• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PENELITIAN, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN

B. ANALISIS DATA

1. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Berdasarkan hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran berbasis masalah mendapat skor keseluruhan 89,77% (lebih dari 80%) yang berarti pembelajaran terlaksana dengan baik di kelas VII-Appreciation semester genap tahun ajaran 2014/2015 SMP Joannes Bosco Yogyakarta. Pada sub bab sebelumnya juga telah didapatkan kategori-kategori data pembelajaran pada setiap pertemuan. Kategori data pada setiap pertemuan akan dibahas sebagai berikut.

a. Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama kategori datanya adalah kegiatan awal pembelajaran, kegiatan inti yang meliputi: orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individu dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan

hasil karya, menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, serta kegiatan akhir pembelajaran.

Tujuan pembelajaran pada pertemuan pertama adalah siswa dapat menggunakan konsep harga satuan, untung ataupun rugi untuk menyelesaikan permasalahan dengan benar melalui diskusi dalam kelompok.

1) Kegiatan awal pembelajaran

Pembelajaran diawali dengan pengucapan salam pembuka, penyampaian tujuan pembelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar dan apersepsi terhadap materi aritmetika sosial. Guru mencoba untuk membuat siswa aktif dan tertarik mengikuti pembelajaran dengan mengaitkan pembelajaran pada kehidupan sehari-hari. Hal ini tampak pada cuplikan transkrip berikut.

G : “Ketika kalian ke kantin kalian ngapain?”

SS : “Jajan” [bersama-sama menjawab]

G : “Jajan , membawa apa?”

SS : “Uang …”[siswa menjawab dengan bersemangat]

G : “Kalau di sana dapet apa?”

SS : “Makanan …”

G : “Kita akan mempelajari hal-hal semacam itu …”

S29 : “Berarti nanti kita dapet makanan hehe …”

Menurut percakapan di atas, terlihat bahwa siswa berantusias menanggapi apersepsi dari guru tentang kegiatan yang berkaitan dengan aritmetika sosial. Materi yang kontekstual cenderung membuat siswa memiliki ketertarikan yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran.

2) Kegiatan inti

Kategori ini diawali dengan pembentukan tujuh kelompok diskusi yang setiap kelompoknya terdiri dari 4 siswa yang memiliki tingkat akademik berbeda-beda. Guru membuat strategi penyusunan tempat duduk kelompok yang tujuannya untuk memudahkan penilaian saat mengobservasi dan mempermudah mengenali setiap siswa dalam kelas. Guru membuat peraturan agar setiap siswa menggunakan kartu identitas nomor absen yang ditempel di baju lengan kiri pada potongan kertas karton yang telah disediakan sebelumnya dan tidak boleh bertukaran antara satu siswa dengan siswa lain. Tujuannya agar siswa lebih disiplin mengikuti pembelajaran. Hal ini tampak pada cuplikan transkrip berikut:

G : “Semua duduk dalam kelompok masing-masing. Kelompok 1, kelompok 2,

kelompok 3, kelompok 4, kelompok 5, kelompok 6, kelompok 7.”

G : “Dengarkan, kalau kalian kelompoknya dituker-tuker nanti itu

berpengaruh sama nilai kalian. Ya? kalau dituker-tuker…”

Guru menunjukkan sikap tegas agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

a) Orientasi siswa pada masalah

Tahap awal yang penting dalam pembelajaran berbasis masalah adalah siswa harus merasa permasalahan yang diberikan adalah milik siswa dan timbul keinginan siswa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Guru memberikan permasalahan kontekstual dalam LKS dengan harapan siswa dapat menemukan konsep tentang harga satuan untung ataupun rugi

dan setelah itu dapat menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks. Sebagai contoh berikut akan ditampilkan salah satu permasalahan yang kontekstual untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa tentang konsep harga satuan. G : “Manakah harga 1 pensil yang lebih murah jika diketahui harga 20

pensil A Rp 30.000,00 dan harga 16 pensil B Rp 25.600,00.” [Guru

membacakan permasalahan di depan kelas, sedangkan siswa menyimak/mempelajari permasalahan pada LKS]

Pada penggalan dialog di atas tampak bahwa guru mempersiapkan instrumen pembelajaran, dalam hal ini LKS, agar permasalahan yang diberikan erat kaitannya dengan kehidupan siswa. Permasalahan ini merupakan dengan tahap awal dari berpikir reflektif menurut John Dewey yaitu adanya suatu permasalahan/kesulitan yang dirasakan oleh siswa.

