BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI TUGAS, FUNGSI DAN
E. Penerbitan Letter of Release and Discharge
Salah satu bentuk intervensi eksekutif terhadap penyelesaian kasus BLBI adalah penerbitan Inpres No 8 Tahun 2002 tentang release and discharge oleh Presiden Megawati yang membebaskan obligor penerima SKL dari semua proses
133
Theodora Yuni Shahputri, Sinergi KPK, Kepolisian dan Kejaksaan dalam Pemberantasan
hukum. Sementara itu, ada pandangan yang menyatakan pengambilalihan kasus BLBI oleh KPK bertentangan dengan asas nonretroaktif.
Sebagaimana diketahui, kasus BLBI sejak pemerintahan sebelumnya selalu enjadi ajang tarik ulur antara pemerintah dan obligor penerima BLBI. Substansi ukum dalam kasus BLBI menempati prioritas yang paling buncit dalam upaya t ditambah lagi dengan kebijakan Preside
ham yang dikenal sebagai release
and dis
m
h
penyelesaian menyeluruh dana BLBI. Hal tersebu
n yang dikelarukan pada tanggal 30 Desember 2002. Presiden telah menerbitkan Instruksi Presiden (INPRES) No 8 Tahun 2002 tentang Pemberian Jaminan Kepastian Hukum kepada Debitor yang Telah Menyelesaikan Kewajibannya atau Tindakan Hukum kepada Debitor yang Tidak Menyelesaikan Kewajibannya Berdasarkan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Sa
charge.134
Inpres No 8 Tahun 2002 menyatakan bahwa kepada para debitur yang telah menyelesaikan kewajibannya, diberikan bukti penyelesaian berupa pelepasan dan pembebasan atau Surat Keterangan Lunas, SKL (release and discharge). Dalam hal ini debitur juga dibebaskan dari aspek pidana yang terkait langsung dengan program PKPS. Seluruh proses penyelidikan, penindakan dan/atau penuntutan oleh instansi penegak hukum dihentikan. Sedangkan kepada para obligor yang tidak menyelesaikan atau tidak bersedia menyelesaikan kewajibannya kepada BPPN, baik
134
Saldi Isra, Titik Terang Kasus BLBI, diakses dari situs : http://www.hukumonline.com, tanggal 2 Januari 2009.
dalam rangka MSAA, MRNIA dan APU, Pemerintah terus melakukan tindakan hukum yang tegas dan konkret.
ekonomi dan kondisi perbankan, terutama yang te
kooperatif.135
Pada dasarnya sistem hukum Indonesia tidak mengenal institusi release and
discharge. Yang dikenal dan biasa digunakan di Indonesia adalah pemberian acquit et decharge (A&D) dalam rangka pelepasan dan pembebasan tanggung jawab direksi
dan dewan komisaris perseroan terbatas yang selalu diikuti penegasan, bila kemudian ternyata telah terjadi tindak pidana selama masa jabatannya, maka akan dilakukan penuntutan sesuai dengan ketentuan undang-undang hukum pidana.
Letter of Release and Discharge dikeluarkan pada masa pemerintahan
Presiden Megawati pada tahun 2002, yang menetapkan kebijakan-kebijakan untuk melanjutkan penanganan dampak krisis
rkait dengan pengambilalihan aset-aset obligor serta penjualan aset tersebut. Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, ditetapkan TAP MPR X/2001 dan TAP MPR VI/2002 yang mengamanatkan pelaksanaan kebijaksanaan MSAA dan MRNIA secara konsisten sesuai dengan UU Propenas. Selanjutnya, pemerintahan Presiden Megawati menerbitkan Inpres No. 8 Tahun 2002 yang memberikan jaminan kepastian hukum kepada obligor yang kooperatif dan sanksi kepada yang tidak
Di dalam Inpres No 8 Tahun 2002 tersebut, di diktum pertama angka 1 dan angka 4 berbunyi sebagai berikut, 1. Kepada para debitor yang telah menyelesaikan kewajiban pemegang saham, baik yang berbentuk MSAA, MRNIA, dan/atau Akta
t, hal. 8. 135
Keterangan Dan Jawaban Pemerintah RI Mengenai Penyelesaian Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI), …. ds
Pengakuan Utang/APU, diberikan bukti penyelesaian berupa pelepasan dan pembebasan dalam perjanjian-perjanjian tersebut; 4. Dalam hal pemberian kepastian hukum sebagaimana dimaksud dalam angka 1 menyangkut pembebasan debitor dari aspek pidana yang terkait langsung dengan program Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham, yang masih dalam tahap penyelidikan, penyidikan dan/atau penuntutan oleh instansi penegak hukum, maka sekaligus juga dilakukan dengan proses
1). Ran
penghentian penanganan aspek pidananya, yang pelaksanaannya tetap dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kebijakan pemberian “release and discharge” bagi para debitur nakal yang melakukan penyimpangan dana BLBI secara besar-besaran sebagaimana dituangkan dalam Inpres Nomor 8 tahun 2002 telah memperlemah daya laku hukum pidana untuk menyeret para pelaku ke dalam proses peradilan pidana. Oleh karena itu, kebijakan yang tertuang dalam “Master Settlement and Acquisition Agreement
(MSAA) tersebut dapat dinilai sebagai sesuatu yang kontradiktif dalam penegakan
supremasi hukum.
