dari komponen biotik (patogen, gulma, serangga, musuh alami) dan abiotik (suhu, kelembaban, air, sinar matahari, tanah) (Nurindah, 2006; Irwan, 2014). Rohman (2008) menambahkan unsur buatan sebagai penciri agroekosistem, yang dipengaruhi kemajuan teknologi dan investasi infrastruktur. Pendekatan agroekosistem yang komprehensif mencakup aspek biofisik, sosial-ekonomi, dan kelembagaan (Sumardi, 2004). Pembangunan pertanian perlu mempertimbangkan keberlanjutan, stabilitas, dan kemerataan (Purwowidodo, 1991; KEPAS, 1988).

2.2 Tanaman Jati sebagai Studi Kasus

Tanaman jati (Tectona grandis Linn.f.) dipilih sebagai studi kasus karena nilai ekonomisnya yang tinggi. Syarat tumbuh jati di Indonesia meliputi curah hujan, bulan kering, ketinggian, intensitas cahaya, pH tanah, dan jenis tanah (Supriatna dan Wijayanto, 2011). Jati merupakan komoditas penting di pasar kayu internasional (Fitriani, 2012; Suryana, 2001). Tinjauan pustaka ini menyediakan dasar teoritis untuk analisis lebih lanjut tentang pengelolaan hama dan penyakit pada tanaman jati dalam konteks agroekosistem.

III. Metode Praktikum

Bagian metode menjelaskan bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum, yaitu pertanaman jati dan alat-alat pendukung pengamatan. Prosedur kerja diuraikan secara rinci, meliputi pembagian kelompok, pengamatan komponen agroekosistem, penggambaran dan pencatatan hasil pengamatan, pengkoleksian sampel, dan presentasi hasil.

3.1 Bahan dan Alat

Praktikum menggunakan pertanaman jati sebagai objek utama. Bahan-bahan yang digunakan meliputi kertas manila, pensil warna, spidol, alat tulis, kamera, dan kalkulator. Peralatan ini diperlukan untuk mendokumentasikan dan menganalisis kondisi agroekosistem tanaman jati, khususnya dalam kaitannya dengan hama dan penyakit yang menyerang. Persiapan yang matang terhadap bahan dan alat ini sangat penting untuk keberhasilan praktikum.

3.2 Prosedur Kerja

Prosedur praktikum diawali dengan pembagian mahasiswa ke dalam kelompok kecil. Kelompok-kelompok ini kemudian melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk mengamati komponen agroekosistem tanaman jati, termasuk hama dan penyakitnya. Pengamatan meliputi penggambaran kondisi umum agroekosistem, pencatatan data, pengkoleksian sampel serangga dan bagian tanaman yang terserang penyakit, dan diakhiri dengan presentasi hasil pengamatan. Langkah-langkah ini memastikan data yang dikumpulkan akurat dan representatif.

IV. Hasil dan Pembahasan

Bagian ini memaparkan hasil pengamatan dan analisisnya. Hasil pengamatan berupa gambar dan data kuantitatif terkait intensitas serangan hama dan penyakit pada tanaman jati. Pembahasan mendalam dilakukan untuk menjelaskan gejala serangan hama (kutu putih, tungau merah, rayap), mekanisme kerusakan, serta strategi pengendalian yang sesuai dengan prinsip PHT. Analisis ini juga mencakup komponen abiotik dan biotik agroekosistem.

4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan menunjukkan adanya serangan kutu putih (Paracoccus marginatus), tungau merah (Tetranychus cinnabarinus), dan rayap pada tanaman jati. Gejala serangan kutu putih meliputi bercak putih pada daun, daun keriting, dan daun mengering. Tungau merah menyebabkan bercak kuning pada daun yang kemudian menyebar hingga daun menjadi kemerahan atau coklat. Rayap menyerang batang tanaman. Intensitas serangan hama relatif rendah, terutama pada saat pengamatan dilakukan di musim hujan. Gambar transek agroekosistem dan data kuantitatif intensitas serangan disertakan dalam laporan.

4.2 Pembahasan

Pembahasan menganalisis gejala serangan hama dan penyakit secara detail. Diskusi mencakup mekanisme kerusakan yang ditimbulkan oleh masing-masing hama, serta literatur pendukung yang menjelaskan karakteristik hama dan penyakit tersebut (Noyes and Schauff, 2003; Muniapan et al., 2006; Henuhili dan Aminatun, 2013; Amarasekare et al., 2009; Marjenah, 2008; Sartiami et al., 2009; Oka, 1995; Disbun Propinsi NTB, 2001; Bermejo et al., 2004; Ruchaemi, 2013). Pembahasan juga mengevaluasi kondisi agroekosistem, baik komponen biotik maupun abiotik, dan hubungannya dengan serangan hama dan penyakit.

V. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan laporan merangkum temuan utama praktikum, menekankan pentingnya pengelolaan agroekosistem terpadu dalam pengendalian hama dan penyakit. Saran diberikan untuk meningkatkan kualitas praktikum di masa mendatang, misalnya dengan penjelasan yang lebih rinci dari asisten praktikum.

5.1 Kesimpulan

Praktikum menyimpulkan pentingnya pengelolaan agroekosistem terpadu. Berbagai agroekosistem (perkebunan, tanaman pangan, hortikultura) memiliki fungsi yang saling berkaitan dalam menunjang pertumbuhan tanaman. Komponen biotik dan abiotik saling memengaruhi. Pengelolaan yang baik meliputi pemilihan bibit unggul, pengaturan jarak tanam, penanaman tanaman naungan, sanitasi lingkungan, pemangkasan, pengairan, pemupukan, dan pengendalian OPT secara hayati. Analisis agroekosistem membantu petani dalam mengatasi masalah hama dan penyakit tanaman. Pengelolaan yang baik bertujuan untuk memaksimalkan hasil dengan input minimal.

5.2 Saran

Laporan menyarankan agar asisten praktikum memberikan penjelasan yang lebih rinci selama kegiatan praktikum untuk menghindari kebingungan mahasiswa. Penjelasan yang lebih detail mengenai prosedur dan tujuan pengamatan akan meningkatkan pemahaman mahasiswa dan kualitas hasil pengamatan. Perlu juga diperhatikan kesesuaian antara teori yang diajarkan di kelas dengan praktik di lapangan.

Referensi Dokumen

  • Pest of Crops in Indonesia ( Kalshoven, I.G.E. )
  • Handbook of Plants with Pest-Control Properties ( Grainge, M. & S. Ahmed )
  • Uji Sitotoksin Ekstrak Petroleum Eter Herba Bandotan (Ageratum conyzoides L.) Terhadap sel T47D dan Profil Cromatografi Lapis Tipis ( Handayani, A.R. )
  • Manfaat Biji Saga (Abrus precatorius L.) Sebagai Bahan Pengendali Hama yang Berwawasan Lingkungan ( Iskandar, M. dan A. Kardinan )
  • Pestisida Nabati: Ramuan dan Aplikasi ( Kardinan, A. )
  • Pengaruh Beberapa Jenis Ekstrak Tanaman Sebagai Moluskisida Nabati Terhadap Keong Mas, Pomacea canaliculata ( Kardinan, A. dan M. Iskandar )
  • Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan ( Kartasapoetra AG )
  • Plasma nutfah insektisida nabati ( Martono, B.; E. Hadipoentiyanti; dan U. Darno )
  • Toksisitas Ekstrak Kasar Biji Sirsak ( Maryani, I. )
  • Teknologi Produksi Kubis Bebas Residu (Bahan Kimia) ( Departemen Pertanian )
  • Dasar-dasar Penyuluhan Pertanian ( Departemen Pertanian )
  • Sekolah Lapangan: Suatu Upaya Pembaharuan Penyuluhan Pertanian ( Dilts, R. )
  • Pengendalian Sitophilus spp. dengan Lada dan Cabai Rawit dalam Usaha Mempertahankan Viabilitas Benih Jagung dalam Penyimpanan ( Dinarto, W. dan D. Astriani )
  • Pedoman Teknis Budidaya Teh ( Darmawijaya, M. )

Gambar

Gambar 1.1 Transek agroekosistem pada pertanaman jati
Gambar 1.2 Transek PHT tanaman jati
Gambar 1.4 Transek PHT tanaman jambu biji
Gambar diatas termasuk hama yang menyerang tanaman pada saat pengamatan.
+6

Referensi

Dokumen terkait

Jenis-jenis hama yang menyerang pada tanaman jati di wilayah Desa Talaga adalah Rayap pohon, Rayap kayu kering, Kutu daun, Semut hitam dan Oleng-oleng.. Pada kriteria

Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi

Gejala kerusakan tanaman akibat serangan kutu kebul adalah terdapatnya kutu-kutu berwarna pucat sampai kuning kehijauan pada bagian bawah daun atau daun

Berdasarkan hasil penelitian pada tanaman hias camellia di Kebun Raya Cibodas ditemukan beberapa hama yang menyerang yaitu kutu sisik (Fiorinia theae) dan kutu

Pengamatan pada umur 6 bulan meliputi tinggi tanaman, skor gejala serangan tungau merah ( Tetranycus , sp), kutu putih ( Phenacoccus manihoti ), penyakit bercak daun coklat dan jumlah

Hasil pengamatan terhadap penyakit yang menyerang menunjukkan bahwa selama masa pertumbuhan tanaman, hanya penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan

Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman

Pengamatan di pembibitan meperlihatkan adanya gejala serangan kutu berwarna putih yang berkelompok pada batang dan daun bibit sengon, daun gugur dan pada