Setelah siswa merasakan adanya permasalahan/kesulitan yang dihadapi, langkah selanjutnya adalah guru mendorong siswa untuk menentukan letak dan batas kesulitan yang merupakan tahap kedua dari berpikir reflektif (Dewey, 1933). Hal ini tampak pada cuplikan transkrip berikut:

G : “Nah, menurut soal ini, apa yang diketahui dari soal?”[Guru

mengajukan pertanyaan untuk semua kelompok siswa]

S25 : “Pensil A, pensil B. Pensil A sama dengan Rp 30.000,00” [Perwakilan kelompok lima menjawab apa yang diketahui dalam soal]

G : “Pensil B harganya ….?”

SS : “Pensil B harganya Rp 25.600,00.” [menjawab secara bersama-sama]

G : “Trus yang ditanya apa?”

SS : “Harga pensil yang lebih murah.” [menjawab secara bersama-sama]

Penggalan dialog di atas menunjukkan bahwa siswa menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal dengan bantuan

pertanyaan dari guru. Guru menjadi fasilitator siswa dalam menyelesaikan permasalahan.

b) Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Sub kategori ini menggambarkan tentang siswa yang mengemukakan ide penyelesaian masalah dengan dorongan dari guru. Hal tersebut tampak pada cuplikan transkrip berikut: G : “Lalu untuk menjawab pertanyaan itu apa yang kalian kerjakan

dulu?”

S25 : “Dicari harga satuan pensilnya.” [Perwakilan kelompok lima mengemukakan ide penyelesaian masalah]

G : “Dicari harga satu pensilnya. Nah, cara mencari harga 1 pensil A

seperti apa?”

SS : “Rp 30.000,00 dibagi 20” G : “Berapa?”

S7 : “Rp 1.500,00”

Mengemukakan ide penyelesaian masalah atau saran pemecahan masalahan merupakan tahap ketiga dari berpikir reflektif (Dewey, 1933).

c) Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Pada tahap penyelidikan ini terdapat dua penyelidikan yaitu penyelidikan secara individu dan penyelidikan secara berkelompok. Penyelidikan secara individu biasanya siswa lakukan untuk menghitung perhitungan biasa. Sedangkan penyidikan secara berkelompok terjadi saat siswa berdiskusi untuk menemukan ide penyelesaian dan memutuskan penyelesaian yang sesuai untuk permasalahan. Pada sub kategori ini, guru mengarahkan siswa untuk terlibat aktif dalam penyelesaian masalah baik secara individu maupun kelompok

dan mengarahkan siswa agar menentukan penyelesaian mana yang dianggap terbaik untuk digunakan dalam pemecahan masalah. Berikut akan ditampilkan transkrip video yang sejalan dengan pernyataan di atas.

G : “Yang pertama, seorang pedagang membeli gula 1 kg dengan harga

Rp 15.000,00 dan menjualnya kembali dengan harga Rp 13.500,00 maka kondisi apakah yang dialami oleh pedagang?”

SS : “Rugi” [menjawab secara bersama-sama]

G : “Alasannya?” [Siswa terlihat bingung untuk menjawab]

G : “Kalau dilihat dari harga jual dan harga belinya, harga jual itu

kurang dari atau lebih dari harga beli?”

SS : “Kurang dari …”. …….

G : “Permasalahan 1 dan 2 dikerjakan dalam kelompok.