Ketika rakyat mempertanyakan alasan pemerintah mengeluarkan kebijakan ini, pemerintah menjawab dengan alasan sebagai berikut :136
gkaian kebijakan untuk mengatasi krisis, termasuk kebijakan BLBI, program penjaminan, penyehatan dan rekapitalisasi perbankan, program PKPS, dan
136
Keterangan Dan Jawaban Pemerintah RI Mengenai Penyelesaian Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) Dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Pada Rapat Paripurna DPR RI, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2008, hal. 6.
program divestasi, telah melalui proses politik saat itu dan mendapat landasan
hukum yang sah, antara lain UU No 25 Tahun 2000 tentang Propenas, TAP MPR
Nomor X tahun 2001, TAP MPR No VI/2002 dan INPRES No 8/2002. Oleh karena itu, untuk menjamin kepastian hukum, pemerintah saat ini menghormati kep
PN, termasuk tingkat
3).
an perbuatan melawan hukum.
Hab
huk merintah
mel ada
berlarut-larutnya penyelesaian kasus BLBI sehingga pemerintah lebih mengutamakan
dalam penyelesaian kasus BLBI ini, pemerintah lebih memilih untuk menggunakan utusan dan kebijakan sebelumnya yang sah.
2). BPK telah menyelesaikan audit terhadap kinerja BP
pengembalian (recovery) aset pada tahun 2006. Hasil audit tersebut menjadi dasar bagi pemerintah saat ini untuk melanjutkan penyelesaian masalah BLBI.
Pemerintah mengambil langkah-langkah lebih lanjut yang didasarkan pada perkembangan situasi serta peluang dan kendala yang sekarang ada, dengan tetap mengikuti kerangka hukum yang berlaku. Pengembalian uang negara harus diupayakan sebesar mungkin dan punitive actions hanya dilakukan kepada mereka yang tidak kooperatif serta yang melakuk
Dari proses penanganan kasus BLBI oleh pemerintah mulai dari pemerintahan ibie hingga pemerintahan SBY memperlihatkan adanya pelaksanaan penegakan um yang diskiriminatif dan tebang pilih dimana dalam kasus BLBI ini pe
lebih memprioritaskan pengembalian asset Negara yang telah di bawa lari ketimbang akukan penegakan hukum terhadap para koruptor tersebut. Alasan pemerintah lah bahwa untuk menghindari kerugian negara yang semakin besar dengan
pen
pad t
serta m
s bertentangan dengan
dekatan keperdataan daripada menyelesaikannya melalui proses pidana, yang a akhirnya telah mengabaikan prinsip hukum dan rasa keadilan dalam masyaraka
engaburkan pengertian “demi kepentingan hukum” sebagai suatu alasan untuk menghentikan penuntutan. Padahal tujuan hukum pidana adalah untuk menjerakan para pelaku dan mencegah tindak pidana serupa terulang atau terjadi.
Inpres No 8 Tahun 2002 tersebutlah yang menjadi titik simpul dari benang kusut kasus BLBI ini. Inpres tersebut berisikan instruksi untuk membebaskan dan memberikan pengampunan terhadap sejumlah debitor/obligor dari proses hukum termasuk aspek pidananya. Padahal, telah diketahui bahwa para obligor tersebut diduga telah melakukan tindak pidana perbankan dengan pemberian kredit yang melampaui BMPK sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Perbankan No 7 Tahun 1992 jo Undang-Undang No 10 Tahun 1998 dan penyimpangan dana BLBI yang telah merugikan keuangan negara. Intervensi terhadap proses hukum oleh Presiden dengan menerbitkan inpres merupakan tindakan inkonstitusional serta dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan kekuasaan (abuses of power) atau melampaui batas kewenangan Presiden dan penerbitan inpres tersebut jelas-jela
UUD 1945, UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No 7 Tahun 1992 jo UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan serta bertentangan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).137
Yusuf L. Indra Dewa, Inpres No. 8 Tahun 2002 dan Penyelesaian R & D, diakses dari situs :
137
Pada dasarnya peniadaan penuntutan atau penghapusan hak menuntut yang diatur secara umum dalam bab VIII buku I KUHP adalah apabila :
1. Telah ada putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap mengenai tindak pidana yang sama (pasal 76 KUHP);
2. Terdakwa meninggal dunia (pasal 77 KUHP); 3. Perkara tersebut daluwarsa (pasal 78 KUPH)’
4. Terjadinya penyelesaian di luar persidangan (pasal 82 KUHP)
Jika berpedoman dengan dasar hukum di atas, maka pemberlakuan MSAA, MRNIA atau APU sebagaimana yang terkandung dalam Inpres No. 8 Tahun 2002 adalah
kum”. Ketentuan
den arus sesuai dengan prosedur hukum. Kenyataannya
a Presiden telah mengintervensi n membebaskan seseorang yang tau dengan kata lain Preside
UUD
inkonstitusional dan tidak beralasan. Karena dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat 3 menyatakan: “ Negara Republik Indonesia adalah Negara Hu
tersebut memberikan makna segala permasalahan negara harus diselesaikan bukan gan kekuasaan semata, tetapi h
Inpres No.8 Tahun 2002 menunjukkan bahw kekuasaan yudikatif dengan menginstruksika
tersangkut kasus pidana tanpa proses hukum melalui peradilan, a
n menyelesaikan permasalahan hukum dengan kekuasaan semata. Terlebih apabila berpegang kepada hirarki perundang-undangan, Inpres tersebut dapat dikatakan tidak memiliki kekuatan hukum, karena telah menyampingkan ketentuan undang-undang, yang lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Inpres yaitu 45 Pasal 1 ayat 3, TAP MPR No.IX/MPR/1998, TAP MPR No.
VIII/MPR/2001, TAP MPR No. X/MPR/2001, UU No.31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan UU No.5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Upaya untuk penyelesaian kasus BLBI oleh Kejagung terkesan diskriminatif dan setengah hati. Nampaknya statement Hendarman Supandji Sehari setelah dilantik sebagai Jaksa Agung, bahwa agenda utamanya adalah memprioritaskan penuntasan kasus korupsi, khususnya kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang sampai saat ini masih mandek hanya retorik belaka. Pasalnya, Kejagung hanya mentargetkan 3 kasus besar sedangkan kasus-kasus BLBI lainnya tidak di sentuh. Meskipun kasus-kasus BLBI lainnya dalam konteks merugikan Negara secara nominal lebih kecil namun meskipun kecil tetap saja telah merugikan Negara dan merupakan bentuk pengkhianatan atas rakyat. Jika Kejagung memang mempunyai itikad baik dalam proses penegakan hukum kasus BLBI, seharusnya semua kasus tidak melihat apakah itu besar ataupun kecil harus diungkap dan diadili semuanya. Terlebih kasus BLBI ini sudah 10 tahun berjalan namun belum ada satupun koruptor yang mendekam di bui. Koruptor yang sekarang sedang di incar oleh Kejagung untuk diungkap dugaan korupsinya adalah koruptor-koruptor yang secarapolitik berada di kubu lawan politik SBY. Belum lagi adanya tuntutan dari berbagai ormas dan gerakan mahasiswa yang hanya memfokuskan tuntutan kepada kelompok salim Group. Tuntutan penanganan yang tendensius yakni hanya terhadap kelompok tertentu (Salim group) mengindikasikan adanya konflik kepentingan dalam penanganan kasus BLBI ini. Hingga detik ini, Kejagung masih berkutat pada agenda
pemerikasaan-pemeriksaan para obligor dan beberapa mantan pejabat yang diduga mengetahui atau terkait dengan kasus BLBI ini namun langkah kongkrit dari tindak lanjut pemeriksaan berupa penegakan hukumnya belum ada.