Penggalan dialog di atas menunjukkan bahwa dalam menentukan konsep apa yang menjadi konteks dalam permasalahan harus berdasarkan alasan yang mendukung sehingga penyelesaian masalah yang ditentukan akan menjadi yang terbaik. Hal ini sesuai dengan tahap keempat dari berpikir reflektif (Dewey, 1933) yaitu pengembangan melalui penalaran pada langkah ketiga, misalnya menentukan pemecahan masalah yang dianggap terbaik.

Guru berperan sebagai fasilitator ketika siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan. Berikut adalah contoh saat guru membimbing penyelidikan individual siswa yang tampak dari transkrip berikut ini:

S7 : “Bu, ini ditanyanya kan udah ada disini bu…” G : “he’em gak papa, ditulis lagi secara singkat saja…” S7 : “Berarti ini bisa ditulis harga total bu…”

Guru tidak langsung memberikan jawaban untuk pertanyaan siswa tentang bagaimana penulisan yang ditanyakan dalam soal, tetapi guru memberikan petunjuk bahwa dalam menentukan apa yang ditanyakan dalam soal cukup dituliskan secara singkat saja. Kemudian siswa memberikan jawaban “harga total” sebagai permisalan dari yang ditanyakan dalam soal. Ini menunjukkan siswa dapat berpikir kritis untuk menemukan istilah baru yang sesuai dengan pertanyaan setelah diberikan arahan dari guru.

Saat melakukan diskusi kelompok masih ada beberapa siswa yang terlihat melakukan aktifitas di luar pembelajaran, seperti mengobrol dengan siswa lain. Guru mencoba menegur siswa yang membuat gaduh dalam kelas. Walaupun masih ada beberapa siswa yang sulit untuk dikontrol, tetapi guru terlihat berusaha mengendalikan kelas agar pembelajaran berjalan dengan baik. Usaha guru tersebut tampak dalam cuplikan transkrip berikut ini:

G : “Permasalahan 1 dan 2 dikerjakan dalam kelompok. G : “Diskusi…”

Penggalan dialog di atas adalah bentuk arahan dan motivasi dari guru agar siswa bekerja di dalam kelompok.

d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru juga membimbing siswa saat siswa mengisi kolom kesimpulan pada LKS yang terlihat pada cuplikan di bawah ini.

G : “Masih ada yang bingung untuk mengisi bagian catatan? Bingung?” S25 : “Tadi kan kamu tanya” [S25 menunjuk teman kelompoknya]

G : “Bingungnya dimana?” [Guru mendengar percakapan kedua siswa tersebut menghampiri kelompok siswa]

S20 : “Gak jadi bu…” [Siswa sudah mengerti karena diajari oleh teman kelompoknya yang lain]

Guru bertanya di depan kelas apakah ada yang mengalami kebingungan saat mengisi kolom kesimpulan yang disediakan pada LKS. Sekilas guru mendengar ada siswa yang berkata pada teman kelompoknya bahwa temannya masih bingung. Namun, ketika guru mendatangi siswa dalam kelompok, ternyata siswa tersebut sudah mengerti karena sudah dijelaskan oleh teman kelompok yang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Vygotsky bahwa interaksi sosial, dalam hal ini pengalaman diskusi dengan teman kelompok, sangat berpengaruh dalam mengkonstruksi pengetahuan siswa sendiri.

Setelah siswa selesai mengerjakan permasalahan yang ada di LKS, salah satu kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya. Pemilihan kelompok yang maju adalah secara acak bahkan biasanya kelompok siswa sendirilah yang meminta untuk maju karena diawal pembelajaran guru mengatakan bahwa kelompok yang maju akan mendapat tambahan nilai. Hal ini tampak pada cuplikan berikut ini:

G : “Ada yang sudah selesai permasalahan satu?” SS : “Belom mbak…”

G : “Yang sudah selesai boleh maju…”

S7 : [Beberapa saat kemudian]“Bu saya mau maju…”

Kelompok siswa maju semua ke depan kelas, tetapi yang menjelaskan hanya satu siswa saja. Seharusnya guru dapat meminta siswa untuk bergantian saat menjelaskan jawaban hasil pekerjaan kelompok. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh guru karena menurut obeservasi dari guru kebanyakan siswa yang menjelaskan adalah siswa yang dianggap lebih bisa menjelaskan jawaban oleh teman-teman kelompok yang lain. Jikalau guru meminta siswa lain juga ikut bergantian saat menjelaskan jawaban, guru khawatir akan menghabiskan banyak waktu, sehingga guru tetap membiarkan bahwa siswa yang menjelaskan jawaban kelompok adalah siswa yang dipilih oleh kelompok itu sendiri tanpa memperhitungkan dijelaskan oleh satu siswa atau oleh beberapa siswa secara bergantian.

Sub kategori ini merupakan langkah kelima dari tahapan berpikir reflektif (Dewey, 1933) yaitu melakukan pengamatan dan percobaan lebih lanjut dimana siswa menerapkan ide pemecahan masalah yang dianggap terbaik yang sebelumnya telah diputuskan dalam kelompok.

e) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Setelah kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya kelompok lain bersama guru melakukan evaluasi terhadap jawaban tersebut. Guru juga memungkinkan kelompok lain untuk menunjukkan hasil pekerjaan kelompok jika memiliki

cara yang berbeda. Namun, tidak ada kelompok yang memiliki cara yang berbeda sehingga guru bersama siswa hanya melakukan pengecekan terhadap jawaban di papantulis. Langkah ini merupakan tahap penting dari berpikir reflektif dimana hasil yang telah didapat dicek kembali dan jika terdapat kesalahan segera diperbaiki.

3) Kegiatan akhir pembelajaran

Pembelajaran berbasis masalah pertemuan satu ditutup dengan penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh siswa dengan bantuan guru. Hal ini tampak pada cuplikan di bawah ini:

G : “Jadi, catatan di bawah itu dapat diisi.”

G : “Laba rumusnya apa?”

S25 : “HJ dikurang HB”

G : “Harga jual dikurang… harga beli. Atau HJ dikurang HB. Dengan HJ

nya?”

SS : “Lebih besar dari harga beli.”

G : “Lalu rugi rumusnya apa?”

SS : “HB dikurang HJ”

G : “HB dikurang HJ dengan syarat HJ …. ?”

S25 : “kurang dari HB.”

G : “Nah, sekarang kita simpulkan tadi belajar apa aja?”

S25 : “Untung… Rugi… Trus apa lagi tadi?” S7 : “Harga… harga satuan…”

Dari penggalan percakan di atas guru memberikan pertanyaan sebagai stimulus bagi siswa untuk menyimpulkan pelajaran yang telah dipelajari hari ini. Namun, guru lupa untuk memberikan tugas agar siswa mempelajari materi selanjutnya tentang bruto, tara, netto dan diskon. Guru langsung menutup pelajaran dengan mengucapkan salam penutup dikarenakan waktu pelajaran sudah habis. Sub kategori ini merupakan tahap akhir dari berpikir reflektif (Dewey, 1933) yaitu tahap penarikan kesimpulan.

b. Pertemuan Kedua

Tujuan pembelajaran pada pertemuan kedua adalah siswa dapat menggunakan konsep diskon, bruto, tara maupun netto untuk menyelesaikan permasalahan dengan benar melalui diskusi dalam kelompok.

1) Kegiatan awal pembelajaran

Seperti biasa, guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. Namun, kondisi kelas di awal pembelajaran sangat ramai. Guru kewalahan saat mengatur siswa, karena siswa baru saja istirahat dan suasananya kurang kondusif untuk belajar. Guru berusaha bersikap tegas saat mengatur siswa untuk duduk dalam kelompoknya masing-masing, yang tampak pada transkrip berikut.