Oleh karena itu, langkah konkrit yang seharusnya diambil oleh pemerintah adalah dengan membentuk lembaga ad hoc yang berfungsi melakukan penegakan hukum politik. Dengan kata lain, penyelesaian kasus BLBI ini tidak cukup hanya dengan melakukan pendekatan personal ataupun pendekatan politik yang mengabaikan prinsip-prinsip penegakan hukum.
Sejak kelahirannya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi trigger
mechanism institusi independen yang dapat memberdaya atas skeptisme publik
terhadap lemahnya penegakan hukum. KPK memiliki sarana dan prasarana hukum dengan tingkat kewenangan amat luar biasa (extra ordinary power) yang tidak dimiliki institusi lain. KPK bisa meminta keterangan kepada bank tentang keadaan keuang
esensial dengan penegak hukum lain dari sis
an tersangka (tanpa izin Bank Indonesia), menyadap/merekam pembicaraan, tidak memerlukan izin untuk memeriksa pejabat negara, dan lainnya. Dengan extra ordinary power yang dimiliki KPK, diharapkan segala bentuk, cara, dan aplikasi korupsi dapat dijadikan bagian tatanan pemberantasan korupsi. Ini penting mengingat lembaga penegak hukum ini memiliki hubungan
tem peradilan pidana.
Korupsi kelembagaan selalu merusak sistem ketatanegaraan dan perekonomian negara. Maka, diperlukan beberapa hal. Pertama, melakukan tindakan terintegrasi lembaga penegak hukum melalui integrated criminal justice system.
Artinya, di antara penegak hukum harus memiliki suatu balanced and equal of power, suatu kewenangan yang berimbang dan sama di antara para penegak hukum. Hal ini untuk menghindari diskriminasi kewenangan lembaga yang justru akan melemahkan penegakan hukum terhadap korupsi. Selain itu, diskriminasi kewenangan juga akan menimbulkan disintegrasi penegakan hukum. Dalam sistem peradilan pidana, tingkat keberhasilan pencegahan dan pemberantasan korupsi harus dilandasi integrated
criminal justice system, bukan menciptakan sistem diskriminasi kewenangan. Hal ini
dimaks
udkan agar tidak terjadi penegakan hukum terpilah. Anekdot yang sering muncul, lebih baik disidik Polri dan Kejaksaan Agung daripada KPK. Tujuan penegakan hukum bukan menimbulkan disintegrasi di antara lembaga penegakan hukum, tetapi bagaimana memaksimalkan penegakan hukum yang non diskriminatif.138
Kedua, selain itu independensi proses penegakan hukum merupakan wacana yang bersifat imperatif. Akan menjadi sulit bagi Polri dan Kejaksaan Agung untuk memaksimalkan pemberantasan korupsi, selama independensi dalam konteks limitatif masih dalam status subordinasi kekuasaan eksekutif tertinggi. Hal ini memunculkan kesan, ada kekuasaan otoriter yang permisif.
Dari kajian sosiologis yuridis, gangguan optimal independensi penegak hukum justru dari lingkaran internal kekuasaan. Dengan demikian, selama masih ada hubungan subordinasi penegak hukum dan kekuasaan tertinggi eksekutif, kehendak
138
Indryanto Seno Adji, Bangkitlah Penegak Hukum, diakses dari situs : http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=10539&coid=3&caid=31, tanggal 14 Juli 2009.
menegakkan hukum korupsi akan selalu gamang dan minim hasilnya. Gangguan, serangan, dan intervensi terhadap institusi penegak hukum hadir begitu kuat. Pola interve
prinsip legalitas subordinasi.139
arakat. Perkem
nsi pun dikemas dalam bentuk independensi semu, seperti penempatan lembaga penegak hukum yang menjadi subordinasi kekuasaan, penegak hukum hadir rutin dalam rapat kabinet sehingga polisi dan Kejaksaan Agung jarang terlihat memeriksa pejabat negara dalam pemberantasan korupsi. Semua ini memberi arah, seolah ada justifikasi yang berlindung di balik
Sikap nonsinergis, diskriminatif kewenangan di antara lembaga penegak hukum Polri, Kejaksaan, dan KPK dalam memberantas korupsi justru melemahkan penegakan hukum. Balanced and equal of power adalah kebangkitan penegak hukum, Polri, Kejaksaan, dan KPK sebagai voorportaal (gerbang terdepan) membuka tabir korupsi kelembagaan dalam konteks due process of law yang prospektif.
F. Tindakan Preemtif, Preventif dan Refressif dalam upaya penanggulangan