G : “Hai…”

SS : “Halo…”

G : “Udah belom ngobrolnya?” [Guru berbicara dengan nada sedikit

berteriak] S23 : “Diem stttt…”

G : “Masih mau ngobrol?”

SS : “Tidak...”

G : “Duduk dalam kelompoknya…” [Kondisi kelas mulai tenang, walaupun

masih ada beberapa siswa yang belom fokus, terutama yang duduk di belakang.]

Setelah diberi sedikit teguran oleh guru, kondisi kelas mulai tenang. Setelah itu, guru berusaha membuat pelajaran kembali seperti biasa.

Pembelajaran dilanjutkan dengan penjelasan tentang tujuan pembelajaran dan kegiatan apersepsi. Sebagai contoh, akan

ditampilkan transkrip kegiatan siswa dan guru saat melakukan apersepsi tentang materi diskon.

G : “Nah sekarang, diskon itu apa?”

SS : “Potongan harga…”

G : “Biasanya kalian dapet diskon kalau ngapain?”

S24 : “Kalau belanja.” S29 : “Shoping…”

G : “yaaa kalau belanja.”

Guru melemparkan pertanyaan dan siswa menjawab pertanyaan. Hal ini yang ditekankan agar berpikir reflektif siswa dapat dilatih mulai dari pembelajaran matematika.

Sebelum masuk ke permasalahan, guru terlebih dahulu memperkenalkan kepada siswa tentang pengertian bruto, tara, netto dan diskon. Setelah itu barulah siswa diberi permasalahan agar diselesaikan dalam kelompok.

2) Kegiatan inti

a) Orientasi siswa pada masalah

Guru mengajukan permasalahan yang ada di LKS dan meminta siswa untuk mempelajari permasalahan tersebut. Guru berperan aktif agar siswa merasa memiliki permasalahan dan termotivasi untuk menyelesaikan permasalahan yang diajukan.

Sub kategori ini menggambarkan tentang usaha siswa menentukan letak dan batas permasalahan/kesulitan (tahap dua berpikir reflektif) dengan bantuan berupa pertanyaan dari guru, seperti cuplikan di bawah ini.

G : “Nah, yang diketahui apa dari soal?”

SS : “Potongan harga 20%”

SS : “Diskon.”

G : “Lalu, apa lagi yang diketahui?”

S12 : “Harga kotor…”

G : “Udah, lalu yang ditanya?”

SS : “Harga yang harus dibayar Ibu…”

G : “Atau harga ber…sih… Harga setelah didiskon…”

Guru selalu menekankan pada siswa agar sebelum melakukan penyelesaian masalah, hendaknya ditentukan terlebih dahulu apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal.

b) Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Setelah menentukan letak dan batas permasalahan/kesulitan, guru mengarahkan siswa untuk mengemukakan ide/gagasan tentang penyelesaian terhadap masalah (tahap ketiga berpikir reflektif). Sebagai contoh akan ditampilkan transkrip berikut ini:

G : “Jadi penyelesaiannya gimana? ….. Dicari apanya dulu?”

S6 : “Diskon.”

G : “Diskon dalam ru… ?”

SS : “Rupiah…”

G : “Diskon dalam rupiah, gimana caranya?”

SS : “Persen diskon dikali harga kotor.”[Siswa menjawab dengan melihat keterangan rumus pada LKS]

Guru berusaha agar setiap langkah penyelesaian yang ditentukan adalah ide dari siswa sendiri. Jadi guru hanya berperan sebagai fasilitator pemberi pertanyaan-pertanyaan penggugah ide kreatif dari siswa itu sendiri.

c) Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Kegiatan guru yang paling dominan saat membimbing siswa menyelesaikan permasalah dalam kelompok yaitu berkeliling kelas, mengamati dan mengarahkan jika ada

kelompok yang mengalami kesulitan. Guru tidak hanya membimbing saat siswa mengalami kesulitan tetapi guru juga mendorong agar antar siswa dalam kelompok saling membantu dan mengajari satu sama lain. Jadi tidak harus guru yang melakukan pertolongan tetapi lebih kepada guru mengarahkan siswa lain yang lebih paham untuk membantu siswa yang mengalami permasalahan. Hal ini tampak pada cuplikan transkrip berikut ini:

S19 : “Bu… Bu… 80% nya dari mana?” [Tiba-tiba ada seorang siswa yang bertanya kepada guru]

G : “80% nya darimana?” [Guru melempar pertanyaan ke semua

siswa]

G : “Coba Udana bantu jelaskan temannya.” [Guru meminta siswa S25

untuk menjawab pertanyaan siswa S19. Tetapi siswa S7 sudah duluan menjawab]

S7 : “Itu 100% dikurang 20%.”

Melalui pengalaman diskusi dengan teman kelompok ini diharapkan siswa dapat memiliki sikap rela memberi, ketika ada siswa yang mengalami permasalahan maka siswa lain tidak pelit untuk berbagi ilmu pada teman yang lain. Pengetahuan kedua siswa terhadap materi pun semakin bertambah.

d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Setelah semua siswa selesai mengerjakan, salah satu siswa maju untuk mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya. Berikut akan ditampilkan transkrip saat siswa menjelaskan jawaban di depan kelas.

S22 : “Diketahui harga kotor baju pertama Rp 200.000,00 dengan diskon 40%. Kemudian harga kotor baju kedua Rp 100.000,00 dengan

diskon 15%. Yang ditanyakan jumlah harga yang dibayar Prisil.” [Keadaan kelas kembali tenang]

S22 : “Pertama cari persentase yang harus dibayar untuk baju 1. Yang pertama Prisil membayar 60%, jadinya 60 per 100 dikali Rp 200.000,00. Hasilnya Rp 120.000,00. Ini yang pertama.”

S22 : “Yang kedua, yaitu beli baju untuk Meni. Caranya dicari persentase yang harus dia bayar dulu. 100% dikurangi 15% sama dengan 85%. Harga yang harus dibayar untuk membelikan bajunya Meni 85 per 100 dikali Rp 100.000,00. Jadinya Rp 85.000,00.”

Berarti tahap kelima dari berpikir reflektif yaitu melakukan pengamatan dan percobaan lebih lanjut tampak pada pertemuan kedua dimana siswa mempresentasikan hasil jawabannya.

e) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

S29 : “Belom selesai itu…” [Siswa lain menanggapi hasil pekerjaan kelompok tiga]

S22 : “Oh iya belom dijumlah… Jadi hasilnya Rp 205.000,00.”

Penggalan dialog di atas menunjukkan bahwa ketika ada kelompok siswa yang menjelaskan jawaban di depan kelas, kelompok siswa lain memperhatikan dan mengevaluasi jawaban yang ada di papantulis. Bahkan hal ini terjadi sebelum guru meminta kelompok siswa lain untuk menanggapi hasil presentasi. Setelah itu, guru juga memberi kesempatan jika ada siswa yang memiliki cara penyelesaian lain.

G : “Ada yang punya cara lain?” [Kelas kembali gaduh]

Namun, karena keadaan kelas gaduh, perhatian guru terpecah hingga akhirnya guru lupa untuk meneruskan pertanyaan tentang cara penyelesaian lain tersebut.

3) Kegiatan akhir pembelajaran

Pembelajaran diakhiri dengan penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh siswa dengan bantuan guru.

G : “Jadi hari ini belajar apa aja?” S7 : “Netto.”

S11 : “Bruto, netto, tara.” S22 : “Rabat (diskon).”

Penggalan dialog di atas menunjukkan penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh siswa hanya sekedar tentang poin-poin yang telah dipelajari hari ini. Semestinya, guru bisa mendorong siswa untuk melakukan kesimpulan secara lebih dalam lagi, hanya saja waktu yang tersedia sudah habis. Oleh karena itu, guru segera mencukupkan penarikan kesimpulan dan memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pertemuan berikutnya tentang bunga dan pajak. Di akhir pembelajaran guru mengucapkan salam penutup.

c. Pertemuan Ketiga

Tujuan pembelajaran pada pertemuan ketiga adalah siswa dapat menggunakan konsep bunga ataupun pajak untuk menyelesaikan permasalahan dengan benar melalui diskusi dalam kelompok.

1) Kegiatan awal pembelajaran

Pembelajaran dimulai dengan mengucapkan salam pembuka. Setelah itu guru langsung meminta kepada siswa untuk duduk secara berkelompok agar waktu tidak terbuang banyak di tengah pembelajaran. Kemudian guru mengabsen setiap kelompok untuk mengetahui kelompok mana yang anggotanya tidak hadir.

Selanjutnya guru memberikan apersepsi kepada siswa tentang pengertian bunga dan pajak yang tampak pada penggalan transkrip berikut ini.

G : “Untuk hari ini kita akan belajar tentang bunga dan pajak.

G : “Bunga ini bukan mawar, melati, tapi bunga di sini bunga bank.

Contohnya, kalau kalian nabung dapet?” SS : “Bunga.”

G : “Kalau kalian minjem uang harus membayar?”

SS : “Bunga.”

G : “Nah sekarang kalian buka LKSnya lembar pertama.”

---

G : “Oh iya. Coba Ketut dibaca yang tentang pajak. Coba perhatikan.”

S19 : “Pajak merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat dengan menyerahkan sebagian kekayaannya kepada Negara sesuai dengan aturan yang ada. Misalnya: Pajak bumi dan bangungan (PBB), Pajak penghasilan (PPh), dan Pajak pertambahan nilai (PPN).” [Siswa lain mendengarkan]

G : “Nah tapi biasanya yang keluar dalam soal itu pajak penghasilan dan

pajak pertambahan nilai. Nah sekarang coba kita bahas contoh soalnya ya… Siapa yang mau membaca? Bintang …Ayo dengarkan Justine

Berbeda dengan pembelajaran pertemuan pertama dimana siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri tentang untung dan rugi. Hal ini karena konsep tentang untung dan rugi sangat dekat dengan keseharian siswa. Dibandingkan dengan materi bunga dan pajak, siswa harus mengerti dahulu pengertian tentang bunga dan pajak, barulah siswa diberikan permasalahan yang terkait dengan bunga dan pajak.

2) Kegiatan inti

a) Orientasi siswa pada masalah

Kegiatan yang menentukan apakah siswa termotivasi untuk menyelesaikan permasalahan adalah bagaimana guru mendorong siswa agar merasa memiliki permasalahan yang diajukan.

G : “Nah sekarang, coba siapa ya? Albert… Dibaca yang di kotak.” S12 : “Andri memiliki tabungan di Bank Indonesia sebesar Rp 150.000,00

dengan bunga 16% per tahun. Hitunglah jumlah uang Andri setelah 4 bulan!” [Siswa lain memperhatikan dan mempelajari

permasalahan dalam soal]

Pada transkrip di atas tampak bahwa guru meminta salah satu siswa untuk membacakan tentang permasalahan pajak. Hal ini bertujuan agar siswa lebih merasakan bahwa soal tersebut adalah miliknya dan siswa timbul keinginan untuk menyelesaikannya. Guru memberi stimulus beberapa pertanyaan untuk membantu siswa menentukan letak dan batas kesulitan pada permasalahan yang ada.

G : “Oke nah sekarang dari soal itu, yang diketahui apa?” S : “Modal…”

G : “Modalnya berapa?” SS : “Rp 150.000,00.”

G : “Lalu yang diketahui lagi?” SS : “Bunga…”

G : “Bunga dalam persen, lalu apalagi yang diketahui?” SS : “Jangka waktu menabung.”

G : “Jangka waktunya berapa?” S9 : “Empat bulan.”

Dokumen terkait